M4138 – 1Timotius 3:4. Keluarga Bahagia

DEFINISI.

Ada banyak definisi, tetapi definisi yang Alkitabiah adalah keluarga yang seka-rang bisa duduk bersama dengan manis dalam Tuhan seperti Maz 133:1-3 dan bersambung, duduk bersama di Surga (di Surga, tidak ada dosa, pasti manis. Yang tidak bisa bersekutu, tidak masuk Surga). Ini definisi yang terbaik dari Tuhan, sebab bahagia, kalau hanya di dunia, itu hanya seperti mimpi, lalu kekal dalam celaka Neraka. Ini tidak otomatis, tetapi ini harus diusahakan ber-sama2 dengan Tuhan, sebab ada Tuhan yang ingin semua orang selamat dan bahagia, tetapi juga ada iblis yang ingin semua pahit dan binasa dalam Neraka.

Kita bukan robot/ mesin, tetapi mahkluk bebas, sebab itu keluarga bahagia, tergantung dari kedua pihak, Allah dan manusia. (Iblis boleh diabai-kan, kalau Allah beserta kita, kalau tanpa Allah, iblis harus diperhitungkan, sebab tanpa Tuhan, iblis adalah faktor yang sangat besar 1Yoh 3:10, Yoh 8:34).

DIRI SENDIRI.

Siapa saja yang mau membuat keluar-ganya bahagia dengan pertolongan Tuhan bisa, misalnya Yusuf, Daud, si anak, orangtua atau orang yang per-tama percaya Tuhan dll. Orang itu ha-rus lahir baru, selalu penuh dan di-pimpin Roh dalam kesucian melakukan kehendak Tuhan, sehingga ada sungai air hidup dalam hati (Yoh 4:14, Yez 47:1-5). Ini orang2 yang hidup di jalan sempit Mat 11:28-30. Orang yang hi-dup dalam dosa di jalan lebar tidak mungkin punya keluarga bahagia seperti definisi di atas. Hidup dengan Tuhan itu Surga. Hidup dengan iblis itu Neraka sekalipun ada yang manis2, tetapi hanya sesaat.

SUAMI-ISTRI.

Suami-istri adalah yang paling me-nentukan keluarga itu bahagia atau tidak, sebab suami dan istri adalah kepala keluarga, seperti pilot dan co pilot.

Faktor2 yang menentukan untuk keluarga bahagia antara lain:

  1. Tinggal di dalam Tuhan Yoh 15:5 (ada tanda2 kelimpahan 7 KPR). Kalau tinggal di dalam Tuhan bisa tinggal da-lam kesucian dan kasihnya akan ber-tumbuh, sehingga nikah itu menye-nangkan dan bahagia. Jadi tinggal dalam Kristus, itu berarti tinggal dalam kesucian dan kasih terus bertumbuh. Ini mutlak perlu supaya hidup suami-istri makin lama makin manis, sehingga keluarganya bahagia. Tanpa kesucian, lebih2 kesucian dari dosa perzinaan (tetapi juga dari dosa lain), tidak ada kasih yang betul (yaitu kasih ilahi) bahkan kasihnya akan terus bocor sampai habis. Tanpa kasih ilahi, hanya kasih manusiawi atau kasih daging, maka itu hanya dapat bertahan untuk sementara dan rapuh.

Kalau sungguh2 dalam Tuhan, se-hingga selalu hidup dalam kesucian dan kasih Allah, maka seluruh hidup nikah-nya akan berubah menjadi makin baik.

