M3967 – 1Timotius 3:4. Siapa Pemimpin Dalam Keluarga?

SUAMI-ISTRI.


Ayub
adalah orang rohani yang diakui Allah Ay 1:1,8, orang yang suci, tulus dan mengerti hal2 rohani, tetapi lalai, disetir oleh istrinya yang sama sekali tidak rohani, keji sehingga anak2nya rusak total, sehingga sering menghojat Allah (seperti “gurunya”) Ay 1:5. Sebab itu hukuman Allah jatuh dengan penuh (sebab sudah melebihi batas) dan usa-ha Ayub bangkrut total, padahal ia orang terkaya di Uz Ay 1:3. Ayub jauh lebih rohani tetapi tidak memimpin ke-luarganya, malah istrinya yang menen-tukan se-gala2nya. Kelihatannya cinta Ayub besar (sebab kesucian nikahnya tiada yang cacat misalnya Ay 31:1, padahal untuk zamannya, ia bisa jadi seperti Salomo, tetapi tidak mau) Ayub cinta sehingga terlalu percaya pada istri yang pintar menguasai Ayub. Ini istri dominant yang jahat, tampak sekali waktu bangkrut. Ayub bertobat dari kelalaiannya tetapi kerugiannya sudah tidak bisa kembali. Istrinya sesudah mendapat hajaran total baru mau berubah. Kalau Ayub tidak bisa me-ngubah istrinya, celaka jalan terus. Sekarang Ayub memaksakan untuk hidup sesuai kehendak Allahdengan kasih seehingga mereka kembali diber-kati Tuhan, tetapi sekarang Ayub yang menjadi pemimpin, bukan istri yang brengsek, tetapi sudah bertobat dan tetap dicintai Pkh 9:9 dan Ayub setia.

Nabal dan Abigail 1Sam 25. Kalau istri rohani, suami bebal, keras kepala, bagaimana? Ingat, suami kepala tetapi diatas suami ada Kristus sebagai kepala dari suami dan istri dan keluarga. Istri tetap tunduk pada suami dengan cinta tetapi harus bijaksana. Pakai hikmat dan kuasa Allah supaya suami bertobat sungguh2 dan mau taat pada Firman Tuhan (Tentu ada akibat dari perni-kahan yang tidak betul, tetapi sesudah nikah jangan meng-ungkit2 lagi, baru kalau cari menantu, cocokkan sung-guh2 dengan Firman Tuhan). Istri harus terus bergumul dan ekstra kerja keras, lebih2 kalau suami melakukan hal2 yang keliru seperti pada Daud dan Abigail berusaha memperbaikinya. Ka-lau ada orang2 (istimewa suami/ istri) dan anak dll yang rusak, itu menjadi beban pemimpin keluarga untuk mem-perbaiki, jangan lari dari tanggung-jawab dan jangan mudah putus asa. Harus lulus dengan Tuhan, pasti indah. Asinkan pancimu. Jangan perang sen-diri dengan kekuatan sendiri. Jangan bereaksi dosa supaya Roh Kudus tetap bisa menyertainya dengan hikmat dan kuasaNya, supaya keluarga diselamat-kan sampai Surga. Nabal tidak mau dan tidak bisa diolah, sebab dosa2nya akhirnya mati kaku selama 10 hari, dahsyat.

Naomi dan Elimelech. Juga Naomi, punya suami yang tidak bisa dicegah, yang melangkah melawan Firman Tu-han, terpaksa Naomi ikut suami ke Moab dan semua mati disini. Langkah yang salah seringkali akibatnya maut, jasmani rohani. Sesudah bebas, Naomi kembali ke Betlehem dan membangun puing2 reruntuhan rumah tangganya dan dengan anugerah Tuhan dipulihkan amat indah!

Priskila dan Aquilla bisa sehati ber-sama2, lalu bisa bekerja sama dengan Paulus (rohnya sama) Kis 18:2-3. Meski-pun tidak dicatat pelayananya, biasa-nya jadi indah (sehingga dicatat Paulus, Lukas) seperti Henokh yang diam2 menjadi sempurna. Pasti rumah tang-ganya juga diberkati Tuhan.

