M4661 – Kis 16:31. Keluarga yang Berlanjut ke Sorga ( bag. 2 )

I. HUBUNGAN SUAMI-ISTRI

Ini yg paling menentukan. Harus dipe-lihara dan dijaga dari permulaan nikah, tentang keluarga dan nasibnya sampai kekal.

1. Harus hidup dalam kesucian nikah sejak dari pikiran, apalagi dalam perbuatannya Mat 5:28. Ini hanya bisa dilakukan kalau sudah lahir baru (ter-masuk penuh dan dipimpin Roh Ku-dus!) dan tetap hidup di dalam Tuhan Fil 4:13; Kalau kesucian nikah dipeli-hara, maka hasilnya kasihnya akan te-rus bertumbuh. Dosa perzinaan (sekalipun dalam pikiran) membuat kasih bocor (habis). Kalau kasih kurang, maka sedikit salah sudah berkelahi ra-mai, tetapi kalau ada kasih, bisa meng-ampuni semua dosa 1Pet 4:8. Dalam nikah suami-istri itu hidup ber-sama2 terus menerus, sehari penuh, seumur hidup dan memang seharusnya tidak boleh berpisah, maka biasanya kesa-lahan satu sama lain akan kentara, tidak bisa disembunyikan. Sebab itu amat penting hidup dalam kesucian, sehingga disertai Tuhan dan melimpah dgn kasih. Sebab kalau ada kasih, bisa mengampuni, saling menasehati, saling menguatkan dan bisa hidup suci ber-sama2 dgn sehati, tidak menimbulkan problem, meskipun pasti selalu ada problem kecil atau besar. Tetap perlu saling menasehati dan mengingatkan, tetapi selalu dgn kasih dan kuasa Allah Mat 7:1-5. Jangan sampai ada doa dalam kesucian nikah, sekalipun dalam pikiran, apalagi kalau sudah dalam perbuatan itu setan sudah bermarkas dalam dirinya, maka kasih juga akan bocor, dan dosanya itu akan tumbuh, termasuk segala dosa lainnya, dan nikah akan terus ribut, berkelahi sam-pai rusak. Suami-istri harus selalu me-melihara kesuciannya Mat 9:5-6, ja-ngan lupa limpah dan selalu penuh dgn 7 KPR. Kalau kesucian nikah (dll) dipe-lihara, maka kasih tetap ada bahkan tumbuh, sehingga iblis tidak punya tempat bekerja dan tidak akan mudah muncul perkelahian, ribut dan gang-guan2 lainnya, sehingga hidup nikah jadi manis, indah dan akan mengalami rencana Allah yg indah2 (harus dibe-reskan kalau ada dosa apapun).

2. Kehendak dan rencana Allah ada-lah monogami. 1Tim 3:2, Mat 19:5-9.

Dalam Wasiat Lama poligami masih dibiarkan (dalam Wasiat Baru dgn tegas dilarang Luk 16:16, 1Tim 3:2, Mat 19:5-6), sebab itu adalah hidup keda-gingan, bukan kehendak dan rencana Allah, itu sangat merusak. Mengapa? Sebab tidak ada rem! Seperti Daud, Salomo, Simson dll.

Sekalipun orang Wasiat Lama, kalau mau berkenan pada Tuhan, apalagi tumbuh menjadi sempurna, tetap hi-dup monogami, sebab ini hukum dan kehendak Allah. Seandainya kalau nikah perlu poligami, maka Tuhan akan membuat 5 Hawa untuk Adam, bahkan Tuhan bisa membuat lebih banyak. Orang yg suka poligami itu mudah menuruti daging, seperti Daud melihat Betsyeba mandi langsung berzina, pa-dahal Daud itu sangat indah di hadap-an Tuhan, tetapi sebab dalam pikiran-nya poligami tidak apa2, maka waktu ada kesempatan, ia langsung menam-bah 1 istri lagi, begitu ber-ulang2 sampai menjadi 19 atau lebih, sehingga jatuh dalam dosa, akibatnya rencana Allah, lebih2 yg tingkat tinggi rusak dalam Daud.

