ORANG KAYA

Yakub 5:1-3 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

Ini peringatan untuk orang kaya dan orang-orang yang ingin kaya. Tuhan Yesus memperingati orang-orang kaya sebab orang-orang kaya sangat sukar masuk Sorga. Mat 19:23 (Tentu ini orang kaya yang tidak bertobat,yang tidak rohani).

Mengapa Tuhan berkata demikian? Tuhan Yesus tidak ngawur, juga bukan karena sentimen dengan orang kaya ataupun iri. (Iri dan sentimen itu dosa. Miskin atau kaya itu sama-sama dapat merusakan manusia.) Tetapi peringatan ini terutama untuk orang-orang kaya (dan orang yang ingin kaya) supaya jangan hilang keselamatannya. Solaimanpun rusak rohani dan kerajaannya oleh sebab kekayaannya. Sebab itu jangan kita mengabaikan peringatan Tuhan ini.

Kita akan belajar tentang

A. TIPU DAYA KEKAYAAN

(Tipu daya kekayaan adalah dusta iblis yang menyebabkan orang  percaya bahwa kalau mereka menjadi kaya barulah mereka akan senang  dan bahagia. Selama belum menjadi kaya, hidupnya akan tetap  menderita, tidak mungkin bahagia. Banyak orang Kristen juga sudah kena  tipu daya kekayaan ini, sehingga sekalipun mereka mempunyai Yesus,  mereka merasa tidak bahagia kalau tidak kaya. Sebetulnya Tuhan Yesus  itulah keselamatan, kesukaan dan kebahagiaan dari orang-orang  percaya.)

Hati-hati jangan sampai kena celakanya dari orang-orang yang ingin kaya ini! Uang itu bukan segala-galanya. Tidak semua dapat diperoleh dengan uang, apalagi keselamatan dan kepuasan atau kesukaan hati yang sungguh.

Nyanyian

Hanyalah Yesus sendiri

yang dapat menghibur hati

Harta dunia keindahan

Tidak dapat memuaskan

Hanyalah Yesus sendiri

Semua ini sudah dimuat dalam TE no 16 hal 9,10,13 dan 23. Silahkan diperiksa lagi. <D>

B. BAHAYA DARI  “INGIN KAYA”

(Baik pada orang kaya juga pada orang miskin)

Hanya ingin saja, belum menjadi kaya, mungkin hidupnya  masih sangat melarat, tetapi sudah dapat kena bela dan  celakanya ingin kaya! Begitu jahat dan licin tipu daya  kekayaan dunia ini, sehingga baru “hanya ingin saja”  sudah menjerumuskannya ke dalam banyak dukacita dan  dosa!

1Timotius 6:9-10 Tetapi mereka yang ingin kaya  terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke  dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab  oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-berbagai duka.

Kerusakan-kerusakan sebab ingin kaya, sebab kena tipu daya kekayaan adalah sebagai berikut:

I. PIKIRANNYA RUSAK

Bagaimanakah pikiran yang rusak oleh tipu daya kekayaan itu?

PIKIRAN YANG RUSAK seperti ini akan:

MERASA SANGAT SENANG, BAHAGIA, UNTUNG BESAR ….. KALAU DAPAT KAYA

Banyak orang merasa amat senang karena mempunyai  banyak uang. Ini  salah, keliru dan menjadi dosa. Kalau sampai di sini saja, memang kita  belum melihat jahatnya orang bersukacita karena uang. Coba periksalah  lebih lanjut. Mengapa mereka senang? Sebab mereka percaya (Percaya  yang keliru, sebab kena tipu daya kekayaan dari setan) mereka percaya  bahwa kalau mereka mempunyai uang, mereka dapat bersukacita,  terjamin, tertolong, terlindung, dan segala perkara kehidupannya dijaga  oleh uangnya. Padahal uang tidak sekuat itu. Mereka sudah kena tipu  daya kekayaan dari iblis, sehingga mereka mempercayai uangnya begitu besar, seolah-olah ilahnya! Ini yang salah, ini adalah tanda bahwa mereka sudah kena tipu daya kekayaan!

Lukas 12: 18-19 Maka katanya: Bahwa inilah kuperbuat; hendak kurombak segala lumbungku, lalu membangunkan yang lebih besar, disitu aku hendak menyimpan semua gandum dan hartaku. Maka aku akan berkata kepada jiwaku: “Hai jiwaku, engkau ada banyak harta tersimpan (TB: tertimbun) untuk beberapa tahun, senangkanlah dirimu (seenaknya saja), makan minum dan bersukacitalah (TL)

Ini juga nyata sekali di dalam berpacaran atau mencari jodoh! Berapa banyak orang Kristen  masih berkata semacam ini: “ Wah, si A itu diberkati Tuhan luar biasa, ia mendapat anak mantu yang kaya raya dan baik, untung sekali”! Padahal anak menantu itu kafir, belum kenal Tuhan. Ini kata-kata dari orang Kristen yang sudah kena tipu daya kekayaan, asal ada banyak uang, senang sekali; sering kali mereka tidak sadar, bahwa mereka sudah kena tipu daya kekayaan, tetapi banyak orang-orang Kristen yang juga sudah kena.

Orang-orang ini merasa begitu senang dan begitu untung kalau dapat menjadi kaya, dan merasa itu adalah berkat Tuhan yang indah-indah. Belum tentu! Menjadi kaya dengan halal, dari Tuhan, dengan tidak mengorbankan waktu dan kesucian itu indah, tidak dosa, tetapi jangan kena tipu daya kekayaan.

Sebetulnya si A itu celaka, sebab mereka orang beriman, anaknya juga orang beriman, tetapi mau menikah dengan orang dunia, itu hina, melawan Firman Tuhan dan pasti celaka! Oleh sebab tidak mengerti Firman Tuhan dan kena tipu daya kekayaan, maka orang-orang Kristen seperti ini tidak ada bedanya dengan orang-orang dunia!

Mendapat menantu orang kaya itu bukan dosa, bukan rendah rohani, asal sama-sama di dalam Tuhan (1 Kor 7:39-b; 2 Kor 6:14). Jangan anti orang kaya, jangan sentimen, lebih-lebih karena iri, itu dosa, tidak boleh.

Ada seorang pelayan Tuhan yang “alergi” pada orang kaya. Kalau lihat orang kaya seolah-olah tidak berminat melayani. Ini juga karena kena tipu daya kekayaan, dalam hatinya ingin sekali menjadi kaya, teteapi karenat tertuduh, takut dikatakan orang: “mata duitan”, lalu timbul reaksi yang berlebihan, sehingga menjadi “alergi” terhadap orang kaya.

ORANG YANG TIDAK KENA TIPU DAYA KEKAYAAN

Banyak orang sudah kena tipu daya kekayaan ini, tetapi Ayub tidak kena,

Ayub 31: 25 Jikalau kiranya aku sudah bergemar akan kebesaran kekayaanku, dan akan segala harta benda perolehan tanganku (TL)

Ayub 31:28 Niscaya ia itupun suatu salah di hadapan hakim, laksana sudah kusangkal Allah, yang di tempat tinggi.

Ayub tidak merasa bahagia karena uang atau hartanya yang banyak. Tentu Ayub (dan patut kita juga) bersyukur kepada Tuhan mendapat berkat harta ini. (Sebab kaya itu berarti suatu “Kesempatan” yang baik untuk berbuat banyak perkara-perkara yang baik yang memperkenankan Tuhan, asalkan kita tetap hati-hati mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan sebagai bendahara yang baik dan tidak sampai kena tipu daya kekayaan). Tetapi Ayub tidak bersukacita berlebih-lebih karena kekayaannya yang limpah. Boleh senang, bahkan kita disuruh bersukacita, namun bukan karena kaya, melainkan karena Tuhan karena kebaikan, pertolongan dan kesetiaanNya menggenapi janji-janji FirmanNya (Pil 4:4; Ibr 12: 5-6)

Apa bedanya orang yang bersukacita karena hartanya dan yang tidak bersukacita karena hartanya melainkan karena Tuhan?

Bedanya ialah: kalau seseorang bersukacita karena Tuhan, maka pada waktu uangnya itu hilang, ia tetap merasa senang dan bahagia! Tidak marah-marah atau putus asa. Hampir-hampir tidak terpengaruh.

Kalau ia ditinggalkan Tuhan, baru ia merasa sangat susah dan menderita, sebab Tuhanlah sumber bahagianya, itu segala-galanya baginya (Maz 51:13)

Tetapi orang yang bersukacita karena harta, pada waktu hartanya hilang, hatinyapun hilang, skacita dan bahagianya lenyap dan ia menjadi susah dan menderita bukan main, bahkan putus asa. Tetapi orang-orang ini kalau ditinggalkan Tuhan, atau Roh Kudus dalam hatinya hilang, mereka merasa tidak kehilangan, hampir-hampir tidak terpengaruh, tidak susah. Sebab itu orang-orang beriman yang percaya, mencintai dan menghargai Tuhan Yesus, itu menggantungkan bahagianya kepada Tuhan Yesus, ia tahu bahwa seluruh hidupnya tergantung dari Tuhan saja.

