M3673 – Markus 3:25, 1Timotius 5:8. Rumah Tangga Teguh atau Runtuh

I. DEFINISI.
Banyak orang punya definisi tentang rumah tangga yang teguh dan runtuh dari sudut pandang atau prioritasnya masing2.
Biasanya orang dunia melihat dari sudut pandang kesehatan, pendidikan dan keadaannya dalam masyarakat (nafkah cukup, kedudukan baik), biasanya ini dianggap rumah tangga yang teguh dan bahagia.
Menurut Alkitab, apakah satu keluarga teguh atau bahagia itu ditentukan dari apakah rumah tangga ini sudah masuk dalam suasana Surga dan akhirnya apa bisa tetap duduk bersama di Surga, Kalau bisa, inilah rumah tangga yang betul2 bahagia, ini tidak tergantung dari keadaan yang tampak, meskipun yang tampak itu juga perlu. Kalau rohani cukup baik, ada kerajaan Surga dan kebenarannya di dalam kita Mat 6:33, maka segala kebutuhan jasmani yang tampak (ini juga perlu) akan dicukupi oleh Tuhan.
Kalau satu keluarga ada dalam suasana Neraka (=hidup dalam dosa), bertentangan satu sama lain sehingga terpecah-pecah, terbelah, kacau tanpa Tuhan Yesus, maka ini akan diteruskan dalam neraka untuk kekal, ini rumah tangga yang runtuh, sekalipun dalam dunia utuh dan berdiri teguh dalam hal-hal jsmani. (nyanyian: Bila Yesus dalam keluarga, keluarga bahagia).
Untuk apa tampak teguh dan mewah dalam dunia tetapi bersambung ke Neraka, itu celaka kekal, itu seperti pucuk yang sedikit manis tetapi sisanya kekal dalam neraka. Definisi yang mana yang kita pakai dan perjuangkan?
 
II. PERGUMULAN.
Sesudah percaya kita sudah masuk dalam Surga yaitu roh kita Ef 1:6, tetapi tubuh kita belum, kita masih menunggu tebus tubuh Rom 8:23 Luk 21:28 KJI pada waktu pengangkatan atau kebangkitan orang benar seperti tubuh Putra manusia Yesus sesudah bangkit.
Rumah tangga yang sudah percaya Tuhan Yesus, yang sudah mengalami suasana Surga, tidak selalu tenang tanpa problem, kadang-kadang mengalami banyak peperangan untuk menyelamatkan isi rumah yang belum selamat atau yang undur. Kis 16:31 ( adalah janji Tuhan, tetapi ini tidak otomatis, harus diperjuangkan dengan iman, kalau tidak, bisa gagal, apalagi di akhir zaman, akibatnya bisa dahsyat Mat 10:21), kita bisa masuk dalam banyak pergumulan atau peperangan rohani. Kalau ada problem jangan kecil hati, itu semua tidak kebetulan, hadapi dengan Tuhan, pasti kita menang asal selalu di pihak Tuhan dan dipimpin Roh melakukan kehendakNya Rom 8:31. 1Yoh 4:4
 
III. JANGAN JADI JAHAT. 1Tim 5:8.
Kita harus menghadapi problem-problem dan orang-orang yang sulit dalam keluarga kita, mungkin anak, mungkin suami/ istri, mertua, menantu. Jangan jengkel lalu tidak peduli. Kita harus menghadapi semuanya. Orang yang tidak mau peduli dan membiarkan rumah tangganya, itu jahat dihadapan Tuhan, bahkan lebih jahat dari orang dunia!
Sebab problem ini mungkin karena sikap dan kelakukan kita sendiri yang salah.  Ini harus dibereskan, jangan dibiarkan terkatung-katung. Sebagian karena gara-gara anggota keluarga yang lain (atau sebab kesalahan bersama), juga ini harus dihadapi baik-baik sesuai dengan Firman Tuhan. Banyak berdoa dan belajar Firman Tuhan, supaya kita punya patokan yang benar dan pertolongan Roh Kudus untuk menyelesaikan problem itu. Kalau tidak jelas atau bingung, terus berdoa bertanya-tanya pada Tuhan 1Taw 16:11 atau minta mansehat dan doa dari pimpinan/ gembala kecil atau Gembala Sidang.
Jangan ragu-ragu ke gembala, sebab memang gembala itu berusaha untuk menolong dan menyelamatkan domba-domba Tuhan.