Kalau mereka melihat perempuan cantik dan ingin, tidak dicegah, apalagi kalau gadis atau janda muda (misalnya Abigail yg elok, waktu Nabal mati, lang-sung dilamar oleh Daud 1Sam 25. Nafsu poligami sama sekali tidak dita-han, jalan terus sampai jumlah istri Daud ber-tambah2 sampai 19. Lalu ia melihat Betsyeba telanjang, tidak me-nahan diri, langsung diambil padahal istrinya Uria, prajurit yg setia dan baik, sehingga timbul celaka besar bagi Daud, rencana puncak yg indah2 dari Tuhan baginya batal, padahal dalam hal2 lain Daud sangat indah di hadapan Tuhan. Celaka! Juga Salomo raja paling besar di dunia waktu itu dan sangat pintar. Tetapi sesudah murka Allah tu-run atasnya 1Raj 11:9 (gara2 poli-gami), hidupnya rusak. Ia bertobat, te-tapi kesaksian hidupnya jadi begitu jelek, meskipun menulis pelajaran2 hi-dup dgn baik, tetapi ia tidak bisa dan tidak berani tampil lagi sebagai raja besar, catatan riwayatnya sangat singkat!

Inilah kehidupan (Yacob) Daud, sa-lomo, Simson dll. Orang2 yg sangat indah2, jadi sia2 sebab dosa zina yg dibiarkan merusak semua segi hidup yg lain. Orang2 yg indah dan menjadi sempurna dalam Wasiat Lama, semua monogami (Yusuf, Musa, Ayub, Abra-ham sekalipun bersalah dgn Hagar sebab disuruh Sarah, tetapi bertobat dan dipulihkan dll) Yoh 8:56.

3. Jangan ada kantong setan, harus terus terang dan terbuka antara suami-istri, baik jumlah uang kecil / besar, baik rahasia apapun harus terbuka. Harus benar di hadapan Tuhan dan di-antara suami-istri dalam segala sesuatu dan ada kasih.

4. Peraturan nikah harus diperha-tikan Ef 5:22-23, 1Pet 3:1-7 dll.

Istri harus tunduk pada suami dan mencintainya, jangan maunya sendiri (tidak mau kalah). Tetapi suami men-cintai istri sendiri (bukan orang lain), jangan kasar pada istri 1Pet 3:1,7. Nikah itu1+1=1, Mat 19:5-6. Kalau ini dijaga, dipelihara, maka nikahnya jadi makin lama makin manis dan itu sangat indah. Juga rencana Allah yg indah di dalam hidup mereka (lebih2 yg setia dalam pelayanan) akan muncul dan menjadi sangat indah, bahkan diterus-kan sampai kekal. Juga janda, duda, bujang harus terus hidup benar seperti Daniel (yg dikebiri tetapi tetap cinta Tuhan, dgn tidak ber-sungut2), maka rencana Allah yg indah2 itu jadi dalam hidup Daniel dkk.

Nikah di dunia sangat rapuh sebab dosa zina dianggap normal, sehingga dosa zina jadi begitu banyak dan umum, nikah jadi rusak seperti zaman Nuh dan Lot, dan jadi suatu godaan dan ujian bagi orang beriman.

II. HUBUNGAN ANAK DAN ORANGTUA

Anak biasanya polos, sedikit dosanya. Tetapi kalau dosa sangat meningkat Wah 22:11, kejahatan pada anak2 akan meningkat, ini salah satu tanda Wah 22:11. Sebab itu perlu:

1. Mendidik anak2 dengan contoh hidup. Biasanya dosa orangtua mudah ditiru Yoh 3:19, tetapi yang benar dari orangtua hanya bisa ditiru kalau sudah lahir baru dan mau pikul salib (Rat 3:27) supaya bisa mematikan daging atau meniru yang betul.

2. Orangtua perlu banyak bicara.

3. Masa subur pendidikan anak.

4. Jangan dimanja, itu membiarkan hidup menurut daging, dipimpin setan. Seringkali karena cinta, tetapi bodoh, anak2 diizinkan berbuat apa saja se-maunya, semua boleh, orangtua tidak merasa salah, apalagi masih anak2, belum mengerti dibiarkan saja, itu sa-lah. Daniel (orangtuanya dimana?) dari kecil sudah tahu Firman Tuhan dan tidak mau dinajiskan dengan makanan raja yang lezat, (tetapi biasanya sudah dipersembahkan kepada berhala lebih dahulu) Dan 1:4,8. Memanjakan berarti hidup menurut daging, semaunya sen-diri, menjadi anak2 kedagingan, mela-zatkan segala dosa dan kehendaknya sendiri, itu salah besar, itu jadi kaki tangan iblis atau sepenuhnya jadi anak2 iblis dengan alasan kasih sayang. Semua dibiarkan, dibolehkan, keda-gingannya menjadi kuat, berkenan pa-da iblis tetapi melawan Allah.