Beberapa orang berkata, bahwa uang itulah nyawanya, inilah orang-orang yang juga sudah kena tipu daya kekayaan. Sebab itu kalau orang-orang ini kehilangan uangnya, nyawanya juga dapat hilang termasuk imannya juga hilang! Uang hilang, nyawa hilang! Kalau ia mempersembahkan uangnya bagi Tuhan itu terlalu sakit, sebab nyawanya dipotong karena Tuhan, sekarat, tidak kuat!

Masih banyak orang-orang beriman yang bahagianya digantungkan pada kekayaan, pada mammon. Sebab itu mereka tidak berani main-main dengan mammon. Kalau mammon menyuruh dia membolos dari kebaktian untuk bekerja, ia terpakasa harus menurut, sebab kalau tidak, ia tidak mendapat untung, tidak mendapat mammon, ia takut tidak bahagia. Kalau mammon menyuruh berdusta, ia juga harus menurut, bahkan kalau sudah kuat terikat oleh mamon, sekalipun disuruh berbuat hal-hal yang sesat, kotor, najis, apa boleh buat, ia harus patuh, kalau tidak, tidak dapat uang, ia tidak dapat hidup senang. Inilah orang yang bergantung pada uang. Hatinya betul-betul di dalam uang, harta dan pekerjaannya, sebab baginya uang berarti nyawa, uang hilang berarti nyawa melayang, tiada bahagia! Ini orang-orang yang kena tipu daya kekayaan.

Juga ini mempengaruhi pelayanannya di dalam gereja. Seringkali tugas-tugas pelayanan dalam Gereja diabaikan begitu saja, sama sekali tidak diperdulikan dan tidak ada tanggung jawab, sehingga hati Tuhan Yesus hancur dan menderita, juga hati para pemimpin. Tetapi di dalam pekerjaan duniawi, mereka takut sembarangan, sebab takut tidak mendapat uang atau nafkah.

Hanya karena uang. Sebab itu Gereja-Gereja di Barat mulai memberi uang atau upah untuk setiap pelayanan di dalam Gereja supaya mereka bekerja sebaik-baiknya. Ini salah! Ini duniawi! Sehingga orang bekerja giat di gereja hanya karena uang, bukan karena kasih Kristus. Mammon menguasai Gereja. Sehingga tidak heran, akhirnya Gereja menjadi Goa Penyamun. Orang-orang tidak lagi bekerja, berkorban, melayani karena didorong kasih Kristus, tetapi oleh ingin akan uang.

2 Korintus 5:14 Karena kasih Kristus itu menggerakkan hati kami, sebab kami yakin, bahwa Seorang telah mati karena orang sekalian, itulah sebabnya sekaliannya telah mati.

Yohanes 21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “ Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepadaNya; “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-dombaKu” (baca juga ayat 16-18)

Orang Kristen harus bekerja dengan baik dan bertanggung jawab, tetapi tidak menggantungkan hidupnya kepada pekerjaannya, melainkan kepada Tuhan saja; Hatinya harus tetap di dalam Kristus, bukan di dalam uang atau pekerjaannya. Pekerjaan yang fana cukup diberi otaknya saja, tidak perlu hatinya. Tetapi hatinya (percintaannnya) ada di dalam Kristus, dan dengan sendirinya itu juga termasuk dengan otaknya (segenap pikirannya)

II. KATA-KATA DAN SIKAP YANG JELEK

1.  KAGUM, MENGHARGAI,  MENGHORMATI DAN MEMULIAKAN ORANG YANG KAYA, SEMATA-MATA KARENA UANGNYA.

Kaya dengan jalan halal itu tidak salah, itu seperti orang lulus ujian dengan jujur, boleh ada penghargaan sepatutnya. Tetapi biasanya orang-orang tidak perduli, tidak pusing dengan asal-usul kekayaannya, pokoknya mereka melihat kaya, langsung mereka kagum. Asal orang-orang melihat rumah yang bagus dan besar, mobil, pakaian-pakaian yang mewah, macam-macam kelimpahan, mereka sudah kagum. Dan tidak jarang hatinya juga ingin sehingga iri atau sedih, merana sebab melihat nasibnya sendiri yang jelek. Ini sebab sudah kena tipu daya kekayaan!

Ada seorang ibu yang kecewa dengan suaminya yang gagal, sangat susah mencari nafkah. Ibu ini berkata: “Kawin dengan orang pincang tidak apa-apa, asal kaya”. Seolah-olah kalau tidak segan, ia hendak meneruskan kata-katanya: “Daripada saya kawin dengan orang utuh, tidak pincang, tetapi sangat melarat!”

Ini adalah salah satu tanda khas dari orang yang sudah kena tipu daya kekayaan!

Kadang-kadang ada orang yang wajahnya begitu jelek, tetapi banyak orang berkata: “Wah, gagahnya!” Sebab yang dilihat bukan wajahnya yang jelek, seperti bengkak semua, tetapi yang dilihat ialah dompetnya yang gemuk. Ini juga karena kena tipu daya kekayaan, sehingga menjadi kagum, menghormati, memuliakan orang-orang karena kekayaannya itu.

Minder karena miskin, sombong karena kaya, malu karena bajunya murah, jelek, bangga karena bajunya bagus, tasnya mahal, malu menawar sebab berlagak kaya, dan sebagainya, semua ini karena kena tipu daya kekayaan.

2. CEPAT MENIRU ORANG KAYA.

Sebab kagum, tidaklah heran kalau orang-orang kaya itu menarik banyak perhatian dan segala mode, cara hidup, gayanya, lagaknya dan gertaknya lekas ditiru orang banyak. Mereka senang meniru, sebab rasanya sudah menjadi kaya, sudah “1/4 bahagia” sebab mereka yakin bahwa kaya itu enak dan bahagia. Orang-orang beriman yang masih buta juga ikut-ikut meniru membabi buta, sehingga jatuh ke dalam banyak dosa (Kel 23:2). Tetapi orang-orang beriman yang tidak kena tipu daya kekayaan, tidak takut memakai cara, gaya, mode-mode dan kebiasaan hidup yang sudah dikenal umum sebagai gejala-gejala orang miskin. Misalnya naik sepeda; seringkali hal ini menggambarkan ciri hidup orang miskin, sebab itulah banyak orang yang ingin berolah raga naik sepeda takut naik sepeda, sehingga mereka membeli sepeda yang tidak dapat lari untuk dinaiki di kamar. Tetapi orang-orang yang tidak kena tipu daya kekayaan, kalau perlu atau kalau memang cara itu yang dipakainya, tidak takut naik sepeda dan sama sekali tidak minder! Begitu juga dengan ciri- ciri hidup, gaya dan mode yang lainnya!

Sebab itu semua mode, gaya dan cara hidup yang biasa dipakai orang miskin itu menjadi celaan orang banyak dan orang malu memakainya kalau tidak terpaksa! Sehingga orang-orang miskinpun kalau bisa memakai gaya dan cara hidup orang-orang kaya. Misalnya pakaian, sepatu, cincin, perhiasan yang mahal-mahal atau selalu berganti-ganti supaya jangan dikira miskin. Ini semua karena sudah kena tipu daya kekayaan.

Memang orang yang kena tipu daya kekayaan sehingga kagum, menghargai, memuliakan mammon, itu tidak lagi kagum akan Tuhan, tidak dapat berTuhankan Yesus Kristus, sebab itu tidak heran orang-orang yang kena tipu daya kekayaan ini tidak dapat menjadi rohani, melainkan bantut (tidak dapat berbuah-buah) hidup rohaninya. Begitu licin mammon ini.

Matius 6:24. tiada dapat seorang juapun bertuankan dua orang; karena tak dapat tiada seorang dibencinya dan seorang dikasihinya kelak, atau ia berpegang pada seorang dan meringankan yang lain. Tiadalah dapat kamu bertuhankan Allah bersama-sama dengan mammon (TL).

3. MENGHINAKAN ORANG MISKIN.

Orang-orang yang kena tipu daya kekayaan ini biasanya menganggap orang miskin itu kecil dan tidak berarti serta menghinakannya. Orang beriman yang baikpun, yang tidak mengerti dan tidak berjaga-jaga, dapat ketularan sikap yang sama, yaitu menganggap taraf atau harga orang kaya itu lebih baik sedikit (atau banyak) daripada orang miskin. Ini jahat di hadapan Tuhan!

Yakobus 2:1-4 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya:”Silahkan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”, bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Ini yang kita lihat di dalam dunia dan di antara sebagian orang-orang Kristen. Karena melihat pakaiannya, gayanya, baunya, kadonya, seseorang menghargai atau menghinakan!

Seorang bertemu dengan 2 orang yang sama-sama tidak dikenal. Yang seorang nampak kaya yang lainnya miskin. Orang ini menghargai dan lebih kagum akan yang kaya. Ini berarti sudah kena tipu daya kekayaan!

ORANG YANG TIDAK KENA TIPU DAYA KEKAYAAN.

