Nafkah dan Keuangan

I. NAFKAH ORANG BERDOSA DAN ORANG TEBUSAN.

A. Nafkah dalam Eden.

Di dalam taman Eden (tidak ada dosa, mereka hidup di dalam      kesucian) tidak ada problem nafkah, tidak perlu mencari  nafkah, sebab semua sudah tersedia, manusia bisa makan  dengan bebas sepuas-puasnya dari semua buah-buah yang  ditumbuhkan oleh Tuhan, kecuali buah pohon pengetahuan  baik dan jahat. Oleh karena tidak ada dosa, tidak ada kebutuhan  mencari nafkah dan tidak ada problem lain. Semua sudah  tersedia, tetapi ini bukan berarti boleh bermalas-malasan,  sebab rencana Allah bukan hidup nganggur dan bermalas-  malasan. Manusia yang diberi limpah segala kebutuhannya, diberi tugas untuk memelihara dan memerintah bumi seluruhnya serta tentu juga beribadah dan menyembah Tuhan. Jadi di dalam taman Eden itu tidak  ada problem nafkah.

B. Sejak kejatuhan


Sejak manusia jatuh dalam dosa dan keluar dari  Eden, timbul problem nafkah.
Kej 3:19 Maka dengan berpeluh mukamu  engkau akan makan rezekimu sehingga  engkau kembali pula kepada tanah, karena dari  padanya engkau telah diambil; bahwa abulah  adamu, maka kepada abupun engkau akan  kembali juga. (TL)
Karena ada dosa, timbul segala macam problem  termasuk problem nafkah. Karena itu Adam  Hawa baru bisa mendapatkan nafkahnya  dengan keringatnya, dan inilah keadaan dunia  sampai sekarang.
Jadi di Eden dan di dunia keadaannya lain. Di Eden manusia tidak perlu nafkah.

C. Di Surga


Di Surga tidak ada dosa dan kita tidak memakai tubuh seperti ini lagi tetapi tubuh kemuliaan yang tidak bisa mati, tidak bisa sakit, bisa makan, tetapi tidak perlu makan, tidak makan tidak mati dst*). Di Surga nafkah tidak diperlukan lagi. Ini bukan bararti menganggur, sebab ada proyek-proyek Allah yang indah tanpa kegagalan, dimana kita makin kagum dan beribadah kepadaNya Wah 22:3.
Jadi nafkah adalah problem di dunia, bukan di Eden juga bukan di  Surga (di Neraka juga tidak ada problem nafkah, sebab disini manusia tidak lagi mati, tetapi dosa limpah bahkan sempurna, sehingga timbul bermacam-macam problem  yang tidak pernah habis, bahkan terus bertambah-tambah. Sebab itu timbul banyak penderitaan dan siksaan karena dosa yang begitu banyak).

D. Manusia yang ditebus.


Yang sudah ditebus adalah orang-dalam yaitu roh kita,  sehingga dengan demikian kita bisa hidup dengan Tuhan.  Tetapi tubuh kita yaitu orang-luar, belum ditebus *),  menunggu saat pengangkatan baru ditebus Rom 8:23, Luk  21:27 (KJ)
Pada waktu pengangkatan kita akan mengalami penebusan  tubuh dan tubuh kita akan berubah menjadi tubuh kebangkitan  atau tubuh kemuliaan seperti tubuh Kristus setelah  kebangkitan. Tubuh seperti ini tidak lagi memerlukan nafkah.
Sekarang, sesudah ditebus oleh darah Yesus, orang-dalam (the inner man) sudah ditebustetapi tubuh kita (orang-luar) belum ditebus dan masih mengalami akibat dosa, masih menua, masih bisa mati, sebab itu masih membutuhkan nafkah. Kalau orang-luar juga sudah ditebus, kita sudah memakai tubuh kemuliaan, maka kita tidak lagi membutuhkan nafkah.
Jadi orang dosa perlu nafkah, orang tebusan yang masih hidup di dunia juga masih memerlukan nafkah. Tetapi kalau tubuh sudah ditebus, sudah tidak bisa mati lagi, maka nafkah tidak diperlukan lagi, sebab tubuh yang sudah ditebus pindah ke Surga *). Kita perlu mengerti ini supaya kita tahu apakah nafkah itu. Nafkah itu problem di dunia, salah satu problem dosa.
Kita sudah ditebus, Tuhan beserta di dalam roh kita, tetapi kalau tubuh luar belum ditebus, tubuh ini masih bisa sakit, masih bisa mati, sebab itu masih butuh makan, masih butuh tidur, butuh sandang, pangan, papan, maka masih tetap perlu nafkah. Karena itu Tuhan berkata:

2Tes 3:10 Karena pada masa kami lagi beserta dengan kamu, berpesanlah kami kepadamu inilah: Jikalau barang seorang tiada mau bekerja, jangan ia makan. (TL)
Orang beriman masih harus mencari nafkah.
KESIMPULAN
Kalau ada kutuk dosa disitu nafkah menjadi problem. Dimana tidak ada kutuk dosa, nafkah tidak menjadi problem, Tuhan menyediakan dengan limpah. Ini dasar perbedaan nafkah orang berdosa dan orang benar.

