M3688 – Yakobus 1:26. Tidak Mengekang Lidah,Ibadah Jadi Sia-Sia

A. PENDAHULUAN.
Kita memperhatikan lidah kita sebab:
1. Tanda ibadah yang betul. Kalau seorang tidak mengekang lidahnya ia tidakberibadah dengan betul dan tidak berkenan pada Tuhan. Sebab dari kata-kata kita, bisa diukur:
a. Pengertian Firman Tuhan yang kita miliki. Orang yang mengerti tidak akan bicara sembarangan, sebab akibatnya dahsyat Ams 18:21.
b. Kemahiran pikul salib, sehingga meskipun sakit, masih bisa menahan diri sehingga tidak bicara seenaknya menurut daging, perasaan atau emosi.
c. Orang yang taat, berkenan dan takut akan Tuhan, tidak akanbicara ngawur tanpa dipikir.
2. Ukuran rohani. Makin rohani kata-katanya makin menjadi berkat.
Orang yang rohani itu hidup dalam kesucian danada kasih ilahi dan mahir dipimpin Roh sebab itu kata-katanya menjadi berkat sebab tidak keluar dari hati yang berdosa tetapi dari hati yang suci dan ada kasih Kristus, dalam pimpinan Roh Kudus. Kata-katanya banyak menjadi berkat bagi setiap orang yang mendengarnya. Luk 4:22 dan banyak kata-kata nubuat dari Roh Kudus (yaitu kata-kata yang meneguhkan, menasehati dan menghibur 1Kor 14:3),limpah dengan hikmat dan kuasa dari Roh Kudus.
Orang yang rohani itu tidak bisa hidup sendiri tetapi dipimpin Roh dan taat. Orang seperti ini mulutnya juga dijaga oleh Roh Kudus sehingga sebelum bicara, kalau ada yang salah Roh Kudus sudah memberi tanda lebih dahulu danmenggantikannya dengan kata-kata yang tepat dan jadi berkat, Maz 141:3.
3. Kita makan buah mulut kita Ams 18:20 bahkan nasib kita ditentukan oleh lidah, bisa-bisa rohani yang sudah dipupuk baik-baik, terbakar habis oleh nyala lidah (gairah yang salah Yak 3:6, Ams 18:21, Maz 34:13-14).
B. DALAM TERANG KEMAH SUCI.
I. LUAR HALAMAN.
Ini adalah golongan orang-orang berdosa. Sebab hati penuh dengan dosa dan siasat atau tipu dayanya, maka kata-katanya itu jadi jerat, mempengaruhi yang salah, timbul banyak sakit hati, kerusakan, dusta, siasat dll, dengan mudah dipakai dan diperalat iblis.
II. HALAMAN.
Ini orang Kristen kanak-anak, jatuh bangun dalam dosa, sebentar dingin (seperti orang dunia) sebentar panas (seperti orang Kristen yang jadi berkat). Jadi dari mulutnya bisa keluar puji atau kutuk, berkat dan laknat, itu tidak patut Yoh 3:9-12. Kalau lihat mulutnya seperti orang dunia, tidak banyak berbeda, tetapi kalau diam apalagi kalau ibadah, seperti orang rohani. Seringkali banyak kesalahan sebab banyak bicara (Ams 10:19) apalagi bicara dari diri sendiri itu sulit, harus putar-putar, diisi dengan dusta di sini-sana, pura2 dll. Sebab itu banyak salah dan hati tidak sejahtera, apalagi kalau emosi dan menuruti perasaan, bisa kacau dan timbul kebakaran, problem yang rumit dan sangat merugikan; sebetulnya lebih baik kalau tidak bicara. Kadang-kadang tidak bicara seperti anjing kelu, itu juga salah Yes 56:10. Sebab tahu berbuat baik tetapi tetap tinggal diam dan cari amannya sendiri Yak 4:17. Variasi kesalahan dari lidah Halaman itu banyak, sebab bisa timbul dalam segala segi dan tidak bisa menyangkal diri, tidak ada kesucian, tidak ada pengertian, tidak takut Tuhan dsb. Belajar memperbaiki kata-kata yang salah dan lebih penting lagi adalah hidup dalam kesucian dipimpin Roh Mat 12:34.