Elisa tidak membedakan orang kaya dan miskin. Waktu Naaman, jendral Syam yang termasyur itu datang, ia hanya menyuruh hambanya menemuinya serta menyuruhnya mandi di kali Yarden. Naaman yang kaya dan berpangkat itu marah besar. Biasanya di mana-mana ia datang, semua orang menghormati dan mengaguminya. Tetapi Elisa menuruti pimpinan Tuhan dan tidak membedakan orang.

Bagaimana dengan kita? Kalau juga sudah kena tipu daya kekayaan, bertobatlah! Buanglah tipu daya kekayaan itu dalam nama Tuhan Yesus. Sucikanlah pikiran kita dengan Firman Tuhan (Ef 5:26) dan pertolongan Roh Kudus!

ORANG MISKIN ITU BAIK?

Ini bukan berarti bahwa semua orang miskin itu baik, Tidak! Sama saja, semua orang berdosa itu hamba setan, baik kaya baik miskin. Baik kekayaan, baik kemiskinan itu semua dapat merusakkan manusia!

Dalam pelajaran ini kita hanya melihat pengaruh jelek dari kekayaan dalam orang berdosa dan pengaruh yang baik, yaitu kekayaan sebagai alat yang berguna di dalam tangan orang- orang suci yang mencintai Tuhan yang tidak kena tipu daya kekayaan ini. Pengaruh jelek kemiskinan akan dibahas pada kesempatan lainnya.

Ada juga banyak perkara-perkara yang jelek dari orang miskin yang tidak bertobat, misalnya: tidak jujur, bohong, iri, malas, tidak dapat ditolong dan lain-lain. Ini semua jelek dan hina, ini salah, ini dosa dan tidak patut dihargai, tetapi jangan menghinakan orang atau tidak dapat menghargainya semata-mata hanya karena kemiskinannya.

4. MUDAH TERPENGARUH UANG ATAU ORANG BERUANG.

Orang kaya lebih mudah mencari pengaruh dan teman.

Amsal 14:20 Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak.

Mudah membuat orang tertawa dengan uang (hadiah), lebih-lebih di antara orang dunia. Jangan kita tertipu oleh ajakan dan pergaulan orang kaya. Jangan segan atau minder dengan orang kaya, itu tanda sudah kena tipu daya kekayaan (Tetapi jangan sentimen, iri dan benci kepada orang kaya, itu sama saja sudah kena tipu daya kekayaan; sebab orang yang ingin akan uang tetapi gagal, lalu iri, itu dosa!).

Ada seorang Kristen yang jahat dan keji berkata, bahwa bagi dia tidak sulit mencari rahasia. (Orang ini tukang barter berita, hatinya seperti bak sampah (baca TE nomor 1 -Red), suka fitnah, umpat, yang mulut dan hatinya kotor). Katanya: “Saya dapat saja mengeruk segala berita dan rahasia. Caranya mudah, misalnya pada suatu waktu saya ingin mengetahui lebih banyak tentang seseorang, saya dekati dia, lalu saya bawa mobil yang bagus, saya ajak makan di restoran yang besar, dengan banyak makanan, lalu saya menanyai dia tentang segala hal yang ingin saya ketahui. Tidak sukar, saya mendapat semua berita dan data yang tersembunyi!

Memang orang yang sudah kena tipu daya kekayaan itu mudah disuap dengan uang. Tetapi orang beriman yang tidak kena tipu daya kekayaan, lebih-lebih yang berjalan dipimpin Roh, dapat lolos dari jerat-jerat semacam ini, bahkan dengan kuasa Allah dapat menobatkan orang jahat  itu atau menegurnya.

Masih banyak orang masuk dalam jerat-jerat yang sederhana seperti ini oleh karena sudah kena tipu daya kekayaan. Segan karena kayanya, apalagi kalau diberi hadiah, makanan yang limpah, dan lain-lain, lalu takluk kepadanya dan menurut segala kehendak hatinya meskipun salah; mau diajak ngrasani, mau diajak apa saja. Ini terlalu bodoh, sudah terbius oleh tipu daya kekayaan sehingga kesucian/ kebenaran hidupnya makin rusak, bahkan ini juga akan merugikan dan merusakkan pekerjaan Tuhan yang dilayaninya. Jangan sampai kena tipu daya kekayaan dunia ini, atau kalau toh sudah kena, bertobatlah!

Ingat, orang kaya itu hanya “sandiwara”, sebentar di atas pentas dunia ini. Justru orang-orang suci, sekalipun miskin, itu mulia untuk kekal (Yak 2:5), bukan hanya sandiwara sementara. (tetapi orang suci itu tidak sama dengan orang melarat, apalagi yang sampai berhutang untuk nafkahnya, itu berarti ada yang tidak betul di hadapan Tuhan, ini orang suci yang tidak suci!).

5. MUDAH IRI, DENGKI DAN BENCI.

Lebih-lebih orang yang beringin-ingin menjadi kaya tetapi gagal terus, atau tidak cepat menjadi kaya, seringkali pikirannya menjadi jahat dan penuh iri. Ini merusak seluruh hidup imannya. Orang yang dapat berpada, yang cinta Tuhan tidak akan iri akan orang kaya dan tidak akan ingin milik mereka. Apakah kita iri dengan “nasib baik” seorang tahanan yang makan besar di dalam selnya? Tentu tidak! Orang kaya itu sangat sukar masuk Sorga, sekalipun dengan banyak kemewahannya, lebih untung kita yang sudah percaya kepada Tuhan dan pasti kita masuk Sorga.

Mazmur 37:16 Lebih baik yang sedikit pada orang benar, daripada yang berlimpah-limpah pada orang fasik.

Amsal 15:16 Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan Tuhan daripada banyak harta dengan disertai kecemasan.

III. MATANYA MENJADI JAHAT

Amsal 28:20,22 Orang yang amat setiawan adanya itu berkelimpahan berkat, tetapi orang yang  dengan segera hendak menjadi kaya itu tiada terlepas daripada salah. Orang yang dengan segera hendak menjadi kaya itu jahatlah matanya, tiada ia melihat kepapaan (kemiskinan) datang atasnya kelak (TL).

Orang yang kena  tipu daya kekayaan sehingga beringin-ingin akan lekas kaya, matanya menjadi jahat sehingga sukar membedakan kesempatan yang dari Tuhan dan yang dari setan! Seringkali asal ada uang, ia ingin, ia mau. Sebab itu ia mudah terjerat dalam banyak perkara-perkara dosa sehingga berkelimpahan dengan dosa. Misalnya menjadi curang, bohong, dusta, korupsi, percabulan, perzinahan, berkata sembarangan meng-hina imannya karena uang, benci, dendam, bahkan membunuh terang-terangan atau sembunyi-sembunyi dan macam-macam perbuatan jahat yang melawan Firman Tuhan. Orang yang ingin akan uang itu sudah mata gelap, ia berani menghalalkan segala cara, asal mendapat uang. Hidupnya penuh dengan macam-macam dosa,  lebih-lebih yang tersembunyi, tetapi Allah melihat semuanya dengan jelas. Jangan ingin akan uang, jangan ingin lekas kaya, tinggalkan hal itu, itu sumber segala celaka yang mematikan, bahkan sampai Neraka!

Amsal 23:4 Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya tinggalkan niatmu ini.

Jangan ingin akan uang. Berpadalah!

Kalau ada kebutuhan, jangan kuatir, percayalah akan Allah, minta dengan  iman kepada Bapa!

Ingat, kita ini anak-anakNya. Allah yang maha besar dan maha cinta itu Bapa kita (Baca “anak sendiri”, TE 16 hal 7) Tuhan dapat memberi kita sebagai anak-anakNya nafkah yang lebih besar dari hasil keringat kita. Selain itu kita dapat menerima kebutuhan kita (bedakan dengan keinginan) dari Tuhan dengan iman! (Baca TE 15 tentang nafkah dan iman) Jangan takut, jangan kuatir. Percayalah akan janji-janji Firman Tuhan. Sebab itu jangan ingin akan uang, berpadalah, tetapi juga jangan berhutang, itu bukan kehendak Tuhan, pakailah iman kita pada waktu kita menghadapi “kebutuhan” !

Roma 13:8 Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Torat.

IV. PERBUATAN-PERBUATAN DOSA KARENA TIPU

DAYA KEKAYAAN

Orang yang sudah kena tipu daya kekayaan itu penuh dengan keinginan atau percintaan akan uang. Lebih besar percintaan akan uang ini, lebih kuat ia didorong untuk segala macam jenis kejahatan.

1Timotius 6:9-10 Tetapi orang yang berkehendakkan (ingin) menjadi kaya itu jatuh ke dalam pencobaan dan jerat dan banyak keinginan yang bodoh dan yang mendatangkan bencana, yang meneng-gelamkan manusia ke dalam keru-sakan dan kebinasaan. Karena tamak (cinta) akan uang itulah akar segala jenis kejahatan; maka ada orang, yang merebutnya itu, telah tersesat daripada iman, sehingga menikamkan banyak dukacita ke dalam dirinya (TL).

