M3869 – Matius 24:13. Bertekun Sampai Ke Akhir.

TIGA TINGKAT KETEKUNAN.

Dalam hal apa kita bertekun? Jangan bertekun di dalam dosa. Tetapi bertekun dalam hal2 yang kita yakin itu memperkenankan Tuhan, sekalipun itu menjadi rutinitas yang dianggap beberapa orang membosankan. Tetapi tekun dalam hal2 yang memperkenankan Tuhan itu wajib bagi kita, sebab semua yang tekun akan memperoleh janji2 Allah yang indah.

  1. Rutinitas yang wajib.

Ada banyak hal yang rutin yang wajib kita taati seperti berdoa, belajar Firman Tuhan Kis 2:42, pikul salib, hidup dalam kesucian, taat dalam 7 KPR, dalam iman, dalam anugerah dan semua perkara dari Atas Kol 3:1-3. Enak atau tidak, kita tetap melakukan rutinitas ini dengan tekun. Ini menjadi ujian bagi kita dan kita harus terus taat dan setia, tekun sampai lulus. Sering kali kita tidak tahu sampai kapan rutinitas ini berakhir. Orang yang bosanan, (biasanya yang lebih dewasa rohaninya,lebih tahan untuk tekun dengan setia sebab kanak2 tidak mau menyangkal diri), tetapi kalau itu adalah kehendak Tuhan, memperkenankan Tuhan, semua orang yang percaya wajib melakukannya dengan tekun. Ibr 10:36.

  1. Gairah sebab kebutuhan

Kalau mata rohani kita makin celik dan kita tahu bahwa itu suatu kebutuhan untuk hidup memperkenankan Tuhan, maka bukan saja tekun, tetapi ketekunan yang rutin itu bisa menjadi gairah yang berapi2. Orang yang celik dan sadar bahwa justru tekun dalam perkara2 diatas itu perlu Kis 2:42, Kol 3:1, menjadi keuntungan dan faedah bagi kita sendiri, maka iaakan jadi bergairah, bahkan mau mengorbankan apa saja untuk tekun dengan bergairah Yoh 2:17.

  1. Cinta yang mengikatkan diri

Lebih2 kalau kasihnya bertumbuh cukup, maka orang ini mau terikat untuk melakukan kehendak Allah dengan tekun Yoh 21:15-18. Kalau seorang kasih akan Tuhan, dia mau menggembalakan domba2 Tuhan dengan tekun, dengan setia, seklipun ada banyak kesukaran dan pengorbanan. Bahkan akalu kasih itu tumbuh dengan cukup, ia mau mengikatkan dirinya dengan segala rutinitas itu, yang dilakukannya dengan tekun dan mau terikat sebab cinta, bahkan dengan segala pengorbanan.

Jadi kita melihat ada tiga tingkatan ketekunan yang makin meningkat, kalau kita tumbuh dengan betul dalam iman, pengharapan dan kasih yaitu:

  1. Tekun dalam rutinitas yang wajar.
  2. Gairah sebab sudah jadi kebutuhan.
  3. Mau diikat sebab cinta.

Kita melihat contoh ini dalam hidup Musa, mula2 ia menolak panggilan Tuhan dengan sekuat2nya sampai 5 kali, Kel 3:11,13, 4:1, 10, 13. Tetapi Musa tahu bahwa itu panggilan Allah, dan itu benar, sehingga walaupun mula2 terpaksa,akhirnya Musa tetap melakukannya sebagai kewajiban. Ia tekun melakukan kehendak Allah. Sering kali dalam ketekunan tingkat pertama ini timbul protes seperti yang diperbuat Musa Kel 5:22. Tetapi sebab Musa tahu bahwa ini perintah Allah, Musa merasa wajib untuk terus taat dengan tekun dan setia. Makin lama Musa makin dekat dengan Tuhan dan sadar bahwa ini panggilan yang mulia sehingga timbul gairah dalam hatinya dan Musa bargairah melakukannya. Apalagi waktu ia beberapa kali bertemu dengan Tuhan muka dengan muka, sehingga gairahnya makin me-nyala2.

