M3895 – Ester 1:1-22. Ahasyweros Dan Wasti

Kerajaan Ahasyweros adalah kerajaan kafir, sebab itu budaya dan aturan hi-dupnya termasuk orang kafir dan ba-nyak berbeda dengan Taurat. Bagi kita Wasiat Lama yang diatur dengan Taurat tetap berguna, sebab kalau selubungnya dibuka (2Kor 3:14) maka artinya sama dengan Wasiat Baru (rumus penafsiran Wasiat Lama: WL – selubung = WB, misalnya Bil 33:55 se-sudah dibuka selubungnya menjadi Kol 3:5). Untuk kebenaran Taurat kita pu-nya rumusnya, untuk cara2 hidup orang kafir, lebih2 dalam pernikah-annya, tidak bisa dibandingkan, terlalu jauh, sebab itu jangan diracuni oleh dosa2nya.PENDAHULUAN.

Tuhan menaruh kitab Ester dalam Wasiat Lama dengan maksud untuk suatu pelajaran bahwa Tuhan tetap berkuasa dan mengendalikan seluruh dunia, termasuk kerajaan orang kafir dengan sangat teliti untuk kepentingan umatNya yang tertekan sebagai ta-wanan disini. Tidak ada satu kata Tuhan Allah dalam buku ini, tetapi nyata sekali Tuhan Allah bekerja di dalamnya, se-hingga timbul hari raya Purim, hasil pekerjaan Allah yang luar biasa, dllnya lagi.

EST 1:1-8. PAMERAN KEKAYAAN AHASYWEROS.

Bagi orang dunia ini umum, untuk saat itu. Sekarang tergantung sikon dan untung ruginya. Daging itu suka puji dan salah satu cara umum untuk mem-peroleh puji adalah dengan mema-merkan salah satu kesuksesannya. Suk-ses orang beriman, ada yang dengan sendirinya diketahui orang banyak, ada yang dengan sengaja dipamerkan. Yang harus diperhatikan adalah bahwa se-mua yang ada pada kita itu dari Allah 1Kor 4:7. Juga pada orang kafir, misalnya Nebukadnezar, Rabsaki dll, itu semua dalam izin dan pengetahuan Tu-han. Rabsaki tidak tahu, dan ia meng-hinakan Tuhan dengan membanggakan kesuksesannya, sebab itu ia dihukum mati oleh Tuhan 2Raj 19:28. Daud tahu semua suksesnya dari Tuhan, dan ia mengakuinya dengan segenap hatinya, sehingga semuanya awet sebab “dijaga” oleh Allah. Kalau kita tahu se-mua yang ada pada kita itu dari Tuhan, lalu kita tetap taat dan memakainya dengan cara yang berkenan pada Tu-han, semua akan awet bahkan ber-tambah2 seperti peraturan Tuhan Mat 13:12. Sebab itu jangan memamerkan milik atau sukses kita supaya dipuji, tetapi permuliakanlah Allah dan sung-guh2 taat menyembah Allah yang memberi kita segala perkara ini. Kalau toh orang2 memuji kita sebab melihat sukses dan kelimpahan yang Tuhan berikan pada kita, kembalikanlah se-gala puji pada Tuhan dengan bersaksi dengan segenap hati bahwa semua ini dari Tuhan Yes 42:8, dan jangan menyombongkan diri, itu mengambil kemuliaan Allah.

Kita harus ingat bahwa orang som-bong akan direndahkan, jangan sampai terjerat dalam puji2an orang banyak lalu jadi sombong Ams 29:5 atau menuruti daging yang suka puji. Tujuan kita bukan megah, mulia di dunia, tetapi kekal di Surga.

Kalau kita bisa melihat tujuan hidup kita di Surga yang tidak tampak Ibr 11:25, maka dalam segala keadaankita bisa berpada dalam porsi yang sesuai, dan tetap di jalan sempit dan hidup memperkenankan Tuhan.

