M4150 – 2Samuel 7:8,18. Dari Kandang Naik Ke Istana

RENCANA ALLAH.

Orang yang menjaga domba di padang atau di kandangnya adalah orang yang kecil, rendah ,bahkan hina dan keben-cian bagi orang Mesir Kej 46:34. Sela-manya tidak mungkin ia berubah men-jadi raja yang duduk di istana. Ini tidak mungkin, tetapi ini terjadi ber-ulang2 pada orang2 yang taat dan setia pada Tuhan, misalnya:

  1. Daud, gembala domba yang berke-nan pada Tuhan lalu menjadi raja, du-duk di istana.
  2. Yusuf, pemuda desa, orang kecil yg menjadi budak (masa depannya jelek), tetapi kemudian duduk di istana Firaun dan memegang kekuasaan penuh, yang diberikan oleh Firaun kepadanya.
  3. Musa, anak seorang budak di Mesir yang diangkat anak oleh putri Firaun dan masuk istana Firaun, menjadi sangat indah jasmani dan rohani.
  4. Banyak orang meskipun kecil, biasa, tetapi karena berkenan pada Tuhan lalu diangkat Tuhan menjadi orang be-sar. Tuhan bisa melakukannya bagi se-gala orang, berasal dari mana saja, juga dari yang paling rendah seperti Samuel, Putra manusia Yesus dll.

Sebetulnya, memang itulah rencana Allah, membuat orang berdosa yang mau percaya, menjadi anak2 Allah dan terus tumbuh sampai mengalami per-kara2 yang besar dari Allah. Allah yang besar tidak pernah merencanakan yg kecil, selalu yang besar dan mulia se-perti diriNya sendiri, untuk semua anak2Nya

Tuhan merencanakan orang2 perca-ya itu menjadi orang benar, orang suci dan orang sempurna. Tetapi ini tergan-tung dari masing2, yang mau percaya dan mau taat memenuhi syarat2nya.

Tuhan tidak membedakan orang, syaratnya sama untuk semua orang, asalkan orang itu  indah di hadapan Tuhan (seperti Daud Kis 13:22), ia akan ditinggikan menjadi besar dan juga hal2 jasmani yang besar diberikan Tuhan kepadanya Mat 6:33.

Orang Israel dibawa keluar dari Mesir untuk menjadi suatu bangsa yg besar di negeri yang indah, yang limpah dengan air susu dan madu, tetapi Israel tidak percaya dan tidak taat, sehingga mereka tidak mengalaminya, kecuali generasi kedua yang percaya dan mau taat di bawah pimpinan Yusak, kecuali Yosua dan Kaleb.

Selain itu kita sering melihat bahwa anak2 orang besar, tidak mengalami rencana Allah selanjutnya yang lebih besar (sambungan dari rencana Allah, dari orangtua kepada anak2 atau anak buahnya), sebab rencana Allah selalu progresive dari kemuliaan, kepada ke-muliaan yang lebih tinggi, bahkan sam-pai pada puncaknya 2Kor 3:18. Ka-dang2 anak2 (atau generasi berikutnya dari orang2 yang diangkat Tuhan men-jadi besar) hanya bisa mengambil kebe-saran orangtuanya (atau pemimpin2-nya), tetapi tidak memenuhi syarat2 yang dilakukan orangtuanya, sehingga tidak bisa melanjutkan kemuliaan dan berkat orangtuanya kepada tingkatan berikutnya yang lebih mulia, bahkan justru menjadi jelek atau rusak, pada-hal Tuhan yang memberi anak, juga menyediakan rencana yang lebih besar, lanjutan dari bapaknya, kalau ia meme-nuhi syarat2 yang sama. Misalnya orang2 yang me-muji2 pemimpinnya, tetapi mereka sendiri tidak menuruti pertobatannya, pertumbuhan dan ke-taatannya. Juga anak2 tidak meng-ikuti jejak orangtuanya. Misalnya beberapa anak2 raja, tidak mengikuti jejak orang-tuanya, sehingga hidupnya merosot menjadi jelek, seperti anak2 Daud, anak2 Yosafat, anak2 Hizkia, juga anak2 hakim2 dan nabi2, anak2 Musa, anak2 Ayub, Samuel dll, padahal kalau mere-ka mau memenuhi syarat2 yang sama, mereka akan menjadi lebih indah, me-lanjutkan rencana Allah bagi orang-tuanya. Jangan lupa orangtuanya juga harus mendidik anak2nya sungguh2.