Jangan lari dari problem dalam rumah tangga kita sendiri, hadapi, ini bagian hidup kita, baik anak, orangtua, suami istri, mertua, menantu, itu semua sudah ada dalam ikatan keluarga dan itu bukan kebetulan. Kalau kita tidak mau menyelesaikan baik-baik dengan pertolongan Roh Kudus, dengan betul, Firman Tuhan berkata kita jadi orang yang lebih jahat dari orang dunia. Hadapi dengan Tuhan, pasti Tuhan bisa menyelesaikan, asal kita mau taat menurut kehendak Tuhan dalam kesucian, dalam jalan sempit di atas Mezbah, Allah sanggup menyelesaikannya. Orang beriman yang lari itu tidak percaya pada Tuhan Yesus, sebab Tuhan bisa menyelesaikan. Jangan dibiarkan atau semaunya sendiri, kita harus melakukan kehendak Allah Mat 7:21 harus taat akan Firman Tuhan, termasuk dalam keluarga; jangan lupa suami istri, anak, orangtua, saudara dll, sekalipun mereka menjadi problem, diperalat iblis, kita mempunyai Allah yang lebih besar dari siapapun dan adalah kehendak Allah supaya kita menyelamatkan seisi rumah kita, problem apapun, dengan Tuhan kita sanggup Kis 16:31, Rom 8:31.
Kita tidak tahu bagaimana menghadapi mereka semua, tetapi Tuhan tahu jalan yang tepat dan sukses untuk menghadapinya, meskipun memang waktunya tidak tentu, bisa lambat, bisa cepat, tergantung kita, dia dan berapa banyak kita tergantung dari Tuhan.
 
IV. BEBAN KELUARGA.
Siapakah beban keluarga kita? Isi rumah Kis 16:31 yang harus kita selamatkan bersama-sama Tuhan. Biasanya ini adalah suami istri, orangtua, anak, saudara, menantu, mertua, cucu dll. Luk 18:28-30. Jangan kecil hati. Ini orang-orang yang ada ikatan keluarga, juga biasanya punya kesamaan keturunan dengan orangtuanya, kekurangan dan kelemahannya. Kalau orangtua sungguh-sungguh bertobat, ia bisa menang dari kelemahan-kelemahan dirinya sendiri dengan pertolongan Tuhan, maka ia juga akan bisa menolong anak-anak yang memang mirip dengan dia; Bahkan meskipun problem yang berbeda dan sulit (akan limpah dalam hari-hari yang akan datang) Tuhan sanggup menolong, jangan kuatir.
Juga istri atau suami, sekalipun mungkin latar belakangnya lain, tetapi kalau mau sama-sama dicocokkan dengan Firman Tuhan, bisa menjadi satu, sehati, bukan lagi dua orang Mat 19:6. Jangan lupa orang-orang di dalam rumah kita sekalipun bukan keluarga itu juga bukan kebetulan, selamatkan semuanya dengan kuasa doa dan kesaksian hidup yang dilihat setiap hari (yang seringkali bicara lebih keras dari kata-kata kita) Mat 5:15. Justru kalau kita berusaha sungguh-sungguh mau menyelamatkan isi rumah kita, maka hidup kita juga wajib dicocokkan dengan Firman Tuhan dan yang mau, pasti bisa, Roh Kudus akan menolong, sekaligus rohani makin tumbuh dan makin dimurnikan.
Jangan meniru orang-orang yang kurang peduli pada anak istri dll, apalagi kalau beban nafkah berat. Tidak cukup hanya memperhatikan makanan, pakaian, sekolah dan uangnya. Ini tidak cukup apalagi untuk orang beriman. Kalau tidak dididik, masing-masing akan menuruti cara hidupnya sendiri-sendiri menurut daging/ dunia, yang bertentangan satu sama lain. Kalau kacau merekacari waktu untuk rekreasi, tetapi tetap bertentangan dan akhirnya runtuh. Tetapi kalau semua sama-sama cinta Tuhan, takut akan Tuhan, apalagi bisa beribadah bersama-sama dalam satu pimpinan sehingga bisa sehati, sejiwa, sepikir dalam pengertian yang sama, kita bisa kuat dan tumbuh makin indah dan satu kali kelak duduk bersama-sama dalam Surga dalam kesukaan kekal. Kalau seluruh keluarga bisabersatu dalam Kristus,bisa bekerjasama maka lebih banyak orang lain lagi bisa diselamatkan menjadi satu tubuh Kristus.
