M3695 – Kejadian 2:18 Menikah Jadi Lebih Baik

I. PENDAHULUAN
Tuhan membuat lembaga pernikahan supaya menjadilebih baik menikah. Tuhan tidak pernah salah. Apakah betul suami istri sesudah menikah hidupnya menjadi lebih baik secara jasmani dan rohani? Berapa kali lebih baik, dua kali, tiga kali, lima kali, sepuluh kali, dst.
Juga mereka yang belum dan tidak menikah 1Kor 7:7, juga seharusnya makin lama ikut Tuhan Yesus, makin indah hidupnya dan sejak lahir baru, menjadi berapa kali lebih baik? Harus tumbuh, jangan macet.Kita perlu bisa menghitung atau mengira2, sebab untuk menjadi lebih baik, itu sudah dibayar lunas oleh Tuhan, kita bisa memperolehnya dengan limpah kalau mau dan mengerti. Seperti sudah dibayar lunas untuk boleh makan segala dalam restoran tetapi hanya minum saja, padahal lapar sekali, itu bodoh dan rugi. Apa yang sudah dijanjikan Tuhan dan sudah dibayar lunas oleh darahNya, bisa kita nikmati dengan penuh syukur pada Tuhan. Mengertilah (sebab itu kita pelajari sekarang) dan nikmatilah!
II. HIDUP SUAMI ISTRI
Seorang yang lahir baru jadi anak Allah (Yoh 1:12) seharusnya hidupnya jadi lebih baik dan lebihindah terus menerus, tumbuh terus, akhirnya sampai di puncaknya seperti Kristus. Jangan berhenti maju dan bertumbuh.
Suami istri yang percaya Tuhan Yesus bisa lebih untung lagi, sebab:
1. Mat 19:5-6 Suami dan istri 1+1=1.
Ini suatu persekutuan manusiawi tingkat tertinggi. Sebetulnya hasilnya bisa berlipat kali ganda Im 26:8. Dalam duniapun orang mengenal: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Apalagi di dalam Kristus dengan kasih, tabiat baru di dalam Kristus, dipimpin Roh, limpah dengan Firman Tuhan dst, seharusnya hasilnya luar biasa, baik untuk hal rohani dan jasmani. Kalau sesudah nikah jadi lebih baik lima kali itu masih biasa, bisa sampai sepuluh kali atau lebih. Bagaimana kita? Berapa kali? (Suami istri hitung sendiri-sendiri, lalu dicocokkan). Kalau ada yang tidak lebih baik, apalagi mereka berkata: lebih baik tidak kawin, itu berarti hasilnya lebih jelek dan pasti ada salahnya, sebab Tuhan tidak pernah salah! Perbaiki, jangan putus asa (lihat bagian akhir). Tidak tergantung dari siapa orangnya, penghasilannya, kepintarannya, orang biasa atau orang yang berkedudukan, jiwa baru atau lama, dll, semua bisa mengambil faedah yang se-besar2nya, yang sudah disediakan Tuhan, asal mengerti dan mau.
2. Pkh 4:12 Tali tiga lembar (1+1+1=1),
ini tidak akan putus, yaitu suami istri di dalam Kristus. Memang penting sekali tinggal dalam Kristus dengan baik, sebab semua keuntungan dari nikah yang sudah disediakan Tuhan itu, hanya bisa di dapat dalam Kristus. Ada orang Kristen tetapi tidak hidup dalam Krisus, maka ia tidak akan mengalami janji2 Tuhan. Di dalam Kristus kita akan menikmati janji2 Tuhan yang progresif, makin lama makin banyak sampai puncaknya.
III. MENILAI KEINDAHAN NIKAH
Penilaian itu tergantung dari sudut pandangan. Kadang-kadang sudut pandang dunia dan Tuhan itu bisa berbeda sama sekali. Indah, terhormat untuk dunia tetapi di hadapan Allah seperti binatang yang masuk neraka Maz 49:21. Bahkan yang cukup baik untuk ukuran umum, kalau menurut ukuran Allah yang maha baik itu baru kain larah Yes 64:6; Luk 18:19. Menilai menurut Firman Tuhan itu yang betul.
