DURI PAULUS

2Korintus 12:7-10 Dan supaya aku jangan meninggikan diri (KJ: ditinggikan) karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk  menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru (TL: memohon) kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku (anugerah-Ku) bagimu, supaya justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan, dan kesesakan oleh karena Kristus.  Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

I. WAHYU YANG LIMPAH, BUTUH PENGAMAN


Tuhan memberi begitu banyak wahyu pada Paulus, bahkan lebih daripada Petrus dan rasul-rasul lain; mereka masih bingung dan tidak mengerti bagaimana menghadapi fase transisi dari Taurat ke Injil dan masih memegang Taurat, Paulus pun disuruh kembali memegang hukum-hukum Taurat secara lahiriah (Kis 21:20-24). Tetapi kemudian Paulus mendapat wahyu dari Tuhan tentang peralihan ini dengan jelas. Ini dibentangkan dengan terang dan jelas dalam Galatia 5:4 (1-12). Masih banyak lagi wahyu-wahyu yang lain.
Jadi Paulus mendapat duri ini sebab ia menerima banyak kelimpahan atau kelebihan wahyu dari Tuhan.
Orang lain ada yang diberi kelebihan yang lain. Ada macam-macam kelebihan, baik jasmani dan rohani.
Orang-orang dunia yang mendapatkan kelebihan jasmani/ duniawi, biasanya semua jatuh dalam dosa sombong atau salah satu dosa lain.
Misalnya: kelebihan uang, pangkat, kuasa, sukses, dan lain-lain.
Sebab itu pada orang-orang beriman, seperti pada Paulus kadang-kadang Tuhan memberi duri yang menikamnya supaya tidak sombong.

II. TUHAN BERI “DURI”

Supaya jangan sampai Paulus ditinggkan kelewat batas (1Kor 12:7, KJ), maka Tuhan mengizinkan satu utusan dari iblis mengocoh Paulus terus-menerus sehingga hal itu menjadi baginya duri dalam daging.
Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini?
Seorang yang hidup dalam hukum dosa dan hukum maut (Rom 6,7, lihat Tulang Elisa no. 10) akan langsung jatuh dalam dosa kalau kena pencobaan, kalau mempunyai wahyu yang begitu banyak seperti Paulus akan langsung menjadi sombong. Tetapi Paulus tidak lagi hidup dalam hukum dosa dan maut, melainkan dalam hukum Roh yang memberi kehidupan (Rom 8:2).
Biasanya orang yang di dalam hukum Roh tidak langsung jatuh dalam dosa ketika kena percobaan, tetapi bisa memilih mau ikut daging atau Roh dan kalau menurut Roh, tidak sampai berdosa. Tetapi kalau ia tergoda lalu menuruti daging, maka ia jatuh dalam dosa. Masih ada kemungkinan jatuh, sebab itu Tuhan mengizinkan duri itu menusuk.
Tentu Tuhan mengizinkan ini supaya menjadi faedah dan keuntung-an orang itu, sehingga dengan kelebihan yang didapatnya itu ia bisa lebih memuliakan Allah, mengalami lebih banyak pertumbuhan dan mendapat pahala yang kekal. Jadi duri ini untuk menjaga dan mempertahankannya supaya tetap rendah hati sampai saat terakhir.
Semua ini dibuat sebab masing-masing mempunyai kemampuan yang terbatas (1Kor 10:13). Dengan duri-duri ini kemampuan seseorang dalam hal-hal tertentu bisa ditingkatkan, sehingga hasil dan pahalanya juga makin meningkat. Memang duri-duri ini sakit, tetapi hasilnya manis untuk kekal padahal duri itu hanya sementara di dunia!
Dalam dunia okultisme, iblis juga sering meniru cara-cara ilahi, ia memberi sesuatu yang limpah tetapi dalam hal lain harus menderita. Misalnya: jadi sangat berkuasa tetapi harus tarak ini dan itu atau tidak boleh ini dan itu. Tetapi semua ini diberikannya supaya mereka mentaati dan menyembah iblis sendiri dan kalau melanggar, ia menindak dan menyiksa orang yang sudah ada dalam tangannya. Semua diberikan iblis pada orang-orang yang taat kepadanya untuk hormat dan kepuasan si iblis sendiri. Sama sekali lain daripada Allah, yang memberi duri untuk faedah kekal bagi orang-orangNya. Kasih Allah tidak mengorbankan orang lain bagi diri-Nya, tetapi justru mengorbankan diri-Nya sendiri untuk manusia (Yoh 3:16)

III. MENGAPA PAULUS DIKUATIRKAN?

(Ia mendapat wahyu begitu banyak dan diberi duri).
Sebab:
1. Belum sempurna. Ini berarti masih bisa tergoda dan jatuh kalau tidak berjaga-jaga atau terlepas dari Kristus.
2. Kemungkinan menjadi sombong. Orang lain meninggikan Paulus, sebab ada alasan yang kuat, banyak wahyu, pengertiannya dalam-dalam, guru besar, orang kagum. Orang yang dipakai Tuhan dengan heran harus hati-hati supaya jangan merasa sudah selayaknya kalau dipuji-puji orang banyak.
Galatia 4:14 Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri.
Orang yang merasa layak, sudah jatuh dalam kesombongan, ia mencuri kemuliaan Allah yang sebetulnya tidak patut diambilnya (Yes 42:8), sebab semua yang berhasil dilakukannya itu semata-mata dari Tuhan (1Kor 4:7).
Jangan suka menyanjung, (Yud 16/ 1Tes 2:5/ Ams 26:28), memuji-muji dan meninggikan seseorang. Bagi orang yang mengerti Firman Tuhan, itu bukan cara yang baik untuk meng-ekspresikan rasa terima kasih atau dukungannya. Ini cara yang jahat, menjerat dan cara yang biasa dipakai setan untuk menhancurkan orang-orang yang dipakai Allah. Sebab orang yang memuji-muji temannya apalagi dengan ngotot, itu termasuk seperti mengutuki
Amsal 27:14 Orang yang memuji sahabatnya dengan nyaring suaranya sambil bangun pagi-pagi, maka ia itu dapat dibilangkan baginya akan laknat (TL, KJ)