II. NAFKAH DARI HASIL KERINGAT.

Hasil keringat itu biasanya sesuai dengan kemampuan orang itu, baik kemampuan fisik, kemampuan otak, pengalaman, kepintaran, modal, tabiat, kerajinan dll; semua ini menentukan nafkah dengan keringat. Misalnya seorang ahli bedah, sekali bekerja hanya satu jam sudah mendapat sepuluh juta. Ini pekerjaan tenaga ahli. Sopir becak berbeda penghasilannya dengan sopir truk apalagi dengan sopir pesawat terbang. Jadi kalau kita bekerja dengan keringat misalnya membersihkan mobil, dan kalau kita ingin mendapat nafkah dua kali ganda, maka kita harus membersihkan jumlah mobil dua kali lipat dan kita membutuhkan waktu dua kali lebih banyak, baru kita mendapat nafkah dua kali lipat.
Inilah nafkah dari keringat yang sesuai dengan kemampuannya.
Jadi hasil keringat itu sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik kemampuan fisik maupun kemampuan mental. Karena itu orang yang ingin mendapat nafkah lebih banyak harus lembur, bekerja lebih banyak, berkeringat lebih banyak. Keringat lebih sedikit dapatnya juga lebih sedikit.
Jadi orang yang mempunyai pengalaman banyak bisa mendapat nafkah lebih banyak. Montir yang sudah berpengalaman 30 thn dengan montir yang baru selesai kursus, penghasilananya pasti banyak bedanya. Kadang-kadang pekerjaan montir yang tidak berpengalaman selama berhari-hari, bisa diselesaikan montir yang berpengalaman dalam beberapa jam saja.
Kemampuan seorang lulusan SD dengan S1 itu pasti berbeda. Begitu juga tabiat. Orang yang tabiatnya tekun, rajin, bertanggung jawab itu pasti lebih banyak untungnya. (Sebab itu orang tua perlu mendidik anaknya untuk mengembangkan tabiat yang baik. Ada seorang berkata, daripada nganggur lebih baik menyapu sepuluh kali, meskipun sudah disapu; maksudnya supaya si anak rajin dan tekun, jangan malas.Demikianlah orang tua harus mendidik anak-anaknya). Ini semua tentang kemampuan.
Orang beriman juga harus mempunyai kemampuan yang cukup sebab kita juga harus memakai keringat. Sebab itu manusia berusaha mengembangkan kemampuannya dengan pendidikan, mencari pengalaman, ahli tekhnologi atau menambah modal, dsb, supaya nafkahnya lebih banyak. Ini nafkah dari hasil keringat.
Ada orang yang mencari jalan pendek untuk mendapat nafkah lebih banyak supaya bisa cepat menjadi kaya; ia tidak puas, ingin mendapat nafkah lebih banyak, lalu mulai menghalalkan segala cara, dengan menipu, dengan mencuri, dengan jalan kuasa gelap, dll. Ini orang-orang yang berjalan salah, menghalalkan segala jalan untuk mendapat lebih banyak nafkah dengan keringat yang sama. Tetapi ia akan masuk dalam jerat iblis dan diikat oleh iblis dengan dosa-dosanya dan satu kali dia harus menuai perbuatannya. Upah dosa itu maut. Kita harus hati-hati, jangan tertipu oleh keinginan yang salah.
Ada seorang perempuan di Bandung, setiap bulan bisa mendapat ribuan dollar dengan cara MLM dan cabangnya ada di seluruh dunia. Baru-baru ini cabang-cabangnya di Amerika ditutup, lalu menyusul semua cabangnya di seluruh dunia, akhirnya usaha MLM nya berhenti. Advertensinya menjanjikan bahwa hanya dalam berapa bulan saja bisa langsung kaya, langsung pensiun; satu dua tahun bekerja lalu uang terus mengalir masuk. Kalau ada advertensi/ penawaran pekerjaan yang menjanjikan bisa lekas menjadi kaya, jangan percaya. *)
Beberapa orang tertarik karena melihat promosinya, tidak melihat racunnya, jahatnya. Ini sudah berkali-kali makan korban. Tetapi mengapa orang tidak kapok? Karena mereka cinta uang, matanya kabur sehingga mudah masuk jerat mammon.
Pokoknya kalau kerja ringan tetapi mendapat uang amat banyak, lebih baik tinggalkan saja, kalau tidak mau masuk jerat mammon, penjara dan Neraka! Hasil  keringat yang jujur itu sesuai dengan kemampuan. Jangan tamak sebab orang tamak akan menjadi mangsa setan dan binasa. Orang yang tamak tidak bisa melihat kecurangan-kecurangan itu dengan jelas. Orang tamak tidak bisa melihat perbedaan halal dan haram, itu sangat kabur. Malah  ada orang yang hidupnya dari hasil perbuatan yang jelas-jelas dosa, seperti preman, penanam candu, mafia, dll, tetapi orang-orang yang tamak ini tidak merasa berdosa. Begitu juga perjudian, perzinaan, pembunuhan dll, mereka menganggap ini halal. Ini bukan hasil keringat tetapi hasil kejahatan.

III. NAFKAH ORANG BERIMAN.

Di bumi ada dua golongan manusia, yaitu yang belum ditebus dan yang sudah ditebus, tetapi yang ditebus ini baru rohnya, sebab itu kita tetap harus menanggung problem nafkah.
Jadi meskipun roh kita sudah ditebus, tetap ada persoalan nafkah tetapi karena Tuhan menyertai roh kita, maka selain kita mendapat nafkah dengan keringat, kita juga mendapat nafkah dari berkat Tuhan. Ini perbedaan yang besar dengan nafkah orang berdosa yang hanya dari keringat. Jadi nafkah orang tebusan bukan hanya dengan keringat tetapi juga dengan berkat Tuhan.

1. HASIL KERINGAT.


Nafkah dari keringat, kalau jujur, itu sesuai dengan kemampuan dan sesuai dengan waktu. Jadi kalau mau cepat, dalam tempo 9 bulan langsung bisa membeli mobil Jaguar, dalam waktu 2 tahun bisa menjadi kaya, nanti masuk jerat iblis; bisa-bisa masuk penjara dan kalau tidak bertobat akhirnya masuk Neraka. Tidak mungkin langsung kaya, sebab hasil keringat yang jujur itu sesuai dengan kemampuan dan waktu.
Nafkah orang:
Berdosa    =====> Hasil keringat.
Beriman   =====>   Hasil Keringat + Berkat Tuhan.

