M4030 – 2Tesalonika 3:10. Kesukaran Nafkah

Allah sebagai Bapa kita, bertanggung-jawab memelihara anak2Nya. Kita lebih dari bunga atau burung Mat 6:31-34. Allah tidak pernah lupa atau tidak sang-gup melakukan tugasNya, Ia sepenuh-nya memelihara kita, sebab itu kita tidak perlu kuatir, Allah pegang janji dengan sempurna.TANGGUNGJAWAB.

Anak2 Allah. Nafkah kita tergan-tung dari Bapa Surgawi dankita sendiri, tetapi dari pihak Allah sebagai Bapa, semua beres 100%. Kalau toh ada kesulitan, pasti itu karena kita sendiri, ada sebabnya yaitu:

  1. Hajaran.
  2. Ujian dan pengolahan, dan untuk ini biasanya kita harus taat sampai lulus dan menunggu hasilnya.

FAKTOR2 YANG MENENTUKAN NAFKAH.

FAKTOR ROHANI.

Untuk orang dunia dan akal, ini tidak ada hubungannya dengan nafkah kita, tetapi bagi Tuhan dan kita, ini sangat menentukan.

  1. Yang kekal dan yang fana. Kita harus yakin akan pembagian ini, yaitu tujuan (yang kekal) dan fasilitas (yang fana) dalam hidup ini, sebab ini cara berpikir Allah, yang fana hanya sementara, te-tapi tujuan itu yang kekal dan yang terpenting Mat 16:26.
  2. Cari kerajaan Surga dan hidup benar dahulu, maka semua fasilitas yang kita perlukan,akan ditambahkan kepada kita Mat 6:33.
  3. Jangan cinta uang Ibr 13:5 itu ber-hala mammon Mat 6:24. Ini akarnya segala dosa 1Tim 6:9-10. Yang bebas dari cinta uang bisa berpada 1Tim 6:8, Pil 4:11-13, Mat 6:11. Jangan ingin le-kas kaya Ams 28:20,22, matanya men-jadi jahat, banyak dosa (sebab cinta uang) dan tidak melihat kemiskinan datang kepadanya.
  4. Jangan ada dosa, apalagi disimpan, dicintai, itu sumbernya segala masalah termasuk keuangan. Harus hidup benar dalam semua segi hidup dan hidup di-pimpin Roh dan limpah 7 KPR ini ter-masuk nomer 2.
  5. Yang menabur akan menuai 2Kor 9:6-8. Penaburan adalah hal2 wajib. Misalnya perpuluhan dianggap pena-buran Mal 3:9-10, juga korban2 yang diperintahkan Tuhan, dengan rela dan sukacita (korban bakaran, korban syu-kur dll). Orang tidak mau menabur de-ngan betul, juga tidak menuai. Ter-masuk lupa “rumahnya” sendiri, lebih tertarik pada ajakan2 yang salah.
  6. Bisa dipercaya sebagai bendahara Tuhan yang baik. Ams 30:8, Mat 25:19. Jangan dipakai untuk yang dosa, menu-ruti daging, keduniawian atau menda-patkan kepujian manusia dll, sebab kita bertanggungjawab kepada Tuhan se-suai Firman Tuhan. Jangan memakai uang dengan salah sehingga timbul se-gala hal yang tidak berkenan pada Tuhan.
  7. Dan lain-lain.

Faktor jasmani.

Dalam bekerja sendiri atau pada orang lain, kita perlu memperhatikan:

  1. Kejujuran dengan tulus. Orang yang tidak jujur seringkali menutupinya de-ngan yang manis2, tetapi segera orang tahu, orang menjadi kapok dan cerita-nya meluas. Ini akan membuat nafkah-nya menjadi sulit bahkan berhenti. Biasanya dalam dunia tidak ada perto-batan atau lepas dari dosa, orang2 dunia mengerti hal ini baik2, sebab itu mereka kapok atau dendam. Jangan tamak sehingga menghalalkan segala cara. Orang jujurpun bisa berubah, sebab jujur dunia ini hanya “puasa”. Dunia berkata, kesempatan membuat orang menjadi pencuri.
  2. Sikap yang sesuai Firman Tuhan.
  3. Orang yang bekerja sendiri, resiko naik turun jauh lebih besar, tapi ada untung ruginya. Sikap itu penting, le-bih2 sebagai pemilik usaha (bos kecil/ besar) dan terhadap orang luar. Miliki sikap yang baik dan benar.Harus takut akan Tuhan dan memenuhi syarat2 Fir-man Tuhan. Tetapi orang yang bekerja sendiri mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk bisa lebih bebas ibadah dan pelayanan untuk Tuhan, sebab ini yang kekal. Sebab itu penting mengatur waktu dengan efisien dan tertib. Semua ini ada sangkut pautnya satu sama lain seperti dengan cinta uang, malas, tidak bertanggungjawab dan terutama dengan tingkat roha-ninya.

Orang yang bekerja sendiri itu ter-gantung dari dirinya sendiri, sebab itu harus bisa menguasai bidangnya, cer-dik, tetapi tetap tulus Mat 10:16. Da-lam dunia ada campuran orang jahat dan baik, kalau bodoh, menjadi mangsa orang jahat dan rugi, sebab itu tidak semua bisa bekerja sendiri. Minta hikmat dan pimpinan Roh Kudus.

  1. Bekerja pada orang lain, kerjalah dengan baik seperti kepada Tuhan Kol 3:22-25, Ef 6:5-8. Jangan bersikap pu-ra2, tetapi betul tulus, taat pada se-mua perintah majikannya (tentu bukan perintah dosa atau kejahatan) dengan takut akan Tuhan. Perbuatlah seperti kepada Tuhan, ini sikap yang paling top, sebab Tuhan tahu semua, tidak boleh ada maksud dosa dan jahat, juga kita harus mengerti bahwa semua ada akibat (balasannya) dan orang yang bekerja baik, Tuhan yang memberi ba-lasan yang sesuai. Tidak sedikit pim-pinan atau majikan yang tidak baik, tetapi kalau kita masih bisa mendapat nafkah dengan cukup dan bisa tetap hidup benar, tidak ketularan dosa2-nya,bisa diteruskan. Asal kita bekerja baik, sebab pimpinan juga butuh pegawai2 yang baik; kalau baik pasti dipertahankan. Kadang2 ada majikan yang tidak jujur dan berusaha mengu-rangi pendapat si pegawai seperti La-ban terhadap Yacob (Potifar percaya penuh pada Yusuf dan Yusuf pasti tidak kekurangan bahkan limpah, tetapi Yu-suf tetap jujur dalam segala segi, juga dalam segi dengan istri tuannya). Yacob ditipu oleh Laban 10 kali, Yacob tidak membalas, tidak bereaksi dosa, Tuhan memberkatinya dengan limpah. Tuhan sanggup menghentikan atau mencegah maksud jahat tuannya, sehingga justru Yacob yang diberkati Tuhan dan itu semua terjadi dengan jujur, bukan dengan tipu daya (halus).
  2. Rajin Ams 6:6-11. Jangan malas, ini sifat yang tidak pernah disukai semua majikan.

Juga jangan curi waktu, termasuk ber-pura2 rajin dimuka bos, apalagi sekarang ada CCTV lebih baik kita kerja-kan baik2 seperti kepada Tuhan. Semut ini sekalipun tidak diawasi, kerja de-ngan baik dan rajin dengan segala usa-ha dan tanggungjawab. Juga ringan ta-ngan, mau bekerja, tidak “ijir” tetapi siap melakukan semua dengan suka-cita, kecuali memang tidak mampu/ sanggup. Belajar menyenangkan hati majikan dengan tulus, sebab memang orang mencari pegawai untuk bekerja sesuai dengan kehendaknya. Kalau tidak cocok dengan kehendaknya, ada harapan diberhentikan.

