MENGHADAPI KEMATIAN

Diambil dari Buku
Kehidupan Sesudah Kematian Oleh Pdt Jusuf BS.

A.KEMATIAN MASING-MASING KITA SENDIRI
Mengapa takut menghadapi kematian? Sebab:
1. Tidak tahu, tak mengerti apa kematian itu sebenarnya? Kemana sesudah mati dan bagaimana keadaan di sana? Kebanyakan orang tahu Neraka dan Sorga sepintas lalu saja, tetapi sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa sewaktu mau melangkah masuk ke alam berzakh. Bagi mereka kematian itu suatu kegelapan pekat yang sangat menakutkan.
Tak pernah ada orang pergi/ tinggal di sana lalu pulang kembali ke dunia. Tak ada buku- buku petunjuk “Pariwisata” ke alam berzakh. Suatu tempat penuh tanda tanya yang tak terpecahkan oleh otak manusia. Hanya Allah yang tahu, hanya Dia yang keterangannya dapat dipercayai; dan berbahagialah mereka yang percaya akan perkataanNya dan bersedia menghadapi kematian menurut petunjuk- petunjuk Allah.
2. Dosa.
Ini penyebab utama, sebab sengat maut itu dosa.
1Korintus 15:56 Adapun sengat maut itulah dosa, dan kuasa dosa itulah torat.
Sengat maut, itu bahayanya dari maut yang me- nimbulkan ketakutan, yaitu pehukuman kekal di belakang maut!
Selama seorang belum lepas dari dosa, ia tak dapat lepas dari takut akan maut.
Orang yang sudah ditebus dari dosa, maka maut itu kehilangan sengatnya. Pehukuman di belakang maut lenyap, sehingga seperti lebah yang hilang sengatnya, sudah tidak lagi menakutkan; begitu maut tidak lagi menakutkan, bahkan mati itu untung sebab tahu dan yakin di belakang maut ada pahala yang indah dan kekal.
Pilipi 1:21 Karena kepadaku hidup itu Kristus, dan mati itu untung
2Timotius 4:6-8 Karena aku telah sedia dipersem-bahkan, dan masa ajalku sudah sampai. Aku telah berusaha dengan bersungguh-sungguh di dalam peperangan iman, aku telah menyempurnakan usahaku, aku telah memeliharakan iman; pada akhirnya mahkota kebenaran telah tersedia bagiku yang akan dikaruniakan kepadaku pada hari itu oleh Tuhan, yaitu hakim yang adil itu; dan bukan kepadaku sahaja, melainkan juga kepada sekalian orang yang telah sangat gemar akan kedatanganNya.
Karena itu untuk orang-orang beriman, sebenarnya tak ada alasan lagi untuk takut akan maut.
Biarpun penyakit dan ancaman datang, kita yakin bahwa kalau Tuhan tidak mengijinkan, tak sebuah rambutpun gugur dari kepala kita (Mat 10:30) apalagi mati. Dan kalau toh Tuhan ijinkan kita mati, kita sudah mengetahui ke mana kita akan pergi, kita mempunyai rumah di Sorga dengan Tuhan.
Sebab itu anak-anak Allah harus memperhatikan supaya:
a. Selalu hidup benar di hadapan Allah dari saat ke saat, jangan simpan dosa, yaitu sengat maut.
2Timotius 2:15 Berusahalah engkau memperhadap- kan dirimu benar kepada Allah sama seperti seorang hamba yang tiada bermalu, dan yang menjalankan perkataan dari hal yang benar itu dengan sebenarnya.

b. Harus belajar dari petunjuk-petunjuk Allah (Firman Tuhan!) sehingga mengerti tentang kematian dan kehidupan sesudah kematian. Seorang yang tidak mengerti akan mudah ditakut-takuti iblis dengan bayangan maut (Ibr 2:15) sehingga seumur hidup berada di dalam perhambaan rasa takut. Tetapi kalau kita mengerti, setan tak berdaya menakut-nakuti kita lagi dengan sesuatu yang sebenarnya indah dan menyenangkan (bagi orang-orang yang sudah ditebus oleh darah Yesus). Bersedialah, waktu seperti ini dapat datang dengan tiba-tiba (Yak 4:14).
B.MENGHADAPI KEMATIAN KEKASIH-KEKASIH KITA.
Orang-orang beriman tidak terlalu berdukacita menghadapi kematian saudara- saudara seiman, sebab:
1. Kematian itu indah bagi orang-orang suci.
Mazmur 116:15 Bahwa amat indahlah kepada pemandangan Tuhan matinya segala kekasihNya.