Belajarlah berpada dan mencari Kerajaan Sorga lebih dahulu. Perlajari dan mengertilah baik-baik tentang pengharapan yang kekal dan mulia di dalam Tuhan Yesus, sehingga hati kita bercintakan Dia. Jangan bercintakan mammon, jangan ingin lekas kaya. Kalau sudah waktunya dan kita dapat membuang racun/ bahayanya, maka kita akan dapat menerima “beban” kekayaan ini dari Tuhan tanpa kena celakanya, bahkan dapat menjadi suatu kesempatan yang baik di hadapan Tuhan.

C. BAHAYANYA MENJADI ORANG KAYA

(Tentu yang dimaksudkan disini ialah orang kaya yang tidak rohani yang kena tipu daya kekayaan).

Orang yang menjadi kaya itu bukan hanya karena ia berusaha/ berhasil, tetapi karena Allah yang mengangkatnya.

1Samuel 2:7a Tuhan membuat miskin dan membuat kaya;

Orang yang mengerti ini ak1an sadar bahwa  mereka itu sebetulnya bendahara Tuhan yang  harus mengadakan perhitungan atau mempertanggung jawabkan semuanya kepada Tuhan.

Matius 25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. (Rum 14:12)

Semua itu berasal dari Tuhan 1Kor 4:7 dan sewaktu-waktu Tuhan dapat dan berhak mengambil kembali.

Ayub 1:21 katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Pkh 5:14; 1Tim 6:7).

Tetapi banyak orang tidak sadar seperti orang-orang Israel.

Hosea 2:7 Tetapi dia tidak insaf bahwa Akulah yang memberi kepadanya gandum, anggur dan minyak, dan yang memperbanyak bagi dia perak dan emas yang dibuat mereka menjadi patung Baal.

Orang yang tidak mengerti akan mudah merasa dirinya “lebih” karena kaya, padahal semua itu dari Tuhan. Akibatnya ialah:

I. SIKAPNYA SOMBONG

Orang yang sombong itu menyakitkan hati sesamanya Gal 5:26 dan menghina Allah.

Mengapa? Sebab semua yang ada pada kita itu dari Allah.

Seorang bapa memelihara dan menyekolahkan anaknya baik- baik. Sebab anak ini bodoh, si bapa mengajari anaknya sendiri setiap hari beberapa jam (Bapa ini selalu memberi dorongan dan semangat kepada anknya) Akhirnya dengan susah payah anak ini lulus menjadi Sarjana Ekonomi.

Lalu si Bapa mencarikan pekerjaan. Ia menghubungi teman-teman baiknya, akhirnya anak ini bekerja dan menjadi Direktur suatu perusahaan. Pada suatu kali ada perselisihan pendapat, anak ini marah dan mengusir bapanya serta berkata, aku tidak butuh bapa, aku dapat bekerja sendiri, mengapa selalu diganggu. Bapa ini hatinya sakit sekali. Si anak ini lupa, bahwa semua yang ada padanya itu dari bapa dan sekarang ia berani menyombongkan dirinya. Begitu juga jahatnya kepada Allah, orang yang menyombongkan diri

Ulangan 8:18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk mem-peroleh kekayaa, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkanNya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.

Bahkan juga yang ada pada orang kafir itu dari Allah. (Tentu ukuran-ukuran atau patokan-patokan Allah dalam mengolah anak-anakNya sendiri itu lain daripada kalau Allah menangani orang kafir Pertimbangan Allah atas orang kafir itu hanya sampai di dunia. Tetapi bagi anak-anakNya Allah mempertimbangkan segala perkara, termasuk tentang uang,  bukan hanya untuk didunia ini, tetapi Allah juga memperhitungkan hidup kekal yang akan datang! Untung! Sebab itu Firman Tuhan berkata:

Matius 16:26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Nebukadnezar, raja Babil diizinkan Tuhan menjadi sukses dan kaya tetapi kemudian ia menjadi sombong. Sesudah dihukum ia mau bertobat sungguh-sungguh dan merendahkan diri dihadapan Allah,  sehingga diampuni dan dipulihkan kembali, bahkan Tuhan mengangkatnya menjadi lebih besar dari semula.

Belsyasyar anaknya tidak mau merendahkan diri sekalipun ia sudah tahu segala perkara tentang bapanya , sebab itu ia direndahkan dan dibinasakan Allah. Dan 5:26.

Kalau kita sadar bahwa semua yang ada pada kita itu dari Allah, maka kita tidak akan mudah menjadi sombong, tetapi dapat merendahkan diri.  Bahkan kita akan penuh syukur kepada Tuhan.

Si A meminjam mobil sahabatnya dan ia mendapat kebebasan memakainya untuk 2 hari. Pada waktu memakai mobil itu rasa-rasanya seperti miliknya sendiri. Tetapi Si A tidak berani menyombongkan dirinya sebab ia tahu bahwa itu bukan miliknya, bahkan ia penuh terima kasih kepada sahabatnya itu.

1Korintus 4:7 Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? (TL: siapakah gerangan melebihkan engkau) Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapa-kah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?

RENDAH HATI yang betul dihadapan Allah itu lain daripada rendah hati didalam dunia, yang seringkali hanya secara luar, tetapi hatinya tetap ingin puji dan sombong.

Ada seorang kaya mengajak temannya ke rumahnya. Ia berkata” “marilah ikut ke pondok saya yang sederhana” Sebetulnya rumahnya tingkat 3, amat besar dan sangat mewah. Dalam mulutnya ia merendahkan diri, tetapi dalam hatinya ia berkata” kalau kamu sudah melihat rumahku baru kamu kagum dan mau tidak mau kamu akan memuji serta menghargai aku! Jangan-jangan kamu pingsan melihat kemegahan ku!” Dari luar semua orang memuji “kerendahan hati orang kaya ini, tetapi dalam hatinya ia sombong dan gila hormat!

Untuk ukuran dunia, orang kaya ini sudah rendah hati, tetapi di hadapan Allah sama sekali tidak rendah hati. Orang yang rendah hati menurut Alkitab itulah orang  yang mengakui bahwa semua yang ada pada kita itu dari Allah, sebab itu patutlah  Allah dipuji dan dipermuliakan didalam segala perkara itu.

Dalam dunia, sekalipun orang kaya itu menyombongkan dirinya, orang-orang di sekitarnya masih dapat menerimanya, mereka tidak sakit hati. Mengapa?  sebab hampir semua orang dunia sudah kena tipu daya kekayaan, sehingga mereka menghargai, mengagumi, menjunjung dan memuliakan orang-orang kaya . Sebab itu hampir semua orang kaya dalam dunia itu sombong; mereka merasa lebih besar, lebih mulia, lebih indah, lebih, karena kekayaannya, padahal itu hanya pinjaman dari Allah.

Pengkhotbah 5:14 Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya.

Jangan sombong, nanti direndahkan oleh Tuhan. (Mat 23:12), “pinjaman” itu dicabut kembali, maka orang itu akan menjadi miskin kembali dan itu akan lebih pahit dan lebih susah dari permulaannya. Ingat, sewaktu-waktu Allah dapat dan berhak mengambil kembali. Luk 12:20 Yer 51:13).

Bagi Allah membuat seorang menjadi miskin atau menjadi kaya, itu sama mudahnya, Ia dapat melakukannya dalam sekejab, dalam sebulan, dalam setahun atau dalam waktu berapa saja menurut hikmatNya.

1Tawarikh 29:12 Sebab kekayaan dan kemuliaan  berasal dari padaMu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tanganMulah kekuatan dan kejayaan; dalam tanganMulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.

Sebab itu akuilah bahwa semua dari Tuhan dan pakailah semua sesuai de-ngan kehendak Allah.

II. DOSANYA MAKIN LIMPAH

Harta itu alat atau fasilitas yang membuat orang jahat bertambah jahat dan orang suci bertambah suci, tergantung dari orang nya sendiri.

Jadi harta itu berarti tambah dosa atau tambah suci. Harta itu alat, tetapi bagi orang dosa itu juga merupakan ikatan dan ilah mammon yang dapat mendorong orang itu dengan kuat, menjerumuskannya ke dalam perbuatan dosa yang lebih limpah.

Setiap orang berdosa itu ada kemungkinan berbuat segala macam dosa, lebih- lebih kalau sudah ada keinginan-keinginan dosa, tetapi ini belum sempat tumbuh dalam perbuatan-perbuatan dosa. Harta yang limpah itu memberi banyak kesempatan (dan menarik banyak teman) untuk berbuat dosa. Sehingga oleh kelimpahan uang, keinginan-keinginan itu menjadi kenyataan. Misalnya judi, zinah, dendam, benci ingin kedudukan dsb. Kalau ada banyak uang, orang itu akan lebih mudah mendapatkan banyak teman-teman dan kesempatan untuk menuruti keinginan-keinginan tersebut, sehingga limpah dengan dosa.

Hal ini sudah menjadi pepatah dalam dunia: kesempatan membuat orang menjadi pencuri (berdosa). Karena itu harta bagi orang dunia itu berarti dosa lebih banyak!

Waktu Solaiman lemah, ia dikuasai naluri-naluri sexnya, maka kelimpahan hartanya membuat semua keingan- keinginan itu menjadi kenyataan. Itu sebabnya hidupnya menjadi rusak oleh 1000 perempuan. Andaikata Solaiman miskin, ia tidak akan mempunyai kesempatan yang begitu besar untuk jatuh begitu keji. Sebab itu pada akhirnya, sesudah rusak ia berkata lebih baik ia menjadi pas-pasan (cukup) saja.

