Roh, Jiwa, dan Tubuh

I. PEMBAGIAN MANUSIA

Alkitab membagi manusia dalam 2 cara yaitu:

A.  DIBAGI 3 yaitu: Roh, Tubuh, Jiwa.

1Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera  menguduskan  kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan  tubuhmu ter pelihara  sempurna dengan tak bercacat pada  kedatangan Yesus Kristus,  Tuhan kita.

B. DIBAGI 2, yaitu:

- Manusia lahiriah        =  The outward man.

- Manusia batiniah       =  The inward man, The inner man.

2Korintus 4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi  meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

Dengan mata jasmani kita hanya dapat melihat tubuh atau manusia  lahiriah saja, kita tidak dapat melihat roh atau jiwanya. Tetapi kalau  kita mulai bergaul, dari kata-kata, sikap dan perbuatannya, kita dapat  merasakan dan mengetahui banyak tentang jiwa dan rohnya.

Epesus 3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-  Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh RohNya di dalam  batinmu, (the inner man KJV).

1Petrus 3:4 Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.

Kita melihat kadang-kadang Alkitab memakai cara pertama (misalnya Ibr 4:12) kadang-kadang cara kedua (misalnya Ep 4:30; Rum 8:23). Keduanya benar, masing-masing digunakan dan diperlukan pada tempatnya.

II.  PENGERTIAN YANG UMUM DALAM DUNIA

Apakah roh, jiwa dan tubuh ini?

Jangan pengertian Alkitabiah ini dicampur dengan pengertian duniawi yang umum atau menurut ilmu jiwa dunia. Beberapa orang mencoba untuk mengerti tentang perkara-perkara rohani ini dengan memakai pengertian- pengertian dari ilmu jiwa.

Ini salah, dan menyesatkan sebab:

1. Orang-orang dunia, sekalipun mereka ahli, mereka hanya ahli tentang orang lama; mereka tidak dapat mengerti tentang orang baru dan bagian-bagiannya.

1Korintus 2:14-15 Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.. Tetapi manusia rohani menilai (TL: menyelidiki) segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai (TL: diselidiki) oleh orang lain.

Mereka tidak dapat menangkap pengertian-pengertian tentang orang baru. Itu menjadi kebodohan bagi mereka, sebab mereka tidak dapat membuktikannya secara ilmiah. Hal ini harus ditelan mentah-mentah dengan iman saja, mereka tidak bisa menerima (Yoh 20:25b,29).

Perkara-perkara rohani itu hanya dapat dimengerti dengan peri rohani. “Dimensinya” lain. Misalnya gelombang-gelombang radio di udara, itu ada, tetapi dengan mata dan telinga biasa kita tidak dapat menangkapnya, harus dengan alat khusus yaitu radio.

Begitu kalau seorang tidak lahir baru, ia tidak dapat mengerti perkara-perkara Allah yang dalam-dalam/ rohani.

2. Istilah jiwa dan roh di dalam dunia itu dicampur atau dianggap sama. Dalam Alkitab, istilah “jiwa” mempunyai banyak arti dan  banyak diantara- nya yang tidak dapat dimengerti dengan pikiran duniawi. Mereka tidak dapat membedakannya sebab untuk memisahkan antara roh dan jiwa, diperlukan Firman Tuhan yang cukup tajam (Ibr 4:12). Misalnya di dunia hanya ada dokter jiwa, tidak ada dokter roh, sebab bagi mereka itu sama.

3. Roh orang dunia (orang dosa) itu mati, artinya putus hubungan dengan Allah (Ep 2:1). Oleh karena itu peranan yang sesungguhnya hampir-hampir tidak kelihatan di dalam orang-orang dunia, sehingga mereka hampir- hampir tidak mengerti apa-apa tentang roh.

Sebab itu jangan kita orang-orang yang rohani, anak-anak Allah, memakai pengertian yang salah dari orang-orang dosa ini; sekalipun mereka pintar dalam dunia, tetapi kepintarannya itu lebih bodoh dari “kebodohan” Allah  1Kor 1:25.

Untuk orang-orang dunia (yang tidak dapat membedakan jiwa dan roh), jiwa dan roh itu disamakan dengan batin. Juga karena roh orang-orang berdosa itu  “mati”, tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, sebab itu orang-orang dunia itu hanya diwarnai oleh jiwanya (lihat: judul memisahkan jiwa dan roh).

Firman Tuhan membagi manusia menjadi orang dalam dan orang luar, terutama supaya kita mahir membedakan daging atau jiwa dengan roh (Gal 5:16), sehingga orang-orang beriman dapat memelihara rohnya baik-baik dan menekan daging atau jiwanya habis-habisan (1Kor 9:27).