2. BERKAT TUHAN

Orang-orang beriman, rohnya sudah ditebus, sebba itu bisa berhubungan dengan Tuhan. Kalau ia hidup benar dan memperkenankan Tuhan, maka Tuhan akan menyertainya, sehingga nafkahnya itu didapat bukan hanya dari hasil keringat, tetapi Tuhan juga menambahinya dengan berkat-berkat-Nya. Jadi nafkah orang berdosa yang tidak ditebus itu berbeda dengan nafkah orang yang sudah ditebus. Kita harus menyadari hal ini dan memanfaatkan kelebihan ini. Kalau kita tidak mengerti akan hal ini, tidak timbul iman, maka kita juga tidak mendapat apa-apa dari Tuhan selain hasil keringat sendiri.
Kita bisa menerima berkat Tuhan itu dengan iman, sesuai dengan apa yang kita mengerti dan yang kita yakini dari janji Tuhan Mat 8:13.
Anak sulung itu hamper stress, hatinya tertekan sebab ia tidak mengerti bahwa sebetulnya ia bisa bersukacita menikmati berkat-berkat Tuhan yang limpah Luk 15:31.
Jadi ada beda nafkah orang beriman dengan orang dunia. Nafkah orang berdosa itu ada di bawah kutuk (terkutuklah seluruh bumi oleh sebab dosa Adam Kej 3:17) dan orang dosa hidup di bawah kutuk dosa. Tetapi setelah ditebus dosanya, menjadi turunan Adam terakhir yaitu Tuhan Yesus Kristus, maka berkat dijanjikan baginya (diterima dengan iman Mat 8:13).
Kita harus mengerti baik-baik bedanya nafkah orang dunia dan nafkah orang beriman. Ini dasar yang penting yang harus kita pegang. Orang yang tidak mengerti, orang bodoh, bisa rugi, celaka bahkan binasa dalam kebodohannya.
Ada cerita seorang ibu yang tinggal di desa, anaknya merantau ke luar negeri. Ibu ini sangat miskin dan melarat. Tetangganya menanyakan tentang anaknya. Ibu ini menjawab bahwa anaknya sudah menjadi kaya di luar negeri. Tetapi ketika tetangganya bertanya apakah anaknya mengiriminya uang, ibu ini menjawab tidak. Ibu ini sangat melarat sampai keadaannya sakit-sakitan tetapi tetap harus bekerja; akhirnya ia sakit dan tidak bisa bangun maka tetangganya datang untuk menolong. Tetangganya mengira anaknya itu begitu jahat sebab sesudah sukses, tidak ingat kepada ibunya, padahal anak ini dulunya sangat mencintai ibunya. Tetangganya harus gotong royong untuk membantu ibu ini, sebab untuk makan saja ia tidak beruang. Sampai satu ketika ada seorang tetangga datang lagi pada ibu ini dan bertanya apakah benar anaknya tidak mengirimi uang. Ibu ini menjawab tidak, tetapi dia mengirim surat. Tetangganya minta izin untuk melihat surat itu dan setelah melihat surat itu tetangganya itu terkejut luar biasa sebab ibu ini dikirimi cek untuk diuangkan di bank dan setelah dihitung ia mengatakan bahwa ibu  ini adalah orang yang paling kaya. Si ibu ini berpikir bahwa orang ini menyindir, sebab ia sudah tidak mempunyai apa-apa, rupa-rupanya mereka sudah bosan menolong dia. Si ibu ini cuma tinggal diam dan menangis.  Lalu tetangganya berusaha menjelaskan bahwa satu kertas yang dikirim anaknya itu bisa membeli 1 sepeda motor. Ibu ini bingung. Tetangganya menjelaskan bahwa ini cek dan kalau ditukarkan di bank bisa menjadi uang banyak, sebab anaknya sudah mengirim puluhan ribu dollar. Untung tetangganya itu jujur, mereka mengumpulkan dan  dihitung dan si ibu ini bisa membeli rumah yang besar, bisa pesta setiap hari. Setelah uang itu dicairkan ternyata ibu ini mempunyai uang lebih dari 1 milyard. Anaknya begitu cinta sehingga ia terus mengirim cek kepada ibunya selama bertahun-tahun, tetapi ibu yang melarat dan buta huruf ini tidak mengerti dan hampir mati kelaparan.