Amsal 30:8  …. jangan apalah berikan daku kepapaan atau kekayaan, melainkan peliharakanlah aku de-ngan rezeki yang cukup (TL).

Bagi orang berdosa, juga bagi orang beriman yang menuruti nafsunya: tambah kaya, tambah macam-macam dosa tambah celaka!

Jangan ingin menjadi kaya atau paling tidak  jangan ingin lekas-lekas menjadi kaya, lebih baik menjadi rohani lebih dahulu.

Amsal 23:4 Janganlah engkau berlelah hendak menjadi kaya, jikalau kiranya engkau berakal, maka tinggalkanlah akan dia. (jadi rohani lebih dahulu) (TL)

Bagi orang yang hidup dalam kesucian oleh kuasa Roh dan Firman Tuhan ia mengerti bahwa kaya itu kesempatan yang indah untuk berbuat lebih banyak perkara-perkara kebajikan/ kasih.

III. SIFAT-SIFATNYA LEBIH MUDAH RUSAK.

Ams 18:23 Bahwa orang miskin berkata dengan memohon- mohon, tetapi orang kaya menyahut dengan kasar (TL).

Orang kaya lebih mudah menjadi lebih kasar, mudah maki- maki, kejam, sombong, dusta, penipu dsb. Seringkali kepada orang yang lebih miskin, orang berkata-kata seenaknya, tetapi kepada orang yang lebih kaya, kata- katanya diatur kata demi kata, supaya jangan sampai menyakiti hatinya. Ini tandanya sudah kena tipu daya kekayaan.

Mikha 6:12 Orang-orang kaya di kota itu melakukan banyak kekerasan, penduduknya berkata dusta dan lidah dalam mulut mereka adalah penipu.

Sebab itu tidaklah heran kalau kita seringkali melihat orang-orang yang mewah, gagah, anggun dari luarnya, tetapi ternyata jiwanya keji dan hina. Sebetulnya orang miskin dan kaya itu sama-sama orang berdosa, sama-sama dapat menjadi rusak.

TETAPI MENGAPA ORANG KAYA SIFAT-SIFATNYA LEBIH MUDAH RUSAK? SEBAB:

1. KESEMPATAN MENJADI JAHAT, LEBIH BANYAK.

Tanah yang mendapat lebih banyak hujan, rumputnya lebih subur daripada tanah yang gersang.

Begitu pula pada orang kaya sebab hujannya lebat (dorongan-dorongan dan kesempatannya limpah sebab banyak uangnya) “rumputnya” (sifat-sifat yang jelek itu) subur; sebab uangnya banyak, kerusakannya makin menjadi-jadi. Orang miskin juga mempunyai kecenderungan dosa yang sama, tetapi tidak mendapat kesempatan yang cukup, sebab tidak mempunyai cukup uang untuk melaksanakannya. Sebab itu tanpa Tuhan, makin kaya, biasanya  makin banyak dosanya.

2. KUASA UANG  YANG MERUSAK TABIAT.

Uang itu berarti kuasa (dalam banyak hal, tetapi tidak semuanya). Pepatah dunia (Inggris) juga mengatakan: Kuasa itu merusak (sifat dan kepribadian), lebih-lebih kuasa mutlak itu merusakkan mutlak. Orang dunia juga menyadari hal ini, tetapi mereka tidak berdaya. Sekalipun mereka sadar bahwa kekayaan dapat merusak, heran (mereka sendiripun heran)  mereka tetap ingin menjadi kaya secepat-cepatnya. Kalau disuruh memilih antara miskin dan kaya, mereka tetap memilih kaya! Sebab sudah kena tipu daya kekayaan.

Orang beriman yang tidak kena tipu daya kekayaan, yang tidak bertuhankan mammon, lain! Kita punya kuasa Allah memperhambakan uang sehingga tidak diperhambakan, dikuasai dan dirusakkan oleh uang.

3. DUNIA DAPAT MENERIMA  ORANG KAYA YANG JELEK.

Dunia “banyak memberi ampun” pada sifat-sifat jelek orang kaya. Dunia dapat menerimanya asalkan si orang kaya mau mengeluarkan uangnya dengan limpah.

Ada seorang anak orang kaya yang masih kecil (+/- 8 th) pergi ke tukang cukur. Langsung ia menyodorkan uangnya pada bapak tukang cukur tsb. Rupa-rupanya kelebihan uangnya pun tidak diminta kembali. Sambil menunggu gilirannya, ia mengeluarkan kelerengnya dan mulai menembakkan kelerengnya ke mana-mana, tidak peduli akan siapapun yang ada di sekitarnya, suster pengawalnya juga hanya mengikutinya. Tukang cukur tertawa manis melihat anak yang kurang ajar tsb, tidak peduli sifatnya yang jelek, asalkan uang masuk, lebih- lebih kalau banyak.

Orang-orang beriman yang kaya dapat juga menjadi rusak seperti ini, tetapi mereka yang mengerti dan yang celik matanya, tidak mau memakai “kesempatan yang merugikan” ini!

Banyak penyelidikan dalam dunia juga membuktikan hal- hal ini. Mereka menemukan bahwa justru anak orang-orang kaya dan berpangkat lebih banyak yang rusak hidup dan tabiatnya. Sebab itu, juga orang-orang beriman yang kaya, lebih-lebih anak-anaknya mendapat lebih banyak tantangan dalam menumbuhkan sifat-sifat baru dari Kristus dalam hidupnya sehari-hari.

4. BERSANDAR PADA UANGNYA

Ams 18:11 Bahwa pada sangka orang kaya harta bendanya baginya  akan kota benteng dan akan pagar tembok yang tinggi.

Karena uang itu kuasa, maka biasanya orang-orang kaya bersandar pada  uangnya yang menjadi bentengnya. Sedikit-sedikit, uangnya yang  diajukan. Dalam segala persoalan ia berharap pada uangnya. Ini umum  untuk orang dunia. Teteapi kalau uangnya lenyap, ia menjadi sangat  minder, takut dan putus asa, sebab uang itulah kuatnya. Jangan meniru  orang dunia yang membiasakan diri bersandar pada uang, tetapi  bersandarlah pada kuasa Allah.

Orang yang bersandar pada Allah tidak akan mendobrak jalan buntu dari  Allah dengan uangnya, tetapi berdoa dan mendapat pengertian dari  Tuhan, mengapa jalannya buntu, sehingga mengambil jalan lain yang dikehendaki Tuhan, maka hidupnya akan menjadi amat indah di dalam perencanaan Allah, tidak memaksakan jalan yang salah.

5. DIPERHAMBA DAN DIIKAT  OLEH  UANG

Orang-orang berpikir bahwa merekalah pemilik uangnya. Tetapi sebetulnya terbalik. Justru mereka dimiliki, diikat, ditawan oleh uangnya, menjadi hamba ilah uang, yaitu mammon. Mereka begitu terikat akan uangnya, terikat oleh percintaannya akan uang! Tanda-tanda ikatan ini antara lain:

Mereka makin takut kehabisan uang, takut miskin, makin kikir dan tamak, orang-orang ini makin haus akan uang dan tak pernah puas (Pkh 5:9).

Sebab itu sekalipun sudah kaya, ia masih mau juga  menggunakan setiap kesempatan gelap untuk mendapatkan  uang supaya timbunan (kuburan) uangnya makin besar. Tetapi  orang-orang beriman yang celik itu lain. Mereka tahu bahwa  uang itu dari Tuhan datangnya, Tuhan itu sumbernya dan  sumber ini tidak pernah habis dan tidak dapat diganggu gugat  oleh apapun jua. Sebab itu orang beriman hidup sejahtera, tidak  kuatir sebab sumbernya tidak mungkin habis.

Orang dunia lain, mereka haus terus, mengumpulkan terus dan  tersiksa pada waktu mengumpulkan dan menimbun, serta makin  limpah dengan dosa, siap diseret setan ke neraka. Tetapi  hartanya pada akhirnya akan dipindahkan Allah (dengan jalan  halal!) kepada orang-orang yang benar yang tidak kena tipu  daya kekayaan, untuk kepentingan pekerjaan Tuhan akhir  zaman yang hebat itu.

Jadi sebetulnya orang-orang dunia ini terus mengumpulkan, hanya untuk pada akhirnya diberikan pada orang-orang yang benar di hadapan Allah (Pkh 2:26 Maz 39:7 Ay 27:16-17 Kel 12:36 Yes 62:9 Ul 6:11 Ams 28:8 dan lain-lain).

6. MUDAH MELUPAKAN TUHAN

Ulangan 8:13-14 Dan lembu dan dombapun sudah diperbanyakkan dan kamu sudah beroleh banyak emas dan perak dan segala harta benda. Kemudian hatimu bermegah-megah dan kamupun melupakan Tuhan, Allahmu yang telah menghantar akan kamu keluar dari negeri Mesir, yaitu dari tempat perhambaan itu (TL).

