M3510 – Efesus 6:1-3, Keluaran 20:12 Menghormati Orang Tua (25 Mar ’12)

Download MP3 Khotbah: M3510

I. PADA AKHIR ZAMAN

Pada akhir zaman ini makin banyak anak tidak taat dan kurang ajar pada orangtuanya 2Tim 3:2 dan itu tidak berkenan pada Tuhan, melawan perintahNya. Seharusnya anak2 menghormati orangtua dan mencintainya, ini hukum pertama dalam Taurat. Ini berlangsung bukan hanya waktu kanak2 tetapi sampai tua dan salah satu mati, biasanya orangtua mati lebih dahulu, sebab itu kesempatannya pendek. Semua orang beriman, sekalipun sudah tua/ dewasa, sebagai anak, kita harus mempunyai sikap, sifat dan perbuatan yang tetap menghormati orangtua dengan kasih Kristus dan tulus, tanpa pikiran atau maksud dosa. Jangan ada sikap tidak hormat, apalagi kurang ajar.

Keluarga harmonis, bahagia ditentukan nomer satu oleh hubungan suami-isteri, kedua oleh hubungananak-orangtua, menantu-mertua. Sebab itu setiap kita harus mempunyai tabiat yang baik dalam hubungan ini. Jangan anak kurangajar dan orangtua lupa daratan, nanti rumah tangga menjadi Neraka.

II. DALAM TABIAT LAMA DAN TABIAT BARU

Dalam dunia, dalam tabiat lama menghormati orangtua sangat dihargai; kalau orang beriman tidak taat dan kurang ajar pada orangtuanya, itu sangat mencemarkan nama Tuhan bahkan orang bisa menghojat Tuhan karenanya Rom 2:24. Tetapi menghormati orangtua menurut tabiat lama tidak boleh dipakai, harus ganti tabiat baru. Menghormati orangtua dalam tabiat lama tidak sama dengan menghormati orangtua dalam tabiat baru dan kita harus memakai yang baru, bahkan tidak boleh ditambal Luk 5:36.

Menghormati orangtua dalam tabiat lama itu disebabkan karena dicintai orangtua, karena takut akan orangtua apalagi kalau berkedudukan dan berkuasa, karena dapat untung, karena dapat warisan, karena hutang budi dll.

Ada orang yang membeli peti mati yang tebal dan mewah untuk ibu yang mati, tetapi waktu hidupnya banyak meng-kata2i ibunya, kalau minta pisang diberi yang di bawah yang sudah bosok. Ini menghormati orangtua di hadapan orang banyak, tetapi penuh dengan sikap kurang hormat atau kurangajar. Ada seorang gadis waktu teman2nya laki2 dan perempuan datang bertamu, seorang ibu keluar membawakan minuman dan wajahnya sangat jelek. Teman2nya menanyakan siapa dia, kata gadis itu, itu pembantu padahal itu ibunya. Ini menghormati orangtua, tetapi kalau malu, tidak mengakuinya.

Semua ini menghormati orangtua tetapi kadang2 bercampur dosa meskipun mungkin dari luar tampaknya hormat dan baik.

Menghormati orangtua dalam tabiat baru itu meskipun orangtua menganaktirikan, tidak cinta, di-sia2kan, orangtua berbuat banyak kesalahan kepada si anak, orangtua tidak berdaya, miskin, tidak bisa memberi apa2, jahat dan banyak dosanya dll, orang beriman tetap menghormati orangtuanya.

Tabiat baru, termasuk menghormati orangtua, kalau bercampur dosa atau maksud yang tidak tulus dll, itu bukan tabiat baru. Tabiat seperti ini harus dibuang sekalipun tampaknya cukup bagus, harus diganti tabiat baru yang tidak bercampur dosa. Tabiat lama dan baru seringkali dari luar tampaknya sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Dari luar sama seperti buah asli dan buah plastik, tetapi waktu ditanam, yang plastik tidak ada kehidupan di dalamnya, tidak bisa tumbuh, tetapi yang sesungguhnya tumbuh dan bersambung sampai masuk Surga. Tabiat baru ada kehidupan Kristus di dalamnya dan diteruskan sampai Surga, tabiat lama, keindahan atau kepalsuannya hanya sampai di kubur.