  1. Bertanggungjawab. Dalam pelayan-an kepada Tuhan semua harus bertang-gungjawab, misalnya Mat 25:19, Ibr 13:17, Yoh 17:12 dsb. Begitu juga orang2 beriman harus bekerja bertang-gungjawab, bukan saja asal dirinya benar tidak bisa disalahkan, tetapi ikut memikul tanggungjawab supaya jangan majikan atau perusahaannya rugi. Itu maksud dan tanggungjawabnya. Tentu bukan menurut kehendak sendiri tetapi kehendak pimpinan, kalau tidak jelas, perlu tanyakan supaya jangan salah mengerti dan merugikan perusahaan-nya.
  2. Membela perusahaannya. Kadang2 ada kesempatan untuk menunjukkan bahwa ada sifat seperti ini, supaya perusahaannya tidak rugi. Kadang2 perlu waktu, tenaga atau usaha ekstra bahkan kadang2 keluar uang untuk membela kepentingan majikannya. Majikannya akan senang dan puas dan biasanya kerugian2 yang ditanggung pegawainya untuk membela, diganti bahkan diberi persen. Tetapi kalau ku-rang jangan cepat kecewa. Tentu ja-ngan membela yang salah, dosa, atau hal2 yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Minta hikmat dan pimpinan Roh Kudus, kita memerlukan hal2 ini juga dalam pekerjaan dan hidup se-hari2, bukan hanya dalam pelayanan di Gereja.

Sebaliknya jangan melakukan tindakan2 yang merugikan perusahaan, baik untuk kepentingan orang lain atau kepentingan sendiri, lebih2 dengan hal2 yang tidak jujur, baik dengan per-kataan atau perbuatan. Kadang2 orang yang sudah mahir dalam pekerjaan tuannya, misalnya buat sate, lalu ia sendiri buka kedai sate. Ini masih “normal” dalam dunia tetapi kerja-kanlah dengan baik, jangan bersaing kotor, buat kedai di sebelahnya, apalagi dengan kata2 promosi yang memo-jokkan perusahaan lama. Seringkali orang bekerja itu termasuk juga bela-jar, sehingga lain kali bisa membuka usaha sendiri. (Majikan tentu juga me-mikirkan hal ini, kadang2 ada rahasia perusahaan yang dijaga ketat, itu masih wajar. Jangan tamak, cinta uang se-hingga menghalalkan segala cara. Ja-ngan ada sedikit pikiran untuk sabot dengan sengaja, akan berhadapan de-ngan polisi dan Tuhan. Kalau toh diru-gikan majikan, atau diperlakukan de-ngan salah, lapor kepada Tuhan, minta pimpinan Roh Kudus, kalau perlu bisa minta berhenti dengan baik2. Jangan membalas dengan jahat, itu urusannya Tuhan Rom 12:19. Memang kita harus cerdik tetapi tetap tulus dan tidak bereaksi dosa dan mengampuni musuh Mat 5:44.

  1. Gaji. Berapa ukuran yang betul, bia-sanya tergantung dari beberapa faktor dan bisa dibandingkan. Kalau memang tidak sesuai, masih bisa pindah pe-kerjaan karena gaji, tetapi pikirkan baik2, jangan terus menerus dengan cepat pindah2, itu jadi catatan kerja yang kurang baik. Adalah umum kalau orang pindah kerja karena gaji, tetapi jangan dengan salah atau dosa, jangan membalas, berkati musuhmu itu ter-masuk hal ini supaya jangan bereaksi dosa.

Beberapa orang dunia bisa berlaku fair, gentleman sekalipun hatinya tidak senang, benci tetapi menahan diri.Kita harus lebih dari ini, benar di hadapan Tuhan pasti Tuhan menolong dan memberkati orang benar. Dalam hal2 jasmani kita boleh mendengar nasehat pengalaman2 orang dunia, tetapi jangan kena dosanya, ingat ini ter-masuk fasilitas, jangan karena ini kita berdosa pada Tuhan, apalagi sampai ditolak Tuhan.