Jadi dalam setiap pembicaraan kita harus mengingat-ingat macam-macam perbedaan, baik dari definisi dunia, juga macam-macam definisi dari Firman Tuhan (lihat istilah jiwa pada akhir tulisan ini). Karena perbedaan ini tidak dapat dicampurkan, kita harus mengerti definisi mana yang berlaku untuk istilah jiwa dalam setiap ayat berdasar konteksnya. Roh Kudus akan menolong kita untuk menyingkapkan artinya.

III. APAKAH ROH, JIWA, TUBUH ITU?

Kita akan melihat lebih dahulu tentang tubuh, jiwa dan roh secara singkat, baru sesudah itu secara terperinci.

TUBUH

Tubuh adalah materi yang nampak dari manusia. Ini tidak  berbeda dengan zat-zat lain dalam alam. Tubuh kita mengandung  misalnya: air, kapur, besi dan lain-lain, sama seperti yang ada di    alam. Memang tubuh ini pada mulanya dibuat dari tanah oleh  Allah. Pada waktu seorang mati, maka tubuh ini menajdi rusak  dan menjadi sama seperti zat-zat lain, namun bekas tubuh manusia ini tetap mempunyai nilai khusus, sebab pada hari kebangkitan orang mati, bekas-bekas tubuh ini akan diubahkan menjadi tubuh kebangkitan yang kekal.

JIWA

Kejadian 9:4 Tetapi daging dengan jiwanya (= life = hidup  KJV), yaitu dengan darahnya janganlah kamu makan dia.

Jiwa atau hidup itu ada di dalam darah. Sesudah manusia jatuh  dalam dosa, manusia dikuasi oleh hukum dosa dan hukum maut,  rohnya mati, (putus hubungan dengan Allah) dan jiwanya rusak  oleh dosa, menjadi sama seperti jiwa binatang. Jiwa seperti ini selalu menuruti naluri-naluri manusiawi, bahkan dikuasai oleh naluri-naluri ini (naluri makan, naluri sex, naluri mem- pertahankan diri/ kehidupan, naluri keinginan mata dan naluri-naluri lain- nya). Dalam bahasa Alkitab tubuh dan jiwa itu dapat diidentifisier/ dianggap sebagai daging. Kalau jiwa terus menerus berkuasa atas manusia, rohnya mati, maka pada waktu mati dan hari kebangkitan, sekalipun jiwanya sudah tiada, rohanya tetap “mati”, tercerai dari Allah untuk kekal.

ROH

Allah itu roh adanya. Begitu juga manusia itu roh adanya, sebab itu  manusia adalah makhluk yang kekal. Tetapi di dalam rencana Allah,  selama hidup di dunia manusia itu diletakan dalam kurungan tubuh jiwa  atau tubuh dosa ini, supaya roh kita dapat diolah, dilatih dan tumbuh  menjadi sempurna.

IV. JIWA MANUSIA

A. PADA WAKTU MATI

Pengkhotbah 12:7 dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.

Pada waktu mati, 3 bagian tubuh ini tercerai-berai satu sama lain.

1. Roh, kembali kepada Tuhan. (Tetapi roh orang berdosa kembali kepada bapanya, bapa setan.

Yohanes 8:44a Kamu ini daripada bapamu iblis dan segala  hawa nafsu bapamu itulah yang kamu turut.

2. Tubuh kembali menjadi tanah sesuai dengan apa yang  dikatakan Tuhan dalam (Kej 3:19).

3. Jiwa manusia ke mana? Tidak disebutkan! Jiwa ini adalah hidup.  Pada waktu mati, hidup ini berakhir, jadi jiwa ini hilang, lenyap!

B.  PADA WAKTU MEMBANGKITKAN  ORANG MATI.

Lukas 8:55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu  juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi  anak itu makan.

Bagaimana proses kebangkitan ini terjadi?

a. Tubuhnya masih ada di situ.

b. Rohnya kembali karena dipanggil  Anak Manusia dengan  iman.

c. Di mana jiwanya? Mengapa Anak manusia tidak memanggil jiwanya? Apakah untuk membentuk seorang manusia yang utuh tidak diperlukan 3 unsur seperti yang ada pada semua orang yang hidup? Ternyata tidak! Hanya dengan 2 unsur, yaitu tubuh dan roh maka anak itu dibangkitkan kembali. Sesudah bangkit, anak itu hidup dan jiwanyapun ada di dalamnya. Pada waktu roh itu masuk ke dalam materi tubuh, maka materi itu menjadi hidup dan hidup di dalam materi tubuh itu dinamakan jiwa. Jadi waktu roh masuk dalam tubuh yang mati timbul kehidupan yaitu jiwa.

Jiwa yang hilang pada waktu mati, itu terbentuk atau timbul kembali dengan sendirinya pada waktu roh itu masuk dalam tubuh yang mati itu.