Orang Kristen yang tidak mengerti bedanya nafkah orang beriman dan orang dosa, tidak bisa mengerti bagaimana Allah memelihara kita dengan luar biasa, sampai orang tidak bisa percaya. Sebab itu kita harus mengerti baik-baik bedanya nafkah orang beriman dan nafkah orang dosa. Nafkah orang berdosa itu dibawah kutuk dosa. Tetapi kutuk itu sudah ditanggung oleh Kristus dan kita sekarang bebas dari kutuk dosa. Tetapi ini bukan berarti kita tidak perlu bekerja, kita tetap harus bekerja, tetapi dengan iman kita bisa menerima berkat Tuhan juga selain hasil keringat. Mencari nafkah ini juga menjadi pengolahan dan menjadi saluran berkat Tuhan bagi umatNya. Sebab kalau Tuhan tinggal di dalam kita selalu, maka selain makan hasil keringat juga ada berkat Tuhan. Kalau Tuhan beserta dengan kita, itu luar biasa. Kalau kita mengerti dan timbul iman lalu kita bertindak dengan iman, kita akan mendapatkannya. Jadi, setiap orang  Kristen bisa menikmati hak dan nafkah yang lebih besar.
Tetapi ini bukan untuk orang yang cinta uang. Ini bukan kabar baik untuk bisa lekas menjadi kaya bagi orang yang cinta uang tetapi ini kabar baik untuk orang yang bisa berpada, yang cinta Tuhan. Mengapa? Orang yang cinta uang itu penyembah mammon Kol 3:5. Tuhan memerintahkan kita untuk meninggalkan percintaan uang Ibr 13:5. Seorang yang menyembah berhala mammon adalah anak iblis  dan Tuhan tidak berkenan kepadanya. Ini bukan orang yang disertai Tuhan dan juga nafkahnya tidak seperti yang dijanjikan Tuhan. Jadi ini bukan kabar baik bagi orang yang cinta uang, tidak berlaku bagi mereka (kalau toh orang-orang yang cinta uang ini mendapat untung limpah, itu bukan dari Tuhan, tetapi sebab mereka memakai kekuatannya sendiri dan seringkali juga menghalalkan segala cara; kadang-kadang mereka juga berdoa, tetapi ini pasti bukan berkat Tuhan sebab orang yang cinta uang, makin kaya makin susah masuk Surga Mat 19:23-24. Tuhan tidak akan membuatnya makin susah masuk Surga.
Berkat Tuhan itu tidak terbatas dan tidak tergantung dari kemampuan kita. Itu tergantung dari berapa banyak kita bisa menerima berkat dari Tuhan.
Ini berbeda dengan “hasil keringat” yang sesuai dengan kemampuan jasmani masing-masing. Jika ada seorang anak yang malas, sekolahnya terus menerus tidak naik dan akhirnya tidak lulus (drop out), juga waktu bekerja, kerjanya awut-awutan, orang-orang akan berkata bahwa sampai tua pun anak ini akan di dalam kesukaran terus. Kalau tidak minta-minta sampai mengemis tidak akan bisa hidup. Sebaliknya seorang mahasiswa yang lulus cumlaude (ranking tertinggi), orang-orang berkata: “Wah anak ini masa depannya pasti bagus!”
Nafkah karena keringat itu dipatok sesuai dengan kemampuannya.
Tetapi berkat Tuhan itu tidak hanya tergantung dari kemampuan kita tetapi tergantung dari Tuhan dan iman kita. Kalau kita bisa menerima berkat Tuhan dengan betul, mampu menanggung beban (uang) dari Tuhan, maka pasti Tuhan akan memberikannya. Tuhan adil dan Dia tidak membedakan orang Rom 2:11
Buat setiap kita, istimewa sebagai putra-putra Allah, Tuhan ingin memberi yang terbaik bagi kita. Yang terbaik itu belum tentu jumlah yang besar. Tuhan memberi jumlah yang terbaik, itu berarti jumlah yang bisa menyebabkan orang itu bertumbuh dan berbuah maksimal. Kalau dengan berkat itu kita tumbuh  dan berbuah-buah dengan maksimal, pasti jumlah itu diberikan kepada kita. Jumlah yang terbaik itu belum tentu jumlah yang besar, buktinya Lazarus, Maria, Yusuf, orang-orang suci di Yerusalem mendapat hanya sedikit.
Ini contoh dari semua orang miskin. Mengapa Tuhan memberi demikian. Pasti ini ada perhitungannya, dan Tuhan tidak pernah salah, meskipun tidak semua alasannya disebutkan.

Jangan salah mengerti, pengertian ini harus  dicamkan baik-baik, sebab Tuhan itu cinta, adil  dan Ia selalu memberi yang terbaik, tetapi ini  belum tentu berarti jumlah yang besar.  Tergantung dari orangnya, dari kemampuannya.  Juga harus diingat bahwa ukuran jumlah  yang terbaik itu bisa berubah-ubah,  tergantung hubungannya dengan Tuhan.  Salomo mula-mula punya ukuran jumlah terbaik  yang tinggi, tetapi kemudian merosot tajam  sebab rohaninya rusak kena berhala dan perzinaan. Karena itu orang Kristen harus belajar meningkatkan kemampuannya menanggung “beban” uang (biasanya ini sejalan dengan pertumbuhan rohani, pengertian Firman Tuhan, ketaatan, pengurapan dan kuasa Roh Kudus yang ada padanya).
Banyak orang dunia sangat bergairah meningkatkan kemampuan jasmani dengan segala macam jalan. Sampai-sampai anaknya juga, kecil-kecil (umur 3 tahun) sudah disekolahkan supaya kemampuannya sudah meningkat sejak dini. Tetapi secara rohani tidak banyak orang beriman mau di-upgrade dan diarahkan. Padahal kalau kita mengerti Firman Tuhan dan rohani kita meningkat, biasanya itu juga mempengaruhi kemampuan menanggung beban uang. Berkat Tuhan itu bukan hanya untuk di Surga tetapi juga untuk di sini. Dan berkat Tuhan yang terbaik itu bukan jumlah yang besar tetapi jumlah yang membuat orang itu tumbuh dan berbuah-buah maksimal. Itu jumlah yang optimal, jumlah yang tepat *).
Adakalanya kalau orangnya “diberkati” lebih dari jumlah ini (biasanya karena mencari
tambahan sendiri) lalu orangnya menjadi duniawi. Dulu TV nya hitam putih kecil, sekarang uangnya banyak buat home theater dan bukan itu saja, ia terikat (sehari-harian di muka layar TV) sehingga masa teduhnya habis dirampok home theater. Begitu juga dengan tambahan-tambahan yang masuk dalam hidupnya, misalnya pesta, piknik dan bermacam-macam hal baru. Gara-gara makin kaya, rohaninya tidak tumbuh, tidak berbuah, bantut.
a). Kalau karena diberkati Tuhan lalu rohaninya tumbuh, ia tumbuh dan makin cinta Tuhan, makin lebih banyak waktu buat perkara yang kekal, Tuhan senang dan Tuhan sanggup menambahi lagi, bahkan tanpa batas. Ini berkat Tuhan. Tergantung kemampuannya menanggung beban uang, Tuhan bisa menambah jumlah berkatnya sampai seberapa banyak orang itu bisa menerima dengan baik.
*) Untuk keterangan tentang kemampuan menanggung beban lihat buku tentang hal ini oleh pengarang yang sama.
b). Tetapi kalau jumlahnya ditambah dan rohani tetap sama, ditambah lagi rohaninya tidak meningkat, itu berarti grafik rohaninya sudah sampai atau hampir sampai puncak-puncak kemampuannya.