Kadang2 hanya istri2 yang bergai-rah dalam Tuhan seperti ibu dan neneknya Timotius 2Tim 1:5. Seringkali suami2 mengizinkan keluarganya diatur istri untuk ibadah, maka Lous dan Eu-nike memakai kesempatan ini baik2 mendidik Timotius sehingga jadi indah di hadapan Tuhan 2Tim 3:15. Kalau bisa, suami istri memimpin keluarganya ber-sama2 dengan Tuhan, itu sesuai Firman Tuhan dan paling baik Pkh 4:9-12.

ANAK-ORANGTUA.

Tentu yang jadi pemimpin keluarga adalah orangtua, sejak anak baru lahir 100% harus dipimpin orangtuanya. Tu-gas orangtua adalah mengasuh anak-nya secara jasmani dan rohani. Secara jasmani biasanyaa tidak sulit, apalagi zaman sekarang. Yang jadi kesulitan (besar) adalah mendidik anak2 secara rohani, termasuk orangtua mendidik dirinya sendiri!

Sampai kapan orangtua harus mendidik atau membimbing anaknya? Seringkali orang Barat memberi batas rata2 18 tahun. Tetapi yang penting bu-kan umur tetapi masuk Surga dan Terus Meningkat Sampai Puncak. Kalau indah seperti Samuel baru lebih kurang 5 tahun (sudah dilepas karena nadzarnya dalam Wasiat Lama) apa boleh buat. Tetapi yang penting selamat dan me-ningkat. Kalau 18 tahun belum berto-bat, orangtua harus terus memimpin dengan aktif supaya selamat, jangan lalai atau bodoh seperti Imam Eli yang mengakibatkan putra2nya binasa da-lam dosa dan ia ikut dapat bagian dari hukumannya sebab tidak memimpin anak2 yang sudah besar dan sudah menjadi iman. 1Sam 3. Cara mendidik anak berbeda waktu kecil dan besar, tetapi orangtua dari kecil menjadi pe-mimpin dan sampai besar masih men-jadi pemimpin sesuai dengan sikon masing2, istimewa dalam segi rohani, supaya selamat dan Terus Meningkat Sampai Puncak. Secara jasmani anak2 bisa melebihi orangtuanya, misalnya dalam pendidikan, dalam pekerjaan dan keadaan dalam masyarakat, itu indah, itu yang diharap setiap orangtua supaya anak2 bisa lebih dari orangtua, misalnya orangtua dari presiden, orangtuanya pasti senang, tetapi jangan segan menasehati kalau perlu. Tetapi secara rohani, biasanya orang-tua yang lebih tuaseharusnya bisa ber-tumbuh lebih dari anak2nya, sehingga tetap bisa memberi nasehat, lebih2 kalau perlu.

III. MEMELIHARA HUBUNGAN BAIK ANAK-ORANGTUA.

Orangtua sebagai wakil Allah dan anak2 harus menghormati orangtua-nya, ini adalah hukum pertama Kel 20:12, Ef 6:1-3. Biasanya cinta orangtua pada anak2 itu tinggi mutunya seperti kasih Allah yaitu tanpa syarat, tanpa perhitungan, mau korban. Meskipun orang2 berdosa, sisa2 kemuliaan Allah dalam kasih orangtua masih tebal Rom 3:23, misalnya Luk 11:11-13.

Ini sebabnya peraturan anak-orangtua dalam Firman Tuhan se-olah2 berat sebelah, sebab ada kasih orangtua sehingga:

  1. Mati hidup anak diserahkan Allah pa-da orangtua dari kecil sampai dewasa, orangtua menentukan nasib anak tanpa saksi lain misalnya Ul 21:18-21.
  2. Anak2 harus menghormati orangtua, tidak pernahdikatakan bahwa orangtua harus menghormati anak, sekalipun secara jasmani anak menjadi lebih besar dari orangtuanya,
  3. Anak2 yang bersalah pada orang-tuanya hukumannya lebih berat Im 20:9, Kel 21:15-17.