C. PADA WAKTU PENCIPTAAN MANUSIA.

Kejadian 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan  nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Pada waktu Allah menciptakan manusia, hanya dipakai 2 unsur saja, yaitu:

1. Patung tanah liat = tubuh

2. Nafas Allah yaitu roh.

Sesudah patung tanah liat itu hidup menjadi manusia yang bernafas, barulah terjadi 3 unsur, yaitu roh jiwa tubuh. Ini prinsipnya sama seperti kebangkitan anak Yairus yang dibangkitkan Tuhan Yesus.

D. KEBENARAN YANG DISIMPULKAN.

Jelas sekali di dalam ayat-ayat tersebut di atas, bahwa pada waktu  mati, jiwa itu lenyap, hilang dan pada waktu kebangkitan atau  penciptaan, jiwa itu muncul dengan sendirinya, sesudah roh  dan tubuh itu bersatu.

Jadi jiwa manusia itulah “kehidupan” dan ada pada waktu manusia  hidup dan kalau kehidupan itu berakhir, maka jiwa itu juga lenyap.

V. PRIBADI MANUSIA

Jadi Pribadi kita yang sebenarnya itu ada di dalam roh. Ini nampak dengan jelas:

1. Pada waktu mati, roh kembali kepada Bapa di Sorga Pkh 12:7, inilah pribadi kita yang sebenarnya. Tubuh kembali menjadi tanah di dalam kubur, di sini tidak ada pribadi, hanya materi yang mati.

Jadi pribadi kita itu ada di dalam roh, sebab memang Tuhan menciptakan manusia itu sebagai roh yang hidup, hidup di dalam patung tubuh ini.

2. Binatang bukan suatu oknum atau pribadi. Binatang hanya terdiri dari tubuh dan jiwa tidak ada roh. Pada waktu mati, jiwanya hilang dan binatang itu lenyap seluruhnya, tidak ada sambungannya lagi, tubuhnya menjadi benda, seperti zat-zat lainnya. Binatang-binatang tidak mempunyai kelanjutan dalam kekekalan, baik dalam Surga maupun di dalam neraka. Binatang tidak mempunyai kepribadian yang kekal.

3. Di dalam  transfusi darah, yang diberikan hanya sebagian dari tubuh dan jiwa, bukan rohnya.  Di dalam darah itu ada hidup, yaitu jiwa.

Kejadian 9:4  Tetapi daging dengan  jiwanya, yaitu dengan  darahnya, janganlah kamu makan dia. (TL)

1 kantong darah adalah sebagian dari orang luar, bukan dari pribadinya (=rohnya). Pribadi tidak terletak dalam tubuh, jiwa.

Pada beberapa orang seluruh darahnya habis, diganti darah donor dari beberapa orang. Orang ini pribadinya tetap, tidak berubah, sebab darah yang diterimanya itu hanyalah sebagian dari tubuh-jiwa orang lain, sebagian dari orang luar, bukan sebagian dari pribadi orang lain.

Jadi pribadi kita itu terletak pada roh kita, yang hidup di dalam kurungan tubuh jiwa ini.

VI. SATU PRIBADI, BUKAN DUA.

Manusia itu terdiri dari roh jiwa tubuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan kecuali:

1.   Mati.

2.   Diangkat rohnya oleh  Roh Kudus. Misalnya: Wah 4:2.

Jadi roh jiwa tubuh itu lekat menjadi satu. Meskipun demikian nampak jelas ada 2 bagian yang saling bertentangan satu sama lain, yaitu antara daging dan roh.

Galatia 5:17 Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

Roma 7:20-21 Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.

Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku

Tetapi ini tidak berarti kita mempunyai 2 kepribadian, melainkan hanya 1 pri- badi.

Pribadi kita itu di dalam roh kita. Tetapi tubuh jiwa ini juga milik kita, menjadi satu dalam kepribadian kita sekalipun kehendaknya bertentangan dengan roh.

Beberapa orang menafsirkan bahwa jiwa itu mempunyai Pikiran, Kehendak dan Emosi sendiri. Begitu juga roh mempunyai pikiran, kehendak dan emosi sendiri. Dengan demikian di dalam manusia seolah-olah ada 2 (dua) pribadi.

Dalam ilmu penyakit jiwa, kalau seseorang mempunyai 2 pikiran, 2 pribadi, itu  adalah gejala yang jelas menunjukkan bahwa orang itu sakit jiwa. Sebab itu  kalau jiwa mempunyai fungsi-fungsi pribadi sendiri, dan roh juga mempunyai  fungsi-fungsi tersebut, maka itu berarti ada dua pribadi atau ada perpecahan  pribadi menjadi dua! Ini tidak betul. Ini gejala-gejala penyakit jiwa. Allah  yang maha pintar dan baik itu  tidak menciptakan manu- sia yang gila  (berpenyakit jiwa!).