Orang yang mengangkat-angkat temannya itu seperti menjerat dia dalam perangkap (Ams 29:5).
Lebih-lebih kalau ia sendiri meninggikan dirinya, itu berarti sudah jatuh dalam dosa kesombongan. Orang yang meninggikan diri akan direndahkan Tuhan (Mat 23:12/ 1Pet 5:5). Paulus sendiri sadar bahwa apa yang ada padanya itu dari Tuhan, oleh anugerah Tuhan (1Kor 15:10), sebab itu patutlah segala puji dikembalikan atau diteruskan kepada Tuhan yang memang berhak! Apalagi kalau ia sendiri mempunyai beberapa kelemahan dan kekurangan.
Kita harus berjaga-jaga, sebab sombong termasuk dosa yang licin, tahu-tahu sudah kena, diam-diam sudah kena! Kita harus mengerti kebenaran Firman Tuhan yang jelas, lengkap dan tepat tentang sombong supaya tidak mudah kena (2Kor 2:11) sebab iblis adalah raja kesombongan, ia mahir mengoda orang sehingga membuat orang itu ingin puji dan jatuh.

3. Lebih baik
Tuhan yang maha tahu, tahu lebih dahulu bahwa kalau Paulus diberi duri, hasilnya akan lebih baik.
Kalau Tuhan menambahkan wahyu-Nya kepada Paulus sampai berlimpah-limpah, tentu ada resikonya yaitu bisa menjadi sombong. Tetapi kalau diberi duri yang tepat, sehingga Paulus tidak sampai sombong, maka ia dapat menerima wahyu lebih banyak, bisa menjadi berkat yang lebih besar dan pahalanya lebih banyak. Kalau kita coba mengambarkan dengan angka-angka yang diperkirakan, maka akan tampak lebih jelas kebijaksanaan Tuhan dalam memberi duri ini.
Memang duri ini sakit, Paulus rasa-rasanya tidak tahan (ayat 8), tetapi Tuhan tahu Paulus masih bisa tahan. Sebab itu Tuhan tetap memberikannya, sebab nanti dalam kekekalan durinya sudah tidak ada, itu hanya untuk sementara, tetapi pahalanya tetap ada dan jumlahnya lebih banyak dan itu untuk berjuta-juta tahun bahkan untuk selama-lamanya, kekal.

