TE.NEWS: Mengapa Meletus?

Bulan ini negeri kita diwarnai dengan berita letusan gunung Merapi. Dan bukan hanya itu saja, ternyata pihak yang berwenang juga mengumumkan bahwa beberapa gunung berapi yang lain juga turut aktif. Selain itu juga ada bencana di tempat-tempat yang lain, seperti di Papua dan di Mentawai.
Sebagai umat Tuhan di Indonesia, kita tentu ikut prihatin, ikut berdoa, serta turut berperan aktif untuk membantu meringankan beban mereka. Tetapi kita juga perlu bertanya-tanya kepada Tuhan, mengapa ini semua terjadi. Tidak ada satu hal pun yang terjadi secara kebetulan Mat 10:30, Yeh 14:23. Mengapa Tuhan ijinkan gunung Merapi meletus, terjadi tsunami, ataupun bencana yang lainnya? Mengapa semua ini terjadi? Bahkan juga ada bencana yang lebih besar terjadi di mana-mana di seluruh dunia. Mengapa orang-orang yang seakan-akan dianggap tidak bersalah (misalnya anak-anak kecil) juga terkena akibat dari bencana alam? Berikut kita akan melihat beberapa prinsip Firman Tuhan mengenai bencana alam di sekitar kita.
Bencana bisa berkaitan dengan hukuman tetapi tidak identik dengan hukuman
Akibat bencana biasanya sungguh mengerikan. Bencana dapat mengakibatkan kecacatan, dan juga tidak sedikit yang menyebabkan kematian. Belum lagi kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh bencana. Oleh sebab itu, seringkali ada orang yang menarik satu garis lurus antara bencana alam dengan penghukuman dari Tuhan, sehingga bencana kemudian dikaitkan dengan akibat hukuman dari Tuhan bagi masyarakat setempat yang mengalami musibah bencana. Sebenarnya hal itu tidak dapat dibenarkan begitu saja. Bencana memang bisa berkaitan dengan hukuman dari Allah tetapi bencana tidak selalu identik dengan proses hukuman.

Saat Tuhan mencurahkan hujan api dan belerang, memang hal itu sebagai suatu hukuman bagi orang-orang Sodom dan Gomora yang sudah sangat berat dosanya Kej 18:20—21. Saat itu tidak ada satu orang pun yang benar selain Lot sekeluarga – yang jumlahnya tidak sampai 10 orang Kej 18:32 (Lot akhirnya selamat juga berkaitan dengan doa syafaat Abraham bagi Lot Kej 18:23—32).
Namun kita juga perlu tahu bahwa bencana tidak selalu identik dengan dosa dan hukuman. Kita tentu ingat dan mengerti tentang peristiwa yang menimpa Ayub. Saat itu dalam satu hari terjadi bencana yang luar biasa, yaitu:

  • Api menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis seluruh kambing domba dan penjaganya Ayb 1:16
  • Angin ribut bertiup dari seberang padang gurun dan merobohkan rumah sehingga seluruh anak Ayub mati di tempat Ayb 1:19

Dan satu hal yang perlu kita ingat bahwa semua peristiwa itu bukan terjadi akibat dosa Ayub Ayb 1:22. Oleh sebab itu kita tidak bisa selalu mengidentikkan suatu bencana dengan hukuman dari Tuhan bagi orang-orang setempat karena hal itu tidaklah Alkitabiah (sekalipun sebagian besar kesusahan manusia adalah akibat hukuman dari Tuhan Pkh 9:18).
Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita supaya kita tidak memiliki anggapan bahwa orang yang mati karena bencana berarti memiliki dosa yang lebih besar daripada orang yang lolos dari bencana Luk 13:1—5. Anggapan yang demikian adalah suatu pemikiran manusia yang meninggikan dirinya sendiri dan merasa dirinya sendiri lebih benar dari orang lain Luk 18:11—12. Memang kita harus senantiasa hidup di dalam kebenaran dan berkenan kepada Tuhan dalam segala segi hidup kita Kol 1:10, namun apabila hal itu disertai dengan peninggian diri maka Tuhan justru akan menentang hal itu 1Pet 5:5.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

Saat kita mengikuti berita di media massa dan melihat tempat penampungan para pengungsi biasanya kita akan merasa kasihan dan turut bersimpati karena mereka mengalami NASIB YANG SAMA, yaitu sedang dalam kesusahan dan kesulitan. Bahkan kadang-kadang ada beberapa orang yang mulai berpikir mengapa Tuhan sekejam itu dengan membiarkan orang-orang tewas dalam bencana, baik tua muda, kaya miskin, juga anak-anak yang masih kecil. Namun ternyata rancangan manusia tidaklah sama dengan rancangan Tuhan, jalan manusia tidaklah sama dengan jalan Tuhan Yes 55:8—9. Sekalipun semuanya kelihatan sama-sama senasib namun di hadapan Tuhan tidaklah demikian. Mungkin bagi orang-orang tertentu hal itu menjadi suatu hukuman dari Tuhan, namun bagi orang-orang yang mengasihi Tuhan hal itu ternyata akan mendatangkan suatu kebaikan yang mungkin belum kita mengerti saat ini. Kita perlu senantiasa ingat bahwa ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA SESUATU Rom 8:28.
Saat Paulus dan Silas berada di kota Filipi terjadilah gempa bumi pada suatu malam Kis 16:26. Kita tahu bahwa Allah juga turut bekerja dalam peristiwa gempa bumi tersebut sehingga akhirnya:

  1. Sendi-sendi penjara goyah dan semua pintu terbuka Kis 16:26
  2. Paulus dan Silas bebas dari belenggu Kis 16:26
  3. Kepala penjara dan seisi rumahnya menjadi percaya kepada Tuhan Yesus Kis 16:34

Gempa bumi malam itu ternyata mengerjakan banyak hal bagi tiap-tiap orang, baik bagi Paulus, bagi Silas, juga bagi kepala penjara dan seisi rumahnya. Demikian juga dengan setiap bencana yang terjadi di negeri kita. Prinsip yang sama juga berlaku, Tuhan bukannya bertindak tidak adil dengan membiarkan semua orang setempat tertimpa bencana. Bagi orang yang mengasihi Tuhan, sekalipun orang itu juga harus bersama-sama orang lain di  tempat pengungsian, namun perkara itu justru akan menjadi berkat baginya karena setiap perkara akan mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan Rom 8:28. Sekalipun nampaknya suatu bencana datang dengan tidak memandang bulu namun Allah tetap bertindak dengan adil. Saat bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua mengalami suatu bencana karena kalah perang dengan penduduk kota Ai, namun 36 orang yang tewas dalam pertempuran itu Yos 7:5 bukannya mati secara kebetulan dan bukannya mati secara acak sebagai korban perang, melainkan 36 orang tersebut mati karena memang telah dikhususkan untuk ditumpas Yos 7:12. Jadi sekali lagi kita dapat melihat bahwa sekalipun manusia hanya melihat satu macam peristiwa (misalnya gempa bumi, bencana, tsunami, dll), namun sebenarnya Allah turut bekerja dalam perkara itu dan bertindak dengan sangat adil dan sangat tepat.

Langit dan bumi akan berlalu Luk 21:33

Kita perlu senantiasa menyadari bahwa langit dan bumi yang sekarang kita tempati ini akan lenyap. Beberapa orang mengatakan bahwa bumi ini sudah semakin tua. Hidup kita di dunia ini hanyalah seperti berkemah 2Kor 5:1, seperti uap Yes 2:22, seperti bunga rumput Yak 1:10. Saat terjadi bencana alam, seakan-akan kita mendapatkan suatu peringatan lagi dari Tuhan bahwa bumi ini tidaklah kekal. Alkitab menubuatkan bahwa di akhir zaman memang akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat Mat 24:8, Mrk 13:8, Luk 21:11. Setiap kali terjadi gempa bumi kita diingatkan lagi akan ke-Maha Kuasa-an Tuhan di atas alam semesta ini.  Oleh sebab itu biarlah kita senantiasa hidup berjaga-jaga Mat 24:42 dan terus menyucikan diri dalam menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Tuhan 2Kor 7:1.

KESIMPULAN

  1. Saat mendengar ada begitu banyak bencana yang terjadi di negeri kita biarlah kita ikut prihatin, ikut menaikkan doa, dan turut membantu untuk meringankan beban mereka, seperti yang dikerjakan Daud saat melihat ada orang lain yang menderita dan di dalam kesusahan Maz 35:13.
  2. Selain itu, kita juga perlu memiliki prinsip yang betul di dalam hati kita, jangan sampai kita meninggikan diri dan bertindak dengan sombong karena merasa diri kita lebih benar daripada orang-orang yang terkena bencana. Dalam setiap bencana Allah tidak pernah bertindak dengan sembarangan, Allah turut bekerja dalam segala perkara. Sekalipun mata manusia hanya memandang satu bencana sebagai satu musibah yang menimpa sekelompok orang sekaligus, namun sebenarnya Allah turut bekerja, bukan hanya bagi sekelompok orang tersebut melainkan bagi tiap-tiap orang dalam kelompok tersebut. Tidak ada satu perkara pun yang terjadi di luar sepengetahuan Tuhan. Bagi orang yang mengasihi Dia maka segala perkara akan mendatangkan kebaikan Rom 8:28, karena orang benar akan hidup oleh iman Hab 2:4.
  3. Dengan adanya berbagai bencana di negeri ini, kita dapat semakin melihat tanda-tanda kedatangan Tuhan. Tanda-tanda akhir zaman sudah semakin dekat. Memang tanda-tanda ini (seperti bencana alam) sudah ada sejak dahulu, namun di akhir zaman ini kita dapat mengakuinya bahwa ini semua bertambah dahsyat sesuai dengan prinsip akhir zaman, yaitu:
    1. Global (bukan hanya lokal) dan bersamaan
    2. Terjadi secara tiba-tiba dan dahsyat
    3. Belum pernah ada sebelumnya

    Marilah kita semakin waspada dan hidup berjaga-jaga, baik secara jasmani terlebih secara rohani. Secara jasmani, orang-orang yang berada di tempat-tempat rawan gempa memang perlu lebih berhati-hati dan menaati peringatan-peringatan yang sudah disediakan dan diatur oleh pemerintah. Kita perlu mengingat bahwa bencana-bencana ini juga bisa terjadi di tempat-tempat yang sebelumnya tidak ada bencana, juga tanda-tanda yang lainnya.
    Secara rohani, kita semua perlu terus belajar kebenaran-kebenaran Firman Tuhan, terutama tentang akhir zaman, supaya kita mengerti tentang hal-hal yang akan terjadi dan memiliki dasar yang kokoh untuk tetap berdiri teguh di akhir zaman yang dahsyat ini dan jangan sampai rebah mati karena ketakutan akan segala apa yang akan menimpa bumi ini Luk 21:26. AMIN