M3817 – Keluarga Berencana (KB).

DEFINISI:

Keluarga berencana adalah penggunaan cara- cara pengaturan fertilitas secara ilmiah untuk membantu pasangan suami-istri untuk merencanakan beranak, berapa dan kapan.

TINJAUAN ALKITAB.

Kita akan berusaha menyimpulkan persoalan KB ini dalam tiga pertanyaan:

  1. Bolehkah kita merencanakan keluarga?

Adakah Alkitab melarang hal ini?

  1. Kalau boleh, cara-cara mana saja yang tidak bertentangan dengan Firman Allah?
  2. Bagaimana dengan saya sendiri?

Meskipun secara umum dalam suatu hal itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, tetapi kita masih harus mempertimbangkannyasecara pribadi, sebab mungkin Allah tidak memperkenankannya, sebab Allah mempunyai rencana yang lain bagi pribadi tersebut.

Begitu juga dengan KB. Karena itu sekalipun pertanyaan-pertanyaan di atas (No. 1 dan 2) dapat dijawab dengan “Ya”, perlu setiap pasang suami-istri melanjutkan bertanya pada Tuhan yang memiliki hidup mereka 1Kor 6:19-20 dengan no 3, antara lain sebagai berikut:

  1. Apakah ” Tuan” juga menghendaki kami “orang-orang milikMu”, memakai cara-cara KB ?
  2. Apakah Tuhan mau memberi anak pada kami?
  3. Berapa anakkah yang “Tuan” suka kami “hamba-hambaMu” memilikinya?
  4. Berapa tahunkah jarak antara setiap anak yang akan kami peroleh dari “Tuan”?
  5. Dan lain-lain.

 

Suami-istri yang hidup didalam Kristus (2Kor 13:5; 1Yoh 3:24) tidaklah sukar menerima keyakinan dalam hatinya dari Tuhan untuk jawaban-jawaban persoalan ini. (Ef 5:17).

 

III. BERKAT BERKEMBANG BIAK.

 

APAKAH MAKSUD PERNIKAHAN DAN BERKAT BERKEMBANG BIAK? Kejadian 1: 28.

(Bacalah juga Kej. 9: 1,7/ 12:2/ 15:5/ 26:4/ 28:13-34/ 35:11/46:3 / 47:27 / 48:4 / Kel 1:7 / Maz 127:3 dll).

Dalam ayat-ayat tsb. di atas berkat Allah dalam pernikahan ialah berkat berkembang biak. Sebab itu orang2 Israel yang tidak beranak merasa malu kalau mereka tidak mendapat berkat anak (turunan) dari Tuhan, misalnya Rachel, Elizabet Luk 1:25.

Beberapa orang menganggap bahwa maksud utama dari pernikahan ialah berkembang biak sebagaimana tertera dalam ayat-ayat tsb., sehingga rumah tangga tanpa anak itu menyedihkan, dianggap tidak mencapai tujuannya dan oleh karena itu berusaha ataumengatur (mengurangi) jumlah anak berarti melawan berkat berkembang biak dari Allah.

Benarkah tafsiran semacam ini?

Ayat-ayat ini adalah ayat2 Wasiat Lama. Dalam Wasiat Baru kita tidak pernah menemukan berkat semacam ini? Mengapa? Kita harus membedakan penafsiran Wasiat Lama (WL) dan Wasiat Baru (WB).

Wasiat Lama dalam kebanyakan hal merupakan: LAMBANG, BAYANG-BAYANG, IBARAT, TELADAN dan PERUMPAMAAN. Begitu pula berkat “berkembang biak” dalam WL itu bagi kita sekarang ini yang hidup di dalam WB mempunyai suatu arti rohani. (Lihat lebih lanjut dalam buku “Penafsiran Wasiat Lama dan Wasiat Baru, oleh: Pdt. Jusuf BS).

 

ARTI ROHANI DARI BERKAT BERKEMBANG BIAK DALAM W.B

Berkat berkembang biak secara rohani.

Di dalam WB tidak pernah diberikan berkat berkembang biak secara jasmani (seperti dalam PL) tetapi diberikan berkat berkembang biak secara rohani !

Mat 28:18-20; Mark 16:15; Kis 1:8 / 2:47 / 6:7.