MENGAPA HAL INI TERJADI.

Mengapa orang bisa naik dari kandang ke istana?

  1. Mahir dengan salib. Orang besar ini biasanya mulai dengan keadaan yang kecil dan tidak berarti. Misalnya Yusuf, mula2 tidak mempunyaiapa2 yang in-dah yang diwariskan atau diberikan ke-padanya, tetapi justru sangat menderi-ta, dibenci oleh semua kakak2nya di rumah, mau dibunuh, dijual menjadi budak, sehingga tidak ada lagi masa de-pannya. Tetapi sebab ia bisa mahir pi-kul salib, taat akan Firman Tuhan, se-kalipun menderita, tetap berkenan pa-da Tuhan, maka Tuhan menyertainya, sehingga terus tumbuh dan dipersiap-kan masuk ke istana, yang tidak terba-yang, bahkan tidak pernah terpikir olehnya.
  2. Masa pengolahan yang panjang dan tetap setia, tahan, tidak ber-sungut2 atau lari, tetapi tetap berkenan pada Tuhan. Biasanya tuhan mengizinkan mereka mengalami penderitaan yang biasanya panjang, tetapi mereka tetap setia, taat, dan berkenan pada Tuhan; akhirnya mereka diangkat sangat tinggi oleh Tuhan sebab setia, terus taat, mereka menjadi indah bahkan naik terus sampai ke akhir.

Yusuf mengalami masa pengolahan di rumah bapaknya sampai umur 17 tahun, dan 13 tahun kemudian menjadi budak sampai masuk penjara, tetapi te-tap setia, suci, taat, berkenan pada Tuhan. Juga Daud dikecilkan di rumah (tidak masuk hitungan), dijadikan gem-bala domba bukan prajurit yang ter-hormat, sampai lebih kurang 17 tahun. Sesudah menang melawan Goliat, te-tap masih belum naik, tetap biasa2 saja. Ia terus mengalami hari2 yang su-lit sampai umur 30 tahun, di-kejar2 dan mau dibunuh oleh Saul, tetapi tetap suci, benar, berkenan pada Tuhan dan tidak benci atau membalas Saul, baru seseudah itu ia diangkat menjadi raja.

  1. Tulus, benar, berkenan pada Tuhan, meskipun mengalami banyak penderi-taan dan ketidakadilan seperti Yusuf, Daniel, Daud dll Kis 13:22.
  2. Tetap rendah hati. Ini kunci penting sebab orang yang sombong tidak mungkin bisa meningkat dalam ren-cana Allah yang indah. Rencana Allah bagi semua anak2 Allah sama, yaitu rencana kelas I, tertinggi dan indah. Tetapi sebab tidak memenuhi syarat, istimewa sebab sombong, ambisi, me-nuntut perkara2 besar, apalagi kalau sudah mulai sukses, rencana Allah bagi mereka merosot, sampai akhirnya tidak menjadi apa2. Contoh yang menye-dihkan misalnya anak2 orang besar yang seharusnya bisa melanjutkan ren-cana Allah yang makin tinggi, banyak yang batal sebab tidak rendah hati. Seringkali anak2 ini tidak mau diolah, atau tidak mau menjalani “sekolah” bapaknya, karena mereka tiba2 sudah menjadi mulia dan dihargai ber-lebih2 sebab menjadi anak orang besar, mes-kipun mereka belum punya dasar yang cukup kuat.

Sebaliknya mereka hanya mau:

  1. Menikmati masa yang enak dan panjang. Sebagai anak2 orang besar, mereka dihargai ber-lebih2an sehingga mudah keluar tabiat daging yang merusak dan menghancurkan nasibnya. Apalagi kalau orangtuanya tidak mendi-dik dengan ekstra keras, tabiat2 ini mu-dah muncul dantumbuh bahkan mera-jalela, misalnya pada anak2 Ayub dll.
  2. Tidak perlu pikul salib, tetapi terus melazatkan tabiat daging, sehingga menghasilkan banyak sifat yang jelek seperti sombong, menang2, tidak bisa ditertibkan, tidak bisa menderita, minta senang2 dan enak terus.

