Suami atau Isteri yang Kecewa

PENDAHULUAN

Inilah Firman Tuhan bagi suami yg kecewa akan isterinya dan atau isteri yang kecewa akan suaminya, sehingga hidup nikahnya berjalan tersendat- sendat bahkan mengalami banyak gangguan. Tetapi Firman Allah ini juga berfaedah bagi anak-anak yang kecewa akan orang tuanya, atau orangtua yang kecewa akan anak-anak, mertua- menantu yang kecewa satu pada yang lain, atau juga pemimpin kepada anak buahnya dan sebaliknya.
Kita akan belajar dari Firman Tuhan tentang kecewa ini supaya jangan sampai timbul kecewa atau jangan sampai kekecewaan ini merusakkan kehidupan orang-orang beriman istimewa hidup nikahnya. Kita akan mempelajari hal-hal apa yang menyebabkan timbulnya kekecewaan itu, dan sampai seberapa jauh tingkat-tingkat kekecewaan itu. Marilah kita memeriksa hidup nikah kita dalam terang Firman Tuhan ini, apakah ada kekecewaan di dalamnya. Jika ada, berdoalah kepada Tuhan, kalau ada dosa, mintalah ampun dan bereskanlah menurut terang Firman Tuhan, dan pasti  Rohkudus akan menolong, akan mencabut kekecewaan itu sampai ke akar-akarnya. Sementara mempelajari tulisan ini, mintalah supaya Rohkudus membukakan dan menjelaskan kebenaran- kebenaran Firman Tuhan ini sehingga Firman Tuhan dapat menolong kita terutama yang kecewa, supaya jangan sampai ditipu setan dengan adanya kekecewaan ini, supaya hidup ini jangan dirusakkkan oleh kecewa.

I. SEBAB-SEBAB KEKECEWAAN

1. TIDAK SESUAI DENGAN HARAPAN ATAU PERKIRAANNYA
Mungkin mula-mula dikira suami atau isterinya itu orang yang rohani, yang cinta Tuhan, orang yang ideal, tetapi ternyata munafik, jelek sekali tingkat rohaninya, pura-pura dan bodoh, sehingga kecewa; Lebih-lebih karena sudah terlanjur kawin, tidak boleh bercerai lagi! Kekecewaan ini dapat juga dalam hal-hal jasmani, misalnya dikira suaminya bakal sukses, bakal indah, ternyata tidak, lalu jadi kecewa. Ada orang menikah karena silau oleh gelarnya, dikira masa depannya baik, tetapi sesudah kawin ternyata melarat, lalu kecewa. Kecewa karena perkara-perkara jasmani atau karena perkara-perkara rohani.
2. KARENA TERPAKSA
Ada juga yang kecewa karena dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan seseorang atau terpaksa karena terjerat oleh sikon, mungkin karena sudah terlalu jauh berhubungan, sehingga tidak dapat mundur, terpaksa harus menikah lalu kemudian kecewa.
3. TERTIPU
Karena merasa tertipu dan terjebak seperti Yakub yang merindukan Rahel ternyata mendapat Lea sehingga ia kecewa. Tertipu oleh janji-janji yang besar, kata-kata yang manis, lebih-lebih dalam pernikahan kilat. Lebih baik pelan-pelan, kita harus mencari kehendak Tuhan, lebih-lebih dalam hal nikah.



4. BERUBAH
Sesudah menikah lewat beberapa waktu, kawan hidupnya ini berubah tidak setia, mulai mencintai yang lain, mulai menjadi kasar, memukul, menghina, mengata-ngatai dan sebagainya, sehingga ia dikecewakan.
5. BODOH.
Karena tidak mempunyai pengertian yang cukup, selalu mengangan-angankan yang sempurna, kenyataannya tidak demikian, baik kondisi jasmani atau rohani. Orang-orang ini gampang kecewa. Lebih-lebih kalau tidak mempunyai penger tian Firman Tuhan yang cukup tentang hidup nikah, orang ini mudah ikut-ikutan dalam falsafah dunia yang hina tentang pernikahan. Ini mudah membuat orang menjadi tidak setia dan kecewa.
6. DAN LAIN-LAIN
Suami/ isteri yang suka membanding-bandingkan dengan isteri/ suami orang lain, akan mudah kecewa. Puaslah dengan “tubuh”mu sendiri, jangan ingin milik orang lain, nanti kecewa dan ber- dosa! (Sebelum menikah boleh membanding-bandingkan, tetapi sesudah menikah jangan sekali-kali membanding-bandingkan! Itu memberi tempat bagi iblis dan segala rencana mautnya)
Apapun sebab kekecewaan itu, kita harus membuangnya dengan pertolongan Rohkudus dalam terang Firman Tuhan. Kalau tidak maka hidup nikah ini akan terganggu bahkan dapat rusak. “Ru- bah-rubah kecil” yang tidak terlalu berbahaya itu dapat merusakkan kebun anggur nikah kita, sehingga tiada anggur kesukaan lagi dan akhirnya hancur.
Kidung Agung 2:15. Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga.

II. ANTI KECEWA

Sebetulnya “orang-baru” itu anti kecewa sebab Tuhan kita itu amat baik, kasih dan maha kuasa. “Orang-baru” itu tidak dapat kecewa sebab hidup baru di dalam Kristus itu luar biasa, kuat, karena:
1. SEGALA SESUATU MENJADI KEBAIKAN BAGI ORANG-ORANG YANG CINTA ALLAH

