Keindahan Hidup Nikah Orang Beriman

Kadang-kadang orang beriman tidak mengerti yang manakah hidup nikah orang beriman yang normal/ yang wajar. Apakah kalau sekali-kali cekcok itu wajar, atau hubungan yang biasa-biasa saja, atau dengan sedikit-sedikit penyelewengan, atau harus selalu penuh sukacita, gairah dan kasih?

HIDUP NIKAH YANG NORMAL

Mana yang wajar? Sering kali orang Kristen tidak mengerti patokan yang benar dari Firman Tuhan, karena ada begitu banyak kasus-kasus rumah tangga yang jelek di sekitar kita, hampir-hampir tak ada yang baik, apalagi yang ideal sehingga akhirnya bingung, tidak tahu lagi mana yang wajar.

PENGARUH  LINGKUNGAN

Test Mantoux (TBC) dari siswa-siswa SMU (35 tahun yang lalu, kira-kira) 95 % positif. Ini berarti pernah terkena infeksi TBC meskipun mungkin tidak terasa. Ini dianggap normal, biasa, lumrah, sudah seharusnya begitu, tidak bingung, tidak susah sebab hampir semua begitu. Demikianlah pikiran dan perasaan semua siswa tersebut! Padahal ini tidak normal menurut ukuran yang seharusnya! Tetapi karena kasus yang tidak normal terlalu banyak, maka itu yang dianggap normal.

Begitu juga dengan banyak hidup nikah zaman sekarang, sering kali hidup nikah yang kering, yang kosong, yang kacau, jelek, terinfektir dosa perzinahan dianggap normal, kadang-kadang juga di antara orang-orang beriman, sebab kasusnya terlalu banyak.
UKURAN NORMAL UNTUK ORANG BERIMAN.

Lalu bagaimana ukuran nikah orang beriman itu? Ukuran standard, baku, yang sungguh-sungguh benar adalah dari Firman Tuhan, yaitu:

Matius 19:5-6 Dan Firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
Efesus 5:31-33 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.  Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Hidup nikah orang beriman yang normal itu manis dan betul-betul bahagia. Dikatakan ini rahasia yang besar yang tidak dapat dimengerti oleh orang berdosa dan orang dunia.
Mereka tidak mengerti bagaimana dua orang bisa menjadi satu bukan tetap dua.
Orang yang sudah lahir baru dan tetap tinggal di dalam kesucian Kristus akan mengerti rahasia ini, sebab Roh Kudus yang menyatakannya.

RUMAH TANGGA ORANG BERIMAN YANG BAHAGIA ITU SYARATNYA:

1. HIDUP SUCI,  BAIK SUAMI MAUPUN ISTRI.

Bukan orang yang jatuh bangun dalam dosa.

Beberapa orang mempunyai pikiran atau pendapat yang keliru yaitu: Kalau sudah dewasa rohani atau sudah mencapai taraf hidup rohani yang tinggi, baru bisa hidup suci. Ini salah!

Segera lahir baru, sudah bisa hidup suci!
Bayi yang baru lahir itu sehat, bukan nanti kalau sudah dewasa baru menjadi sehat. Sekalipun bayi itu belum bisa apa-apa, hanya bisa mena-ngis, minta makan minum, ngompol dan membuat repot saja, tetapi ia sehat, tidak sakit.
Orang Kristen dari permulaan pertobatannya harus belajar tetap hidup dalam kesucian. Ini tidak sulit!
Kalau sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus dan mau, pasti bisa! Tuhan Yesus akan menolong. Roh Kudus yaitu Roh penolong akan menolong setiap orang-orang percaya. Mintalah baptisan Roh Kudus. Ini suatu bagian yang penting.
(James Robison menyaksikan bagaimana ia setengah mati mempertahankan kesuciannya. Ia berusaha mengalihkan dorongan-dorongan sexnya pada olah raga, pada kesibukan lainnya dan sebagainya, tetapi tetap “terlalu berat”. Namun sesudah ia mengalami baptisan Roh Kudus, ia merasa jauh lebih ringan, ia merasa menerima kekuatan baru (Kis 1:8) dan bisa terus-menerus hidup dalam kesucian).
Bisa hidup dalam kesucian, bukan terus-menerus jatuh bangun dalam dosa. Ini tidak sulit, percayalah akan janji-janji Firman Tuhan (Yoh 8:36/ Rom 6:1-2/ Mat 1:21), lalu bertindaklah, pasti bisa!
Semua orang yang sudah percaya sudah menjadi anak-anak Allah, itulah anak-anak dari Bapa yang maha suci.
Yohanes 1:12 Tetapi semua orang yang menerimaNya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (anak Allah itu orang suci! Seperti Bapanya), yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.
Anak Allah itu anak-anak yang bisa hidup suci seperti Allah, Bapanya. Anak ikan pasti bisa berenang. Anak burung pasti bisa terbang. Anak lembu pasti bisa makan rumput. Anak Allah pasti bisa hidup suci seperti Bapanya*).
Hidup suci berarti hidup sesauai de-ngan Firman Tuhan dan ini berkenan pada Tuhan.

2.  MENGERTI FIRMAN TUHAN  DAN TAAT.

Mengerti kehendak dan peraturan Allah tentang suami-istri, tentu juga tentang anak, orang tua, mertua, menantu dan sebagainya. Kita perlu mengerti dan taat. Dari Firman Tuhan, kita bisa mengerti bagaimana kedudukan, kewajiban, sikap dan cara hidup seorang suami atau seorang istri yang betul. Lalu hidup ini harus dicocokkan dengan Firman Tuhan, bukan menurut kehendak, pendapat atau perasaan sendiri! Bahkan calon-calon pengantin pun perlu diberi bimbingan supaya mengerti bagaimana seharusnya seorang suami atau istri menurut Firman Tuhan. Harus mengerti supaya bisa taat dengan betul!

Ketaatan itu penting. Jangan menjadi pendengar yang rajin, pendengar yang terhormat, pendengar yang antusias atau bergairah, tetapi penurut Firman Tuhan (Yak 1:22). Mentaati Firman Tuhan itu tidak sulit. Allah tidak menyuruh kita mentaati sesuatu yang tidak mungkin ditaati!
Seperti orang yang belum bisa naik sepeda, itu sulit. Memang naik sepeda itu termasuk akrobat dengan mengatur keseimbangan. Tetapi setiap manusia itu diperlengkapi cukup untuk bisa “naik sepeda”, asal mau latihan pasti bisa.
Begitu juga orang baru, kalau mau, pasti bisa taat, tidak sulit. Memang orang-lama tidak bisa taat, tetapi orang-baru mampu untuk taat, sebab kita sudah berubah menjadi baru di dalam Kristus (2Kor 5:17). Hidup baru itu sudah ada di dalam orang baru, dan di dalamnya ada kekuatan atau kuasa Allah untuk taat, jangan ragu-ragu, pasti bisa. Roh Kudus akan menolong, orang-baru pasti bisa mentaati Firman Tuhan.
Orang yang taat akan Firman Tuhan itu bahagia, istimewa orang-orang yang taat akan peraturan-peraturan hidup nikah dari Firman Tuhan, maka pasti hidup nikahnya juga bahagia dan Allah menjadi jaminannya.
Lukas 11:28 Tetapi Ia berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