Jiwa itulah kehidupan (life) di dalam tubuh. Atau, tubuh yang hidup itu yang  berfungsi sebagai jiwa. Manusia itu roh yang ditaruh Allah di dalam patung tubuh, sehingga patung itu hidup, berjiwa. Jadi pribadi kita atau oknum diri kita itu berada di dalam roh. Memang pribadi kita itu dapat berpikir, berkehendak, punya emosi, punya perasaan, kesukaan dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan “kehendak daging” (Gal 5:16) atau “pikiran daging” (Rom 8:6)?

Sudah diterangkan di atas, bahwa “tubuh-jiwa” itu, seperti binatang yang mempunyai dorongan atau naluri- naluri. Misalnya bila tubuh lapar. lalu ada dorongan kuat untuk makan bahkan untuk mencurinya. Juga demikian kalau kadar CO2 dalam darah meningkat tinggi, maka akan terasa perasaan lelah dan dorongan yang kuat untuk malas, untuk tidur dan menolak bekerja. Juga naluri sex, lebih-lebih kalau dirangsang dengan tontonan atau bacaan, akan ada dorongan untuk berbuat perkara-perkara yang cabul atau dosa-dosa sex.

Ini semua dorongan-dorongan nafsu.

Kalau dorongan ini bertentangan dengan kehendak yang baik dari roh, maka itu yang dirasakan (disebut) sebagai kehendak daging.

Kalau dorongan ini bertentangan dengan pikiran yang rohani, maka dorongan ini dirasa atau adalah pikiran daging/ jiwa.

Kalau dorongan ini bertentangan atau melawan emosi dari roh kita, maka dorongan inilah yang disebut emosi daging.

Jadi fungsi-fungsi jiwa itu sebetulnya dorongan-dorongan dari tubuh-jiwa, seperti yang ada pada binatang, tetapi ini bukan pribadi tersendiri.

Roh itulah tempat pribadi kita, oknum kita dan dorongan-dorongan dari tubuh-jiwa itu yang disebut dan dirasakan seperti fungsi-fungsi dari jiwa. Padahal hanya dorongan, bukan suatu pribadi tersendiri.

Jadi hanya ada satu pribadi yaitu roh kita dan proses-proses yang ada dalam tubuh yang hidup ini (tubuh-jiwa) itu yang dirasakan sebagai dorongan yang seringkali melawan pribadi/ roh kita. Ada 1 pribadi roh dan ada tantangan dari naluri-naluri atau kehendak/ kemauan daging.

Jadi di dalam kepribadian kita yang satu itu ada dua dorongan atau tarikan, yaitu dari roh dan dari daging, yaitu tubuh jiwa.

Pikiran, emosi, kehendak (mind, emotion, will), itu bukan jiwa, juga sifat, sikap dan kelakuan. Semua ini adalah reaksi pribadi kita. Reaksi pribadi kita ini dipengaruhi roh, jiwa atau dari luar kita (dari orang lan, buku-buku, keadaan dan sebagainya). Pikiran, emosi, kehendak, sifat, sikap dan kelakuan kita itu tergantung dari yang mana yang menguasai kita, roh atau jiwa, dipimpin roh (Roh) atau dipimpin daging (tubuh-jiwa).

VII.     PERTENTANGAN DI DALAM MANUSIA.

Binatang itu hanya terdiri dari tubuh jiwa. Binatang-binatang ini ada karena dicip- takan Allah dengan FirmanNya, dari tiada apa-apa lalu timbul mahluk yang hidup, tubuh yang hidup yaitu tubuh dan jiwa (Ibr 11:3).

Binatang atau tubuh-jiwa ini sebelum kena kutuk dosa (waktu masih ada di dalam Firdaus atau nanti dalam Kerajaan 1000 th) punya sifat dan keadaan yang baik dan sempurna. Tidak ada sifat yang jahat, buas, garang, kejam, pembunuh dsb. Semua makan rumput atau daun-daunan.

Tetapi sesudah kena kutuk dosa (Adam & Hawa) maka tubuh-jiwa ini keadaannya berubah sama sekali menjadi jahat, kejam, egois, buas, tamak dll sifat yang jelek. Binatang- binatang atau tubuh-jiwa ini hanya hidup menuruti hawa nafsunya.

Jadi tubuh dan jiwa itu sudah merupakan suatu kehidupan, mahluk hidup lengkap dengan segala sifat, tabiat, pikiran, emosi dan kemauannya. Ini sangat dipengaruhi oleh ada atau tidak adanya kutuk dosa.

Begitu juga di dalam manusia, tubuh dan jiwa itu lekat menjadi satu seperti pada binatang dan ini membuat segala macam sifat dan tabiat daging yang seperti ada pada binatang.

