EMPAT KUNCI HIDUP AYUB

Ada 4 kunci dalam hidup Ayub (juga ditulis dalam ayat 8) dan ini dipuji Tuhan, berarti itu benar dan sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan, yaitu:

Ayub itu seorang yang:

1. Saleh dan

2. Jujur, tulus,

3. Takut akan Allah,

4. Menjauhi kejahatan.

KUNCI I:  SALEH

Maz 51:8 Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

Ayub hidup dalam kesucian, tidak ada dosa, tidak hidup dalam dosa dalam segala segi hidupnya di hadapan Tuhan (kalau suci di hadapan manusia itu belum betul-betul suci, sebab penilaian manusia itu terbatas, sebab manusia hanya bisa melihat dari luar saja).  Kalau Tuhan yang mengatakan bahwa Ayub suci, itu betul-betul suci, sebab Allah tahu sampai dalam hati dan pikiran angan-angannya.

Ini suatu prestasi atau keadaan yang sangat  indah. Dalam Alkitab  KJV disebut blameless,  tidak bercacat cela. Pengakuan Allah ini  suatu penilaian yang sangat tinggi dan  mulia, lebih dari gelar  S3 atau Nobel atau  gelar apapun dalam dunia ini, suatu  kehormatan  di hadapan Allah, itu sangat indah  dan sangat mulia serta berlaku    sampai kekal!  Lebih ajaib lagi, setiap orang beriman bisa  mendapatkan penghargaan yang mulia ini, sebab Tuhan yang memungkinkannya. Setiap orang yang lahir baru, bisa hidup suci sebab ia sudah ditebus oleh darah Yesus, Yoh 8:36 ia sudah dimerdekakan dari dosa, asal percaya dan mau pasti bisa. Rom 6:2,18.

Sudah banyak orang beriman yang hidup tidak bercacat cela, tetapi ada juga beberapa yang jatuh dalam dosa. Daudpun pernah jatuh dalam dosa tetapi ia bertobat dan kembali disucikan Tuhan. Lain halnya dengan Saul, ia tidak mau bertobat dan mati dalam dosanya. Ayub tetap hidup suci, saleh dan Tuhan berkenan kepadanya. Putra manusia Yesus tetap hidup suci sampai ke akhir, ia tetap taat sampai mati disiksa karena dosa-dosa manusia Pil 2:8.

Mengapa hidup Ayub menjadi begitu indah di dunia sampai di Surga untuk kekal. Sebab Ayub memelihara hidupnya dalam kesucian, ini kunci pertama.

KUNCI  II:  TULUS

Ayub bukan saja memelihara hidupnya di dalam kesucian, tetapi juga di dalam problem, godaan, kesempatan dll tetap tulus, yaitu tetap taat kepada Firman Tuhan dan suci sampai dalam batin, angan-angan dan cita-citanya.

Tidak ada tindakan atau reaksi dosa, juga di dalam hati dan angan-angannya tidak ada rencana dosa.

Jadi Ayub menjaga hidupnya tetap dalam kesucian, tidak ada dosa, baik dalam keadaan pasif atau aktif, tetap tidak berdosa, tetap saleh dan tulus.

Ini terbukti waktu semua hartanya habis dan 10 anaknya mati, Ayub tetap suci, tidak bereaksi dosa bahkan berkata yang salahpun, tidak!

Ayub 1:20-22 Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Meskipun isterinya marah dan menghojat Tuhan dan mengajak Ayub juga untuk menghojat Tuhan, tetapi Ayub yang sama-sama sangat menderita dan sangat berdukacita, tetap tidak mau menghojat Tuhan, bahkan ia marah pada isterinya yang berani melawan Allah begitu keji.

Ayub 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

Ini suatu hal yang sangat indah dan mulia di hadapan Allah, luar biasa. Ujian yang dialami Ayub ini sangat dahsyat, tetapi ia lulus. Ini kunci hidup Ayub yang kedua, di dalam menghadapi siapa saja, peristiwa apa saja, sikon apa saja, ia tetap tidak bereaksi atau bertindak dosa, bahkan dalam hatinya pun tidak ada rencana dosa apapun!

KUNCI  III:  TAKUT AKAN ALLAH

Ams 19:23 Takut akan Allah mendatangkan hidup, (ini kunci!) maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.

