Seperti kepada Bejana yang Lemah

1 Petrus 3:7 Demikian juga kamu, suami-suami,-tinggallah (TB: hiduplah) dengan isterimu sesuai dengan pengetahuan (NIV: dengan pengertian) seperti kepada bejana yang lemah (TLB)-berilah hormat kepada si isteri seperti menjadi pewaris bersama dari anugerah kehidupan-supaya doamu jangan terhalang (TP).


Suami dan isteri harus saling menghormati. Isteri menghormati suami sebagai kepalanya (1Pet 3:5), tetapi juga suami menghormati isteri dan memperlakukannya seperti kepada bejana yang lemah. Bejana yang lemah itu dapat kita umpamakan seperti bejana-bejana gelas yang mudah pecah.

Kalau seorang kasar menangani bejana-bejana lemah ini, pecah semua dan ia rugi, bisa-bisa makan siang dan malam dengan pincuk daun. Tetapi kalau ia hati-hati, ia dapat menikmati hidup ini dengan keharmonisan bejana-bejana yang lemah tetapi indah ini. Begitu suami yang kasar pada istrinya, menghancurkan semua kenikmatan, keindahan dan keharmonisan rumah tangga. Tetapi suami yang tahu menghormati, menghargai dan hati-hati menangani istrinya, hidupnya limpah dengan keunikan dan keindahan yang bisa dinikmati seumur hidup, bukan hanya satu kali pakai lalu pecah!

DEMIKIAN JUGA KAMU, SUAMI-SUAMI

Suami dan isteri dalam rumah tangga adalah dua pihak yang sangat menentukan kebahagiaan rumah tangga.
Amsal 14:1 Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.
Isteri mempunyai peran yang penting, tetapi suami juga, sebab suami adalah kepala rumah tangga.
Efesus 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
Kalau salah satu roboh atau tidak bertanggung jawab, beban menjadi lebih berat bagi yang lain. Keduanya perlu bersama-sama memikul rumah tangganya. Bahkan semua anak-anakpun (lebih-lebih yang dewasa) wajib ikut memikul beban rumah tangga. Masing-masing harus menyesuaikan hidupnya dengan Firman Tuhan, maka rumahtangga akan menjadi indah dan bahagia dalam jaminan Tuhan.

TINGGALLAH DENGAN ISTERIMU


Kalimat ini belum selesai, masih ada sambungannya. Kita akan  mempelajarinya sesudah ini. Tetapi kalimat ini (suami dan isteri tinggal  bersama, diam bersama) itu juga punya kebenaran sendiri, sebab ini  adalah kehendak Tuhan.
Matius 19:5 Dan berkata: karena sebab inilah hendaklah seorang  (laki-laki) meninggalkan ibu bapanya, dan lekat kepada bininya, maka  keduanya itu menjadi sedaging (KJ).
(Terjemahan Lama: berdampingan, Terjemahan Baru: bersatu, King James Version: lekat, sebab itu suami isteri harus hidup bersama-sama senantiasa, selama memungkinkan, jangan berpisah. Ini cara hidup suami-isteri yang terbaik, bahkan sebisa-bisanya pergi jauh bersama-sama).
(Ada suami sales (berjualan) keliling antar kota, istrinya diajak membantu administrasi dan bersama-sama keliling, manis. Tetapi tidak semua suami isteri bisa demikian, apalagi kalau sudah punya anak dan sebagainya).
Ada banyak syarat-syarat suami – isteri, dan ini adalah salah satu syarat seorang suami.
Keuntungan dari selalu bersama-sama: (juga kalau bisa, pergi jauh bersama-sama) antara lain:
1. Dalam senang.
Dapat menikmati bersama dan itu lebih nikmat, lebih enak.
Pengkhotbah 4:9 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka.
Dapat bersyukur dan memuliakan Allah bersama-sama. Manis sekali.
2. Dalam susah.
Beban ini dapat dipikul bersama-sama, itu lebih ringan dan lebih menolong.
Bagaimana caranya?
a. Dapat berdoa bersama-sama
Matius 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
b. Dapat saling mengisi dengan nasehat, saran dan penghiburan.
c. Dapat bekerja sama dengan penolong sejodoh yang dipercayai penuh.
(Juga di dalam Gereja, bersekutu bersama dalam senang dan susah itu indah (Pil 2:1-4). Ini harus ada di dalam tubuh  Kristus. Tetapi suami isteri di dalam Tuhan harus lebih dari ini, sebab suami dan isteri itu bukannya dua, tetapi satu (Mat 19:5)).
3. Mengisi pengalaman bersama
Baik dalam segi rohani dan segi-segi jasmani. Mempunyai pengalaman-pengalaman bersama-sama itu sering kali membuat beban dan visi yang sama dalam suami isteri. Dengan ini suami isteri lebih mudah bersehati dalam rumah tangga, pekerjaan dan pelayanan, sebab mempunyai visi dan beban yang sama. (Termasuk dalam hal ini: suami isteri dan anak-anak yang pergi ke Gereja yang sama, ini juga membuat beban dan visi yang sama dan hubungan yang komunikatif. Pengalaman bersama ini manis, baik pada waktu itu maupun untuk hari-hari yang akan datang. Hidup suami dan isteri dijalin bersama dengan Tuhan dalam pengalaman yang sama/ bersama.
Pengkhotbah 4:12 Dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