Inilah artinya secara rohani dari berkat-berkat berkembang biak dari Kejadian 1:28 untuk WB! Ayat-ayat ini menunjukkan penggenapan berkat “berkembang biak” dalam zaman gereja, dari gereja yang mula-mula terus diberikan (digenapi) sampai dalam zaman kita sekarang ini. Demikian juga, ini adalah penggenapan janji berkembang biak dari Allah pada Abraham. Bagi kita sekarang, anak2 Abraham secara rohani Gal 3:7.

Turunan Abraham yang menjadi seperti pasir di pantai laut dan seperti bintang di langit, adalah kita, orang-orang Kristen, turunan Abraham secara rohani.

Beginilah seharusnya penafsiran atau pengetrapan “berkat berkembang biak” dari PL bagi kita sekarang. Istri secara rohani, yaitu gereja-gereja yang mandul, yang tidak mempunyai “anak” harus menangis dan berseru seperti Rachel: ” Berikanlah kepadaku anak; kalau tidak aku akan mati! (Kej 30:1).

Bagi kita sekarang, ini bukan tangisan dan jeritan untuk mendapat anak secara lahiriah, tetapi tangisan untuk memperoleh anak-anak “rohani”. gereja-gereja harus hidup, subur dan berkembang biak, bertambah-tambah, mendapat banyak anak-anak rohani seperti Israel Perjanjian Lama, dan seperti gereja mula-mula. Setiap anak-anak Allah harus pergi mengeluarkan buah, mempunyai anak2 rohani = memenangkan jiwa2, kalau tidak itu berarti mandul rohani dan tentu itu selalu ada sebabnya, sangat memalukan. Luk 1:25. Segala macam dosa harus dibuang dan dibereskan supaya Roh Kudus dapat bekerja menghasilkan “turunan-turunan rohani”.

Kita memerlukan kuasa Roh Kudus; kuasa Rohulkudus adalah kuasa untuk berkembang biak. Kis 1:8.

Inilah berkat “berkembang biak” yang Tuhan maksudkan untuk zaman sekarang.

Bukan maksudnya “banyak anak” jasmani seperti beberapa orang mengirakannya! (Ingat, inilah juga pelajaran yang sekarang makin dikenali dimana-mana, yaitu pelajaran pertumbuhan gereja. Inilah berkat berkembang biak dalam WB bagi gereja-gereja Tuhan). Biasanya mandul jasmani juga menyedihkan dan tetap boleh minta anak pada Tuhan dan biasanya Tuhan juga memberikannya!

  1. Manusia diciptakan dengan maksud berkembang biak supaya mengisi seluruh bumi, ini tertulis di dalam WL. Beberapa orang masih menerima ayat-ayat ini dalam arti hurufiah, maka akibatnya bagi mereka, menikah adalah tujuan utama hidup manusia, begitu pula dengan memperoleh anak seba-nyak-banyaknya.

Tetapi Tuhan Yesus sebagai manusia memberi Teladan Hidup dan Pengajaran yang sebaliknya.

  1. Dia memberi teladan hidup membujang. Juga Rasul Paulus dll.
  2. Dia mengajar murid-muridNya sampai pada kesimpulan sebagai berikut:

Jikalau demikian halnya hubungan antara suami-istri, lebih baik jangan kawin (Matius 19:10).

Bahkan untuk kepentingan Kerajaan Surga Tuhan Yesus mengizinkan untuk tetap membujang. (Mat 19:12).

Paulus juga menasehatkan seperti Tuhan Yesus dalam: 1Kor 7:8.

Apakah:

  1. Teladan hidup dan
  2. Pengajaran Tuhan Yesus (dan Paulus) bertentangan dengan maksud semula dari “penciptaan manusia untuk berkembang biak” dalam Kejadian 1:28.

Tidak bertentangan ! Mengapa?

Sebab Paulus mengerti bahwa ayat-ayat semacam Kej 1:28 dalam WL, itu mempunyai arti yang lain dalam WB, yaitu arti rohani yang tidak ada sangkut pautnya dengan “beranak secara lahiriah”. Apa yang diajarkan dan apa yang dilakukan Putra Manusia (dan Paulus) itu selalu sesuai dengan kehendak BapaNya (Yoh 5:19,30) dan tidak bertentangan dengan dengan ayat-ayat dalam WL.

Lalu apa maksud utama pernikahan dalam PB ?

Maksud utama dalam pernikahan adalah KASIH !

Pernikahan adalah suatu gambaran yang paling tepat untuk hubungan Kristus dengan GerejaNya. Ef 5:31-32.