Ams 23:17 Janganlah hatimu dengki akan orang yang berdosa, melainkan takutlah akan Tuhan pada tiap-tiap hari; (TL)

Pkh 8:12-13 Tetapi jikalau orang fasik berbuat jahat seratus ganda sekalipun dan tinggal dengan hidupnya, kuketahui juga bahwa selamatlah kelak segala orang yang beribadat kepada Allah dan yang takut akan hadirat-Nya. Tetapi orang jahat tiada akan selamat dan tiada melanjutkan umurnya, melainkan seperti bayang-bayang adanya, sebab tiada ia takut akan hadirat Allah. (TL)

Pkh 12:13 Maka kesudahan segala perkara yang didengar ia ini: Takutlah akan Allah dan peliharakanlah segala firmanNya, karena itulah patut kepada segala manusia. (TL)

Dimana saja, dalam keadaan apa saja Ayub  takut akan Allah itu  berarti ia tetap hidup suci,  sebab tahu Allah selalu mengikuti dan  melihatnya sampai dalam hati Ibr 4:12 dimana   saja dan dalam hal  apa saja.

Meskipun:

a) Ada kesempatan untuk berbuat    dosa, ia tetap tidak berdosa, sebab takut      akan Allah. Ini seperti apa yang dialami Yusuf.

Kej 39:9 bahkan di rumah ini ia tidak lebih    besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

b). Sekalipun dijahati orang, ia tetap tidak bereaksi dosa.

Rom 12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Di dalam dunia, membalas orang yang berbuat jahat (dengan marah dan benci) menghajarnya (dengan sepuas-puas hatinya) itu tidak salah; tetapi Ayub dan orang-orang beriman tidak demikian. Sekalipun dijahati, tidak timbul dosa dalam hati dan perbuatannya.

c). Sekalipun digoda, diajak atau didorong untuk berbuat dosa, ia tetap tidak berbuat dosa sebab takut akan Allah.

Ini hal yang indah dari Ayub, kunci ke-3 dalam hidupnya, sehingga hidupnya berbahagia sebab disertai, diberkati dan dilindungi Tuhan.

Maz 112:1 Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.

KUNCI IV:  JAUH DARI YANG JAHAT

Ams 22:3 Orang bijaksana itu serta dilihatnya jahat, maka disembunyikannya dirinya, tetapi orang bodoh melangsung juga lalu kena. (TL)

Orang yang selalu menjauhkan diri dari yang jahat seperti Ayub, itu indah di hadapan Tuhan. Tetapi orang yang dengan sengaja bisa masuk dan tinggal di tengah-tengah yang jahat seperti Gereja Pergamus, itu suatu cacat.

Wah 2:13 Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.

Justru orang yang hidup jauh dari dosa itu indah di hadapan Allah dan bahagia.

Maz 1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Mengapa orang-orang suci selalu menjauhi yang jahat?

Bukankah Tuhan sudah melepaskan kita dari dosa dan kita bebas dari dosa oleh pekerjaan Kristus? Ya, betul kita bebas, tetapi:

1). Kita bukan kebal dari dosa,

2). Semua orang tetap hidup dalam tubuh daging (yang menarik kepada hal-hal kedagingan dan dosa), sekalipun orang-orang suci yang indah-indah seperti Musa, Daud, Daniel dll.

Sebab itu kalau kita berada di tengah-tengah dosa, daging kita akan dirangsang, dilazatkan oleh dosa, maka tabiat daging akan bangun, tumbuh menjadi makin hidup dan makin kuat. Apalagi kalau dengan sengaja (= ada keinginan) masih di tengah-tengah dosa, itu sudah berarti kejatuhan, ia sudah berbuat menuruti keinginan hatinya, itu sudah menjadi perbuatan dosa, sehingga dengan demikian roh tertekan, pergumulan daging dan roh menjadi terlalu berat, tidak dapat ditanggung dan biasanya ia sudah dikalahkan dan diperhambakan oleh dosa.

Rom 13:14 Melainkan hendaklah kamu bersalut dengan Yesus Kristus Tuhan itu, dan jangan melazatkan tabiat tubuhmu (artinya bersenang-senang menuruti nafsu daging, TB: Merawat tubuhmu) sehingga menguatkan hawa nafsu. (TL)

Sebab itu orang yang sungguh-sungguh mau hidup suci itu menjauhkan diri dari dosa.