Perbedaan Halaman dan Luar Halaman.
Luar Halaman hatinya penuh dosa, hamba iblis dan seringkali perasaan hatinya mati, berbuat banyak dosa, senang juga hatinya, tidak tertuduh.
Orang Halaman lebih banyak tertuduh, ada pergumulan, sebab masih ada pekerjaan Firman Tuhan dan Roh Kudus meskipun sedikit. Seringkali ada kerinduan tetapi lemah dan tertipu iblis.
Jadi Halaman ini :
a. Jatuh bangun dalam dosa.
b. Bodoh, sering diperalat dan ditipu setan.
c. Bisa mendua, ada puji dan kutuk, ada air tawar dan air pahit.
d. Sering dengan hikmat dan kekuatan sendiri.
Persekutuan orang Kristen, resmi atau tidak, jadi baik atau jahat banyak tergantung dari mulut. Kalau banyak “mulut Halaman”, banyak problem, bisa jadi celaka. (Debat, ngrasani, fitnah, iri, pengaruh yang salah dll). Sebab setan ikut bicara lewat “Petrus yang lalai” Mat 16:23 dan pemimpinnya tidak menghentikan pekerjaan setan. Kalau pemimpin tegas dan dipimpin Roh, masih bisa menjadi berkat.
III. RUANGAN SUCI.
Ada dua macam orang Ruangan suci, yaitu yang tetap dalam Ruangan Suci seperti ligabis, selalu penuh dan dipimpin Roh. Orang-orang ini punya ciri-ciri khas hidup yang suci.
Ada yang di Ruangan Suci, tetapi sering keluar masuk ke Halaman seperti ligabo, tidak tampak tanda khas hidup dipimpin Roh, bisa campuran. Tentu ini tidak baik dan menyengsarakan, sebab dosa itu pahit dan membuat hidup ini tidak ada sejahtera Rom 3:17.
Beda Halaman dan Ruangan Suci. Orang Halaman hati dan hidupnya jatuh bangun dalam dosa, sehingga suam, hanya kadang-kadang ber-api2, tetapi sebab tidak mau menyangkal diri dan tidak lekat di pokok yang benar (dengan 7 KPR), hidupnya kacau dan naik turun.
Orang yang terus di Ruangan Suci sangat berbeda, hidup dalam kesucian, sejahtera dan sukacita (meskipun menderita seperti Paulus, Silas dalam penjara Kis 16:25). Sebab hidup dalam kesucian, Roh Kudus bisa bekerja dengan bebas di dalam orang itu dan bisa terus hidup dipimpin Roh, dan makin lama makin mahir sesuai dengan pengertian, penyerahan dan ketaatannya. Masih bisa salah sebab tidak mengerti atau tergoda/ tertipu, sehingga kehilangan kesempatan dan rencana Tuhan yang indah dan kata-katanya tidak sempat jadi berkat. Kalau seorang makin lekat dan mahir dipimpin Roh dan makin mengerti Firman Tuhan, maka kata-katanya akan makin indah dan menjadi berkat yang makin besar.
Beberapa ciri-ciri khas orang-orang Ruangan Suci.
a. Kata-katanya menjadi berkat, sebab:
1. Banyak nubuat 1Kor 14:1,3. Setiap kali bicara selalu minta kata-kata dan pimpinan Roh Kudus. Kalau tulus dan mau taat, biasanya Roh Kudus bicaradan kita bisa mendengar, mengerti, dandapat membedakan dari suara yang lain dan makin lama makin mahir, sehingga menjadi berkat.
2. Ada karunia-karunia Roh Kudus menyertai sebab terus minta pimpinan roh.
3. Ada gairah untuk mengasihi dan memberkati orang lain.
4. Tetapi dalam kesucian sampai dalam hati, termasuk mengampuni, mau pikul salib, bersandar pada Tuhan. Kalau jengkel, emosi, benci, iri, sombong dll, Roh Kudus tidak bisa bekerja dan tidak ada kata-kata dari Tuhan.