Pada waktu dalam keperluan, lebih-lebih waktu terjepit, orang mudah berseru kepada Tuhan seperti Yunus dan lain-lain. Tetapi kalau sudah kaya, sudah tidak ada keperluan, “tidak perlu” apa-apa lagi dari Tuhan, tidak butuh Tuhan, maka mereka mudah melupakan Tuhan atau tidak lagi membutuhkannya.

Orang-orang kaya yang siang malam membutuhkan Tuhan dan lekat dengan Tuhan, supaya mendapatkan perkara-perkara yang dari atas (Kol 3:1-3) itu tentunya orang-orang yang rohani, seperti Ayub! (Ada juga orang kaya yang terus berseru-seru kepada Tuhan supaya menjaga uangnya baik-baik dan memperbanyakkannya. Ini belum tentu rohani).

Kaya lalu melupakan Tuhan adalah kecenderungan banyak orang, termasuk orang Israel, yaitu Yesyurun, kalau sudah gemuk, bukan saja lupa akan Tuhan, tetapi juga menyepak Allahnya, menjadi sombong, dan menggantikan Dia dengan berhala-berhala kesukaannya sendiri.

Ulangan  32:15 Tetapi serta gemuklah Yesyurun maka menyepaklah ia! (Bahwasanya engkau telah menjadi gemuk dan besar dan tambun belaka!) lalu ditinggalkannya Allah, yang telah menjadikan dia, dan dipermainkannya gunung batu selamatnya. (TL).

Ini amat jahat. Jangan menjadi orang yang tidak tahu berterimakasih seperti Yesyurun ini.

Ini semua adalah perkara-perkara jelek, racun-racun dan bahayanya atau celakanya orang kaya yang buta.

Kita perlu mengetahui dan mengenal gejala-gejala ini baik-baik supaya dapat menyadari kalau ada hal-hal yang jelek ini di dalam diri kita sendiri dan membuangnya. Suapaya kita bebas dari ingin akan uang, bebas dari celaka orang yang ingin akan uang dan bebas dari celaka orang kaya, jangan sampai rusak seperti orang-orang dunia.

Orang-orang yang rusak karena kaya itu:

1. Tidak dapat memakai kesempatan-kesempatan  kekayaannya ini dengan baik meskipun bagi orang suci ini adalah kesempatan-kesempatan yang indah.

2. Orang yang kena racunnya orang kaya itu susah masuk Sorga, kena “bela unta” Mat 19:23. Apa gunanya mendapat seluruh kekayaan dunia kalau jiwanya binasa? Mat 16:26.

Zakheus terlepas dari tipu daya kekayaan, lepas dari ikatan-ikatan mammon, sebab itu selamat dari Tuhan datang kepadanya (Luk 19:9).

BAGAIMANA DENGAN ORANG-ORANG  KRISTEN YANG SEKARANG SUDAH KAYA?

Tergantung keadaan rohaninya.

Ada orang-orang Kristen yang kaya JUGA KAYA ROHANI. Orang-orang seperti ini mempunyai lebih banyak kesempatan dengan uangnya; Dan sebab ia seorang yang rohani, ia dapat menggunakan kesempatan-kesempatan ini  untuk memperkenankan hati Tuhan, untuk berbuah-buah lebih lebat. Ia dapat menebus banyak waktu, sehingga waktu untuk masa teduh, ibadat dan pelayanannya limpah dan ini memberi pengaruh yang baik bagi pertumbuhan imannya. Orang-orang seperti ini makin kaya makin indah dihadapan Tuhan.

Tetapi ada juga orang Kristen yang kaya, namun KEADAAN ROHANINYA JELEK atau belum tumbuh, sebab itu keadaannya seperti orang dunia, sehingga seringkali juga kena segala racun-racun kekayaan.

Mengapa? Sebab:

1. Tidak sungguh-sungguh bertobat, maka sekalipun ia seorang yang beriman, ia masih tetap memakai pakaian lama (hidup lama) seperti orang dunia (termasuk segala tipu daya kekayaannya).

Orang itu harus bertobat sungguh-sungguh  dan menggantikan segala cara hidup duniawi dengan cara hidup yang rohani, yaitu sifat-sifat baru yang sesuai dengan Firman Tuhan.

2. Tidak mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang uang dan tipu daya kekayaannya Mark 12:24. Sebab itu tidak heran, orang-orang Kristen kaya yang tidak rohani ini juga kena segala tipu daya kekayaan.

Orang-orang Kristen yang sudah lahir baru, pikiran, sikap, kata-kata dan perbuatannya itu tergantung dari sampai di mana ia mengerti kebenaran Firman Tuhan dan sampai di mana ia mau mentaatinya, dan sampai di mana ia mau berdoa berharap Tuhan.

Kalau ia lebih banyak mengerti dan taat, ia akan disucikan dari segala tipu daya kekayaan dunia ini, sehingga rohaninya menjadi baik, pengertian Firman Tuhan limpah dan tumbuh, maka ia juga akan mengalami bahwa kekayaannya itu menjadi suatu kesempatan yang lebih besar untuk berbuat perkara- perkara yang baik di hadapan Tuhan.

Ayub kaya raya, tetapi sangat indah di hadapan Tuhan, tidak seperti orang2 dunia yang kaya uang tetapi juga kaya dosa.

Jangan seperti Solaiman yang kaya, tetapi ia juga kaya dosa seperti orang dunia.

D. BAGAIMANA DAPAT MENJADI KAYA DAN ROHANI?

1. ADA WAKTUNYA.

Untuk setiap perkara ada waktunya.

Pengkhotbah 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun  di bawah langit ada waktunya.

Tuhan tahu bila waktunya yang terbaik bagi masing-masing kita supaya  jangan sampai rusak oleh kelebihan harta. Sambil “menunggu” dengan  berpada kita bertumbuh dalam rohani.

2. MENGERTI KEBENARAN FIRMAN TUHAN TENTANG  UANG

Mengerti Firman Tuhan supaya jangan kena tipu daya kekayaan.

2Korintus 2:11 Supaya jangan  kita dialahkan oleh daya iblis, karena kita mengetahui muslihatnya (TL)

Jangan sampai kena celaka dari orang-orang yang ingin kaya dan bela orang kaya. Orang yang kena tipu daya kekayaan dapat menjadi kaya, tetapi sukar sekali menjadi orang rohani. Ia akan berusaha mati-matian menjadi kaya, sehingga keinginan ini merusakan hidup rohaninya, matanya jadi kabur, mammon jadi berhalanya dan Tuhan dikecilkan, rohaninya bantut.

Apalagi kalau sudah menjadi kaya, ia tidak lagi membutuhkan Tuhan, makin rusak, dan sudah dekat kepada kebinasaan, kena bela “unta”. Sebab itu perlu sekali kita mengerti Firman Tuhan tentang segala seluk beluk mengenai uang dan kaya.

Orang yang sudah mengerti dan mau percaya akan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan tentang hal uang, tandanya ialah dapat hidup berpada dengan sukacita, tidak menyesal, tidak minder, tidak merana jiwanya tetapi bergembira di dalam Tuhan senantiasa.

1Timotius 6:8 Tetapi sedang ada pada kita makanan atau pakaian, biarlah kita berpada dengan itu (TL).

Mungkin ia naik sepeda, temannya naik mobil bagus, tetapi ia dapat bergaul dengan sukacita, tidak minder, tidak iri dan tidak terganggu oleh perbedaan kekayaannya.

Ini faktor yang penting supaya kalau besok-besok jadi kaya, tetap rohani, tetap indah dihadapan Tuhan.

3. SADARLAH  BAHWA SEMUA YANG ADA PADA KITA ITU MILIK TUHAN

Ini sangat penting dari permulaan supaya jangan sampai sombong. Sebab ini milik Tuhan maka pakailah uang Tuhan itu sebagai bendahara yang penuh tanggung jawab,  artinya penggunaan uang itu harus sesuai dengan Firman Tuhan.

1Petrus 4:10 Maka sekadar karunia yang ada pada masing-masing, hendaklah melayani di antara kamu sendiri, seperti bendahari yang baik, yang berpegang atas berbagai-bagai anugrah Allah (TL).

Jangan memakai uang untuk menuruti hawanafsu atau kehendak sendiri. Tuhan akan meminta pertanggungan jawab kita atas setiap uang yang diberikannya kepada kita (Mat 25:19). Kita harus mempertanggungjawabkan setiap pengeluaran kita. Takutlah akan Allah dan cicillah tanggung jawab akan uang Tuhan itu rupiah demi rupiah, artinya untuk setiap pengeluaran uang, kita sudah mendapat persetujuan Tuhan, yaitu sesuai dengan Firman Tuhan sehingga satu kali kelak, pada waktu mempertanggungjawabkannya di hadapan pengadilan Kristus, kita bebas dari salah dan tuduhan, bahkan mendapat pahala!.

4. MENABUR DENGAN BAIK

Orang yang tidak menabur, tidak akan menuai. Orang yang mau dipercayai Tuhan jumlah uang besar itu harus tekun juga menabur baik secara jasmani maupun rohani.

