Memanjakan Anak itu Merusak Tabiatnya

I. DIMANJA MENJADI KURANG AJAR

Mengapa anak-anak menjadi “Kain”, yaitu orang-orang yang begitu brutal sampai berani membunuh Habil adiknya? Ada beberapa sebab, misalnya karena orang tua sendiri tidak bertobat, hidup dalam dosa menuruti da-ging. Sebab itu kelemahan dan tabiat orang tua yang jahat ini juga turun pada si anak. Mungkin juga sebab pergaulan jahat yang dibiarkan oleh orang tuanya menempel pada si anak.
Salah satu sebab yang lain, yang utama adalah karena cinta yang salah.
Kain adalah anak pertama dan bayi pertama di dunia yang begitu lucu dan mungil, orang tuanya menjadi sangat cinta kepadanya. Seringkali cinta yang berlebih- lebih menjadi cinta yang salah, yaitu memanjakannya dan ini merusak pertumbuhan tabiat si anak.

Memanjakan berarti:

  • Boleh minta apa saja
  • Boleh berbuat apa saja (sesuka hatinya)
  • Tidak ada larangan

Apa saja yang diminta, yang diinginkan, diberikan kepadanya meskipun lebih daripada porsi yang patut. Orang tuanya tidak pernah melarang si anak atau kurang sekali melarang, semua boleh.
Daud sangat memanjakan Adonia, tidak pernah ditegur atau dilarang.
1Raj 1:6 Maka belum pernah ayahnya gusar akan dia seumur hidupnya, atau titahnya: Mengapa engkau berbuat begitu? Dan lagi iapun sangat elok rupanya dan Hajit sudah memperanakkan dia kemudian dari pada Absalom. (TL)
Apa saja yang dibuat, tidak dilarang, sebab itu ia menjadi orang yang semaunya sendiri. Lebih-lebih kalau jengkel, marah, apalagi kalau sudah ingin mendapatkan sesuatu. Sebab dimanja, maka Adonia berani mengangkat dirinya menjadi raja, meskipun itu melawan bapanya sendiri.
Juga Kain, hanya karena iri yang terpendam, akhirnya ia membunuh adiknya sendiri.
Pemanjaan itu membuat keru-sakan tabiat dengan akibat-akibat yang bisa sangat dahsyat seperti Kain dan Adonia. Orang manja ini bertingkah semaunya sendiri tidak peduli berapa dan apa pun akibatnya.
Bagaimana cara kita mendidik anak sesuai dengan Firman Tuhan sehingga anak-anak disayang baik-baik tetapi tidak dimanja.

A. MENDIDIK ANAK

1. Belajar pikul salib dari kecil.
Firman Tuhan mengajarkan sebaiknya setiap orang menanggung kuk dari kecil.
Ratapan 3:27 Baiklah pada orang jikalau ia menanggung kuk (salib) dari pada masa mudanya. (TL)
Ini berarti harus menyangkal diri, tidak semua boleh dilakukan, ada yang boleh ada yang tidak, ada larangan-larangan. Larangan- larangan ini, harus disesuaikan dengan umur.
Pada waktu lahir, tidak ada yang patut dilarang dari si bayi. Waktu bayi itu mulai besar misalnya 1 tahun ada sedikit- sedikit yang dilarang. Umur 2 tahun lebih banyak yang dilarang, misalnya ngompol (baru dilarang umur 1,5 – 2 thn, sebab sebelumnya perkembangan syarafnya belum selesai, sehingga tidak bisa menahan kencing); menangis berlebih-lebih (bukan karena sakit/ penyakit) baru patut dilarang kalau umurnya sudah cukup.
Begitu juga setiap perbuatan lain yang harus dilarang,  harus disesuaikan dengan umurnya.
Begitu seterusnya makin lama anak itu harus belajar makin  mahir menyangkal diri, pikul salib sesuai dengan Firman  Tuhan sampai akhirnya menjadi mahir seperti Kristus Yes  53:3. Jadi Firman Tuhan mengajarkan bah-wa dari kecil  anak-anak harus belajar pikul salib.
Ada beberapa negara yang melarang orang tua memukul  anaknya sendiri dan membiarkan mereka menuruti  kehendaknya sendiri untuk mengembangkan kreatifitasnya. Tetapi ini bertentangan dengan Firman Tuhan. Siapa yang betul? Tuhan yang bisa menciptakan manusia dan alam semesta dari tidak ada apa-apa, pasti Ia lebih mengerti tentang manusia dan pasti lebih benar, bahkan mutlak benar: Percayalah kepada Tuhan dan FirmanNya. Dia menyuruh kita untuk belajar pikul salib dari kecil, ini akan membuat hidup ini tumbuh terbaik!
2. Belajar membedakan yang benar dan salah.