1. Suka cita dan sejahtera. Ukuran ini yang paling banyak dipakai.
Rasa senang, puas, sukacita, ini banyak terpengaruh perasaan hati. Perasaan hati itu bisa lemah, rusak, terbakar sehingga sekalipun indah menurut Tuhan dianggap menderita sebab pikirannya duniawi. Ada suami yang dunia anggap jelek, kurang pintar dll, tetapi istrinya cinta sekali dan mereka berbahagia, diberkati Tuhan dsb. Laki-laki yang menilai.
Israel di padang gurun tidak puas, bersungut-sungut, padahal sangat indah, bahagia dan punya masa depan yang gilang gemilang di Kanaan yang limpah susu dan madu. Orang beriman yang mengerti Firman Tuhan dan lekat dengan Tuhan akan mempunyai perasaan hati yang betul seperti Yusak dan Kaleb, sebab itu mereka sangat bersukacita dan bergembira dengan keadaan mereka dalam perjalanan ke Kanaan, lain sekali dari orang-orang Israel yang bersungut-sungut. Juga dalam keluarga, kalau orangnya mata duitan lalu dibanding-bandingkkan dengan suami2 yang lain (misalnya dalam reuni dll)lalu sedih,, lalu bersungut-sungut dan merasa celaka dan menderita padahal di dalam Tuhan, ia bisa bersukacita. Kalau hidupnya betul, jasmani bisa sangat diberkati.Jangan menilai dari sudut uang, atau kedudukan dll yang fana, bisa timbul pikiran jahat dan keji untuk bercerai supaya bisa dapat suami atau istri yang “membahagiakan”. Pikiran seperti ini (ingin akan uang) akan menimbulkan banyak akal2an dan siasat keji 1Tim 6:9-10.
2. 1+1=1 (Mat 19:5-6).
Merasa seperti dirinya sendiri bukan orang lain. Susah dan senang ditanggung bersama. Nikah yang harmonis dan makin menyatu sampai seperti Kristus dan mempelaiNya.Tetapi kalau sudah merasa orang lain kesepian, tidak ada tempat pencurahan hati dll, itu tandanya hubungannya tingkat nol, tidak harmonis, misalnya karena kasihnya bocor. Ini bisa masuk dalam tingkat perceraian. Selanjutnya, berbahaya.
Mula2 1+1=2 seperti orang lain. Lama-lama dosa makin banyak masuk, nikah bisa rusak dan cerai, itu jahat sekali di hadapan Tuhan.
Jangan sampai masuk jurang celaka ini, tetapi nikmati nikah yang manis, tanpa dosa, kasih bertumbuh, sukacita dan sejahtera. Kalau salah satu tidak betul (tidak ada cinta, perhatian, uang dll tidak dimiliki bersama) jangan terpancing untuk marah, tetapi ampuni dan doakan supaya iblis dikalahkan dan pemulihan terjadi, lalu tumbuh terus makin manis dalam Tuhan.
3. Kasih mula2 harus jadi patokan terendah, lalu terus makin bertambah 1Tes 4:10. Kalau ada kasih, pengampunan limpah 1Yoh 4:8 bisa melupakan atau menutup banyak dosa. Kalau tidak ada kasih problem kecilpun tidak ada ampun. Kalau toh ini terjadi,
jangan membalas, ampuni dan berdoa dalam Roh dan tetap hidup benar, tidak terpancing berdosa! Sebab doa dalam Roh dan kebenaran itu besar kasiatnya Yak 5:16, dan kembali dipulihkan, dan Roh Kudus bisa kembali mencurahkan kasih Rom 5:1.
4. Kesucian
Ini erat hubungannya dengan kasih. Kesucian berarti tidak boleh ada orang ke tiga, sampai pikiran dan angan2 yaitu dosa Ibr 13:4. Kalau kesucian dipelihara, lebih2 oleh keduanya, maka kasihnya akan terpelihara bahkan meningkat, bukan berkurang Rut 2:12. Kalau seorang suka pikul salib, lekat dengan Tuhan seperti Yoh 15:5 terus menghisap tujuh kebutuhan pokok rohani (7KPR), ia akan kuat dan senang pikul salib (menderita karena kebenaran 1Pet 2:21) sehingga bisa hidup suci 1Pet 4:1 Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas menuangkan lebih banyak kasih (lebih banyak mau sengsara salib dengan sukacita, lebih banyak bisa menerima kasih Kristus dari Roh kudus).