3.  MEMELIHARA HIDUP NIKAH

Sering kali dalam membeli mesin-mesin besar, selain biaya untuk pembelian, harus disediakan biaya untuk maintenance, untuk pemeliharaan. Pemeliharaan itu sangat vital, penting!
Kalau barang-barang saja harus dipelihara supaya enak dipakai dan tahan lama, apalagi hidup nikah.
Dunia ini penuh dengan dosa, penuh dengan godaan dan serangan-serangan yang dahsyat untuk hidup nikah, sebab itu hidup nikah kita harus dipelihara, supaya tetap manis dan bahagia.
Pada akhir zaman ini dosa meningkat luar biasa. Budaya dosa (sehari-hari hidup di dalam dosa) itu sudah biasa. Ini juga masuk dalam hidup nikah orang-orang beriman yang tidak dijaga/ dipelihara sehingga nikahnya rusak, jadi kacau. Hakikat atau prinsip-prinsip nikah jadi berubah, sudah diubah manusia dan kebudayaannya. Memang manusia dan kebudayaannya sering berubah.
Prinsip, tujuan, kondisi dan segala segi-seginya diubah. Dicocokkan dengan pikiran, kehendak dan nafsunya.
Kita harus mengerti mengapa Tuhan membuat pernikahan. Mengapa dua orang itu dijadikan satu dalam pernikahan. Seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mau hidup bersama karena kasih, menjadi satu di dalam Tuhan, sehingga manusia menjadi lebih baik untuk tujuan hidupnya ke Surga (Kej 2:18).
Tujuan hidup kita bukan dunia. Dunia ini hanya tempat transit. Tujuan kita itu ke Surga!
Di dalam nikah itu suami dan istri menjadi satu supaya dapat sampai di Surga dalam keadaan yang lebih baik, lebih indah dan lebih mulia.
Ini tujuan pernikahan, sehingga keduanya yang menjadi satu, mencapai tujuan yang lebih baik. Ini suatu rahasia yang besar, seperti Kristus dan sidang-Nya. Dan satu kali mereka akan masuk dalam kemuliaan Surgawi.
Jadi pernikahan itu adalah 2 orang, laki-laki dan perempuan, yang mencintai satu sama lain, yang mau menjadi satu, tidak terpisah lagi selama-lamanya, untuk bersama-sama menuju ke Surga dengan lebih baik, lebih efektif.
Ini hakikat pernikahan yang suci dari Allah. Orang dunia yang tidak takut akan Allah dan tidak punya tujuan hidup yang kekal, maksud dan tujuan nikahnya lain dari kita.
Maksud dan tujuan hidup orang dunia adalah dunia! Hidup untuk dunia. Nikah untuk dunia. Hidup untuk yang fana, untuk senang-senang; Hidup hanya satu kali, nikmatilah, senang-senanglah semaksimal mungkin dengan segala hal dalam dunia ini, lalu … tamat/ mati. Inilah semboyan mereka.
Mereka tidak punya tujuan kekal. Tujuannya hanya dunia. Sebetulnya mereka akan pergi ke … Neraka.
Tetapi mereka tidak tahu. Mereka mengira hidup hanya satu kali di dunia ini saja. Sebab itu mereka berusaha menyenangkan dirinya selama hidup.
Sebab itu kita melihat mereka dengan sendirinya hidup untuk makan (bukan makan untuk hidup). Mereka hidup untuk mammon, cari uang. Hidup untuk kawin, supaya bisa memuaskan nafsu dan nalurinya.
Orang dunia nikah untuk apa? Untuk pemuasan sex, untuk senang, untuk kedudukan, untuk tujuan-tujuan politik, untuk dapat uang lebih banyak, dan seterusnya.
Ada seorang pemuda berkata: “Saya ini anak satu milyard,” sebab ia adalah anak tunggal dan rumah orang tuanya berharga satu milyard, dan itu pasti menjadi warisannya. Orang-orang yang mengerti langsung tertarik, sebab dapat menantu/ jodoh 1 milyard, yang lain-lain sudah tidak dipedulikan (apakah orangnya begini atau begitu, sifatnya, kemampuannya dan sebagainya). Sebab yang pasti, siapa yang nikah de-ngan dia dapat 1 milyard, cepat jadi orang kaya. Ini tujuan hidup orang dunia.
Sebab itu ada juga yang mau menjadi istri ketiga atau keempat sebab langsung menjadi OKB (orang kaya baru).
Mereka mau sebab tujuan hidupnya hanya dunia, hidup untuk uang, untuk dapat senang (karena katanya: “untuk apa hidup nikah kalau tidak senang!”).
Orang seperti ini rapuh, pernikahannya rawan. Kena sedikit yang tidak enak sudah bingung, stress, tidak tahan bantingan. Mengapa?
Sebab tujuannya nikah supaya senang, kenyataannya susah, pahit, mereka bingung: “Mengapa begini?!”
Tujuan orang dunia lain dengan kita. Sebab matanya tidak celik. Mereka hanya bisa melihat dunia yang kelihatan saja (Ibr 11:27/ 2Pet 1:9/ 2Kor 4:18).
Sebab itu pernikahannya lain, prinsipnya lain. Nikah seperti ini tidak bisa setia. Sebab tujuannya dunia. Kalau nikahnya karena sex, dan lain kali ada orang yang jauh lebih sreg, dengan mudah mereka “pindah” (= cerai)! Akibatnya kehancuran, perkelahian dan kepahitan! Dan mereka cerai dengan mudah, itulah orang dunia!
Orang dunia tidak punya prinsip dan tujuan hidup yang kekal. Mereka hanya hidup menurut mode, kebia-saan, tradisi atau kebudayaan dan nalurinya. Semua ini terus berubah, lama-lama menjadi kebudayaan global, artinya kebudayaan seluruh dunia menjadi satu. Segala macam kemauan, segala macam kehendak dan nafsu ada dalam kebudayaan global, pilihan tidak terbatas. Dengan kata lain bisa pilih semau gue. Inilah kebudayaan semau gue.
Ini sudah dinubuatkan di dalam Alkitab. Orang kawin-mengawinkan seperti zaman Lut (Luk 17:26-27), mereka kawin cerai semaunya sendiri. Kawin dengan siapa saja yang disukainya, dan cerai sewaktu-waktu.
Kejadian 6:2-3 Maka dipandanglah oleh anak laki-laki Allah akan anak perempuan manusia sebab elok parasnya, lalu diambilnyalah bagi dirinya akan bini barangsiapa yang disukainya  Maka Firman Tuhan: Bahwa Roh-Ku tiada akan berbantah-bantah selama-lamanya dengan manusia, karena hawa nafsu jua adanya, melainkan tinggal lagi panjang umurnya seratus dua puluh tahun (TL).
Mereka mencari segala jalan supaya bisa senang hidup di dunia ini. Caranya? Tentu mereka mengatakan dengan mulutnya: harus cara yang halal.
Tetapi dalam hatinya, dalam prakteknya? Asal keinginan hatinya bisa dicapai, apa saja mereka lakukan, apalagi kalau sudah mabuk. Ini dunia.
Kita lain! Tujuan kita Surga Bumi Baru, bukan tempat transit ini. Sebab itu kita hidup untuk Kristus dan mati itu berarti Surga. Orang yang hidup bagi Kristus, mati itu untung, sebab sampai di Surga untuk selama-lamanya (Fil 1:21).
Tujuan kita lain, falsafah kita lain, cara kita lain. Kita tidak hidup untuk makan tetapi makan untuk hidup dan hidup bagi Kristus. Juga dalam nikah, bukan hidup untuk nikah tetapi nikah untuk menjadi satu, supaya bisa hidup untuk Kristus sehingga menjadi lebih baik.
Sebab itu jangan kita dipengaruhi oleh cara-cara dan falsafah hidup orang dunia.
