M3944 – Hakim-Hakim 17:6; 18:1; 19:1; 21:25. Masing2 Menjadi Raja, Sebab Tidak Ada Raja

Raja2 dalam Wasiat Lama adalah salah satu bentuk pemimpin dalam Wasiat Lama. Biasanya Tuhan mengangkat beberapa macam pemimpin yang co-cok dihatiNya (seperti Musa, Harun. Hakim2, nabi2 dll). Dalam Wasiat Baru juga ada pemimpin2 seperti Gembala sidang, ketua2 dll.

PENGARUH RAJA2 ATAU PEMIMPIN.

Pemimpin2 yang diangkat manusia di-beri syarat oleh Tuhan (misalnya 1Tim 3:1-13) supaya jangan menjadi celaka untuk umatNya. Raja atau pemimpin yang jahat itu jadi celaka bagi umat Tuhan, tetapi yang baik menjadi ber-kat. Seperti Daud, Musa, Hizkia dll jadi berkat, tetapi yang jahat seperti Saul, Yerobeam, Achab dan semua raja Israel jadi celaka bagi orang Israel.

KALAU TIDAK ADA RAJA.

Dalam bagian terakhir dari Hakim2 yaitu sesudah Simson mati, Hak 17-21 tidak ada pemimpin atau raja, sehingga setiap orang bertindak sebagai raja sendiri, bahkan yg jahat beraja di hati menuruti kehendak dagingnya sendiri 2Pet 2:10 TL, takabur semaunya sendiri KJI.

Semua orang berdosa condong ke-pada dosa Yoh 3:19.  Orang2 merasa senang kalau bisa menuruti semua kehendak hatinya seperti hippies (I want to be free), ini tipu daya iblis, se-bab justru inimenimbulkan segala ma-cam dosa dan makin ber-tambah2. Di mana ada dosa disitulah Neraka mulai menyala. Dimana ada kesucian, disitu pasti ada Tuhan Yesus (sebab tanpa Tuhan Yesus tidak mungkin orang bisa merdeka dari dosa) dan disitu Surga mulai bersinar. Kebenaran ini tidak dikenal orang berdosa, dan Firman Tuhan itulah kebenaran Yoh 17:17. Orang yang sudah lahir baru, bisa, da-pat mematikan kehendak daging yang condong pada dosa. Rom 6:6 dan me-mang seharusnya orang beriman terus menerus mematikan keinginan daging-nya supaya bisa mentaati Firman Tuhan.

Kalau masing2 menuruti kehendak-nya sendiri, maka keadaannya akan:

  1. Seperti hukum rimba, yang kuat me-nang dan yang lemah jadi korban..
  2. Menurut kehendak sendiri atau da-ging itu melahirkan dosa dan kejahatan dan itu akan meningkat terus. Akibat-nya, keadaan akan kacau dan semra-wut dan iblis bergembira dan mera-jalela melalui kaki tangannya.

Dalam Wasiat Baru, dalam Gereja, Tuhan tetap mengangkat pemimpin2 yang harus bertanggungjawab dan ha-rus ditaati Ibr 13:7,17. Kalau pemimpin tidak bertanggungjawab, tidak tegas, maka juga dalam keluarga, Gereja dll, akan simpang siur dan semrawut. Ge-reja banyak tergantung dari pemim-pin2nya. Seharusnya pemimpin dalam Gereja bertanggungjawab kepada Tu-han sebagai Kepala Gereja dan ber-usaha:

  1. Menggembalakan domba2 supaya tetap selamat dan tumbuh sesuai de-ngan kehendak Allah.
  2. Mempersatukan domba2 Tuhan se-hingga ada persatuan dan kerjasama yang baik sehingga Gereja dan setiap anggota hidup dan berjalan menurut rencana Allah. Ada persekutuan orang benar, tingkat Halaman, ada juga per-sekutuan dalam Roh yaitu tingkat Ruangan Suci.
  3. Pemimpin harus berusaha memper-satukan anggota2 semua sehingga bisa bersekutu dengan betul seperti perse-kutuan Trinitas Yoh 17:23, bersatu da-lam kesucian dan kasih dan bekerja-sama sebagai tubuh Kristus. Diharap-kan seluruh sidang bisa bersatu dengan sehati Mrk 3:25 sehingga bisa tumbuh bersama dengan baik sehingga menjadi sempurna seperti Kristus, lebih2 di akhir zaman.