Miliki sifat menghormati orangtua yang tulus, tanpa campuran dosa di dalamnya. Mungkin ada orangtua yang memaksakan perkara2 dosa dan melawan Firman Tuhan, kita tetap mencintai, menghormatinya tetapi juga dengan bijaksana dan dengan hikmat dan kuasa Allah menolak hal2 dosa yang dipaksakan. Dalam hal2 seperti ini (orangtua belum percaya atau punya maksud dan pendirian yang bertentangan), menimbulkan banyak kesulitan, tetapi kita harusmenghadapi dengan hati yang tulus, dengan hikmat dan kuasa Allah dan tetap menaruh Tuhan di atasnya, dan tetap tidak ada reaksi dosa!

Sebaliknya orangtua juga harus mengajarkan anak2nya taat akan Firman Tuhan, termasuk juga menghormati dirinya sebagai orangtua, dengan tulus supaya jangan mereka berdosa kepada Tuhan dan orangtuanya sehingga makin berkenan kepada Tuhan dan diberkati Tuhan.

A. HUKUM YANG PERTAMA.

A.I. ORANGTUA WAKIL ALLAH.

Mengapa ini disebut hukum yang pertama sebab:

  1. Hidup si anak itu hampir seluruhnya tergantung dari orangtuanya sejak mula2 dan memang orangtua yang menyediakan segala yang dibutuhkan si anak 2Kor 12:14.
  2. Orangtua mencintai anak2, biasanya lebih dari anak2 mencintai orangtuanya. Dari mana cinta ini? Ternyata juga ada dalam orang berdosa. Ini adalah sisa2 kemuliaan Allah Rom 3:23. Sekalipun orangtuanya jahat, seringkali masih bisa mencintai anak2nya Luk 11:11-13, tetapi ini tidak cukup untuk keselamatan jiwanya.

A.II. PERATURAN ANAK-ORANGTUA YANG BERAT SEBELAH.

Peraturan dalam Wasiat Lama ini ditetapkan Allah sebab ada sisa2 kemuliaan ini dan ini adil yaitu:

  1. Mati hidup anak diserahkan kepada orangtua Ul 21:18-21. Ini dalam Wasiat Lama, dalam Wasiat Baru tidak ada hukum rajam tetapi anak2 yang kurang ajar pada orangtuanya rohnya bisa dirajam sampai mati.
  2. Orangtua tidak menghormati anak2 (tidak ada ayatnya) tetapi mencintai (Tit 2:4) mendidik Ul 6:7, mengajar Ams 22:6, menyediakan keperluannya 2Kor 12:14, mengasuh Ef 6:4 dan memprintahkannya 1Tim 3:4 KJI.
  3. Anak2 yang bersalah pada orangtuanya hukumannya lebih berat Im 20:9, Kel 21:15-17, Mat 15:4. Orangtua yang bersalah pada anaknya, hukumannya biasa.

A.III. ANAK YANG BUTA.

Menghormati orangtua itu baru sekedar membalas kembali kebaikannya, belum berbuat baik 1Tim 5:4, tetapi Tuhan sudah memberkatinya, lebih2 kalau orangtua memberkati anak2 yang taat (orangtua berhak memberkatisebagai wakil Allah Kej 27:27-29).

Anak yang kurang ajar pada orangtuanya itu jahat, tidak rohani, sekalipun di luar tampaknya menghormati orangtuanya, halus, tetapi kalau di rumah kurang ajar, ini orang yang tidak rohani dan buta rohani Ams 30:17, 2Kor 4:4, ia tidak bisa melihat kemuliaan Allah Mat 5:8, Ams 30:11-12. Melawan orangtua (juga mertua) sebagai wakil Allah itu melawan Allah, bisa kena hukuman (kutuk Allah). Jangan sesudah dipelihara baik2 jadi besar lalu menyepak seperti Yesyurun yang kurang ajar Ul 32:15. Seharusnya kecil dipelihara, tua memelihara.

