Stand 2: Target Pendidikan Anak

Stand 2: Target Pendidikan Anak



Luk 2:52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. (3:22)
Bab ini membahas target atau sasaran yang akan kita capai dalam mendidik anak dalam terang Firman Tuhan.
Pokok bahasan:
A. Tahu Target Pendidikan Anak.
B. Menilai dan mengukur hasil Pendidikan Anak.
C. Mempertahankan dan menumbuhkannya sampai sesuai Target (Seperti Kristus)

I. TAHU TARGET PENDIDIKAN ANAK.

1. Apa Target Pendidikan Anak?

Ada 3 macam Target Pen-didikan Anak dalam dunia yaitu:

a.Target Alkitabiah.

Melahir barukan anak-anak dan menumbuhkannya sampai akhirnya menjadi seperti Kristus. Ini anak yang berkenan pada Tuhan dan manusia (Luk 2:52; 1 Sam 2:26; Ams 3:4).

Target  ini dicapai kalau kita mau hidup di jalan sempit dan untuk ini harus suka pikul salib dalam pimpinan Roh Kudus sesuai Firman Tuhan.

Orang-orang yang mendapat kerajaan Surga dan kebenarannya, juga kebutuhan jasmaninya akan ditambahkan Allah kepadanya. Sebab itu di dalam target ini juga termasuk pertumbuhan secara lahiriah, yaitu sampai menjadi dewasa lahir batin.

b. Target manusiawi atau sekuler.

Ukuran bahagia orang dunia biasanya: Uang banyak, sehat, sukses, kedudukan dll. Sebab ini yang dipentingkan, tidak mempedulikan hidup sesudah mati, karena mereka tidak tahu dan tidak mengerti.

Biasanya mereka berpendapat: Apa katanya nanti sesudah mati, sebab mata orang berdosa dibutakan oleh Iblis, 2 Kor 4:4.

Sebab itu target sekuler dari  mendidik anak hanyalah untuk  menjadi orang baik dan sukses. Ini baik tetapi di hadapan Allah ini tidak cukup, sebab meskipun baik dan sukses, mereka tetap orang lama dan kalau tidak bertobat itu sia-sia sebab:

· Kebaikan manusia itu dihadapan Allah seperti kain larah, Yes 64:6, kalau tidak percaya pada Tuhan Yesus, untuk kekekalan tidak ada gunanya, tidak selamat.

· Sukses manusia itu fana, tidak bisa menyelamatkan jiwanya dan akhirnya binasa, Mat  16:26, kecuali percaya Tuhan Yesus.

c. Target sekenanya alias tidak dididik.

Biasanya hasilnya menjadi orang yang sia2 dan jahat; ini tidak diharapkan dan tanpa percaya Tuhan Yesus juga binasa kekal.

2. Mengapa perlu ada Target?

Kalau tidak punya Target, tidak punya patokan, mudah hanyut meniru cara-cara yang salah atau tertipu Iblis sehingga rohani si anak tidak tumbuh, pendidikan anaknya gagal. Orang tuanya Kristen, tetapi anaknya masuk Neraka. Kalau punya Target itu berarti tahu apa sasaran yang harus dicapai untuk bisa mendidik dengan betul sehingga dengan pertolongan Tuhan bisa tumbuh sampai seperti Kristus.

3. Prioritas Target:

Prioritas kita bukan hal-hal duniawi, tapi target rohani Mat 16:26. Hidup di dunia ini kesempatan emas untuk mencapai target rohani setinggi mungkin, sebab di neraka sudah tidak bisa berubah juga di Surga tidak bisa tumbuh lagi.

Contoh: Lazarus dan orang kaya, sesudah mati tidak bisa berubah lagi.

Orang tua  juga mengusahakan sukses secara lahiriah, tetapi dalam kaitannya sebagai fasilitas untuk hidup dan hidup itu untuk Kristus. Tuhan bisa memberikan segala fasilitas atau kebutuhannya dengan limpah; Tetapi  yang membatasi adalah kemampuan si anak itu sendiri. Kalau anak-anak menjadi rohani, itu berarti ia juga bisa menanggung “ beban uang“, maka Tuhan bisa memberi berkat limpah meskipun ini bukan target utama, hanya fasilitas, Mat 6:33.