Ada seorang sukses yang mempu-nyai pabrik yang amat besar. Sesudah putranya lulus sekolah, dijadikan pega-wai yang paling rendah dan kalau ker-janya baik, baru diangkat lebih tinggi, begitu selanjutnya sampai lewat bebe-rapa tahun, baru sampai di tingkat atas. Maksud bapaknya untuk mendidik mental yang baik, rendah hati dan mengenali semua pekerjaannya. Cara ini sebetulnya tidak terlalu berat (asal anaknya mau diolah dan rendah hati), sebab semua atasannya yang tahu bah-wa ini anak bos, tetap memperlaku-kannya dengan lunak dan banyak pe-ngecualian; meskipun begitu, ini lebih baik daripada tidak diolah sama sekali. Banyak anak2 orang besar dalam Tu-han, tidak mengalami sekolah pengo-lahan yang dialami bapaknya, ini keku-rangan yang amat besar!

  1. Tabiat2 daging akan muncul dengan subur dan limpah dalam semua segi kalau seorang ada dalam zona nyaman, apalagi kalau punya backing dari orang-tuanya sekalipun tidak dinyatakan, te-tapi orang2 tahu. Banyak tabiat daging muncul dgn sendirinya (Yoh 3:19) seperti:

b.1. Tidak tertib, selalu penuh penge-cualian, tidak bisa diatur, semaunya sendiri.

b.2. Tidak mau kalah, mau menang terus, hampir2 tidak tahu menyangkal diri.

b.3. Suka ber-mewah2 dan melazatkan segala keinginan daging seperti makan minum, pakaian, tidak bisa berpada, tidak bisa hemat tetapi boros.

b.4. Bicaranya tanpa rem, tidak bisa menahan mulutnya bahkan dengan mudah menyalahkan orang2 lain, tidak mau dinasehati, bahkan Tuhanpun di-salahkan dan dihojat, seperti pada anak2 Ayub dan tidak seorangpun yang bisa menahan mulutnya, 10 anaknya rusak semua.

b.5. Tidak tulus, penuh dosa, tetapi ti-dak mau atau tidak perlu bertobat, tidak ada yang berani menyalahkan. Sampai2 Salomo begitu bejat, tidak ada orang yang berani menyalahkan, tidak ada nabi yang terdengar muncul me-nuding Salomo. Begitu juga dengan anak2 Daud, sehingga mereka bebas berbuat dan merencanakan dosa, bah-kan saudara2 dan keponakan, familinya ikut manja sehingga mereka merenca-nakan pemerkosaan begitu mudah, ti-dak ada takutnya sama sekali, misalnya 2Sam 13:1-5. Begitu juga beruat segala macam dosa lainnya, apalagi dosa2 kecil itu rutin, sehingga hidupnya pe-nuh dengan dosa, siasat, tidak tulus, sekehendak hatinya sendiri.

b.6. Penuh kejemawaan, apalagi kalau orangtuanya tidak menegur, anak2 ini merasa itu normal, baik, tidak salah, sebab orang lain tidak ada yang berani menegur, justru terus dihormati dan di-angkat2 sehingga makin sombong dan jemawa, masuk jerat kesombongan setan Ams 29:15, sehingga hidupnya terkutuk, seperti anak2 Ayub Ams 27:14. Kesombongan ini salah satu se-bab terbesar yang membuat anak2 orang yang besar ini tidak bisa bertobat dan akibatnya sangat fatal seperti anak2 Ayub yang mati dihukum Allah, diserahkan pada iblis sepenuhnya dan langsung digarap iblis (supaya tidak ada kesempatan bertobat lagi).