A.IV. DASAR PENGHORMATAN: KORBAN.

Orang Parisi mengajarkan penghormatan pada orangtua tanpa korban dan itu sia2 Mrk 7:11-12, Mat 15:4-6.

Kalau waktu kecil anak2 yang nakal, kurang ajar, menyakiti hati dll masih tetap dicintai dan dicukupi semuanya bahkan dibela, ditolong dan dilindungi. Sekarang sesudah orangtua jadi tua dan lemah, anak tidak menghormati orangtuanya dengan korban, itu jahat (padahal jadi besar, jadi sarjana itu dari orangtuanya, juga harta yang dimiliki itu seringkali juga dari orangtuanya, jangan berdosa seperti anak2 iblis.

Suami yang membiarkan isternya kurang ajar pada mertuanya (orangtua si suami) juga salah, iaikut ambil bagian dalam tabiat yang kurang ajar, sebab tahu dan “bisa” berbuat baik tetapi tidak berbuat Yak 4:17. Jangan anak2 (apalagi sudah dewasa, dan dia sendiri sudah jadi orangtua) membuat orangtuanya tenggelam dalam telaga air mata Ams 19:13. Kita patut jadi kesukaan orangtua dan mertua kita maka berkat Tuhan akan limpah. Menghormati orangtua itu dengan korban, bukan dengan siasat. Jangan harta menjadi halangan untuk taat pada Firman Tuhan dan masuk Surga. Sebaliknya orangtua atau mertua jangan menuntut ber-lebih2. Juga orangtua yang meninggalkan tanggungjawabnya, anak2 perlu tetap mengampuni dengan cara yang bijak tetapi sesuai dengan Firman Tuhan.

Sekalipun orangtua salah tetap menghormati orangtua meskipun kita tidak setuju dengan dosa2nya.

Ada beberapa anak justru berusaha mengambil harta orangtuanya, itu tetap berdosa (pencuri) Ams 28:24 TL. Hukuman Tuhan akhirnya jatuh ke atasnya.Minta boleh, tetapi kalau tidak diberi jangan marah, jangan hanya menghormati orangtua karena ingin hartanya saja, ini menghormati orangtua tabiat lama (orang dunia punya banyak siasat untuk menghadapi hal ini).

B. HUBUNGAN ORANGTUA DAN ANAK.

  1. Hubungan umum semua orang sama, di hadapan Tuhan Kel 21:23-25.
  2. Hubungan anak-orangtua tidak sama. Kesalahan dari anak terhadap orangtua hukumannya ber-lipat2 daripada salah yang sama dari orangtua terhadap anak Kel 21:15-17, Im 20:9.
  3. Ini masih berlaku dalam Wasiat Baru Mat 15:4, Ef 6:1-3. Kalau anak terus kurang ajar dan melawan orangtua, akhirnya rohaninya akan mati, berkatnya kering dan hidup dalam hukuman dan kutuk Allah. Dalam peraturan Firman Tuhan anak harus menghormati orangtua, kalau toh ada sesuatu yang diperbantahkan, dari permulaan anak harus mengalah 1-0 dari orangtuanya, jangan menganggap sama, itu permulaan kurang ajar. Biarpun anak punya gelar, sukses, kaya, orangtua tidak, hanya orang biasa, tetap mulai dengan selalu mengalah 1-0! Mentang2 berani melawan, itu sudah kurang ajar. Kalau ternyata orangtua salah, jangan setuju, tetapi anak hendaklah menerangkan dengan hormat dan dengan manis 1Tim 5:1-2 dan orangtua hendaknya jujur di hadapan Tuhan, bukan hanya di hadapan anak, maka Roh Kudus akan memperdamaikan dan hadirat Tuhan akan menolong semuanya.
  4. Allah adil sebab :
    a.
    Cinta orangtua dari sisa2 kemuliaan Allah Rom 3:23, Luk 11:11-12.