5. Tugas kewajiban suami istri.
Istri tunduk dan cinta pada suami Ef5:22-24, Tit 2:4-5). Jangan berbantah2 terus tetapi mengalah diam, tunduk, namun tetap mengatakan nasehat dari Tuhan,. Pelihara keharmonisan dalam rumah tangga dengan kuasa dan pimpinan Roh Kudus, terus berjalan dalam Roh, jangan pakai kuat sendiri Yer 17:5 nanti tidak tahan, dan terpancing berdosa, keadaannya akan jadi makin kacaubahkan bisa berlanjut lebih jahat. Ef 5:25-29; Kol 3:19.
Suami cinta istri sendiri, jangan cinta perempuan lain. Kalau ada yang tidak beres, Istri jangan cemburu, tetapi berdoa, kalau perlu puasa; tetapi ini gagal kalau istri marah2 dan benci, iblis bekerja, keadaan makin ruwet dan perang tidak akan berakhir, sebab iblis dalangnya akan terus mengadu. Tetapi suami istri yang hidup dalam kesucian dan berkasih-kasihan itu akan terus sehati mengerjakan beban bersama, tidak “ijir” (mau melakukan tugas lebih berat, apa saja karena ada cinta). Mereka akan diberkati rohani dan jasmani. Juga dalam jasmani dikerjakan bersama, berusaha dan berdoa menurut pimpinan dan kuasa pertolongan Roh Kudus, Dia sanggup menolong dan memberkati.
6. Mulut.
Sekalipun terhadap suami/istri jangan bicara sembarangan, jangan menyakiti hati dengan pedang kata2 Maz 52:4; Ams 12:18. Kalau ada yang salah, tetap harus dinasehati supaya jangan jadi dosa Yak 4:17, berusaha menolongnya supaya sadar, mengakui, bertobat dan kembali di pihak Tuhan Yak 4:7-8 sehingga suami istri bisa saling mengasihi dan mengampuni dan bisa bersekutu kembali. Jangan bicara ngawur, harus punya rem dan limpah dengan kasih (limpah pengampunan 1Pet 4:8). Kalau mulut tidak dijaga, akan terus terjadi cek-cok dan kebakaran besar bisa terjadi Yak 3:5-6.
Jangan bicara jelek tentang suami atau istri pada orang lain, itu terlalu jelek sebab itu berarti tidak ada kasih, bahkan benci pada orang yang paling dekat dan setan akan memakai kesempatan ini, sehingga hal-hal yang lbih jahat akan terjadi.
IV. ROHANI.
Seharusnya sesudah nikah, rohani keduanya makin baik. Saling menasehati, melayani dalam Roh, mendoakan, mendorong. Kalau suami istri tidak makin maju, dalam gereja mereka juga tidak bisa menjadi berkat, tidak berfungsi.
1). Dengan saling nasehat dalam kasih, Yak 4:17, Gal 6:1kesalahan masing-masing makin turun dan kesalahan bersama ditiadakan Mat 7:1-5. Apalagi dosa-dosa yang sulit dilihat sendiri seperti sombong, selalu menganggap dirinya benar, iri benci, tidak senang hati, dll. Jangan ketularan dosanya,sehingga jadi sehati dalam dosa, seperti Ananias Safira, Korah, Datan, Abiram, istri dan anak-anak, Akhab Isebel, dll seharusnya seperti Nabal dan Abigail, Pilatus dan istrinya. Kalau istri bisa mengerem tindakan salah dari sang suami, maka celaka besar bisa dikurangi atau dibatalkan seperti tindakan Abigail menyelamatkan pertumpahan darah besar-besaran dalam rumahnya dan mencegah cacat Daud. Coba Naomi berani mengerem Elimelekh, semuanya masih hidup. Jaman sekarang lebih mudah melakukan hal ini,sebab ada Roh Kudus sehingga Elimelekh, Nabal mungkin bisa bertobat dan diselamatkan. Juga Ayub terhadap istinya, Abraham terhadap Sarah.