Tidak ada suami-istri yang ideal, tetapi di dalam Kristus, asal mau saling mengampuni dan diperbaiki, maka Tuhan bisa mengubah yang jelek dan rusak menjadi baik, sebab di dalam Kristus, tabiat baru akan terus tumbuh sampai penuh dan tabiat atau hidup lama betul2 bisa dilenyapkan 2Kor 5:17, Rom 6:11-14. Apalagi kalau selalu penuh dan dipimpin Roh, bisa tetap hidup suci dan Roh Kudus bisa men-curahkan kasih Kristus makin limpah dan penuh dalam hati kita Rom 5:5, istimewa diantara suami-istri. Kasih manusiawi/ duniawi saja tidak bisa tahan lama, hanya sebentar dan rapuh, lekas habis bahkan bisa berubah jadi benci! Kalau ada kesucian, limpah kasih ilahi, hidup memperkenankan Tuhan, maka sekalipun ada kekurangan di-antara suami-istri, akan mudah diper-baiki dengan tulus dan dengan kasih. Bahkan istri Ayub yang brengsek (sam-pai makan korban anak2 dan hartanya habis, sebab berani berbuat se-mau2-nya sendiri menurut daging dan meng-hojat Tuhan seenaknya, tidak takut Allah), tetapi sebab Ayub tidak bereaksi dosa, Tuhan bisa tetap menyertainya dengan kasih, sabar, hikmat dan kuasa, sehingga secara bertahap istrinya bisa diperbaiki sampai lumayan, jadi baik (tentu istri jangan mengharapkan sua-mi seperti Ayub lalu hidup semaunya sendiri menuruti daging, ia akan sangat pahit dan celaka seperti Ny. Ayub, dan meskipunakhirnya masih mau berto-bat, tetapi dosa2nya itu akan me-nimbulkan banyak kerusakan dan ca-cat, se-olah2 seperti orang lumpuh atau buta, ia akan menuai dari pe-naburannya yang jahat, tetapi Ayub makin indah. Istri yang jahat tidak bisa mbonceng suaminya, masing2 harus bertobat sungguh2. Tetapi sebab Ayub tetap benar, istrinya tertolong seka-lipun cacat karena dosa2nya.

Sebaliknya ada istri2 yang bijak, seperti Abigail yang bisa mengasihi dan mengimbangi suami yang bobrok yaitu Nabal, akhirnya Nabal dihukum Tuhan, mati kaku 1Sam 25:3,38. Ada banyak istri yang rohaninya baik, bijaksana seperti Ams 31, ia wajib mengasihi “musuh” yaitu suaminya sendiri yang jahat, sehingga akhirnya bisa menolong suaminya.

  1. Suami-istri harus memelihara kesa-tuan hidupnya sebagai kepala + tubuh. Baik suami atau istri, jangan sampai tercerai atau terpisah karena ada me-nyenangi, mencintai atau mengagumi perempuan atau laki2 lain, sebab itu adalah dosa, sekalipun hanya dalam pikiran Mat 5:28. Harus tetap cinta dan setia pada istri/ suami sendirisampai mati dan tidak boleh ada pikiran atau rencana pisah atau cerai, itu sudah dosa. Tetapi suami-istri harus tetap bersatu seperti 1+1=1, ini berarti ke-duanya itu seperti dirinya sendiri, bukan seperti orang lain Mat 19:5.

Allah tidak menghendaki percerai-an, sekalipun dalam pikiran (itu permu-laan yang jahat) sebab bercerai itu ngeri, seperti memotong kepala dari tubuh, akibatnya besar, juga pada anak2 dan seluruh keluarga bahwa contoh yang jelek dan itu dosa zina, zina tidak boleh masuk Surga Wah 22:15, Mat 19:9, Luk 10:11, Luk 16:18, Mrk 10:12. Kalau sudah menikah, biar-pun suami atau istrinya berdosa atau berzina, ya ampuni terus, sampai 70×7 kali Mat 18:22. Bukan berarti yang salah bebas berdosa; kalau ia terus berdosa, akibatnya dahsyat, bisa mati kaku seperti Nabal dan binasa di Ne-raka kekal. Hukuman mati masih ber-jalan sampai sekarang. Istri atau suami yang tidak bersalah, jangan bereaksi dosa, kasihanilah orang yang bersalah, kasihan nasib suami atau istri yang tidak bertobat; belas kasihan pada musuh, apalagi pada suami/ istrinya. Kalau bereaksi dosa, marah, benci, membalas atau dosa apapun, maka iblis akan masuk lalu menguasai dan mengadu keduanya sehingga menjadi perang besar atau “perang gerilya”, pahit dan berlarut sampai akhirnya celaka, kalau tidak ada yang bertobat dan disertai Tuhan. Kalau ada 1 tiang saja yang bertahandalam kesucian (tidak bereaksi dosa) dan kasih, maka rumah tangga itumasih bisa tahan meskipun merana, dan bahkan Tuhan masih bisa memperbaikinya sampai dimana orang itu mau bertobat, itu masih mungkin, tetapi banyak yang rusak dan cacat, tergantung dari kasus masing2. Jangan lupa dengan kasih berarti banyak pengampunan; jangan yang sudah diampuni di-bongkar2 lagi. (Lupakanlah yang di belakang yang sudah diampuni Pil 3:13), kecuali kalau berdosa yang sama lagi, perlu diingat-kan, dinasehati dengan pimpinan Roh Kudus dengan kasih (boleh sedih, te-tapi jangan pegel atau benci, itu bagian Tuhan dan Tuhan itu pembalas yang adil, sebab itu dahsyat Rom 12:19). Bagian kita mengampuni dan menga-sihi, mengasihani dan pencobaan ini tidak akan lebih dari kekuatan kita 1Kor 10:13, kecuali kalau ia bereaksi dosa, setan bekerja, bukan Tuhan, itu pahit dan ruwet, kacau, susah akhirnya hancur, ini goalnya setan!