    b.
    Anak2 berhutang pada orangtua. 2Kor 12:14.

    c.
    Mati hidup anak dalam tangan orangtua Ul 21:18-21.
  5. Menantu = anak Mat 19:5. Karena menantu, mertua adalah barang baru, keduanya harus secepatnya menyesuaikan diri dengan takut akan Tuhan.
  6. Kalau orangtua / mertua menyalagunakan haknya seperti Atalia, Tuhan akan menghukumnya dengan keras 2Raj 11:1-16.

C. BERKAT ANAK YANG MENGHORMATI ORANGTUA.

Anak yang menghormati orangtua, sekalipun orangtua tidak mampu membalas, Allah mampu dan selalu membalasnya, rohaninya akan tumbuh dan ia akan menuai juga dari anak2nya, bahkan Tuahn memberi umur sehingga rohaninya tumbuh dan ber-buah2 Kel 20:12. Kalau orangtua memberkati, Tuhan akan mengerjakannya Kej 27:4. Ingat kesempatan menghormati orangtua itu terbatas, jangan terlambat.

Orang yang menghina dan mengutuki orangtua itu celaka Im 19:3, Ul 27:16, Ams 15:20. Dalam Wasiat Lama dibunuh, artinya rohaninya mati Kel 21:17, Im 20:9,20.