 
V. BAGAIMANA KITA MENYELAMATKAN SEISI RUMAH TANGGA KITA.
Adalah kehendak Tuhan supaya seisi rumah kita selamat semua. Jangan lupa dan percayalah, kalau masih ada isi rumah yang belum lahir baru, selamatkanlah, jangan mudah putus asa dan terus bergumul sampai menang, sebab kalau Tuhan menghendaki pasti jadi, Allah tidak pernah gagalbatal bekerjasama dengan kita asal kita menggenapi bagian kita. Bagian Allah, jangan di ragu-ragukan pasti Dia akan menggenapinya dengan sempurna. Mar 11:25.
1. Kita harus sudah lahir baru dan tetap tinggal di dalam Tuhan sebab yang bisa menang adalah Tuhan, bukan kita. (Paling sedikit dalam rumah itu harus ada 1 orang selamat, apalagi kalau ada lebih, lebih kuat). Kalau semua sudah percaya, bersama-sama bisa menolong jiwa-jiwa yang lain.
2. Perhatikan seisi rumah masing2 1Tim 5:8
Kalau semua sudah percaya Tuhan Yesus, ajaklah bersama-sama untuk terus tumbuh dalam Kristus. Ingat 7 KPR, supaya semua lekat dengan Tuhan seperti carang dalam pokok. Paling sedikit, perlu ada satu orang yang mau terbeban untuk keluarganya.Kalau 7 KPR diperhatikan, juga dengan Mezbah keluarga,maka semua akan tumbuh bersama-sama dengan baik; sering sharing dan saling tolong menolong dalam kehidupan ini.
Kalau ada yang belum percaya, doakan dan minta hikmat, kuasa dan kasih Allah untuk melahir barukannya, sebab setiap orang disebelah kita, apalagi dalam rumah kita, itu semua tidak kebetulan, kasihi selamatkan mereka Luk 10:27.
Kadang-kadang ada hal-hal yang jelek dan jahat. Sebagai orang tua atau orang yang percaya Tuhan Yesus, beri nasehat dan selamatkan. Jangan takut bicara dan mendidik melawan yang salah, Misalnya Mat 16:23, katakan lalu follow up dalam doa dan taati pimpinan Roh.
Kadang-kadang untuk anak-anak, kita harus memakai rotan, ini berarti harus dipaksakan dalam batas-batas tertentu, dengan banyak minta pimpinan Roh Kudus, bukan sekedar emosi Ams 13:24.
3. Pertumbuhan rohani harus menjadi prioritas keluarga.
Biasanya Mat 6:33 itu diterapkan untuk pribadi-pribadi supaya mencari dahulu kerajaan Surga ( punya Surga, selamat) dan tetap hidup dalam kebenaran sehingga Surganya tidak hilang. Ini betul, tetapi kalau setiap pribadi harus mengutamakan hal ini, maka seharusnya seluruh keluarga juga demikian, bahkan saling menasehati dan tolong menolong sehingga mengutamakan kerajaan Surga dan kebenarannya jadi prioritas keluarga.
Biasanya yang menjadi prioritas keluarga adalah nafkah (apalagi kalau kekurangan), sekolah, kesehatan, baru yang lain termasuk ibadah. Sebab itu waktunya juga terutama habis untuk apa yang diprioritaskan dalam keluarga. Ibadah di Gereja di rumah dan hidup dalam kebenaran menjadi sekunder, “kalau ada waktu saja.” Ini kesalahan banyak keluarga-keluarga kita. Kerajaan Surga harus jadi prioritas utama (meskipun biasanya tentang waktu, lebih banyak diambil oleh prioritas yang lain). Tentukan waktu minimum setiap hari untuk bersama-sama dalam doa dan nasehat, juga untuk membahas semua problem dan kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki dan mendoakannya bersama-sama. Seringkali ini sulit karena kesibukan yang berbeda-beda waktunya. Perlu minta pimpinan dan hikmatRoh Kudus, kadang-kadang perlu dipaksakan. Perhatikan 7 KPR dalam prioritas rohani untuk keluarga.