EST 1:9-12.

Disini, Raja Ahasyweros dan istrinya Wasti ada dalam konteks pernikahan orang kafir, yang menurut Firman Tu-han ada  banyak cacat dan kekurang-annya. Paling2 hanya ada sedikit yang betul sesuai dengan sisa2 kemuliaan Allah yang masih mungkin ada pada mereka Rom 3:23 KJI. TL. Tetapi sebab ini ada dalam Alkitab dan ada hu-bungannya dengan Ester, kita akan melihat beberapa hal.

WASTI, ISTRI YANG TIDAK TUNDUK!

Ada banyak hal yang dikerjakan Wasti,  Laki2 pesta sendiri, yang perempuan juga tidak kalah sebab Wasti meng-ajaknya untuk berpesta. Sudah 7 hari mereka pesta sendiri2 lalu kemudian raja Ahasyweros menyuruh 7 orang penjawat istana untuk mengundang Wasti datang dalam pesta raja dengan bermahkota. Tetapi Wasti menolak dan rajanya sangat marah sehingga dibuat suatu pengadilan dalam pesta itu dan Wasti dipecat, diceraikan dan kedu-dukan ratu akan diberikan pada orang lain yang lebih baik. Disini kita melihat bahwa ada satu hal yang mirip dengan peraturan Firman Tuhan yaitu suami menjadi tuan dalam keluarganya yaitu kepala istrinya. Ini mirip seperti per-aturan suami istri dalam Firman Tuhan. Ef 5:22-24 yaitu suami menjadi kepala pada istri dan istri tunduk pada suaminya seperti jemaat tunduk pada Kristus. Hanya ini satu2nya peraturan yang ditulis disini, sebab ini yang utama disamping yang lain seperti cinta, kerjasama, saling tolong menolong dll. Tetapi peraturan yang utama adalah tunduk pada suami seperti tubuh pada kepala sebab suami adalah kepala, seperti jemaat tunduk kepada Kristus. Seperti tubuh tunduk pada kepala itu berarti se-gala2nya. Sebab tanpa kepala, tubuhnya akan mati dan semua diatur oleh kepala. Begitu pentingnya tunduk pada suami seperti halnya kepala itu mutlak perlu untuk tubuh itu. Begitu juga istri tunduk pada suami, ini perlu ditekankan lebih kuat lagi sebab jemaat tidak bisa hidup tanpa Kristus dan bergantung sepenuhnya dari Kristus, sebab itu jemaat harus tunduk pada Kristus, begitu juga istri kepada suami. Ini kesalahan yang ter-banyak dan terutama dalam keka-cauan hidup nikah orang beriman,yaitu istri tidak mau tunduk pada suami, apalagi kalau istri lebih terpelajar, lebih pintar, lebih besar gajinya, lebih do-minant, lebih banyak kelebihannya daripada suaminya. Apakah perem-puan harus mencari suami yang lebih besar, lebih banyak kelebihannya dari istri? Tidak harus, tetapi tentu lebih praktis daripada suami lebih muda, lebih bodoh, lebih banyak kekurang-annya daripada calon istrinya, dan ini membuat penyesuaiannya lebih sulit. Tetapi ini tidak mutlak (suami harus lebih dari istri) sebab ada kasih, se-hingga sekalipun lebih, tetap harmonis karena cinta.

Semua ini tidak berbahaya karena ada kasih tetapi tetap istri harus tunduk pada suami, tetapi suami juga harus tunduk pada Kristus, tentu juga istri tunduk pada Kristus 1Kor 11:3. Jadi peraturan Allah itu sempurna, dan harus ditaati, sebab Allah maha tahu dan Dialah Pencipta (pabriknya dari manusia laki2 dan perempuan).

