Stand 3: Miskin

1Sam 2:7 Tuhan jua yang menjadikan miskin dan yang menjadikan kaya; Tuhan jua yang merendahkan dan yang meninggikan. (TL)

I. DEFINISI UMUM:

Orang miskin adalah orang yang tidak bisa mencukupi kebutuhan minimum dirinya atau keluarganya sendiri.
Definisi Rohani:
Orang miskin itu sebetulnya hanyalah 3 hal sementara saja:
1. Sementara di dunia saja; di surga tidak ada orang miskin.  Orang-orang beriman sebetulnya tahan menjadi kaya atau miskin, tetapi kenyataannya itu ditentukan Allah dengan adil dan tepat, berdasar keadaan dan faktor-faktor dari orang-orang itu masing-masing.
2. Keadaan sementara, sebab orang-orang beriman mempunyai Bapa yang sangat kaya.
Kalau hubungannya dengan Allah Bapa menjadi baik dan semua sebab-sebab yang menghalang-halangi mengalirnya uang dari Bapa kepada anaknya sudah dibersihkan, maka pada waktunya berkat dari Tuhan akan turun kepadanya, sehingga keadaan keuangannya menjadi cukup kembali dan bahkan menjadi limpah. Ini adalah janji Tuhan Mat 6:11; Yoh 10:10.

  • Ada anak seorang kaya raya tetapi makannya sangat sederhana, juga pakaian dll, sebab ia ada di penjara karena kejahatannya. Keadaan ini hanya sementara, sebab sesudah ia bertobat dan keluar dari penjara, ia diterima kembali oleh bapanya, ia kembali menjadi orang kaya, sebab memang bapanya kaya.
  • Juga anak terhilang itu sangat miskin ketika ia putus hubungan dengan bapaknya; sampai makan makanan babipun tidak mampu. Tetapi sesudah ia kembali kepada bapaknya (Luk 15:22-23), ia kembali menjadi orang kaya, sebab bapaknya kaya.

Setiap orang beriman potensiel adalah orang yang cukup bahkan kaya asal ia memenuhi persyaratannya; Orang Kristen itu potensiel kaya, sebab Bapaknya kaya (potensiel = ada kemungkinan, punya kemampuan).
3. Kekurangan fasilitas sementara. Uang adalah fasilitas sementara untuk hidup di dunia. Tuhan bisa menggantikannya dengan fasilitas lain seperti kuasa, kesembuhan, mujizat dll. Oleh sebab itu, meskipun fasilitas uang tidak ada atau kurang, kalau perlu Tuhan dapat menggantikannya dengan  fasilitas yang lain. Sebab itu orang beriman yang miskin tidak perlu kuatir, percaya saja, meskipun miskin Tuhan akan mencukupi semua kebutuhannya dengan cukup, bahkan limpah.
Ilustrasi: Petrus dan Yohanes di pintu gerbang Elok di Bait Allah tidak bisa memberi uang, tetapi ia dapat menyembuhkan orang lumpuh itu dengan kuasa Allah. Sekalipun miskin mereka tetap bisa dipakai Tuhan, tetap bisa menjadi berkat, tetap bisa melakukan kehendak Allah dengan iman.

II. SIAPA MAU MISKIN?

Semua orang tentunya tidak mau menjadi miskin kalau tidak terpaksa. Hampir semua orang mau menjadi orang kaya. (Ada 3 macam orang kaya: dari Tuhan, dari diri sendiri dan dari iblis. Diterangkan dalam BAB 4).
Orang yang kaya bukan dari Tuhan tetapi dari dirinya sendiri (karena cinta uang), sukar atau bahkan tidak bisa masuk Surga (Mat 19:23).  Cinta uang itu kuat mendorong orang mencari uang, bahkan menghalalkan segala cara sehingga melahirkan banyak dosa; ia tidak peduli apapun asal menjadi kaya. Kaya seperti ini biasanya tidak bisa masuk Surga seperti orang kaya ”teman” Lazarus yang masuk Neraka. Meskipun begitu masih banyak orang yang ingin kaya, apalagi kalau mereka tidak percaya bahwa semua orang kaya seperti ini akan masuk Neraka.
Tetapi kalau orang kaya ini sudah masuk neraka dan penderitaannya begitu dahsyat untuk kekal, pasti pikiran dan sikap mereka berubah. Andaikata mereka diberi kesempatan mengulang hidup di dunia, pasti mereka sekarang mau menjadi miskin asalkan masuk Surga seperti Lazarus, daripada menjadi kaya tetapi masuk Neraka. Kalau sudah pernah masuk Neraka, pasti menjadi miskin itu tidak lagi merupakan sesuatu yang menakutkan baginya, asal masuk Surga. Tetapi sayangnya tidak ada orang yang sudah bisa mengincipi Neraka bisa kembali ke dunia untuk mengulangi hidupnya.
Biasanya orang yang rohani itu bisa berpada, artinya puas dengan apa yang ada, baik dalam keadaan miskin ataupun kaya dan tidak takut miskin, tetapi justru sebab itu Tuhan memberkatinya dengan limpah!