Akhirnya Musa makin mencintai panggilannya dan sebab itu ia mau terikat bahkan mau menderita sampai mati untuk pelayanan penggembalaan orang Israel yang sangat jahat ini, Kel 32:32. Jadi kita melihat mula2 Musa terpaksa taat dengan wajib dalam tugas2 rutin yang tidak enak ini, tetapi sebab setia dan taat, matanya makin celik, pengurapan Tuhan turun, sehingga ia menjadi bergairah dan akhirnya kasihnya tumbuh dan mau mengikatkan dirinya dalam pelayanannya dan mau berkorban sampai mati.

MULAILAH DENGAN TEKUN, TERUS TAAT DAN SETIA.

Meskipun tidak enak, tidak cocok dengan pikiran atau kehendak daging kita, tetapi dalam hal2 yang wajib dari Tuhan, tetaplah tekun. Orang seperti ini akan tumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih dan ketekunannya akan menjadi hal2 yang indah.

  1. Sebab percaya, mau tekun dalam kewajiban dan rutinitas ini.
  2. Timbul pengharapan sehingga makin bergairah dan
  3. Sebab cintanya tumbuh, mau mengikatkan diri dalam tugas2 rutin yang menjengkelkan dan membosankan ini (seperti pengalaman Musa, yang bertumbuh dengan betul). Seringkali dalam penggembalaan kita menghadapi pergolakan2 seperti ini, kita harus sabar dan kalau jiwa2 itu tumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih (1Kor 13:13) maka seperti Musa, maka mereka akan terus tumbuh sehingga menjadi bergairah dan mau mengikatkan dirinya dalam pelayanan ini.

Ini pertumbuhan yang baik, tetapi bisa terganggu oleh dosa dan segala tipu daya iblis yang memakai segala cara untuk merusakkannya. Tetapi orang yang bertekun sampai ke akhir, itu selamat dan untung besar. Mat 10:22; 24:13.

III. KEMEROSOTAN.

Sebaliknya dalam pernikahan tanpa Kristus, itu mudah dirusakkan oleh dosa, sehingga kasihnya cepat tawar, maka terjadi sebaliknya, yaitu:

  1. Mula2 mau terikat sebab ada kasih. Tetapi kalau dosa dibiarkan masuk, kasihnya akan menjadi dingin.
  2. Masih ada gairah, tetapi tidak lagi mau terikat, sebab kasihnay tawar. Kalau terus dalam dosa, kasihnya akan makin habis.
  3. Tinggal kewajiban yang rutin. Ini hidup nikah yang rawan, bisa rusak dan pecah. Sebab itu hidup nikah harus dipelihara dalam kesucian sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga karena kasih tidak turun, tetapi ber-tambah2, dan tetap mau saling mengikatkan dirinya sendiri pada istri/ suami yang dicintai, bahkan dengan penuh pengorbanan.

Sekalipun ada dosa dan hal2 yang tercela, Ayub tetap mengikatkan dirinya dengan istrinya, tidak pernah ia memutuskan ikatan ini, sebab itu sekalipun rutin, ia tidak bosan tetapi tetap bergairah.

Jangan biarkan iblis menipu, mengganggu dan mengisi dosa dalam kesucian hidup nikah, maka dalam hidup nikah yang suci, suami istri mau saling terikat, penuh kasih yang bergairah sekalipun tampaknya tetap rutin dan biasa, tetapi indah sebab ada gairah dan kasih, seperti Kristus yang mengasihi GerejaNya, sampai GerejaNya ditumbuhkan jadi sempurna.

TEKUN YANG WAJIB. Ibr 10:36.

Sebab itu kalau kita sudah percaya, yakin apa yang kita lakukan itu sesuai dengan Firman Tuhan, biarlah kita tetap tekun dalam kewajiban ini dengan tulus, dengan taat dan setia tanpa ber-sungut2 atau dosa, maka orang yang mau taat, Roh Kudus akan bekerja sehingga ia akan bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih, sehingga akan menjadi indah, tidak lagi terpaksa tekun, tetapi penuh dan gairah bahkan mau mengikatkan dirinya sendiri dengan Tuhan dan GerejaNya.

Ini perjalanan pertumbuhan yang wajar dalam iman dan pelayanan kita. Kalau dengan tekun, tulus kita mengerjakan pelayanan ini, maka akan tampak fase2 yang indah ini, sehingga timbul gairah, bahkan mau terikat dan berkorban sampai mati. Dalam hidup dan pelayanan rasul2, tampak jelas pertumbuhan ini kecuali Yudas yang cinta uang dan memutuskan hubungannya dan tidak lagi mau terikat, tidak lagi ada gairah dalam pelayanan dan akhirnya berhenti dari rutinitasnya yang benar.