2). Belajar Firman Tuhan bersama, doa bersama, pelayanan bersama seperti Priscilla dan Aquilla Kis 18:2,26  supaya jangan pincang rohaninya.
3). Perubahan tabiat bersama Supaya sama-sama tumbuh makin cepat seperti Kristus. Ingat dengan Tuhan lebih efektip Pkh 4:12.
4). Mendidik anak bersama-sama jangan sama-sama marah pada anak yang salah apalagi sesudah besar, tetapi salah satu marah, salah satu berdoa. Doa bersama perlu tetapi jangan marah atau benci bersama, supaya Roh Kudus bisa bekerja di tengah2nya. Anak-anak sekarang menghadapi pencobaan yang jauh lebih besar dari jaman lalu, istimewa dengan internet dan HP. Pergaulan buruk terlalu banyak 1Kor 15:33 sehingga makin banyak yang rusak. Perlu nasehat, teguran dan doa bersama. Jangan kecil hati. Jangan bicara ngawur dan maki2 pada anak tetapi beri kata2 dan nasehat yang betul untuk membangunnya. Anak yang jelek, orang tua juga ambil andil, sebab waktu “serah terima” dari Tuhan (waktu lahir) itu keadaannya “baru gres” orang tua punya kesempatan emas, kesempatan pertama untuk mendidik anaknya jadi betul. Suami istri perlu jadi guru SM setiap hari di rumah, dan menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya. Memang orang tua yang dingin atau suam, sulit menolong anaknya lepas dari arus dosa yang besar dalam jaman internet dan HP (murid tidak lebih dari gurunya Mat 10:24. Tetapi kalau suami istri mau bertobat dan mereka sendiri diperbaiki, anak-anak masih ada harapan juga diperbaiki). Bagaimanapun juga jangan menyerah, jangan kecewa/ putus asa, atau benci, itu jadi dosa. Teruskan berjuang menyelamatkan anak-anak sampai nafas terakhir. Jangan berhenti sebelum mati dengan berhasil atau gagal (doa, nasehat dan contoh hidup orang tua. Sekalipun sudah mati, masih berlanjut dalam si anak, asal sungguh-sungguh).
5). Dalam hal-hal yang bertentangan, jangan berperang senidiri.
Rumah tangga dengan satu tiang itu sangat berat, tetapi masih bisa berdiri sebab ada lagi satu tiang yaitu Kristus Pkh 4:12. Asalkan jangan berperang sendiri, jangan pakai kemampuan, kuasa, hak, kepintaran sendiri, tetapi berdoa, dalam kesucian (jaga mulut) biarlah Tuhan yang berperang menolong.Kel 14:14. Kalau keduanya berdosa apalagi keras hati, rumah itu roboh, dijarah Iblis, sulit untuk ditolong, sebab keduanya keras hati. Kalau ada yang mau bertobat, kembali pada Tuhan (Yak 4:7-8) lalu berdoa, Roh kudus pasti mau menolong dan bisamenang, seberapa jauh mau bertobat dan berubah. Ingat Kis 16:31, berjuang terus untuk seluruh keluarga,
Tuhan sanggup menggenapkan janji ayat ini. Jangan seperti Ayub yang hanya kuatir (Ayb 3:25) tetapi kurang bertindak, salahnya seperti imam Eli, apalagi jadi lebih parah oleh istri Ayub yang beri contoh dan mengajar anak-anaknya hanya berpesta dan bersuka2an 1Tim 5:6 (sebab kaya) dan menghujat sehingga semua anaknya binasa (rupa2nya istri Ayub masih mau bertobat sehingga masih diberi kesempatan oleh Tuhan, tidak ikut dihukum mati). Coba Ayub tegas dan terus bergumul mungkin bisa menolong sebagian atau semua anak-anaknya. 6). Kerja sama untuk menggarami “pancinya”.