Jadi tujuannya supaya seluruh sidang selamat, masuk Surga dan tum-buh setinggi mungkin (Terus Meningkat Sampai Puncak) sampai seperti Kristus yang menjadi ukuran dan tujuan kita.

Kadang2 ada pemimpin tetapi tidak berfungsi (tidak melakukan tugas dan tanggungjawabnya) sehingga keadaan tetap kacau, sebab pemimpin mem-biarkan saja semua yang terjadi. Tentu ini pemimpin yang tidak baik.

III. PEMIMPIN DALAM KELUARGA.

Itulah bapak dan ibu. Kalau orangtua tidak menjalankan tugasnya sebagai pemimpin, maka masing2 akan bertin-dak semaunya sendiri2 sehingga kea-daan menjadi kacau, timbul ber-ma-cam2 dosa yang makin lama makin meningkat dan menarik hukuman ke atas masing2 anggota keluarga dan seluruh keluarga dan akhirnya rumah tangga itu menjadi terkutuk. Ini aki-batnya kalau orang tua tidak mau menjadi pemimpin yang baik dan betul, seperti rumah tangga imam Eli, Imam yang baik tetapi tidak mengatur dan memerintah rumah tangganya dengan tegas. Kedua putranya dihukum Allah dan bapak Eli ikut mendapat bagian dari hukuman anak2 yang tidak diter-tibkan! Orangtua tidak bisa cuci tangan dari kewajibannya sebagai pemimpin keluarga dan anak2 sejak kecil sampai ia mati!

Ini akibatnya kalau orangtua melalaikan tugas sebagai pemimpin ke-luarga, sekalipun anak2 sudah dewasa dan berkeluarga, orangtua tetap ber-tanggungjawab. Jangan seperti Imam Eli yang mau lepas tangan sebagai pemimpin waktu anak2nya sudah de-wasa. Banyak orangtua sesudah pen-siun dan anak2 bisa mencari nafkah (apalagi kalau berhasil, mungkin lebih sukses dari orangtuanya) lalu orangtua merasa minder sebab tidak lagi meng-hasilkan nafkah, juga tampuk pimpinan ditelantarkan. Imam Eli adalah contoh yang jelas dari orangtua yang menelan-tarkan fungsi sebagai pemimpin. Ini salah, lebih2 selain tugas sebagai orangtua, juga ada perintah Allah dalam Yak 4:17, Yes 59:10, Luk 10:27. Meskipun sudah “pensiun” orangtua tetap bertanggungjawab.

Di beberapa negara yang maju jus-tru sesudah anak2 dewasa, mereka membiarkan anak2nya bebas bertang-gungjawab atas perbuatannya sendiri dan orangtua lepas tangan. Ini salah, ini dosa imam Eli.

Juga Ayub orang yang baik sekali di hadapan Allah. Akhirnya rumah tangga Ayub terkutuk, sampai mati semua anaknya dan bangkrut total, sebab Ayub menelantarkan memimpin dan mengatur rumah tangganya, dengan alasan sudah diatur oleh istrinya dan Ayub percaya buta, lepas tangan dan kutuk itu jatuh ke atas semuanya de-ngan dahsyat. Kutuk imam Eli dan Ayub begitu jelas menunjukkan rumah tangga yang dibiarkan “tanpa raja” oleh orangtuanya!

Kita harus sadar akan hal ini dan jangan membiarkan iblis bekerja, se-hingga masing2 anggota keluarga ber-tindak semaunya sendiri, beraja di hati dan orangtua tidak berani (tidak mau) menegur, sehingga dosa bertumbuh makin banyak dan makin dahsyat sam-pai akhirnya hukuman dan kutuk meng-hancurkan rumah tangganya.

HAK 17. RUMAH TANGGA TANPA PEMIMPIN.