Kehidupan nikah mereka selain rusak juga kacau. Falsafah pernikahan jadi kacau balau. Sebab itu kita perlu sekali mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang prinsip-prinsip pernikahan orang beriman, supaya tidak kacau dan tidak terpengaruh oleh prinsip-prinsip duniawi yang begitu banyak ada di sekitar kita (bahkan sampai masuk dalam beberapa gereja).
Tujuan kita lain! Tujuan kita Surga!
Nikah orang beriman itu ada caranya, ada syaratnya, harus ada kesetiaan. Orang nikah dalam Tuhan tidak boleh cerai, dua menjadi satu, tidak lagi dipisahkan, harus setia sampai mati.
Maleakhi 2:16 Karena bencilah Aku akan talak, demikianlah Firman Tuhan, Allah orang Israel, dan akan memberi malu kepada bini yang sopan, demikianlah Firman Tuhan serwa sekalian alam! Sebab itu ingatlah baik-baik, jangan kamu pakai kuatmu akan berbuat khianat! (TL)
Setia sejak dari permulaan, dari pengantin baru sampai jadi tua, sampai menjadi kakek nenek, sampai di kubur.
Jadi maksud, tujuan, falsafah dan cara-cara hidup nikah dunia dan orang beriman itu lain, juga kepuasan dan kesukaannya lain!
Orang dunia kalau dapat yang fana baru puas, sebab hanya itu yang dikenalnya. Tetapi orang-orang beriman, kalau tidak masuk dan tinggal dalam hadirat Tuhan, ia tidak puas, sebab ia tahu di dalam Tuhan, di dalam hadirat-Nya itu ada kesukaan dan kepuasan yang sangat dalam Maz 16:11.
Hal-hal dunia itu hanya pelengkap (1Kor 7:31). Kalau ada baik, kalau tidak ada pun tidak apa-apa, tetap puas di dalam Kristus dan bahagia.
Kesukaan dunia itu sebentar dan palsu, lebih-lebih kesukaan hawa nafsu
Pengkhotbah 7:6 Karena seperti bunyi duri terbakar di bawah kuali, demikian tertawa orang bodoh. Inipun sia-sia.
Cepat hilang!
Amsal 14:13 Lagi dalam tertawapun hati akan merasai sakit, dan akhirnya kesukaan itu kedukaan juga (TL).
Kesukaan dalam dunia itu adalah kesukaan anggur Sodom yang penuh hawa nafsu, yaitu ular tedung. Habis minum senang, mabuk lalu mati!
Ulangan 32:32-33 Sesungguhnya, pohon anggur mereka berasal dari pohon anggur Sodom, dan dari kebun-kebun Gomora; buah anggur mereka adalah buah anggur yang beracun, pahit gugusan-gugusannya. Air anggur mereka adalah racun ular, dan bisa ular tedung yang keras ganas.
Apa lagi kesukaan nafsu-nafsu sex di luar nikah. Simson senang sesaat tetapi kemudian menderita teraniaya sampai binasa. Orang-orang Israel di Baal Peor, penuh gairah dan kesukaan sex dengan perempuan-perempuan Median, tetapi kemudian mati dengan mengerikan.
Daud bersukacita sesaat dalam nafsunya tetapi menderita sepanjang seluruh sisa hidupnya gara-gara kesenangan sex yang hanya sesaat itu.
Solaiman hanya indah sebentar, lalu jatuh dan rusak seluruh sisa hidupnya sebab mengejar kepuasan nafsunya tanpa peduli mana yang boleh dan yang tidak.
Tidak ada rumah tangga yang dapat terus berseri-seri kalau ada dosa di dalamnya, apalagi dosa istimewa ini (1Kor 7:18). Tetapi hidup nikah yang suci itu masuk dalam hadirat Tuhan dan menikmati kestabilan, kesetiaan dan kemanisan hidup nikahnya sampai kekal. Juga kesukaan dan kepuasannya mantap dan bahagia, asli dan manis.
Kita lihat falsafah dan cara hidup orang dunia lain, juga kesukaan dan kepuasannya tidak sama dengan orang beriman. Sebab itu jangan terpe-ngaruh. Cocokkan dengan Firman Tuhan. Jangan dicocokkan dengan TV, dengan tetangga, dengan majalah, dengan pergaulan, dengan advertensi-advertensi dunia, lain! Kembali kepada Firman Tuhan. Back to the Bible!
Firman Tuhan tidak pernah berubah (sekalipun tubuh Kristus juga menjadi global, tubuh Kristus sedunia), tujuannya tetap: Surga, peraturannya tetap dan harus setia, harus hidup dalam kesucian, tidak boleh cerai, sehingga menjadi lebih baik untuk ke Surga. Peraturannya tetap tetapi lain dengan peraturan-peraturan dunia.
Ada 2 orang transit (singgah) di suatu airport. Kebetulan mereka dari negeri yang sama. Mereka berkenalan dan jadi akrab sekali.
“Jangan kuatir, kita transit 4 jam”, kata si teman baru ini, kita pakai waktu ini untuk bermacam-macam hal yang mengesankan. Tetapi teman yang lain itu berkata, tadi saya dengar tempat transitnya bukan di sini, juga waktunya hanya 1 jam. Tetapi teman yang pertama itu berkata: “Ah sama saja, kalau transit semuanya sama, peraturannya sama”.
Lalu keduanya masuk dalam tempat yang sama, berbelanja bersama, makan bersama, tetapi sebetulnya tujuannya berbeda! Sesudah selesai, waktu check in kembali (masuk pesawat) ternyata teman yang satu sudah masuk pesawat, teman yang lain ditolak sebab karcisnya lain, tempat menunggu (transitnya) lain, jam menunggu juga hanya 1 jam, tempat check in-nya juga lain, semuanya lain, peraturannya lain.
Sesudah setengah mati mencari tempatnya yang tepat, ternyata kapal terbangnya sudah berangkat dan kapal terbang berikutnya baru 1 minggu kemudian. Uangnya terbatas, ia terpaksa keluar dari airport, tidak punya tempat, tidur di sana sini, makan tidak karuan, akhirnya sakit keras, tidak bisa berangkat dan mati di kota itu, ia tidak pernah sampai di tempat tujuannya.
Tujuan kita ke Surga!
Betul kita sama-sama dari bawah dan tempat transit kita juga sama dengan orang dunia, yaitu dunia ini, tetapi tujuan kita lain! Tujuan kita ke Surga! Tujuan kita bukan ke Neraka! Sebab itu peraturan-peraturan kita juga lain, jangan disamakan dengan orang yang tujuannya ke Neraka atau Tasik Api, nanti kacau, bingung, tertinggal dan tidak pernah sampai di tujuan yang dirindukan! Peraturan kita adalah dari Firman Tuhan. Tetap taat akan peraturan-peraturan Firman Tuhan serta terus memandang pada tujuan hidup yang kekal.
Jangan ikut peraturan transit dari orang-orang yang akan ke Tasip Api! Jangan ikut falsafahnya, pengertiannya, cara hidupnya, kesukaannya, taktiknya dan segala sesuatu tentang hidupnya.
Sebab itu juga kepuasan dan kesukaan orang-orang beriman lain dan jauh lebih tinggi, lebih murni, lebih aman daripada kesukaan dosa orang dunia.
Orang-orang dunia juga punya kepuasan dalam pernikahannya, dalam pesta nikahnya, dalam kemewahannya dan lain-lain. Mereka juga bersukacita dan puas, tetapi mereka tidak mempunyai kesukaan yang semurni dan seindah kita di dalam Tuhan. Mereka minum kesukaan dari dunia ini dan jadi haus lagi, tetapi kita minum dari sumber yang menjadi sungai air hidup di dalam hati kita senantiasa dan terus memancar sampai hidup yang kekal.
Yohanes 4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi.