MENABUR SECARA JASMANI

berarti bahwa ia harus rajin bekerja. Orang yang malas tidak mungkin dapat di percayai perkara- perkara yang lebih besar. Orang yang malas itu dicela Tuhan,

Amsal 6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.

Malas itu tidak diperkenan Tuhan, bagaimana berkat Tuhan boleh turun kepadanya.  Seringkali untuk makanpun Tuhan tidak mau memberikan berkatNya

2Tesalonika 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu; jika seorang  tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Harus bekerja!

1Tesalonika 4:11-12 Dan kamu berusaha hidup dengan senyap, sambil memperhatikan pekerjaanmu sendiri, dan bekerja dengan tanganmu, seperti yang telah kami pesankan; supaya kamu melakukan dirimu dengan senonoh kepada orang luar, dan tiada bergantung kepada orang.

Jangan malas. Seringkali orang yang malas itu juga jahat

Matius 25:26a Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang  jahat dan malas…

Pikirannya yang jahat itulah yang membuat dia malas. Anak-anak Allah itu orang-orang yang rajin dan tekun dalam pekerjaannya. Sekalipun menghadapi banyak kesukaran dan tantangan, mereka tidak undur, maju terus sebab punya pengharapan dan iman akan pertolongan Tuhan. Bahkan usaha yang bagkrutpun dapat pulih dan berkembang menjadi untung  seperti Ayub karena diberkati Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada barang mustahil. Sebab itu jangan malas, bekerjalah dengan rajin dan tekun tetapi bukan dengan kekuatan sendiri melainkan tekun karena harap akan Tuhan.

Orang yang bekerja dengan tekun sebab bersandar pada kekuatannya sendiri, akan bekerja mati-matian dan menghabiskan semua waktunya untuk bekerja dan selalu terpikir-pikir akan pekerjaannya. Waktu dan perhatian untuk Tuhan juga dihabiskan untuk pekerjaannya . Ini cara bekerja yang salah sebab berharap pada kekuatannya sendiri, oang ini tidak akan mendapat berkat Allah, bahkan terkutuk (Yes 2:22).

Yeremia 17:5 Beginilah Firman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan.

Orang yang bekerja dengan rajin dan tekun sebab berharap pada Tuhan, akan memelihara waktu yang cukup limpah untuk ibadat dan pelayanan bagi Tuhan, sebab ia sangat mengharapkan Tuhan.

Jadi dari tanda-tanda ini kita dapat melihat apakah orang yang bekerja dengan tekun dan keras itu bersandar pada kekuatannya sendiri atau kepada Tuhan. Berkat Tuhan yang menjadikan orang jadi kaya dan rohani, itu diberikan  kepada orang yang percaya dan berharap kepada Tuhan saja, bukan kepada yang berharap pada kekuatannya sendiri.

Jangan malas, kerja  dengan rajin dan tekun karena harap pada Tuhan. Menabur terus dengan rajin, maka Tuhan akan memberi penuaian yang limpah.

Minta pimpinan dan hikmat Tuhan dalam segala liku-liku  usaha/ pekerjaan seperti Daniel dan kawan- kawannya yang diberi hikmat Tuhan  10 kali ganda dalam melakukan pekerjaan di istana Babil.

Daniel 1:20 Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas  dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaan.

MENABUR SECARA ROHANI

Berarti berhati murah kepada sesama, lebih-lebih untuk pekerjaan Tuhan yang berusaha menangkan jiwa-jiwa dan menumbuhkannya dalam rencana Allah yang besar itu.

2Korintus 9:6-7 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah  masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Apa yang kita berikan kepada Tuhan, karena Tuhan itu tidak hilang dengan sia-sia. Mungkin orang yang menerimanya hilang atau tiada lagi, tetapi yang membalas kita bukan orang yang menerima itu, melainkan Allah, Hakim yang adil itu yang akan memberi penuaian untuk segala penaburan kita?

Memang menabur, baik secara jasmani dan rohani itu  seringkali rasanya sakit, Maz 126:5-6 tetapi pasti tidak sia-sia kalau kita berbuat itu di dalam nama Tuhan Yesus, untuk dan karena Tuhan Yesus. Taburlah sebanyak-banyaknya maka kita akan menuai dengan berlimpah-limpah.

Yang tidak menabur, tentu juga tidak menuai, dan ini bukan berarti Allah tidak adil! Jangan iri pada orang yang menuai, itu sudah dijanjikan Tuhan bagi yang menabur. Sebab itu semua kita perlu belajar menabur dengan betul dalam nama Tuhan Yesus.

5. MENGERTI ARTI KAYA DI DALAM TUHAN,

5a. Untuk kemuliaan Tuhan

Tiada perbuatan Allah tanpa maksud. Semua diperbuatNya sesuai dengan rencanaNya yaitu untuk keselamatan manusia sampai pada kesempurnaan GerejaNya.

Wahyu 4:11b Karena Engkau sudah menciptakan segala perkara, dan mereka semua ada dan diciptakan untuk kesukaanMu (TL: kehendakMu)(KJV).

Kalau Direktur menyerahkan sejumlah uang kepada kasir, tentu ada maksudnya. Kalau si Kasir “lupa” lalu memakainya menurut kehendaknya sendiri, ia akan ditangkap, dipecat dan tidak lagi menerima uang (ini seperti hamba yang jahat dan malas dalam Matius 25:24-27, ia jahat sebab tidak mengakui uang tuannya yang sudah begitu bermurah hati berani mempercayakan hartanya kepada hamba- hambanya).  Tentu kebutuhan si Kasir akan dijamin, dicukupi, tetapi ia tidak boleh lupa atau melupakan maksud pimpinannya memberi uang yang begitu banyak, yang lebih dari kebutuhannya. Sebab itu kita juga harus mengerti maksud Allah memberi kita kelimpahan, atau kalau belum mengerti, menanyakannya kepada Tuhan. Kasir yang taat dan setia, akan terus menerus menerima banyak uang.

Demikianlah orang-orang beriman yang mengerti, taat dan setia akan makin limpah diberkati Tuhan. Seluruh bumi dan isinya ini adalah milik Tuhan, Ia dapat mempercayakan uang dengan tidak terbatas kepada kasir-kasirNya. Ia hanya dibatasi oleh pengertian, ketaatan dan kesetiaan anak-anakNya. Maukah kita menjadi bendaharaNya.

5b. Suatu kesempatan.

Dari segi lain, lebih-lebih dari segi pahala, ini adalah suatu kesempatan untuk berbuat banyak perkara2 yang berkenan pada Tuhan.

Lukas 16:9 Dan Aku berkata kepadamu; Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya mammon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Misalnya: dengan menyalurkan perbuatan kasih, sebab ini diberikan dari apa yang ada pada kita.

Kalau kaya, kita mendapat lebih banyak kesempatan untuk berbuat baik.

2Korintus 8:12 Sebab jika kamu rela untuk memberi maka pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada (kekayaan yang ada) padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.

Jangan seperti orang Gadara! Orang Gadara itu cukup kaya tetapi sebab takut  uangnya berkurang lebih banyak lagi, sebab itu Tuhan Yesus diusir! Tuhan Yesus baru mampir,  sudah 2000 ekor babinya hilang, apalagi kalau Tuhan Yesus tinggal lebih lama di Gadara, harta mereka mungkin dapat habis sama sekali! Sebab itu mereka mengusir Tuhan Yesus, daripada hartanya makin habis.

Markus 5:17 Lalu mereka (orang-orang Gadara) mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Begitu pula beberapa orang beriman, gara-gara takut kehilangan uang mereka takut ikut pelayanan atau aktivitas di Gereja. Takut kalau tahu duitnya banyak, nanti dimintai sumbangan, dituntut perbuatan-perbuatan kasih, untuk pelayanan, untuk hutang, belum lagi kalau “dirugikan” oleh saudara-saudara seiman (1Kor 6:7), dan sebagainya. Tuhan Yesus di tolak, berkat-berkat rohani ditolak, persekutuan-persekutuan yang indah dijauhi, kesempatan-kesempatan di tolak.

Semua ini sebab takut nanti uang dan hartanya berkurang, takut menjadi Pemberi berkat.Ini pendirian orang miskin, semua ini salah! Justru kalau kita dijadikan korban oleh Tuhan, itu berarti kita diberi kesempatan yang indah-indah lebih banyak, dan ini menjadi penaburan yang pasti ada penuaiannya.

Justru dengan lebih banyak uang yang Tuhan percayakan pada kita, kita dapat menebus waktu dan kesempatan-kesempatan rohani yang lebih limpah dan itu berarti pahala yang kekal (Wah 14:13. 1Kor 15:58). Gunakanlah kesempatan ini baik-baik selama kita masih dapat menggunakannya.

5c. Jadilah Pemberi berkat

Kisah 20:35 C Bahwa terlebih berkat memberi daripada menerima! (TL)

Belajar hidup bagi Tuhan, hidup untuk Kristus, itu berarti menjadi berkat bagi orang lain, sebab itulah kehendak Allah (Apa yang kita buat untuk saudara2 kita yang terkecilpun, itulah perbuatan kita kepada Tuhan Mat 25:40).