Tentu untuk ini orangtua sendiri harus memegang prioritas rohani bagi dirinya sendiri, supaya bisa berhasil. Misalnya anak yang kemampuannya (IQnya) kurang, untuk naik dari angka 6 ke 7 seringkali butuh waktu 5-10 jam sehari, itupun sering gagal karena harus dipaksakan. Tapi kalau itu dikurangi setengah jam untuk rohani, dan anak itu mau mencari Tuhan sungguh-sungguh, masa depannya akan lebih bahagia. Misalnya anak dengan kemampuan angka 6, punya dua kemungkinan:
1. Dipaksa belajar 5 jam, akhirnya lulus angka 8, tetapi berkat Tuhan kurang dan Surga juga tanda tanya.
2. Kalau anak itu setiap hari mau setengah jam untuk mezbah keluarga, mungkin lulus dengan angka hanya 6,5 atau 7 tetapi sungguh-sungguh harap Tuhan, berkatnya lebih banyak dan Surganya pasti. Ini masih tergantung beberapa faktor lainnya lagi, tetapi orangtua yang usaha dengan hikmat, kuasa dan kasih Kristus akan mendapat yang lebih baik seperti Daud daripada semua saudara-saudaranya atau Yusuf dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Orangtua perlu memperjuangkan prinsip keluarga dengan Mat 6:33.
Memang keperluan anak seringkali mendominasi keluarga (makan waktu dan perhatian paling banyak). Memperhatikan anak-anak itu baik tetapi jangan lupa prioritasnya, sebab ini menentukan masa depan sampai kekal.
Banyak orangtua mendidik anak untuk sekolah lebih dari pendidikan rohani (sekolah ada jadwal waktu, kalau gagal, tidak naik kelas; juga akibat dan pengaruhnya kelihatan). Kalau didikan rohani tidak ada jadwal dan tidak ada kenaikan kelas, sehingga bisa di-tunda2 terus, akibatnya akan kehilangan banyak hal-hal rohani.Orang yang tidak sungguh-sungguh ikut Tuhan, tidak bisa melihat, apa bedanya Saul dan Daud. Hampir semua orang Israel tidak bisa lihat bedanya, sebab itu mereka ikut, mendukung Saul dan ber-sama-sama membunuh Daud!
Tidak semua orang bisa mengerti bedanya kepentingan rohani dan jasmani. Untuk apa dapat gelar tetapi binasa jiwanya. Sebab itu orangtua harus terus mendidik dengan sungguh-sungguh supaya anak-anak itu sungguh-sungguh dalam rohani dan jasmani, jangan hanya dalam jasmani.  Kalau anak-anak sudah besar, dewasa, tidak sungguh-sungguh ikut Tuhan, maka kalau dinasehati hal-hal rohani, seringkali melawan, ini sudah terlambat, tetapi jangan putus asa, teruskan bergumul dalam doa dan pegang Firman Tuhan. Terus bicara dan menasehatinya. Apalagi sebelum nikah, masih dalam tanggungan orangtua doakan dan menasehati dengan pimpinan Tuhan, kalau perlu dipaksakan sedikit untuk hal-hal rohani. Jangan dibiarkan seperti imam Eli, ditarik iblis masuk neraka. Tetapi perlu diperhatikan, jangan orang tua sendiri menjadi masalah sehingga ribut terus.
4. Di luar rumah.
Pergaulan baik di sekolah, pergaulan elektronik, itu sangat mempengaruhi anak-anak, 1Kor 15:33. lebih-lebih mereka yang belum matang, belum cukup pengertian rohani dan jasmani ( perkara-perkara jasmani itu perlu, tetapi hanya untuk di dunia). Kita harus memperhatikan supaya jangan api Kristus padam dalam dirinya ( apalagi yang belum menyala, belum lahir baru harus terus digumuli dengan hikmat, kuasa, kasih dalam pimpinan Roh Kudus. Secara ringkas dan perlu diingatkan adalah: masa depan yang terbaik kalau terus di jalan sempit dengan 7 KPR. Ini hal-hal yang penting untuk jadi prinsip hidup kita. Percayalah kepada Tuhan.
5. Terus mendidik.
Tugas mendidik orangtua, istimewa dalam hal-hal rohani itu penting bahkan menyelamatkan! (Ul 6:7-8, Ef 6:4, 1Tim 3:4, Ams 13:24; 22:6. Mendidik anak-anak dalam keluarga (jasmani dan rohani) itu terus sampai dewasa (beberapa negeri sampai 18 tahun, itu tidak Alkitabiah!). Memang waktu anak-anak sudah dewasa, seharusnya mereka sudah matang. Tetapi kalau toh masih ada yang tidak betul, orang tua jangan tinggal diam, tetapi bicara supaya jangan keselamatannya hilang sebab tetipu iblis.
