DOWNLOAD FILE PDF CATATAN KHOTBAH IBADAH HARI INI
Kalau ada satu orang percaya, orang itu menjadi anak Allah (Yoh 1:12), maka juga seisi rumah atau keluarganya akan selamat, semua ber-sama2 berjalan ke dalam Surga (selamat kekal). Ini janji Allah yg luar biasa.
Kalau seorang percaya Tuhan dgn betul ia menjadi garam (+ terang dunia Mat 5:13-14), maka keluarga, rumah-nya itu seperti panci berisi makanan, jadi asin, sebab ada garamnya. Begitu juga adalah kesempatan, pahala, tang-gungjawab kita untuk menggarami seisi rumah kita. Dalam isi rumah sudah ada hubungan jasmani (ini juga termasuk sisa2 kemuliaan Allah Rom 3:23), seka-rang ditambah hubungan rohani, maka seluruh keluarga jadi asin, disela-matkan, sehingga bukan saja rukun, bisa duduk bersama di dunia, tetapi bisa bersambung terus di Surga! Kalau belum bisa atau belum penuh, terus berdoa dan mengolahnya dgn hikmat dan kuasa Allah, sehingga akhirnya semua bisa berlanjut di Surga! Ingat kalau di dunia tidak bisa rukun, mencintai (minimum +1, jangan sampai -1 = benci sedikit), kalau tidak bertobat dari bencinya, tidak bisa masuk Surga Wah 21:27, Yes 26:10.
Seluruh keluarga diselamatkan, ini berarti keluarga itu perlu bersatu, jangan mudah berpisah secara jasmani dan rohani. Jangan karena pekerjaan suami-istri berpisah, juga anak2. Sua-mi-istri sebaiknya satu alamat saja, se-hingga pertumbuhan bersama jasmani, lebih2 rohani bisa terpelihara dan bersambung ke Surga. Juga anak2, meskipun untuk sekolah jangan ter-buru2 berpisah, jangan bangga anak hanya masuk SMP sekolah luar negeri, itu bodoh sebab merugikan pelaksa-naan janji Allah ini. Secara rohani juga perlu satu kandang rohani (Gereja) yg sama, supaya ada penggembalaan, persekutuan dan pemeliharaan (peng-ajaran rohani) yg sama. Misalnya ten-tang baptisan air dan Roh Kudus dll, supaya persekutuan dalam keluarga bisa terpelihara dgn baik, semua ber-sama2 bisa bersambung ke Surga. Kalau pengertian pengajarannya ter-pecah2, itu sayg, sebab persekutuan keluarga itu mutlak perlu. Kalau pendidikan S2 atau S3 bisa di dalam kota atau negerinya, lebih baik dari-pada pergi jauh, sebab bisa merugikan rohaninya. Rohani lebih penting dari jasmani, sebab kalau rohani baik, Tuhan beserta, berkat jasmani juga pasti terpelihara dan pemeliharaan rohaninya bisa dijaga dan dipelihara lebih baik. Kalau anak dan orangtua tercerai jauh, mungkin jasmani dapat yg bagus, tetapi kalau rohani jadi korban, rusak oleh pergaulan, bisa2 tidak masuk Surga. Dahulukan yg rohani, sebab itu yg kekal.
Kita akan melihat:
I. Hubungan suami-istri.
II. Anak2-Orangtua dan hubungan bersaudara.
III. Hubungan menantu, mertua dan besan.
IV. Hubungan dgn orang lain dalam rumah.
I. SUAMI-ISTRI
Ini yg paling menentukan dari permu-laan nikah, tentang keluarga dan nasib-nya sampai kekal.