Tetapi orangtua yang bersalah pada anaknya hukuman adalah hukuman yang biasa. Anak2 jangan jadi Yesyurun yang sesudah besar lalu menyepak Ul 32:15, itu anak yang buta Ams 30:17, 2Kor 4:4. Begitu juga hubungan me-nantu dan mertua seharusnya seperti anak dan orangtua (pada kedua pihak orangtua suami-istri) meskipun menan-tu dan mertua itu BBB (baru bertemu sesudah besar). Lebih2 kalau latar belakang banyak berbeda! Kadang2 ada gap, harus dijaga dari kedua pihak supaya hubungan manis seperti anak orangtua, ada kasih, pengampunan dan juga anak menantu harus taat dan menghormati seperti anak terhadap orangtuanya sendiri. Jangan timbul dosa, benci, apalagi dendam, itu pe-kerjaan iblis dan bukan kehendak Tu-han.

Dalam dunia sekarang banyak anak2 yang kurang ajar terhadap orangtua, jangan meniru orang dunia atau menuruti daging. Sekalipun orang-tua salah anak2 tidak boleh kurangajar, tetapi menolong menunjukkan kebe-naran Firman Tuhan dengan hikmat dan kuasa Allah tetapi tetap dengan hormat dan tulus sehingga iblis tidak mendapat kesempatan, dan hadirat Tuhan ada dalam rumah tangga itu.

Di atas anak dan orangtua, tetap ada Firman Tuhan dan semua harus taat pada Firman Tuhan, dan anak2 tetap harus menghormati orangtua. Ini akan makin mudah kalau anak dan orangtua makin rohani, sebab Roh Kudus akan menolong dan daging dimatikan.

PENDIDIKAN ROHANI.

Ini yang paling penting, sebab ini ha-silnya kekal. Jangan lupa tujuannya se-lamat + Terus Meningkat Sampai Pun-cak, baik dari anak2, orangtua, seluruh keluarga (kadang2 anak2 mengenal Tuhan lebih dahulu. Dalam hal ini semua harus diatur tetap sesuai de-ngan Firman Tuhan sebagai pemimpin di atas semuanya. Semua dilakukan de-ngan banyak doa dalam kesucian de-ngan hikmat dan kuasa Allah, dipimpin Roh).

Beberapa patokan untuk mendidik anak kepada jalan keselamatan antara lain:

  1. Didik sejak lahir. Ingat didikan Musa itu hanya waktu balita saja dan dengan pertolongan Tuhan, ia tetap percaya dan ingat akan Tuhan sampai dewasa sekalipun dalam sikon dan didikan orang kafir di istana Firaun. Mendidik anak tetap dilanjutkan terusUl 6:6-9. Orangtua sendiri harus menjadi contoh yang benar di hadapan Tuhan, hidup dalam kesucian, dalam tabiat baru dan limpah dengan Firman Tuhan, doa, iba-dah, mahir pikul salib, dipimpin Roh, bersekutu dalam tubuh Kristus dan keluarga dan pelayanan. Menjadi ga-ram dan terang dunia itu dimulai dari dalam keluarga dan lingkungannya se-hari2.
  2. Peran orangtua sebagai pemimpin dalam keluarga prinsipnya sama tetapi sikonnya berbeda sejak lahir, kanak2, dewasa, tetapi selalu disesuaikan de-ngan Firman Tuhan dan dipimpin Roh. Jangan orangtua ikut anak tetapi anak ikut orangtua, dan semua tetap taat akan Firman Tuhan. Kalau orangtua ikut anak, hasilnya akan menjadi hasil kanak2, mentah dan banyak kerugian rohani.

Kalau anak2 makin besar dan men-jadi dewasa, maka taburan Firman Tuhan dan contoh hidup orangtua akan mulai nampak dan ber-buah2 dalam hidup si anak yang makin dewasa, se-hingga bisa ikut membantu orang-tuanya dan memberi saran2 yang ber-harga yang berkenan kepada Tuhan. Pada waktu anak2 masih kecil kalau orangtua bersalah, tidak ada koreksi, tetapi waktu anak2 makin dewasa, apalagi kalau penuh dan dipimpin Roh akan ada bantuan saran dan pendapat yang baik dari anak2 yang sudah ditaburkan sejak kecil. Misalnya waktu Yacob mogok 22 tahun, tidak ada saran yang membantu orangtuanya sehingga hidup Yacob sia2 selama 22 tahun.