Rindulah menjadi berkat bagi setiap orang yang kita jumpai, lebih2 yang seiman Gal 6:10 dan yang bekerja sama dalam pelayanan. Paulus berkata bahwa kemana saja ia tiba, ia ingin selalu menjadi berkat yang sebesar-besarnya. Hidupnya menjadi berkat bagi sekitarnya.

Roma 15:29  (TL) Maka aku ketahui, bahwa apabila aku datang keapdamu, maka  aku datang dengan sepenuh-penuh berkat Kristus.

Jangan memikirkan apa yang akan kita peroleh dari mereka, tetapi apa yang dapat kita buat bagi mereka, baik secara jasmani, lebih-lebih  secara rohani dengan kuasa doa, Firman dan kasih Kristus.

Pendirian: “apa yang dapat kuper-oleh”, ini yang membuat orang menjadi miskin atau tinggal miskin. Sampai para ahli-ahlipun berkata: “Wah anak ini jadi frustasi sebab kurang mendapat kasih dari orang tuanya!:  selalu demikian penilaian dan pendapat orang-orang yang miskin jiwanya, tangan- tangan bawah. Keluhan ini  terdengar dimana-mana, kurang dapat cinta, kurang dapat perhatian, kurang dapat berkat!

Mengapa isteriku kurang mencintai aku , mengapa suamiku kurang menintai aku, mengapa anak-anak kurang memperhatikan aku, mengapa tidak ada orang menjenguk saya. mengapa orang-orang tidak memberi perhatian dan seterusnya. Itu sebabnya hidup menjadi miskin dan rendah.

Tuhan menginginkan kita hidup dalam taraf yang lebih tinggi, yaitu sebagai Pemberi berkat, sebab inilah hidup yang lebih keberkatan, lebih indah, lebih mulia. Mengapa orang-orang beriman frustasi, bingung linglung, sebab kurang berani menjadi korban, kurang memberi berkat, kurang memberi cinta, kurang menjadi Pemberi berkat. Jadilah berkat karena Tuhan, berilah berkat.

Pikirkanlah apa saja  yang aku dapat  berikan,  apa yang aku dapat perbuat untuk seisi rumahku, untuk kelompokku, untuk orang-orang sekitarku, untuk Gereja. Jadilah berkat. Hiduplah bagi Kristus, seperti Pil 1:21, Karena kepadaku hidup itu untuk Kristus ; maka hidup kita akan lebih keberkatan, akan menjadi lebih baik.

Linglung, bingung, depresi, frustasi dan lain-lain semuanya akan hilang.

Pendirian dan sikap kita harus  berubah seperti ini. Janganlah hidup bagi diri sendiri lagi, tetapi hiduplah bagi Tuhan, hidup jadi berkat, sebagai Pemberi berkat.  Sekalipun orang miskin dapat  menjadi Pemberi berkat, Sebab itu banyak orang beriman yang mengerti dan percaya akan Firman Tuhan ini, walaupun miskin, mereka hidup bagi Kristus, hidup menjadi berkat,  sebagai Pemberi berkat, apalagi kalau diberi “kesempatan besar” (kaya) oleh Tuhan itu suatu kesempatan yang indah. Jadilah Pemberi berkat, itu lebih  keberkatan!

6. RINDUKAN MENJADI ROHANI LEBIH DAHULU.

Jangan mempunyai tujuan hidup nomor satu menjadi kaya, tetapi rindulah nomor satu menjadi seperti Yesus.

Orang seperti ini biasanya akan mahir, berpada dan tidak begitu ingin menjadi kaya; Sebab kalau seorang sungguh-sungguh menjadi rohani, maka keinginan kaya itu menjadi leleh. Ia mau menjadi kaya, tetapi ia mau juga pas-pasan, ia menyerah pada Tuhan dan berpada.

Amsal 23:4 Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.

Kalau keinginan untuk menjadi kaya itu terus menyala-nyala, tidak dapat leleh, tidak dapat menyerah pada kehendak Tuhan, tidak dapat berpada, itu berarti bahwa  tipu daya kekayaan sedang bekerja di dalam orang itu. Orang seperti ini  tidak dapat menjadi rohani, apalagi kalau sudah kaya.

Orang yang rohani itu mau menyerah dan taat akan kehendak Tuhan. Tetapi biasanya justru Tuhan mengangkat orang-orang rohani ini menjadi bendahara Tuhan dan dipercayai lebih banyak uang.

Misalnya Ayub, Ibrahim, Daud dan sebagainya. Memang Tuhan membutuhkan dan mencari orang-orang rohani yang dapat dipercayai jumlah uang yang besar.

Sampai sekarang Tuhan terus mencari orang-orang beriman yang dapat dipercaya!

Amsal 28:20 Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya tidak akan luput dari hukuman (TB).

Sudah banyak orang “datang melamar”. Kalau orang itu ingin menjadi kaya, ia ditolak! Yang diharapkan adalah pelamar-pelamar yang ingin menjadi rohani, lalu dichek  apakah ia dapat menanggung banyak uang dan rohaninya tidak rusak oleh kelebihan  uang itu. Tidak semua orang rohani itu kaya, tetapi semua orang rohani itu dapat berpada, dapat bersukacita dan penuh syukur  waktu miskin dan waktu kaya.

Kaya dari Tuhan yaitu: kaya dan rohani, itu tanpa percintaan uang, tanpa ikatan, tanpa penderitaan  dan tanpa kena racun-racunnya (Ams 10:2,22).

MANA LEBIH BAIK?

KAYA DAHULU ATAU ROHANI DAHULU?

Ini amat berbeda! Cara hidupnya, kerjanya, sikapnya dan akhirnya akan berbeda sama sekali.

Orang yang terlebih dahulu menjadi rohani baru menjadi kaya, ia menjadi kaya dengan halal (sebab tidak mau jalan haram), tanpa ikatan, tanpa percintaan dan racun-racun tipu daya kekayaan.

Tetapi orang yang kaya lebih dahulu baru kemudian rohani, biasanya hartanya itu banyak racunnya, banyak uangnya yang tidak halal, (karena dahulu hidupnya masih dalam dosa, belum rohani); Sebab itu sebagian hartanya akan terbang kembali Yer 17:11. (Baca TE no 8 hal 18).

Lagipula orang yang mau kaya lebih dahulu, baru mau banyak berdoa, banyak pelayanan dan hidup suci, ia mungkin dapat menjadi kaya (sebab ngotot, kuat keinginan dan usahanya sering kali mata gelap) tetapi biasanya ia tidak akan menjadi rohani, seperti unta Mat 19:23, ia akan sukar mentaati Firman Tuhan dan sukar masuk dalam Kerajaan Surga, sebab terhalang oleh percintaannya akan uang, sebab kena tipudaya kekayaan.

Orang yang ingin menjadi kaya itu biasanya tidak dapat menjadi rohani, sebab sudah kena tipu daya kekayaan ini.

Orang yang mau hidup berpada, itu dapat menjadi rohani dan biasanya juga kaya rohani dan jasmani pasti cukup atau berkelimpahan.

Dan kalau kita mengejar perkara-perkara rohani terlebih dahulu, kita lepas dari ingin akan uang (ini racunnya uang) dan mendapatkan Kerajaan Sorga lebih dahulu, sehingga waktu menjadi kaya, kita sudah rohani dan bebas dari celaka orang kaya (“bela unta”). Kita harus memeriksa, kerinduan apa yang memenuhi hati kita masing-masing!

Sebab itu lebih aman dan lebih baik kalau kita menuntut menjadi rohani lebih dahulu, sampai semua keinginan kaya itu leleh. Ini ideal dan paling aman, sebab cocok dengan Firman Tuhan (Mat 6:33). Atau hampir bersamaan, rohani tumbuh, lalu langsung uangnya juga bertambah.

Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Percayalah dan serahkan semua kepada Tuhan dan bersyukurlah.

Tabel berikut  ini dapat menolong kita untuk hal ini. Dapatkah kita berpada dalam segala perkara? Ada sukacita? Apakah keinginan kaya itu menggebu- gebu dalam hati kita? ataukah kita ingin hidup bagi Tuhan Yesus?

Janganlah bodoh, pilihlah yang kekal, itu kemuliaan yang sebenarnya. Untuk apa dapat seisi dunia kalau jiwa kita binasa? (Mat 16:26) Untuk apa jadi kaya kalau kena racun-racunnya sehingga binasa? Jangan iri akan orang lain, berpada dan bersukacitalah di dalam Tuhan. Gantungkanlah kesukaan kita kepada Tuhan, bukan kepada kekayaan. Limpahlah dan tuntutlah perkara-perkara rohani yang kekal, maka kita akan bebas dari racun-racun dosa dan tipu daya kekayaan.

Nyanyian:

Apa padaku, ku dapat dari Bapa

Keadaanku juga dari Dia

Apa kubuat itu guna Tuhanku

Dan apa yang kuperlu

kutrima lipat ganda.

(Catatan: Karena begitu banyak pokok-pokok kebenaran Firman Tuhan tentang uang dan kaya diberikan sekaligus, adalah lebih baik kalau selang beberapa hari pelajaran ini diulangi lagi, beberapa kali).