Jadi jiwa itu lekat pada tubuh, meru-pakan suatu tubuh yang hidup.

Karena tubuh masih belum ditebus (Roma 8:23), maka sifat/ tabiat tubuh jiwa ini condong pada dosa (Yoh 3:18-19) dan biasanya disebut sebagai sifat tabiat binatang atau daging.

Jadi jiwa itu lekat pada tubuh, bukan pada roh. Jiwa tidak dapat lekat pada roh, sebab sifatnya bertentangan satu sama lain (Gal 5:17). Jadi jelas nampak adanya pertentangan antara tubuh jiwa melawan roh. Tubuh jiwa atau daging inilah yang ingin selalu menyeret dan memaksa manusia untuk hidup di dalam dosa, keluar dari Gereja dan persekutuan orang suci masuk ke dalam dunia serta mendorong manusia memenuhi keinginan- keinginan daging tanpa malu.

Nampak jelas sekali pertentangan dalam pribadi kita, tetapi pribadi kita tetap satu.

Roh atau manusia batiniah kita sudah ditebus oleh darah  Tuhan Yesus (1Pet 1:18-19). Tetapi tubuh kita sekarang  ini belum ditebus (Rom 8:23).

Sesudah kita mengalami tebus tubuh, tubuh juga  ditebus dari dosa, maka tubuh- jiwa ini menjadi begitu  taat dan dengar-dengaran pada Firman Tuhan. Ini juga  sama seperti tubuh jiwa atau binatang-binatang yang tidak lagi kena akibat kutuk dosa. Binatang-binatang ini menjadi begitu manis dan baik (seperti dalam Eden atau Kerajaan 1000 tahun) sehingga tidak ada pertentangan satu sama lain atau dengan manusia. Begitu juga kalau tubuh jiwa ini sudah ditebus, maka tidak lagi ada sifat-sifat tabiat binatang itu. Tubuh jiwa kita menjadi penurut hukum- hukum Tuhan dan tidak lagi bertentangan dengan keinginan roh! Dalam keadaan ini roh dan tubuh jiwanya tidak lagi berkelahi atau bertentangan satu sama lain.

Di dalam hal ini sama sekali tidak nampak sifat-sifat atau tabiat tubuh- jiwa yaitu tabiat binatang, atau sifat-sifat tabiat daging. Tidak ada pertentangan antara roh (yang dipim- pin Roh Kudus) dan tubuh-jiwa.

Jadi tabiat atu sifat tubuh-jiwa itu sangat bergantung dari penebusan, ada tidak-nya kutuk dosa. Ini juga yang menentukan ada tidaknya perten- tangan antara roh dan tubuh- jiwa.

Pada orang-orang berdosa, rohnya itu mati sehingga tubuh-jiwa menjadi dominan (menonjol, menguasai). Sebab itu di dalam orang-orang seperti ini nampak sekali tabiat yang seperti binatang yang jelek.

Justru peperangan daging dan roh didalam orang berdosa tidak berat, bahkan ringan, sebab memang rohnya mati dan tubuh-jiwa = daging yang menonjol. Pada orang2 beriman pepe- rangan ini cukup seru, sebab roh kita hidup dan tubuh-daging juga tidak mau dimatikan.

Kesimpulan:

Selama tubuh belum ditebus akan selalu ada pertentangan antara roh dan daging = tubuh jiwa. Ini merupakan salib bagi kita dan ini justru mengolah roh kita bertumbuh menjadi taat, setia, teruji dan terhias.

VIII. ROH YANG MATI

A. Bagaimana roh yang mati

Di dalam orang berdosa, rohnya “mati”, maksudnya putus hubungan dengan Allah sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Efesus 2:1. Maka kamupun dahulu sudah mati oleh sebab segala kesalahan dan dosamu.

Yang mati itu bukan tubuhnya, tetapi rohnya! Istilah “mati” disini artinya tercerai dari Allah, bukan mati seperti tubuh ini.

Kejadian 2:7 tetapi buah pohon pengetahuan akan hal baik dan jahat itu janganlah engkau makan, karena pada hari engkau makan daripadanya engkau akan mati.

Juga disini dikatakan bahwa kalau manusia berdosa, maka ia akan “mati” yaitu mati rohani, mati rohnya bukan tubuhnya.

Roh tidak dapat mati seperti tubuh, tetapi roh yang “mati” itu berarti hubungan dengan Allah putus, tidak dapat berhubungan dan bersekutu lagi dengan Allah. Allah itu sumber kehidupan (Yoh 1:4). Roh manusia itu dikuatkan dan dihidupkan oleh persekutuan dengan Roh Allah. Kalau hubungan ini putus, roh manusia “mati”, artinya rohnya tidak berdaya, tidak dapat berfungsi sebagaimana seharusnya. Sebab itu yang menonjol, yang dominant = unggul dan  yang berfungsi dapat dikatakan hanya jiwanya saja. Rohnya tetap ada tetapi “mati” (Yes 59:2).