Jadi: Tujuan Utama hidup manusia itu bukan untuk menikah dan tujuan utama menikah itu bukan untuk berbiak-biak. Tujuan utama hidup kita ialah: Karena bagiku HIDUP ADALAH KRISTUS, dan MATI adalah KEUNTUNGAN. (Pil 1:21).

Memang kebanyakan manusia menikah, itu indah (kecuali mereka yang mendapat karunia membujang dari Tuhan, 1Kor 7:7). Dan mempunyai anak dalam pernikahan itu baik, itu karunia Tuhan. Tetapi tidak mendapat anak dalam pernikahan itu bukan berarti pernikahan yang gagal, itu juga bukan berarti hidup yang gagal. Hidup di dunia ini sementara, satu kali semua orang akan masuk dalam hidup yang kekal dan gagal menerima keselamatan untuk hidup yang kekal dari Tuhan Yesus itulah hidup yang gagal total. Juga tidak punya anak itu bukan berarti hidup gagal, tetapi tidak punya anak rohani, tidak pernah melahirkan anak rohani, itu yang memalukan dan tidak dapat berkat Tuhan.

Jadi KB yang se-olah2 bertentangan dengan berkat berkembang biak dalam Kej 1:28, itu sebetulnya bagi kita sekarang dalam Wasiat Baru, tidak bertentangan dengan Kej 1:28 sebab arti ayat ini bagi kita sekarang bukan secara jasmani, tetapi secara rohani.

Ada 3 tujuan kontrasepsi yaitu:

  1. Menunda kesuburan, atau
  2. Menjarangkan kelahiran.
  3. Mengakhiri kesuburan atau tidak lagi mau melahirkan anak.

Secara umum, orang Kristen boleh memakai KB, asal dengan cara2 yang benar (misalnya tidak membunuh anaknya, aborsi dll) tetapi juga perlu menanyakan persetujuan Tuhan secara pribadi.

GOLONGAN A: PECEGAHAN.

CARA ONAN DALAM KB.

Kejadian 38:8-10.

Bacalah juga Ul 25:5,6; Luk 20:28-32. Tetapi kita harus ingat Tuhan Yesus masih hidup dalam zaman Taurat. Ia sedang menggenapi Taurat (Mark 1:44) sampai semua sudah digenapkan, Yoh 19:30. Peristiwa Onan ini menceritakan suami istri yang berhubungan tetapi mencegah pertemuan benih suami dan benih istri.

Dalam peristiwa ini Tuhan menghukum, mengutuki Onan sampai mati, sebab itu beberapa orang mempergunakan ayat-ayat ini sebagai pegangan prinsip bahwa KB itu dilarang oleh Tuhan. Bahkan berdasar ayat- ayat ini pula ada yang menganggap semua cara-cara KB itu dosa dan perbuatan yang sangat jahat dihadapan Tuhan.

Ayat-ayat ini seolah-olah memang tidak menyetujui pelaksanaan KB istimewa dengan cara-cara khusus seperti Onan. Tetapi tentang peristiwa ini kita harus ingat bahwa:

Peristiwa ini berada dalam Perjanjian Lama sebab itu kita tidak dapat menafsirkannya langsung secara jasmani. Lalu apakah artinya peristiwa Onan ini bagi kita? Allah tidak memaksudkannya bagi kita secara hurufiah, tetapi secara rohani. Peristiwa Onan (kewajiban ipar) tidak dapat ditaati secara hurufiah dalam Wasiat Baru sekarang, ini tetap berarti perzinaan dan ini adalah dosa.

 

ARTI ROHANI PERISTIWA ONAN.

Jadi penerapan peristiwa Onan secara HURUFIAH (dalam hubungannya dengan KB) tidaklah tepat!

Lalu apakah arti peristiwa Onan bagi kita secara rohani?