Kematian bagi orang-orang suci itu bukan malapetaka atau suatu bela, tetapi justru itu suatu pengalaman indah, penuh sukacita yang amat heran. Mereka tetap “hidup” dan ada beserta Kristus. Mereka akan melihat sendiri bahwa Sorga itu betul-betul ada dan mulai menikmati Sorga dengan Tuhan Yesus lebih dahulu dari kita.
Bagi kita yang ditinggalkan, kita kehilangan seorang kekasih, itu pedih, itu sakit bagi kita! Tetapi bagi dia, yang mati di dalam Tuhan, hal ini sama sekali bukan penderitaan, baginya bukan suatu kesusahan tetapi kesukaan. Sering orang menangisi yang mati sebab mengira bahwa orang itu dalam kesusahan, seolah-olah nasibnya “sial” sehingga mati, tetapi sebetulnya kematian bagi orang-orang suci itu indah Maz 116:15.
2. Yang percaya pada Firman Tuhan akan merasa terhibur.
1Tesalonika 4:13 Maka kami tiada suka, hai saudara-saudaraku, yang kamu tidak mengetahui dari hal orang mati, supaya jangan kamu berdukacita sama seperti orang-orang lain (orang kafir dan orang-orang yang tak percaya Firman Tuhan) yang tiada menaruh harap.
1Tesalonika 4:13 Karena jikalau kita percaya bahwa Yesus sudah mati dan bangkit pula, demikianlah juga orang yang mati di dalam iman kepada Yesus itu akan dibawa Allah besertaNya.
1Tesalonika 4:18 Oleh sebab itu hendaklah kamu menguatkan hati sama sendirimu dengan perkataan ini.
Mereka yang yakin akan kebenaran Firman Tuhan, justru akan termangu-mangu sebab melihat dengan mata rohaninya bagaimana kekasih-kekasihnya di dalam Kristus itu sekarang mengalami sukacita Sorga, betul-betul Sorga sudah mulai dirasakan oleh mereka. Seperti para wanita yang kebingungan melihat Tuhan Yesus yang mereka kasihi itu ternyata tidak mati, tetapi hidup (Mark 16:9).
Orang yang percaya Firman Tuhan, mata rohaninya celik dan dapat melihat “fakta” ini, sehingga berhenti menangis.
Tetap berduka dan menyerah kepada perasaan hati yang bodoh, itu bodoh dan dosa, sebab tidak percaya pada Firman Tuhan. Percayalah pada Firman Tuhan dan jangan berdosa.
Presiden Lincoln kematian anaknya.
Kematian anaknya, Willie Lincoln Tgl 20-2- 1862 dalam umur 11 tahun, merupakan pukulan yang menghancurkan Presiden Lincoln. Tak putus-putusnya ia menangis tersedu-sedu. Dalam hari-hari berikutnya seolah-olah ia sudah tidak bergairah untuk hidup lagi. Hari Kamis yang pertama ia mengunci diri dalam kamarnya.
Seorangpun tak tahu berapa hebat ia menyerah pada kedukaannya.
Sampai hari Minggu berikutnya hal yang sama terjadi. Ia tak dapat melanjutkan pekerjaannya. kemudian ia menerima kunjungan Dr Francis Vinton dari Gereja Trinity di New York, yang mencela dia sebab berlaku sebagai orang kafir dan menyerah total pada dukacita, itu suatu dosa. “Anakmu tidak mati, ia hidup dalam Firdaus”, katanya. Mula-mula Lincoln seolah-olah tak sadar akan kata-kata itu. Tetapi kemudian kata-kata itu menusuk hatinya. “Hidup? Engkau mempermainkan saya!” “Tidak tuan”, kata Dr Vinton. Inilah pengajaran Firman Tuhan tentang penghiburan yang terbesar (1Tes 4:18). Lincoln mulai insaf, kemudian menangis lagi tersedu-sedu sambil berseru-seru: hidup, hidup, anakku hidup……
Sesudah itu Presiden Lincoln tidak menutup diri dalam kamarnya. Ia mulai mengerahkan pikirannya sekarang kembali untuk pekerjaan negaranya.
Kehilangan seorang kekasih memang merupakan penderitaan yang berat, dan orang-orang Kristen tidak kebal akan pukulan yang melumpuhkan ini. Pen- deritaan karena kematian kekasih memang berat dan menumpahkan air mata itu menolong kesembuhan “luka dalam”.