Yusuf, Daud, Daniel dll meskipun masih muda, sudah mulai dipimpin Roh, sehingga lebih mudah dibimbing bahkan bisa memberi saran2 yang berharga bagi orangtuanya. Anak2 yang dididik dengan baik akan bisa tumbuh menggantikan orangtua, bah-kan diharapkan jadi lebih baik daripada orangtuanya, seperti dalam hal2 se-kuler. Sebab itu orangtua sendiri harus tumbuh makin indah di hadapan Tu-han, supaya limpah dengan Firman Tuhan dan dapat memimpin dengan baik dalam hidup yang berkenan pada Tuhan.

Misalnya dalam ibadah, kadang2 anak2 lebih senang ber-jalan2, rekreasi dll. Sekalipun orangtua cinta pada anak2-nya, harus diarahkan untuk mencari Tuhan lebih dahulu dan baru sesu-dahnya sesuai dengan kesempatan dan kemampuan yang ada, keinginan anak itu bisa dituruti sebagian atau selu-ruhnya, tetapi tetap dicocokkan de-ngan Firman Tuhan. Mat 6:33.

Sesudah anak2 mulai dewasa, seringkali ada perbedaan pendapat apalagi dalam pengertian Firman Tu-han, misalnya tentang jodoh, peker-jaan, pengajaran Firman Tuhan, kese-tiaan ibadah, pelayanan dsb, apalagi kalau ada hal2 yang jelas salah,dosa, yang melawan Firman Tuhan, kita harus taat pada Tuhan lebih daripada menuruti kehendak anak atau orang-lain. Kalau orangtua punya pertum-buhan rohani yang baik, penuh dan dipimpin Roh, bersandar pada Tuhan dan berdoa, ia akan mempunyai pe-ngertian Firman Tuhan yang baik, maka ia dapat mengarahkan dengan baik se-bagai pemimpin dalam keluarga. Ja-ngan menuruti kesalahan Eli yang tahu tetapi menuruti anak2nya; sebaliknya, anak2 yang harus menuruti orang-tuanya. Misalnya dalam mencari jodoh, peran orangtua untuk kebahagiaan hi-dup yang akan datang itu besar, lebih2 kalau bersandar pada Tuhan dan FirmanNya (berdoa minta pimpinan Roh Kudus).

Juga dalam ibadah, kadang2 anak menuruti teman2 atau keinginan2 orang muda atau menuruti perasaan hati yang salah sehingga jadi tidak setia di kandangnya sendiri, tidak menurut Firman Tuhan, kehilangan ajaran2 yang benar. Coba Naomi bisa menarik Eli-melech dan anak2nya dengan baik (menurut Firman Tuhan mereka harus tetap di Betlehem, tidak boleh ke ne-geri orang kafir), maka Naomi bisa menyelamatkan anak2 dan suaminya dari kematian. Sayang Naomi kurang kuat, sehingga semuanya mati dalam negeri orang kafir. Kadang2 sesudah jadi celaka, korban seperti Elimelech dan anak2 Ayub, baru mereka sadar tetapi sudah terlambat, tidak bisa kembali lagi seperti semula, Naomi jadi mara = pahit Rut 1:20. Beberapa orang-tua yang punya pengertian rohani dan iman yang lebih kuat, tetapi ikut de-ngan keinginan anak2nya sehingga jadi korban. Anak2, apalagi yang pintar me-rayu, seringkali mengalahkan penger-tian yang baik dari orangtuanya sehing-ga anak2 yang jadi pemimpindalam keluarga, bukan orangtua, padahal dari tingkat rohani, pengertian, pengalaman dll orangtua seharusnya yang menjadi pemimpin keluarga. Kalau orangtua ragu2, ia bisa bertanya pada Gembala sidang dan belajar Firman Tuhan dan berdoa, lebih2 dalam Roh dan kebe-naran maka Roh Kudus akan memimpin kita kepada segala kebenaran Yoh 16:13, 1Taw 16:11 dan dilepaskan dari banyak celaka karena keluar dari ke-hendak Allah seperti anak2 Ayub, Hofni Pinehas, Chilon dan Machlon dll. Le-bih2 pada akhir zaman ini akan ada banyak ajaran2 yang menyesatkan seperti LGBT, Hypergrace, Wasiat Lama diterapkan secara rohani dll, ajaran2 jalan lebar yang sedikit salah sampai mutlak sesat seperti saksi Yehova dll (Lihat buku TIPAA = Tingkat2 Perbe-daan ajaran Alkitab). Kalau sudah ter-sesat dan tertipu sampai tingkat V mutlak sesat, tidak bisa berubah lagi, akibatnya untuk kekal! (Bahkan sesat tingkat 2,3 sudah banyak kerugiannya).