D. BAGAIMANA MENDIDIK ANAK2 MENGHORMATI ORANGTUA.

  1. Lahir baru. Ini adalah sifat baru sebab itu anak2 juga harus lahir baru atau anak2 yang lahir dari orangtua yang percaya, disucikan di dalam orangtua 1Kor 7:14. Kita tidak mengajar menghormati orangtua dari orang lama, itu tidak masuk Surga sekalipun ada yang “baik”, tetapi menghormati orangtua dari tabiat baru! Kalau orangtua percaya Tuhan Yesus padawaktu anak2 sudah besar tapi belum lahir baru, maka yang harus diutamakan adalah melahirbarukan mereka.
  2. Contoh orangtua ini besar faedahnya. Contoh dalam berkata, berbuat dan juga contoh2 “di belakang” waktu tidak ada orangtua, tetap menghormati mereka, maka anak2 akan melihat dan banyak menirunya. Contoh2 yang betul ini juga suatu penaburan dalam si anak Gal 6:7. Mertua harus diperlakukan sebagai orangtua sendiri, sekalipun “baru bertemu”. Dengan tulus kita menghormati mereka, ini juga menjadi contoh orangtua kepada anak2nya. Ada beberapa ibu dan bapak yang berani dan kurang ajar kepada mertuanya, dengan kata2 dan perbuatan, itu akan menjadi hukuman bagi dirinya sendiri. Harus menghormati orangtua/ mertua dengan tulus dan benar di hadapan Tuhan.Orangtua harus belajar untuk betul2 bisa mewakili Tuhan dalam segala segi hidupnya, yaitu hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan.
  3. Taburi benih Firman Tuhan. Beri ayat2 tentang menghormati orangtua (tentu juga semua ayat2 lainnya untuk mendidik semua segi hidupnya). Jangan bergantung pada Sekolah Minggu saja, sebab adalah kewajiban orangtua untuk mendidik anak2nya di dalam Tuhan Ul 6:7-8. Jangan lupa orangtua harus terus buka mulut dalam pengurpaan dan hikmat Roh Kudus (sekalipun hanya untuk anak sendiri, jangan diam dan jangan ngawur, jangan menurut cara2 dunia atau hidup lama.Anak2 harus tahu bahwa ini adalah kehendak Tuhan, sebab Tuhan yang akan memberkati atau menghukumnya. Orang2 yang cinta Tuhan, kalau tahu itu adalah kehendak Tuhan, pasti taat. Jangan lupa mendidik dengan bahasa yang sopan, bukan bahasa kasar, sebab bisa mengendalikan mulut itu melatih mahir pikul salib sehingga bisa mengendalikan seluruh hidup ini juga Yak 3:1-6.
  4. Doa. Kadang2 ada anak yang sulit diubah, jangan lupa memerangi penguasanya Luk 11:21-22. Kita tidak berperang dengan anak kita sendiri, tetapi dengan iblis Ef 6:12. Sebab itu kita perlu kuasa Allah, tekunlah berdoa dalam Roh dan kebenaran terus menerus 1Tes 5:17. Bahkan juga untuk menanam kebenaran itu dalam hati anak2 kita perlu hikmat dan kuasa Allah 1Kor 2:4, Luk 24:49, Mat 7:29. Kalau orangtua sendiri tidak bertobat, putus hubungan dengan Tuhan, maka semuanya akan kena dampaknya, akan kacau. Kalau toh orangtua salah, bertobatlah, biarlah anak2 juga tahu cara kita bertobat dengan sungguh2.
  5. Rotan. Anak kecil yang ber-kali2 salah, tidak mau menurut perlu dirotan, anak2 yang besar kalau salah perlu ditegur, jangan seperti Eli yang tidak menegur anak2nya yaitu Hofni dan Pinehas sehingga semuanya binasa. Tidak mudah mengolah anak2 yang berontak dan tidak taat. Jangan marah dengan emosi/ hawa nafsu, biasanya ini selalu ber-lebih2 dan juga menimbulkan banyak celaka yang sebetulnya tidak perlu timbul Yak 1:20. Dalam menghukum, bapak dan ibu harus bergantian mendukung dalam doa dan mengingatkan sehingga semua berjalan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus.
  6. Jangan putus asa, lebih2 dalam kasus2 anak2 yang kurang ajar dan sulit. Kalau orangtua sudah betul (hidup benar di hadapan Tuhan, memberi contoh yang baik, mendidik dengan baik, dengan Firman Tuhan dan doa puasa, sehingga ada kuasa dan hikmat Roh Kudus) maka Firman Tuhan yang sudah kita ajarkan, tidak akan kembali dengan sia2 Yes 55:11 dan benih2 Firman Tuhan itu akan terus tertanam dalam hatinya Ams 22:6. Ingat janji Allah dalam Kis 16:31. Memang anak yang terlambat tidak mau bertobat, ia akan kehilangan banyak kesempatan danbanyak rencana Allah yang indah2, suatu kerugian kekal. Paling baik dari permulaan menghormati orangtua baik2 serta taat akan Firman Tuhan dalam semua segi hidup lainnya. Seringkali kebebalan dan tabiat yang jahat dari orangtuanya sebelum bertobat juga menurun pada anaknya (yang selalu ber-sama2 orangtuanya), sehingga waktu orangtuanya bertobat, anaknya masih dalam tabiat lama yang jahat, seharusnya orangtuanya sadar bahwa itulah “dia sendiri” sebelum bertobat dan perlu direbut secepatnya dari api Neraka.
  7. Tolong menolong dalam tubuh Kristus. Seringkali saudara2 seiman yang lain bisa menolong anak2 kita dengan lebih baik. Kadang2 ada balok2 di mata kita yang tidak kita lihat, dan orangtua yang lain bisa membantu. Jangan lupa tolong menolong bukan untuk diwarta beritakan tetapi untuk merebut jiwa2 dari Neraka kekal.

KESIMPULAN

Anak dan menantu peraturannya sama terhadap orangtua dan mertua. Dalam hubungan anak-orangtua (mertua). Jangan kurang ajar tetapi langsung mengalah 1-0, tetapi tetap hidup benar di hadapan Tuhan. Orangtua harus takut akan Tuhan, jangan bertindak semaunya sendiri menuruti daging nanti celaka. Pelihara tabiat yang baik dalam hubungan ini.

Nyanyian:

Kalau saya mau bergirang