SX-759 – Melangkah Sampai Tujuan ( Filipi 2:1-11 )

Filipi 2:1-11(TB)

  1. Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
  2. karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
  3. dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
  4. dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
  5. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
  6. yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
  7. melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
  8. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
  9. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
  10. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
  11. dan segala lidah mengaku: ”Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Bapak/ibu, kali ini marilah kita sama-sama belajar sedikit dari kebenaran Firman Tuhan yang berjudul Melangkah Sampai Tujuan. Kita semua telah melewati tahun 2025, di dalam pemeliharan Tuhan yang Ajaib.

Adakah terpikir oleh kita, mengapa kita ada sebagai-mana adanya saat ini? Kita masih hidup sampai saat ini adakah maksud Tuhan di dalam kehidupan pribadi mau-pun keluarga kita? Untuk apakah kita memperoleh ke-sempatan hidup di dunia ini? Pernahkah terpikir agar se-keluarga bersama menjalani kehidupan di dunia ini, terus berlangsung, bersambung terus di surga yang kekal selama-lamanya, tak akan pernah terpisahkan selama-lamanya? Adakah pernah muncul dalam pikiran kita dan menjadi kerinduan kita? Dan bagaimanakah hal ini bisa terwujud dalam kehidupan kita bersama? Biarlah kita mohon kemurahan Tuhan berkenan menyatakannya serta membuat kita mengerti dan merindukanya.

Marilah kita memperhatikan yang tertulis dalam: Mazmur 127:1(TL). Jika kita perhatikan seseorang yang mau membangun sebuah rumah, terlebih dahulu diran-cang dahulu, baik modelnya, struktur pondasinya, tanah yang diatasnya akan dibangun rumah, interiornya dll. Coba bayangkan bagaimana jadinya setelah selesai di bangun, tak lama terjadi rumahnya miring? Mengapa? Karena ada kesalahan dalam pondasi rumah tersebut dan kondisi tanahnya. Jika menjadi demikian, menjadi sia-sialah pekerjaan segala tukang tersebut. Karena baru menyadari kesalahannya setelah semua selesai dikerja-kan. Ada orang yang menyesali hidupnya di masa lam-pau, dan baru menyadari di saat usianya sudah lanjut, baik masalah jasmani apalagi jika masalah rohani, yang berlangsung sampai kekekalan. Betapa banyak waktu ya-ng terbuang sia-sia dan kerusakan rencana Allah di da-lam hidupnya, semua itu menjadi sia-sia. Contoh dalam Firman Allah Adalah raja Salomo yang di masa tuanya baru menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya, sampai dia mengatakan semua itu sia-sia Pkh 1:14 (TB).

Namun di akhir Pengkhotbah, raja Salomo menuliskan:

Pkh 12:13 (TB). Coba jika dari awal sampai akhir hidup-nya, Salomo tekun takut akan Allah dan memeliharakan segala FirmanNya, maka hidupnya akan menjadi sangat indah dipemandangan Tuhan. Adakah yang memberi nasihat Salomo saat itu? Ia seorang yang berhikmat, ada-kah yang berani menasihatinya. Sungguh kasihan jika seorang jatuh dan tak ada orang yang mengangkatnya, menolongnya (Pkh 4:10b TB2). Demikianlah jikalau kita mengijinkan Tuhan yang membangunkan kehidupan jas-mani dan Rohani kita, baik dalam hal kehidupan keluar-ga, nafkah, pernikahan dan pelayanan kita dan kita mau tetap taat sampai akhir, kita menjadi pribadi yang berke-nan padaNya, menjadi berkat bagi orang2 di dekat kita, bahkan juga bagi orang2 di manapun kita berada. De-ngan demikian kehidupan kita ini tak menjadi sia-sia, karena Tuhan membangun kehidupan kita menurut ran-canganNya di dalam hidup kita dan polaNya tertulis di dalam Firman Allah.