Tetapi orang yang mau berlari dengan tekun dalam perlombaan yang wajib bagi kita Ibr 12:1 TL, maka di dalam kesucian dan jalan sempit kita akan terus tumbuh makin indah dan akhirnya menjadi sempurna seperti Musa.

TAAT SAMPAI MATI. Pil 2:8.

Belajar taat dan setia dalam jalan yang “sudah disediakan Tuhan” bagi kita. Meskipun tampak rutin, itu semua tidak kebetulan, diizinkan Tuhan dan menjadi ujian bagi kita, kita tetap harus taat dalam rutinitas ini dengan setia.

Di dalam dunia, ketekunan sampai akhir, berhenti sampai kubur. Ada yang memperoleh hadiah atau pahalanya, ada yang kecewa seperti Yudas. Semua itu hasilnya hanya sampai di kubur, sebab segala jalan orang berdosa, berakhir di rumah bapaknya iblis dalam neraka, sia2. Pkh 1:14; 2:11. Bahkan segala kemuliaan yang dijanjikan iblis pada Putra manusia juga sia2 Mat 4:8-9, sekalipun itu kemuliaan segenap dunia Mat 16:26, sia2. Tetapi orang yang tekun melakukan segala kewajiban yang rutin dari Tuhan, itu hal2 yang benar, akhirnya akan sangat mulia. Seperti Putra manusia Yesus yang terus taat melakukan kehendak BapaNya, sekalipun rutin, tetapi Ia tekun dan taat dalam jalan, perlombaan yang diwajibkan bagiNya (dalam pimpinan Roh Kudus) dan Ia setia, taat sampai mati Pil 2:8, maka rencana Allah yang besar dan mulia,  digenapkan dengan sempurna. Begitu juga Musa dengan tekun mengerjakan barang yang wajib atasnya, ternyata itu semua ada dalam jalan dan rencana Tuhan dan akhirnya ia sampai pada puncak rencana Allah yaitu kesempurnaan! Sebab itu jangan berhenti di tengah jalan, jangan putus asa seperti Elia (untung Elia tidak berhenti, sehingga ia bisa terus menyelesaikan rencana Allah sampai akhir dan menjadi sempurna), tetapi tetap tekun melakukan kehendak Allah, hasilnya akan indah.  Kalau kita taat, tekun sampai terakhir, kita tidak berjalan sendiri, tetapi ada dalam rencana Allah dan dipimpin dan diatur oleh Tuhan sehingga semua menjadi makin indah.

  1. Ketekunan yang tulus, dengan taat dan setia akan tumbuh menjadi gairah dan kasih akan bertambah dan tumbuh sehingga mau terikat dengan sukacita sampai ke akhir. Ini perjalanan yang indah, tidak membosankan, makin lama makin heran, makin bersukacita dan puas dalam kesukaan ilahi yang penuh.
  2. Ternyata orang yang taat melakukan kehendak Allah itu juga menggenapi rencana Allah yang indah dan mulia, bahkan bisa sampai sempurna seperti Elia dan Musa. Jangan berhenti di tengah2 jalan, apalagi dengan persungutan seperti orang Israel yang minta kembali ke Mesir, perjalanan yang terindah dan termulia akhirnya bantut dengan sia2, tetapi Yusak dan Kaleb yang tekun, taat dengan setia akhirnya menjadi indah dan mulia untuk kekal.

TEKUN SAMPAI LULUS UJIAN.

Orang yang tekun dengan tulus, melakukannya sesuai dengan Firman Tuhan, Roh Kudus akan menolongnya. Ia tidak sendirian, jangan takut, sebab Allah selalu menyertai orang benar yang dengan tekun melakukan kehendak Allah. 1Pet 3:12. Tekun dengan taat dan setia akan Firman Tuhan itu membuat kita lulus melewati ujian demi ujian sehingga akhirnya sampai ke puncak rencana Allah bahkan menjadi sempurna. Seperti Musa bertekun dalam pelayanannya, Roh Kudus menyertainya, dengan hikmat, kuasa, pengurapan dan segala fasilitas yang diperlukan, sehingga ia bisa melewati ujian demi ujian sampai lulus, sebab itu ia meningkat makin indah.