Eli disalahkan dan dihukum sebab tidak mendidik dan mendisiplinkan putra-putranya yang sudah dewasa.
6. Mengutamakan, memprioristaskan Tuhan.
Jangan ragu-ragu, harus punya pendirian.
Ada ibu janda, taat pada anaknya supaya dipelihara hidupnya; Ia dilarang ke Gereja, ia tidak berani melawan anaknya, akhirnya rohaninya sendiri dan anak-anaknya mati semua, sama-sama celaka seperti Eli dan putra-putranya. Tetaplah mendahulukan Tuhan Mat 6:33. Bukan anaknya yang memelihara dia, tetapi Tuhan lewat anak-anaknya. Kalau anaknya tidak mau memelihara dia, Tuhan sanggup dengan cara lain. Tetaplah ikut Tuhan dan setia sampai mati. Untuk apa dipelihara sampai mati, tetapi masuk neraka bersama-sama. Berdoa terusdan bicara dengan hikmat dan kuasa Allah, supaya seluruh keluarga diselamatkan.
 
V. MACAM2 NASEHAT.
Ada banyak nasehat Firman Tuhan tentang keluarga. Tidak mungkin tuntas dibicarakan hanya satu kali, bahkan satu Pameran masih diperlukan untuk keluarga selain hidup nikah, pendidikan anak, tabiat, dll. Kita perlu memperhatikannya baik-baik, tetapi yang lain juga tidak boleh dilupakan, misalnya tentang ibadah, pelayanan, keuangan, akhir zaman dll. Memang kita harus belajar sampai mengerti tentang seluruh segi hidup kita. Kis 20:20,27.
Cara yang terbaik adalah alpet, seluruh Alkitab per tahun, dibaca dan diselidiki di dalam pimpinan Roh Kudus sambil tekun berdoa dalam Roh dan kebenaran. Untuk suami-istri, untuk mertua menantu, untuk kakek nenek dan cucu, untuk saudara-saudara, ipar dan keluarga besar, semua perlu diperhatikan, istimewa untuk menerangi dengan Injil Kristus.
Dalam dunia hubungan keluarga itu erat sekali, sebab bisa dipercaya, membela, bisa simpan rahasia, penuh ampun sebab ada cinta,dll. Yang baik harus diteruskan cocokkan dengan Firman Tuhan, dengan hikmat dan kuasa Allah. Sesudah percaya Tuhan Yesus harus lebih baik, lebih tulus dan suci. Bahkan juga dalam tubuh Kristus, sekalipun bukan keluarga, sekarang jadi keluarga rohani, sama-sama anak Allah dan dalam satu kandang penggembalaan dengan pimpinan atau bapa rohani yang sama 1Kor 4:15. Sebab itu sesudah percaya Tuhan Yesus (bahkan sejak belum menikah) hubungan keluarga ditingkatkan menjadi lebih baik, menjadi hubungan tubuh Kristus dalam kesucian dan kasih Kristus yang sampai kekal, artinya akan terus duduk bersama dalam Surga kekal.
 
KESIMPULAN.
Betapa manis kalau seluruh keluarga duduk bersama pada masa-masa tertentu (perlu dijadwalkan). Tetapi jangan hanya rindu rukun dan teguh di dunia, itu hanya sebentar. Tuhan memberi kesempatan besar untuk duduk bersama dengan kasih dan kesucian di Surga kekal, bahkan dengan semua anggota tubuh Kristus, dengan tulus, suci dan penuh kasih Kristus,  tanpa ada rasa tidak senang, jengkel, benci, atau dosa-dosa lain, tetapi penuh kasih dan sukacita untuk kekal. Hubungan baik dalam kasih (penuh ampun) dan kesucian (tidak sembunyi-sembunyi) ini tidak muncul dengan sendirinya dalam keluarga, tetapi harus diperjuangkan baik-baik dengan Tuhan, sebab iblis selalu berusaha untuk  merusakkannya, supaya boleh masuk dalam neraka untuk berkelahi terus bersama-sama sampai kekal.
 
Nyanyian:
Duduk bersama, bersambung di Surga.
Kita duduk sekarang ini bersambung di Surga.
Waktu sampai Surga, duduk bersama.
Kalau kita tinggal t’rus dalam Kristus.