IV. APAKAH DURI INI?

Beberapa sifat dan keadaan duri ini adalah:
1. Sakit menusuk
2. Dalam daging, kelemahan
3. Utusan setan yang menggocoh
4. Diizinkan Allah. Minta dicabut 3 kali tetap ditolak, bahkan duri itu untuk seterusnya.
1. SAKIT
Begitu sakit sampai Paulus berulang-ulang mohon pada Tuhan untuk dicabut tetapi tetap ditolak. Sakit dan penderitaan di sini bukan karena dosa, justru ini membuat Paulus makin kuat dan makin berbuah-buah. Dosa tidak menghasilkan seperti ini.
Ada duri-duri lain yaitu penderitaan karena dosa, itu lain dari pada duri Paulus, misalnya:
Bilangan 33:55 Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumbar (TL: pencucuk, KJ: priks) di matamu dan sepertiduri yang menusuk lambungmu,dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu.
Ini duri yang timbul sebab Israel tidak mau taat membuang segala orang-orang kafir dari negeri pusakanya (arti rohani: membuang segala kekafiran, Kol 3:5) dan sebagai akibatnya bangsa kafir yang ditinggalkan ini menjadi duri yang menusuk dan menyiksa Israel. Ini duri karena dosa, bukan seperti duri Paulus.
Matius 13:22 Yang ditaburkan di tengah semakduri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. (Luk 8:14)
Juga duri di sini tidak sama seperti duri Paulus, sebab ini membuat orang itu bantut, tidak bisa berbuah. Ini akibat kekuatiran dunia dan kena tipu daya kekayaannya sehingga bantut.
Tetapi duri Paulus justru membuatnya makin lebat berbuah-buah. Duri Paulus ini mirip dengan salib, yaitu suatu salib istimewa, yang berhubung-an dengan setan dan daging, menyiksa Paul cukup berat!
2. DURI DALAM DAGING.
Duri ini dalam daging, sehingga iblis bisa menghantam Paulus dan ia menderita, tidak berdaya, sangat sakit, sampai-sampai ia minta pencabutan oleh Tuhan. Jadi duri ini tentang hal-hal daging, hal-hal manusiawi yang ada dalam setiap orang. Dalam ayat 9-10 berulang-ulang dikatakan tentang kelemahan dan ini ada hubungannya dengan duri itu. Jadi duri ini menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam daging yang ada dalam setiap orang lama.
Kita tidak perlu mengakui kelemahan-kelemahan daging yang ada dalam diri kita. Ini bukan karena tidak jujur atau tidak berterus terang, tetapi mengakui kelemahan-kelemahan yang ada itu pernyataan manusiawi! Jangan kita memberi pernyataan manusiawi tetapi pernyataan iman! Di dalam Kristus yang lama sudah lenyap dan yang baru sudah terbit (2Kor 5:17) Juga di dalam Kristus kita sanggup melakukan segala perkara (Fil 4:13).
Sebab itu orang yang berjalan de-ngan iman tidak perlu mengakui kelemahan-kelemahan daging yang ada padanya tetapi dengan kata-kata iman mengatakan kemenangan-kemenangan atas segala kelemahan-kelemahan, sesuai dengan Firman Tuhan.
Dengan mengakui kelemahan-kelemahan daging seolah-olah kita mengakui posisi kita kembali sebagai orang lama. Kita sudah menjadi baru dan yang lama sudah lenyap! Sebab itu kita tidak perlu kembali pada posisi yang lama, hidup dan tabiat lama, kelemahan-kelemahan yang lama. Kita harus berdiri dalam hidup yang baru dengan pengakuan iman yang baru di dalam Kristus. Sebab itu kita tidak perlu mengakui kelemahan-kelemahan daging, karena pengakuan itu dapat menjadi pintu masuk bagi iblis!
Tetapi… kadang-kadang masih tampak kelemahan-kelemahan itu muncul kembali pada waktu lalai atau waktu kalah. Tentu kita jangan mengharapkan hal ini terjadi. Pada saat-saat inilah iblis masuk dan menghantam Paulus. Kelemahan-kelemahan daging itu sendiri sudah menjadi siksaan bagi orang-orang suci, sebab daging dan Roh bertentangan (Gal 5:17), dan pergumulan itu cukup menyiksa. Jadi duri Paulus itu termasuk kelemahannya yang karena sesuatu kelalaian atau ke-khilafan atau pada waktu lemah, muncul!
Misalnya Daniel juga punya “duri”, yaitu menjadi sida-sida (dikebiri) di Babil (Dan 1:3, KJ).
Daniel juga mendapat kelimpahan wahyu dari Tuhan tentang akhir zaman dan hikmat yang sangat besar (Dan 1:20, 10 kali lebih pandai dari orang Babil yang terpandai. Pantas dapat Nobel?). Tetapi secara manusiawi Daniel banyak menderita, apalagi kalau kebetulan kelemahan manusiawinya muncul, kesepian, sendirian, tidak ada istri dan anak, lalu rindu rumah dan keluarga, ini suatu siksaan. Tetapi tidak pernah dilaporkan bahwa Daniel menderita. Ia tekun berdoa 3 kali sehari, ini membuat Daniel selalu fit dan kuat sehingga kelemahan manusiawi yang ada tidak dapat/ tidak sempat muncul (Dan 6:11).
Yakub juga punya duri yaitu pincang (Kej 32:33). Sebetulnya Tuhan dengan mudah sekali dapat mencegah hal ini atau menyembuhkannya kalau toh itu terjadi. Apalagi ini terjadi dalam keadaan sedang bergumul de-ngan Tuhan! Tetapi Tuhan memberikan duri ini sebab ini bisa mengerem sifat Yakub yang suka bergumul dan terus berusaha dengan kekuatan sendiri. Sekarang Yakub menjadi pincang dan oleh karena itu ia harus bergantung pada Tuhan sepenuhnya. Dengar pengakuan Yakub dalam (Kej 34:30).
Kejadian 34:30 Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi: “Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku.”
Sebab pincang Yakub harap pada Tuhan dan hasilnya lebih besar. Ini dapat dikatakan menjadi duri baginya tetapi hasilnya makin limpah.
Lazarus. Kemiskinan yang sangat menjadi duri baginya yang menyiksa bahkan membunuhnya (Luk 16:20-22). Tetapi Lazarus mati bukan semata-mata karena kemiskinannya tetapi sebab memang sudah waktunya, ada dalam jadual waktu Tuhan. Tetapi justru ini membuat Lazarus menjadi sangat indah, sampai tingkatannya naik, setinggi Abraham, ia duduk di pangku Abraham.
3. UTUSAN DARI IBLIS.
Apa yang dipakai iblis untuk menyiksa Paulus? Tentu hal-hal yang ada dalam kuasanya yaitu hal-hal duniawi dan manusiawi. Ini termasuk semua godaan, rayuan dan tekanan dari iblis secara manusiawi, dalam daging. Jadi yang menusuk dan menyiksa Paulus bukan Tuhan tetapi iblis.
Dalam Wasiat Baru tidak ada keterangan sama sekali tentang duri Paulus ini, tetapi justru dengan demikian artinya lebih luas, sebab duri Paulus menjadi nama golongan untuk bermacam-macam jenis duri yang Tuhan izinkan menikam hamba-hambaNya laki-laki dan perempuan, sehingga mereka berbuah-buah lebih lebat.
Iblis memakai setiap kesempatan untuk menjatuhkan manusia, istimewa hamba-hamba-Nya. Kalau ada kelemahan yang muncul, maka ini digunakan iblis untuk menggocoh (menghantam) orang itu sebisa-bisanya sampai makin lemah dan akhirnya jatuh.
Misalnya kelemahan dalam hal terlalu cinta anak seperti Imam Eli, justru iblis menipu dan mempermainkan si anak sehingga makin menjadi-jadi kurang ajarnya atau kekejiannya, akibatnya Imam Eli makin menderita.
Contoh lain, misalnya kelemahan dalam hal mammon seperti Gehazi atau dalam hal sex seperti Simson, justru dalam hal-hal ini iblis menyerang makin dahsyat dan Tuhan mengizinkannya, sehingga pergumulannya makin berat dan makin sakit.
Kelemahan-kelemahan dalam hal uang, tabiat pemarah, sex, pernikahan, kesombongan, bertuhankan perut, dan sebagainya. Iblis mendapat izin untuk menekan dengan kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang lebih berat, sehingga menusuk lebih tajam. Kalau tidak dituruti, hal-hal ini menyiksa, tetapi Paulus tetap tidak mau menuruti, ia tetap menyangkali segala keinginan daging ini sehingga Paulus tidak sampai berdosa.
Digocoh utusan iblis. Seperti iblis mendapat hak untuk menggocoh Ayub, demikian juga pada Paulus (ayat 2-6). Sebab ada izin Tuhan, Ayub bisa dicelakakan oleh iblis dan ditekan dalam penderitaannya. Ini menyebabkan banyak penderitaan pada Ayub, Paulus, juga Putra manusia Yesus selama di bumi. Tetapi penderitaan ini menjadi berfaedah bagi orang itu sendiri.
4. DIIZINKAN TUHAN
Tuhan tahu, Tuhan membiarkan, supaya Paulus tidak mengandalkan kekuatannya sendiri yang terbatas, tetapi bersandar pada Tuhan dan dengan demikian ia menang serta berbuah-buah lebih banyak. Perhitungan Tuhan tidak pernah meleset, pasti jadi dan mendatangkan faedah yang maksimal sebab Dia Allah yang maha kuasa dan maha tahu. Sangat indah hidup dalam jalan dan rancangan Tuhan, meskipun kadang-kadang sakit untuk daging, kena duri-duri yang tajam itu.