Perempuan Samaria ini hidup untuk kawin. Tidak bisa kawin, ya gelap-gelapan, menggaet laki-laki yang bisa jadi mangsanya. Perempuan ini main dengan suaminya orang. Ada kesukaannya, tetapi lain! Kesukaannya kesukaan yang berdosa.
Tentu tidak indah, … engkau akan haus kembali! Lain daripada kesukaan dari hadirat Tuhan.
Yohanes 4:14 Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”
Kesukaan yang Tuhan berikan bagi orang-orang beriman itu asli, kwalitas Surgawi dan terus bersambung sampai kedalam hidup yang kekal. Indah!
Di dunia mungkin orang-orang dunia cukup puas, kalau perlu pindah-pindah, artinya kawin cerai terus, tetapi itupun kesukaannya palsu, kesukaan dosa yang beracun, penuh ketakutan dan kekuatiran, apalagi kalau harus mati, wai …. !
Mungkin di dunia ada juga yang rukun dan tampaknya bahagia, tetapi itu tidak terus menerus. Dalam kekekalan, di dalam Neraka tidak ada pasangan yang bisa rukun, semua perang besar. Neraka adalah tempat orang digoda dan diganggu sampai orang yang paling sabarpun jadi marah besar, sebab iblis dan tentaranya mempunyai hak menggoda dan meng-ganggu tanpa batas, di luar batas-batas kemampuan yang manapun. Tasik api itu sudah lepas dari kontrol Allah yang adil dan penuh kasih itu! Sebab itu tidak ada lagi pasangan yang rukun di Neraka, semua saling gigit dan mencakar dengan kebencian yang berapi-api.
Kesukaan hidup nikah yang sesuai dengan Firman Tuhan itu indah. Karena hidup nikah yang suci, maka dua menjadi satu, saling memiliki, suami memiliki istri, istri memiliki suami, bukan seperti terhadap orang lain, tetapi seperti dirinya sendiri. Suami menjadi kepala dengan kasih dan istri menjadi tubuh yang tunduk dan saling mencintai dengan cinta Kristus. Kesukaannya lain. Kesukaan orang dunia itu hanya sebentar dan tidak senikmat orang beriman! Nikah orang dunia itu seperti pesta kawin di Kana, anggurnya cepat habis, cepat bosan, cepat tawar, apalagi kalau banyak penderitaan, tidak tahan, akhirnya berpisah, atau saling menjauh, hidup sendiri-sendiri.
Sebab tujuan hidupnya ialah bersenang-senang selagi hidup di dunia, kalau menderita, tidak tahan, untuk apa kawin?! Ini pesta kawin Kana! Tetapi sejak Yesus datang, semua berubah. Mereka mendapat limpah anggur dan orang yang ahli di dalam hal ini, kepala perjamuan menjadi heran sebab anggurnya luar biasa, begitu nikmat, lain dari pada sebelumnya dan lain dari pada yang lain, kesukaan yang murni, indah dan abadi.
Sebab itu jangan mau terpengaruh oleh orang-orang berdosa dalam dunia ini. Juga pemuda-pemudi Kristen jangan berdosa, jangan bawa masuk segala cara, istilah dan bela dari dunia. Misalnya ada tante girang, om senang, PIL, WIL, tacik bingung dan sebagainya. Ini bukan bagian kita, ini bagian orang-orang berdosa yang aneh dan gila.
Belajar hidup dalam kesucian, mengerti kehendak dan syarat-syarat Allah serta taat, masuk dalam pernikahan yang betul, jangan karena uang, jangan semata-mata karena nafsu, jangan karena kedudukan, ja-ngan karena mancari senang, jangan karena pelarian sebab terjepit di rumah, ketemu siapa saja langsung kawin, jangan! Tetapi nikah karena cinta dan yakin itu jodohnya dari Tuhan sehingga bisa menjadi satu untuk seterusnya.
Dengan demikian bisa menjadi lebih baik untuk ke Sorga. Kalau yang diajak menjadi satu ini kira-kira tidak baik untuk perjalanan ke Sorga, jangan diambil. Cari yang baik, teman seperjalanan ke Sorga yang bisa menjadi satu tanpa dapat diceraikan lagi.
Kalau duduk di bis atau Kereta Api Surabaya Jakarta dekat orang yang berbau, banyak lalat karena boroknya, apalagi kalau mengidap penyakit menular, lebih baik berdiri sendirian. Apalagi untuk ke Sorga, perjalanan seumur hidup dan menjadi satu untuk selamanya! Kita harus yakin itu jodoh dari Tuhan, sungguh-sungguh cinta, dan yakin bahwa bersama-sama de-ngan orang ini perjalanan ke Sorga akan menjadi lebih baik.