Allah yang paling tahu dan paling mengerti, bagaimana caranya supaya nikah menjadi manis, harmonis. Ini terjadi kalau ada cinta dan masing2 taat akan tugasnya masing2, yaitu suami cinta istri sendiri dan istri tunduk pada suami dan tentunya juga cinta, tidak berkhianat.

Dalam kenyataannya ada banyak perempuan yang dominant terhadap suaminya, bahkan istri2 yang lembut dan tampaknya mau tunduk, ternyata tidak tunduk dengan sesungguhnya, tetap nyetir, menguasai dan ini meng-ganggu keharmonisan suami istri dan keluarga. Kitab Pengkhotbah sampai seperti putus asa mencari istri yang baik, yang mau tunduk pada suaminya, sehingga dikatakannya susah mencari istri yang baik Pkh 7:28 daripada mencari suami yang baik. Apakah ini masih berlaku sampai sekarang? Masih untuk orang2 lama, bahkan juga di-antara orang baru yang belum me-nanggalkan hidup yang lama, lebih2 istri2 yang punya tabiat dominant yang tidak dilepas! Kol 3:9-16.

Sebab itu istri2 harus meninggalkan tabiat lamanya, termasuk tidak mau tunduk; Ini dilakukan dengan iman ditambah dengan menyangkali daging sebab dalam tabiat daging seringkali masih bersembunyi tabiat lama ini. Semua yang meninggalkan tabiat lama dengan iman, tetap harus menyangkali diri dan seringkali itu sakit. Jangan do-minant artinya mau menguasai, me-nentukan, mau menurut kehendak sendiri, tidak mau tunduk pada sua-minya. Ini daging, melawan Tuhan!

Jadi istri tunduk berarti tidak ingin atau tidak mau menjadi kepala untuk menguasai suaminya 1Pet 3:1-6 yaitu:

  1. Merasa puas sebagai tubuh sua-minya.
  2. Mau mengalah, berhenti bicara (ayat 1). Jangan menyerang, terus bicara, te-tapi tanpa (banyak) kata sandar hikmat dan kuasa Allah. Kalau suami salah, nasehati namun jangan bicara terus tetapi berdoa terus, Tuhan bisa ba-talkan kemauan suami yang salah.
  3. Tetap berdiri atas kebenaran Firman Tuhan (ayat 2) maka Tuhan jamah suaminya kalau salah.
  4. Tidak suka bantahan tetapi lemah lembut (ayat 3,4).
  5. Mau merendahkan diri supaya bisa tunduk. Sarah memanggil Abraham: Tuan!

Hamba tidak akan ber-bantah2 dengan tuannya. Justru ini suatu pengolahan menjadi istri yang rohani 1Pet 3:6.

  1. Suatu perhiasan rohani 1Pet 3:4-5. Yang tidak mau tunduk itu menjadi onar di rumah, dan suatu hujat di Gereja dan dalam masyarakat Tit 2:5.
  2. Istri yang tidak mau tunduk mem-buat kasih suaminya dingin, bahkan yang tidak rohani menjadi kecewa ka-rena bantahannya. Kalau tunduk dan lemah lembut, justru suami sering jatuh cinta padanya. Suami yang belum kenal Tuhan tersontoh oleh istri yang tidak tunduk, bahkan Ahasyweros jadi marah, tetapi istri yang manis, tunduk bisa memenangkan suaminya. Istri yang tidak tunduk biasanya turun temurun, cacatnya ditiru anak2nya dan jadi pincang turun temurun.

Apa Allah adil?

  1. Ini sementara, dalam Surga tidak ada laki2 dan perempuan.
  2. Pahalanya dan tingkatannya sama Gal 3:28.
  3. Saling melengkapi.
  4. Allah tahu lebih dahulu bahwa Hawa yang berdosa lebih dahulu 1Tim 2:12-15. Istri bersifat ke-ibu2an, kadang2 lebih peka, lebih banyak bicara, se-hingga lebih banyak bersalah (dalam kenyataannya untuk orang lama dan orang baru yang belum melepas tabiat daging ini Pkh 7:28).