Anak-anak harus mulai diajar sedini mungkin, membedakan tangan  kanan dan kiri,  mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (sesuai  dengan umurnya).
Yun 4:11 Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota  yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu  orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan  dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”
Anak-anak yang tumbuh semakin besar harus terus diajar lebih ba-nyak apa yang boleh dan apa yang dilarang dan dijelaskan (sesuai umurnya) mengapa dilarang dan apa akibatnya kalau dilanggar.  Semua harus didasarkan atas Firman Tuhan (Ingat, harus dibedakan Wasiat Lama dan Wasiat Baru, sebab apa yang dilarang dan diizinkan dalam Wasiat Lama itu tudungnya harus disingkapkan lebih dahulu, baru cocok untuk kita orang- orang Wasiat Baru.
2Kor 3:14 Tetapi pikiran mereka itu sudah dikeraskan, karena sehingga sampai kepada hari ini masa membaca perjanjian lama se-lubung itu ada lagi, belum tersingkap, sebab selubung itu hanya ditiadakan oleh Kristus. (TL)
(Misalnya dalam Wasiat Lama; makanan haram dan tidak, membenci dan membalas musuhnya dan membunuh itu tidak lagi berlaku dalam Wasiat Baru dan seterusnya). Demikianlah anak-anak harus dididik dalam terang Firman Tuhan supaya bisa membedakan tangan kanan dan kiri. Makin besar ia harus makin mengerti lebih banyak, sampai akhirnya ia mengerti segenap kehendak Allah.
Kis 20:27 Karena tiada kusembunyikan apa-apa, melainkan kuberitakan kepadamu segenap kehendak Allah. (TL)

3. Belajar taat (disiplin).

Sesudah mengerti mana yang betul dan salah, anak-anak harus  belajar taat (sesuai dengan umurnya). Dengan demikian ia akan  belajar pikul salib sejak kecil, sampai akhirnya mahir. Ini berguna  untuk seluruh sisa umur hidupnya. Kalau tidak mau menyangkal diri,  maka tidak ada pelajaran ketaatan atau disiplin. Orang yang tidak  mau menyangkal diri, tidak bisa taat!
Sekali-sekali, kalau terus-terus melanggar, perlu diberi  hajaran dengan beberapa  lidi di bokongnya.

Ingat menghajar anak itu:
1. Kalau ada salah yang patut dihukum.
2. Jangan memukul memakai seadanya barang, bisa-bisa batang besi dan pisau dipakai oleh orang tua yang emosi, apalagi kalap, pasti akibatnya mati atau cacat seumur hidup.
3. Jangan emosi, tetapi belajar marah yang betul, dipimpin Roh, tidak emosionil. Akibat memukul dengan emosi bisa membuat anak cacat seumur hidup atau mati (ada beberapa!). Sebab si anak tidak mungkin menang duel dengan orang tuanya.
Jangan berbuat jahat pada anak. berlakulah dengan sabar, jangan anak-anak menjadi sasaran hati yang jengkel dan emosi yang meledak-ledak dari orang tuanya. Nanti menyesal seumur hidup. Jangan membuat anak cacat (lahir-batin) dan jangan membunuh anak karena tidak bisa menahan diri. Itu sebabnya ada negara-negara yang melarang memukul anak. Tetapi menghajar anak-anak selagi kecil dengan tepat tanpa emosi pada tempat yang tepat (bokong), itu berfaedah untuk mengajak disiplin. Jangan mengajar anak seperti gangster memukuli korban yang diikat.

Penting menerangkan pada anak-anak bahwa:
a. Perbuatannya itu salah dan
b. semua dosa itu melawan Tu-han; Tuhan itu Hakim seluruh dunia Kej 18:25.
Tuhan ingin anak-anak menjadi manis seperti Kristus dan te-rangkan (serta memberi contoh-contoh hidup sendiri) bahwa dengan Tuhan kita pasti bisa mentaati Firman Tuhan dan itu menyenangkan Tuhan.
Ingat ada peperangan antara daging dan roh dan bantu anak-anak itu bisa mengalahkan daging (= Tabiat dosa) dari kecil, dengan minta tolong dan bersandar kepada Tuhan (doa!). Mereka perlu dididik dengan Firman Tuhan dan diajak berdoa agar mengenal kebenaran dan kuasa Allah dari kecil.
2Tim 3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat ke-padamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Mrk 12:24 Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah.
4. Bersukacita di dalam ketaatan.