Roma 8:28 Tetapi kita mengetahui, bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama mendatangkan kebajikan bagi orang yang mengasihi Allah, yaitu bagi orang yang dipanggil menurut kehendak Allah (TL).
Orang baru percaya bahwa semua yang terjadi itu bukan kebetulan, sekalipun oleh orang-orang dekat, dan semua akan menjadi kebaikannya, sebab itu mengapa kecewa? Dalam segala keadaan, termasuk keadaan yang tidak menyenangkan, itu juga akan berubah (dengan pengarahan dan kasih Allah) menjadi keuntungan bagi kita, orang-orang baru, yang cinta Tuhan. “Orang-baru” itu berjalan dengan iman (2Kor 5:7), percaya pada Tuhan yang maha kuasa, yang menguasai segala peristiwa dan semua manusia, sebab itu Allah yang baik itu pasti akan menggenapkan FirmanNya, yaitu membuat segala perkara menjadi kebaikan kita. Sebab itu tidak ada alasan untuk kecewa, sekalipun betul-betul ia dikecewakan!
2. ORANG-BARU ITU KUAT, SEBAB ITU TIDAK MUDAH KECEWA.
Pilipi 4:13 Segala sesuatu aku cakap menanggung di dalam Dia yang me-nguatkan aku.
Orang baru itu tahan menderita sekalipun tidak salah (1Pet 2:19). Lebih-lebih kalau ia mau membagi-bagikan kasih Kristus yang diisikan Roh Kudus ke dalam hatinya. Kasih itu tahan menderita (1Kor 13:4-7). Ada seorang suami yang cinta Tuhan. Isterinya jahat dan banyak kekurangannya. Hampir semua orang tidak suka kepadanya, tetapi suaminya tetap mencintainya. Akhirnya si isteri ini juga berubah dan mengasihinya.
Makin tumbuh, orang-orang baru itu makin menyerupai Kristus, yaitu orang yang biasa di dalam sengsara (Yes 53:3).
3. MENGERTI FIRMAN TUHAN.
Orang-orang beriman yang tumbuh itu mempunyai pengertian-pengertian Firman Tuhan yang indah-indah. Mereka mengerti bahwa suami-isteri itu satu bukan lagi dua orang (Mat 19:6), sebab itu tidak mau dipecah oleh kecewa atau apapun jua, tetapi makin saling mengasihi dalam kesucian dan kasih Kristus (mungkin dapat kecewa sebelum menikah sehingga batal, tetapi sesudah yakin dan masuk dalam pernikahan, tidak lagi boleh ada tempat untuk kecewa, sebab dialah kekasihnya atau tubuhnya sendiri untuk seumur hidupnya. Mungkin hidung kita kurang indah tetapi kita tidak kecewa sebab inilah tubuh kita sendiri, begitu suami isteri).
Di dunia memang banyak falsafah-falsafah yang jelek tentang nikah, misalnya menikah supaya hidupnya disenangkan, sebab itu mencari yang berkedudukan, kaya dan lain-lain. Ada lagi yang menikah dengan prinsip persundalan, menjual diri semahal mungkin. Kalau jelek, ya sudah asal laku. Tetapi kalau lain kali ada “penawaran” yang “lebih mahal”, mereka akan kecewa, mengapa dahulu tidak menemukan pelanggan yang lebih mampu. Dengan macam-macam falsafah yang salah semacam ini, mudah sekali menjadi kecewa dalam hidup nikah lebih-lebih kalau suka membanding-bandingkan! Tetapi orang-orang beriman mempunyai kebenaran yang betul tentang hidup nikah, yaitu Firman Tuhan, dan ini membuat hidup nikahnya makin manis dan anti kecewa! Orang- orang beriman menikah bukan untuk mencari senang, bukan karena prinsip-prinsip duniawi yang hina lainnya, tetapi karena kasih. Kalau tidak ada cinta, jangan kawin.
Jodoh dari Tuhan itu untuk saling mengasihi, baik waktu senang atau waktu susah dan terus tinggal di dalam Kristus. Hidup menurut Firman Tuhan itu membuat nikah menjadi kuat dan indah dan tidak ada tempat untuk kecewa. Selain itu dalam hidup nikah orang-orang beriman, Roh Kudus bekerja dalam kedua belah pihak. Roh Kudus juga bekerja pada pihak yang suka menyakiti hati atau mengecewakan. Dengan doa syafaat yang penuh dengan kasih dari suami/ isetrinya, itu dapat menjamah hati si isteri/ suaminya itu dengan kuasa Allah sampai bertobat. Kalau ia sudah sadar/ bertobat, maka “duri-duri” yang mengecewakan itu akan makin berkurang sampai hilang. Dengan bertobat mungkin ia mulai hidup berpada, sehingga tidak mata duitan dan tidak lagi mengeluarkan kata-kata yang jahat karena uang dan tidak lagi boros menghabiskan uang. Lebih-lebih kalau ia mau menyangkal diri dan bertindak dengan iman hidup dalam kesucian sehingga cintanya tumbuh dan mulai menjadi setia, ia tidak lagi mau membuat suaminya menjadi kecewa. Kalau itu terjadi maka sumber-sumber kekecewaan itu akan makin berkurang dan hidup nikah itu makin indah.
Tetapi keadaan “orang-baru” itu dapat juga naik turun, lebih-lebih kalau kurang memperhatikan Kisah Rasul 2:42 yaitu ibadat dan pelayanannya. Kalau keadaannya kuat, penuh iman, penuh sukacita, maka sekalipun disakiti atau dirugikan, itu tidak terlalu berat, tetap tahan sehingga tidak menjadi kecewa.

Paulus karena taat akan Firman Tuhan, ia pergi ke Makedonia, tetapi justru di sini ia dianiaya dan dipenjarakan. Tetapi Paulus yang kuat rohaninya tidak kecewa!
Sarah bertindak kurang adil dan kurang kasih terhadap Hagar dalam pemandangan Ibrahim, tetapi Firman Tuhan datang kepada Ibrahim sehingga Ibrahim tidak kecewa pada Sarah.
Namun kalau keadaan orang itu lemah, lebih-lebih lagi kalau tertipu oleh setan, masih mungkin menjadi kecewa. Sebab itu orang-orang beriman harus selalu memelihara perhubungan yang baik dengan Tuhan terus menerus, dengan hidup dalam kesucian, banyak bertekun dalam doa, tinggal di dalam pengurapan Roh Kudus (Pengkhot 9:8), maka kita akan tetap kuat dan tidak akan menjadi kecewa.
Jadi hidup di dalam Kristus itu indah, anti kecewa dan terjamin di dalam Tuhan.

III.TINGKATAN-TINGKATAN KECEWA

Si A kecewa, si B juga kecewa tetapi belum tentu sama tingkatnya.
Sampai dimana seseorang kecewa?
Selalu dalam kekecewaan ini ada dua pihak yaitu yang dikecewakan dan yang lain yang mengecewakan; yang kita ukur adalah inter aksi/ hubungan dari kedua pihak ini.
Ukuran ini tergantung dari dua pihak, lagi pula baik suami/ isteri itu manusia yang mudah berubah-ubah, sebab itu ukuran ini juga dapat berubah-ubah setiap waktu. Kadang-kadang dahulu tidak terlalu mengecewakan,  sekarang sangat mengecewakan, sehingga tingkat kekecewaan itu meningkat, atau sebaliknya. Meskipun ukuran tingkat kekecewaan ini dapat berubah-ubah tetapi ada baiknya kita tahu atau mengerti ukuran-ukuran kekecewaan ini untuk diri kita sendiri (untuk memelihara hidup nikah kita sendiri) dan untuk melayani orang lain yang kecewa. Harus diusahakan supaya selalu negatip dan jangan sampai positip kecewa, apalagi naik sampai tingkat-tingkat yang berat. Jadi baik untuk pemeliharaan sendiri, atau untuk pelayanan, kita perlu mengerti sampai berapa jauhnya ia kecewa.
Tingkat-tingkat kekecewaan yang tidak sama, biasanya juga memerlukan pertolongan-pertolongan yang berbeda.
Sebab itu sangat berfaedah kalau kita mempunyai ukuran tertentu untuk tingkatan-tingkatan ini, yaitu:

TINGKAT  — I. TIDAK TERASA

TINGKAT  — II. SUDAH BIASA

TINGKAT — III. MENDERITA, TETAPI TAHAN

TINGKAT  — IV. MENDERITA,  TIDAK TAHAN

TINGKAT  — V. MELEDAK.

TINGKAT  –I   TIDAK TERASA

Ini orang yang sedikit kecewa (mulai kecewa) tetapi sebab sudah terlanjur cinta, jadi tidak terasa. Kasih itu menutup semua salah (1Pet 4:8), sehingga ia tidak merasa kecewa. Sebetulnya ada kata- kata, sikap dan perbuatan yang mengecewakan tetapi ia dapat menahannya sebab cinta. Kadang-kadang kata-katanya pedas mengecewakan, tetapi ia tahan, sebab cinta. Sekali-kali mungkin dalam kelemahan ia mengeluh “aduh, mengapa begini!”, tetapi sebab sudah terlanjur cinta, ia dapat segera melupakannya. Dari luar tidak nampak bahwa ia kecewa. Orang ini masih dapat puas dan cukup senang. Ada kekecewaan tetapi itu tidak terasa sebab sudah terlanjur cinta.