Contoh jelek yang lain adalah istri Ayub, yang mendidik anak2nya dengan manja, sampai2 perbuatan2 yang menghojat Allah pun dibiarkan, se-hingga Ayub terus menaikkan doa syafaat bagi anak2nya. Ay 1:5. Bahkan waktu ia melihat Ayub suaminya yang begitu baik, benar dan tulus di ha-dapan Tuhan, toh kena celaka besar, sia2, semua habis, mulai harta, anak dan kesehatannya dll, istri Ayub marah (bahkan 3 sahabatnya Ayub orang be-nar dan baik juga setuju itu tidak cocok untuk orang benar, pasti Ayub ada salahnya, tetapi istrinya tahu Ayub tidak bersalah), sebab itu istrinya ber-kata: “Lebih baik menghojat Tuhan lalu matilah” Ay 2:9, Ayub marah, tidak setuju Ay 2:10.

Bagaimanapun juga jangan memanja-kan anak, ajak bersukacita dalam per-kara2 yg benar dan membenci per-kara2 yg jahat sejak kecil Ibr 1:9. Terus menyangkal diri, itu permulaan yang indah dan mulia. Dari kecil sudah harus dididik pikul salib, menyangkal diri, suka menderita karena kebenaran, itu yg betul Rat 3:27, Luk 9:23, 1Pet 4:1.

Ini yang indah, mau menderita ka-rena kebenaran, menahan diri, me-nyangkal diri asal bisa hidup suci di hadapan Tuhan. Baik dalam berpikir, berkata, bersikap, berbuat, mengambil keputusan dan segala perkara tetap mematikan daging, menurut Roh, yaitu Firman Tuhan Gal 5:16-17. Jangan dimanja, itu anak setan.

Juga pendidikan anak2 di Sekolah Minggu itu bisa jadi berkat yang besar, menolong menghasilkan orang2 yang indah seperti Musa, Daud, Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego dll.

Jadi, karena istri Ayub memanjakan anak2nya penuh tertawa dan sukacita, bahkan menghojat Tuhan, akhirnya mereka berbuat dosa begitu banyak sampai melebihi batas dan sesudah habis masa kemurahan Allah, juga habis semua doa syafaat Ayub, maka iblis menuntutnya dan mereka semua binasa dengan dahsyat. Bapaknya lain, ia mencegah dan mendoakannya Ay 1:5. Tetapi anak2nya tidak mau taat, dengan hidup semaunya sendiri, me-nurut daging, mereka dimasukkan ne-raka, iblis bersukacita Ay 1:19. Semua orang bisa dimanjakan, tetapi tidak semua mau ditertibkan dan taat, me-mang ini kecenderungan manusia, apa-lagi dgn sukacita orang2 yang menurut kedagingan ini mendapat banyak yg enak2, tetapi dosanya menumpuk, ce-pat masuk Neraka, sebelum waktunya.

5. Tekun beribadah (7 KPR).

III. HUBUNGAN MENANTU, MERTUA, BESAN

Akan timbul banyak kesukaran kalau menikah di luar Tuhan, itu salah 2Kor 6:14. Jangan sampai ini dilanggarhanya karena terpaksa atau pura2 percaya pada Tuhan, itu bukan kehendak Tu-han, akibatnya menjadi kacau dan pahit, sebab Allah dan setan tidak bisa jadi satu, sekalipun orangnya mau,  setan mau, tetapi Allah tidak mau! Allah akan meninggalkan pernikahan seperti ini; Juga jangan sampai pura2. Juga dari Gereja2 yg sangat berbeda pengajarannya, bisa menimbulkan ba-nyak problem, kecuali semua penuh Roh Kudus dan mau menerima peng-ajaran Firman Tuhan yg betul. Dia bisa membawa semua kepada kebenaran kalau mau taat Yoh 16:13. Jangan mengambil keputusan tanpa penger-tian, akibatya bisa jadi banyak duka-cita. (Jodoh dari Tuhan itu yg terbaik, tetapi kalau sudah menikah, jodoh dari Tuhan atau bukan, tidak boleh cerai).

PRINSIP ANAK DAN MENANTU

Sebab suami dan istri itu seperti kepala dan tubuh jadi satu, maka menantu dan mertua itu harus berlaku dgn tulus seperti anak dan orangtua. Memang ini tidak mudah, tetapi harus dilakukan se-bisa2nya dan makin lama harus makin baik. Sikap menantu, mertua jangan melawan Firman Tuhan. Menantu ada-lah anak ketemu besar, juga mertua, tetapi kalau sudah setuju menikahkan dgn pertolongan dan pimpinan Tuhan, harus menerima dan belajar hidup seperti anak-orangtua. Kalau tidak mau itu melawan Firman Tuhan.  Tetapi ka-lau sudah nikah, harus terus diperbaiki, tidak boleh cerai.