III. APAKAH ORANG KRISTEN ITU HARUS MISKIN? TIDAK!

Orang Kristen bukan orang miskin, tetapi harus bisa berpada. Orang yang bisa berpada itu tidak takut miskin, tetapi tetap harus bekerja dengan baik dan rajin dan orang seperti ini biasanya diberkati Tuhan sehingga tidak miskin, bahkan kaya pada waktunya.
Jadi Kristen itu tidak identik dengan miskin, juga tidak identik dengan kaya. Orang Kristen menjadi miskin atau kaya, itu  tergantung pada pengertian dan ketaatannya akan Firman Tuhan tentang uang.
Uang bukan tanda suci atau dosa, tetapi fasilitas yang netral, tergantung dari orang yang memakainya.


IV. APA YANG MENYEBABKAN ORANG KRISTEN MENJADI MISKIN?

Sebab-sebab jasmani:
Bodoh, malas, kemampuan di bawah normal, boros, penjudi,  peminum,  tidak bertanggung jawab, dll
Sebab-sebab rohani:
1. Daya beban uang yang rendah (BAB 9). Kalau ia mendapat kelebihan uang, ia tidak bisa menahan dirinya dari membelanjakannya untuk hal-hal yang sia-sia, yang duniawi dan yang salah. sehingga jatuh berdosa. Sebab itu berkat Tuhan terhalang datang dan ia tetap dalam kekurangan dan miskin. 2. Cinta uang sehingga menjadi penyembah uang atau mammon. Orang beriman seperti ini justru tidak diberkati Tuhan, sehingga tetap miskin, kecuali ia nekad mencari uang, atau mata gelap, mungkin dengan ini ia bisa menjadi kaya dengan cara yang salah.
3. Belum waktunya. Untuk membuat seseorang menjadi cukup atau bahkan  kaya, Tuhan menunggu saat yang tepat yaitu sampai rohaninya tumbuh menjadi kuat dan berakar sehingga tahan kalau dijadikan kaya.
4. Dosa (misalnya: sombong, tidak jujur, melawan hukum, berzinah, tidak percaya, tidak berharap pada Tuhan dalam mencari nafkah, dll). Semua dosa itu memutuskan hubungan dengan Allah sumber segala berkat, sebab itu berkatnya juga terputus.

V. BAGAIMANA CARA ORANG KRISTEN KELUAR DARI KEMISKINAN?

Dengan membuang semua sebab-sebab kemiskinan secara jasmani dan rohani, maka ia akan menerima  cukup  berkat Tuhan dalam bekerja atau bahkan menjadi kaya dari Tuhan pada waktunya.