  1. Sopan dan hormat dalam batas2 yang wajar dan benar di hadapan Tu-han, tetap perlu diperhatikan. Kerjakan dengan tulus yang pantas, sebab orang beriman harus selalu benar di hadapan Tuhan, tidak ada benci, dendam, sakit hati, maksud jahat, bisa rendah hati dan taat dengan betul, dll. Tentu ma-jikan sakit hatinya melihat pegawai yang tidak sopan (kurang ajar) seka-lipun cakap, tentu lebih baik yang cakap, pintar ditambah dengan sopan, itu bisa jadi kesaksian yang baik bagi Tuhan.
  2. Setia. Ini ukurannya lain dengan se-tia kepada suami-istri, keluarga, Gereja, tubuh Kristus, Tuhan, sebab ini adalah hal2 sekuler. Tentang hal2 rohani ada ukurannya dalam Firman Tuhan. Dalam pekerjaan sekuler, itu tergantung dari perjanjian, tradisi dll, tetapi tetap jangan sampai berdosa kepada Tuhan. Ada banyak alasan untuk berhenti be-kerja, tetapi hendaknya dengan alasan yang benar, bukan karena dosa atau kesalahan tetapi dengan sopan dan baik2. Jangan menimbulkan kesan yang jelek/ jahat, supaya sekalipun putus hubungan kerja, tetap tidak bermu-suhan, tetap ada hubungan yang baik/ wajar. Kalau ada perjanjian, hendaknya itu digenapkan, sebab itu sebelum membuat perjanjian, harus dipikirkan baik2, kalau perlu ditanyakan yang me-ngerti. Ingat juga segala kebaikan dari majikan yang sudah pernah diterima, perlu tahu berterimakasih.
  3. Kerja dengan cakap, efisien. Jangan asal kerja tetapi hasilnya kurang efi-sien, kurang daripada yang bisa kita lakukan. Kerjakanlah dengan segenap hati, seperti kepada Tuhan. Mungkin juga pegawai punya kemampuan khu-sus yang menjadi milik pribadi,misalnya gelar itu tidak bisa ditiru, kalau yang lain seperti pintar masak, itu bisa di-ambil alih teman2 kerjanya, lebih baik ada perjanjiannya, misalnya tukang2 yang ahli, kalau tidak mau disuruh mendidik anak buahnya, bisa dibica-rakan dahulu, sebab sekarang di dalam kerjasama ada banyak “ambil alih tehnology”.
  4. Menggarami, menerangi. Ini ada-lah kewajiban kita kepada semua orang di sekitar, tetapi bukan dipaksakan. Mat 5:14-16, Luk 10:27. Kalau kita jadi berkat dalam pekerjaan, itu memberi kesan yang baik, yang bisa membuka pintu hatinya untuk diselamatkan oleh Tuhan. Ini dilakukan dengan doa, kasih, kesucian dan kesaksian hidup yang baik. Dalam hal apapun jangan kita menjadi batu sontohan atau menjadi penyebab sehingga nama Tuhan diho-jat Rom 2:24.

III. MAJIKAN. Kol 4:1, Ef 6:9.

Juga orang beriman sebagai majikan ada syarat2nya, kalau ini dilanggar, Tu-han tidak akan memberkati, terpaksa cari berkat sendiri seperti orang dunia. Seharusnya ini lebih mudah, sebab majikan ada di atas, kalau sungguh2 berkenan pada Tuhan, pasti juga menjadi berkat bagi pegawai2nya. Prinsipnya taat akan Firman Tuhan dan takut akan Tuhan.

  1. Sama di hadapan Tuhan. Sekalipun biasanya pegawai2 itu orang yang lebih kecil menurut ukuran dunia, tetapi di hadapan Allah, sama! Ingat Lazarus pe-ngemis itu tingkatnya di Surga seperti Abraham, tetapi orang kaya itu di Neraka, sangat berbeda. Sebab itu per-lakukan dengan kasih dan belas kasihan Mat 9:13 (musuhpun dikasihi Mat 5:44) apalagi orang yang bekerjasama de-ngan kita meskipun dalam tingkat yang lebih rendah, hargai mereka karena Tu-han. Dengan kesaksian yang baik, kita bisa menyelamatkan jiwanya juga se-hingga kita mendapat pahala dari Tuhan, termasuk berkat di dunia juga.
  2. Tidak mengancam. Tertib itu lain dari mengancam, yang seringkali kare-na benci dan sebab2 lain. Biasanya lebih mudah majikan yang mengancam daripada pegawai, meskipun juga bisa sebaliknya, apalagi zaman sekarang. Semua kita perlu Tuhan.