Ayat kunci (Hak 17:6) sebab tidak ada raja semua jadi rusak. Ibu ini tidak menjadi pemimpin yang baik. Ia kehi-langan uang 1.100 keping perak dan mengutuki yang mencuri. Anaknya me-ngaku, tetapi justru ibunya memberkati si anak pencuri, aneh, tidak dinasehati, tidak dimarahi, bahkan uangnya diberi-kan kembali pada pencurinya. Ini sikap yang tidak mendidik dan ia tidak menjadi pemimpin yang betul. Karena uangnya diberikan kembali, dan anak-nya tidak mau, ibunya memakai 200 syikal untuk membuat patung berhala, lalu Mika membuat rumahnya menjadi tempat berhala dan seorang putranya dijadikan imamnya.

Kemudian ada seorang Lewi yang nganggur, meninggalkan tugasnya, sampai di rumah Mika, lalu dijadikan imam dari berhalanya. Mica jadi se-nang, yakin Tuhan akan memberkati sebab yang menjadi imamnya adalah orang Lewi padahal itu melawan Allah, sebab seorang imam haruslah turunan Harun lebih2 ia membuat berhala yang membuat Allah marah besar.

Peraturan dikacaukan, semua ber-ibadah, tetapi semaunya sendiri, dan yang paling jahat adalah menyembah berhala. Semua ini berlawanan dengan hukum2 Tuhan sebab tidak ada raja di rumah dan dalam negeri sehingga perkara2 yang jahat timbul.

Yang menjadi biang keladi dari seluruh celaka dalam Hak 17 dan 18 adalah ibu yang keji dan jahat di ha-dapan Tuhan tetapi sangat cinta pada putranya, sehingga timbul celaka dan kutuk sampai kekal, sebab dosa ini tidak pernah diperbaiki, tidak bertobat sampai pada masa Dan masuk dalam tawanan Hak 18:30.Ini juga seperti istri Ayub yang membuat segala celaka da-lam rumah tangga Ayub sebab cinta anak2 dan membiarkan anak2nya me-lakukan perbuatan yang keji dan meng-hojat Tuhan. Ibunya bertindak sebagai pemimpin yang manis bagi anak2nya (boleh menuruti segala keinginan hati-nya), tetapi penyesat dari iblis. Beda-nya istri Ayub masih bertobat sebab Ayub juga bertobat dari kelalaiannya dan menertibkan istrinya, kalau tidak istrinya akan dihukum dan dikutuki Tuhan.

TIDAK ADA PEMIMPIN DALAM GEREJA.

Efeknya juga sangat dahsyat seperti da-lam keluarga yang tidak ada raja atau pemimpin2nya, bahkan lebih dahsyat dari keluarga yang ukurannya kecil, Gereja atau bangsa Israel ukurannya lebih besar. Dalam Gereja harus ada raja atau pemimpin dari Tuhan, yang memenuhi syarat2nya seperti dalam 1Tim 3:1-13 dan seluruh Firman Tuhan.

Kalau tidak ada pemimpin, maka orang banyak akan hidup menurut ke-hendaknya sendiri, yaitu kehendak daging, sehingga timbul banyak perkara yang jahat, dosa ber-tambah2 sehingga hukuman dan kutuk menghancurkan-nya. Beberapa contoh dari kehidupan Israel tanpa raja:

HAK 18. BERBUAT SEMAUNYA SENDIRI.