Selanjutnya tertulis: “… Jika bukan Tuhan yang menga-wal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga “TB2

“… Maka jikalau kiranya bukan Tuhan yang menunggui negeri, niscaya Cuma-Cuma ditunggui akan dia oleh pe-nunggunya “ TL

“… Kalau bukan Allah yang melindungi kota,para penjaga tidak ada gunanya“ FAYH

Di tuliskan cuma-cuma, tak ada gunanya! Mengapa? Karena terbatas kemampuan manusia, namun jika Tuhan yang menjadi Pemimpin kita. kemampuanNya dalam memelihara, melindungi, memberkati kita tidak ada ba-tasnya, bahkan dalam menolong kita kuasaNya di atas kemustahilan. Tuhan membangun kehidupan kita, sam-pai menjadi tempat kediamanNya, tinggal bersama-sama kita, keluarga kita, memimpin hidup kita, mengajari dan membimbing kita di jalanNya, bahkan berkarya dalam hidup kita sejak kita masih hidup di dunia ini sampai kepada kekekalan di Surga. Yoh 14:23 (TB), Ef 2:22 (TB) Hal ini bukan hanya bagi kita pribadi, namun juga terma-suk di dalamnya keluarga kita bersama-sama di dunia ini juga bersama-sama pula di dalam Kerajaan Surga sela-ma-lamanya, tak ada batas waktu lagi di Surga. Betapa sangat indah dan menyenangkannya kehidupan seperti demikian. Oleh karenanya, janganlah kita hidup berpu-tar-putar, tanpa arah tujuan, namun mulai melangkah-kan langkah kehidupan kita selaras dengan tuntunanNya di dalam Firman Allah. Mari kita buka di dalam:
Filipi 2:1-2 (TB)(TL)

Rasul Paulus menuliskan sukacitanya menjadi sempur-na jika jemaat di Filipi sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, karena di dalam Kristus ada nasi-hat, ada penghiburan kasih, ada Persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan. Rasul Paulus saja menu-liskan sempurnakanlah, genapkanlah sukacitaku, apalagi hati Tuhan. Marilah kita lihat nasihat Firman Tuhan dalam: Pengkhotbah 4:9-12 (TL) (TB)

Jika suami istri bisa sehati sepikir,memiliki kasih Allah di dalam hati mereka masing2, kasih Allah yang sama, memiliki pikiran yang sama dan memiliki pula tujuan yang sama. Dikatakan mereka menerima upah yang baik, hasil pekerjaan mereka sedap bagi mereka. Coba kita re-nungkan bersama, bisakah dua orang memiliki tujuan yang sama, jika tak punya kasih Allah yang sama dan pikiran yang sama? Tanpa sehati sepikir? Pengkhotbah menuliskan: jika dua orang (misalnya suami istri) sehati sepikir, sama2 memiliki kasih Kristus, memiliki pikiran yang sama, satu tujuan, mereka akan menikmati hasil usaha mereka,sampai di tujuan. Apalagi bila: Pkh 4:12 Dua orang dapat bertahan, apalagi 3 orang, misalnya suami istri plus anak2 dan cucu2 kita sehati sepikir, tidak mudah diputuskan, kuat. Kekuatannya bertambah-tam-bah. Imamat 26:8 (TL). Bila yang satu jatuh, pasangan-nya dapat mengangkatnya. Namun wai bila yang satu jatuh, dan pasangannya tak bisa mengangkatnya. Meski-pun dalam satu keluarga, hanya ada satu orang yang hidupnya mengasihi Tuhan, takut akan Tuhan, taat pada Tuhan, Tuhan akan menolongnya, berkarya dalam ke-luarganya, menolong yang lainnya. Kasih Kristuslah yang menjadi pengikat yang mempersatukan dan menyem-purnakan!! Kasih Allah-lah yang mendorong untuk menolong, menghiburkan, menasihatkan dengan belas kasihan dan kasih mesra, kelembutan hati. Kasih Allah ditunjukkan dengan saling tolong menolong, dengan sikap rendah hati, lemah-lembut dan sabar. Ef 4:2 (TB) Kol 3:14 (TL)(TB)