B. Akibatnya

Kalau roh manusia “mati”, maka sekalipun ia ingin berbuat baik, ingin mentaati hukum- hukum Allah, ia selalu gagal, tidak mampu, tidak sanggup, tidak berdaya. Terhadap tarikan dosa, ajakan setan, meskipun mula-mula rohnya menolak, tetapi ia tidak berdaya, lemah, “mati”, sehingga selalu jatuh dalam dosa, hidup dalam hawa nafsu daging. Kalau manusia hidup dengan roh yang mati, maka jiwa akan sangat menonjol, unggul, nyata. Orang yang rohnya “mati” (= orang berdosa ), itu seluruh hidupnya diatur dan ditentukan oleh tubuh-jiwa (= daging). Kita tahu bahwa orang dosa itu orang daging, hidup menurut daging.

Kejadian 6:3 Maka Firman Tuhan: Bahwa Rohku tiada ada akan  berbantah-bantah selama-lamanya dengan manusia, karena hawa  nafsu jua (=flesh  = daging KJV) adanya, melainkan tinggal lagi  panjang umurnya seratus dua puluh tahun.

Mazmur 78:39. Karena ingatlah Ia akan mereka itu hawa nafsu jua  (=flesh = daging KJV mereka itu hanya daging juga) dan hanya  senafas yang pergi dan yang tiada kembali pula adanya.

Jadi jelaslah di sini bahwa hidup dipimpin jiwa itu hidup dipimpin  daging. Jiwa itu identik dengan daging  = tabiat tubuh, tabiat dosa.

Binatang hanya terdiri dari tubuh dan jiwa, yaitu daging. Sebab itu  orang berdosa yang “mati”rohnya itu hidupnya oleh jiwa yaitu daging,  mirip dengan binatang yang hidup hanya menuruti nafsu-nafsunya.

Binatang itu ada macam-macam, ada yang liar, ada yang  buas/ganas dan ada yang jinak. Begitu juga manusia yang dikendalikan oleh daging, oleh jiwanya (sebab rohnya “mati”), ada yang liar, buas/ganas dan ada yang jinak.

Kalau jiwanya kuat sekali (kalau dagingnya kuat sekali), maka orang itu nampak sangat buas dalam hawa nafsunya, ganas, sukar dikendalikan. Hidupnya menurut hawa nafsu belaka (membenci, membunuh, berzinah, men curi, jemawa, suka makan dan sebagainya).

Dengan pendidikan budi pekerti yang “baik” dapat diperoleh “binatang yang jinak, yang tidak menggigit”, tetapi tetap “binatang” dihadapan Allah, tetap hidup dalam dosa.

Begitulah manusia tanpa Allah, itu hidupnya seperti binatang, hanya saja lebih intelek, lebih “tinggi perkembang- annya” kata teori Darwin (evolusi).

2Petrus 2:12 Tetapi orang-orang ini seumpama mahluk yang tiada berakal, bertabiat binatang yang diburu dan dibunuh, mencela segala perkara yang mereka itu sendiri jahil; maka tak dapat tiada mereka itu akan binasa oleh sebab perbuatannya sendiri yang binasa (TL).

Mazmur 49:21 Adapun orang yang kehormatan, tetapi tiada ia berbudi, ia itu disamakan dengan binatang  yang akan binasa adanya binatang sekarat)

Ini semua karena rohnya “mati”, sehingga jiwa yang menonjol. Sebab itu Firman Tuhan berkata bahwa orang yang rohnya “mati”, pikirannya daging, duniawi semata-mata, tetapi orang yang rohnya hidup, pikirannya rohani, suci dan sejahtera (Rum 8:6), karena pikiran tabiat duniawi (daging, fana) itulah maut; tetapi pikiran rohani itulah hidup lagi sentosa.

IX. APAKAH ROH  ITU SEBETULNYA?

A. ITU BERASAL DARI ALLAH (Kej 2:7).

Sebab itu roh manusia itu kekal, dan dengan rohlah kita berhubungan dengan Allah. Tubuh dan jiwa ini tidak dapat berhubungan dengan Allah.

Semua manusia itu orang berdosa, turunan Adam, lahir dari Adam, lahir dalam dosa (Rum 7:14) artinya semua manusia rohnya “mati” tak berdaya, dicengkram oleh hukum dosa dan maut. (Tentang hukum dosa dan maut lihat TE no 10 hal 14-20).