Kalau ditambahi lagi, ia akan turun!
Kalau diberkati, rohani  dan buah-buah hidupnya meningkat, itu berarti masih bisa ditambahi lagi, seperti tingkat a dalam grafik di atas. Kalau diberi lebih banyak tetapi rohani tetap (seperti titik b), uang yang makin banyak itu bisa berubah menjadi racun dan jika rohaninya tidak meningkat, ia bisa keracunan! (seperti Salomo). Tuhan menunggu sampai kemampuannya naik, baru berkatnya ditambah lagi. Kalau kemampuan daya beban uang kita bisa terus menigkat, maka Tuhan bisa menambah-nambah terus sampai tanpa batas. Tuhan itu tidak terbatas.
Tetapi kalau ditambahi berkat, rohani tetap saja atau mulai dingin, penambahan itu besar resiko.
Seorang mungkin bertambah uangnya, tetapi bukan dari Tuhan, mungkin dari usahanya sendiri atau dengan cara-cara lain yang kadang-kadang tidak benar.

Punya uang sedikit atau banyak.

Orang-orang yang mempunyai uang satu juta atau satu milyar, sama-sama dalam keadaan tidak berdosa tetapi yang mempunyai uang satu milyar resikonya lebih besar. Kalau orang itu sampai kena tipu iblis dan ia mempunyai satu milyar, maka ia bisa dipakai setan lebih jahat daripada kalau hanya mempunyai satu juta. Tuhan mengerti baik-baik hal ini bahkan Ia tahu lebih dahulu. Seperti Saul, Solaiman, dll mula-mula tidak tertipu, tetapi kemudian ia tertipu. Kedudukan Saul lebih tinggi dan itu dipakainya untuk membunuh Daud. Kalau ia bukan raja, untuk membunuh Daud itu jauh lebih sulit. Pengemis yang marah beda dengan konglomerat yagn marah. Kalau pengemis marah ia tidak bisa apa-apa, tetapi konglomerat bisa berbuat macam-macam kejahatan dengan uangnya, apalagi kalau sudah mata gelap.
Sebab itu jika uangnya ditambah tetapi rohaninya tetap, maka Tuhan tidak bisa menambahi lagi sebab resikonya lebih besar. Ini ciri-ciri dari berkat Tuhan.
Ilustrasi:
Ada bayi berumur 2 tahun, pegang silet, pasti silet itu tidak diberikan orang tuanya, pasti! Tidak mungkin orang tua memberi silet pada bayi berumur 2 tahun, bayinya akan luka parah, bisa mati.
Kalau seorang kemampuannya masih bayi atau tidak meningkat, tidak mungkin Allah memberi berkat yang bisa mencelakakan dirinya sendiri. Seringkali silet itu diberi oleh orang yang jahat atau diambil sendiri. Begitu juga kalau Tuhan tidak menambahi lagi (tidak memberi “silet”), tetapi orang itu berusaha sendiri (biasanya dengan cara menghalalkan segala cara. Kalau dari Tuhan, Tuhan yang buka jalan) atau dari si musuh yang jahat yaitu iblis!
Tuhan akan memberi kalau kita bisa menghasilkan yang baik dari kelimpahan bukan menghasilkan kejahatan dan tidak mengakibatkan kerusakan rohaninya sendiri.

IV. NAFKAH DENGAN KERINGAT ADALAH JALAN UTAMA BERKAT TUHAN.

Cara ini adalah jalan yang utama yang dipakai Tuhan untuk memberi nafkah sehari-hari bagi umat Tuhan. Jalan utama untuk nafkah kita adalah bekerja (=keringat), kecuali cacat atau sakit.
2Tes 3:10-11 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya (TL: tidak senonoh) dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (TL: pengganggu orang, KJ: busy bodies) (TB)
Kadang-kadang beberapa orang berdoa minta nafkah dari Tuhan, tetapi tidak mau bekerja, melainkan berharap ada seorang memberi uang, misalnya seorang dermawan, atau seorang yang murah hati, yang penuh kasih Kristus. Ini bukan cara yang dikehendaki Tuhan. (Orang cacatpun banyak yang berusaha dengan salah satu cara untuk mencukupi kebutuhannya sendiri). Dengan tegas Tuhan berkata (memperingati), bahwa mereka yang tidak bekerja jangan makan.
Orang yang tidak bekerja jangan menjadi beban dari orang lain, jangan hidup berdasar kemurahan orang lain, dengan cara seperti ini orang itu menjadi pengganggu orang lain.
Ini cara hidup yang tidak betul, cara yang membuat keributan, apalagi kalau tabiatnya kasar, misalnya kalau tidak diberi, ia marah, sebab menuntut apa yang bukan haknya. Ini cara hidup yang penuh keributan, minta (bahkan menuntut di sini sana), kalau tidak diberi dianggap kikir, jahat atau menuduh tidak ada kasih, dsb, padahal dia sendiri yang membuat rebut sebab tidak hidup dengan senyap.
1Tes 4:11-12 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang (TL: hidup yang senyap), untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan (TL: dengan senonoh) di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka (TB).
Tuhan ingin kita bekerja sehingga dengan senyap bisa mendapatkan nafkahnya sendiri (atau keluarganya) tanpa bergantung pada orang lain. Tentu orang tua harus mendidik anak-anaknya dari kecil untuk tumbuh dalam kemampuan jasmani dan rohaninya, supaya sesudah dewasa bisa mencari nafkah sendiri dengan senyap sehingga hidupnya memuliakan Tuhan.
Jadi jalan utama pemeliharaan Tuhan bagi hidup kita adalah lewat bekerja, bukan dengan minta-minta, mengharap atau menuntut belas kasihan orang atau bergantung pada orang lain. Kalau kita mau bekerja dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan sanggup menolong kita, sesuai dengan kemampuan jasmani dan rohani kita, Dia bisa menambahi lagi dengan berkat-Nya bahkan bisa sampai limpah.