TINGKAT  –II  SUDAH BIASA

Ada banyak hal yang membuat dia menjadi kecewa, tetapi ia dapat menyesuaikan diri, dapat mengimbanginya, akhirnya menjadi biasa dan dapat tahan. Ia tidak lagi merasa menderita, masih dapat bersukacita, sebab sudah biasa.
Ada suami/ istri yang terlalu jahat, tetapi sang istri/ suaminya dapat menyesuaikan diri, sehingga hidup nikahnya masih berjalan baik. Itu seperti mobil yang salah satu bagiannya rusak, tetapi tetap berjalan biasa. Namun kalau orang lain yang menjalankannya, wah, mogok setengah mati; harus tahu cara-cara dan kelemahan-kelemahannya, baru dapat menjalankannya! Begitu dengan tingkat -II ini. Kalau sang istri ngamuk, suaminya harus begini, kalau isterinya susah, suaminya harus begini dan begitu, dan seterusnya. Begitu setiap kali, sehingga akhirnya menjadi paham dan menjadi biasa. Tetapi sebetulnya ada banyak perkara yang mengecewakan, namun karena mau bertahan dan sudah biasa, semua berjalan lancar. Kasihnya  kurang tetapi sudah dapat menyesuaikan diri.

TINGKAT  –III   MENDERITA, TETAPI TAHAN

Kecewa tetapi masih dapat bertahan. Orang ini merasa sakit, menderita dan sedih karena  kecewa, tetapi ia masih dapat bertahan. Kalau dibuka hatinya, baru kelihatan. Kadang-kadang banyak air mata. Dari luar tidak seberapa terlihat. Ini orang yang kecewa tetapi masih dapat bertahan. Mungkin ia berpikir demi anak, tetapi sebetulnya ia sudah kecewa. Ini berbahaya, sebab kalau anaknya sudah kawin kekecewaannya dapat memuncak ke tingkat -IV dan -V. Ada macam-macam alasan atau sebab, yang membuatnya terus bertahan sehingga tidak nampak kecewa dari luar. Tentu yang terbaik kalau ia dapat bertahan karena Kristus, dengan kuasa Roh Kudus, sehingga ia mengalami kemenangan dan kekecewaannya dapat turun sampai tingkat 0, bahkan lebih baik lagi.

TINGKAT  –IV  MENDERITA, TIDAK TAHAN

Orang ini betul-betul menderita karena dikecewakan dan ia tidak tahan, sebab itu ia merasa sangat berat. Itu kelihatan dari wajahnya, kelihatan dalam percakapannya, kelihatan dalam segala segi hidupnya. Orang ini betul-betul menderita, ia kecewa, lebih-lebih jika tidak rohani. Dalam kesempatan yang baik ini setan memanahkan panah berapinya yaitu pikiran-pikiran jelek, macam-macam rencana dosa dan itu akan tumbuh dengan subur di antara suami-istri yang kecewa. Suami-istri yang kecewa dan membiarkan kekecewaan itu terus berakar dalam hidupnya, itu membuat segala macam dosa tumbuh dengan subur dalam hati dan hidpnya. Misalnya bersungut-sungut, mengomel, marah. Kalau mengomel tentang suami/ istri kepada Gembala Sidangnya, mungkin hal ini masih dapat mendatangkan faedah, karena nasehat-nasehat Firman Tuhan dan doa-doanya. Tetapi orang seperti ini biasanya mengomel di mana-mana. Kelihatan sekali bahwa ia men- derita karena kecewa,, ia marah, benci, tidak senang hati, murung rupanya, dan sebagainya. Semua ini nyata benar, baik dalam sikap dan kata-katanya, betul- betul kecewa dan terus menjelek-jelekkan suami/ isterinya. Ini tingkat -IV, menderita karena kecewa dan nampak jelas oleh semua orang. Kalau sudah tingkat -IV, pasti kelihatan, mulutnya pasti bicara. Sikapnya pasti terlihat. Kece wa adalah perbenihan yang subur untuk macam-macam dosa. Kita harus mengenal siasat setan (2Kor 2:11; 2Tim 2:26), jangan sampai jatuh dalam kekecewaan, apalagi  sampai tingkat ini, itu berarti masuk jerat setan! Nanti kita akan belajar bagaimana seharusnya orang- orang beriman bereaksi, jangan menuruti kekecewaan ini.

TINGKAT   –V  MELEDAK

Karena sudah tidak tahan, maka sepanjang hari, setiap hari ia penuh dengan rasa kecewa dan linangan air mata dan dengan segala akibat-akibatnya. Ingat, kekecewaan merupakan tanah yang su- bur untuk segala benih-benih dosa dari setan. Seperti benci, marah, berkelahi, tidak enak hati, fitnah dan kata-kata jahat, murung, susah, bersungut-sungut dan sebagainya, lebih-lebih kalau sudah tidak tahan! Sebab itu ia lalu mencari jalan keluar.
Orang duniawi atau orang Kristen yang bodoh akan mulai berpikir bagaimana ia dapat berpisah dengan suami atau isterinya, sebab sudah tidak tahan, kecewa. Ini dosa. Apalagi pikiran mau bercerai. Ini melawan Firman Tuhan! Kalau sebelum kawin kecewa, masih boleh, tetapi jangan di dalam pernikahan. Kalau dalam pekerjaan majikannya mengecewakan, ia boleh mencari pandangan pekerjaan yang lain, tetapi di dalam hidup nikah tidak boleh mencari “pandangan” lainnya, tidak boleh ada perceraian dengan alasan apapun! Orang yang kecewa itu akan mudah kena macam-macam tipu daya setan, hati-hati! Jangan jatuh dalam jerat setan, jerat kekecewaan!.
Sebaliknya orang yang takut akan Allah, yang mengerti Firman Tuhan, tidak berani dan tidak boleh minta cerai, tetapi seringkali:
a. dengan tidak sadar masuk dalam jerat setan yang lain yaitu mulai mengasihani diri sendiri, ini menjadi dosa sebab tidak percaya pada Tuhan (Roma 14:23).
b. atau ia ingin lepas atau menjauh dari istri/ suaminya. Ini juga melawan Firman Tuhan yaitu:
1Korintus 7:27. Jikalau engkau terikat pada isteri, janganlah menuntut kele-pasan. Jikalau engkau terlepas dari isteri, janganlah mencari isteri (TL).
Jadi kalau sudah terikat kepada suami/ isteri, jangan minta atau mencari jalan untuk lepas, itu melawan Firman Tuhan, sebab suami- istri itu satu tubuh, suami kepala dan isteri itu tubuh! Kalau mau dilepas, itu berarti kepala dipenggal dari tubuh, itu berarti mati di hadapan Tuhan.
c. minta mati sebab tidak tahan, kecewa, itu juga salah, sebab:
c1. Minta lepas sendiri dari isteri/ suami itu melawan 1Kor 7:27.
c2. Minta mati itu melawan rencana dan waktu dari Allah. Memaksa minta     mati kalau kita masih hidup itu salah. Allah mempunyai rencana yang baik bagi setiap anak-anakNya. Kalau tidak ada rencana yang baik, tentu lebih baik disuruh pulang saja, biarpun masih muda. Tetapi Allah mempunyai rencana yang indah bagi setiap kita. Jangan mendahului waktu Allah. Meskipun rasanya sudah tidak tahan hidup, rasa-rasanya lebih baik mati, jangan dituruti, itu salah. Allah masih mempunyai rencana yang baik untuk anak-anakNya yang masih hidup. Jangan minta mati sebelum waktunya (Bacalah tentang bunuh diri dalam TE 8!).
Andaikata Elia berontak melawan Tuhan, lalu bunuh diri, ia akan langsung masuk Neraka, dan ia tidak akan mengalami rencana Allah yang amat mulia itu, dan tidak akan naik kereta api yang heran itu, dan kerugian yang paling besar dan kekal (kalau ia bunuh diri/ memaksa minta mati) ia tidak mengalami kesempurnaan. Tuhan berkata: tahanlah! dan Tuhan memberi makanan dan minuman yang menguatkan rohaninya. Jangan minta mati, percayalah akan Allah, bersyukur dan bersukacitalah dengan iman, dan kenyangkanlah, puaskanlah hati jiwa kita dengan Firman Tuhan dan Rohkudus, itu akan menguatkan.
Tuhan pasti masih mempunyai rencana yang baik bagi kita. Bukan kebetulan seorang anak Allah menderita. Meskipun seorang anak Allah kecewa sampai tingkat ini (karena kebodohannya atau karena tiada iman), minta matipun salah.
d. macam-macam jalan keluar lainnya yang dipikirkan dan dibuat oleh orang-orang yang kecewa ini.
Tingkat -V ini adalah tingkat yang tertinggi dari kekecewaan. Biasanya orang-orang yang rohani tidak akan sampai dalam tingkatan-tingkatan ini.
IV. TINGKAT- TINGKAT SEBALIKNYA
0. Tidak kecewa
I.  Untung
II. Sangat untung
III. Paling untung

TINGKAT 0. == TIDAK KECEWA

Ia tidak dikecewakan dan tidak merasa kecewa, tetapi juga tidak merasa untung. Tidak untung, tidak rugi, tidak plus (+), tidak min (-), nol!