  1. Masing2 di tempat dan kewajiban-nya. Suami sebagai kepala, mengasihi istrinya sendiri saja, seperti Kristus dan menyerahkan diri karena jemaat yang makan hati Ef 5:25,33. Kalau salah menasehati, tetapi dengan kasih bukan dengan JMPE atau marah apalagi dengan benci dan ingin cerai, itu dosa di hadapan Allah, setan bekerja, kuasa Tuhan tidak bisa bekerja, sehingga ramai dan celaka. Kalau betul, Tuhan akan bekerja.

Juga istri tunduk pada suami sendiri jangan pada kehendak atau permintaan atau kemanisan laki2 lain! Ef 5:22-33. Tunduk pada suami sendiri, jangan ber-bantah2 apalagi melawan, nanti jadi dosa. Jangan lupa, keduanya harus tinggal tetap dalam Kristus, dipimpin Roh dan terus tumbuh dalam hidup dan tabiat baru, limpah dengan 7 KPR. Tanpa Tuhan, masih ada yang indah, sebab ada sisa2 kemuliaan Allah Rom 3:23, tetapi itu terlalu sedikit dan habis dilindas oleh tabiat daging yang menguasai dan iblis Yoh 8:32, 1Yoh 3:10. Mutlak perlu pertolongan Tuhan.

ANAK-ORANGTUA, TERMASUK MENANTU-MERTUA.

Anak2 hormati orangtua dan cinta, taat Ef 6:1-4. Jangan lupa se-banyak2nya kesalahan orangtua, masih banyak kesalahan si anak. Se-besar2nya pe-ngorbanan anak masih lebih besar pe-ngorbanan orangtua, lahir batin apalagi kalau dihitung prosentasinya. Biasanya sisa2 kemuliaan Allah dalam orang berdosa Rom 3:23, itu yang paling ba-nyak pada cinta orangtua (ibu dan bapak) pada anaknya, sampai binatang-pun limpah dengan cinta (naluri) induknya.

Allah tahu lebih dahulu, sebab itu  hukum Allah yang adil adalah salah anak pada orangtua itu hukumannya lebih daripada kesalahan orangtua pada anaknya (lihat buku: Menghor-mati orangtua). Sebab itu jangan berani bersalah pada orangtua, apalagi kalau sudah tua atau tidak berdaya, itu melawan Allah. Sebab itu bagaimana-pun juga anak2 harus cinta (kalau mereka salah, ampuni) dan hormat orangtua selagi mereka masih hidup, jangan cinta peti mati atau kuburan-nya. Orangtua jangan marah, bersikap salah ber-lebih2 atau bicara semaunya sendiri, apalagi maki2 atau mengutuki seperti Nuh, sekalipun itu anak dan orangtua tingkatnya lebih tinggi dari anak2, tetapi bicara dan bertindak yang bijaksana dan adil pada semua anak, juga tetap harus mendidik dengan pengertian, belas kasihan dan dipimpin Roh Ul 6:6-7 supaya anak2 itu tidak diterkam singa iblis 1Pet 5:8, tetapi jadi orang yang indah dan satu kali menjadi mahkota orangtuanya 1Tes 2:19, sebab anak juga harus dimenangkan jiwanya. Jangan memanjakan anak seperti istri Ayub dan imam Eli, semuanya akan celaka bukan bahagia!