Suami isteri ini menjadi seperti tali tiga lembar yang tak dapat putus.  Ini membangun jalinan riwayat hidup yang membuat suami-isteri  makin menyatu, makin manis, harmonis dan berbuah-buah.
Sebab itu belajarlah untuk selalu bekerja sama dan saling membantu  dalam pekerjaan suami atau pekerjaan isteri. Jangan “tidak mau tahu”,  tetapi justru ikut bersama-sama bertanggung jawab (sebab itu di dalam  memilih isteri/ suami, perlu yang kira-kira sama, yang kira-kira dapat  menjadi penolong yang sejodoh, sehingga dapat bekerja sama dengan  baik, bukan hanya melihat luarnya saja).
4. Dapat saling mengerti lebih mendalam,
Ini terjadi sebab suami-isteri selalu hidup bersama-sama. (Kalau isteri tinggal di kota A, suami di kota B, 1 minggu satu kali bertemu, malah kadang-kadang 2 minggu sekali, ini suatu cara hidup suami istri yang sangat jelek, mereka tidak akan banyak mengenal satu sama lain). Bisa saling mengenal dan saling mengerti satu sama lain, ini sangat diperlukan oleh suami isteri yang terus mau membangun keluarga yang makin manis dan makin harmonis.
Jangan hidup terpisah itu banyak ruginya, meskipun mungkin ada keuntungan-keuntungan lain (gaji lebih tinggi, tidak ditekan mertua dsb) kecuali terpaksa karena dinas, pelayanan, sakit & sebab-sebab yang mutlak lainnya.
Orang yang cinta pasti rindu tinggal bersama senantiasa. Ini akan membuat hidupnya menjadi sangat senang.
Ada banyak keuntungan dari tinggal bersama dan banyak kerugian hidup suami isteri yang berpisah antara lain rumah tangga yang pincang, pengaruh orang lain yang masuk tanpa pengetahuan suami isteri, godaan-godaan sex dan akibat pergaulan-pergaulan lainnya. Hubungan suami isteri itu adalah hubungan cinta, sehingga kalau bisa tinggal bersama akan sama-sama bersukacita. Ini mutlak harus ada di dalam hidup rumah tangga.

DENGAN PENGERTIAN/ SESUAI DENGAN PENGETAHUAN.