1. Harus hidup dalam kesucian nikah sejak dari pikiran dan perbuat-annya Mat 5:28. Ini hanya bisa kalau sudah lahir baru (penuh Roh Kudus!) dan tetap hidup di dalam Tuhan Fil 4:13, sehingga hasilnya kasihnya tum-buh. Dosa perzinaan (sekalipun dalam pikiran) membuat kasih bocor (habis). Kalau kasih kurang, maka sedikit salah sudah berkelahi ramai, tetapi kalau ada kasih, bisa mengampuni dosa 1Pet 4:8. Nikah itu hidup bersamaan sehari penuh, seumur hidup dan tidak boleh cerai, maka biasanya kesalahan satu sama lain akan kentara, sebab itu amat penting hidup dalam kesucian, sehing-ga disertai Tuhan dan melimpah dgn kasih. Sebab kalau ada kasih, bisa mengampuni, saling menasehati, saling menguatkan dan bisa hidup suci, tidak menimbulkan problem. Tetap perlu saling menasehati dan mengingatkan tetapi dgn kasih dan kuasa Allah Mat 7:1-5. Jangan sampai ada kepahitan, kasih juga bocor, dosa zina dll akan tumbuh, dan nikah akan rusak. Ingat 7 KPR dan suami-istri harus memelihara kesuciannya Mat 9:5-6, pelihara ke-sucian, hidup dalam kasih sehingga tidak akan ada tendens untuk bercerai sama sekali (harus dibereskan kalau ada dosa apapun).
2. Jangan ada kantong setan, harus terus terang dan terbuka antara suami-istri, baik jumlah uang kecil (besar, baik rahasia apapun harus terbuka). Harus benar di hadapan Tuhan dan suami-istri dalam segala sesuatu dan ada kasih. Sekalipun dalam Wasiat Lama poligami masih dibiarkan (dalam Wa-siat Baru dgn tegas dilarang Luk 16:16, 1Tim 3:2, Mat 19:5-6), tetapi itu sangat merusak seperti Yacob, Daud, salomo, Simson dll. Orang2 yg indah2, jadi sia2 sebab dosa zina yg dibiarkan merusak semua segi hidup yg lain. Orang2 yg indah dan menjadi sempurna dalam Wasiat Lama, semua monogami (Yusuf, Musa, Ayub, Abraham sekalipun bersa-lah dgn Hagar sebab disuruh Sarah, tetapi bertobat dll) Yoh 8:56.
3. Peraturan nikah harus diperha-tikan Ef 5:22-23, 1Pet 3:1-7 dll.
Istri harus tunduk pada suami dan mencintainya, jangan maunya sendiri (tidak mau kalah). Tetapi suami men-cintai istri sendiri (bukan orang lain), jangan kasar pada istri 1Pet 3:1,7. Nikah itu1+1=1, Mat 19:5-6. Itu sangat indah dan rencana Allah yg indah di dalamnya akan jadi, bahkan diteruskan sampai kekal. Nikah di dunia sangat rapuh sebab dosa zina dianggap nor-mal. Juga janda, duda, bujang harus terus hidup benar seperti Daniel (yg dikebiri tetapi cinta Tuhan, dgn tidak ber-sungut2).
II. ANAK DAN ORANGTUA
Dunia bertambah rusak dan jahat, bisa dilihat salah satunya dari dosa dan ke-jahatan anak2. Biasanya anak2 masih polos, suci, baru kalau makin besar dosa dan kejahatannya mulai ber-tambah. Salah satu tanda dari keru-sakan pada anak2 adalah (menurut koran Kompas, 3 Juli 2026) di Indonesia ada 2,03 juta remaja usia 13-17 tahun menghabiskan 4,5 triliun rupiah (rata2 satu batang Rp. 1.000) atau 4,17 miliar batang rokok per tahun. Pemerintah menjadi cemas, ini penghalang untuk mencapai Indonesia emas tahun 2045 (19 tahun lagi). Ini jadi beban rumah tangga miskin (Rp 931,2 miliar) dan rumah tangga kaya (Rp 503,8 miliar). Negara dapat pajak dari rokok Rp. 2,23 Triliun, tetapi kemudian menanggung biaya penyakit akibatnya jauh lebih banyak. Belum lagi tambahan rokok elektrik. Ada larangan merokok untuk anak di bawah umur, tetapi tidak jalan (merokok itu menghisap sampai ratusan macam racun dalam tubuh). Belum lagi akibat penelantaran, perce-raian dan kekerasan dalam rumah tangga (Rukki = Ruang kebijakan kese-hatan Indonesia, KPAI = Komisi Per-lindungan Anak Indonesia, dll).