Meskipun semua sudah baik, sesuai Firman Tuhan, tetap perlu belajar menyesuaikan diri menurut Firman Tuhan, dalam pimpinan Roh. Jangan ada prasangka, benci, tidak mau meng-ampuni dll, sebab memang menerima anak orangtua sesudah besar, perlu waktu untuk menyesuaikan diri dgn kesucian kasih dan pimpinan Roh Kudus, dan belajar bersekutu dalam Kristus, dgn betul. Memang ini sama dgn bersekutu dalam tubuh Kristus, tetapi ada kelebihan dankeindahannya sebagai anak dan orangtua. Kalau hi-dup dalam kesucian dan kasih dipimpin Roh, pasti bisa dan dapat menjadi seperti anak dan orangtua yg lahiriah. Anak dan orangtua lahiriahpun juga menantu, mertua bisa terganggu oleh pekerjaan setan. Seharusnya kalau se-mua hidup benar sesuai Firman Tuhan dan dipimpin Roh, tidak ada kesukaran, semua bisa berjalan dgn baik. Tetapi hati2 dgn tipu daya setan! Yg memakai segala cara untuk mengganggu dan merusak hubungan yg seharusnya jadi baik, misalnya dalam hal uang, cinta/ benci, ada prasangka, tidak mau meng-ampuni dll. Kita harus cinta dan mem-berkati musuh, apalagi menantu/ mertua. Kalau sungguh2 mau dgn pertolongan Roh Kudus, pasti bisa dan terus tumbuh sampai menjadi seperti anak-orangtua yg asli.

Pada waktu anak dan menantu me-lahirkan anak, ini se-olah2 meterai Allah untuk suami-istri, sebab dalam anak ada unsur genetic suami dan istri jadi satu. Sebab itu jangan sampai timbul problem antara menantu dan mertua, tetapi semua dicocokkan dgn Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus, jangan sampai ditipu iblis. Kalau bisa cinta musuh, apalagi mencintai mertua dan menantu yg sudah “dime-teraikan” cara jasmani dgn lahirnya anak dan suami-istri yg dipersatukan dalam nikah yg suci dalam Nama Tuhan Yesus (suami+istri = 1+1=1). Sebab itu harus mau dan dipimpin Roh, baik menantu dan mertua harus makin berubah seperti anak dan orangtua.

ANTAR BESAN. Kalau antar anggota Gereja satu sama lain kita harus bisa bersekutu, apalagi dgn besan yg makin diteguhkan dgn kesatuan anak2nya ber-sama2 dalam pernikahan, seharus-nya makin indah. Iblis bisa saja menga-caukan, tetapi orang yg mau limpah dgn 7 KPR justru akan menemukan persatuan yg lebih indah dalam Roh dan Firman Tuhan, sebab ada meterai dalam anak2nya (1+1=1) dan dalam cucu2nya punya DNA dari dua suami-istri; ibu-bapaknya. 

ORANG2 LAIN DALAM RUMAH. Kalau ada perjanjian yg baik untuk orang2 yg masuk dalam rumah kita, misalnya orang2 yg bekerja dalam ru-mah, semua ada batas2 perjanjiannya, tetapi kita harus juga punya kasih kepada sesama kita, meskipun mung-kin mereka juga musuh, apalagi orang yg dgn persetujuan bersama akan ting-gal serumah, karena pekerjaan dll. Kalau itu orang2 dunia yg belum per-caya Tuhan Yesus, kita hendaknya menggarami dan menerangi mereka, justru jangan kita menjadi batu son-tohan. Kalau ada perjanjian yg tidak disetujui jangan dipaksakan. Dalam se-gala perkara mintalah pimpinan Roh Kudus.

Dalam pergaulan di dunia, apalagi kalau itu dilakukan terus menerus se-panjang hari, setiap hari, banyak kesa-lahan akan tapak. Kita perlu ada kasih, pengampunan, kuasa dan hikmat Allah untuk menghadapi segala problem, sehingga rumah kita menang melawan iblis dan tipu dayanya dan ada sejah-tera dan sukacita Allah, sehingga orang2 di dalamnya bisa diselamatkan dan semua bisa ber-sama2 berlanjut ke Surga!