Tetapi menyerah tanpa terkendali pada perasaan itu salah. Kita harus melawan kecenderungan patah semangat untuk hidup; Tuhan berkata:
Janganlah kamu berdukacita sama seperti orang-orang lain yang tak mempunyai pengharapan 1Tes 4:13.
Percayalah bahwa kekasih- kekasih kita yang pergi dulu itu tidak mati, tetapi hidup di hadirat Tuhan.
Untuk orang-orang beriman kematian bukan kebinasaan, tetapi kemuliaan. (D.J.D Terjemahan dari ruang bahasa Inggris, Majalah “Hikmat” No 38. Asuhan Dr. Daud Hadi Susilo).
KESIMPULAN
Hidup sesudah kematian itu ada!
Kematian adalah akhir yang tak dapat ditawar lagi.
Hanya ada dua tempat di sebrang kematian. Satu tempat yang begitu indah dan senang, yang lain tempat sengsara yang begitu dahsyat, tempat siksa kebinasaan, dan keduanya kekal.
Sekarang saat kita memilih, memikul Salib ikut Yesus setiap hari atau menuruti hawa nafsu daging sesuka hati.
Renungkanlah sejenak, diam dan dengarlah suara Roh Tuhan.
Di jalan manakah kita? Sadarkah kita….. oh, luar biasa kita harus menghadapi kenyataan yang akan datang!
Bersedialah sekarang!
Ceritera: “RAJA YANG BODOH”
Raja begitu geli dan setiap kali dibuat tertawa terbahak-bahak oleh pelawak pendek yang sangat dungu. Sambil mulutnya melongo tanpa maksud, kadang-kadang dengan air liur yang menetes panjang, dan jawaban-jawaban serta tindakan-tindakan yang sangat bodoh, membuat pelawak dungu itu sangat lucu. Raja menganugerahi dia sebuah tongkat yang sangat indah, sambil katanya: “Kalau engkau menjumpai seseorang yang lebih tolol dari padamu, berikanlah tongkat kebodohan ini kepadanya!”
“Baik tuanku”, jawab pelawak dungu itu.
Lewat suatu waktu…, tiba-tiba raja yang sudah sangat tua ini sakit amat payah. Pelawak dan kawan-kawannya mengunjungi raja ini. Dengan sedih mereka melihat raja yang baik itu berbaring tidak berdaya. Tiba-tiba pelawak ini bertanya: “Tuanku, kalau tuanku mangkat beradu, adakah tuanku telah bersedia untuk perjalanan yang jauh itu?”
Setelah berfikir sejenak, raja itu menjawab: “Saya belum bersedia apa-apa.”
Tiba-tiba pelawak itu melompat pergi meninggalkan kamar raja. Raja tersenyum melihat gerak-geriknya yang kaku dan dungu itu. Kelucuannya dan ketololannya sedikit meringankan penderitaannya.
Sejenak kemudian masuklah ia kembali dengan membawa tongkatnya yang dulu, sambil katanya kepada raja: “Daulat tuanku, terimalah kembali tongkat kebodohan dari tuanku!’
“Mengapa?” tanya raja. “Sudah kupesankan kepadamu, berikanlah kepada orang lain yang lebih bodoh daripadamu! Masih ingatkah kamu?”
“Masih ingat, tuanku”, jawab si pelawak. “Karena itulah saya berikan kepada tuanku tongkat ini” “Apakah saya lebih bodoh daripadamu?”, kata raja itu dengan marah karena merasa terhina. “Betul tuanku, karena belum pernah saya menjumpai orang yang lebih bodoh dari tuanku! Tuanku hendak pergi ke negeri yang begitu jauh, gelap, belum dikenal dan tidak akan kembali, tetapi tuanku belum bersiap sedia apa-apa. Bukankah itu terlalu bodoh?”
Adakah kita juga sebodoh raja itu? Bukankah TELAH TENTU bahwa manusia HARUS MATI pada suatu waktu, termasuk kita? Manusia itu seperti UAP, sebentar ada, sebentar sudah “berangkat”.
Adakah kita sudah bersedia untuk perjalanan yang jauh, gelap dan abadi itu?
Semua orang berdosa adalah milik iblis. Setiap orang berdosa yang mati akan langsung diseret setan-setan ke tempat penderitaan gelap yang kekal. Tetapi orang yang mati di dalam YESUS (orang yang percaya pada Tuhan Yesus) akan dibawa Allah besertaNya ke “Sana”, ke tempat perhentian abadi yang indah, tenang dan sejahtera untuk kekal selama-lamanya. Cd traktat.doc