V. KOMPOSISI “HASIL KERINGAT” DAN “BERKAT TUHAN”.


Hasil keringat dan berkat Tuhan, masing-masing  menghasilkan berapa persen dari nafkah?
Perbandingan ini tidak sama untuk setiap orang beriman.
Orang dunia nafkahnya 100% dari hasil keringatnya.  Tetapi kita tergantung dari dari keduanya. Lebih banyak  kita mengerti Firman Tuhan dan lebih taat, maka kita bisa  meningkatkan “berkat Tuhan” yang kita terima.  Jumlah ini bisa meningkat terus. Mula-mula mungkin  hanya 10-20% dari hasil keringat, lama-lama bisa sampai  100%, bahkan bisa melebihi hasil keringat, bisa berlipat  kali ganda, sebab berkat Tuhan itu tidak ada batasnya.  Biasanya orang-orang ingin terus  menambah nafkahnya.  Untuk menambah nafkah dari hasil keringat, biasanya l  lebih sulit, sebab itu tergantung dari kemampuannya; kalau kemampuan tidak ditambah, sulit menambah nafkahnya. Tetapi nafkah dari berkat Tuhan tidak tergantung dari kemampuan, asalkan orang itu tetap di dalam Tuhan dan kemampuan menanggung beban uang meningkat, maka Tuhan bisa menambahi jumlah nafkahnya, bahkan bisa terus ditambah sampai tidak terbatas, tergantung kemampuannya untuk menerima berkat dari Tuhan.

Nafkah dari keringat ini tidak banyak berubah, sebanding dengan kemampuan, termasuk modalnya. Kalau modalnya satu juta, lalu mau beli kapal terbang, tidak mungkin. Kalau seorang mempunyai modal satu trilyun, masih mungkin jual beli kapal terbang, dan ia mengharapkan untung lebih besar. Jadi nafkah dari keringat itu sebanding dengan kemampuan, tidak bisa naik terlalu banyak tetapi kadang-kadang bisa turun sampai habis. Tetapi berkat dari Tuhan itu dari nol sampai tidak terbatas. Jadi bagaimana kita bisa meningkatkan nafkah kita? Supaya nafkah bisa lebih tinggi maka orang mengambil les atau kursus supaya kemampuan naik. Kemampuan jasmani ini perlu dinaikkan sebisa-bisanya, tetapi selain itu kemampuan rohani juga dinaikkan. Kemampuan rohani ini bisa ditingkatkan lebih banyak, tergantung dari masing-masing. Kemampuan rohani kita itu efeknya terhadap nafkah itu jauh lebih dari yang dikira orang banyak. Kalau Tuhan memberi, pasti datang, Tuhan sanggup. Perhitungan Tuhan tidak pernah keliru, jangan kuatir dan takut. Tuhan bisa mencukupi segala kebutuhan kita tanpa batas.
Berkat Tuhan itu bisa luar biasa tetapi ingat jangan ini yang diincar. Orang yang  cinta uang itu, sangat tertarik dengan janji-janji Firman Tuhan sebab harap bisa mendapat banyak. Tapi berkat yang tanpa batas ini tidak disediakan buat orang yang cinta uang. Kalau orang yang cinta uang diberi contoh kesaksian yang hebat, lebih-lebih yang spektakuler, maka mereka akan kagum sebab ingin, tetapi ingat berkat tanpa batas ini tidak disediakan buat orang yang cinta uang. Orang yang cinta uang, tujuan hidupnya untuk menjadi kaya; orang itu akan kecewa dengan janji-janji Tuhan sebab Tuhan tidak berjanji bagi orang yang cinta Tuhan. Kanak-kanak rohani yang terikat cinta uang ini tidak akan diberi “silet” (= uang lebih yang tidak bisa ditanggung) pada kanak-kanak rohani!
Berapa banyak orang tertarik akan janji-janji Alkitab yang luar biasa, sebab orang beriman dijadikan anak Raja. Mereka mengambil arti hurufiahnya. Anak Raja tidak naik becak tetapi naik mercy, tidak makan pecel, tetapi makan steak, dll yang harganya mahal-mahal. Memang Tuhan memberi kelimpahan seratus kali ganda, ini janji Tuhan dan ini betul ada di Alkitab, tetapi bukan untuk orang-orang yang tidak tahan uang, bukan untuk orang yang tidak bisa berpada bukan untuk kanak-kanak rohani. Di dalam Kristus janji Allah menjadi ya 2Kor 1:20. Tetapi orang yang tinggal di luar Kristus, ia akan kecewa sebab janji Allah tidak berlaku baginya.
Jangan mengharapkan janji-janji Allah untuk memuaskan percintaan akan uang, untuk menyembah mammon. Orang miskin, lebih-lebih yang kaya, akan nyata tergolong salah satu, atau cinta mammon (uang) atau cinta Tuhan, tidak mungkin netral, pasti lebih berat pada salah satu. Tuhan melarang cinta uang, itu menyembah berhala mammon Ibr 13:4, Kol 3:5. Kalau seorang ingin menjadi kaya karena cinta uang, menggebu-gebu mencari uang (biasanya dengan segala cara, menghalalkan segala  cara), maka pasti orang ini mencintai dan menyembah mammon. Sebab itu Tuhan pasti tidak mau dan tidak bisa membuat orang cinta uang menjadi kaya; kalau toh mereka menjadi kaya itu bukan dari Tuhan tetapi dari usahanya sendiri atau dari iblis, ini tetap masih mungkin. Tetapi orang Kristen bisa dan banyak yang menjadi kaya, namun bukan karena cinta uang.
Pernyataan ini memang sulit dimengerti oleh orang yang tidak mengerti kehendak Tuhan dan kebenarannya. Orang yang cinta uang akan bingung. Tetapi orang yang cinta Tuhan bisa menangkap pengertian ini dengan jelas.
Jangan cinta uang, belajar berpada, makin lama makin cinta Tuhan supaya nafkah kita, dari keringat dan dari berkat Tuhan itu bisa meningkat. Ini bisa tanpa batas tetapi bukannya tanpa maksud. Orang yang kaya tanpa maksud rohani akan merosot rohaninya, akan cinta perkara-perkara yang fana dan sia-sia dan menjadi makin susah masuk Surga. Cinta uang, itu keadaan di luar Kristus Mat 6:24 dan itu jahat di hadapan Tuhan, itu sama dengan menyembah berhala mammon.