Tetapi pada waktu seseorang lahir baru, Allah menjamah rohnya sehingga mendapat kekuataan dari Allah, kuat kembali, hidup kembali. Sekarang rohnya unggul, berkuasa, sehingga hidupnya berubah, tidak lagi hidup menurut daging, tetapi menurut roh. Inilah hidup baru didalam Kristus.

Tetapi sampai disini saja belum cukup, rohnya harus tumbuh lebih lanjut, supaya dapat berfungsi maximum,  dapat menguasai sepenuhnya seluruh tubuh dan jiwa yaitu seluruh hidup ini menjadi seperti Kristus.

B. ROH  LAWAN JIWA.

Kalau roh kita hidup, kuat, unggul dan memerintah, maka kita menjadi rohani, hidup dengan sifat-sifat Ilahi (2Pet 1:4; Ibr 1:9). Seluruh pikiran, kata-kata, sikap dan perbuatan kita berlangsung secara rohani sebab diperintah oleh roh.

Kalau roh kita kuat dan memerintah, akan nampak tanda-tanda yang khas dari pemerintahan roh, yaitu:

1. Daging dikalahkan (Gal 5:16).

2. Hati dan hidup ini penuh sejahtera!

Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah da lam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Roh selalu memerintah dengan sejahtera, sebab sesuai degnan pimpinan Roh Kudus. Jadi kalau roh memerintah, sejahteralah yang menguasai dan memerintah hidup kita ini. Dalam segala perkara sejahtera mengawali hati dan pikiran kita.

Pilipi 4:7 Sejahtera Allah yang melebihi segala akal itu, akan mengawali hatimu dan pikiranmu di dalam Kristus Yesus (TL).

Kalau jiwa yang memerintah, maka seluruh pikiran, kata-kata, sikap dan perbuatan kita menjadi penuh kedagingan, sebab yang menguasai dan yang mengatur adalah jiwa. Kalau jiwa kuat, maka hal itu juga nampak dalam kesaksian hidupnya, suatu hidup yang penuh dengan hawa nafsu dan dosa. Hidup seperti ini penuh dengan kepahitan (ada kesukaan dosa, tetapi sementara, lalu kembali haus, haus lagi, haus yang tidak terpuaskan Yoh 4:13), juga gelisah, takut, tertekan dan penuh kepura-puraan.

C. ROH BERTUMBUH JADI KUAT

Lukas 1:80a Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya

Roh kita akan bertambah kuat dan tumbuh kalau selalu ada hubungan dengan Allah, sumber segala kehidupan dan kekuatan, yaitu di dalam Firman Tuhan dan doa. Sebab Di dalam doa, Roh Kristus itu menghidupkan roh kita (Luk 24:49; 1Kor 14:4; Kis 1:8). Firman Tuhan itu juga Roh dan hidup (Yoh 6:63). Firman Tuhan menghidupkan roh kita (Mat 4:4; Maz 119:40,50).

Jadi Firman dan Roh Kudus, ibadat dan pelayanan yang tulus, semua itu meng- hidupkan dan menguatkan roh manusia.

Roh dan jiwa ini bertentangan satu sama lain (Gal 5:17). Kalau roh kita kuat, maka kita dapat berjalan menurut Roh dan jiwa-tubuh ini dipaksa untuk mengikuti, sehingga hidup akan dengar-dengaran, patuh seperti yang dikehendaki oleh Roh. Orang yang sungguh- sungguh berbakti kepada Tuhan itu akan kuat rohnya, sehingga jiwa dan tubuhnya mengikuti rohnya dalam jalan yang benar, taat akan Allah, sehingga semuanya diberkati.

D.FIRMAN TUHAN MEMISAHKAN ROH DAN JIWA (Ibr 4:12).

Artinya kalau kita penuh dengan Firman Tuhan, kita akan dapat membedakan  perkara-perkara roh dan daging, suara roh dan daging (jiwa). Ini penting, sebab kalau tidak dapat membedakannya, ia akan kacau dan tak dapat berjalan dalam Roh. Kalau roh kita hidup dan tumbuh, suaranya akan jelas dan keras sehingga lebih jelas terdengar.

E. ROH KUDUS DI DALAM ROH KITA

Roh Kudus ada di dalam roh kita dan Ia berbicara langsung ke dalam roh kita, sehingga kita sadar dan dapat mendengar suara Roh Kudus oleh roh kita (yang hidup).

Roma 8:16 Maka Roh itu menyaksikan beserta dengan roh kita, bahwa kita ini anak-anak Allah.

Inilah cara yang umum, yang biasa dipakai sehari-hari oleh Tuhan untuk berbicara kepada kita. Yaitu Roh Kudus berbicara di dalam roh kita, sehingga kita yakin, dapat mendengar suaraNya dan karunia- karunia lainnya.