Juga menantu dan mertua harus memelihara hubungan sebaik anak-orangtua, sebab dengan nikah bukan saja anaknya jadi satu, tetapi juga dengan orangtua dan keluarga; seha-rusnya menantu-mertua seperti anak dan orangtua. Hubungan yang baik atau jelek dari mertua dan menantu itu mempengaruhi hubungan nikah anak2-nya. Sebab itu jangan sembarangan, tetapi minta pimpinan Roh Kudus, jangan bereaksi dosa, tetap dalam kasih dan kesucian, supaya Roh Kudus bisa bekerja, bukan roh setan, sebab akibat pekerjaan setan selalu celaka dan kerusakan! Hubungan menantu-mertua ini adalah tiba2, “ketemu sudah besar”, sebab itu kedua pihak harus sabar, dan semua pihak harus men-cocokkan dengan Firman Tuhan, bukan menurut si menantu (sekalipun hebat dan besar dan sudah mengerti banyak hal) atau menuruti si mertua (meskipun iaharus ditaati dan dihormati), tetapi semua harus patuh pada Firman Tuhan, maka Roh Kudus akan bekerja, dan setan dikalahkan dan akan ada sejahtera, sukacita dan berkat Tuhan berkelimpahan jasmani dan rohani! Sehingga keluarga bisa berbahagia di sini sampai di Sana.

SAUDARA DENGAN SAUDARA.

Sebagian hubungannya baik karena ada sisa2 kemuliaan Allah, kecuali kalau tingkat dosa sudah meningkat tinggi, lebih banyak hubungan yang rusak. Seharusnya orang bersaudara di dalam Tuhan, lebih baik dari orang dunia dan yang penting semua persekutuan itu harus disesuaikan dengan Firman Tu-han, yang lebih tinggi dari hubungan persaudaraan keluarga supaya jangan ada dosa yang menarik suasana Neraka dan kalau tidak bertobat, tidak disu-cikan dari dosa, maka satu kali tidak bisa duduk bersama di Surga, artinya tidak masuk Surga.

Hubungan atau keakraban keluarga itu seringkali tidak tunduk pada Firman Tuhan dan tidak dibatasi oleh kesucian dan takut pada Tuhan. Persaudaraan keluarga harus dicocokkan sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga tidak ada dosa, tetapi bersekutu dalam kesucian, sehingga ada sukacita yang asli dari Tuhan, sehingga rumah tangga bisa berbahagia dan bisa bersambung sampai kekal. Kalau semua berjalan dalam Roh, lebih mudah dan indah, kalau tidak, apalagi sesudah nikah bisa masuk pasangan2 yang tidak tulus dan tidak bertobat (bisa dicegah kalau nikah sama2 anak terang!). Hubungan antar saudara dalam keluarga harus dipelihara dengan hikmat dan kuasa Allah dengan 7 KPR, supaya se-bisa2-nya keluarga yang makin besar itu tetap seperti tubuh Kristus yang makin tumbuh sesuai Firman Tuhan. Supaya akhirnya semua selamat dan bisa duduk bersama di Surga dalam tingkat2 yang se-tinggi2nya sesuai dengan kerinduan Tuhan.

Keluarga di dalam Tuhan itu adalah bagian terkecil dari Gereja. Kalau keluarga2 rohaninya tidak sehat, juga Gereja jadi tidak baik dan tidak akan tumbuh. Sebab itu keluarga harus bersekutu dengan manis seperti dalam tubuh Kristus Maz 133:1-3 apalagi suami-istri harus lebih indah lagi yaitu 1+1=1seperti Pkh 4:9-12. Kalau tubuh Kristus itu banyak anggotanya tetapi jadi satu tubuh Kristus 1Kor 12:12,27 (rumusnya 1+1+1+1+1…. = 1) dan ini harus dimulai dari keluarga. Kalau se-mua hidup dalam terang dan kasih Kristus, maka akan ada persekutuan yang manis dan jadi keluarga yang bahagia di dunia dan bersambung sampai Surga. Biasanya selalu ada yang jadi problem dan itu perlu dilayani ber-sama2 dalam pimpinan Roh Kudus dan dengan kasih, hikmat dan kuasa Allah. Kalau sulit, jangan putus asa, usahakan supaya bisa bersekutu dengan indah dalam “pancinya” masing2. Semua ha-rus berusaha menggarami dan mene-rangi, sebab tanpa persekutuan yang betul kita tidak bisa tumbuh dalam rencana Allah yang indah dan mulia itu.