Kesimpulan

Jadi duri Paulus itu sengsara, penderitaan karena tetap taat dalam kesucian untuk melakukan kehendak Tuhan: pada waktu daging dijepit pada titik-titik kelemahannya oleh iblis, rasa-rasanya tidak tahan, banyak pergumulan, tetapi ini masih dalam batas-batas kekuatan Paulus. Pergumulan yang berat, tidak habis-habisnya dan belum bisa menang sepenuhnya, ini menjadi tanda bagi Paulus bahwa ia hanya seorang manusia, tidak pantas meninggikan diri atau ditinggikan, tidak layak dan tidak patut.
Orang-orang beriman lainnya, istimewa yang banyak berbuah, seringkali ditingkatkan Tuhan dengan duri-duri seperti Paulus, supaya makin lebat berbuah tetapi tidak sampai jatuh. Cinta akan anak itu juga sering menjadi duri. Sebab kehendak Tuhan bertentangan dengan keinginan si anak, tetapi orang tuanya begitu cinta anak sehingga menderita karena bertentangan dengan anaknya sebab harus taat pada kehendak Tuhan. Ini juga bisa menjadi duri

V. PERGUMULAN DAN PENDERITAAN  YANG  TIDAK

HABIS-HABISNYA.

2Korintus 12:8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.
Pergumulan ini sakit, berat, penuh penderitaan, sehingga meskipun Paulus tahu ini dari Tuhan, tetapi karena berat, hampir-hampir tidak tahan, ia minta dicabut, bahkan berulang-ulang kali. Tetapi Tuhan tidak pernah mengabulkan.
Begitu juga dengan Putra Manusia Yesus. Ia tahu semua yang akan dialami itu dari Bapa, tetapi sebagai manusia Ia merasa tidak kuat, tidak tahan, rasa-rasanya terlalu berat, sebab itu Ia minta dilewatkan atau dibatalkan (Mat 26:39,42). Sampai 3 kali Ia berdoa, dan ini pun tidak pernah diizinkan Bapa tetapi kemudian Ia berserah untuk taat sepenuhnya sampai mati (Fil 2:18). Memang sebagai manusia, duri ini sa-ngat tajam, menusuk dan berat. Tetapi hasilnya luar biasa, menjadi berkat bagi seluruh dunia, semua yang percaya di selamatkan.
Elia juga tidak tahan dalam pergumulannya, sehingga ia minta mati, tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Apakah Tuhan jahat karena membiarkan Elia menderita? Untuk jangka pendek kadang-kadang rasanya Tuhan itu jahat, tetapi kalau kita lihat jangka panjang, sampai kekal, sama sekali tidak jahat. Justru Elia menjadi sempurna, dalam Surga ia berada dalam tingkatan kemuliaan yang tertinggi, sempurna, sangat indah untuk kekal. Sebab itu duri yang menikam Elia dibiarkan saja oleh Tuhan, apalagi ia juga dikuatkan dengan roti dan air dari Surga, sehingga ia menjadi kuat (1Raj 19:4).
Jadi prinsipnya untuk orang-orang yang sudah berbuah, Tuhan menambahi lagi satu atau beberapa kelebihan yang membuat buah-buahnya lebih lebat lagi, tetapi kesombongan-kesombongan yang mungkin muncul itu ditahan dengan beberapa duri. Apakah semua orang beriman yang berbuah-buah akan mengalami hal seperti ini? Tuhan tahu mana yang bisa “di dongkrak” dengan duri dan mana yang tidak bisa. Yang bisa, dikerjakan, sebab nanti hasilnya untuk kekal itu luar biasa, indah, orang itu tidak akan kecewa dan durinya tidak ada lagi dalam hidup kekal. Tuhan yang maha tahu, itu tahu lebih dahulu bahwa mekanisme ini akan berhasil bagi orang-orang tersebut, maka bagi orang-orang itu sajalah hal ini dilakukan.
Semua pergumulan yang berat ini ada pahalanya (2Kor 4:16-17/ Rom 8:17-18). Kalau sia-sia, tentu Tuhan tidak sebegitu bodoh mengizinkan kekasihNya menderita tanpa guna, tetapi memang orang yang tidak mengerti bisa putus asa. Jangan kita bodoh, kita harus mengerti maksud dan kehendak Allah.
Jangan kecil hati dan kecewa seperti Yakob. Apalagi kalau hidup menuruti perasaan bukan menurut iman. Waktu Yakob kehilangan Rachel istrinya yang dicintainya, ia sangat sedih. Ditambah lagi “kehilangan Jusuf”, tambah sedih dan Yakub menuruti perasaan yang sedih dan pahit sehingga ia dibawa hanyut oleh perasaannya, susah terus, tidak bisa keluar dari kesukarannya. Ini cara hidup yang salah, terus menuruti perasaan. Kita harus hidup dengan iman bukan dengan perasaan (2Kor 5:7/ Rom 1:17). Orang yang menuruti perasaan yang pahit atau susah itu memperpanjang penderitaannya dengan sia-sia. Tuhan sudah menyediakan kemenangan bagi kita, ambil, trapkan dengan iman, pasti jadi. Memang duri-duri itu tajam dan sakit tetapi jangan terus mau menuruti rasa sedih dan sakit. Ada kesukaan dan kemenangan yang disediakan Tuhan di samping duri yang sakit ini.