KESIMPULAN:

Kita harus tahu  dan punya target Pendidikan Anak menurut Firman Tuhan serta menda-hulukannya. Kadang-kadang orang tua sibuk dengan prestasi anaknya di sekolah, tentu itu harus diperhatikan tetapi jangan berlebih-lebih dan jangan merugikan rohaninya. Kalau ujian, anak-anak  jangan disuruh membolos  Sekolah Minggu. Ini adalah orang tua yang tidak punya Target Rohani, sebab itu perioritasnya adalah hal-hal yang fana. Orang tua yang punya prioritas yang betul akan minta hikmat Tuhan untuk mengatur waktu, bukannya mengorbankan ibadah dan rohaninya.

II. PENILAIAN : SUDAH SAMPAI  DIMANA PENDIDIKAN ANAK KITA?

1. Tahapan untuk mencapai  Target:

a. Menilai dan mengukur Pendidikan Sekuler lebih   mudah dan lebih jelas.

Ada Target dan tahapan-tahapan yang jelas, misal:  dari SD sampai lulus S1 dan S2. Setiap tahun harus naik kelas. Kalau tahun kedua tidak naik, atau anak umur 15 tahun, masih SD, berarti tidak memenuhi target.

b. Ukuran pendidikan Roha-ni lebih sulit.

Seringkali orang tua tidak mempunyai patokan dan tidak mengerti tahapan-tahapan yang jelas untuk mencapai target seperti pada pendidikan anak sekuler. Akibatnya apabila ada kegagalan atau kekurangan dalam pendidikan anak, orangtua tidak tahu. Sebab itu Orang tua harus mengerti supaya  bisa mengetahui kalau berhasil atau gagal.

2. Macam-macam  ukuran untuk menilai pendidikan    anak  secara rohani.

a. Ukuran kematangan rohani.

Ukuran ini sulit diketahui, meskipun begitu kita bisa menilai hal ini dari:

1. Tabiat anak. Kalau tabiatnya terus berubah makin baik, sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, misalnya bicaranya, kesabaran, tanggungjawab, mau mengalah, dll, itu berarti ada pertumbuhan rohani yang baik.

2. Dalam problem. Justru tingkat rohani itu lebih jelas tampak waktu ada pencoba-an. Kalau ada problem, bagaimana reaksinya. Apa-kah ia marah-marah, benci, maki-maki atau  bisa mene-rima dan mengampuni? Bisakah ia berharap Tuhan dan berdoa, bisakah ia menyerahkannya pada Tu-han. Kalau bisa, itu berarti rohaninya baik.

3. Gairah rohani. Misalnya berdoa, menyanyi, belajar Firman Tuhan, menghafal ayat, berbakti, bersaksi, pengertian rohani dst. Kalau ini ada dan tumbuh, itu berarti ada pertumbuhan rohani yang baik.

4. Hidup di jalan sempit, tidak ikut hal2 duniawi  yang dilarang Tuhan, mau pikul salib, baik dalam pergaulan di sekolah, di Gereja dll. Karena orangtua serumah, biasanya mereka bisa menilai kalau ada perubahan dari bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Dari semua hal ini kita bisa melihat pertumbuhan rohani-nya.

b. Ukuran Waktu:

Ukuran waktu pertumbuhan rohani lebih sulit karena   tidak sama untuk setiap orang dan pertumbuhan rohani yang tidak tampak ini tidak jelas, misalnya: Berapa lama waktu antara baptisan air dan Roh Kudus? Kapan harus bisa bersaksi dan pelayanan dll, dan inipun bisa dipakai sebagai tambahan untuk penilaian.

c. Dipimpin Roh.

Kalau orang tua berjalan dalam Roh, maka meski ukuran rohaninya tidak jelas, Allah tahu dengan tepat dan kita bisa merasakannya.

Lebih baik kalau beberapa orang menilai bersama-sama, misalnya ibu bapak dan guru-guru Sekolah minggu.

d.Bandingkan Tahun demi tahun: Karena patokannya relatif, kita bisa memakai perbandingan rohani dari tahun ke tahun, apakah ada kemajuan, naik atau turun?