Firman Tuhan menasihatkan kita agar hidup kita ber-akar serta beralas dalam kasih Allah. Efesus 3:17 (TB)

Kita hidup di dalam kasih dan kata2 kita penuh dengan kasih Kristus. Efesus 5:2 (TB) Kolose 4:6 (TB). Bagaimana bisa memiliki kasih Allah dalam hati kita? Jagalah hati kita senantiasa murni, suci, karena hati inilah menjadi tempat kediaman Roh Allah yang mencurahkan kasih Allah dalam hati kita. Sehingga kasih Allah itu muncul keluar dari dasar hati kita. 1Tim 1:5 (TB), Roma 5:5 (TB)

Kasih Allah yang timbul dari dalam hati ini inilah yang memampukan kita mengasihi sesama kita. Hanya kasih Kristus yang bisa mengikat kita serta mempersatukan kita dan menyempurnakan kita sampai pada tujuan yang kekal di Surga. Untuk menjaga hati yang suci perlu me-nyangkal diri dan taat pada perintahNya. Coba kita re-nungkan kembali kehidupan kita yang telah lalu, di saat kita menerima nasihat untuk kebaikan kita, bagaimana hati dan pikiran kita? Apalagi nasihat itu sesuai dengan Firman Tuhan!! Apakah kita akan berpikir demikian:

  1. Nasihat yang diberikan benar dan saya mau menaati dan berubah,dan untuk kebaikan saya.
  2. Atau saudara akan berpikir, coba yang menasihati berada di posisi saya, bagaimana?
  3. Ataupun juga berpikir demikian: apakah yang mem-beri nasihat, cara hidupnya juga sama dengan nasihat yang diberikannya.dll

Jadi banyak pikiran yang berbeda-beda saat mende-ngar sebuah nasihat yang baik. Sehingga tindakannya juga berbeda-beda sesuai dengan pemikirannya ma-sing2. Padahal nasihat Firman Tuhan satu jiwa, satu pi-kiran dan Firman Tuhan jadi patokannya, sehati sepikir. Oleh karenanya ada yang bertahun-tahun tetap pada pe-mikirannya, bahwa pemikirannyalah yang benar dan orang ini tak berubah. Andaikata saat mendengar nasi-hat, mau berubah, tentulah tak perlu menghabiskan waktu sampai bertahun tahun baru menyadari kesala-hannya. Jika sampai terjadi demikian, betapa banyak ke-rugian yang dialaminya, terutama dalam rencana Tuhan yang sangat indah bagi tiap umatNya. Lah, bagimana jika pada akhir hidupnya baru menyadari? Betapa menye-dihkannya!! Padahal Firman Allah menasihatkan:

Ibrani 3:15 (TB).

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, jangan-lah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”

Demikian pula jika seseorang mau menaati perintah-perintahNya serta takut akan Allah, ia akan cepat ber-tumbuh dan Allah tinggal di dalamnya,di tengah2 kelu- arganya dan berkarya,sungguh indah!! Jika satu keluarga memiliki kasih Kristus yang sama, memiliki pikiran yang sama, oh alangkah indahnya bahwa mereka pun akan memiliki tujuan yang sama. Bersama-sama melangkah menjalani kehidupan ini dengan cara yang sesuai dengan perintah2 Tuhan, bahkan bukan hanya melangkah, tapi berlari dalam menaati perintah2 Tuhan, seperti yang tertulis dalam:

Mazmur 119:32 TB2

“Aku mau berlari di jalur perintah-printahMU, sebab Engkau melapangkan hatiku “

Sekarang bukan hanya melangkah,melainkan BERLARI, bukan di jalur kehendak sendiri, tapi di JALUR PERINTAH-PERINTAH TUHAN!! Lihatlah apa yang Tuhan janjikan bagi kita:

Mazmur 127:2 (TB)

Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sam-pai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.

Tuhan ikut campur tangan dalam pekerjaan kita, dan memberikan berkat saat kita masih tidur. Puji Tuhan.

Scroll to Top