VI.  PERMOHONAN YANG SELALU DITOLAK

Paulus tidak tahan, terlalu sakit, minta dicabut tetapi ditolak Tuhan!
Putra Manusia Yesus juga sebagai manusia rasanya tidak tahan, terlalu berat, minta pada Bapa untuk dilalukan tetapi juga ditolak Bapa!
Elia, “Yakub”, dll minta mati saja, juga ditolak. Mengapa?
1. Sebab di dalam kemahatahuan Allah, Ia sudah melihat faedah yang besar untuk kekal dari penderitaan yang singkat di dunia saja (2Kor 4:17-18).
2. Toh kuat. Allah sudah tahu lebih dahulu, akhirnya toh lulus dan pasti berfaedah, sebab itu Tuhan membiarkannya saja.
Kalau kita mengerti, buat apa menangis terus, buat apa menuruti perasaan yang sedih terus, toh tidak akan diluluskan permintaan untuk lepas dari duri, toh bisa kuat sampai ke akhir kalau mau.
Sebab itu ambillah contoh dari Paulus, ia bersukacita dalam titik terendah dari kelemahannya; Ambil contoh dari Putra manusia Yesus yang langsung memutarkan perasaan hatinya, sehingga langsung dalam doa yang kedua, sudah lain dari doa yang pertama dan dengan segenap hati Ia menerima keputusan Bapa-Nya yang tetap mengharuskan sang Putra untuk meneruskan minum dari cawan yang pahit itu, terus ditusuk duri yang sakit itu sampai mati.
Akhirnya semua akan melihat untung besar, pahala besar dan kekal serta durinya hilang. Biarkan saja duri itu, terimalah, bersukacitalah dan nikmati hasilnya yang luar biasa yang pasti akan kita terima, maka kita bisa menyamakan duri itu dengan buah-buah yang lebat dan pahala yang mulia, limpah dan kekal. Akhirnya duri itu akan bisa diterima dan penderitaannya akan berkurang.

VII.  ANUGERAHKU CUKUP BAGIMU

Apa artinya? Ini jawaban dari permintaan Paulus untuk lepas dari duri. Orang yang mengerti arti anugerah Tuhan akan bisa menjadi kuat dengan anugerah.
2 Timotius 2:1 Sebab itu hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia (TL: anugerah) dalam Kristus Yesus.

Apa artinya anugerah Tuhan?

1 Korintus 15:10 Tetapi oleh sebab anugerah Allah aku telah menjadisebagai aku ada; dan anugerahNya kepadaku itu tidak menjadi sia- sia, melainkan aku berlelah lebih daripada mereka itu sekalian; tetapi bukannya aku, melainkananugerah Allah  yang beserta dengan aku.

Paulus bisa bertahan sampai saat ini, sebab ada anugerah Tuhan.
Pada waktu ia lemah, apalagi pada waktu sakit kena duri ini, Tuhan angkat, Tuhan kuatkan, Tuhan bantu sampai hasilnya tetap baik; kalau tidak ada bantuan/ subsidi atau drop-dropan dari Tuhan, sudah lama Paulus lemah, gagal, loyo, bisa-bisa undur dan lenyap dari ladang Tuhan. Tetapi oleh anugerah Tuhan ia boleh berada dalam keadaan yang tetap baik.
“Drop-dorpan” atau bantuan dari Tuhan itu langsung membuat grafik hidup Paulus seolah-olah tidak pernah jelek, selalu baik atau paling sedikit cukup, sebab anugerah Tuhan.
Kita tidak tahu sampai di mana kekurangannya dan apa kelemahannya, tetapi ada dan itu sudah ditolong, diangkat, didongkrak oleh Tuhan dan inilah anugerah Tuhan baginya.
Tetapi di dalam riwayat hidup Elia, lebih jelas. Ia sudah putus asa dan minta mati. Pada waktu itu pelayanannya sudah lemah; kalau Tuhan membiarkan, maka pelayanannya makin lama makin lemah, dan kalau tidak mati, ia akan tawar hati dan undur sehingga mungkin tidak lagi menjadi nabi Tuhan.
Tetapi Tuhan angkat, Tuhan kuatkan, Tuhan tolong, Tuhan beri kekuatan sehingga ia terangkat dan dalam pelayannya, seolah-olah tidak ada bagian-bagian grafik hidup yang merosot dan jatuh, tidak ada lubang-lubang atau celah-celah yang dalam. Semua menjadi rata, bahkan kemudian bisa meningkat dalam kemuliaan ilahi. Semua ini oleh anugerah Tuhan berulang-ulang ada tambahan dari Tuhan. Sebab itu dalam kenyataannya, tampak cukup baik, tahan, tidak sampai undur bahkan Elia menjadi sempurna!
Selama kita tinggal dalam Kristus dan bersandar pada anugerah-Nya, kita akan kuat dan sanggup melakukan segala yang Tuhan tanggungkan atas kita.
Filipi 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Bukan dengan kekuatan kita, tetapi dengan bantuan kuasa Allah yang besar. Kita hanya alat-alat yang dipakai Tuhan, tetapi Tuhan yang memberi hasil dan buah-buah yang limpah dalam pelayanan kita.
Sebab itu meskipun ada duri-duri yang tajam, meskipun sakit kalau kita mau menerima anugerah Allah yang besar itu, kita bisa tahan sampai ke akhir dan makin berbuah-buah lebat meskipun menderita karena duri-duri itu. Sebab itu Tuhan tidak setuju mencabut duri itu, karena faedahnya sangat besar untuk kekal!
Sebab itu lebih baik bersukacita, jangan terus mengasihani diri sendiri, jangan terus menerus menuruti perasaan hati. Bangun, terimalah duri-duri itu dengan penyerahan sepenuh dan bersukacitalah, sebab pahala yang sangat besar menunggu!
Maju terus, di dalam Dia, oleh anugerah-Nya kita sanggup!