Suami isteri tinggal dan hidup bersama dengan pengertian atau sesuai dengan pengetahuan dari Firman Tuhan (yang dimaksud dengan pengetahuan di sini bukanlah ilmu = science sekuler biasa, tetapi pengetahuan atau kebenaran-kebenaran dari firman Tuhan dalam Alkitab (Hos 4:1,6)).
Yang dimaksudkan “dengan pengertian” di sini adalah secara umum dan secara pribadi tentang isterinya sendiri.
Secara umum “dengan pengertian” itu berarti:
1. Tahu kehendak Tuhan bagi suami isteri.
Masing-masing, baik isteri atau suami harus tahu hak dan kewajibannya, serta sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan Firman Tuhan. Misalnya (Ef 5:22-25, Mat 19:5-6, 1Pet 3:1-7) dan lain-lain.
2. Tahu maksud menikah, yaitu supaya menjadi lebih baik
Kejadian 2:18 TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja (kalau berdua itu lebih baik (Pkh 4:10)). Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Jangan sampai sesudah menikah, rohani makin mundur, tetapi justru supaya keduanya lebih maju. Masing-masing harus menjadi penolong yang sejodoh (TB: penolong yang sepadan) dalam hidup rohani juga, bukan hanya dalam hidup jasmani. Rohani harus menjadi lebih baik.
3. Tahu tujuan hidup ini, bukan untuk mencari perkara-perkara di dalam dunia ini, tetapi perkara-perkara yang kekal di Surga dengan Tuhan Yesus (Mat 16:26). Rumah tangga seperti ini akan bebas kuatir dan penuh sejahtera sebab punya pengharapan yang kekal. Kalau suami atau isteri tahu tujuan hidupnya yang betul dan terus memandangnya (Ibr 11:27), maka sekalipun diserang banyak penderitaan dan masuk dalam api pengolahan, mereka akan tahan, kuat, bahkan menang dalam penderitaannya.
4. Tahu keadaan isteri, ada pengertian.

Suami harus mengerti keadaan isterinya yang seperti bejana yang lemah, dengan kata lain: sekalipun suami itu kepala, tetapi ia tidak boleh bertindak atau bersikap semena-mena. Seringkali suami menjadi kasar, sikap dan tindakannya seenaknya sendiri sebab tidak peduli atau tidak mempunyai pengertian ini. Suami yang mempunyai pengertian dari Firman Tuhan dan pengertian pribadi tentang isterinya dapat mengerti keadaan isterinya dan dapat bersikap lebih sabar, lemah lembut, sejahtera dan indah. Memang dasar utama ialah kasih, sebab itu dengan kasih suami = kepala memperhatikan tubuhnya = isteri, bukannya memukul, menyiksa  atau menelantarkannya, tetapi memperhatikannya dengan baik
Efesus 5:29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat,

Suami yang memukul isterinya itu seperti orang gila di  hadapan Tuhan, sebab hanya orang gila yang memukuli tubuhnya  sendiri sampai sakit dan tetap memukul.
Cinta dan pengertian akan menghasilkan kesabaran. Cinta tanpa  pengertian pada akhirnya akan kehabisan sabar dan sikap perbuatannya  akan menjadi salah. Sebab itu suami harus mengerti keadaan isteri, baik  secara pribadi, maupun secara umum menurut Firman Tuhan.
Tetapi ini saja tidak cukup, sebab tanpa takut akan Allah, tanpa kesucian, tanpa kasih, sekalipun mengerti keadaan isteri, rumah tangga tetap kacau karena dosa-dosa yang dibuatnya. Ada suami yang mengerti keadaan isterinya, tahu penderitaannya, tetapi sebab ia diperbudak oleh nafsu zinahnya, ia tidak berdaya menolong isteri dan keluarganya, selalu jatuh dalam dosa dan terus merusak nikah dan keluarganya. Ini saja tidak cukup.
Dasar hidup nikah yang berbahagia ialah kesucian Ilahi (Ibr 13:4, 1Tes 4:3,7) sehingga kasih terpelihara dan tumbuh, bukannya bocor oleh dosa (Mat 24:12). Bagi suami isteri yang disucikan, yang mau membina rumah tangganya, mengerti satu sama lain itu sangat berfaedah.

SEPERTI KEPADA BEJANA YANG LEMAH.