III. DOSA KESOMBONGAN.

Sombong itu sangat dahsyat, sebab:

  1. Melawan Allah sehingga dilawan Allah 1Pet 5:5 dan direndahkan amat sangat Mat 23:12. Orang yg dilawan Allah pasti nasibnya jelek, bahkan bina-sa! Orang sombong pasti tidak akan mengalami peningkatan seperti ini (da-ri kandang sampai istana), tetapi terus menerus direndahkan. Orang2 yg sa-ngat ambisi masih mungkin eksis (tetap ada), tetapi pasti dengan banyak kepa-hitan dan semuanya itu sia2. Justru orang sombong akan diturunkan dari istana sampai ke kandang binatang seperti Nebukadnezar Dan 4:33.
  2. Sombong itu sumbernya dari ba-nyak dosa yang lain, misalnya tidak bi-sa terima nasehat, tidak mau kalah. Bahkan kalau usulnya tidak diterima menjadi marah, benci, dan ber-larut2, mudah sakit hati, mudah stress lebih2 kalau direndahkan, sebab tidak bisa pikul salib apalagi kalau terus menerus dihormati dan ditinggikan karena ba-paknya atau karena jabatannya, seka-lipun kosong, tidak ada apa2nya. Ia merasa besar seperti tong kosong yang nyaring bunyinya.
  3. RENDAH HATI.

Sebaliknya kalau orang beriman mau rendah hati, ia akan ditinggikan Allah sekalipun asalnya dari bagian yang pa-ling bawah, lebih2 kalau sesudah men-jadi besar bisa tetap rendah hati, taat dan mengakui bahwa semua itu dari Tuhan seperti Daud; mengakui bahwa Tuhanlah yang mengangkatnya dari kandang sampai tahta 1Kor 4:7. Ingat-lah terus menerus untuk tetap rendah hati, yaitu mengakui bahwa semua dari Tuhan dan segala puji patut dikem-balikan pada Tuhan bukan pada kita Yes 42:8. Dengan kata lain kalau ia direndahkan, tidak terlalu sakit, bisa tahan, bisa mengampuni, bahkan ber-belas kasihan, sebab semua dari Tu-han. Memang Tuhan yang patut dipuji dan diagungkan.

Orang beriman yang bisa rendah hati (lain dari orang dosa yang rendah hati, biasanya hanya di luar) itu sangat berharga, punya nilai besar di hadapan Allah, sebab sekalipun orang kecil, di hadapan Allah ia adalah orang besar,

  1. Akan ditinggikan Allah pada waktu-nya lengkap dengan segala perlengkap-an dan jaminan dari Tuhan.
  2. Selain itu, ia akan mendapat anu-gerah Allah yang amat limpah Yak 4:6, 1Pet 5:5 begitu heran. Semua sukses, keindahan dll yang ada pada kita, itu oleh anugerah Allah 1Kor 15:10; kalau sekarang ditambahi lagi, apalagi dalam hal2 rohani, akan makin indah, bahkan ada harapan naik terus sampai sem-purna. Orang sombong tidak bisa naik apalagi menjadi sempurna, tetapi terus jatuh bangun dan akhirnya hancur!
  3. Disertai Tuhan, tetapi orang som-bong dilawan Allah 1Pet 5:5. Sebab itu kita harus betul2 memperhatikan ja-ngan sampai menjadi sombong, terus akui, nyanyikan dan katakan bahwa semua dari Tuhan, tanpa Tuhan tidak ada apa2, kita hanya bejana tanah liat yang sama harganya dengan semua bejana tanah liat yang lain, tetapi kita jadi sangat mahal dan mulia, berhasil dan jadi besar, sebab ada Yang maha mulia dalam kita, ada Tuhan Yesus Kristus di dalam kita (2Kor 4:7). Sebab itu tetaplah rendah hati di MAK DSY, yaitu diMana saja, dalam hal Apa saja dan Kapan saja, termasuk dengan siapa saja, dari Dahulu, Sekarang, dan sampai se-lama2nya, tetap rendah hati.

TIGA TANDA BESAR.

  1. Allah itu kasih, sebaliknya iblis itu benci + pembunuh.
  2. Allah itu maha suci, mutlak suci, iblis itu sumbernya dosa, yang terus mem-berontak melawan Allah.
  3. Iblis itu sombong, ini dosa utama yg menonjol dari iblis, sehingga ia diren-dahkan dan dibuang dalam Neraka Yes 14:14-16 dan nanti dalam Tasik api yang kekal Wah 20:14. Sebaliknya Pu-tra manusia itu rendah hati Mat 11:29. Allah itu maha besar dan maha tinggi, tidak mungkin meninggikan diriNya, sebab tidak ada lagi yang lebih tinggi daripada Allah; tetapi Putra Allah yang menjadi manusia direndahkan Allah (disengsarakan dan menderita untuk menebus dosa manusia supaya bisa berubah dan naik menjadi seperti diriNya. Yes 53:4, Ibr 2:7.