Semua kerjasama perlu ada perjan-jian, apalagi yang berupa kongsi dll, perlu ada perjanjian yang cukup leng-kap dan saksi2 yang punya pengaruh. Semua harus taat akan perjanjian de-ngan tertib. Yang melanggar ketertiban harus dapat sanksinya.

  1. Adil, tidak membedakan orang. Yak 5:1-6. Ada negara2 yang masih ada kas-ta. Tetapi juga perbedaan kedudukan jangan sampai membuat kita berdosa! Kita harus takut kepada Tuhan. Semua ini bisa mempengaruhi nafkah dan seluruh hidup kita. Jangan menahan hak dari pekerja2 kita, Tuhan men-dengar jeritan orang yang benar dan tertindas, dan yang salah akan mendapat akibatnya.

KESUKARAN2 NAFKAH.

Tidak ada yang kebtulan bagi orang beriman Mat 10:30-31. Tuhan selalu mengizinkan dengan sebab2 yang adil. Semua itu bisa karena hajaran, ujian, termasuk pengolahan. Kalau ada dosa dan bertobat, Tuhan akan meno-longnya kembali.

Kalau kita mentaati Firman Tuhan dalam hal nafkah dan keuangan, baik dari segi2 rohani dan jasmani, maka kesukaran2 itu menjadi pengolahan dan ujian dan kalau kita tidak bereaksi dosa, lulus sebab dipimpin Roh, maka semua itu akan menjadi kebaikan dan keuntungan bagi kita Rom 8:28. Seperti Ayub, justru dengan kebangkrutannya itu ia menjadi dua kali lebih kaya dari semula dan rohaninya tumbuh makin indah. Sebab itu kita tidak perlu kuatir, tetapi tetaplah hidup dengan Tuhan, Tuhan sanggup menolong kita dalam segala hal.

KESIMPULAN.

Orang dunia hidup dari nafkah, jadi nafkah untuk hidup. Tetapi orang2 tebusan Tuhan punya tujuan yang lebih besar dan jauh yaitu keselamatan yang kekal dan nafkah adalah fasilitas yang kita perlukan di dunia, sesudah itu tidak lagi diperlukan bahkan hilang dari kita. Nafkah itu bukan saja untuk hidup, tetapi hidup bagi Kristus itu yang un-tung Pil 1:21. Jangan fasilitas yang fana nomer 1, tetapi kerajaan Surga dan ke-benaranNya itu nomer 1, yang lain se-bagai pelengkap 1Kor 7:31. Pakailah semuanya seperti orang yang tidak memakainya. Hal2 rohani yang kekal yang kita kerjakan di dunia ini, itulah yang kita bawa untuk kekal dalam kesukaan abadi. Jangan lupa yang kita bawa dalam kekekalan adalah nama dan benih yang kekal Yes 66:22.

Lazarus dan orang kaya adalah 2 ekstrem, Lazarus sangat miskin di dunia tetapi mulia di Surga, tetapi orang kaya itu sangat kaya di dunia tetapi celaka dalam Neraka kekal. Kita tidak memilih 2 ekstrim ini.

Tuhan ingin kita cukup bahkan limpah sesuai dengan kemampuan kita dalam hal uang dan yang fana, tetapi dalam hal yang kekal, semua mendapat kesempatan yang sama dari Tuhan, tetapi jangan di-sia2kan atau dirusak, pakai semua untuk meningkat setinggi mungkin dengan nama dan benih yang kekal.

Nyanyian:

Hidup ini adalah kesempatan.