Ini adalah tanda bahwa orang itu punya niat dalam hatinya untuk hidup suci, mau hidup suci, sebab itu sebelum jatuh dalam dosa, ia sudah menjauhi segala hal-hal dosa supaya tidak sampai dikuatkan untuk berbuat dosa lalu jatuh. Jadi menjauhkan diri dari dosa adalah tanda hati yang mau, punya niat untuk tetap hidup dalam kesucian. Sebab itu orang yang mau hidup suci itu menjauhkan diri dari yang jahat.

Kalau orang seperti Ayub toh bertemu dengan perkara-perkara dosa, godaan dan pencobaan, ia tetap tidak akan berdosa, tidak jatuh dalam dosa sebab:

1). Ia memang tidak mau.

2). Roh Kudus selalu standby menolong orang yang memang tidak mau berdosa, dan Roh Kudus di dalamnya ini sangat kuat (1Yoh 4:4).

3). Tuhan yang tahu lebih dahulu, tidak akan membiarkan pencobaan yang lebih besar dari kekuatannya menimpa dia.

Biasanya Roh Kudus akan sanggup memimpin orang-orang seperti ini keluar dari pencobaan itu tanpa jatuh.

1Kor 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Sebab itu orang-orang ini, kalau toh menghadapi godaan dosa, biasanya tetap menang, kecuali kalau ia tertipu lalu ingin, maka ia akan jatuh dalam dosa.

Orang yang ingin berbuat dosa atau yang plin-plan (berbuat juga boleh, tidak berbuat juga tidak apa-apa), tidak akan menjauhi yang jahat sebab mungkin saja ia akan melakukan keduanya.

Jadi menjauhi yang jahat adalah tanda bahwa orang itu memang mau hidup suci, mau tetap lepas dari dosa dan segala kejahatan.

Dina dipercabuli oleh Sichem sebab plin-plan atau memang ingin coba-coba merasakan dosa sex. Kej 34:1-2.Sebab itu ia dekat-dekat dengan Sichem dan mau saja diperkosa. Kalau ia betul-betul tidak mau, ia tidak akan dekat-dekat, tetapi menjauhi segala kemungkinan yang jahat itu, dan kalau toh ia bertemu Sichem dan dirayu ia akan menolak, sekalipun dipaksa ia akan melawan dan Roh Kudus akan selalu siap menolong orang yang mau hidup suci dan Roh Kudus pasti punya “jalan keluar” yang tepat dan berkemenangan.

2Pet 2:9a jikalau begitu, sudah nyata bahwa Tuhan tahu melepaskan segala orang yang beribadat dari dalam pencobaan, (TL)

Contoh lain Yusuf, ia lepas dari pelukan isteri Potifar, hanya baju luarnya yang tertinggal dalam pelukan isteri Potifar Kej 39:12. Sebaliknya Betsyeba waktu dipanggil Daud untuk diajak berzinah, memang mau, kalau ia menolak pasti Daud tidak akan membunuh atau mencelakakannya. Memang si Betsyeba tidak setia dan anak pertama dihukum mati oleh Tuhan 2Sam 11:4.

Jadi sikap seperti ini (menjauhi yang jahat) itu berkenan kepada Tuhan, sebab niat hatinya betul, baik, sungguh-sungguh ingin hidup dalam kesucian.

Semua kunci Ayub ini tentang dosa dan kesucian:

1. Saleh, hidup suci dalam segala segi hidup.

2. Tulus, dicobai dalam segala perkara, tidak bereaksi dosa, tetap suci.

3. Takut akan Tuhan, tidak berani berdosa sekalipun ada kesempatan dan alasan ini dan itu.

4. Menjauhi kejahatan supaya tetap tinggal suci.

Ini kunci hidup seperti Ayub, sehingga hidupnya diperkenan Tuhan, tumbuh dan ber-buah-buah dan mulia sampai kekal. Ia puas dan bahagia, sekalipun diuji dengan dahsyat, tetap lulus dan menjadi makin mulia, mungkin juga ia naik sampai level sempurna.