Ams 14:14 Barangsiapa yang degil hatinya itu menge-  nyangkan  (memuaskan) dirinya dengan menurut kehendaknya  sendiri, tetapi seorang yang baik itu mengenyangkan (memuaskan)  dirinya dengan berbuat perkara yang wajib atasnya. (TL)

Orang yang degil itu mengenyangkan dan memuaskan diri-nya dengan  menuruti kehendaknya sendiri, tetapi orang yang baik itu  mengenyangkan dirinya dengan ketaatan yaitu berbuat barang yang wajib atasnya. Ini jelas sekali menunjukkan perbedaan anak yang baik dan yang manja dan anak yang manja itu anak yang kurang ajar, degil dan undur, berontak melawan Allah.
Kalau seorang mengerti dan ingin memperkenankan Tuhan, maka ia akan bersukacita dalam ketaatan, bukan hanya karena mencapai ukuran dan target ketaatan, tetapi sebab ada sungai air hidup mengalir di dalam orang yang mau percaya dan taat kepada Tuhan. Ini terjadi sebab Roh Kudus bisa memenuhi dan menguasai hatinya.
Yoh 7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran (TL: sungai) air hidup.” (Yoh 4:14)

Kalau kita sudah bisa merasakan sukacita dari Tuhan, itu amat indah dan belajar terus bersukacita di dalam Tuhan (Pil 4:4), dalam ketaatan supaya si anak dibiasakan bersukacita dalam kesukaan dari Surga, air hidup dari Tuhan, kesukaan dari hadiratNya.

Maz 16:11 Maka Engkau memberitahu aku jalan yang menuju kehidupan; kekenyangan dengan sukacita adalah di hadapan hadirat-Mu dan kesedapan pada kanan-Mu sampai selama-lamanya! (TL)
Jangan biasakan bersukacita sebab memuaskan hawa nafsu daging, sebab puas karena semua keinginan hatinya dipenuhi, kesukaan yang berdosa untuk sesaat (Ibr 11:25), ini sukacita anggur lama yang jahat dan limpah de-ngan dosa, ini merusakkan tabiat baru.

Ini sukacita orang dunia, sukacita Sodom yang menjadi racun bagi  hidup orang-orang suci.
Ul 32:32-33 Karena pokok anggur mereka itu dari pada  pokok anggur Sodom dan dari padang Gomorah asalnya, dan  buah anggurnyapun buah anggur upas dan tandannya pahit  maung belaka. Air anggurnya itu bisa ular naga dan bisa ular  beludak yang amat bengis. (TL)

Sebab-sebab menjadi manja:
1. Tidak pikul salib sejak kecil Rat 3:27.
2. Tidak tahu yang benar dan salah Yun 4:11.
3. Tidak taat/ disiplin.
4. Bersukacita menuruti daging Ams 14:14.

B. AKIBAT TABIAT MANJA


1. Tidak mau taat. Selalu mau menuruti kehendak hatinya sendiri.  Kalau ia setuju dengan perintah yang diberikan, atau kompromi, ada  syarat atau hasil yang menyenangkan, baru ia taat. Kalau tidak,  atau ia tidak bisa melihat faedahnya, ia tidak mau taat dan berontak.  Biasanya anak- anak kecil itu lalu menangis, tidak mau taat, atau  anak-anak yang lebih besar melawan dan berontak (pada waktu  dewasa mereka akan menjadi orang-orang yang menuruti daging,  semaunya sendiri seperti orang- orang zaman Nuh dan Lot).
Ini ciri khas dari anak yang manja, suka menangis atau berontak, sebab kehendaknya tidak dituruti.
2. Tidak ada perhatian. Kalau tidak cocok dengan kehendaknya ia tidak mau memberi perhatian. Ini menjadi problem pada waktu belajar di sekolah dan pada waktu mendengar Firman Tuhan di Se-kolah Minggu dan di mana- mana. Sebab tidak setuju dan tidak cocok dengan kehendaknya, maka ia tidak mau memberi perhatian lalu melakukan yang lain yang cocok dengan kehendak hatinya. Kalau dinasehati atau ditegur, ia tidak peduli, ia berlaku semaunya sendiri.
3. Perbuatan semaunya sendiri (impulsive). Apa yang dikehendaki, itu yang dituruti dan dilakukan, tidak peduli akibatnya hebat atau celaka besar, asal ia senang. Kadang-kadang timbul tindakan yang meledak-ledak seperti Kain terhadap Habil, ia tiba-tiba membunuh adiknya sendiri. Semua keinginannya dituruti sebab ia tidak punya rem dan tidak mau mengerem kehendaknya (= tidak mau menyangkal diri, tidak mau pikul salib).
Menyangkal diri itu harus dilatih dengan kuasa Allah, terus me-nerus, bertahun-tahun sampai akhirnya mahir, tidak bisa satu kali coba langsung menjadi mahir. Memang selama kita mau menuruti kehendak Roh, maka keinginan daging bisa kita tekan dan kalahkan.
Tetapi tubuh daging itu banyak siasat dan godaannya. Sebab itu kita harus terus menerus menyangkal diri, pikul salib setiap hari Luk 9:23. Kalau daging dilazatkan (dengan bermacam-macam cara) atau dijerat seperti ular menjerat Hawa, maka keinginan daging dalam Hawa menjadi kuat sekali dan tidak bisa ditahan.
Begitu kalau anak itu dilazatkan terus keinginan dagingnya, dagingnya menjadi kuat dan terus menuntut untuk dipenuhi.
Inilah akibatnya kalau anak itu dimanja terus menerus, tidak diajar pikul salib, justru kehendak-nya sendiri (daging) dilazatkan terus (dikuatkan), dengan terus menuruti permintaannya, tanpa ada larangan; apalagi kalau ditambah kebodohan, tidak ada pe-ngertian rohani, tabiat dan iman- nya rusak!
Akibat manja:
1. Tidak mau taat.
2. Tidak ada perhatian.
3. Semaunya sendiri = tidak punya rem.