Dari orang yang mula2 menolak panggilan Tuhan, tetapi sebab ia tekun untuk taat akan perintah Tuhan dengan setia, maka ia berubah menjadi begitu indah dan menjadi sempurna pada akhirnya.

Saul tidak tekun dalam meyangkal diri untuk tetap rendah hati dan taat akan pimpinan Tuhan, sebab ia menuruti dagingnya sehingga rencana Allah rusak dalam hidupnya. Jangan mencari variasi dengan menuruti daging, tetapi enak tidak enak tetap setiap akan pimpinan dan kehendak Tuhan, semua ini tidak kebetulan, tetap setia taat akan Firman Tuhan, maka justru itu lebih indah daripada menuruti kehendaknya sendiri. Gehazi menuruti kehendak sendiri dan kehilangan semua rencana Allah. Simson bosan dengan rutinitasnya, mencari avontur sendiri dengan perempuan Filistin dan kehilangan rencana Allah yang mulia. Biarpun rutin, sama, tetap taat dengan tekun dan setia, Tuhan punya rencana danvariasi keindahan yang lebih indah. Yusuf tetap taat meskipun 13 tahun dalam penderitaan yang tidak habis2nya, ia tetap tekun untuk taat dengan setia, tidak berjalan sendiri dan rencana Allah yang sangat indah ternyata jadi dalam hidupnya. Kalau kita tekun dalam ketaatan untuk melakukan kehendak Allah, itu tidak akan sia2. Jangan berhenti, tetapi terus tekun, sekalipun ini menjadi rutinitas, tetap taat dengan setia, enak atau tidak, akhirnya akan indah. Jangan mau dibujuk dan ditipu iblis untuk mengambil jalan sendiri seperti Hawa, akibatnya keluar dari rencana Allah yang indah.

Daud ber-ulang2 tergoda untuk menuruti kehendak dagingnya sendiri, tetapi ia taat dan mau menyangkalinya,sehingga menjadi indah di hadapan Tuhan (coba tidak jatuh dengan Betsyeba dan menghitung rakyatnya, kelihatannya ia bisa menjadi sempurna seperti Musa dan Elia). Sebab itu cari kehendak Allah dan taat dengan setia, itu indah sebab setiap pimpinan dan kehendak Allah yang kita lakukan itu adalah sebagian dari rencana Allah yang indah dan mulia.

KESIMPULAN.

Jangan berhenti di tengah jalan tetapi tekun sampai ke akhir dengan setia, enak atau tidak enak, jangan menuruti daging atau ajakan iblis dan kaki tangannya tetapi tetap setia bertekun sampai akhir, di dalamnya ada rencana Allah yang mulia. Jangan bosan dengan rutinitas, sekalipun rutin menurut dunia itu membosankan, tetapi orang yang setia dan tekun dalam rutinitasnya taat akan Firman Tuhan, mengerjakan hal2 yang indah yaitu:

  1. Meningkat dari rutinitas menjadi gairah dan kasihnya akan bertambah sehingga mau mengikatkan dirinya sendiri dengan sukacita. Dengan demikian bisa tekun dan setia sampai mati.
  2. Dalam setiap ketaatan akan kehendak Tuhan sekalipun rutin, kita menyelesaikan satu bagian dari rencana Tuhan dan makin lama makin tampak keindahan rencana Allah. Tetap rendah hati dan terus tekun dengan setia dalam kesucian sampai akhir maka rencana Allah akan jadi dalam umur hidup kita di dunia.
  3. Orang yang menuruti kehendak daging, akan merusakkan rencana Allah sehingga batal dan hidupnya menjadi sia2. Simson, Salomo itu sebetulnya punya hidup yang gilang gemilang, tetapi mereka hanya mengalami sepenggal yang pendek lalu bubar. Gehazi seharusnya punya riwayat hidup yang indah seperti Elia, Elisa tetapi bantut sebab tidak mau taat, tetapi menuruti daging dan hidupnya menjadi sia2. Judas seorang murid yang lebih dipercaya daripada yang lain, ternyata hidupnya sia2 sebab mencuri uang Tuhan (termasuk Mal 3:9-10) tidak menjadi berkat tetapi terlaknat. Ada beberapa banyak contoh yang lain lagi. Sebab itu tetap tekun, taat, setia, enak atau tidak enak, sekalipun rutinitas, taat terus sampai ke akhir.

Nyanyian:

Upahmu besar di Surga.