Yg lebih hebat lagi pengaruh HP pada anak2 sampai usia dini, yg merusak segala segi hidup anak2, bah-kan dalam banyak pornografi, perzina-an, rumah tangganya rusak, juga dalam banyak kejahatan keuangan, judi on-line sampai sekolahpun terganggu dan tabiat jadi rusak, penuh dosa dan keselamatan kekal hilang.
Bagaimana cara orangtua harus mendidik anak sehingga bisa baik, terutama bisa masuk Surga? Tidak ada jalan lain, hanya: Yesus, Mat 1:21. Rinciannya adalah sbb:
1. Mendidik dgn contoh hidup orangtua, istimewa dalam 7 KPR. Cara2 jasmani seperti terhadap rokok, HP, sekolah dll itu perlu, tetapi musuh nomer satu adalah iblis Ef 6:12. Ini yg harus dikalahkan sebagai dasar dari tindakan2 lainnya, sebab iblis itu pem-bunuh, langsung atau pelan2 dan penipu Yoh 8:44.
Anak meniru orangtuanya. Orang-tua kalau bicaranya kasar, anaknya juga ikut, orangtuanya suka bohong (anaknya tahu) juga ikut suka bohong, itu “way of life”nya. Orangtuanya mu-dah kecewa, menangis,anaknya juga sama, juga yg lain pemalu, bicara seenaknya, suka marah dll, begitu juga anak2nya, termasuk semua dosa2nya. Ini cara mendidik yg salah, tetapi tidak disadari.
Daud berzina 19-20 orang, anaknya berzina dgn 1.000 wanita. Sebaliknya belum tentu anak mau taat dgn contoh yg baik. Kejelekan biasanya otomatis ditiru sebab semua orang condong pada yg dosa Yoh 3:19, tetapi hidup benar, suci, belum tentu ditiru.
Samuel baik, anak2nya tidak baik 1Sam 3:2-3. Memang jadi dosa itu oto-matis Yoh 3;19, tetapi jadi suci itu harus mau menygkal diri, sekalipun sudah lahir baru Gal 5:16-17, Luk 9:23. Sebab itu orangtua harus tahu kecen-derungan ini, beri contoh yg baik, doakan dan nasehati terus, kalau perlu yg tidak mau taat, yg melanggar dite-gur dan dimarahi Ibr 12:6 supaya anak2-nya mau menyangkal diri dan meniru orangtua dan Firman Tuhan untuk hidup berkenan pada Tuhan.
2. Orangtua perlu banyak bicara yg betul (bukan ber-sungut2 atau menge-luh, tetapi nasehat Firman Tuhan Ul 6:7. Jangan cerewet ngawur,tetapi ja-ngan berhenti bicara kebenaran Firman Tuhan! Apalagi kalau dosa dan kesa-lahannya sudah menjadi tabiat, makin sulit untuk memperbaikinya, tetapi ja-ngan putus asa, terus mendidik, tetapi juga sampaikan kepada Tuhan, minta pertolonganNya (bukan orangtua yg berhasil, tetapi Tuhan di dalam kita 2Kor 4:7). Kalau tahu salah si anak, tapi tidak bicara (dgn hikmat dan kuasa Allah, dgn doa dalam Roh dan kebe-naran) itu salah! Yak 4:17. Harus cukup bicara dalam pimpinan Roh Kudus.
3. Masa subur anak2 untuk dididik, adalah waktu kecil (lebih kurang di ba-wah usia 5 tahun), semua kata2 orang-tua dianggap kebenaran, diterima dan ditiru, tanpa perbantahan (belum bisa membedakan dan ber-bantah2, terma-suk kalau suka bohong dan maki2). Anak kecil menerima semua dari orangtuanya sebagai kebenaran, tetapi anak remaja mulai menimbang, apalagi kalau dewasa seringkali ber-bantah2 dan melawan, harus sabar memberi penjelasan sesuai Firman Tuhan dan dipimpin Roh, sehingga itu tertulis dalam hatinya oleh Roh Kudus. Apalagi kalau anak2 dididik orang lain, bukan ibu bapaknya (suster, di sekolah, lebih2 oleh “guru” HP!), dan orangtua bisu, nanti masa dewasa bisa hanyut dalam arus dosa dan kejahatan yg melimpah, terus ber-bantah2 tidak mau beribadah lagi. Jangan sampai ada orang dalam rumah kita jadi anak iblis, tetapi semua harus jadi anak Allah 1Yoh 3:10. Beri contoh, nasehati dgn Firman Tuhan dan 7 KPR dan doakan dalam Roh dan kebenaran.