C. TABIAT ANAK MANJA


Tampak sekali tabiat yang khas dari anak yang manja  yaitu:
1. Semaunya sendiri, tidak bisa diatur, tidak bisa  didisiplinkan.
2. Mudah marah, mudah memaki-maki  seenaknya sendiri, semua karena tidak mempunyai  rem, tidak mau menyangkal diri dari kecil.
3. Suka mogok, melawan, berontak. Sebab tidak dituruti kehendak hatinya. Kalau dituruti ia bisa tertawa lebar.
4. Bersukacita karena bisa menuruti kehendak hatinya, bukan karena taat akan hal-hal yang wajib.
Ini sifat-sifat jelek akibat dimanjakan.

II. PENGASUH BAYARAN

Ada satu hal yang juga meng-akibatkan anak- anak menjadi manja adalah pemakaian baby sitter atau suster untuk anak-anak. Orang-orang bayaran ini menuruti semua kemauan dan keinginan si anak, sehingga anak-anak menjadi “the little king”, apalagi kalau orang tuanya setuju dan dengan keras memarahi susternya supaya terus menuruti si anak, lebih-lebih kalau si anak menangis.

Banyak orang tua tidak sadar akibat cara hidup seperti ini. (Kalau toh  karena ibunya cacat atau karena terpaksa diperlukan suster, orang-  orang bayaran itu harus ditugaskan juga untuk mendisiplinkan anak-  anaknya; jangan dengan membuta selalu menyalahkan susternya  kecuali ia betul salah, supaya jangan anak-anaknya menjadi rusak  karena dimanjakan. Sebab itu orang- orang ini biasanya mengalah  terus; hati-hati jangan sampai “tabiat semaunya sendiri” itu  disuburkan oleh pembantu-pembantu/ suster yang “sabar” ini, yang  memanjakan = membiarkan dan mengi-zinkan sikap dan perbuatan-  perbuatan apa saja.
Cara seperti ini kadang-kadang lebih jahat memanjakan si anak daripada kalau diasuh oleh orang tuanya sendiri, sebab orang bayaran itu diperintahkan oleh orang tuanya untuk taat penuh pada anaknya. (Kalau orang tua atau neneknya yang menjaga, biasanya tidak mau menuruti permintaan si anak yang berlebih-lebih, sehingga tidak terlalu dimanjakan). Sebab itu banyak tabiat anak-anak orang kaya (yang bisa membayar suster) menjadi rusak dan semaunya sendiri, seperti tabiat yang disebut di atas.

III. MANJA,WAKTU DEWASA

Kerusakan tabiat ini berlanjut sampai dalam umur dewasa, meskipun sudah mencapai gelar S1-3, tetapi tabiatnya tabiat manja dan itu seringkali menjadi jahat (sekolah hanya mengasah kepintaran, sangat sedikit yang mengasah tabiat, memang yang diuji dalam ujian akhir hanya kepintaran bukan tabiat. Dalam pergaulan masyarakat baru tabiat itu diuji).

Sebab itu selain bayi dan anak-anak, juga ada beberapa banyak  orang yang perlu meneruskan mendidik dirinya sendiri,  sebab salah atau kurang didikan, belum banyak berubah  secara jasmani (dari bayi sampai dewasa) dan secara rohani,  sejak mulai lahir baru.