Kalau ada tanda2 hidupnya tidak ju-jur dan ada kejahatan, kita harus minta pimpinan Roh Kudus sesuai Firman Tuhan, yaitu cerdik  dipimpin Roh te-tapi tetap tulus, jangan bereaksi dosa. Mat 10:16. Lebih baik tidak mengambil atau membawa masuk anak2 iblis, itu akan menjadi pencobaan karena ke-bodohan yg dibuatkita sendiri. Kalau terpaksa, kita masuk dalam dunia se-kuler (misalnya bekerja), kita tetap harus menjadi garam tanpa bereaksi dosa, Roh Kudus akan menolong kita menghadapi pencobaan yg bukan di-buat sendiri. Kalau kita setuju orang dunia masuk dalam rumah kita, tentu harus diatur dgn baik dan cerdik, paling sedikit dari pihak kita sebagai anak2 Allah harus dgn jujur, baik, tidak ada dosa dan ambilah keputusan yg betul sesuai Firman Tuhan. Tidak ada kebe-tulan, tetapi jangan mengambil kepu-tusan yg bodoh, yg merugikan diri kita sendiri, lebih2 dalam masa yg sulit, seringkali orang dosa bisa memakai kesempatan yg ada, menjadi pencuri. Sebab itu minta hikmat dan pimpinan Tuhan, tetapi jangan bereaksi dosa.

Keluarga adalah kelompok yg paling kecil dan ada janji Tuhan yg indah Kis 16:31, dan kita harus memakai kesem-patan ini baik2 supaya semua orang2 di sekitar kita menjadi anak2 Allah, tidak ada anak iblis (atau kalau ada, berubah menjadi anak2 Allah). Tetapi di dalam rumah (kewajiban ini) lebih meluas. Jangan karena kebodohan kita mem-buat keluarga, apalagi rumah yg diisi dgn sengaja dgn orang2 yg menjadi pencobaan bagi kita. Kita harus belajar dapat menggarami rumah kita, lebih2 keluarga kita, supaya semua isinya boleh diselamatkan, jangan dibiarkan dan tidak digarami, itu jadi salah Yeh 3:18-19.

KESIMPULAN

Jadi dalam rumah ada keluarga inti, kedua karena hubungan yg dekat sebab pernikahan dan ketiga adalah rumah (lebih luas dari keluarga) ada orang2 dunia, sebab faktor2 pekerjaan dll. Yg penting kita sendiri harus hidup benar, dipimpin Roh, sehingga dalam segala kesukaran selalu ada jalan keluar yg tepat dari Tuhan. Tetapi ka-lau kita sendiri berdosa, maka kesu-karan2 bisa datang sebagai akibat dosa kita sendiri, sebagai hajaran, sehingga timbul banyak masalah. Tetapi kalau kita hidup benar dan ada kasih, dipimpin Roh, pasti Tuhan akan tolong, tidak ada kebetulan dan segala perkara akan jadi kebaikan bagi orang yg cinta Tuhan Rom 8:28, 1Kor 2:9.

Yusuf di rumah Potifar sebagai bu-dak, dalam penjara sebagai orang tahanan, dan dalam istana Firaun se-bagai pegawai / anak buah, tetapi ia tetap hidup benar dipimpin Roh, se-hingga itu semua menjadi tempat pengolahan yg baik, sampai ia tumbuh makin dewasa dan rencana Allah jadi dalam hidupnya dgn indah. Yusuf tetap jadi berkat dan Allah bekerja dalam hidupnya sehingga mengalami rencana Allah yg indah2, meskipun dalam posisi yg tidak enak. Rencana Allah adalah supaya dalam keluarga dan rumah kita, semua yg di dalamnya boleh percaya Tuhan, sekalipun sebelumnya masih adaorang dosa, sehingga selamat dan berlanjut ke Surga. Pikirkan, doakan, minta dan lakukan pimpinan Tuhan, supaya seisi rumah diselamatkan dan berlanjut ke Surga. Kita harus berusaha supaya rumah kita itu jadi sambungan-nya Surga dan satu kali kelak semua orang di dalamnya atau yg pernah tinggal di dalamnya diselamatkan dan semua bersambung ke Surga.

INI BELUM SELESAI!  Ini hanya permulaan dan sekaligus kita harus melanjutkan menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-14), artinya dimana saja kita berada, kita harus mencintai Tuhan dan orang2 di sekitar atau di sebelah kita, atau diantara orang2 yg kepadanya kita diutus (Luk 10:27) supaya mereka juga bertobat dan diselamatkan, sehingga hidupnya bisa berlangsung terus ke Surga. Memang tujuan Allah menciptakan manusia dalam alam semesta ini adalah untuk menyelamatkannya dan berlanjut ke Surga dalam tingkat setinggi mungkin.

Scroll to Top