  1. Saling tolong menolong dan me-nguatkan satu sama lain.
  2. Setia satu sama lain dalam keluarga, jangan bercerai, jangan menarik diri, sebab rencana Allah bagi masing2 kita itu bukan sendiri2, tetapi dirajut men-jadi satu kesatuan.

Rencana Allah dalam suami akan rusak, kalau ia putus dengan istrinya. Rencana Allah tidak mungkin jadi kalau ada perpecahan diantara suami-istri. Sebab rencana Allah dalam suami dan  istri itu digabung, dirajut dalam satu kesatuan. Kalau 1 menarik diri, rencana Allah batal dan rusak baginya. Begitu juga dalam keluarga dan tubuh Kris-tus, orang yang tidak setia, kalau ber-jalan sendiri2, rencana Allah dalam dirinya akan batal dan rusak. Misalnya Ayub mengalami rencana Allah yang indah, sebab meskipun istrinya jelek, tetapi Ayub tetap cinta dan berusaha memperbaiki dan tetap bersekutu dengan kasih dan kesucian. Andaikata Ayub lepas dari istrinya (meskipun ada alasan bagi Ayub), tetapi rencana Allah akan banyak merosot atau batal, sebab rencana Allah baginya dirajut jadi satu dengan istrinya (1+1=1). Jadi kalau seorang memutuskan hubungan de-ngan istrinya, atau merusakkan nikah-nya, maka rencana Allah baginya akan batal dan ia menjadi cacat, misalnya lumpuh, bahkan akhirnya rusak.

Begitu juga dalam keluarga dan jemaat. Kalau dalam keluarga seorang berkelahi dan merusakkan hubungan-nya dengan keluarga lalu pergi, maka rencana Allah baginya akan rusak atau cacat. Kalau kita tidak salah seperti Putra manusia Yesus atau rasul2 lain, hanya Yudas yang salah, rencana Allah dalam Putra manusia Yesus masih tetap berjalan dengan baik, tetapi Yudas terhilang. Memang selalu ada sajayang jatuh dan terhilang tetapi gembala2 dan saudara2nya harus merebutnya dari tangan iblis Jd 23. Usahakan masing2 kita tetap setia dan memelihara persekutuan dalam ke-luarga dan Gereja. Jangan berhenti bersekutu dalam keluarga atau Gereja. (pindah2 Gereja), maka rencana Allah di dalamnya akan batal, atau merosot, atau rusak dan ia harus mulai baru lagi untuk dirajut bersama dalam keluarga atau Gereja yang baru dengan keadaan yang cacat sebab ditarik keluar dari rajutan persekutuannya yang lama. Kecuali Gerejanya sesat, seperti orang2 Lewi yang keluar dari kerajaan Israel yang jadi sesat, menyembah baal, dan mereka diikuti orang2 Israel yang mengerti (2Taw 11:16) atau karena pindah dll yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Suami-istri sama sekali tidak boleh pisah, cacatnya besar, tetapi orang yang tidak setia (dalam keluarga atau Gereja, itu juga jadi cacat, apalagi kalau keluar karena menuruti daging atau berkelahi atau karena dosa2 lain dan tidak diperbaiki.

DENGAN ISI RUMAH YANG LAINNYA.

Orang lain itu mungkin pekerja, atau famili dll yang karena sesuatu hal tinggal bersama untuk sesaat atau lebih panjang.

Keluarga itu adalah Gereja kecil, harus dijaga sesuai dengan Firman Tuhan. Kita harus menggarami panci kita baik2, yaitu seisi rumah (Kis 16:25).