TARGET ORANG BERIMAN

Selain sambungan tabiat manja menjadi beban tambahan untuk  penggembalaan Gereja, orang- orang beriman juga harus bertumbuh  terus sampai menjadi seperti Kristus. Di dalam tubuh Kristus yang  sehat, dengan penggembalaan yang baik dan saling tolong menolong  dalam persekutuan tubuh Kristus, maka semua anggota-anggota tubuh Kristus yang mengerti dan mau, bisa tumbuh bersama, sampai akhirnya mencapai target orang beriman yaitu seperti Kristus.
Sebab itu kita sendiri juga harus menyadari kekurangan-kekurangan kita dan mau ber-ubah, mau dinasehati dan ditegur. Dengan pertolongan Tuhan tabiat yang jelek bisa berubah menjadi baik! (TE 56 perubahan tabiat). Kita harus menyangkal diri terus menerus, (suami-isteri juga harus saling mendidik dan menolong, juga anggota-anggota tubuh Kristus satu sama lain) supaya kita menjadi orang yang mahir pikul salib, bukan orang yang tidak bisa menyangkal diri sehingga diperbudak oleh kedagingan/ hawa nafsunya (dan ini tampak seperti orang yang semaunya sendiri, tabiat orang manja = orang kurang ajar).
Ingat orang-orang zaman Nuh yang semaunya sendiri menuruti hawa nafsunya, mereka tidak peduli akan nasehat dan khotbah Nuh 2Pet 2:5, terus menuruti daging, akhirnya semua orang-orang ini binasa.
Makin mendekati akhir dari akhir zaman, makin bayak orang dewasa yang punya sifat manja yang jelek dan kurang ajar ini (Luk 17:26-28) yaitu semaunya sendiri, tidak peduli orang lain, jemawa, tidak mau perhatian, mudah marah dan bicara seenaknya, mudah mogok melawan dan berontak dan berbuat hal-hal yang tidak bertanggungjawab, bahkan kadang-kadang sangat membahayakan. Ia puas meskipun orang lain celaka, sebab bisa menuruti kehendak hatinya.
Jangan semaunya sendiri, tetapi belajar menyangkal diri sampai mahir, supaya bisa taat, tunduk, disiplin, baik kepada orang tua, pemimpin-pemimpin, istimewa kepada Firman Tuhan, itu jalan bahagia. Tuhan sanggup menolong dan menguatkan orang yang percaya dan berharap kepadanya sehingga menjadi mahir pikul salib, dan terus berubah sampai menjadi seperti Kristus (target orang Kristen!).

IV. HAL-HAL YANG KECIL

Beberapa orang menganggap hal-hal kecil ini tidak berarti (betul untuk orang dewasa, tetapi salah untuk anak-anak). Anak-anak menganggap hal-hal kecil itu seperti sungguh-sungguh, misalnya boneka, cerita fantasi dll. Sebab itu cerita yang mengharukan, sekalipun hanya fantasi bisa membuat anak menangis dan sulit tidur sebab itu dianggap betul. Juga cerita binatang yang berlagak seperti manusia dianggap riel oleh anak-anak. Memang panda-ngan anak-anak dan orang tua berbeda, sebab orang tua sudah bisa berpikir riel. Tetapi justru karena hal-hal kecil ini, kita sudah bisa memulai mendidik anak-anak sejak lahir, bahkan memang demikian caranya.
Kita tidak bisa mendidik anak-anak dengan hal-hal besar atau dengan tanggungjawab yang besar, ia tidak mungkin melakukannya, tetapi mulailah dengan yang kecil-kecil dahulu.
Luk 16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. (TB)
Pada waktu dewasa, hal-hal kecil ini tidak lagi berarti baginya, tetapi tabiat yang sudah dibentuk itu akan tinggal tetap.
Ams 22:6 Ajarkanlah seorang budak segala permulaan jalannya yang patut, maka (sampai) pada masa tuanya tiada ia akan undur dari padanya. (TL)
Kalau orang tua menganggap hal-hal kecil ini remeh dan sepele, maka akibatnya, orang tua mengabaikan hal-hal kecil dari si anak, mereka tidak bisa mendidik anak-anaknya dengan baik/ betul, dan oleh karena itu kehilangan kesempatan yang besar untuk mendidik anak-anaknya sendiri. Meskipun mereka mendapat kesempatan yang terbesar, tetapi kalau tidak bisa memakainya, itu menjadi sia-sia, sebab kesempatan terbesar itu tidak terpakai.
Untuk bisa memakai kesempatan yang terbesar ini, salah satu hal yang perlu diketahui orang tua ialah ia harus mengerti tentang prinsip hal-hal yang kecil ini. Orang tua harus menerima keadaan ini, yaitu hal-hal kecil ini bagi si anak dianggap sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh, untuk mendidik anak-anaknya, un- tuk membentuk tabiat dan imannya, misalnya:
1. Peraturan-peraturan untuk hal-hal kecil, seperti:

  • Meletakkan sepatu di tempatnya,
  • Juga tas sekolah,
  • Sikat gigi sebelum tidur,
  • Cuci kaki (pakai sandal) sebelum naik tempat tidur,
  • Cuci tangan sebelum makan,
  • Juga beberapa peraturan waktu makan,
  • Waktu bertamu.
  • Contoh lain dalam hal kebersihan: Apa yang dikotorkan harus dibersihkan, dimasukkan dalam bak sampah, dan lain-lain.