TINGKAT + I  == UNTUNG

Ia merasa beruntung mendapat jodoh- nya ini dari Tuhan. Dalam hatinya ia sering berkata kepada Tuhan: “Terima kasih Tuhan, sebab Tuhan sudah memberi saya suami/ isteri ini!” Orang yang dengan spontan bersyukur kepada Tuhan untuk isteri/ suaminya, pada saat itu ia pasti tidak kecewa. Kalau ia sering bersyukur seperti ini, mungkin ia berada di tingkat +I, +II atau +III.

Amsal 18:22 Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik dan ia dikenan Tuhan.
Orang yang dapat bersyukur karena mendapat isteri/ suaminya (tidak tergantung dari segala sikonnya), orang itu adalah seorang yang diperkenan oleh Allah, sebab:
a. ia menunggu dan mendapat jodohnya dari Tuhan
b. ia hidup sebagai suami/ isteri yang sesuai dengan Firman Tuhan
c. ia hidup sebagai “orang-baru” yang percaya akan Allah, yang jalan dengan iman, sebab itu kuat dan selalu bersukacita dan diberkati Tuhan.
Kalau toh ada kekurangan dalam hidup sepasang suami-isteri, misalnya tidak ada a) atau b) atau c) atau semuanya, kalau sekarang ia mau disucikan dan berjalan dengan iman, taat akan Firman Tuhan, Tuhan dapat mengubah kehidupannya menjadi “UNTUNG”.
Orang yang tidak pernah dengan spontan berterima kasih kepada Tuhan karena mendapat suami/ isterinya, ada kemungkinan bahwa ia kecewa, mungkin tingkat -I dan -II yang tidak nampak dari luar, tetapi sudah kecewa, atau mungkin juga tingkat-tingkat yang lebih parah.
Kita harus memeriksa dan mengenali keadaan kita yang sebenarnya dalam terang Firman Tuhan sambil
berdoa kepada Tuhan. Mintalah Roh Kudus membukakan mata hati kita untuk dapat mengenali keadaan yang sesungguhnya. Dan kalau ada yang jelek, Roh Kudus pasti mau menolong kita memperbaikinya bahkan membuat hidup nikah kita menjadi untung bahkan paling untung, asalkan kita mau taat pada suara Roh Kudus.

TINGKAT +II  SANGAT UNTUNG

Sungguh-sungguh ia merasa sangat untung beroleh isteri/ suami ini. Hal ini bukan saja pada permulaan pernikahan, tetapi sampai puluhan tahun berikutnya dan bahkan sampai hari-hari yang terakhir. Beberapa orang bahkan mengucapkan syukur kepada Tuhan dengan air mata berlinang-linang sebab hatinya begitu terharu, penuh syukur kepada Tuhan dan puas. Seharusnya hidup nikah orang-orang beriman seperti ini, berada dalam tingkat-tingkatan yang positip (+) ini. Bukan dalam tingkat-tingkatan yang negatip (-) yaitu yang kecewa. Kalau toh ada yang masih negatip (-) kalau ia percaya akan Tuhan dan mau diolah, Tuhan akan sanggup membuatnya menjadi hidup nikah yang beruntung! Buka lah hati kepada Tuhan, tunjukan keadaan yang sebenarnya kepada Tuhan, seperti mesin yang mogok atau macet-macetan dibuka oleh montir lalu diperbaiki, begitu Tuhan sangat merindukan untuk mem perbaiki hidup nikah yang masih mengandung kecewa, supaya sembuh dan berjalan dengan lancar penuh syukur, kesukaan dan kepuasan di dalam Dia.

TINGKAT+III   PALING UNTUNG

Mereka merasa (bahwa seolah-olah merekalah orang yang) paling untung dari semua orang yang ada di muka bumi. Sungguh ini yang dikehendaki Tuhan di dalam rencanaNya bagi kita, sehingga suami atau isteri dapat bersyukur terus karena isteri atau suaminya. Ini bukan karena hal-hal jasmani, bukan pada saat-saat permulaan yang masih serba baru dan segar, tetapi sebab mereka lekat dengan Tuhan. Sekalipun sudah tua, rambut putih dan keriput, tetapi ucapan syukur itu berulang-ulang naik dari rumah tangga mereka kepada Tuhan. Ini dapat dialami oleh semua orang beriman yang mau dipimpin Roh Kudus hidup menurut Firman Tuhan. Tuhan sanggup, bakan dari hidup nikah yang sebelumnya sudah rusak, asal mau bertobat dengan sungguh-sungguh, Tuhan masih dapt membuat yang indah-indah dan manis daripadanya.
Jangan hidup dalam kekecewaan, itu bukan kehendak Allah, sebab Allah ingin dan menolong kita untuk hidup bersukacita dan bahagia di dalam Dia, sekalipun sikon seolah-olah tidak memung kinkan. Bagi Allah tiada yang mustahil, percayalah!
Markus 9:23 Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
Pasti orang yang merasa beruntung, tidak mau kehilangan suami/ isterinya. Dan ini juga memudahkan suami-isteri ini untuk memelihara kesuciannya di dalam Firman Tuhan dan Roh Kudus.

V. AKIBAT KECEWA

Akibatnya cukup hebat, dapat mempengaruhi dan merusakkan segala segi hidup, baik jasmani dan rohani.

AKIBAT-AKIBAT JASMANI

1. TIDAK ADA GAIRAH HIDUP
Orang yang kecewa itu selalu sedih dan tidak ada gairah hidup,  seperti kembang yang layu. Semua berjalan hanya karena  peraturan dan kewajiban saja, tanpa gairah. Orang seperti ini  sekalipun diberi makan bergizi, diberi vitamin cukup, diberi  macam-macam obat, tetap layu. Wajahnya layu, semangatnya layu, semuanya layu. Hati yang gembira itu kosmetik yang paling ampuh (Ams 15:13); Kalau hati ini dipuaskan di dalam Tuhan maka setiap sel ini seolah-olah bercahaya, sebab semuanya bergairah untuk hidup di dalam Tuhan.
2. KEMAMPUAN YANG TURUN.
Karena tidak ada gairah maka kemampuannya turun, produktivitasnya dan hasilnya turun. Sebab tiada gairah, ia tidak berminat memakai seluruh kemam puan hidupnya. Orang yang bergairah itu dapat mengerahkan/ mendaya gunakan seluruh kemampuannya sehingga mencapai banyak kemajuan yang indah- indah. Tetapi kalau tiada gairah hidup, hasilnya sangat terbatas. Seolah-olah ia berkata: “Kalau gagal, ya sudah, tidak dapat maju, ya apa boleh buat”.
3. TUBUHNYA LEMAH.