VIII. KUASA ALLAH  DISEMPURNAKAN  DALAM

KELEMAHAN PAULUS

Biasanya kita mengirim orang kuat supaya menang dan berhasil. Kalau yang dikirim orang lemah, tentu kalah. Tetapi Tuhan itu ajaib, kadang-kadang janggal bagi pikiran manusiawi, kita tidak bisa mengerti, seperti pernyataan dalam perikop ini: kuasa-Ku disempurnakan dalam kelemahan. Seolah-olah kelemahan kita itu tidak berpe-ngaruh dalam rencana dan misi Allah.
Meskipun yang dikirim orang lemah, asal ia tetap tinggal di dalam Kristus, ia akan menang dengan pertolongan Tuhan, sehingga tampak dengan jelas kelebihan kuasanya itu berasal dari Allah, bukan dari orang itu sendiri.
2 Korintus 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Jadi sebetulnya kuasa Allah itu limpah dan tidak terbatas, bisa kita pakai. Tetapi mengapa seringkali kuasa Allah yang tidak terbatas itu tidak nyata? Sebab tidak ada orang yang mau menyalurkannya.
Orang-orang yang kuat atau lebih tepat yang merasa dirinya kuat, yang merasa bisa berjalan sendiri dengan kekuatan, pengalaman dan kepintarannya sendiri, kalau mereka berhasil, biasanya sedikit banyak merasa bahwa mereka betul-betul kuat dan mudah menjadi sombong. Sebab itu Allah tidak mau menyertainya sehingga kuasa Allah tidak tampak dalam hidup dan pelayanannya.
Tetapi kalau Tuhan mengizinkan iblis menggocoh, menghantam kelemahan atau kekurangan orang itu, itu sakit bagi orang itu, tetapi ia sadar bahwa ia hanya manusia belaka, yang terbatas dan tidak kuat. Kalau ia percaya kepada Tuhan, berharap dan bersandar kepada Tuhan, Tuhan akan menolong dan menurunkan kuasa-Nya ke atas orang itu, sehingga meskipun lemah, ia berhasil karena ada kuasa Allah. Ia sadar ini semua dari Tuhan (ini artinya rendah hati, 1Kor 4:7) dan tidak berani meninggikan dirinya.
Orang-orang seperti ini bisa dipakai Tuhan dan Tuhan mau memakainya, sebab mereka tidak meninggikan diri, bersandar pada Tuhan senantiasa.
Meskipun sakit karena duri, tetapi mau percaya, taat perintah Tuhan, pasti menang dan bisa tahan sampai ke akhir oleh anugerah Tuhan.
Sebab itu meskipun duri itu tidak dicabut sehingga kadang-kadang sakit, jangan kecewa, jangan menuruti perasaan sedih seperti Yakub, percaya saja, maju terus dengan bersukacita, sebab kita pasti menang dan besar pahala dan keuntungan yang Tuhan sediakan bagi kita.
Kelemahan itu selama tidak dituruti, tetapi disangkali, itu sakit (apalagi kalau pesuruh iblis diizinkan membuat gara-gara dalam kelemahan itu), sangat sakit, tetapi tidak menjadi dosa. Kalau dituruti, kelemahan-kelemahan itu menjadi dosa. Setiap orang bisa saja dijamah oleh kelemahan-kelemahan seperti Putra Manusia, tetapi selama disangkali terus (tidak disetujui), tidak dituruti, tidak menjadi dosa.
Ibrani 4:15 Karena kita tidak mempunyai seorang Imam Besar yang tidak dapat dijamah oleh segala perasaan kelemahan, melainkan sudah dicobai dalam segala hal sama seperti kita, namun tidak berdosa (KJV).
Memang iblis itu menggoda, menyerang, menekan, menusuk justru pada kelemahannya (kalau diizinkan Tuhan) dan itu sakit, tetapi selama kita tinggal di dalam Tuhan, selama kita hidup dengan iman, kita tidak mau menyerah, kita yakin dengan Tuhan pasti menang, maka kuasa Allah turun ke atas kita dan kita menjadi kuat; Kita bisa menyangkali kelemahan itu (meskipun ditusuk duri oleh utusan iblis) dan tidak sampai menjadi dosa, tetap menang, bahkan dengan iman kita bersukacita dan betul-betul sukacita dari Tuhan akan turun dalam hidup kita. Indah!
Jangan kuatir. Rileks saja dan bersandar pada Tuhan; Justru pada waktu kita lemah (ditusuk duri oleh iblis), kita menyerah dan bersukacita sebab harap Tuhan, kuasa Tuhan turun ke atas kita, luar biasa! Dengan demikian kita menang, tumbuh, berbuah-buah dan dapat pahala yang besar untuk selama-lamanya!
Jangan lupa duri itu hanya untuk sementara. Sebab itu kalau kita bersandar pada Tuhan, meskipun ada kelemahan (apalagi pada saat itu ditusuk duri iblis) kuasa Tuhan turun ke atas kita, kita menjadi kuat, menang dan berbuah-buah.