Dalam hal apakah isteri lebih lemah dari suami?
Galatia 3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Di hadapan Allah, laki-laki dan perempuan itu sama dan Allah tidak membeda-bedakan haknya dalam keselamatan, sebab sesudah mati, tidak ada lagi laki-laki dan perempuan, semua sama-sama berada di dalam tubuh kebangkitan.
Bejana yang lemah, itu maksudnya:
1. Dalam kekuatan fisik, relatip lebih lemah. Dunia tahu hal ini, sebab itu tidak pernah ada pertandingan lari dan olah raga lain mengadu laki-laki dan perempuan, sebab perempuan adalah pihak yang lebih lemah. Kalau suami  mengerti hal-hal demikian, ia akan sabar akan isterinya serta membantu dengan sukacita istimewa di dalam hal-hal fisik yang berat misalnya: waktu mengangkat berat, naik di bagian atas dan lain-lain pekerjaan fisik, dan ini berkenan kepada Tuhan. (Isteri atau perempuan tidak perlu merasa lebih lemah, sebab perbedaan ini tidak terlalu banyak, apalagi di dalam hal-hal lain seperti ketahanan terhadap penyakit, cuaca Dan sebagainya).
2. Dalam kejiwaan sebagai seorang ibu, lebih halus dan lembut. Ini lain daripada kejiwaan atau perasaan hati seorang bapak. Ibu-ibu itu biasanya lemah lembut. Sebab itu suami perlu belajar bersikap lebih lemah lembut terhadap isterinya. Jangan kasar, baik dalam berkata-kata, bersikap dan bertindak. Sudah pasti tidak boleh main tangan (=orang gila).
Isteri harus belajar tunduk seperti yang dikatakan Firman Tuhan, tetapi suami tidak boleh menuntut dengan kasar supaya isterinya tunduk, tetapi dengan hikmat dan kuasa Tuhan secara lemah lembut menasehati dan mengolah isterinya. Jangan berhenti menasehati isteri yang salah, jangan putus asa dan hilang sabar, tetapi dengan lemah lembut menolongnya terus.
Kalau suami sudah marah-marah dan menuntut dengan suara yang lantang supaya isterinya tunduk, itu sudah menjadi suatu tanda bahwa sikap dan tindakan si suami tidak benar, salah. Suami boleh dan wajib menasehati isterinya untuk tunduk, tetapi bukan menuntut atau marah-marah. Belajar memeriksa diri sendiri, baru memeriksa orang lain (Mat 7:1-3). Tanpa kasih akan timbul banyak problem bahkan sulit diselesaikan. Suami harus memperlakukan isterinya dengan kasih yang lemah lembut, seperti kepada bejana yang lemah; Sebab itu hidup nikah suami-isteri harus disucikan senantiasa sehingga kasihnya terpelihara. Kalau ada kasih, akan mudah ada kelembutan hati. Orang-orang yang tidak taat akan Firman Tuhan, apalagi orang tidak beriman (menikah dengan orang tidak beriman), akan mendapat banyak kesusahan bagi dirinya  dan problem-problem yang seringkali tidak dapat diselesaikan.
3. Isteri yang tidak rohani..