Biasanya orangtua sudah belajar lebih lama, lebih mengerti dan memegang baik2 pengertian yang benar 1Tim 1:3, 2Pet 3:16, Wah 2:14-15 dll. Kesalahan2 dalam hal2 rohani ini beresiko sampai kekal, sebab itu harus diperhatikan baik2. Kalau resikonya hanya sedikit uang, atau perkara2 yang fana (misal-nya salah pilih jurusan dll) masih bisa ditangung. Tetapi kalau resiko sampai kekal tidak bisa diubah lagi; harus di-perjuangkan baik2 untuk menyelamat-kan anak2 sampai kekal. Berdoa dan kalau sudah yakin sesuai Firman Tuhan, jangan plin-plan, harus tegas sesuai Firman Tuhan, jadi pemimpin dalam keluarga untuk perkara2 yang kekal dan lain2nya.

Penghalang orangtua tidak berani menasehati anak2nya. Seringkali sesu-dah anak menjadi dewasa, lebih pintar, kaya, sukses, kuat (orangtua makin tua makin lemah, apalagi kalau sudah pen-siun), banyak kali orangtua jadi segan menasehati, apalagi kalau dipelihara oleh anaknya. Bahkan kadang2 seka-lipun orangtua dan anak tahu itu se-mua adalah hasil orangtua, tetapi kadang2 anak2 ada yang berani me-nguasai orangtuanya padahal salah. Jangan diam, tetapi bernubuatlah (yai-tu menyampaikan Firman Tuhan 1Kor 14:1,3, Kol 4:6. Ini lain dari bernubuat tentang perkara2 yang akan datang). Meskipun bicara dengan anak sendiri, mintalah hikmat, kuasa, karunia2 dan buah Roh, maka Tuhan sendiri yang akan bicara. Jangan menjadi anjing kelu Yes 56:10, cari selamatnya sendiri dan berdosa sebab tahu berbuat baik, tidak berbuat Yak 4:17 sehingga anak2nya keliru jalan bahkan tersesat untuk kekal. Jangan takut mati, itu di tangan Tuhan, jangan menginginkan hal2 jas-mani untuk diri sendiri, tetapi bimbing seluruh keluarga kepada keselamatan yang kekal dan TMSP. Selagi masih hidup, jangan berhenti bicara, supaya  menjadi berkat, hasilnya serahkan Tu-han. Dari bayi sampai dewasa sampai tua, kalau perlu, tetap harus dina-sehati. Jangan seperti Imam Eli dll. Jangan dengan marah atau benci tetapi tetap dengan kasih dan hikmat dan kuasa Allah (terus tekun berdoa) maka Tuhan akan bekerja sesuai dengan janji Tuhan supaya seluruh keluarga disela-matkan Kis 16:31.

Kalau toh dilawan, jangan bereaksi dosa, tetap dalam kesucian dan kasih Allah, tetap mengampuni dan pakai kuasa Allah dalam kebenaran. Kita ha-rus menjadi berkat dan memimpin pada kebenaran dan keselamatan yang kekal dan TMSP.

Jangan orangtua ikut anak, apalagi dalam ajaran dan tindakan2 yang salah tetapi anak2 ikut orangtua dan semua tunduk pada Firman Tuhan sambil terus bertekun berdoa dalam Roh dan kebenaran untuk pimpinanNya.