VI. BAGAIMANA MENCARI NAFKAH?

1. Bekerja sebaik mungkin, sebisa-bisanya. Jangan malas.

Ada pendapat yang salah: rohani itu artinya tidak cinta uang sebab itu cari uang (nafkah) asal-asalan saja, toh harus berpada, tidak cinta dan tidak terikat uang. Ini pendapat yang salah. Ini bukan orang yang rohani, tetapi orang yang salah mengerti atau malas. Orang seperti ini akan gagal. Ini bukan orang yang bertanggung jawab. Orang malas, Tuhan tidak suka.
Paling sedikit seorang bujang harus bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Kalau sudah berumah tangga, harus bisa mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Kadang-kadang ada juga orang yang berpikir bahwa orang Kristen itu ‘kan baik, jadi meskipun dia malas, kekurangan toh nanti ditolong. Itu salah! Jangan bergantung pada orang lain 1Tes 4:12.
Orang Kristen kalau cari uang harus sungguh-sungguh, tetapi bukan karena cinta uang, melainkan karena rasa tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan, baik makan minum, sekolah, perumahan, dll. Ini kebutuhan minimum, jadi harus dipenuhi.
Sebab itulah orang tua mendidik anaknya baik-baik, supaya jika besar tidak menjadi pengemis. Tetapi jangan lupa sekalipun bekerja keras dan sungguh-sungguh, jangan menjadi hamba mammon, jangan ingin jadi kaya.
Ams 23:4 Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini (TB).
Orang rohani kalau bekerja harus ngotot, harus bergairah seperti kepada Tuhan Kol 3:23. Tuhan tidak mau pekerja yang malas. Efisiensi kerja harus ditingkatkan. Kerja harus dengan gairah, pakai pikiran, bukan kerja ngawur, tetapi jangan karena cinta uang.
Seringkali dari luar sulit membedakan orang yang bekerja dengan tujuan menjadi kaya (target: kaya), dan yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan (kaya = fasilitas) *). Bagi kita sulit tetapi Allah tahu dengan jelas. Biasanya pemimpin-pemimpin rohani bisa tahu dari buah-buahnya, dari hasil pertumbuhan rohaninya. Kita tetap perlu nafkah supaya kita hidup dan hidup untuk Kristus, bukan untuk menjadi cepat kaya. Ngototnya sama tetapi motivasi dan tujuannya lain.
2. Harap pada Tuhan.
Cara orang beriman mencari nafkah ialah kerja ngotot dan harap Tuhan. (Orang yang harap pada Tuhan itu menyucikan dirinya 1Yoh 3:3). Orang yang cinta Tuhan merindukan waktu lebih banyak untuk mencari dan mengejar yang kekal. Ingin pengertian yang lebih banyak, ingin menangkan jiwa lebih banyak, ingin menjadi seperti Kristus, ingin melakukan seluruh Firman Tuhan, ingin berkenan pada Tuhan, ingin berkenan pada Tuhan. Ia bekerja dan ia berharap mendapat lebih dari Tuhan, sebab kelebihan uang itu berarti kesempatan. Dengan ini ia bisa menebus waktu (Ef 5:16 KJ) lebih banyak sehingga bisa melakukan lebih banyak bagi Tuhan.
Orang yang sungguh-sungguh mencari kerajaan Surga dan kebenarannya, segala yang dibutuhkannaya akan ditambahkan Mat 6:33. Bukan berarti bahwa kalau berharap Tuhan tidak perlu bekerja dan berkat itu datang dengan sendirinya, tidak!
Seorang artis bertobat, kesaksiannya begitu bagus, ia meninggalkan semua dosa-dosanya seperti perempuan Samaria itu. Ia bersaksi disini sana dan setiap kali bersaksi, ia mendapat uang. Lama-lama semua orang Kristen sudah tahu kesaksiannya dan menjadi bosan. Mereka sudah mendengar kesaksian yang sama berulang-ulang. Tidak ada orang mengundangnya lagi untuk bersaksi. Lalu orang ini kekurangan uang. Ia berdoa tetapi uang tidak datang, akhirnya dalam kesukaran uang itu ia berubah. Ia merasa pada saat ia di dalam kesukaran uang, tidak ada orang Kristen yang mau membantunya. Ia merasa orang Kristen  hanya mulutnya penuh kasih, tetapi dalam perbuatannya mereka tidak ingat kepadanya, apalagi yang kaya-kaya itu! Sebab itu ia undur.
Apa salahnya?

  1. Tidak digembalakan dengan tetap dalam satu Gereja.
  2. Pengertiannya salah, ia berharap Tuhan tetapi menunggu envelop datang, padahal seharusnya ia bekerja 2Tes 3:10. Kalau orang Kristen tidak bekerja ya tidak makan. Ini peraturan Tuhan! Orang ini sebetulnya sudah menerima penggenapan janji Allah. Ia tidak bekerja, sebab itu ia tidak makan, sudah cocok! Sebab tidak mempunyai pengertian yang betul (tidak digembalakan dengan baik dalam satu Gereja tetap) maka sikap dan perbuatannya menjadi keliru dan akhirnya ia binasa karena kebodohannya Ams 10:21! Orang baru harus digembalakan.