KEINDAHAN HIDUP NIKAH ORANG SUCI.


1. SUKACITA DAN DAMAI DARI  TUHAN YANG INDAH.

Yohanes 7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku (pada Firman), seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.
Bukan damai yang tergantung dari dunia ini, tetapi damai yang terus menerus memancar di dalam kita, tanpa bergantung pada sikon dan dunia sekitarnya.
Orang dunia senyum dan senang kalau melihat yang indah, makan enak, dapat sesuatu, semua dari luar.
Tetapi orang beriman senyum karena ada kesukaan yang memancar dari dalam hatinya. Biarpun setiap hari melihat yang biasa dan yang membosankan, biarpun makanannya biasa, biarpun tidak mendapat apa-apa, bahkan mendapat kesukaran, hatinya tetap damai dan puas, sebab di dalam hatinya ada sumber air hidup yang terus memancar.
Sukacita dan damai dari Tuhan itu lain. Hidup nikah di dalam Tuhan itu limpah dengan sukacita, mengapa? Sebab hidup dalam kesucian. Suami suci, istri suci dan setia. Ini luar biasa, ada kesukaan yang indah dan tidak kuatir. Istri tidak kuatir akan suaminya, juga suami tidak curiga akan istrinya, tetapi keduanya saling mempercayai puas dan sukacita di dalam hadirat Tuhan. Tidak memikirkan harta terpisah, tidak menyembunyikan deposito sendiri-sendiri, tidak kuatir hari esok, tidak curiga ini dan itu, tetapi suami istri terbuka dan transparant satu sama lain.
Suami menjadi kepala, istri menjadi tubuh dan bersatu dengan manis, dengan suci, setia, masing-masing tahu kedudukannya. Kesukaan dan keindahannya lain, tidak ada dalam dunia, lebih nikmat, lebih puas dan manis sampai kekal.
Mengapa? Sebab orang dunia tidak bisa hidup suci, sebab itu mereka tidak bisa menjadi satu dengan indah. Ini suatu rahasia dari orang-orang suci, bisa menjadi satu dengan indah menjadi satu sebagai kepala dan tubuh, menjadi satu dengan harmonis dan manis. Sebab itu orang berdosa tidak bisa menikmati kesukaan yang indah dan nikmat dari hidup nikah orang suci.
Kalau orang-orang beriman mengerti dan taat, maka mereka akan menikmati suatu kenikmatan yang tidak bisa dipalsu di dunia, lain! Tiruannya di dunia lain sama sekali.
Ada orang di luar negeri mau membuat rawon, tetapi tidak ada kluwek (bumbu khas untuk rawon). Sebab lama mencari-cari bumbu yang serupa tidak ada, maka diberi kecap sampai hitam, tetapi rasanya lain, tidak sama, bahkan membuat muntah.
Kalau tidak sama, rasanya juga lain.
Dalam pernikahan yang suci limpah kasih yang tulus.
SUAMI mengasihi istri. Kasih yang penuh pengorbanan, penuh penyang-kalan daging, sehingga tetap hidup suci dan limpah kasih kepada istri sendiri, bukan kasih pada perempuan yang lain, sebab itu semua sudah disalibkan, dimatikan. Suami cinta istri sendiri. Apa tandanya kalau ada cinta? Setiap kali ada salah, selalu tidak dihitung, selalu diampuni. Semua yang jelek dan keliru tidak kelihatan, selalu tampak prima sebab cinta.
Kalau sedikit-sedikit tersinggung, jadi pegel benci dan dendam, itu tandanya tidak mau korban, tidak mau mengalah sebab kurang atau tiada cinta. Orang yang cinta itu mengerti mengampuni 70 x 7 sehari. (Pengampunan yang tuntas, tanpa syarat tanpa batas). Kalau ada cinta, ini bisa dimengerti dan tidak mustahil. Orang dunia tidak mengerti rahasia ini sebab mereka tidak bisa hidup suci, sehingga cintanya tidak bisa bertahan. Tanpa cinta sulit mengerti 70 x 7 dan rahasia-rahasia hidup nikah lainnya. Tanpa kesucian cinta akan lekas bocor, habis, tetapi orang yang suci, cintanya tidak bocor, bahkan cintanya akan ada peningkatan terus menerus. Suami, kasihilah istrimu sendiri!
ISTRI tunduk kepada suami sendiri dan menghormatinya. Istri yang tidak tunduk dan tidak hormat kepada suaminya itu belum mengerti Firman Tuhan, ia hidup salah di hadapan Tuhan. Mau menjadi istrinya itu berarti mau tunduk kepadanya. Istri yang tunduk dan menghargai suaminya sepenuhnya itu mengerti rahasia kebenaran Firman Tuhan. Sekalipun istrinya berpendidikan tinggi sampai menjadi sarjana dan suami hanya jualan es dan berpenghasilan kecil, istri harus tetap tunduk pada suami yaitu kepalanya. Sekalipun berbeda banyak hal dan istri lebih tinggi, tetapi istri yang mengerti dan taat, ia mau tunduk dan menghargai kepalanya di hadapan Allah dan manusia. Suami harus ditaruh di atas, dia kepala, bukan ditaruh di alas sepatu! Kepala ini dihargai! Istri yang tidak menghargai kepala, itu menghina Firman Tuhan dan Allah yang menciptakannya sebagai perempuan. Suami harus dihargai, maka kenikmatan hidup nikahnya indah.
Masing-masing tahu tempat dan kedudukannya dalam hidup nikah. Biarpun menjadi satu, tetapi jangan bicara seenaknya sampai menyakiti hati. Hati dan Mulut ini harus dipelihara dalam kesucian, sehingga yang keluar dari mulut selalu menjadi berkat dan membuat sukacita, sekalipun kadang-kadang pada waktu diperlukan ada juga nasehat, teguran dan koreksi tetapi tetap limpah dengan cinta.
Semua segi hidup nikah ini harus dipelihara.
Ada 2 bersaudara membeli sepeda motor baru yang sama. Sesudah 3 tahun yang satu tetap seperti baru dan tok cer, tetapi yang lain seperti besi tua, mengapa? Bedanya pada pemeliharaannya saja.
Kalau mesin tidak dipelihara, umurnya pendek, apalagi hidup nikah yang banyak tantangan dan godaannya, itu betul-betul mutlak perlu dijaga dan dipelihara; “mahal ongkosnya”, tetapi hasilnya sangat manis. Kesukaannya, cintanya, pengertiannya, persatuannya, semuanya akan tahan lama dan tok cer.
Ini suatu rahasia. Suci, menjadi satu sebagai kepala dan tubuh; Suami mencintai istrinya sendiri dengan penuh pengorbanan dan penyangkalan diri, dan istri tunduk serta menghormati suaminya dengan tulus, itu kenikmatannya yang indah yang tidak bisa ditiru dan dipalsu!
Kesukaan hidup nikah orang Kristen itu indah dan ajaib kalau mengerti dan taat.
Kejadian 26:8 Maka sekali peristiwa, setelah sesudah lama ia diam di sana, ditengoklah oleh Abimelekh, raja orang Filistin, dari pada tingkapnya; sesungguhnya terlihatlah ia akan Ishak itu tengah bergurau dengan Ribkah istrinya (TL).
Salah satu tanda suami istri yang normal ialah mereka bisa bergurau dengan manis seperti Ishak dan Ribkah. Meskipun bukan pelawak, hal-hal yang biasa dalam hidup sehari-hari bisa menjadi sesuatu yang indah dan menjadi bahan tertawa bersama. Bisa bergurau satu sama lain adalah tanda hidup nikah yang harmonis dan manis, sebab mudah bersukacita.
Biarpun ada tekanan ekonomi, tekanan keluarga, tekanan dalam pelayanan dan sebagainya, kalau hubungan suami istri baik, mereka masih bisa bertahan, bisa bergurau dan tertawa bersama. Bisa tertawa dan bergembira bersama itu tanda kehidupan nikah orang beriman yang normal.
Kalau setiap kali hanya ribut, geger, berkelahi terus, baik tentang hal yang kecil dan besar, itu berarti hidup nikah itu tidak sehat.
Kapankah suami istri terakhir bergurau dengan sendirinya?
Ini termasuk check up yang penting dari hidup nikah kita. Kalau suami istri sudah tidak bisa tertawa satu sama lain, itu berarti hidup nikahnya sakit keras! Jangan menganggap hal ini ringan, tidak apa-apa, ini sakit berat.
Datang kepada Tuhan Yesus dan datang kepada satu sama lain untuk membereskannya (Yak 5:16). Kalau perlu jangan segan-segan minta bantuan gembala sidang atau seorang sahabat di dalam Kristus yang kesaksian hidup nikahnya baik. Datanglah kepada Tuhan Yesus, Dia pasti bisa menolong. Belajarlah mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang hidup nikah dan mengertilah kesalahan masing-masing serta saling mengakui, saling mengampuni lalu kembali seperti semula. Hidup nikah orang beriman yang normal itu manis dan sangat nikmat!