5. Tulus, tidak berharap apa-apa dan tidak mencari keuntungan, tetapi semua untuk/ karena/ oleh Tuhan. 6. Berani bicara meskipun ada resiko seperti Yohanes Pembaptis, sebab itu perlu banyak berdoa dan hati yang benar, betul-betul dipimpin Roh. Karena ada keberanian dari Roh Kudus Kis 4:29 maka berani berbuat baik Yak 4:17, tidak menjadi anjing kelu seperti Imam Eli 1Sam 3:13.
Mulut orang Ruangan suci itu makin lama makin seperti Putra manusia Yesus Yoh 8:26 sejalan dengan pertumbuhan rohaninya.
IV. RUANGAN MAHA SUCI.
Orang di tingkat ini yaitu orang sempurna, tampak dari mulut atau kata-katanya yang sempurna, tidak ada salah Yak 3:2, Wah 14:5. Orang Ruangan Suci masih bisa salah tetapi makin lama makin jarang, sesuai dengan hatinya dan kemahirannya dipimpin Roh. Kalau meningkat, akan makin peka bisa membedakan nyawa (tubuh daging) dan Roh dengan pedang Roh yang tajam Ibr 4:12. Tetapi orang Ruangan Maha Suci bukan saja tidak salah, tetapi tahu rahasia2 tahta Allah yang heran. Dalam Minggu ke-70 Daniel pelayanan orang sempurna itu luar biasa, termasuk kata-katanya sempurna tanpa salah (seperti pelayanan Putra manusia bahkan lebih Yoh 14:12).
Rindukan supaya mulut kita menjadi berkat dengan kata-kata dari Roh Kudus sesuai Firman Tuhan, termasuk karunia-karunia dan buah Roh, disertai tanda-tanda dan mujizat dari Allah Ibr 2:4, Mrk 16:20. Belajarlah di tengah2 kekacauan bicara dan dosa yang limpah, kita tetap ber-kata-kata dengan benar dari Tuhan dalam pimpinan Roh Kudus.
C. BICARA DIANTARA ORANG DEKAT.
1. Suami istri adalah tingkat persekutuan yang paling erat. Juga dalam masyarakat dan dalam hukum, hubungan suami istri itu erat, apalagi di dalam Tuhan seperti Tri Tunggal. (Tri Tunggal 1+1+1=1, Suami istri: 1+1=1. Tentu ini diantara orang beriman dan tergantung dari tingkat rohaninya). Kalau kesucian hidup nikah tidak ada, kasihnya akan terpengaruh dan kesatuan ini terganggu sehingga seringkali tidak bisa 1+1=1, tetapi = 2. Orang beriman harus menjaga supaya ada kesucian nikah, tidak ada orang ketiga Ibr 13:4, kasih tumbuh dan rohaninya maju bersama. (Kalau nikah diantara orang yang rohaninya setingkat, biasanya lebih mudah, daripada tingkatnya berbeda; kalau berbeda jauh apalagi terang dengan gelap, akan ada banyak kesulitan dalam komunikasinya(namun kalau sudah menikah, tidak boleh bercerai dalam keadaan apapun dan berusahalah untuk sama-sama percaya dan tumbuh bersama).
a. Dirahasiakan bersama. Kalau itu rahasia iman yang suci (1Tim 3:9) itu indah. Tetapi kalau itu rahasia dosa, itu sangat berbahaya, seperti  misalnya rahasia ketidakjujuran (Ananias dan Safira, sama-sama merahasiakan harga jual tanahnya), rahasia kebencian (keluarga2 Korah cs), rahasia pemberontakan dan dosa-dosa lainnya.