Kasus yang sama terjadi pada seorang pemudi yang baru dilepaskan dari Gereja setan. Ia bersaksi dimana-mana dan banyak orang kagum mendengar kesaksiannya. Ia juga terus menerus menerima envelop. Ada satu ornag menasehatinya untuk tinggal dan digembalakan  di dalam satu gereja (tidak boleh terus keliling-keliling untuk bersaksi terus menerus, sekali-sekali boleh), tetapi ia lebih suka keliling kemana-mana dan bersaksi (dan mendapat envelop uang), akhirnya imannya rusak!
Bayi yang baru lahir itu harus diberi susu yaitu nasehat-nasehat Firman Tuhan supaya mengerti dan mempunyai pengertian rohani yang sehat. Setiap Minggu harus setia berbakti  dan terus belajar Firman Tuhan dan harus digembalakan  (dibimbing, dinasehati, dan dipelihara hidup rohaninya). Sesudah bertobat harus ditumbuhkan. Jangan kira setelah bertobat dan mencari kerajaan Surga tidak perlu bekerja dan nanti uang datang dengan sendiri.
Ada seorang pencopet percaya Tuhan Yesus dan bertobat, lalu mencari pekerjaan. Sebab tidak mempunyai kepintaran, maka ia berjualan rujak. Rujak itu sedikit untungnya, tetapi ia mengerjakannya dengan tekun. Nafkah karena keringat itu sesuai dengan kemampuannya. Tetapi ini permulaan hidup pertobatan yang baik! Jangan sesudah mencari kerajaan Surga lalu berharap uang datang dengan sendiri, Kita tetap harus bekerja, tetapi juga berharap Tuhan, maka pada waktunya Tuhan akan menambahi nafkahnya.
Harus ada dua bagian, kerja dan harap Tuhan. Orang yang betul-betul mencintai Tuhan, Tuhan akan memberkatinya sehingga pada saatnya, nafkahnya bertambah-tambah. Berkat dari Tuhan itu bisa datang dengan bermacam-macam cara dan bermacam-macam kecepatan dan Tuhan memberikan cara yang terbaik untuk keadaan masing-masing. Rata-rata nafkah orang beriman bertumbuh sedikit demi sedikit. Jarang sekali yang mendadak seperti Yusuf. Sesudah Yusuf menunggu kurang lebih 13 tahun, tiba-tiba diangkat menjadi wakil Firaun dan nafkahnya menjadi sangat limpah.
Ada seorang sarjana Ekonomi, seorang beriman bekerja dalam satu bank. Ia bekerja sangat rajin sehingga hampir semua pekerjaan di bank itu diserahkan kepadanya. Pada satu saat, direkturnya mati karena serangan jantung dan tidak  ada yang bisa mengurus banknya dengan baik, menjadi kacau. Pengurus Pusat dari ibukota dating. Hanya orang ini yang bisa mengerti semua bagian pekerjaan yang macet itu, sebab ia yang selalu disuruh mengerjakan semuanya. Akhirnya diputuskan bahwa ia diangkat menjadi direktur dengan gaji dan semua fasilitasnya. Orang ini mula-mula hanya tinggal bersama keluarganya, 4 orang dalam satu kamar. Tiba-tiba ia mendapat rumah, mobil dan gaji besar. Pada waktu dahulu sekalipun miskin, ia setia dengan perpuluhannya (ia tidak mencuri uang Tuhan, tetapi benar sekalipun pas-pasan Mal 3:8-10) dan selalu  berharap Tuhan. Sesudah diberkati Tuhan, ia tetap bekerja dengan rajin dan baik, makin mencintai Tuhan dan makin diberkati.
Kasus-kasus seperti ini tidak banyak, tetapi kalau perlu Tuhan bisa melakukannya, namun bukan untuk orang yang ingin lekas kaya. Biasanya pertumbuhan ekonomi orang-orang beriman meningkat sedikit demi sedikit. (Kecuali ada kebutuhan mendadak, itu bukan kebetulan sebab Tuhan mengizinkan dan Tuhan juga pasti akan menolong mengatasinya kalau kita harap dan bersandar kepadaNya).
Jadi bukan berarti kalau terima Tuhan Yesus lalu bisa mendadak menjadi milyuner, meskipun sekolah tidak lulus dan malas tetap bisa menjadi OKB. Ini lamunan orang cinta uang, yang ingin cepat menjadi kaya.
Ada seorang dibaptis; sebelumnya ia bekerja membuat advertensi bioskop dan pada waktu dibaptis ia meninggalkannya (sebab pekerjaan ini terus mempromosikan perbuatan-perbuatan dosa yang keji) dan mencari pekerjaan yang lain, yaitu membuat toko fotocopy. Hasilnya sedikit sekali dibandingkan advertensi bioskop yang begitu limpah. Baginya ikut Tuhan berarti menderita, bahkan bisa menjadi miskin, tetapi ia mau menerimanya. Meskipun demikian, ia tidak kekurangan sekalipun penghasilannya sangat sedikit, tetap bisa hidup dengan layak, sebab Tuhan memberkatinya. Tetapi sekarang hidupnya menjadi baru dan rohaninya tumbuh, ia mengerti maksud hidupnya dari Firman Tuhan dan terus bertambah-tambah dalam rencana Allah, termasuk dalam segala kebutuhannya.
Yang penting untuk nafkah ialah harus bekerja dan haraplah pada Tuhan, meskipun menjadi pelayan di toko atau pekerjaan apa saja, asal halal, bekerjalah!

KESIMPULAN

Tuhan berjanji memberi nafkah kita, sebab itu kita tidak perlu kuatir Mat 6:11.
Nafkah orang berdosa yang halal itu dari hasil keringatnya sendiri dan itu  tergantung dari kemampuannya masing-masing.
Tetapi nafkah orang beriman ada tambahan ekstra dari Bapanya yang di Surga. (Bukankah wajar kalau si anak dibantu bapaknya?). Begitu juga Bapa Surgawi rindu membantu anak-anakNya, asal mereka  memenuhi syarat, sebab kalau tidak, tambahan itu justru bisa mencelakakannya.
Syarat-syarat itu sudah dibicarakan, yaitu tidak cinta uang, bisa dibebani jumlah tersebut, tidak sampai undur, bisa menggunakan dengan baik, tidak menyembah mammon dsb.
Kalau kita mau taat akan syarat-syarat Firman Tuhan, maka dengan iman kita bisa mengambil berkat yang sudah disediakan Tuhan.
Tetapi kita tetap harus bekerja dengan sebaik-baiknya dan harap Tuhan, Tuhan tidak akan mengecewakan orang yang berkenan kepadaNya. Tetapi kita harus mengerti, Tuhan bukan memperlengkapi kita untuk tujuan hidup di dunia, tetapi semua ini hanya fasilitas untuk diolah dan ditumbuhkan dalam rencana Allah untuk hidup kekal yang akan datang.
Nafkah itu hanya fasilitas bukan tujuan, tujuan kita adalah satu kali kelak kita tinggal dengan Tuhan Yesus dalam Surga untuk selama-lamanya.