  1. Tujuan dari kewajiban Onan ialah supaya saudaranya yang mati itu (Er) mendapatkan keturunan. “Mendapat turunan” bagi kita itu berarti turunan rohani, yaitu memenangkan jiwa-jiwa, seperti dalam Kis 2: 47 ; 6:7.
  2. Tamar adalah bayangan Gereja atau pekerjaan Tuhan. Tamar mengalami kematian suaminya. Inilah gambaran Gereja yang kehilangan “suami” (ditinggalkan Tuhan) se-hingga mengalami suasana kematian dan tidak berkembang biak, mandul, tiada berbuah-buah.
  3. Onan yang masih hidup menggambarkan orang2 beriman danhamba-hamba Allah yang hidup, penuh kuasa dan urapan Roh Kudus.
  4. Peraturan WL mewajibkan Onan untuk memberi benih kepada janda kakaknya yang mati, yang tidak mempunyai turunan, supaya garis turunan kakaknya itu tidak putus. Secara rohani ini berarti bahwa kalau dalam lingkungan tanggung jawab kita terdapat Gereja atau pelayanan yang hampir mati, tidak lagi dapat berkembang, tak dapat beranak-anak rohani lagi, maka wajiblah hamba Tuhan yang hidup rohaninya, yang paling dekat dengan dia ikut bertanggung jawab akan Gereja tersebut, untuk membangunkan, meng hidupkannya, dengan memberi benih-benih dari Firman Tuhan yang hidup-hidup, supaya dapat beranak lagi.
  5. Onan memang pergi untuk menghidupkannya, tetapi Onan pura-pura saja melakukannya. Mengapa? Sebab bagi Onan secara pribadi hal itu tidak berfaedah, tidak mendatangkan hasil, turunan yang akan lahir tidak menjadi miliknya. Oleh sebab macam-macam alasan kepentingan sendiri ini membuat Onan menggenapi kewajibannya dengan pura-pura.

Ini amat jahat pada pemandangan Tuhan, sebab ia memakai kuasa Roh Kudus (kuasa berkembang biak; Kis 1:8) dengan pura-pura, dengan tipu atau mencari laba yang keji bagi kepentingannya sendiri. Sifat munafik yaitu pura-pura ini membangkitkan murka Allah. Ini menceritakan kerjasama yang pura-pura, seolah-olah menolong tetapi diselewengkan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Ini yang tidak disukai Tuhan dan pasti dihukum Tuhan.

Tuhan tidak ingin kasih yang munafik. Dari luar tampaknya tolong menolong, tetapi jauh dalam dasar hatinya mereka sebetulnya lebih mengharapkan supaya gereja-gereja atau pekerjaan Tuhan yang lain tetap mati, mandul, macet dan berkurang-kurang supaya mereka sendiri yang unggul, besar dan dapat keuntungan (pribadi) yang maksimal. Sifat Onan yang manis diluar tampaknya mau menolong, meng-hidupi, mau menggenapi kewajibannya, mau pergi, tetapi pura-pura, dalam hatinya sebenarnya justru mengharapkan kematian dan kerusakan gereja yang lain. Inilah yang jahat dihadapan Allah, penipu yang sangat manis dan tidak kentara, tetapi Allah memeriksa segala rahasia hati  manusia!

Gereja yang lain, pekerjaan Tuhan yang lain itu juga pekerjaan Bapa. Sedikit-dikitnya kalau kita tidak dapat ikut membantu pertumbuhannya, jangan kita menghalang-hala-ngi, apalagi mematikannya.

KESIMPULAN:

  1. Cara Onan secara fisik berhubungan dengan kakak iparnya ini termasuk golongan cara- cara KB yang mencegah pertemuan antara sel- sel benih suami dengan sel telur istri.
  2. Peristiwa Onan (kewajiban ipar, PL) tidak lagi diterapkan diantara kita secara hurufiah, tetapi secara rohaniah. Kalau ada saudara yang mati, tidak lagi saudaranya yang masih hidup memberi benih pada kakak ipar perempuan, supaya hamil; bahkan kalau ini dilakukan, justru ini merupakan perzinahan.
  3. Begitu pula peristiwa Onan secara hurufiah kurang tepat bila dipakai sebagai pegangan untuk menyalahkan KB, karena bila ini diterima, berarti kita juga harus mengizinkan sunat, sabat dll.
  4. Dari peristiwa Onan kita diperingatkan supaya tidak bersikap pura-pura, tetapi dengan jujur dan tulus mengharapkan supaya Nama Tuhan juga dipermuliakan di luar lingkungan yang menjadi tanggung jawab kita, lebih-lebih terhadap yang mati yang kita wajib menghidupinya dan lain-lain peraturan-peraturan Perjanjian Lama secara harfiah.

 

GOLONGAN B: PEMBUNUHAN (Aborsi).

GOLONGAN C: STERILISASI.

GOLONGAN D: LAIN2: INSEMINASI, BAYI TABUNG, MANDUL DLL.