2. DIBERKATI OLEH TUHAN

Mazmur 128:1-6 Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!
Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!
Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.
Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu! Damai sejahtera atas Israel!
Rumah tangga orang beriman diberkati Tuhan sebab suami istri menjadi satu, itu indah. Semua anggota keluarga, masing-masing diberkati Tuhan, baik suami, istri dan anak-anak. Diberkati jasmani dan rohani.
Tuhan memberkati rumah tangga orang beriman itu bukan berarti tidak ada problem atau kesulitan-kesulitan.
Anak-anak itu berkat dari Tuhan (Maz 127:3/ Kej 30:1). Tetapi kadang-kadang anak-anak juga bisa menjadi penyebab dukacita yang besar selain sebab-sebab dari luar lainnya.
Jangan heran, masih ada tikaman-tikaman dukacita dari luar oleh berbagai-bagai pencobaan. Jangan lupa dunia ini tempat “transit”, dan bukan Surga, bukan tujuan kita, dan di sini kita mengalami pengolahan. Semua kesukaran-kesukaran ini menjadi pe-ngolahan, salib dan ujian bagi kita.
Ada orang ditusuk, lalu berkata terima kasih kepada yang menusuk, bahkan memberi uang.
Ada orang lain yang ditusuk dan hal itu dilaporkan ke polisi sehingga orang yang menusuk itu ditangkap. Mengapa ada yang ditusuk perutnya dan berterima kasih? Sebab maksudnya baik. Ini orang-orang yang dioperasi, perutnya ditusuk sampai ususnya keluar, mungkin dicuci atau dipotong dan dibetulkan; sesudah selesai, yang ditusuk berkata terima kasih dan memberi uang. Mengapa? Jelas! Sebab maksudnya memperbaiki, sekalipun sakit dan menderita.
Begitu juga Tuhan mengizinkan bermacam-macam kesukaran dan derita masuk menusuk rumah tangga kita (sekalipun sudah diberkati Tuhan dan indah), supaya kita diperbaiki, diolah, makin disucikan. Kita berterima kasih untuk tusukan-tusukan yang mengolah ini!
Bertekunlah dalam tusukan-tusukan itu, bahkan berterima kasih!
Ayub tidak bersalah, hidupnya memperkenankan Tuhan tanpa cacat. Tetapi ia mendapat tusukan yang dahsyat, sakit sekali. Tetapi Ayub tidak marah, ia bersyukur pada Tuhan dan bertahan.
Samuel seorang nabi yang sangat baik, tetapi hatinya sangat sakit, ditusuk perbuatan kedua anaknya yang tidak jujur.
Imam Eli cukup baik, tidak ada salah dari dirinya sendiri yang dicatat. Ia bicara dan jadi. Tetapi ia pun sangat menderita karena perbuatan anak-anaknya yang menusuk hatinya, bahkan sampai ia mati.
Kadang-kadang problem-problem dalam dunia ini menyakiti hati kita, tetapi jangan susah. Itu pengolahan yang membuat kita indah. Kalau kita mengerti, waktu ditusuk itu kita masih bisa bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan. Mengerti dan percaya. Ini pengolahan. Sekolah itu sakit. Terus belajar, belajar seperti tersiksa. tetapi orang tuanya selalu berkata: “Ini baik nak, teruskan, teruskan, jangan kecil hati, ini indah. Orang yang mengerti dan  percaya bisa tahan, sebab meskipun pengolahan itu sakit, tetapi hasilnya sangat indah.
Juga hidup nikah ini bisa merasai sakit pengolahan oleh banyak pencobaan dan ujian. Tetap sabar! Di dunia ini memang masih bisa keluar air mata, tetapi pahala dan kesukaan yang sepenuh-penuhnya akan kita dapatkan di Surga, di mana air mata sama sekali tidak ada lagi dan tidak ada lagi tusukan-tusukan dukacita, hanya sukacita dan murni (Wah 21:4).
Tahan, ini menjadi pengolahan yang baik bagi kita, dan meskipun ada beberapa susah yang Tuhan izinkan datang, tetapi akan selalu ada saldo sukacita dalam hidup nikah yang diberkati Tuhan (Yoh 16:22).
Kadang-kadang ada juga yang masih menuai sisa-sisa perbuatan dosa dan hawa nafsu masa lalu, meskipun sekarang sudah bertobat (Maz 99:8 KJ). Seorang bapak waktu kaya, kecantol (kena gait) seorang perempuan. Perempuan yang suka menggait suami orang pasti jelek, tidak tulus, biasanya karena uang atau yang lain. Waktu suaminya kaya perempuan ini menghormatinya. Sesudah tua, pekerjaannya hilang, uang tidak ada, perempuan itu tidak lagi menghargainya. Bapak ini berkata: “Istriku sangat makan hati!” Untung ia mulai mengenal Tuhan sungguh-sungguh sebab itu ia dapat bersukacita di dalam Tuhan, tetapi ia banyak menderita oleh istrinya, inilah sisa-sisa penuaian hidup dosa yang lalu.
Semua orang beriman pasti mengalami pengolahan. Anak siapa yang tidak disekolahkan?
Yakub menderita banyak susah karena tingkah pola anak-anaknya, hidupnya menjadi setengah mati, sebab ditinggal “mati” oleh Yusuf anaknya. Sebetulnya Yakub tidak perlu susah, sebab ini suatu pengolahan. Kalau Yakub tetap bersukacita, itu yang cocok! Yusuf hanya pergi sementara, bahkan masih sedang diolah di dalam sekolah Illahi untuk menjadi raja di negeri asing. Tetapi Yakub tidak punya iman. Sebetulnya Tuhan sedang menyekolahkan Yakub dalam sekolah luar biasa yang sangat indah. Seharusnya Yakub bangga dan sukacita, tetapi sebaliknya ia menderita sebab tidak punya iman. Ia hanya melihat yang kelihatan dan tidak bisa melihat yang tidak kelihatan. Akibatnya Yakub hanya bersukacita 17 tahun yang terakhir saja. Seharusnya ia bisa bersukacita sepanjang umur hidupnya. Kira-kira 22 tahun ia hidup dengan sangat menderita kena tikaman-tikaman yang dahsyat, padahal itu pengolahan.
Begitu juga hidup nikah orang beriman itu sebetulnya amat indah penuh sukacita. tetapi kadang-kadang karena tusukan-tusukan dukacita itu, orang-orang beriman yang kurang iman berdukacita. Kena pencobaan dan ujian, tetapi ini harus! Ini pengolahan.
Kadang-kadang ada juga yang kena penuaian dosa masa-masa yang lalu. Tetapi sabarlah! Semua ini mengolah kita, percayalah! Orang yang punya iman bisa bersukacita dari permulaan.
Paulus dari permulaan masuk penjara bersukacita, menyanyi-nyanyi memuji Tuhan. Padahal tubuhnya dipukul sampai hancur, tetapi sebab punya iman, ia bisa bersukacita. Paulus dan Silas tidak menyanyi dengan pura-pura, ia tidak perlu pura-pura, tetapi ia menyanyi dengan segenap hati, penuh syukur dan bersukacita. Orang-orang yang melihat, kasihan. Mereka berpikir mungkin karena penderitaan yang besar, Paulus dan Silas berubah ingatan. Tetapi sebetulnya mereka menyanyi itu, cocok dengan rencana Allah. Tidak lama kemudian tampak kemuliaan Allah turun dan seluruh isi penjara juga melihatnya, mereka melihat orang-orang ini seperti malaikat-malaikat yang datang dalam penjara, luar biasa!
Memang sukacita di dunia ini masih tercampur tusukan-tusukan dukacita. Tetapi jangan takut! Kadang-kadang anak, mertua, menantu dan lain-lain menjadi duri, tetapi bagi orang-orang beriman yang hidup suci, ini sebetulnya pengolahan.
Tentu kita harus mencari kemungkinan ada kesalahan sendiri, kalau ada, perbaiki. Tetapi kalau tidak ada kesalahan, masih mungkin menderita, ini pengolahan, jangan kecil hati. Memang demikianlah rencana Allah bagi semua anak- anakNya.
Daud dirobek-robek hatinya oleh Absalom anaknya, itu penuaian dosa-dosa zinanya dengan Betsyeba.
Tetapi Ayub menderita setengah mati tanpa salah, semata-mata ujian dan pengolahan. Jangan takut, pasti menang! Sebab pengolahan itu (kalau mau diolah, percaya, sukacita) akan membawa kemuliaan dan kesukaan yang kekal, Percayalah!
Kadang-kadang anak-anak menjadi pencobaan, tetapi kalau kita percaya, maka kita dan seisi rumah kita akan diselamatkan (Kis 16:31). Dalam masa-masa yang sulit, kadang- kadang menjadi bingung, hanyut dalam kesusahan. Tetapi kalau kita memandang kepada janji-janji Tuhan, timbul pengharapan dalam hati kita dan kita bisa memuji Tuhan dengan sukacita, apalagi kalau dikuatkan oleh Roh Kudus; Sebab itu orang beriman harus tekun berdoa di dalam Roh dan kebenaran (Efe 5:17/ 6:18/ 1Tes 5:17/ Yud 20).
Tuhan memberkati suami istri yang menjadi satu dalam kesucian Tuhan dengan berkat- berkat yang indah, jasmani dan rohani, termasuk anak-anak. Meskipun seringkali ada tikaman-tikaman dukacita untuk pengolahan, jangan kecil hati, tetap percaya kepada Tuhan dan semua akan jadi kebaikan yang manis.

3. EFEKTIP DI DALAM PELAYANAN

Suami istri yang normal, yang hidup dalam kesucian, itu dapat bekerja sama, sehati, sejiwa, sepikir, dengan penuh cinta, tidak akan tersinggung, mau berkorban untuk satu sama lain, ini persekutuan yang indah. Tuhan berjanji, kalau dua orang bersekutu bersama-sama dengan sehati berdoa, Tuhan akan mendengar doanya (Mat 18:20). Selain itu kekuatannya akan meningkat berlipat kali ganda. Ini dijanjikan Tuhan dan pasti terjadi (Ima 26:8).
Bersehati tidak mudah, tetapi bisa dicapai. Kita harus belajar untuk dapat bekerja sama di dalam Gereja, kecuali berdiri atas pelajaran dasar yang berbeda. (Sebab itu sebaiknya suami istri ada di dalam satu gereja yang sudah dipilih baik-baik berdasar kebenaran Firman Tuhan dan pimpinan Roh Kudus). Belajar bisa bersekutu dengan manis satu sama lain, belajar saling melayani dengan kasih Kristus. Yang lebih tinggi rohaninya itu dapat melayani lebih banyak sebab rohani tinggi, itu berarti tahan bantingan, tahan menderita, tahan pikul salib dan segala perlakuan yang kurang baik, dstnya sehingga dapat bekerja sama dengan sungguh-sungguh, sehati. Memang ini tidak mudah, tetapi kita harus belajar terus-menerus sampai bisa bersekutu. Biasanya suami istri punya kelebihan sehingga lebih mudah bersekutu, sebab memang secara lahir batin suami istri itu sudah diikat menjadi satu, sebagai kepala dan tubuh. Kekuatannya menurut Imamat 26:8 bisa meningkat sampai kira-kira 5-10 kali.
Kalau suami istri seperti ini melayani, dengan kekuatan yang 5-10 kali lebih besar, maka pelayanan akan lebih banyak menghasilkan buah-buah yang lebat dan sekeluarga diberkati Tuhan. Ikutlah dalam pelayanan di gereja dan mencari jiwa di luar gereja. Ada banyak pelayanan kalau mau. Masuklah dalam pelayanan, pasti berbuah dengan limpah, sebab bisa sehati. Hasilnya bagus, seperti Priskila dan Akwila, mereka dengan sehati melayani Tuhan (Kis 18:26/ Rom 16:3-4). Mereka melayani bukan dalam masa-masa yang baik, tetapi dalam ancaman yang hebat, mereka lari dari Roma dan melayani banyak orang.
Banyak orang diberkati dalam pelayanannya, sebab meskipun dalam kesukaran, mereka bisa melayani dengan sehati dengan persekutuan yang manis. Bisa sehati itu indah, misalnya waktu ada yang salah, mereka saling menasehati dan tidak tersinggung tetapi berubah menjadi baik, maka pelayanan tidak terganggu, tetapi bisa berlangsung terus dengan baik sehingga berbuah-buah.
Melihat salah sendiri itu sulit, tetapi salah orang lain itu jauh lebih mudah dan lebih cepat kelihatan seperti orang mencari kutu di kepala.
Saling mengampuni juga ringan kalau ada kasih, sebab kasih itu menutup banyak kesalahan.
1Petrus 4:8 Tetapi yan terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
Kita ini belum sempurna, biasanya masih ada saja kesalahan yang timbul. Kalau tidak dapat saling mengampuni, persekutuan akan cepat pecah!. Mau dan bisa saling mengampuni itu memelihara persekutuan.
Suami istri kalau bisa bersekutu saling menasehati, saling menguatkan, setia satu sama lain, sehingga sehati itu indah, bisa menjadi contoh untuk seluruh pelayan Tuhan yang lain.
Di dalam hal uang, hampir semua  suami istri sudah menjadi seperti Kisah 2:44-45. Tetapi dalam gereja, rata-rata belum bisa. (Nanti saatnya akan datang ayat ini bisa digenapkan dalam Gereja-gereja, tetapi banyak suami istri sudah bisa).
Semua suami istri yang sudah mengerti, harus belajar bersehati dalam pelayanan sehingga mereka tumbuh dengan pesat dan indah di dalam Tuhan. Pelihara hidup nikah dan setia melayani dengan baik, pasti satu keluarga akan tumbuh dan diberkati. Dua orang yang sehati akan mencapai jauh lebih banyak dari sendiri-sendiri.
Ini menjadi contoh untuk belajar bersekutu dalam jumlah yang lebih besar lagi.
Memang seharusnya (wajar) kalau orang menikah itu menjadi lebih baik secara jasmani dan rohani, inilah keindahan nikah orang beriman :