Istri yang bantahan itu dikatakan seperti bocoran yang terus menerus Ams 19:13.

Dalam cerita Ahasyweros dan Wasti kita melihat bahwa Wasti tidak mau tunduk sehingga terjadi kekacauan dan ini bisa menular pada semua istri2 lainnya. Sebab itu paling tepat kalau tunduk, tetapi tetap membantu suami mengambil keputusan, jangan jadi placebo (golek jonggol).

Ahasyweros sebagai suami.

Ada banyak kesalahan dari Ahasyweros sebagai suami, sebab memang ia orang kafir dengan cara dan adat daging, duniawi dalam perhambaan iblis. Kalau mau bertobat semua yang melawan Taurat (dalam Wasiat Lama) dan Fir-man Tuhan dalam Wasiat Baru harus dibuang dan itu banyak sekali. Meski-pun begitu Salomo berbuat kesalahan lebih banyak dari orang2 kafir ini seperti dalam 1Kor 5:1. Tentu hukuman Tuhan juga lebih dahsyat. Sebab itu se-kalipun Salomo bertobat pada akhir hidupnya 2Sam 7:14,15, tetapi hidup-nya menjadi cacat sekalipun ia sudah berusaha banyak. Jangan berdosa se-bisa2nya dan bisa kalau tinggal dalam Kristus Gal 5:16 supaya jangan rusak dan cacat hidup ini untuk kekal.

Kesalahan Ahasyweros yang utama yang kita lihat adalah:

  1. Tidak mengampuni istrinya. Ia ber-laku sebagai raja terhadap istrinya bu-kan sebagai suami, ini salah prinsip. Kasih bisa mengampuni 1Pet 4:8.
  2. Tidak setia, lain dengan Ayub yang mengampuni dan setia pada istrinya dengan kasih.
  3. Ia menceraikan istrinya dan meng-ambil perempuan lain.

Sekalipun dalam Wasiat Lama poligami masih dibiarkan, tetapi orang2 yang mengerti kebenaran pernikahan dengan baik, ia akan mencintai istrinya se-penuh2nya (ini suatu test case yang penting, mungkin orang2 ini seperti Yusuf, Ayub menjadi orang sempurna Wasiat Lama, bangkit waktu Putra manusia Yesus mati di salib).

  1. Suami harus cinta istri sendiri, ja-ngan cinta perempuan lain Ef 5:25,28-33. Ini yang terutama, terbesar dan semuanya. Orang yang cinta perem-puan lain sekalipun dalam film porno dll itu berzina dan dosa di hadapan Allah Mat 5:28. Dosa zina adalah dosa terhadap tubuhnyasendiri dan ini dihitung dosa istimewa 1Kor 6:18, 2Kor 7:1 dan mempengaruhi tubuh kemu-liaannya, beberapa orang menafsirkan tidak bisa sampai tingkat yang sem-purna. (Biasanya itu dihitung sejak percaya Tuhan Yesus, sebelumnya tidak dihitung, kecuali bertobat kembali, tetap dihitung). Dalam kasih termasuk semua yang lain, bahkan kasih itu berani mati untuk istrinya.

Kesucian nikah itu adalah dasar dari kasih dan keutuhan pernikahan. Kita memelihara kesucian pernikahan sam-pai dalam hati, pikiran dan angan2 Gal 5:24. Ini sumbernya pernikahan yang bahagia, tumbuh dan mengalami ren-cana Allah yang indah. Jangan mena-jiskan kesucian hidup nikah. Ini yang mempertahankan kasih suami istri dan termasuk semua yanglain. Kalau mulai cinta pada perempuan lain (atau istri pada laki2 lain) itu berarti berzina dan kasihnya akan bocor dan Tuhan tidak berkenan. Segera disucikan dalam pi-kiran. Kalau dibiarkan akan jatuh dalam perbuatan dan kalau masih mau masuk Surga harus bertobat dan mengakui dosanya sebab tanpa pengakuan dosa belum beres dan dosa zina tidak boleh masuk Surga Wah 22:15.