Sampai waktu itu suku Dan tidak mem-punyai tanah pusaka sebagai miliknya. Ini kesalahan pemimpin dan suku bang-sa itu sendiri tidak mau berusaha, padahal Tuhan sudah menjanjikannya. Ia sampai di rumah Mica dan berta-nyakan pada berhala dan imam bayaran, suatu perkara yang keji dan tidak ada yang melaranginya. Tampak-nya berbakti, tetapi semaunya sendiri dan kepada iblis! sebab tidak ada yang bertanggungjawab sebagai raja atau pemimpin. Timbul ber-macam2 dosa seenaknya sendiri, meskipun Allah belum bertindak, namun itu sangat keji. Bani Dan percaya dan beribadah pada berhala Mika, bahkan dicuri leng-kap dengan peralatannya dan imam palsunya. Tampaknya mereka beriba-dah dan kata2 Imam palsu itu betul terjadi, Dan bisa mengalahkan Lais dan mengambilnya menjadi negeri pusaka-nya. Orang Lewi yang diangkat jadi imam keluarga Mika, sekarang menjadi imam dari satu suku bangsa Dan, sa-ngat keji tetapi berhasil. Rumah ber-hala dan imam itu dipelihara terus turun temurunan sampai mereka diba-wa pergi dengan tertawan. Juga waktu Yerobeam membuat lembu emas di Dan, langsung diterima, sebab mereka memang lekat dengan berhala. Kutuk ini jatuh atas Efraim dan bani Dan yang membiarkan perkara keji ini disini. Sebab itu dalam Wah 7:7 suku Efraim dan bani Dan dicoret di hapus dalam catatan Allah yang kekal, dahsyat! Suatu celaka kekal, tetapi tidak ada yang menasehati, menegur atau me-nindaknya sebab tidak ada raja, tidak ada yang bertanggungjawab jadi raja. Memang nubuat palsu itu jadi, tetapi itu melawan Firman Tuhan dan kutuk itu berjalan turun temurun bahkan sampai kekal. Orang yang hanya me-lihat dari bukti saja (nubuat berhala itu jadi) akan terjerat (sebab tidak dicheck dengan Firman Tuhan). Meskipun jadi dan mereka berhasil tetapi itu mela-wan Firman Tuhan dan mereka terku-tuk turun temurununtuk kekal. Ul 13:1-5. Hal2 ini harus dicegah dandi beran-tas dan disucikan dari antara umat Tu-han oleh pemimpin2 yang takut Tuhan.

HAK 19. PENGALAMAN KEJI ORANG LEWI DAN ISRAEL.

Juga Hak 19:1 menjadi ayat kunci ce-laka bagi seluruh peristiwa yang diceritakan disini.

Dalam Hak 17, tidak ada raja dalam satu keluarga, akibatnya keluarga itu menjadi jahat  sehingga timbul rumah berhala dan timbul malapetaka seperti keluarga Ayub.

Hak 18 akibatnya sampai seluruh suku bani Dan, celaka itu merusakkan mereka dan akibatnya sampai akhir za-man. Tetapi dalam Hak 19-21, akibat-nya sampai seluruh bangsa, sehingga disini Israel menjadi lebih jahat dari Sodom Gomora.

Dalam Hak 19 orang Lewi yang mengambil gundik pelacur dan gara2 ini seluruh bangsa kehilangan lebih kurang 100.000 nyawa. Orang Lewi tidak mau menginap di Yabes (yang ke-mudian menjadi Yerusalem) sebab orang Yabes bukan orang Israel, tetapi orang kafir.

Namun ternyata orang Gibea dan Benyamin lebih jahat dari orang kafir di Yabes sehingga timbul kekejian dan ce-laka yang begitu besar, melebihi So-dom Gomora. Orang Lewi ini dikepung orang Benyamin, yang mau berbuat homo dengan orang Lewi. Pemilik ru-mah tempat ia menginap, menawarkan gadisnya dan gundik orang Lewi, begitu keji, lebih dari orang Sodom. Sesudah gundiknya diperkosa, akhirnya pulang dan pingsan. Tetapi “istrinya” ini tidak dicari oleh “suaminya”. Waktu mau berangkat pulang kembali ke Efraim, ia membuka pintu dangundiknya pingsan (belum mati?) di muka pintu. Kemudian dipenggal dengan sadis oleh orang Lewi (sudah biasa begini keji, sadis, atau sebabdipimpin setan?) lalu di-bagi2 ke seluruh Israel, dengan menghasut dan membangkitkan amarah orang Israel terhadap Benyamin, sampai korbannya lebih kurang 100.000 orang Israel mati. Orang Lewi itu keji dan jahat, selain pada gundiknya, juga iamenghasut perang yang mengorbankan begitu ba-nyak, dan juga orang Benyamin begitu keji (padahal mereka “bukan orang kafir, tetapi orang Israel”).