  • Sukacita, sekalipun dalam pengolahan.
  • Diberkati
  • Efektip dalam pelayanan sehingga berbuah-buah.

Selain itu, kita perlu mengenali kerusakan-kerusakan hidup nikah tingkat demi tingkat, ini perlu untuk:
1. Mendapat gambaran yang lebih jelas dari hidup nikah yang normal, yang tidak mengalami kerusakan.
2. Dapat menolong pernikahan yang rusak sehingga menjadi semakin baik sampai akhirnya pulih menjadi normal kembali.
Sebab itu di bawah ini ada pelajaran tentang itu.

TINGKATAN-TINGKATAN KERUSAKAN HIDUP NIKAH

Pernikahan yang rusak itulah hidup nikah yang terisi macam-macam dosa (uang, sombong, benci, dusta, ocultisme dan lain-lain istimewa perzinahan) dan akhirnya cerai.
Sebab yang utama dari kerusakan dari hidup nikah adalah dosa-dosa sex, tidak setia dalam pernikahan. Tetapi bisa juga karena uang, karena tidak mengerti kedudukan suami istri dan kewajibannya, karena hidup nikah dan rohani tidak dipelihara dan lain-lain.
Suami istri sebagai kepala dan tubuh, bagaimanapun juga tidak boleh diceraikan dengan alasan apapun jua, itu melawan Firman Tuhan dan ini termasuk dalam dosa perzinahan
Hati-hati dengan banyak tafsiran/ ajaran baru yang menyesatkan. Teori-teori baru ini banyak yang mengizinkan perceraian dengan alasan-alasan tertentu dan mereka juga memakai ayat-ayat Firman Tuhan. Bahkan beberapa teori atau ajaran yang lebih hebat dapat membuktikan bahwa pernikahan sejenis (antara laki dengan laki atau perempuan dengan perempuan) itu boleh diberkati di Gereja, dan mereka dapat memberikan ayat-ayat pendukungnya. Ini ajaran-ajaran yang cocok untuk daging, fresh from the hell!
Orang yang berzinah tidak boleh masuk kerajaan Surga, artinya mereka akan masuk neraka kekal. Ini pasti! Kalau sampai mati tidak bertobat dari dosa perzinahannya, pasti masuk neraka. (Juga dosa-dosa lain). Ini jelas dikatakan dalam Firman Tuhan (Gal 5:19-21/ Ef 5:5/ Wah 22:15/ I Kor 6:9-10).
Poliandri (bersuami lebih dari satu resmi atau tidak) atau poligami (beristri lebih dari satu, resmi atau gelap), itu semua termasuk hidup nikah yang rusak dan perzinahan.
Kerusakan-kerusakan hidup nikah ini ada beberapa tahap. Ada dua pembagian yaitu: Yang dibagi dalam 7 tahap dan dalam 4 tahap.
Yang dibagi dalam 7 tahap (lebih halus) adalah sebagai berikut:
1. Hidup nikah yang tidak harmonis.
2. Benih-benih perceraian.
3. Timbul keinginan cerai.
4. Usaha bercerai.
5. Perceraian tersembunyi.
6. Perceraian nyata (sudah cerai).
7. Perceraian yang permanent, ini tingkat terakhir yaitu perceraian yang betul-betul rusak dan tidak lagi mau atau tidak bisa dibetulkan.
Pembagian yang lain yaitu dalam 4 tahap adalah sebagai berikut
I. Perceraian tingkat benih (=1 & 2
II. Perang dingin (= 3 dan 4).
III. Perang terbuka (= 4 dan 5).
IV. Rusak (= 6 dan 7).

I. TINGKAT BENIH.

Mula-Mula rumah tangga menjadi tidak harmonis, ini sudah permulaan kerusakan. Untuk orang dunia, hal seperti ini normal, biasa, terus geger dan berkelahi. Untuk anak Allah, ini tidak wajar, tidak betul, ada sesuatu yang tidak beres.
Harmonis itu bukan ideal, itu hidup nikah orang beriman yang wajar.
Menikah yang betul itu manis (ada banyak pernikahan yang tidak betul, sebab mereka menikah bukan karena kasih yang tulus dan suci, tetapi karena kasih daging, atau mammon, atau sebab-sebab lain). Justru hidup nikah yang tidak manis, tidak harmonis, itu yang tidak betul, harus periksa diri, sebab pasti ada sesuatu yang tidak beres. Jangan hanya menyalahkan pihak yang lain, tetapi periksa diri sendiri, kalau perlu tanyakanlah pada suami/ istri, apa salah saya. Orang yang sungguh-sungguh mau memeriksa diri dan bersedia memperbaiki, Roh Kudus pasti akan berbicara di dalam hatinya sehingga ia sadar! Roh Kudus itu hidup dan maha tahu sebab Ia Allah!
Tidak ada orang yang sempurna. Jangan takut kedapatan salah, kalau ada akui dan perbaiki.
Seringkali kita merasa semua baik, tahu-tahu dalam kesukaran atau ujian, baru kita melihat beberapa kesalahan dan kekurangan-kekurangan kita.
Ada orang yang belum sadar kalau ia pemarah dan pendendam. Suara dan gaya bahasanya halus. Tetapi waktu ia tersinggung, dirugikan, baru tampak macam-macam kekurangannya. Sifat-sifat jeleknya terangsang, muncul semua sekaligus bersama- sama. Tetapi kalau toh masih ada hal-hal jelek yang belum dibuang, dalam nama Tuhan Yesus buanglah dan ganti dengan sifat-sifat Kristus yang baru, yang sudah diberikan pada kita sejak lahir baru. Ada istri yang sangat halus dan lemah lembut, sampai-sampai kalau bicara hampir-hampir tidak kedengaran. Orang-orang berkata: “Wah, istrimu sabar dan lemah lembut”. Suaminya senyum-senyum saja, tetapi senyum penuh arti, sebab di rumah, kalau sudah ngambek, sudah marah, wah.. istrinya seperti macan betina.
Tetapi suami yang cinta itu penuh pengampunan. Hidup nikahnya masih harmonis, hanya saja si istri masih perlu pengolahan.
Tetapi kadang-kadang, si istri bersalah, suami tidak bisa mengampuni, terjadi gap dan hilang kemanisan rumah tangga, ini sudah tidak harmonis. Biasanya ada sebabnya. Mengapa si suami tidak bisa mengampuni? Mengapa si istri tidak lagi menghargai suaminya? Ini pasti ada sebabnya, ada sesuatu yang tidak beres, perlu diselidiki dan diperbaiki. Datanglah di bawah kaki Tuhan Yesus, biarlah Roh Kudus bekerja dan bicara, maka semua salah akan kelihatan, dan orang yang mau bertobat dan mau diperbaiki akan diperbaharui dan dipulihkan kembali.