Terangkan secara sederhana dan singkat, mengapa harus begitu dan bimbing anak itu untuk
selalu mentaatinya.
Peraturan-peraturan ini sudah bisa dipakai untuk menyangkal diri dan menumbuhkan ketaatan dan disiplin (ingat sesuaikan dengan ukuran umur anak-anak, jangan memberi peraturan yang berlebih-lebih). Sekalipun peraturan-peraturan ini hal kecil, pegang baik-baik, maka sampai tua anak-anak akan tetap disiplin.
2. Bermain-main. Untuk anak-anak, bermain-main itu dianggap seperti yang sesungguhnya.
Kita bisa membina disiplin dan kejujuran waktu bermain, yang salah harus mengakui dan yang benar mengampuni. Jangan kekeliruan atau pelanggaran-pelanggaran itu dibiarkan dan tidak diurus, tetapi juga jangan menindak berlebih-lebih.
3. Kata-kata. Jangan bicara sia-sia, baik anak-anak juga orang tua! Kadang-kadang karena jengkel, marah, emosi dan lain-lain lalu ibu atau bapanya bicara seenaknya saja, tetapi anak-anak menganggap itu sungguh-sungguh.

Misalnya seorang teman ibunya berkata pada anaknya, ibu mu kuambil dan si ibu ini diajak pergi. Bagi si anak ini malapetaka besar dan ia menangis sejadi-jadinya.
Kalau orang tuanya berkata” Kamu ini menjengkelkan dan membencikan dan si anak menganggap itu betul dan ia merasa tidak dicintai, lebih-lebih kalau itu dikatakan berpuluh-puluh atau beratus-ratus kali; ini merusak hubungan si anak dan orang tua. Tidak mudah memperbaiki hubungan anak-orang tua yang sudah dirusak sendiri oleh orang tuanya. Lebih baik katakan terus terang dan dengan tepat apa kesalahannya, sehingga si anak sadar dan sekaligus mendidiknya. Misalnya: “sudah 5 kali ibu berkata, kalau kencing harus disiram, lihat baunya busuk sekali”!
Juga kalau orang tua mengusir anak sebab hatinya kesal, tetapi bagi anak itu berarti betul-betul 100% diusir (sehingga bisa menjadi stress, sebab anak kecil itu mau pergi ke mana? Hilang tempatnya berpijak! Ini suatu malapetaka besar bagi anak itu.); meskipun bagi orang tua itu hanya kata-kata iseng sebab pegel, tetapi akibat besar dan sungguh-sungguh, bukan main-main! Sebab itu jangan sekali-kali mengusir atau menolak anak!
Kita harus mulai dari yang pa-ling kecil Luk 16:10, kita harus memperhatikan dan mendidik anak-anak dalam hal-hal kecil ini.
4. Memperlakukan barang-barang, ini juga mempunyai arti yang besar bagi anak-anak. Misalnya boneka, anak-anak memeluk bonekanya dengan kasih sayang seperti adiknya sendiri.

Sebab itu jangan boleh membanting atau melemparkan bonekanya  sembarangan atau dengan kasar ajar bersikap lemah lembut terhadap  bonekanya.
Mainannya juga, sesudah bermain, suruh masukkan sendiri ke dalam  kotaknya dan diletakkan di tempatnya dengan rapi, ini menumbuhkan  tabiat dan kebiasaan yang rapi dan teliti.
Kunci, pesan jangan sampai lupa atau hilang sebab ini barang penting, tanpa kunci tidak bisa masuk kamar.
Barang orang, pinjaman atau “terbawa” harus dibereskan, ajari, bersikap jujur dan meng-akui kalau ada salah.
Pakaian harus dijaga kebersihannya, meletakkan baju yang kotor, mengganti dengan yang baru, dll.
Begitu dengan barang-barang lain yang mulai dipergunakan si anak, sesuai dengan umurnya, kita pakai untuk mendidik mereka dari kecil.
Dengan barang-barang kecil ini kita mendidik anak-anak untuk belajar bertanggungjawab.
5. Sikap kepada orang lain, yang ada di sekitarnya, ini men-didik mereka bagaimana kelak bergaul dalam masyarakat luas. Misalnya terhadap:
Tamu, menyambut dengan memberi salam, kalau diberi permen dan lain-lain, belajar mengucapkan terima kasih dst.
Terhadap orang-orang yang lebih lemah, misalnya adiknya, teman-temannya yang lebih kecil, jangan dipukul atau dimarahi, tetapi ditolong, dibantu dimana perlu dilindungi dengan tulus.
Terhadap pembantu, tidak boleh dikata-katai, dipukul dan lain-lain. Ada pembantu yang mau diperlakukan dengan kasar dan jelek oleh anak-anak kecil, apalagi kalau gajinya besar, tetapi justru dengan demikian, tabiat si anak yang dikorbankan menjadi rusak!
Terhadap semua orang, anak ini diajar untuk tahu menghargai dan menghormati hak-hak orang lain. Kadang-kadang karena nakal, anak-anak dimarahi gurunya di sekolah. Ada orang tua yang langsung memberi komentar sembarangan, menyalahkan si guru dan me-nuduhnya minta disuap de-ngan hadiah-hadiah, atau mengata-ngatainya; ini menanam sikap yang salah pada si anak, ia akan menjadi lebih jelek dari orang tuanya, sebab orang tua masih punya pengalaman dan bisa menimbang lebih baik, tetapi si anak akan mudah me-ngata-ngatai atau menuduh macam-macam hal yang jahat, lebih jelek dari orang tuanya! Orang tua yang bijaksana akan bertanya pada anaknya, me-ngapa ia dimarahi atau dihukum harus menulisi satu halaman dengan kalimat yang salah, misalnya: “Saya tidak boleh bicara di kelas”. Kemudian seharusnya orang tua memberi nasehat yang baik bagi si anak. Ada kemungkinan gurunya memang jelek, tetapi jangan karena itu si anak dikorbankan tabiatnya sehingga suka menuduh, mengata- ngatai dan bersikap jelek, lebih dari orang tuanya! Sikap yang baik mulai dikembangkan sejak kecil sesuai dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan dan disesuaikan dengan umur anak-anak.
6. Belajar berdikari (= berdiri atas kaki sendiri) sesuai de-ngan umurnya, misalnya mandi, makan, sisir, sikat gigi, pakai sepatu, pakaian dll (tentu sambil diawasi).