Sombong adalah dosa utama dari iblis, tetapi orang beriman sebagai ma-nusia harus rendah hati seperti Kristus. Sebab itu kita perlu betul2 hi-dup ren-dah hati seperti Kristus. Jangan ada tanda2 kesombongan, tetapi selalu rendah hati di hadapan Allah dan ma-nusia, sebab memang kita bukan apa2 tanpa Allah. Jadi semua orang yang se-perti Kristus itu suci, cinta, rendah hati dan sebab itu ditinggikan Allah; tetapi orang2 dari iblis itu benci, berdosa, terutama sombong, sehingga dilawan & direndahkan Allah. Jangan sampai ada kesombongan & dosa2 lainnya.

KESIMPULAN.

Sesudah selamat, menjadi anak2 Allah, rencana Allah yang penuh cinta akan meninggikan kita sampai seperti diri-Nya sendiri, kecuali orang itu kembali berdosa, lebih2 kalau sombong akan direndahkan dan kalau tidak bertobat akan binasa kekal. Semua orang yang hidup, istimewa rohaninya tidak bisa naik dalam segala segi hidupnya, itu biasanya selalu ada tercampur kesom-bongan dalam hati dan perbuatannya. Sekalipun mula2 tinggi seperti Nebu-kadnezar, akan direndahkan sampai ke Neraka, kecuali kalau bertobat selagi hidup, masih bisa dipulihkan sebagian, sesuai kasusnya masing2.

Sebaliknya orang beriman sesudah selamat tetap rendah hati, akan naik lambat atau cepat dalam seluruh segi hidupnya, tergantung dari ketaatan masing2 dalam semua segi hidupnya. Pengalaman dari kandang sampai ista-na atau tahta, bukan saja untuk orang2 tertentu, tetapi untuk semua orang beriman yg mau merendahkan diri-nya, sekalipun hari2 yang lalu gagal. Sebab itu selain hidup suci dalam segala segi hidup dan taat akan Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus, per-hatikanlah untuk tetap rendah hati. Juga kalau sudah mulai dinaikkan, ataupun kalau sudah sangat tinggi, tetaplah rendah hati. Beri perhatian penuh pada kesu-cian dalam segala hal, tumbuh dalam kasih dan makin rendah hati (dire-ndahkan makin berat, tetap lulus!).

Perlu diperhatikan, jangan men-cita2kan yang tinggi, itu bagian Tuhan. Jangan menuntut perkara besar2 bagi diri sendiri, tetapi rindulah memperke-nankan Allah Rom 12:16. Jangan mata atau hati kita mencari perkara2 yang besar, itu akan merendahkan dan men-celakakan diri kita sendiri Yer 45:5. Biarlah Tuhan makin ditinggikan dan diri kita direndahkan Yoh 3:30, Maz 131:1. Jangan ingin menjadi besar itu kunci kehancuran dan direndahkan se-perti Korah cs Bil 16:13,28. Ayat2 ini sangat penting kita mengerti dan jadi hidup kita. Jangan mencari kebesaran seperti Korah atau Absalom atau anak2 dari orang yang sudah menjadi besar oleh Tuhan. Ini betul2 jerat, sehingga direndahkan seperti orang2 ini. Anak2 atau orang2 yang ikut2 ditinggikan, ha-ti2, jangan nasibnya celaka seperti anak2 Ayub yang sangat sombong, manja, semaunya sendiri, tidak tertibdll nasibnya begitu celaka, mengerikan, dari tingkat yang tinggi (yang seharus-nya disiapkan untuk meningkat kepada kemuliaan yang berikutnya 2Kor 3:18), tetapi sebab sombong, tidak ada keren-dahan hati, akhirnya direndahkan bah-kan sampai binasa seperti anak2 Ayub.

Nyanyian: Yoh 3:30

Dia harus makin bertambah,

Kuharus makin berkurang.

Nama Yesus saja disembah,

Ku di tempat paling b’lakang.