HAK 20. ISRAEL PERANG MELAWAN BENYAMIN.

Dilihat sepintas lalu, Israel bisa bersatu seperti satu orang (Hak 20:1,8,11) luar biasa, mereka juga bisa ber-tanya2 pada Tuhan dan dapat jawaban dari Tu-han, tetapi heran, hasilnya mereka kalah dan celaka terlalu dahsyat, belum pernah ada korban sampai 100.000 orang! Padahal mereka sudah berdoa, laluberperang tetapi kalah, sebab mereka menurut  kebenarannya sen-diri. Dalam kasus ini alasan mereka benar tetapi kalah dan lebih kurang 40.300 mati, dahsyat. Mengapa? Betul mereka bersatu, tetapi mereka sendiri limpah dengan dosa seperti Dan (ber-halanya keji sekali) juga suku2 lain pe-nuh dengan dosa, sebab itu seperti waktu menyerang Ai, ada dosa Achan, mereka tetap kalah. Baru dalam pepe-rangan ke-3 Benyamin dibinasakan (korban 25.100 Hak 20:35). Ini berarti Israel sendiri sama jahatnya atau lebih jahat dari orang Gibea dan Benyamin yang membela Gibea yang keji itu.

HAK 21. ISRAEL MENYESALI SATU SUKU ISRAEL LENYAP.

Habis marah, sekarang menyesal, aneh sebab memang merekamenurut ukur-an kebenarannya sendiri. Waktu Musa, banyak orang Israel dihukum, mereka tidak disesali sebab Tuhan yang ber-tindak. Seharusnya mereka tidak menu-ruti hasutan orang Lewi dan bertindak sendiri, tetapi menyerahkan pada Tu-han, sehingga Tuhan yang bertindak (tentu lebih dahulu mereka harus menyucikan Israel sendiri), maka Israel tidak akan sampai kehilangan 40.300 orang, juga Benyamin kehilangan lebih kurang 60.000. Semua karena tidak ada pemimpin yang baik sehingga semua jalan sendiri2, semaunya sendiri.

KESIMPULAN.

Baik dalam rumah, dalam kelompok kecil  dalam Gereja dan Sinode dll, per-lu ada pemimpin yang benar sesuai Firman Tuhan dalam pimpinan Roh. Jangan orangtua dalam rumah plin plan, apalagi kalau anak2nya sudah dewasa tidak tegas mengatur anak seperti ibu dari Mika atau imam Eli, Ayub dll. Banyak celaka muncul karena semua mau berbuat semaunya sendiri.

Pemimpin harus mengatur supaya se-mua taat pada Firman Tuhansupaya selamat dan tumbuh se-tinggi2nya se-perti Kristus di hadapan Allah.

Begitu juga dalam Gereja dan ba-gian2nya. Kalau tidak ada pemimpin yang benar dan tegas, keadaan akan kacau, semrawut di hadapan Allah. Sekalipun bersatu kalau ada dosa Dan (berhala) dan dosa2 lain, itu menjadi mangsa iblis dan Tuhan harus bersikap adil. Sebab itu masing2 orang harus hidup dalam kesucian dan benar di hadapan Allah dan selalu dicocokkan dengan Firman Tuhan. Kalau ada yang tidak beres seperti Mika, ibu bapak harus bertindak tegas.

Hargai dan doakan pemimpin yang benar dan taat kepadanya Ibr 13:7,17 dan terus dicocokkan dengan Firman Tuhan. Kalau dididik,diatur, dinasehati dan ditegur harus taat, supaya Roh Kudus bisa bekerja, supaya jangan menurut daging sehingga iblis bekerja sampairusak dan binasa. Jangan hidup semaunya sendiri sekalipun seorang diri, apalagi ber-sama2 dalamkelompok (jangan berdosa ber-sama2!) lebih2 ber-sama2 dalam seluruh tubuh Kris-tus. Selalu cocokkan dengan Firman Tu-han. Jangan dipakai iblis untuk meng-hasut, bisa celaka.

–  Ujian Wahyu ke-1 : tgl 5 April 2017

– MP-3 pelajaran Wahyu bisa di download

di www.tulang-elisa.org