VI. SIKAP YANG SALAH DARI ORANG MISKIN ANTARA LAIN:

1. Sedih (bahkan kadang-kadang sampai menjadi pahit). Sebab kena tipu daya kekayaan dunia ini (Mat 13:22) yang mengajarkan bahwa kaya adalah bahagia, sebab itu orang miskin yang tertipu ini merasa dirinya orang malang dan celaka, sehingga selalu sedih sebab miskin, padahal miskin bukan celaka, miskin hanya suatu keadaan sementara, tidak perlu sedih, bisa bersukacita, bahkan orang miskinpun masih mempunyai kelebihan yang indah-indah.
2. Iri, cemburu.
Sikap ini timbul karena ia mempunyai pengertian dan keyakinan yang keliru akan orang-orang yang kaya didekat atau sekitarnya, dikiranya bahwa mereka itu pasti bahagia, sebab banyak uangnya, padahal kaya itu sama sekali bukan jaminan bahagia. Dan iri ini akan menghasilkan sikap-sikap yang jelek, jahat, juga memacunya untuk nekad mencari uang, bahkan menghalalkan segala cara.
3. Minder.
Karena yakin bahwa miskin itu berarti gagal, celaka, tidak bahagia, maka ia malu dan rendah diri.
Ini adalah sikap sombong yang terbalik; artinya kalau orang ini menjadi kaya, ia akan menjadi  sombong.
4. Pasrah menjadi orang miskin.
Orang Kristen tidak boleh pasrah, ini sikap yang salah, sebab ada janji Allah. Dia menghendaki kita hidup cukup, tidak kekurangan (asal kita taat dipimpinNya Maz 23:1). Dia sanggup memberi kecukupan, bahkan berkelimpahan. (Mat 6:11). Kita tetap harus berusaha untuk keluar dari kemiskinan, namun jangan ingin kaya, atau bercintakan uang. Belajar tetap berpada dan berkenan kepada Tuhan sambil memeriksa diri (mengapa sampai menjadi miskin, mengapa sampai berkekurangan). Selanjutnya minta pimpinan Tuhan, yang tahu apa yang terbaik untuk kita.

VII. KEUNTUNGAN ORANG-ORANG BERMAN YANG  MENGALAMI KEMISKINAN.

Ingat miskin itu hanya tiga keadaan sementara! Putra manusia Yesus dalam rencana Allah juga mengalami kemiskinan dan segala macam penderitaan manusia tetapi Ia menang, sebab itu Ia bisa menolong orang lain yang menderita seperti Dia Ibr 2:18; juga Paulus 2Kor 1:6. Ada banyak hal yang menguntungkan karena mengalami kemiskinan, tetapi banyak orang tidak sadar, lebih-lebih mereka yang tertipu oleh falsafah kekayaan dunia, sehingga mereka mengambil sikap yang salah seperti di atas.
Keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan:
1. Latihan iman. Karena perlu uang, orang beriman yang sungguh-sungguh beribadah, berharap pada Tuhan sepenuhnya. Ini menjadi latihan iman yang baik baginya, sehingga imannya menjadi besar, kuat dan ia banyak mengalami hal-hal yang indah dengan Tuhan.
2. Latihan berpada. Tidak mudah  hidup dengan uang yang terbatas kalau tidak bisa mengatur pengeluaran dan mengatur hati. Belajar berpada itu sekaligus juga untuk mematikan cinta uang, sehingga ia dapat merasa puas dengan apa yang ada, dan mahir dalam berpada.
3. Bisa merasakan penderitaan orang miskin, sehingga mempunyai sikap yang sehat pada orang miskin yaitu penuh kemurahan dan pengertian. Hal ini berkenan kepada Tuhan (Gal 2:10).
4. Orang miskin bisa menikmati berkat Tuhan dengan lebih baik. Untuk jumlah uang yang sama, orang miskin (atau bekas orang miskin) bisa bersyukur 10 kali lebih banyak dibandingkan orang kaya yang mungkin bersyukur hanya 1 kali, padahal mereka sama-sama menerima dari Tuhan (1Kor 4:7).
5. Lebih mudah menebus waktu, kalau orang miskin ini cinta Tuhan. Karena tidak mempunyai cukup uang, ia tidak pergi shopping, tour, makan di luar, dll, sehingga ada waktu yang lebih banyak untuk masa teduh, ibadah dan pelayanan.
Belum tentu semua orang mempunyai kesempatan seperti ini, yang punya, nikmatilah !

VIII. KESIMPULAN.

Jadi kemiskinan itu hanyalah 3 hal sementara saja, yaitu:

  1. Sementara di dunia,
  2. Keadaan sementara, dan
  3. Tidak memiliki fasilitas yang sementara ini.

Selama orang beriman itu hidup di jalan Tuhan, kemiskinan tidak banyak mempengaruhi hidup rohaninya sehingga ia bisa bertumbuh dan ber-buah2 seperti Lazarus. Justru orang yang takut miskin itu mempunyai pengertian yang tidak betul dan biasanya hatinya juga cinta uang. Orang yang percaya pada Tuhan, hidup benar, dan mengerti apa arti miskin dari segi rohani tidak akan takut miskin. Ia yakin Tuhan sanggup memelihara hidupnya untuk segala kebutuhannya sementara berada dalam tiga keadaan sementara ini.