Ini mengajar anak- anak bisa bertanggungjawab, tahu tugas dan  kewajibannya. Anak yang terus ditolong dan dibantu orang lain,  tidak bisa mandiri, (padahal menurut umurnya sudah bisa  melakukannya sendiri). Banyak kali didapatkan bahwa anak-anak itu  pada waktu dewasa tidak bisa bekerja, selalu tergantung orang lain,  bahkan hanya bisa terus menuntut pada orang tuanya barang-  barang yang mewah dan bagus. Kalau tidak diberi, bisa marah dan  mengancam, padahal semua orang sesudah dewasa harus belajar  bisa mandiri.
7. Kreatifitas dalam dunia seringkali untuk menumbuhkan kreatifitas, mereka memakai permainan (sesuai umur), juga cerita fantasi istimewa occultisme; sebab dalam dunia occultisme kreatifitas itu bisa dikembangkan luar biasa tanpa batas. Betul di sini ada banyak alasan untuk me-ngembangkan kreatifitas anak-anak, tetapi occultisme itu juga penuh dengan bahaya penyesatan dan penipuan setan.
Apa bahaya bagi si anak?
a). Anak-anak tidak bisa membedakan dunia fantasi dan dunia nyata.
b). Anak tidak bisa membedakan tipu daya iblis dan kebenar-an sehingga
c). Termakan (tertanam) banyak pikiran iblis dan akhirnya dikuasai iblis. Misalnya dari TV dan buku-buku diajarkan bahwa ada jin yang baik, suka menolong orang, ada jin yang jahat, sehingga dalam pikiran si anak di tanamkan bahwa tidak semua setan itu jahat dan ini membuka pintu untuk penipu setan dalam hari-hari yang akan datang. Akhirnya pada waktu dewasa anak-anak ini  mempunyai pikiran, pendirian yang salah bertentangan dengan Firman Tuhan, bahkan ada yang menjadi medium/ dukun, masuk dalam segala macam ikatan-ikatan kuasa gelap!.
Jangan pakai cerita-cerita occultisme, pakailah cerita-cerita Alkitab, sekaligus langsung diajarkan bedanya dunia ilahi (dunia iman) dan dunia manusiawi, sambil membangun kreatifitas anak, sekaligus diajarkan tentang iman akan Firman Tuhan, yang bisa menghasilkan janji-janji Allah yang tidak terbatas, juga sekaligus menanamkan segala kebenaran Firman Tuhan lainnya.
8. Dan lain-lain.
9. Terus dimonitor. Pertumbuhan iman dan tabiat si anak perlu terus diikuti sehingga di dalam pertumbuhannya bisa dibetulkan dan ditambahi supaya rohaninya tumbuh. Ini lebih mudah pada anak-anak, sebab:
a). Biasanya anak-anak itu polos, sederhana, tidak pura-pura, tidak sembunyi atau berbelit-belit, sehingga kita bisa melihat isi hatinya lebih mudah.
Hal-hal yang baik dan jahat di dalam hati anak-anak itu tampak dengan jelas sekali, dan ini juga merupakan kesempatan yang baik untuk memperbaiki dan menanamkan kebenaran Firman Tu-han, dan terus mengarahkannya untuk melakukan yang benar, dicocokkan dengan Firman Tuhan.
b). Pada masa balita dan remaja (masa subur) semua yang diberikan orang tua kepada anak- anaknya diterima sebagai kebenaran tanpa bisa membantah.
c). Benih-benih Firman Tuhan yang ditanamkan sejak lahir, akan tertanam dan berbuah-buah sampai dewasa dan tua. Misalnya:
Waktu benci diarahkan untuk mengampuni Mat 6:14-15, Rom 12:19-21.
Waktu iri diajar atau untuk berpada 1Tim 4:8 dan berharap pada Tuhan.
Waktu marah diajar untuk sabar supaya tidak melakukan yang bodoh di hadapan Tuhan Yak 1:20.
Waktu mau berdusta diajar jujur Mat 5:37,
Waktu sombong diajar menyangkal diri untuk tetap rendah hati Mat 23:12, 1Pet 5:5.
–  dan seterusnya.
Tabur terus benih-benih Firman Tuhan supaya tumbuh sesuai dengan hati Tuhan, sambil dimonitor terus perkembangan batinnya. Tanamkan kebenaran Firman Tuhan dengan pertolongan Roh Kudus.
Dusta setan juga menjadi kebenaran bagi anak-anak, sebab itu jangan diberi makan dengan dusta-dusta setan (acara, tontonan-tontonan, buku, dan lain-lain). Kalau toh ada dusta dan tipu daya setan , semua itu harus dibersihkan (dinetraliser) yaitu dengan menjelaskannya dalam terang Firman Tuhan. Jangan ragu-ragu memakai ayat-ayat Firman Tuhan terus, supaya anak ini diajar berakar di dalam Firman Tuhan saja.
Doakan anak-anak ini bersama-sama, supaya Roh Kudus bisa meyakinkannya dan bekerja terus di dalamnya. Juga dalam doa pribadi, terus didoakan dalam Roh dan kebenaran.