Kerjasama dalam Roh untuk menjadi berkat bagi orang-orang sekitarnya, lingkungan (atau pancinya) dalam tetangga, famili, gereja dan orang-orang dekat lainnya Luk 10:27, atau orang-orang yang dikirim Tuhan ke dekatnya. Sebisa2nya kerja bersama dalam Roh, saling mendoakan menasehati dan bergerak di dalam pimpinan Roh Kudus sehingga jadi berkat bagi pancinya. Sebab ini kehendak Tuhan Mat 7:21. Orang yang pelitanya padam, garamnya tidak asin itu rugi dan celaka, seperti lima gadis bodoh, diinjak kekafiran atau Antikris. Mat 5:13,14; 25:12-13.
V. MUSUH HIDUP NIKAH
1. Keras hati, Ini merusak seluruh hdiupnya apalagi kalau kedua2nya kena.
2. Zina, akibatnya iblis masuk, dosa bertambah, kasihnya berkurang, tiada ampun dan neraka tumbuh dalam keluarga ini. Keluarga yang hidup suci, kasihnya tumbuh, bisa hidup dipimpin Roh dan surga tumbuh dalam keluarga ini.
3. Tabiat lama. Kalau hubungan jarak jauh, tabiat jelek masih bisa disembunyikan demi jaga hubungan baik. Tetapi suami istri itu adalah hubungan paling dekat. Tabiat yang jelek mengakibatkan perkelahian dan banyak cek cok,apalagi kalau ada dosa zina dan kasih habis (tidak ada ampun) keadaan makin parah.
4. Tidak mengenal tugas dan pelayanan suami istri.
Kalau masing-masing tidak tahu fungsi dan tugasnya, rumah tangga jadi kacau, apalagi kalau tidak ada kasih. Kalau kepala jadi tubuh dan dan tubuh jadi kepala itu namanya akrobat, tidak wajar dan tidak bisa tahan lama, kacau, banyak kehancuran (perlunya konseling pranikah)
5. Mulut
Ini biasanya paling banyak ikut campur dan pegang peran untuk membangun atau merusakkan rumah tangganya. Mau menyangkal mulut, belajar Firman Tuhan, Banyak berdoa supaya  dipimpin Roh, maka mulut bisa jadi berkat diantara suami istri.
VI. MENILAI HIDUP NIKAH
1. Kemesraan kasih suami istri masih ada? 1+1=1 atau 2?  Sering kali bertengkar? Masih ada ampun?  (tidak ada kasih). Masih ada yang mau dipakai Tuhan untuk berjuang untuk menyelamatkan hidup nikah dan kelaurga?
2. Pertumbuhan rohani sesudah nikah apa lebih banyak dari sebelumnya? Doa, pengurapan, pelayanan, dipimpin Roh, menangkan jiwa-jiwa dll. Apakah lebih maju dari pada sebelum nikah?
3. Tabiat makin seperti Kristus dan tumbuh cepat sesudah nikah.
4. Bisa jadi berkat untuk keluarga sendiri, untuk anak, menantu, cucu sendiri,untuk “pancinya”, atau jadi batu sontohan.
Kalau sudah baik, tumbuhkan terus sampai seperti Kristus dan mempelaiNya. Rencana Tuhan yang indah-indah akan jadi dalam nikah di dalam Kristus.
Kalau keadaan jelek atau rusak, jangan putus asa. Selama masih hidup masih ada kesempatan dan pengharapan. Tentu rumah yang besar robohnya lebih berat daripada kalau hanya bocor kecil. Tetapi tetap jangan putus asa. Menyerahlah pada Tuhan, hidup dalam kesucian dan kasih, jangan terpancing untuk berdosa lebih lanjut, tetapi bertobat sungguh-sungguh Yak 4:7,8 dan dengan Allah, bangun kembali rumahtangganya. Bagi Allah tidak ada yang mustahil, asal ada yang mau korban untuk berdiri di celah Yez 22:30. Kalau ada, Tuhan akan bekerja lewat orang itu, siapapun dia yang mau. Tuhan Sang Penjunan Yes 64:8 sanggup menolongnya. Tuhan sanggup mengulang kembali, membangun yang rusak.
Nyanyian:
Buatlah jalanmu dalam saya,
Tuhan Penjunan, ku tanah liat.
Biar Kau kerjakan.
S’turut mauMu
Kutunggu diam di kakiMu.