Kalau Ananias atau Safira mau menasehati yang lain, mereka tidak sampai mati ber-sama-sama dalam dosa dusta. Mungkin ada keributan kalau yang satu menentang dosanya, tetapi berdoalah supaya ditolong oleh Roh Kudus, kalau Tuhan diikut sertakan, pasti lebih baik, lebih aman sebab Allah tidak pernah kurang akal, tidak ada yang mustahil dan Ia sanggup mencegahnya. Menasehati dan mencegah satu pihak berdosa itu akan mencegah celaka yang sudah menunggu. Begitu juga Ayub tidak berani melarang istrinya yangterus menghujat, akhirnya 10 anaknya mati, apalagi Achab dan Izebel, justru mereka sepakat mengambil kebun anggur Nabot dan akhirnya keduanya dibinasakan Tuhan. (Kadang-kadang hukuman Tuhan tidak kontan, Nabot mati dahulu, tentu itu juga ada sebabnya, mengapa ia jadi korban fitnah Izebel, Daud mau dibunuh, luput terus, juga Yusuf). Sebab itu jangan takut untuk menasehati dan mencegah perbuatan suami atau istri yang jelas bertentangan dengan Firman Tuhan. Sebab itu jangan punya rahasia celaka atau rahasia dosa. Kalau rahasia kamar, itu boleh, hak suami istri, rahasia iman yang suci itu baik, tetapi bukan rahasia dosa, rahasia kebencian, rahasia ketidakjujuran, rahasia pemberontakan atau penghojatan seperti istri Ayub.
Jangan lupa, jangan perang dengan istri atau suami, tetap lemah lembut tetapi dengan kuasa dan hikmat Allah, terus berdoa supaya jangan niat yang salah diteruskan. Biasanya suami-istri itu adalah orang pertama yang tahu kalau ada niat yang salah dari istri atau dari suaminya. Jangan disembunyikan, tetapi ditimbang dan didoakan bersama, apakah itu berkenan pada Tuhan atau tidak. Apalagi pemimpin-pemimpin yang tidak punya penasehat, nasehat istri atau suami yang dipimpin Roh itu sangat berharga dan bisa menyelamatkan dari kebinasaan.
Juga kesalahan suami (atau istri) dalam kesucian, jangan hanya cemburu, tetapi berdoa untuk menyelamatkan dengan hikmat dan kuasa Allah bukan dengan “perang” (kita perang dengan iblis, bukan dengan manusia yaitu suami atau istri) tetapi dengan penyangkalan diri dan lemah lembut Gal 6:1, maka dengan pertolongan Tuhan nikah bisa terpelihara dan keluarga tertolong, juga anak-anak tidak terpengaruh oleh contoh-contoh yang salah dan menular.
Juga dalam hal-hal kecil di rumah dan dalam pekerjaan dan pelayanan, lekas sampaikan. Kalau kurang jujur, kurang adil, atau sombong, kurang taat, atau ber-lebih-lebih, nasehati dengan lemah lembut dan dengan hikmat dan kuasa Allah, sehingga dengan saling menasehati, kesalahan suami-istri bisa sangat banyak berkurang atau menjadi bersih Mat 7:1-5.
2. Keluarga. Ini unit tubuh Kristus yang paling kecil. Termasuk juga anak, menantu dan cucu. Memang harus diperhatikan sikon dan keadaan masing2. Misalnya orangtua belum mengerti cukup banyak, anak-anak menasehati tetap dengan kata-kata dan cara yang hormat dan kasih, tetapi dengan hikmat kuasa Allah, bukan menggurui. Juga pada anak-anak, meskipun orangtuanya yang memberi nasehat, tetap pakai hikmat dan kuasa Allah, apalagi kalau anak-anak sudah dewasa.
Jangan ada rahasia dosa seperti keluarga Achan, Korah cs, Eli dsb. Kalau ada dosa, apalagi nyata, nasehati terus; meskipun dimarahi dan dimusuhi, tetap menasehati dengan baik-baik sambil terus berdoa dalam Roh dan kebenaran, itu bisa menolong dan menyelamatkan. Apalagi kalau orangnya tulus seperti Daud, waktu ditegur Natan, ia mengakuinya dan bertobat sungguh-sungguh sehingga ia diselamatkan dari celaka yang paling besar (dapat kemurahan).
Kadang-kadang takut ikut campur urusan orang lain, tetapi kalau ada yang salah, kita wajib menolong, lebih-lebih orang seisi rumah Yak 4:17. Juga kalau ada perbuatan, pendirian yang salah atau ajaran yang sesat, harus direbut Jd 23, Yak 4:19-20. Jangan seperti Kain yang punya alasan kuat: “Akukah penunggu adikku?!” Kej 4:9. Seringkali di belakang alasan2 itu juga ada dosa.