10. Jangan lupa memberi contoh dari diri kita sendiri supaya anak-anak “ketularan ta-biat Kristus” dari hidup kita yang jujur, rendah hati, mau pikul salib, setia, cinta, taat dan seterusnya. Anak-anak biasanya selalu ketularan sifat dan tabiat orang tuanya, baik tabiat yang baik (rajin, jujur dll ciri-ciri hidup baru) juga tabiat-tabiat yang jelek (tabiat-lama yang masih dipakai orang tua!). Karena itu orang tua sendiri harus sungguh-sungguh bertobat dan terus diperbarui setiap kali ia sadar akan kekurangan-kekurangannya Tit 3:5 KJV.
Minta karunia-karunia Roh dan kuasa Allah serta bersandar terus pada Tuhan dalam mendidik anak, maka dengan kuasa dan karunia-karunia Roh Kudus kita bisa mengolahnya paling baik dan anak-anak yang manis dan lucu ini bisa menjadi seperti Habil, Daud, Daniel dst bukan seperti Kain, Atalia, Achab dsb, terus sampai di Surga kekal.

KESIMPULAN

Mencintai anak berlebih-lebih dalam dunia modern ini mudah sekali terjebak dalam memanjakan si anak, lebih-lebih kalau uangnya banyak. Jangan hanyut dalam kasih yang salah;
Semua boleh diminta.
Semua boleh dilakukan.
Tidak ada larangan.
(Sebaliknya ada juga orang tua yang aneh, ekstrim, sebagai buah dari hasil pendidikan masa kecil yang kacau dan jelek.
Semua dilarang,
semua tidak boleh,
dididik dengan hati pegel dan kacau, bahkan dengan benci seperti anak tiri.
Tentu hasilnya akan muncul orang yang penuh curiga, berontak, tidak bisa mempercayai orang lain dan juga sulit bergaul dengan baik).

Seharusnya:
diajar pikul salib sejak kecil.
diajar membedakan tangan kanan dan tangan kiri, ada larangan, ada yang boleh, ada yang tidak boleh.
diajar taat dan bersukacita dalam ketaatan dan pekerjaan Roh Kudus yang manis.
Kalau dimanja akibatnya timbul anak-anak yang semaunya sendiri (impulsive), tidak bisa diatur, tidak ada perhatian, mudah me-lawan dan berontak, baru puas kalau kehendak hatinya dicukupi. Juga ini menghasilkan orang dewasa yang kedagingan, tidak peduli Tuhan dan FirmanNya, menuruti hawa nafsunya tanpa batas.
Akhir zaman akan dipenuhi orang-orang seperti ini, seperti zaman Nuh, kecuali orang-orang percaya yang dipimpin Roh akan tumbuh dalam jalan salib menjadi seperti Kristus.
Orang tua yang percaya dan cinta Tuhan, akan bisa mengarahkan anaknya menjadi seperti dirinya lalu seperti Kristus, di tengah-tengah bangsa yang bengkok dan terbalik ini.

Nyanyian:
Bila Yesus dalam k’luarga (dalam bapak/ ibu)
K’luarga bahagia 3x []