Jangan abaikan masa subur (Musa terpaksa dididik hanya dalam masa subur, tetapi berhasil menjadi sempur-na, tetapi Musa mau taat sungguh2, juga terus didukung dalam doa). Kalau bisa selama mungkin didik anak sampai nikah atau terus lagi. Jangan seperti orang2 modern hanya dididik sampai usia 17 tahun (dianggap sudah dewasa) selanjutnya harus berdikari sendiri, sebab sudah dewasa,tidak mau berte-kun mendidik, itu namanya kesalahan Eli, sampai umur 98 tahun harus tetap mendidik 1Sam 3:13, akibatnya Imam Eli dapat juga jatah hukuman anak2-nya, yg sudah diketahui tetapi tidak mau menegurnya, tidak mau mengga-raminya 1Sam 4:15-18. Kalau sudah dinasehati habis2an (dan doa) tidak mau taat, ia lepas, tidak dapat jatah hukuman anak2 atau orang2 y ang jadi bebannya Yeh 3:18-19. Jangan melaku-kan salah Eli, sebab membiarkan anak2 dalam dosa dan membiarkan mereka dalam Neraka, padahal masih bisa ditolong, jangan sampai jadi dosa Yak 4:17. Harus tegas menarik keluar dari Neraka, tegur, marahi dgn hikmat dan kuasa Allah Ibr 12:6. Tetapi dgn cara yg betul, jangan emosi, menurut daging atau hawa nafsu marah, apalagi benci, itu salah Ef 6:4, tetapi dgn kuasa Allah dan kasih! Seperti Putra manusia Yesus di bait Allah dua kali mencambuk Yoh 2:15, Mat 21:12-13. Jangan sampai tidak ada sisa2 kemuliaan Allah, orang duniapun punya sisa kemuliaan Allah (kasih ibu, kasih bapa),
4. Jangan dimanja, itu membiarkan hidup menurut daging, dipimpin setan. Seringkali karena cinta, tetapi bodoh, anak2 diizinkan berbuat apa saja se-maunya, orangtua tidak merasa salah, apalagi masih anak2, belum mengerti dibiarkan saja, itu salah. Memanjakan berarti hidup menurut daging, semau-nya sendiri, menjadianak2 kedagingan, melazatkan segala dosa dan kehendak-nya sendiri, itu salah besar, itu jadi kaki tangan iblis dgn alasan kasih sayang, semua dibiarkan, dibolehkan, keda-gingannya menjadi kuat, berkenan pada iblis tetapi melawan Allah.
Dari kecil sudah harus dididik pikul salib, menygkal diri, suka menderita karena kebenaran 1Pet 4:1, itu yg betul Rat 3:27, Luk 9:23.
Ini yg indah, mau menderita karena kebenaran, menahan diri, menygkal diri asal bisa hidup suci di hadapan Tuhan. Baik dalam berpikir, berkata, bersikap, berbuat, mengambil keputus-an dan segala perkara tetap memati-kan daging, menurut Roh, yaitu Firman Tuhan Gal 5:16-17. Jangan dimanja, itu anak setan.
Istri Ayub memanjakan anak2nya penuh tertawa dan sukacita, bahkan menghojat Tuhan, bapaknya lain, ia mencegah dan mendoakannya Ay 1:5. Tetapi anak2nya tidak mau taat, dgn hidup semaunya sendiri, menurut da-ging, mereka dimasukkan neraka, iblis bersukacita Ay 1:19. Semua orang bisa dimanjakan, tidak semua mau diter-tibkan dan taat, memang ini kecende-rungan manusia, apalagi dgn sukacita dan dapat banyak yg enak2, tetapi dosanya menumpuk, cepat masuk Neraka.
5. Tekun beribadah (7 KPR) kepada Tuhan. Apalagi kalau bisa penuh Roh Kudus dan dipimpin Roh.
Anak2 waktu bayi belum bisa ambil keputusan, disucikan dalam orang-tuanya 1Kor 7:14. Kalau anak2 itu su-dah bisa ambil keputusan, ia harus sudah dididik dan dibekali Firman Tuhan untuk mengambil keputusan yg betul. Seperti Daud, Daniel, Yacob, Yusuf, Timotius dll 2Tim 3:15.