Tubuh juga mudah lemah. Tidak segar, tiada sukacita, sehingga seringkali mudah sakit. Kadang-kadang mereka dapat mengalihkan kekecewaannya itu pada hal-hal lain seperti hoby, olah raga dan sebagainya. Misalnya suami yang kecewa lebih senang mancing atau menjaga ikan yang tidak mengecewakan, daripada di rumah (lebih-lebih pada hari libur) menjaga isteri yang selalu mengecewakan. Tetapi ini bukan jalan penyelesaian yang baik.

AKIBAT-AKIBAT ROHANI

Pertumbuhan rohaninya amat terganggu bahkan bantut. Mengapa? Sebab rasa kecewa kalau dibiarkan, apalagi kalau dituruti terus, itu dapat merusakkan rohani, yaitu:

1. MENGASIHANI DIRI SENDIRI.
Seolah-olah ia berkata pada dirinya sendiri: “Kasihan kamu,  nasibmu buruk. Tetapi ya sudah, kamu harus terima, kasihan!”  Mengasihani diri sendiri itu berbahaya. Sebab ini melawan salib.  Firman Allah berkata:

1Korintus 9:27 Melainkan aku menyiksa tubuhku, dan aku  memperhambakan dia, supaya jangan aku, yang sudah mengajar  orang lain itu, sendiri akan terbuang.(T.L.).
Kita harus belajar menyangkal diri, menyiksakan diri karena Tuhan, karena kebenaran. Orang yang mengasihani dirinya sendiri itu berarti tidak mau menyangkal diri, ini justru sebaliknya daripada memikul salib, yaitu menolak salib. Ini salah!
Mengasihani diri sendiri itu juga melazatkan sifat mementingkan diri sendiri, menguatkan daging, sehingga menjadi tidak puas dan berontak. Justru orang yang menolak salib, yang mengasihani diri sendiri itu menjadi lemah! Orang Kristen yang mau pikul salib itu menjadi kuat, sebab mau menderita dan Roh Penolong akan menguatkan dan menolong. Orang yang berani mati karena Tuhan itu akan hidup (Mat 10:39) dan berbuah-buah lebat (Yoh 12:24). Dalam sejarah Gereja kita mengenal darah martir menyuburkan Gereja. Mengapa? Sebab mereka berani mati demi Tuhan, dan justru kuasa Allah dapat bekerja dengan bebas dalam orang-orang seperti ini sehingga mereka berbuah-buah lebat dan Gereja malah semakin berkembang! Tuhan dapat memakai orang yang berani menderita dengan lebih bebas sehingga hasilnya lebih banyak dan lebih indah. Tetapi orang takut menderita, takut korban, takut miskin, takut diolok, takut dihina dan direndahkan, takut ini dan itu, Tuhan tidak dapat dapat bebas bekerja di dalam orang itu, terbatas oleh segala macam ketakutan akan menderita karena kebenaran. Jangan mengasihani diri sendiri, itu tipu daya setan untuk menjauhkan kita dari salib. Ingat Mat 16:22-23. Ini dari iblis! Jangan mendengar suara setan yang  berkata: “Oh kasihan kamu ini, kawin hanya sekali kok begini menderita. Tidak boleh cerai, apa boleh buat, nasib!” Begitu sebaliknya bagi suami-suami yang dikecewakan. Jangan tertipu oleh setan!
2. KECEWA ITU PINTU GERBANG UNTUK SEGALA MACAM DOSA.

Karena menuruti kecewa sehingga mengasihani diri sendiri, macam-macam pikiran jelek mulai bermunculan dalam pikirannya (sebagian muncul dari dirinya sendiri, sebagian karena panah berapi dari setan Ef 6:17, ia mengirim/ menaruh pikiran-pikiran jahat seperti yang dibuatnya ke dalam hati Yudas).
Yohanes 13:2 Dan makan malam selesailah, sekarang iblis menaruh kehendaknya di dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianatiNya (K.J.V.)Selain itu keadaan yang mengecewakan ini merupakan tanah perbenihan yang subur untuk segala macam jenis benih-benih dosa. Suami/ isteri yang tidak puas, mengasihani diri sendiri, akan mudah ditarik perhatiannya oleh bermacam-macam godaan dari luar, dan pikiran jahat ini akan tumbuh dengan subur dalam tanah perbenihan kecewa ini. Kalau setan  sudah mendapat tempat dalam pikiran manusia, berbahaya! Hawa memberi tempat pada setan dalam hatinya dan hancurlah rumah tangganya. Macam-macam pikiran jahat timbul dan tumbuh, macam-macam dosa bermunculan, sebab menuruti rasa kecewa dan mengasihani diri sendiri. Ia makin lemah dan makin rusak rohaninya. Jangan rasa kecewa itu dibiarkan saja. Memang ini nampaknya sebagai perkara yang jinak dan tidak berbahaya, tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Jangan menuruti mengasihani diri sendiri, itu jerat setan. Kalau dosa-dosa sudah mulai bermunculan dalam pikirannya, keadaan akan makin parah, lemah dan tidak lama ia akan jatuh dalam banyak perbuatan-perbuatan dosa sehingga akhirnya undur dari Tuhan. Semua ini dibuat dan didukung oleh setan. Setan akan berusaha untuk membuat suami dan isteri saling kecewa satu sama lain, supaya tidak puas satu sama lain. Kalau ini terjadi, apalagi kalau sampai tingkat -V, sekalipun hanya sebentar-sebentar, itulah kesempatan emas bagi setan yang terus ditunggu-tunggunya untuk mengerjakan kehancuran dalam rumah tangga itu. Kita harus mengerti tipu daya setan ini dalam terang Firman Tuhan (2Kor 2:11) bahwa kekecewaan itu pintu gerbang  dan perbenihan yang subur bagi setan dengan segala akibat-akibatnya yang mematikan. Lebih-lebih suami isteri hamba-hamba Tuhan di dalam pelayanan. Kalau timbul kecewa, gairahnya lenyap, pikiran-pikiran jahat timbul, pengurapannya hilang, pelayanannya tersendat-sendat dan bantut. Suami/ isteri yang kecewa masih dapat berhasil dalam dunia, tetapi di dalam ladang Tuhan tidak mungkin berbuah-buah. Beberapa banyak hamba Tuhan yang nampaknya dari luar tidak cacat, tetapi pelayanannya bantut, salah satu sebab karena kecewa! Akhirnya rumah tangganya hancur dan dengan sendirinya pelayanannya berakhir dan jiwanya binasa! Jangan membiarkan kecewa dalam hati, lebih-lebih rasa mengasihani diri sendiri. Jangan dituruti terus, nanti hidup menjadi rusak dan pahit, pelayanan hancur. Ini semua adalah jerat iblis.

VI. KELEPASAN DARI KECEWA

Begitu banyak orang-orang yang kecewa dalam pernikahannya dalam zaman ini sehingga angka perceraian meningkat luar biasa. Juga orang-orang kristen yang bodoh, yang tertipu oleh setan, diam- diam mereka juga kecewa dalam hidup nikahnya sampai tingkat II, III bahkan beberapa sampai tingkat  IV dan V. Kalau orang-orang ini mengerti Firman Tuhan dan mau percaya, pasti mereka akan mendapat kemenangan atas semua perkara yang dapat menimbulkan kekecewaan.