IX. BERMEGAH-MEGAH DALAM KELEMAHAN

Sub judul ini aneh tetapi benar. Sebab di sini terletak rahasia yang besar dari orang-orang yang lemah atau yang kelemahannya ditusuk duri oleh iblis, supaya tidak tinggal lemah dan kalah dalam kelemahannya, tetapi justru bermegah-megah, bersukacita dan menjadi kuat dalam kelemahan, sehingga menang, bertumbuh dan berbuah-buah.
Kalau seorang bermegah-megah karena kuat, menang, juara, dsb itu masuk akal. Tetapi kalau dalam kelemahan dan kekurangan bersukacita dan bermegah, itu aneh, tidak masuk akal. Tetapi ini resep dari Tuhan untuk orang-orang yang tinggal di dalam Dia yaitu pada waktu lemah, bermegah-megah. Mengapa?
1. Untuk minder, putus asa atau susah seperti Yakub itu sia-sia dan makin parah.
2. Kenyataannya toh kita bisa tahan sampai ke akhir biarpun lemah dan sakit tertusuk duri dalam kelemahan itu.
3.Akhirnya toh kita menang dan berbuah-buah dan pahala kita limpah untuk kekal.
Sebab itu mengapa menuruti kesedihan dan putus asa, itu salah! Bersukacita dan bermegah-megahlah di dalam Tuhan pada waktu di dalam kelemahan (lebih-lebih waktu sakit sebab duri menusuk kelemahan itu).
Kita sudah melihat di atas, bahwa bagi orang yang percaya, kuasa Allah disempurnakan di dalam kelemahan. Jangan menuruti perasaan daging yang sakit dan menderita, jangan menuruti kelemahan itu, tetapi turuti resep Firman Tuhan ini, ini betul, ada kuasa-Nya dan tidak berubah.
Apakah kita tidak malu kalau orang melihat kekurangan-kekurangan dan kelemahan kita? Tidak!
Paulus seorang yang transparan, ia tidak mau orang melihat dia lebih dari yang sebenarnya.
2Korintus 12:6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang meng-hitungkan kepadaku (TL: mengirakan aku) lebih daripada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar daripadaku.
Paulus memberi tahu yang sebenarnya, ada beberapa kelemahan-kelemahan yang cukup meng-ganggunya (memang tidak disebut jenis kelemahan-kelemahannya, tetapi ada! Seringkali ini bukan kelemahan-kelemahan jasmani, tetapi kelemahan rohani. Mungkin sebab tidak menikah, kadang-kadang naluri sex yang semestinya wajar menjadi duri atau kelemahan-kelemahan yang lain).
Tanpa menyebut kelemahan-kelemahan ini, orang mengira Paulus adalah orang kuat, orang super dan mudah dipuji dan disanjung orang banyak. Tetapi sekarang orang-orang bisa melihat bahwa bukan Paulus yang kuat, tetapi kuasa Allah di dalamnya yang menghasilkan buah-buah yang begitu banyak. Sebab itu orang dapat dengan mudah memuji-muji Tuhan bukan orang yang sukses itu.
Orang yang menutup-menutupi kelemahannya lalu memamerkan sukses dan kemenangannya, akan mudah mendapat puji hormat bagi dirinya, tetapi Tuhan tidak berkenan bahkan merendahkannya. (Menutup-nutupi kelemahannya itu lain dengan tidak mau mengakui kelemahannya sebab percaya kepada Tuhan. Kita tidak perlu menonjolkan atau mengangkat kepermukaan kelemahan-kelemahan kita sebagai alasan kegagalan atau keputusasaan kita. Kita tahu Tuhan sudah menebus kita sehingga yang lama sudah lenyap dan yang baru sudah terbit (2Kor 5:17) dan di dalam Kristus kita sanggup hidup baru, sebab itu untuk apa membesar-besarkan dan menonjolkan kelemahan-kelemahan yang lama tidak perlu).
Tetapi kalau orang yang lemah bertanya apa kita juga mempunyai pergumulan dengan kelemahan-kelemahan kita, kita bisa menyaksikannya bahwa dengan iman, meskipun kadang-kadang terasa lemah, kita kuat di dalam Tuhan!).

X.  KUASA KRISTUS TURUN KE ATASKU

Paulus yang terganggu oleh kelemahan itu mengalami hal yang luar biasa ini, kuasa Kristus turun ke atasnya. Mengapa ini terjadi? Ada 3 hal yang perlu kita simak, yaitu:
1. Rendah hati. Orang yang rendah hati akan ditinggikan, yaitu karena kuasa Allah turun ke atasnya. Meninggikan diri apalagi munafik itu menghentikan turunnya kuasa Allah (pengurapan) ke atas kita.
Kita tidak perlu mengada-ada, mengaku-akui supaya dianggap rendah hati, ini berarti tidak tulus dan justru ingin puji dengan “kerendahan hatinya”.
Tetapi sebaliknya orang yang merendahkan diri, yang mengakui semua berasal dari Tuhan, itu membuat pengurapan dan kuasa Tuhan turun ke atasnya dan berlanjut terus-menerus sehingga menjadi kuat, menang dan berbuah-buah.
2. Mengerti.
Mekanisme duri, kelemahan, kekuatan dan kuasa Allah ini perlu dimengerti baik-baik. Orang yang mendengar Firman Tuhan dan mengerti,  akan berbuah-buah lebat bahkan bisa sampai 100 kali ganda (Mat 13:22).
Sebab itu kita harus betul-betul mempelajari (2Kor 12:7-10) ini, sebab di sini terletak rahasia dari kekuatan orang yang bergumul dalam kelemahannya.
3. Percaya pada Allah (Mrk 11:22).
Kita ini hidup bukan untuk menuruti perasaan, akal atau penglihatan tetapi hidup dengan iman (Rom 1:17). Kalau tidak percaya pada Firman Tuhan, hidup ini macet, bantut dan mati. Sebab itu percayalah akan apa yang dikatakan Firman Tuhan. Percayalah akan kebijaksanaan Allah memberi duri, itu tidak ngawur tetapi justru untuk meningkatkan pertumbuhan dan pahala yang kekal.
Percayalah akan kuasa Allah yang turun seperti yang dijanjikan kalau kita bisa bersukacita dan bermegah-megah dalam kelemahan sebab yakin akan janji Allah ini. Percayalah dan kita akan mengalami kuasa Allah turun, hidup berkemenangan dan berkelimpahan.
Mengerti mekanisme duri Paulus dan percaya itu menghasilkan kuasa yang limpah di dalam kelemahan-kelemahan kita, apalagi pada waktu ditusuk duri dari utusan iblis.
4. Tinggal dalam Kristus.
Orang yang tinggal selalu dalam Kristus seperti carang dalam pokok (Yoh 15:4-5), sekalipun tidak mengerti baik- baik segala mekanisme ini, ia masih bisa tahan, sebab Roh Kudus memberi iman, keyakinan dan kekuatan. Tinggal dalam Kristus, jangan menyerah menuruti kelemahan sehingga berbuat dosa. Kalau sudah berbuat dosa, itu keluar dari Kristus, jangan!
Tinggal dalam Kristus berarti tekun berdoa dalam Roh dan kebenaran (Yoh 4:23), maka Roh Kudus akan makin kuat bekerja di dalam kita. Orang yang tinggal di dalam Kristus juga tekun dalam menyelidiki, meditasi dan memegang Firman Tuhan, pasti ia menjadi kuat oleh Firman Tuhan seperti Elia yang putus asa karena kelemahannya, menjadi kuat oleh roti (Firman) dan air (pekerjaan Roh Kudus). Orang yang tinggal di dalam Kristus juga tinggal dalam persekutuan tubuh Kristus yang betul, di situ ada nasehat, doa, pelayaan dalam Roh dan kasih Kristus yang membuat kita menjadi kuat, tidak terus-menerus lemah dan menuruti kelemahan.
Demikianlah caranya kuasa Kristus bisa turun ke atas kita.