Dalam kebanyakan Gereja, jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Apakah ada lebih banyak isteri yang rohani daripada suaminya? Salah satu tanda isteri yang rohani itu diukur dari (1Pet 3:1-6, Ef 5:23-24) yaitu mau tunduk pada suaminya. Beberapa banyak aktifis perempuan, lebih-lebih yang nekad itu justru tidak tunduk pada suaminya dan Alkitab berkata bahwa isteri semacam itu tidak rohani! (salah satu tanda suami yang rohani ialah suci sampai pikiran dan angan-angannya, tidak pernah berzinah (tentu isteri yang rohani itu juga suci, bukan diam-diam tahu-tahu makan dalam). Suami seperti ini cintanya kepada isterinya selalu bertambah-tambah, tidak pernah bocor pada perempuan lain (Ef 5:25)).
Berapa banyak isteri-isteri yang belum mau tunduk kepada suaminya? Itu tidakrohani! Terhadap isteri yang “tidak rohani” seperti ini, suami harus menjadi penolong yang sejodoh, yang mengerti keadaannya serta menolongnya untuk bisa menjadi rohani. Dalam setiap kekurangan menasehati dan menegur dengan lemah lembut (Gal 6:1). Dididik, diolah, dibina dengan kasih Ilahi. (Biasanya suami yang memilih isteri yang tidak rohani, itu juga sama-sama tidak rohani. Sebab itu seringkali didapatkan bahwa kalau isterinya bersalah, lebih-lebih yang sulit diperbaiki, itu juga disebabkan karena kekurangan-kekurangan si suami, saling berkaitan. Jadi sebetulnya sama-sama salah yang menyebabkan sama-sama jengkel dan tidak berubah, sama-sama masuk perangkap si ular tua. Sebab itu suami isteri sering bertengkar perlu dengan kasih dan rendah hati sama-sama mau mengakui salahnya, sama-sama mau mengampuni dan sama-sama mau diperbaiki lalu cepat tumbuh dalam sifat, sikap dan tindakan yang baik seperti Kristus (= Alkitab). Ini akan membuat rumah tangganya kembali menjadi manis dan harmonis).
Dengan lemah lembut dan panjang sabar, itu bukan berarti bahwa suami harus menurut isteri di dalam jalan yang salah seperti Ibrahim menuruti Sarah, dan Achab menuruti Izebel, tidak! Itu membuat seluruh rumah tangganya menjadi hancur sama sekali. Ayub tidak menurut isterinya, sebab itu rumah tangganya tidak hancur, tetapi pulih, bahkan menjadi jauh lebih indah dari semula. Jangan menuruti yang salah, tetapi jangan bertengkar, atau “geger” senantiasa, jadilah jodoh yang saling menolong satu sama lain (penolong yang sejodoh).
4. Kekurangan-kekurangan isteri.
Juga suami ada kekurangan-kekurangan, keduanya perlu saling menolong, menasehati dan memperbaiki. Rata-rata setiap orang itu ada kekurangannya.
Pengkhotbah 7:28 Yang dicahari lagi oleh hatiku, maka tiada kudapati akan dia; bahwa mudah juga di antara orang seribu aku mendapat seorang laki-laki yang baik, tetapi belum kudapati di antara sekalian itu akan seorang perempuan yang begitu (TL).