Orang yang beres hidupnya dihadapan Tuhan biasanya hidup nikahnya  beruntung  +I, +II, +III, sehingga Tuhan berulang-ulang mendengar  mereka bersyukur untuk anugerah Tuhan yang besar itu.
Sebab itu sebetulnya tidak sukar melepaskan orang dari kecewa lebih-  lebih pada orang yang rohani, tetapi bagi orang yang tidak mau taat  akan Firman Tuhan, itu memang tidak mudah. Orang duniawi dan  orang Kristen duniawi sering kali mencari jalan lepas menurut cara-  cara orang dunia yang lebih  mudah dan cocok bagi orang yang tidak percaya akan Firman Tuhan, tetapi jangan kita meniru ini.
1. JANGAN DIBIARKAN BERLARUT-LARUT
Ada orang yang kecewa puluhan tahun, ada yang sampai di bawa mati, itu sangat bodoh, sebab sebetulnya tidak perlu demikian. Keduanya ditipu setan. Yang satu menjadi jahat yang lain menjadi kecewa, tidak ada gairah hidup dan putus asa, tidak punya iman. Sayang sekali hidup nikahnya menjadi pahit padahal Tuhan mempunyai rencana yang indah-indah bagi mereka.
Seharusnya orang-orang Kristen yang normal, yang hidup dalam kesucian di hadapan Allah itu mengalami rencana-rencana Alla yang manis dan heran. Beberapa hari atau setiap beberapa ming gu bahkan ada yang setiap hari dengan terharu dan penuh syukur memuji-muji Tuhan dan berulang-ulang mencetuskan kata-kata syukur kepada Tuhan: “Luar biasa Tuhan kemurahanMu bagi saya, sangat indah rencanaMu bagi saya tak patut saya menerima semuanya ini, banyak terima kasih Tuhan!” Kalau ini tidak dialami, itulah kesalahan orang- orang beriman itu sendiri. Oleh sebab dosa dan kesalahannya maka rencana Allah jadi batal di dalamnya. Ini tidak wajar. Jadi orang Kristen yang dengar- dengaran pasti akan bolak-balik terharu penuh syukur dan berseru-seru memuji-muji kebaikan Tuhan!
Jangan mau ditipu setan. Tuhan dapat menyembuhkan “penyakit” kecewa ini. Orang-orang ini dapat kembali hidup dengan penuh gairah dan kesegaran  penuh pengurapan Roh Kudus dan berbuah-buah lebat bagi Allah sampai terakhir.
Jangan dibiarkan rasa kecewa ini. Ini adalah salah satu senjata setan untuk merusakkan keutuhan dan kebahagiaan suami-isteri dan anak-anak dari rumah tangga Kristen yang bahagia. Sebab itu kalau keadaan ini dibiarkan berlarut- larut, semua pihak akan rugi dan makin lama makin banyak kerusakannya. Juga rohani akan rusak dan hal-hal yang indah yang sudah disediakan Tuhan bagi mereka semua akan batal, tidak jadi di alami. Segera bertindak! lari ke Yesus!. Jangan dianggap ringan dan tidak berbahaya. Segera bertindak, hari ini juga dalam nama Tuhan Yesus, pasti bebas untuk selamanya! Jangan mau putus asa, jangan biarkan rasa kecewa ini, itu bodoh, itu masuk jerat setan dan rencana Allah yang indah-indah dapat batal karenanya. Hadapi segala perkara yang tidak menyenangkan dengan bersyukur pada Tuhan. Tuhan pasti memberi kita hal-hal yang terbaik.
Isteri Ibrahim tidak beranak. Dalam zaman perjanjian lama ini hal yang amat menyedihkan, dan suaminya dapat menjadi kecewa. Tetapi Ibrahim tidak mau kecewa pada Sarah. Sarah sendiri sudah putus asa dan memberi Hagar kepada Ibrahim. Tetapi rencana Allah bukan lewat Hagar, melainkan lewat Sarah. Ibrahim tidak mau memberi tempat bagi kekecewakan itu dan sungguh, lewat Sarah lah rencana Allah yng indah itu terjadi. Coba Ibrahim kecewa pada Sarah lalu kawin lagi atau meninggalkannya, maka ia tidak akan mengalami rencana Allah yang indah-indah.
2. CARILAH SEBAB-SEBABNYA
Berdoalah kepada Tuhan, Roh Kudus akan menolong kita melihat sebab- sebabnya. Biasanya tidak sukar melihat sebab-sebabnya.

Kesalahan Itu Ada Pada Kita Sendiri
Misalnya boros (suka menghabiskan uang), duniawi, sombong,  suka membanding-bandingkan dengan isteri orang lain (atau suami orang lain), itu dosa, dan lain-lain, sehingga menjadi kecewa. Ini salahnya sendiri. Segeralah minta ampun kepada Tuhan dan bertobat sungguh- sungguh sampai pikiran dan angan-anganpun disucikan.  Jangan lupa juga mengakui kesalahan itu pada suami/ isteri (Yakub 5:16).
Seringkali juga kecewa ini timbul sebab bosan lalu mulai membandingkan dengan isteri/ suami orang lain, sehingga cepat dan banyak timbul kekecewaan!
Mengapa menjadi bosan?  Sebab cinta nya habis . Kalau seorang penuh dengan cinta, tidak mungkin menjadi bosan! Mengapa cintanya habis? Tanpa cinta rumah tangga tidak dapat berjalan sebagaimana seharusnya. Rumah tangga atau pernikahan itu adalah  persekutuan cinta, bersekutu sebab cinta. Kalau tidak ada cinta itu keadaan yang berbahaya dan kritis! Rumah tangga dapat pecah dan hancur.
Mengapa cinta berkurang atau habis? Sebab terbesar biasanya adalah dosa zinah, baik dalam pikiran apalagi di dalam perbuatan. Kalau sudah ada pikiran zinah pada orang ke 3, maka kasih itu akan cepat bocor sampai habis. Kalau cinta sudah bocor apa lagi kalau sudah habis, maka sedikit kekurangan dari suami/ isterinya sudah menimbulkan kekecewaan yang sangat. Kalau ada cinta, cinta dapat menutup banyak kesalahan (1Pet 4:8). Memang suami-isteri itu belum sempurna, masih dapat berbuat salah. Sebab itu kalau tidak ada cinta maka kesalahan-kesalahan (yang biasanya ditutup cinta) sekarang menjadi sumber macam-macam perkelahian dan celaka dalam hidup nikah ini, antara lain mudah kecewa berat! Kalau seorang  suami/ isteri mudah kecewa pada isteri/ suaminya, coba periksa jangan-jangan ada dosa zinah dalam pikiran atau perbuatannya! Setiap dosa itu pos setan,  jangan sampai berdosa! Kalau memang ada dosa zinah ini, jangan berkeras hati langsung bertobat sekarang ini juga, supaya jangan lebih banyak  akibat-akibat yang dahsyat menyusul sebagai penuaian. Bertobatlah sungguh, bereskan sungguh-sungguh. Kalau sudah beres tandanya hubungan dengan Allah baik kembali dan cinta kepada isteri/ suaminya akan bersemi kembali. Ingat- lah baik-baik bahwa dosa zinah dapat membuat orang mudah kecewa! Jangan berzinah! (1Kor 6:18).
Kesalahan Itu Ada Pada “Pihak Yang Lain”.
Misalnya merasa tertipu atau terjebak, ampunilah sekalipun ia belum mau mengakui atau minta ampun.
Banyak orang terus menerus dicengkeram dan disiksa oleh kecewa karena TIDAK MAU MENGAMPUNI! Mereka mempunyai macam-macam alasan, antara lain karena isteri/ suaminya belum mau mengakui dan minta ampun.
Mengapa harus menunggu pihak yang lain datang mengakui kesalahannya, bertobat dan minta ampun, baru mau mengampuninya? Orang seperti ini dapat menunggu bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun. Ada beberapa orang yang tinggal dalam keadaan sedemikian terus-menerus; tidak marah, tidak dendam tetapi salahnya diingat-ingat terus, dicengkeram terus sampai puluhan tahun. Ia sendiri menjadi layu, lemah, kecewa bahkan hatinya menjadi pahit dan batinnya tersiksa, juga rohaninya rusak tidak dapat berbuah-buah dan perkara-perkara yang indah dari Allah, yang sudah disediakan baginya menjadi batal. Ini sikap yang salah. Lepaskan segala kesalahannya, bebaskan. Lebih baik langsung mengampuni (ini bahkan harus menurut Mat 6:14-15; Mark 11:25-26) maka ia akan langsung bebas dari kecewa sehingga dapat bergairah dan bersukacita kembali dan dapat mengalami kebahagiaan dan kemanisan dalam pernikahannya.