XI. PADA WAKTU SAYA LEMAH

2Korintus 12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan, dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Paulus menderita banyak hal dari dalam dan dari luar. Dari dalam kadang-kadang ada kelemahan yang ditekan iblis sehingga menjadi duri, dari luar ada lagi yang menyerang dan menyiksakannya. Macam-macam hal menekannya dan itu memperberat kelemahannya bahkan duri itu makin sakit menusuk. Kadang-kadang dicela, dianiaya, dalam kesempitan dan kekurangan, sendirian, dsbnya.
Mengapa Tuhan mengizinkan begitu banyak penderitaan datang pada Paulus? Tentu tidak ngawur dan sia-sia, tetapi ada maksud yang indah yaitu pengolahan sehingga makin tumbuh, makin berbuah-buah dan makin mulia limpah dengan pahala untuk kekal.
Memang kita diasah, diolah dan ditumbuhkan dalam penderitaan.
Ibrani 2:10 Sebab memang sesuai dengan keadaan allah — yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan — yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan,de-ngan penderitaan.
Dalam penderitaan-penderitaan yang banyak seperti ini, biasanya orang-orang menderita, bahkan seringkali putus asa kalau tidak mengerti dan tidak percaya. Tetapi Paulus justru bersukacita meskipun ia menderita, tidak berdaya dan terjepit. Ia menderita karena Kristus, bukan karena dosa-dosanya dan itu berarti kemuliaan yang besar, akan diganti mahkota kekal.
Paulus percaya bahwa Tuhan tidak akan meninggalkannya (Mat 28:20), ia tidak akan dipermalukan (Rom 10:11). Ia percaya dan mengerti, bagaimanapun juga dengan Tuhan ia akan bisa bertahan sampai ke akhir dan ada pahala dan kemuliaan yang kekal.

XII.  PADA WAKTU SAYA LEMAH PADA WAKTU ITU

SAYA KUAT

Ini kesimpulan dari semuanya. Ini kunci penting bagi orang-orang yang merasa dirinya bukan orang kuat, hanyalah manusia yang lemah. Paulus punya kelemahan, dijamah oleh kelemahan (Seperti Putra Manusia Ibr 4:15) tetapi tetap percaya dan tidak mau berdosa, tetap hidup dalam kesucian.
Ini bukan untuk orang yang gagal tetapi keras hati, tidak mau percaya, tidak mau taat, tidak mau tunduk; Tetapi ini untuk orang yang mau percaya, yang mengerti dan yang mau taat, ia akan kagum, sebab setiap kali ia lemah, pada waktu itu ia kuat. Ini resep yang ajaib dan pasti berhasil, sebab dari Tuhan Yesus.

KESIMPULAN

Kalau Tuhan mengizinkan kita menderita karena kebenaran (dari dalam atau dari luar), jangan kecil hati, meskipun rasanya tidak enak dan kita tidak suka. Periksa diri, kalau ada dosa, bersihkan dengan cara bertobat sungguh-sungguh lalu kembali kepada Tuhan (Yak 4:7-8). Biasanya kalau dosa sudah dibereskan, penderitaan itu akan berkurang sampai lenyap. Ini penderitaan karena dosa.
Kalau tidak ada dosa, ini mungkin duri.
Mengerti atau tidak, majulah terus dalam anugerah Tuhan.
Ada duri? Jangan kecil hati. Kalau tidak ada dosa, tahan saja. (Kalau ada dosa, segera bereskan) Berdoa minta dicabut? Percuma! Jangan bersikap pesimis dan sedih seperti Yakub, Elia, tetapi bersikaplah seperti Paulus dan Putra manusia, yang mau menerima bahkan mau bersukacita sebab percaya akan Allah. Sebab itu mereka bisa menikmati hasilnya mulai dari permulaan siksaan.
Hasilnya akan indah dan mulia, ja-ngan menikmati hanya pada saat terakhir dan sekarang masih sedih dan terus menerus kesedihan seperti Yacob; itu percuma, sia-sia dan berbahaya bisa putus asa, undur dan binasa.
PADA WAKTU SAYA LEMAH

  • Duri utusan iblis menusuk kelemahan saya, sakit!
  • Bermegah-megah dan bersukacita dalam kelemahan,
  • Bertindak dengan iman (kalahkan kelemahan itu)
  • Maka kuasa allah turun ke atas kita.

PADA WAKTU ITU AKU KUAT

  • Bisa maju terus, menang, tumbuh dan berbuah-buah.

Nyanyian:
Ku lemah Yesus kuasa
Hindarkan dari dosa
Dan ku berbahagia
Serta girang trus slamanya.