Di antara 1000 laki-laki, mudah mendapatkan 1 yang baik. Itu berarti ada banyak laki-laki yang baik dalam 1000 orang, misalnya ada 10 orang yang baik. Kalau di antara 10.000, jumlah ini bisa meningkat sampai 100.
Di antara perempuan lain. Di antara 1000 perempuan, kita tidak akan dapat menemukan satu perempuan yang baik. Baru di antara 10000 mungkin ada satu atau dua orang perempuan yang baik. Kita bisa membuat satu kesimpulan dari ayat ini: kira-kira untuk mendapatkan 100 laki-laki yang baik itu sama susahnya untuk mendapatkan satu perempuan yang baik dari lingkungan dan jumlah yang sama besarnya.
Ini dalam Perjanjian Lama! (Di antara orang dunia biasa).
Dalam Perjanjian Baru di antara orang-orang yang lahir baru, angka ini diharapkan banyak berubah! Tetapi jangan heran, di antara orang yang lahir baru tetapi tidak tumbuh angka ini tidak banyak berbeda. Apalagi kalau tidak mengerti Firman Tuhan dan tiada pengurapan Roh Kudus yang cukup, angka ini hanya berubah sedikit. Tetapi orang yang lahir baru dan tumbuh, semuanya akan berubah menjadi baik, seperti Kristus! Berapa banyak yang lahir baru dan bertumbuh?
Jangan heran kalau ada banyak isteri yang cerewet dan diam-diam makan hati suaminya.
Oleh sebab itu Tuhan mengingatkan suami-suami supaya jangan berlaku kasar, jangan sampai jatuh dalam perangkap dosa setan dan doanya tergendala, rohaninya kacau, macet, kering!
Sekalipun isterinya ada kekurangan, pihak yang lebih lemah, suami harus tetap menghormati, mencintai dan menolongnya! Jangan kasar, jangan memperlakukannya seperti bejana-bejana logam (dibanting, dikasari, tidak apa-apa), tetapi seperti kepada bejana yang lemah.
Belajar saling menasehati di dalam terang dan kasih Kristus, lebih-lebih dengan kasih suami isteri yang spesial itu. Jangan lupa sekalipun di rumah, belajarlah berjalan dalam Roh, maka hasilnya sangat mencolok dan cepat, sebab karunia-karunia Roh itu bekerja dengan baik di dalam kasih (suatu sikon yang ideal untuk tempat bekerjanya karunia-karunia Rohkudus).
5. Memperlakukan isteri sebagai tubuhnya sendiri, bukan sebagai orang lain apalagi sebagai budak.
Efesus 5:28-29 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.
Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat.
Suami yang sadar bahwa isterinya adalah tubuhnya sendiri, akan memelihara dan menjaga serta menanganinya dengan rasa sayang seperti kepada tubuhnya sendiri.
Juga dalam berkata-kata, suami jangan berkata-kata sembarangan sehingga menimbulkan luka-luka dalam hati yang kadang-kadang tidak sembuh (sebab tidak mengampuni dan tidak memakai kuasa Rohkudus).
Jangan menegur di muka orang yang tidak dikenal dan tidak ada sangkut pautnya. Hormati isteri sebab dia sewaris dengan suami.
Belajar menangani isteri sebagai bejana yang lemah, seolah-olah rapuh (tetapi isteri tidak boleh rapuh, harus kuat dan perkasa seperti laki-laki (1Kor 16:13!)).
Kalau semua takut Tuhan, mengerti Firman Tuhan, sungguh-sungguh mau mentaatinya, mau
berkenan pada Tuhan, maka iblis tidak akan mendapat tempat di dalam pribadi dan keluarga ini.
Kesimpulan “seperti kepada bejana yang lemah”, ialah sikap suami terhadap isterinya hendaklah  lemah lembut, disayang-sayang seolah-olah bejana itu mudah pecah, maka Tuhan akan memberkati suami-suami yang taat, dan hidup nikahnya akan makin manis, harmonis serta menjadi lebih baik di hadapan Allah. Ingatlah seperti bejana-bejana pecah belah yang lebih lemah. Kalau tahu memakainya dengan hati-hati maka kita dapat memilikinya terus dan menikmati bertahun-tahun dengan indah dan manis. Tetapi yang kasar sebentar saja sudah pecah, dan ia kehilangan segala miliknya. Suami-suami seperti ini menderita dalam hidup nikahnya sebab tiada padanya penolong yang sejodoh (hatinya sudah pecah) seolah-olah hidup sendirian! (Tetapi isteri orang beriman setiap kali mengampuni dengan tuntas!! sehingga bisa pulih kembali).
Suatu test. Untuk mengetahui apakah suami memperlakukan isterinya dengan baik, si isteri mendekati suaminya yang sedang sibuk, tiba-tiba ia memegang hidungnya lalu tinggal diam. Dari reaksi si suami kita bisa melihat apakah suami sudah mengerti dan mau memperlakukan isterinya seperti bejana yang lemah. (Tentu jangan sering-sering ditest!)
Reaksi :
– 3. Suami marah-marah, maki-maki, mengusir isterinya dan bicara yang tidak enak. Ini suami yang tidak bertobat.
– 2. Suami marah, matanya mendelik, tetapi tidak bicara apa-apa.
– 1. Menunjukkan sikap tidak senang atau jengkel.
0 tidak berreaksi :
+ 1. Senyum sebentar, tidak marah atau jengkel.
+ 2. Bergembira, menunjukkan hati yang bersuka.
+ 3. Memberi rekasi sukacita.
Catatan :
1. Mungkin suami sibuk betul, hanya senyum sebentar dan berkata : “nantilah kita bergurau”. Itu masih dapat termasuk +1 sampai +3.
2. Suami-suami yang memperlakukan isterinya seperti bejana yang lemah, akan berreaksi antara 1 – 3.