Ingat, setiap orang beriman harus, wajib, mengampuni orang yang bersalah kepadanya sekalipun orang itu belum bertobat atau belum mau datang minta ampun. Kita harus melepaskan orang yang bersalah itu dihadapan Tuhan.
Markus 11:25-26 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di Sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu
Kalau kita tidak mau mengampuni kesalahan saudara-saudara kita pada kita, maka salah kitapun kepada Tuhan tidak diampuni, bahkan kesalahan yang dahulu yang sudah diampuni, dibatalkan pengampunannya, sehingga dosa kita akan menjadi lengkap begitu banyak! (Mat 18:34- 35). Dan kalau dosa kita tidak diampuni, itu berarti pasti masuk neraka! Seorang hanya boleh masuk sorga kalau dosa-dosanya sudah diampuni semua sebab dosa tidak boleh masuk sorga (Wah 21:27). Ini perkara prinsip yang sangat penting. Sebab itu setiap orang beriman harus mengam- puni saudara-saudaranya yang bersalah sekalipun orang itu belum datang minta ampun.
Tetapi orang yang bersalah itu, kalau ia tetap berkeras hati dalam dosanya, maka adalah urusan Allah untuk menghukumnya dan memang Hakim yang adil itu pasti akan menjatuhkan hukuman Nya.
Ibrani 10:30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: “Pembalasan adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan.” Dan lagi: “Tuhan akan menghakimi umatNya.”
Orang yang sudah lahir baru, lebih-lebih kalau ia limpah dengan kasih Kristus akan juga limpah dengan peng ampunan. Dimana Roh Kudus bekerja, disitu ada pengampunan. Di mana setan bekerja, disitu tiada pengampuan bahkan ada kebencian dan balas dendam. Jangan beri tempat pada iblis. Suami/ isteri yang tidak mau mengampuni, lebih-lebih yang mau membalas dendam, roh setan yang bekerja di dalam dia, sebab itu tidak heran kalau ia dicengkram rasa kecewa, kepahitan dan kegelisahan, tiada damai sejahtera dari Tuhan, sekalipun ia seorang Kristen! Jangan tunggu pihak yang lain minta ampun, bebaskan, sekalipun ia tidak minta ampun, lepaskan dia, anggaplah seperti tidak ada apa-apa. Ampuni dengan segenap hati sampai tuntas, maka rasa kecewa itu akan lenyap dan orang itu akan “hidup” kembali. Kadang-kadang sesudah mengampuni, masih mengeluh: “Suaminya begini, begitu, tidak mau berubah, tidak punya perasaan, dan sebagainya.” Ini menunjukkan bahwa ia masih belum tuntas mengampuni suami/ isterinya. Ampuni sampai tuntas lalu lupakan semuanya, jangan mengingat-ingat kesalahan yang sudah diampuni (1Kor 13:5 – kecuali kalau ia hendak berbuat lagi, boleh diingatkan kesalahannya yang sama yang lalu supaya tidak jadi berdosa lagi). Biasanya kalau sudah mengampuni tuntas hati ini akan merasa bebas dan dapat bersukacita. Lalu sesudah itu mulailah belajar mencintai dengan kasih Kristus, maka hidup ini akan menjadi bergairah dan segar kembali, berbuah-buah dan bahagia di dalam Kristus.
Seringkali sesudah semua ini, baru suami/ isteri yang mengecewakan itu sadar dan minta ampun, karena Roh Kudus bekerja dalam hatinya. Sebab itu jangan beri tempat pada iblis dengan tidak mau memberi ampun. Jangan menunggu pihak lain sadar, jangan tunggu, ampunilah! Biarlah Roh Kudus bekerja dengan leluasa dalam hati orang- orang yang dikecewakan, (tandanya: ada pengampunan), maka Roh Kudus juga akan bekerja pada isteri/ suaminya sehingga ia bertobat dan berhenti daripada menimbulkan lagi duri-duri yang mengecewakan.
3. HIDUPLAH SEBAGAI ORANG BARU.
Orang yang lahir baru, menjadi orang baru di dalam Kristus (2Kor 5:17) itu KUAT oleh karena Kristus, selama ia tetap tinggal dalam Kristus. Orang baru di dalam Kristus itu kuat, tahan sengsara, tahan penderitaan-penderitaan yang tidak semena-mena (1Pet 2:19-22.) dan punya sifat-sifat baru terutama kasih Kristus, dapat mengasihi bahkan musuhpun juga.
Seringkali orang dunia berkata kalau  dicintai itu senang. Begitu pula banyak ahli-ahlinya yang mengatakan bahwa orang ini luka batin sebab kurang dicintai. Pada orang-orang beriman, orang-orang baru, lain! Meskipun orang-orang beriman tidak dicintai, dianak tirikan, mereka tidak akan luka batin, sebab mereka tahu Tuhan Yesus sangat mencintainya dan tidak akan berubah. Sebaliknya, justru kalau orang-orang beriman dapat mencintai, dan juga terhadap orang-orang yang tidak patut dicintai maka jiwanya akan berkembang dan hidupnya akan puas. Dapat mengasihi itu yang lebih senang. Lebih puas, lebih senang kalau kita dapat mengasihi orang lain daripada kasihi orang lain (1Kor 20:35). Cobalah! Kalau suami dapat mencintai isterinya lebih banyak lagi, maka ia akan lebih senang bersama-sama dengan isterinya, begitu sebaliknya. Belajarlah lebih hari lebih mencintai isteri/ suami sendiri.
Dalam generasi yang lalu banyak orang menikah dengan jodoh pilihan orang tuanya, baru kenal pada waktu mau menikah. Namun banyak mereka masih dapat mencintai satu sama lain, apalagi orang-orang beriman yang punya kasih Kristus, pasti dapat mencintainya.
Kalau sudah setuju untuk menikah, sekalipun itu jodoh paksaan dari orang tua atau sebab-sebab lainnya, jangan kecewa, kasihilah dengan kasih Kristus, pasti dapat, seperti Ishak mencintai gadis bawaan Eliezer, bukan pilihannya sendiri.  Ini untuk suami-isteri yang  sudah menikah dan kecewa. Tetapi sebaiknya dan seharusnya orang yang menikah itu karena sungguh-sungguh cinta! Jangan dipaksakan kalau tidak cinta, baik  jodohnya itu pilihan sendiri atau pilihan orang tua (sebab tidak dapat memilih sendiri). Kalau yakin itu dari Allah dan sungguh-sungguh cinta, baru nikah!, sebab pernikahan orang Kristen tidak boleh diceraikan dengan alasan apapun (lihatlah TE no 2-3 tentang perceraian!)
Jadi apapun  dan bagaimanapun keadaan si suami/ isteri, ideal atau berubah, “orang baru” dalam Kristus dapat tetap mengasihi. Orang-orang beriman dapat mencintai  musuhnya (Mat 5:44) apalagi mencintai isterinya sendiri (atau suaminya sendiri). Bahkan lebih jelek suami/ isterinya, lebih banyak ia diolah, dilatih dan dibentuk, dan kalau ia lulus (mau menerima, mau mencintai mes- kipun jahat,  bersukacita dan tidak bersungut-sungut) maka ia malahan menjadi semakin indah rohaninya dan mulia dihadapan Allah.
Tujuan hidup orang beriman adalah Kerajaan Sorga, dalam hidup disana bukan dalam hidup disini. Kadang- kadang ada suami/ isteri yang sungguh- sungguh cinta Tuhan (baru bertobat) tetapi isteri/ suaminya tidak bertobat dan jahat sekali, penuh dengan perzinahan, selalu berkelahi dan penuh kepahitan. Hidup nikahnya seolah-olah rusak dan gagal, tetapi ini bukan berarti bahwa hidupnya gagal, tidak! Nikah itu hanya sementara didunia  ini saja, jangan kecewa, justru kepahitan dari jodoh yang tidak bertobat itu dapat membantu mengolah hidupnya menjadi semakin mulia karena sengsara  yang limpah (Rom 8:17-18). Bahkan ia masih dapat sejahtera dan bersukacita dalam “penjara”  hidup nikah yang rusak ini (Kisah 16:25). Misalnya Abigail, ia tetap mengasihi Tuhan dan tetap rohani sekalipun suaminya Nabal sangat bebal.
Tetapi wai bagi jodohnya yang tidak mau bertobat sampai mati, ia akan dilemparkan ke dalam laut api untuk kekal.
(Ada juga orang-orang Kristen  yang karena alasan-alasan duniawi lalu menikah dengan orang dunia, dan kemudian menjadi kecewa.
Ini menjadi penuaian baginya, tetapi jangan lari, tetap bertahan di dalam Kristus, pada akhirnya penderitaannya itu akan menjadi indah kalau ia tetap mencintainya dengan kasih Kristus. Jangan orang-orang beriman menikah dengan orang dunia, itu bukan kehendak Tuhan 2Kor 6:14-15; 1Kor 7:39).
Orang beriman yang tetap hidup baru di dalam Kristus itu hampir-hampir tidak dapat dikecewakan, sebab Allah selalu besertanya dan mengubahkan segala perkara (yang jelekpun) menjadi kebajikan baginya (Rom 8:28). Suami isteri yang hidup dalam Kristus dan mengerti kebenaran Firman Tuhan ini, tidak akan menjadi kecewa, anti kecewa. Jangan mau ditipu setan sehingga menjadi kecewa lalu mengasihi diri sendiri, jangan begitu bodoh. Hadapi semua, juga perkara-perkara yang biasanya dapat membuat kekecewaan, ampuni, cintai “sang musuh” yang kekasih ini. Bersukacitalah, maka setan tidak mendapat tempat, rasa kecewa itu juga akan hilang, bahkan dapat bergembira, merasa untung, bahagia dan tumbuh makin rohani. Jangan membiarkan rasa kecewa yang sia-sia itu, “orang-orang baru” dapat membuangnya dengan segera dengan kuasa Allah.
Misalnya Ayub, adalah seorang dari Perjanjian Lama yang mempunyai hidup nikah yang ideal, sekalipun isterinya sangat mengecewakan tetapi Ayub tetap beristeri satu, juga sesudah lulus ujian, bahkan Ayub memelihara kesucian dalam tingkat-tingkat yang amat murni dan tinggi (Ayub 31:1). (Dalam Perjanjian Lama, orang-orang sudah biasa beristeri lebih dari satu dan itu “boleh”, mereka penuh dengan nafsu-nafsu percabulan).
Jangan mau dibinasakan dengan kekecewaan oleh iblis, buang, usir, lepaskan jauh-jauh semua rasa kecewa dan bersukacita di dalam anugerah dan kasih Tuhan Yesus Kristus yang luar biasa itu.
4. IBADAT YANG BETUL TIDAK AKAN KECEWA
Ibadat yang betul berarti tumbuh dalam kuasa Allah dan pengertian Firman Tuhan. (Ini sebaliknya dari Mark 12:24). Orang yang makin tumbuh dalam pengertian firman Tuhan akan makin jelas melihat rencana Allah yang mulia dalam hidupnya. orang seperti ini akan bersyukur untuk segala sengsara yang dideritanya bukan malah kecewa, tidak! Sebab segala sengsara dan derita yang kita alami itu bukan kebetulan, Allah tahu dan mengizinkannya dan itu akan menjadi kemuliaan yang indah (Rom 8:18, 2Kor 4:17).
Beribadat dengan betul itu berarti limpah berdoa sehingga selalu kuat dengan kuasa Allah. Sering kali  suami/ isteri yang kecewa itu kurang berdoa sehingga mudah tersinggung, mudah marah, mudah bersungut-sungut, mudah berkelahi dan sebagainya sebab kurang kuat, tidak dapat mengalahkan hawa nafsunya, sehingga mudah juga menjadi kecewa! Berdoalah, kalau perlu puasa, jangan menyerah pada keadaan lalu kecewa.
Amsal 21:19 Lebih baik tinggal di padang gurun daripada tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar (TL: bantahan)  dan pemarah.
Kalau isteri terus mengomel dan bantahan, itu seperti bocoran yang tidak sembuh-sembuh. Jangan putus-asa lalu kecewa, tetapi lebih baik duduk di padang. Untuk  apa? Untuk berdoa kepada Tuhan, kalau perlu puasa sehingga kuasa Allah limpah, kita boleh tetap kuat dan tinggal dalam kesucian, sehingga tidak menjadi kecewa. Suami-isteri perlu bertekun dalam doa setiap hari maka hidup nikah akan menjadi bahagia dan rohani akan tumbuh. Bahkan kalau perlu berdoa dan berpuasa, sehingga limpah dengan kuasa, kemenangan dan kesucian, maka kasih makin bertambah-tambah dan nikah yang semula dikotori sampai penuh dengan kekecewaan akan berubah menjadi bersih dan penuh dengan kepuasan yang indah.
Hasil pekerjaan Roh Kudus itu amat indah, juga suami atau isteri yang mengecewakan akan digarap oleh Roh Kudus dan banyak yang bertobat dan berubah menjadi manis. Tetapi sekali- pun  ini belum terjadi, orang-orang yang rohani masih dapat mengampuni dan berbahagia sekalipun harus hidup dengan orang-orang yang jahat ini seperti Ayub dengan isterinya, Abigail dengan suaminya. Orang rohani itu sukar dikecewakan, bahkan anti kecewa.