Jadi meskipun sulit untuk tahu dengan tepat pertumbuhan rohani si anak, tetapi kita bisa merasakannya (istimewa di dalam Roh) apakah ia tetap lekat pada Tuhan atau tidak. Kalau anak itu lekat pada Tuhan, kita tidak perlu kuatir, sebab anak itu akan tetap terpelihara dan tumbuh terus di dalam Tuhan dengan baik.

III. MEMPERTAHANKAN KEADAAN YANG BAIK DAN MENUMBUHKANNYA.

Bersama-sama anaknya, orang tua harus mempertahankan si anak supaya tetap berada dalam jalan yang betul (jalan sempit, di atas Mezbah), seperti carang di dalam pokok anggur yang benar. Kalau tetap di dalam Kristus, ia akan terus tumbuh dan diharapkan tumbuh se-tinggi2nya dan tidak mustahil  untuk menjadi sempurna seperti Kristus, sebab itu adalah kehendak Allah. Mat 5:48.
Jangan  sampai anak ini tertipu oleh kemanisan dunia/ hanyut oleh arus orang banyak, sehingga keluar dari Kristus, rohani akan rusak dan tidak selamat. Sebab itu :

1. Orang tua sendiri harus tetap di jalan Allah dan  tumbuh terus sampai seperti Kristus. Kalau orang tua undur, itu sangat mempe-ngaruhi anak-anaknya, apalagi kalau anak-anak itu belum dewasa rohani, dan di Gereja tidak ada pengem-balaan yg baik Mat 15:14, Luk 6:39, bisa jadi lebih jahat. Mat 23:15. Contoh: Yusak selama memerintah, orang-orang Israel tetap setiap kepada Tuhan, tetapi sesudah tidak ada pimpinan yang baik, banyak orang Israel undur dari Tuhan. Yus 24:31. Juga pengaruh imam Yoyada, 2Taw 24:14-17.

2. Terus dididik dengan FT dan hidup dipimpin Roh.

Kesehatan jasmani tidak bisa dipertahankan dengan hidup sehat hanya 1 hari, tetapi harus dipelihara setiap hari, termasuk makan sehat, tidur cukup dll. Begitu juga rohani yang sehat, harus dipelihara terus menerus setiap hari dengan Firman Tuhan, doa, ibadah, pelayanan, dipimpin Roh, baru bisa diharapkan akan ada pertum-buhan yang baik sampai mencapai target.

3. Terus mengawasi, mena-sehati dan mendoakan. Hidup di dunia ini bisa berubah, misalnya Saul, ia mulai  dengan Roh tetapi berakhir dengan daging

Gal 3:3-4. Sebab itu perlu pemimpin termasuk orangtua untuk mengawasi, menasehati dan mendoakan terus. 1Sam 12:23. Imam Eli tidak menegur anak-anaknya, akhirnya mereka makin terjerumus dan binasa 1 Sam 3:13.

4. Anak-anak yang sudah dewasa rohaninya biasa-nya bisa bertahan sendiri sampai ke akhir.Kalau anak-anak mau berjalan dengan Tuhan, ia akan makin kuat dan bertumbuh. Pil 14:13.

IV. KESIMPULAN :

Kita harus tahu target pendidikan anak yaitu tumbuh menjadi seperti Kristus. Kalau orangtua mendidik sungguh-sungguh dengan pertolongan Tuhan, meskipun hampir pasti selalu ada gangguan dari tubuh daging, dunia dan iblis serta kaki tangannya, tetapi Tuhan sanggup menolong anak itu tetap selamat dan tumbuh se-tinggi-tingginya. Kalau bisa, ia bertumbuh terus sampai menjadi sempurna seperti Kristus. Usahakan supaya anak-anak juga penuh Roh Kudus dan cinta Firman Tuhan. Tentu kita juga harus mengusahakan pertumbuhan jasmaninya, tetapi sekedar supaya hidupnya tetap selamat dan tumbuh sampai seperti Kristus, dan ini harus menjadi prioritas pertama dalam pendidikan anak.
Selanjutnya:
Stand 3:  Pembagian Umur