Jangan takut, tidak sulit, sebab Allah yg menggenapkan janji Kis 16:31, asal kita mau taat dan seluruh isi rumah dari mulai lahir sudah diajak menyanyi, memuji Tuhan, ibadah betul2 kepada Tuhan. Tetapi kita harus tahu tantangan yg besar pada akhir zaman Wah 22:11. Namun kalau kita berjalan dgn Tuhan; kita justru masuk golongan yg selamat, yg ikut peng-angkatan dan selamat kekal.
III. MENANTU, MERTUA, BESAN
Akan timbul banyak kesukaran kalau menikah di luar Tuhan, itu salah 2Kor 6:14. Jangan sampai ini dilanggarhanya karena terpaksa atau pura2 percaya pada Tuhan, itu bukan kehendak Tu-han, bukan jodoh dari Tuhan, akibat-nya menjadi kacau dan pahit, sebab Allah dan setan tidak bisa jadi satu, sekalipun orangnya mau, setan mau, tetapi Allah tidak mau! Allah akan me-ninggalkan pernikahan seperti ini; Juga jangan sampai pura2. Juga dari Gereja2 yg sangat berbeda pengajarannya, bisa menimbulkan banyak problem, kecuali semua penuh Roh Kudus dan mau menerima pengajaran Firman Tuhan yg betul. Dia bisa membawa semua ke-pada kebenaran kalau mau taat Yoh 16:13. Jangan mengambil keputusan tanpa pengertian, akibatya bisa jadi banyak dukacita.
PRINSIP ANAK DAN MENANTU
Sebab suami dan istri itu seperti kepala dan tubuh jadi satu, maka menantu dan mertua itu harus berlaku dgn tulus seperti anak dan orangtua. Memang ini tidak mudah, tetapi jangan disepeleh-kan. Menantu adalah anak ketemu besar, juga mertua, tetapi dgn pim-pinan Tuhan harus menerima dan hidup seperti anak-orangtua. Kalau tidak bisa atau tidak mau itu melawan Firman Tuhan atau keputusan yg salah. Tetapi kalau sudah nikah, harus terus diperbaiki, tidak boleh cerai.
Meskipun semua sudah baik, sesuai Firman Tuhan, tetap perlu belajar me-nyesuaikan diri menurut Firman Tuhan, dalam pimpinan Roh. Jangan ada pra-sangka, benci, tidak mau mengampuni dll, sebab memang menerima anak orangtua sesudah besar, perlu waktu untuk menyesuaikan diri dgn kesucian kasih dan pimpinan Roh Kudus, dan belajar bersekutu dalam Kristus,dgn betul. Memang ini sama dgn bersekutu dalam tubuh Kristus, tetapi ada ke-indahannya sebagai anak dan orang-tua. Kalau hidup dalam kesucian dan kasih dipimpin Roh, pasti bisa dan da-pat menjadi seperti anak dan orangtua yg lahiriah. Anak dan orangtua lahi-riahpun bisa terganggu oleh pekerjaan setan, juga yg menikah. Seharusnya kalau semua hidup benar sesuai Firman Tuhan dan dipimpin Roh, tidak ada kesukaran, semua bisa berjalan dgn baik. Tetapi hati2 dgn tipu daya setan!
Pada waktu anak dan menantu melahirkan anak, ini se-olah2 meterai Allah untuk suami-istri, sebab dalam anak ada unsur genetic suami dan istri jadi satu. Sebab itu jangan sampai timbul problem antara menantu dan mertua, tetapi semua dicocokkan dgn Firman Tuhan dan pimpinan Roh Ku-dus, jangan sampai ditipu iblis. Kalau bisa cinta musuh, apalagi mencintai mertua dan menantu yg sudah “dime-teraikan” cara jasmani dgn lahirnya anak dan dipersatukan dalam nikah yg suci dalam Nama Tuhan Yesus.