VII. KESIMPULAN:

Jadi orang-orang beriman yang kecewa terhadap suami atau isterinya itu sudah tertipu oleh setan sehingga kecewa.
1. Jangan dibiarkan berlarut-larut, ini siasat setan yang licin, melumpuhkan rohani, membenihkan macam-macam pikiran dan perbuatan jahat dan akhirnya membinaskan jiwanya.
2. Cari sebabnya, lalu bereskan segera. Jangan lupa mengampuni sekalipun pihak yang salah belum mau mengakuinya. Kalau toh tidak ditemukan sebabnya, kecewa tetap dapat dibuang. Pegang Roma 8:28, Ulangan 29:29.
3. Ingat, kita ini orang-orang baru yang kuat di dalam Kristus. Tuhan sudah memberikan kemenanganNya bagi kita. Terimalah dengan iman (1Yoh 5:4, Rom 1:17). Bangkit, berdiri dengan kuat dalam Kristus, lawan setan dan buang kekecewaan itu, sebab di dalam Kristus seharusnya kita selalu berbahagia!
Jangan lupa terus beribadat dengan betul, lekat selalu di dalam Kristus pokok anggur yang benar, maka pasti setan tidak mendapat tempat dan di dalam Kristus kita akan selalu bersukacita dan berkemenangan. Jangan menyerah, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus iblis pasti kalah, kecewa pasti lenyap.


Nyanyian:
Bila Yesus dalam k’luarga, k’luarga bahagia 3X
Bila Yesus dalam k’luarga
k’luarga bahagia
Sungguh Bahagia