BERILAH HORMAT KEPADA SI ISTERI.


Ini juga termasuk kewajiban suami. Bukan hanya isteri menghargai suami sebagai kepala dan tunduk, tetapi  suami juga menghormati isteri sampai dalam hati. (Yang pura-pura, tidak berkenan pada Tuhan. Kadang-kadang pura-pura hormat di “luar” di muka orang banyak, tetapi di dalam rumah ia sangat  jahat dan kejam, ini tidak jujur dan jahat di hadapan Tuhan (Mat 5:37)).  Kadang-kadang ada sebab-sebab yang membuat suami kurang dapat menghargai  isterinya, tetapi sebagai suami yang baik di hadapan Allah, suami tetap harus menghormati si isteri, meskipun penuh kekurangan (Isteri harus tunduk pada suami sekalipun suami bersalah (1Pet 3:1). Sebaliknya suami juga harus menghormati isteri sekalipun isterinya banyak kekurangan dan salahnya). Kalau suami isteri mentaati Firman Tuhan, maka Roh Kudus akan menolong mereka memperbaiki  kekurangan-kekurangannya masing-masing, sehingga pulih menjadi indah dan manis. Beri hormat tentu berarti tidak boleh dihina, tidak boleh dijadikan korban maki-makian dan korban hati yang penasaran. Jangan berbicara perkara-perkara yang tidak menghormati  si isteri, baik di hadapan isteri atau di belakangnya.  Jangan menganggap isteri sebagai “babu”, itu menghina Tuhan yang membuat perempuan dan isterinya. Bagaimana sikap menghormati?
Anggap seperti pembesar yang baik. Sekalipun si isteri lebih bodoh, berasal dari keluarga yang lebih rendah, tidak dapat mencari nafkah dan lain-lain, suami-suami harus tetap menghormatinya. Orang yang mau menikah harus mengambil isteri dengan cara yang terhormat.
1 Tesalonika 4:4 Sehingga masing-masing kamu tahu memilih isteri sendiri di dalam hal yang kudus dan hormat (TL).
Dengan kasih, lemah lembut, sayang dan hormat, si suami membantu mengangkat isterinya menjadi makin indah dan makin berarti dalam keluarga dan masyarakatnya, istimewa di dalam sidang Tuhan.

SEPERTI MENJADI PEWARIS BERSAMA.

Suami isteri akan bersama-sama menjadi waris dari Kristus
Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama Dia.
Nanti suami isteri akan sama-sama duduk dalam Surga. Kalau dua orang dalam Sidang bekerja bersama-sama, mereka juga akan sama-sama menerima pahala yang sama dari Tuhan (Mat 10:42). Apalagi suami isteri yang memang menjadi satu di hadapan Tuhan dan sama-sama melayani, sama-sama berlelah akan sama-sama menerima waris dari Allah. Sebab itu hargai isteri (juga isteri kepada suami) sekalipun ada kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan.

DARI ANUGERAH KEHIDUPAN.

Kita ini hidup di dalam anugerah Allah. Jangan sombong.
1Korintus 15:10 Tetapi oleh sebab anugerah Allah aku menjadi sebagai aku ada; dan anugerahNya kepadaku itu tidak menjadi sia-sia, melainkan aku berlelah lebih dari mereka itu sekalian; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang beserta dengan aku (TL).
Mazmur 63:4 Karena kemurahanMu itu terlebih baik daripada hidup; bahwa lidahku memuji-muji Engkau (TL).

Jangan suami bersikap sombong sehingga menghina dan merendahkan isterinya sendiri, itu melawan Firman Tuhan, itu dosa! (Juga sebaliknya). Belajar saling menghargai, saling cinta dan saling menyayangi. Keduanya, suami-isteri sama-sama tidak layak, tetapi sekarang sama-sama mendapat anugerah Tuhan yang besar ini.

SUPAYA DOAMU JANGAN TERGENDALA (TERHALANG)

Doa itu tulang punggung rohani. Kalau doanya terhalang, itu berarti rohaninya akan segera rusak! Kalau suami sikapnya jelek dan salah kepada isteri, doanya akan terhalang dan rohaninya pasti kocar kacir.
Sebab itu kalau seorang nikahnya rusak, sekalipun ia tua-tua sidang atau tokoh Kristen, tidak mungkin orang seperti ini orang yang rohani!
Sebab itu kalau nikah tidak beres, tidak harmonis, bertobatlah, rendahkan diri supaya hidup nikah dipulihkan dan kemudian dipelihara baik-baik sesuai dengan peraturan-peraturan dari Allah. Setiap orang beriman harus memperhatikan dan memelihara hidup nikahnya baik-baik, sesuai dengan Firman Tuhan, sebab ini salah satu tanda penting dari hidup rohaninya.