  1. Mengampuni. Contohnya Ayub yang punya istri yang jahat dan membuat bangkrut dan mati 10 anaknya, tetapi Ayub mengampuni! Berapa kali? 70×7 Mat 18:22. Biasanya kalau suami/ istrinya berzina itu sulit mengampuni tetapi tetap harus mengampuni. Sebab itu berusahalah mencegah yaitudengan cara jangan menikah dengan orang du-nia atau orang yang pura2 sebab sesu-dah nikah tetap mengampuni 490 kali sehari. Kalau ada suami yangberzina, istri jangan ikut berzina, rumah tangga itu roboh. Satu tiang masih bisa berdiri, sebab itu jangan ikut berzina atau membalas.

Menghindari dosa zina dalam dunia yang penuh dengan zina (sekarang sudah sampai puncak2nya yaitu: Homo, ingat Sodom Gomora) itu sulit kecuali tinggal lekat pada Kristus Yoh 15:5, 7 KPR dan dipuaskan dalam Kristus dengan kesukaan dari Allah Yoh 4:14; 7:38 dan memelihara cinta kepada istri/ suami sendiri.

Nikah yang disucikan itu mudah memelihara kasih yang terus bertum-buh Rut 3:10, Wah 2:4. Kasih mula2 itu patokan terendah (tetapi ukuran pe-mulihan bagi orang yang jatuh) supaya terus tumbuh Pil 1:9. Apalagi dalam polarisasi, orang yang tidak meme-lihara kesucian sampai dalam batin dengan pengertian yang cukup (7 KPR) akan hanyut dalam budaya dosa yang dahsyat!

  1. Persekutuan suami istri itu satu, bu-kan lagi dua orang Mat 19:5-6. Ini kesatuan yang ajaib. Dunia tidak me-ngenalnya sebab tidak mengerti kesu-cian nikah dan kasih yang bertumbuh, oleh karena itu dengan alasan apapun juga tidak boleh bercerai itu dosa zina.

Ada yang ternyata bercerai dan nikah lagi, masih hidup, itu adalah nikah yang cacat. Kalau Tuhan masih memberi hidup, Ia tidak akan membunuh sumbu yang berasap Mat 12:20 tetapi ini cacat, seperti orang hidup tanpa kaki tangan, masih bisa hidup tetapi cacat. Jangan sampai ini terjadi. Kalau sama2 di dalam kesucian Tuhan kasihnya tidak akan bocor, bisa tahan, makin tumbuh dan ber-buah2 lebih banyak; mereka berdua itu seperti 10 orang (Im 26:8) sebab itu mereka bisa berhasil dan tumbuh lebih banyak dan lebih cepat di dalam Tuhan Pkh 4:9-12, tidak akan putus2 lagi. Orang yang mau tumbuh rohaninya, itu mutlak harus meme-lihara kesucian hidup nikahnya. Orang yang merusakkan hidup nikahnya, itu merusakkan rohaninya, kalau tidak bertobat (tetapi cacat) akan binasa dalam Neraka. Jangan dibandingkan dengan nikah dunia, sama sekali berbeda.

KESIMPULAN.

Kita baru melihat tentang suami istri dalam Ahasyweros dan Wasti dalam terang Firman Tuhan, supaya jangan meniru nikah orang dunia yang rusak bahkan sempuna dalam dosa zina. Tetapi pada akhir zaman ini pernikahan anak Tuhan akan jadi sempurna se-hingga juga ada banyak suami istri yang ber-sama2 terus meningkat rohaninya sampai sempurna ber-sama2. Juga akan ada banyak bujang2 yang suci dan sempurna ber-sama2.

Nyanyian:

Satu dalam Tuhan ber-sama2.