1Yohanes 5:10 Maka  orang yang percaya akan anak Allah ada  kesaksian (=saksi KJV mempunyai saksi) di dalam dirinya;

Saksi itu (yaitu Roh Kudus) ada di dalam kita. Kalau kita berdoa minta  Allah menyelidiki hati kita (Maz 139:23-24), maka Roh Kudus  menunjukkan pada roh kita sehingga roh kita dapat mengetahui dan  menyelidiki keadaan kita sendiri.

Amsal 20:27 Bahwa nyawa (=spirit = roh KJV) manusia seperti pelita Tuhan, yang menyelidik segala rahasia yang di dalam dada nya.

Makin nyata Tuhan di dalam roh kita, makin terang roh kita, makin jelas kita melihat segala isi hati kita

Mazmur 18:29 Karena Engkau juga menerangkan pelitaku; dan Tuhan Allahku mengubahkan kegelapanku sehingga ia itu menjadi terang cuaca.

Dengan demikian kita dapat berjalan dalam Roh dan tidak sampai keliru jalan karena menuruti daging.

F. BERKAT TUHAN UNTUK ORANG ROHANI

Orang-orang beriman yang dengan tulus sungguh-sungguh beribadat, lebih-lebih juga melayani, rohnya akan tumbuh menjadi kuat, maka hidupnya akan keberkatan jasmani dan rohaniah. Sekalipun dalam kelimpahan berkat, sebab rohnya kuat dan memerintah (unggul, dominan), maka segala pikiran, kata sikap dan kelakuannya sesuai dengan Firman Tuhan, di dalam kesucian dari Tuhan. Orang seperti ini hidup penuh dengan sejahtera dan dengan perkara- perkara yang indah dari Tuhan. Bahkan semua peristiwa celakapun menjadi kebajikan baginya. Ini berkat Tuhan yang indah.

Orang-orang dunia bekerja keras, seringkali dengan banyak tipu daya juga, mereka mendapat banyak berkat- berkat jasmani, tetapi rohnya mati, hidupnya penuh dengan perkara kedagingan, itu bukan berkat dari Tuhan.

Kalau Tuhan memberkati, Tuhan menunggu rohnya kuat, sehingga dalam kelimpahan berkat jasmani dan rohani, rohnya tetap memerintah sehingga hidupnya tetap memperkenankan Allah.

Orang yang hidup dalam kesucian, seluruh roh, jiwa dan tubuhNya diberkati.

G. MENUNGGU TEBUS TUBUH

Roh kita sudah ditebus dan terus tum- buh, tetapi orang luar (tubuh) belum (2Kor 4:16- 17). Waktu kita menjadi sempurna, tubuh ini juga tertebus, atau waktu Tuhan Yesus datang kedua kalinya.

Roma 8:23 Dan bukannya itu sahaja, melainkan kita sendiri- pun yang beroleh buah sulung Roh itu, bahkan, kita ini sendiri juga mengerang pada batinnya dengan menanti-nanti hal menjadi anak angkat yaitu tebus tubuh kita (TL)

Apakah dalam tubuh kebangkitan yang mulia itu juga ada jiwa? Jiwa = hidup. Karena tubuh kebangkitan itu hidup, ada jiwa, sebab hidup itu jiwa; tetapi bukan jiwa yang di bawah kutuk dosa, dan tidak lagi mengandung tabiat kedagingan atau dosa. Perlu diselidiki lebih lanjut.

ISTILAH JIWA

-Dalam bahasa Indonesia:  nyawa = jiwa.

-Dalam Alkitab, jiwa itu dapat berarti bermacam-macam. Menurut Vine, ada 11 arti, tetapi kita dapat menyimpul- kannya sebagai berikut:

1. Bagian dari manusia yaitu: roh, jiwa, tubuh (1Tes 5:23).

2. Menunjukkan seluruh manusia itu,

Misalnya: 1Pet 3:20 –>> 8 jiwa = 8 orang. Kel 1:5–>>70 jiwa = 70 orang.

3. Seringkali kalau disebut sendirian, artinya adalah:

jiwa= roh

jiwa = orang dalam

jiwa = orang batiniah.

Misalnya Maz 35:9 = Luk 1:47. Seolah-olah hanya ada tubuh dan jiwa, biasanya tubuh dan roh (Pkh 12:7).

4. Kadang-kadang beberapa penter- jemah menggantikannya sebagai pribadi atau hati, misalnya Mat 12:18 TB = jiwa, TL = hati, NIV = aku.

Karena luasnya penggunaan kata atau istilah jiwa, sehingga banyak orang bingung. Tetapi kalau kita ingat ke empat arti ini, maka kita dapat mengembalikannya kepada arti yang sebenarnya dari arti jiwa di dalam setiap ayat sesuai dengan konteksnya.