ANTAR BESAN. Kalau antar anggota Gereja satu sama lain kita harus bisa bersekutu, apalagi dgn besan yg makin diteguhkan dgn kesatuan anak2nya ber-sama2 dalam pernikahan, seharus-nya makin indah. Iblis bisa saja menga-caukan, tetapi orang yg mau limpah dgn 7 KPR justru akan menemukan persatuan yg lebih indah dalam Roh dan Firman Tuhan.
ORANG2 LAIN DALAM RUMAH. Kalau ada perjanjian yg baik, misalnya orang2 yg bekerja dalam rumah, se-mua ada batas2nya, tetapi kita harus penuh kasih kepada musuh, apalagi orang yg dgn persetujuan bersama akan tinggal serumah, karena pe-kerjaan dll. Kalau itu orang2 dunia yg belum percaya Tuhan Yesus, kita hen-daknya menggarami dan menerangi, justru jangan menjadi batu sontohan. Kalau ada perjanjian yg tidak disetujui jangan dipaksakan.
Dalam pergaulan di dunia, apalagi terus menerus sepanjang hari, setiap hari, banyak kesalahan akan tapak. Kita perlu ada kasih, pengampunan, kuasa dan hikmat Allah untuk menghadapi segala problem, sehingga rumah kita menang melawan iblis dan tipu daya-nya dan ada sejahtera dan sukacita Allah, sehingga orang2 di dalamnya bisa diselamatkan dan semua berlanjut ke Surga!
Kalau ada tanda2 hidupnya tidak jujur dan ada kejahatan, kita harus minta pimpinan Roh Kudus sesuai Firman Tuhan, yaitu cerdik dipimpin Roh tetapi tetap tulus, jangan bereaksi dosa. Kalau kita setuju orang dunia masuk dalam rumah kita, tentu harus diatur dgn baik dan jujur, paling sedikit dari pihak kita sebagai anak2 Allah harus dgn jujur, baik, tidak ada dosa dan ambilah keputusan yg betul sesuai Firman Tuhan. Tidak ada kebetulan, tetapi jangan mengambil keputusan yg bodoh, yg merugikan diri kita sendiri, lebih2 dalam masa yg sulit, seringkali orang dosa bisa memakai kesempatan yg ada, kesempatan membuat orang jadi pencuri. Sebab itu minta hikmat dan pimpinan Tuhan, tetapi jangan bereaksi dosa.
KESIMPULAN
Jadi dalam rumah ada keluarga inti, kedua karena hubungan yg dekat se-bab pernikahan dan ketiga dgn orang2 dunia, sebab faktor2 pekerjaan dll. Yg penting kita sendiri harus hidup benar, dipimpin Roh, sehingga dalam segala kesukaran selalu ada jalan keluar yg tepat dari Tuhan. Tetapi kalau kita sendiri berdosa, maka kesukaran2 bisa datang sebagai akibat dosa, sebagai hajaran sehingga timbul banyak ma-salah. Tetapi kalau kita hidup benar dan ada kasih, dipimpin Roh, pasti Tuhan akan tolong, tidak ada kebetulan dan segala perkara akan jadi kebaikan bagi orang yg cinta Tuhan Rom 8:28, 1Kor 2:9.
Yusuf di rumah Potifar sebagai budak, dalam penjara sebagai orang tahanan, dan dalam istana Firaun sebagai pegawai / anak buah, Yusuf tetap jadi berkat dan Allah bekerja dalam hidupnya sehingga mengalami rencana Allah yg indah2 dalam posisi yg tidak enak. Rencana Allah adalah supaya dalam rumah kita, semua yg di dalamnya boleh percaya Tuhan, seka-lipun sebelumnya masih orang dosa, sehingga selamat dan berlanjut ke Surga. Pikirkan, doakan, minta dan lakukan pimpinan Tuhan, supaya seisi rumah diselamatkan dan berlanjut ke Surga. Kita harus berusaha supaya ru-mah kita itu jadi sambungannya Surga dan satu kali kelak semua orang di dalamnya atau yg pernah tinggal di dalamnya diselamatkan dan semua bersambung ke Surga.
Nyanyian:
Duduk bersama, bersambung di Surga
Kita duduk skarang ini
bersambung di Surga
Waktu sampai Surga, duduk bersama
Kita akan bersambung terus di Surga