Jangan lupa juga bicara untuk mendorong pertumbuhan rohani. Jangan hanya cerita perkara2 jasmani, tetapi bicarakan hal-hal rohani, istimewa pertobatan, pertumbuhan, ketekunan dalam 7 KPR, ibadah dan pelayanan.
3. Saudara2 seiman. Saudara seiman itu biasanya campuran, ada yang belum lahir baru, ada yang hidup dalam dosa, ada yang sungguh-sungguh hidup dalam kesucian dipimpin Roh dsb. Sebab itu kalau kita bicara, kita perlu ber-hati2, sebab tergantung pada siapa kita bicara, supaya tetap jadi berkat, minta hikmat dan kuasa Allah.
Dalam Gereja selalu ada Pemimpin-pemimpin dan domba-domba Tuhan yang dibebankan di atas Pemimpin-pemimpin. Pemimpin-pemimpin dalam ladang Tuhan itu harus menjadi gembala karena Kristus. Yoh 21:15-17. Tidak hanya bekerja sama dalam pelayanan, tetapi terbeban, supaya dalam kerjasama itu ada kemajuan dan pertumbuhan iman, dan itu adalah tugas pemimpin sebagai gembala Ibr 13:17. Untuk domba-domba Tuhan, istimewa kalau ada dosa dan keinginan2, gembala2 perlu bicara dengan tepat untuk menyelamatkan, bukan untukmembinasakan Luk 9:56. Jangan lupa rahasia pelayanan Ams 25:9, supaya jangan terjadi reaksi yang tidak diharapkan. Meskipun problem itu sudah menjadi rahasia umum, kita tetap harus hati2, supaya jangan menambahi dengan kata-kata yang ber-lebih-lebih, apalagi kalau hanya kira2.
Tidak mudah ber-kata-kata untuk menjadi berkat. Kalau belum dapat pimpinan Roh, lebih baik berdiam diri seperti Yoh 8:6. Juga diantara sesama saudara seiman.
Kalau ada orang-orang beriman yang berbuat atau ber-kata-kata salah, kalau bisa menolong, baik, kalau tidak bisa laporkan pada Gembala Sidang. Biasanya gembala tidak boleh langsung percaya sebelum ada bukti, sambil terus berdoa minta pimpinan Tuhan yang maha tahu.
Dalam hal-hal yang penting, perlu dilaporkan pada pemimpin sebagai gembala, sebab seharusnya gembala2 tahu untuk menolong, paling sedikit mendoakannya. Belajar menjadi berkat, jangan menjadi laknat, jangan mendorong pada hal-hal dosa dan melawan Firman Tuhan.
4. Dengan orang luar. Belajar bersinar dan menggarami, baik dengan perbuatan dan perkataan. Jangan men-jelek2kan atau menghakimi, sebab kita bukan hakim tetapi terang dan garam. Kalau ada salah dan Tuhan membebankan pada kita, doakanlah dan tunggu pimpinan Roh untuk menolong, menyelamatkan dengan belas kasihan.
Pengertian Firman Tuhan yang betul, sehingga timbul pendirian yang kokoh, itu penting supaya kata-kata kita juga betul sesuai Firman Tuhan.
KESIMPULAN.
Memang kita masih mungkin bersalah dengan kata-kata kita tetapi jangan sengaja.  Kalau ada yang salah dalam kata-kata atau dari segi hidup yang lainnya, segera dibetulkan. Belajar hidup benar dan berkenan pada Tuhan dan menjaga kemudi hidup ini Yak 3:3,4 supaya kapal hidup kita jangan oleng ke sana-sini, terbentur dan karam. Jangan lupa rindukan kata-kata kita selalu menjadi berkat diasinkan dengan garam oleh Roh Kudus Kol 4:6.
Nyanyian:
Jadikan berkat, perkataanku.
Jadikan berkat, buat smua orang.
Jadikan berkat, itu kuminta.
Jadikan berkat, buat smua orang.