Ingat, tidak ada pernikahan yang sempurna. Tetapi kalau kita mau tumbuh, hidup nikah akan manis. Kalau toh ada kesalahan yang kelihatan, itu kesempatan untuk mengenali mana-mana yang kurang dan memperbaikinya, ini kesempatan untuk tumbuh. Lebih-lebih suami-istri yang mau dicuci di dalam kelimpahan Firman Tuhan (Efe 5:26), ia akan makin meningkat dalam kesucian dan kemanisan, dan kasih suami-istri pun tumbuh. Biarlah kelimpahan Firman Tuhan dan kelimpahan hadirat Tuhan menumbuhkan hidup nikah kita makin serupa dengan Dia.
Jangan rohani kita macet pertumbuhannya.
Jangan kelemahan dan sifat-sifat yang jelek dibiarkan menjadi penyebab rutin dari rumah tangga yang tidak harmonis. Kalau kita tahu kesalahan-kesalahan itu, berubahlah, buang. Tuhan Yesus sudah mati bagi kita untuk itu, supaya kita berubah menjadi orang yang baru di dalam Kristus (2Kor 5:17).
Misalnya istri yang tidak tumbuh, bantahan, tidak menghormati suaminya. Suami yang tidak sayang pada istri, kurang cinta, kurang menyangkal diri, tidak bijaksana sebagai kepala, hanya marah-marah saja. Tidak ada pengampunan yang penuh (70 x 7 sehari Mat 18:22, TE 40) sehingga masih dendam, benci, tersinggung atau kecewa dan lain-lain. Ini semua mengganggu keharmonisan hidup nikah.
Belum lagi persoalan dari anak-anak, persoalan kesehatan, persoalan ekonomi dan persoalan-persoalan dari luar lainnya yang tidak pernah habis.
Kadang-kadang si suami sudah berubah, tetapi si istri tetap saja dalam kelemahan dan kesalahan-kesalahannya (atau sebaliknya). Sudah diberi tahu kesalahannya supaya berubah, tetapi tidak segera berubah, ya sudah. Harapkanlah 5 tahun lagi berubah. Kalau 5 tahun lagi belum berubah, sabarlah, harapkanlah 10 tahun lagi ia berubah. Kalau sesudah inipun belum berubah, tetaplah sabar, jangan putus asa, sebab dengan demikian kita sendiri sudah menjadi sabar, penuh pengampunan dan kasih sehingga dengan tidak terasa kita sendirilah yang sudah diolah semakin indah di hadapan Tuhan. Tidak rugi sama sekali!
Jangan putus asa, harapkanlah dan doakan terus supaya di dalam sisa umur hidupnya dia akan berubah.
Jangan mudah kecewa. Kecewa itu membuat rumah tangga menjadi tawar. Semua kesegaran hilang, seperti kembang yang layu, krupuk yang melempen. Kecewa ini membuat rumah tangga tidak harmonis. Ampuni! Terima apa adanya. Jangan menuruti perasaan hati lalu menjadi kecewa, tolak! Kalau mau mengampuni pasti untung segala-galanya! Kita wajib mengampuni, dan berilah nasihat. Suami-istri harus saling mendidik, tetapi dengan kasih.
Ada 2 orang perempuan bersaudara yang sifatnya sama-sama jelek dan sama-sama menikah. Sesudah beberapa tahun, yang seorang tetap jelek, yang lain menjadi baik. Mengapa? Sebab dalam hidup nikah perempuan yang berubah itu, suaminya terus mendidik istrinya, bahkan mereka saling mendidik, sehingga terus berubah dan terus tumbuh dan akhirnya menjadi baik.
Ada perubahan, ada pertumbuhan. Dinasehati, didoakan, dan diampuni, tetapi jangan kecewa; tahu bermacam-macam kekurangannya tetapi tetap cinta. Roh Kudus akan mengisi hati kita dengan kasih yang limpah. Buanglah semua dosa-dosa yang membuat hidup nikah menjadi tidak harmonis.
Ada istri yang mempunyai tahi lalat di pipi dekat hidung yang agak besar. Suaminya berkata: “tahi lalatmu itu jelek sekali, aku tidak senang.” Si istri heran?! Mengapa baru sekarang? Waktu pacaran beberapa tahun sampai menikah sudah sekian lama tidak kelihatan?
Biasanya ini ada sebab-sebab yang lain! Mungkin si suami kecewa karena si istri tidak berubah, mungkin juga si suami mulai terpikat pada perempuan lain, atau sebab-sebab lain; biasanya sikap yang berubah itu ada sebabnya. Selidiklah semua sebab-sebabnya sampai ke dalam pikiran dan angan-angan (Maz 139:23-24). Kalau ada, buanglah dengan iman. Kalau sudah ada dosa, kasih menjadi bocor dan habis, lalu tidak bisa mengampuni, sikapnya jadi kaku dan keras. Kalau ada kasih, dosa dan kesalahan itu ditutup, tidak terlalu terasa (Pkh 4:8).
Biasanya kalau sulit mengampuni itu sebab kasihnya habis. Mungkin si suami membagi-bagi kasih kepada yang lain! Atau si istri mulai kagum dengan laki-laki lain yang lebih hebat!
Ada seorang istri berkata: “Meskipun pincang, asalkan kaya, andai kata saya belum kawin, ya saya mau, tidak apa-apa”.
Kalau seorang gadis duniawi berkata demikian, masih bisa diterima. Tetapi perempuan ini sudah menikah. Ini berarti ia kecewa, memang sekarang ini suaminya gagah, tidak pincang, tetapi tongpes (kantong kempes), melarat! Ini dosa!
Tidak lagi boleh ada “andaikata” sesudah menikah. Jangan andaikata ini atau itu, tidak boleh. Ini istri yang tidak setia!
Kalau sudah menikah ya sudah, selesai! Jangan lihat-lihat lagi, itu dosa! “Andaikata ini dan itu” seringkali menjadi “jalan keluar” untuk rasa kecewa yang terpendam di dalam hatinya. Atau karena dosa-dosa lain yang membara dalam hatinya, itu jahat!
Ini semua membuat rumah tangga tidak lagi harmonis. Sebab kasihnya berkurang, sulit mengampuni. Salah sedikit sudah kecewa, salah sedikit sudah bertengkar, manisnya menjadi pahit.
PIKIRAN harus dibersihkan dari segala sampah-sampah iblis yang merusakkan hidup nikah orang beriman. Istimewa pikiran perzinaan itu yang paling cepat merusakkan keharmonisan hidup nikah. Jangan kagum akan orang ketiga, jangan mau tertarik atau terpikat, itu permulaan celaka yang sangat pahit, gelap dan dahsyat. Bertobatlah, lalu usir, buang semua pikiran dosa itu di dalam nama Tuhan Yesus dengan kemauan dan yakin, pasti hilang.
Puas dan bersukacitalah akan istri atau suami sendiri. Hal-hal dosa jangan dibiarkan tinggal dalam pikiran kita. Pikiran ini harus disucikan. Pikiran ini menentukan rumah tangga yang harmonis atau pahit. Kadang-kadang orang berpikir hal-hal yang cabul hanya untuk iseng. Atau main-main cinta dengan orang lain sekedar iseng. Itu tidak betul. Ini dosa dan berbahaya! (Mat 5:28). Ini merusak hidup nikah, hidup rohani, pelayanan, juga pekerjaan sehari-hari dan segala-galanya! Ini sungguh-sungguh celaka bukan sekedar permainan. Bagi orang dunia bermain-main cinta dan berpikir cabul ini dianggap biasa, tidak apa-apa bahkan dianggap rekreasi di kantor, di luar kota dan di mana-mana, tetapi ini dosa, ini jahat dan berbahaya! In benih-benih ular yang keji di hadapan Allah (Mat 23:33). Ini akan bertumbuh menjadi dosa-dosa yang keji.
Biarpun maksudnya hanya untuk main-main, tetapi ini dosa sungguh-sungguh dan ada hukumannya! Memang dunia melegaliser segala dosa, mereka lain dari kita, sebab tujuannya Neraka! Kalau tujuan hidupnya Surga, ini pantangan, ini celaka! Kalau dekat-dekat dengan mereka, mendengar falsafah-falsafah mereka itu sangat menggoncangkan orang-orang yang menahan diri, tetapi ingin. Mereka menghalalkan banyak hal yang kotor dan najis.
Memang tujuan kita lain. Amat bodoh kalau kita mempersamakan diri kita dengan orang-orang yang sedang menuju ke Neraka!
Tempat transitnya memang sama, di dunia, tetapi ini sementara. Tujuan kita kekal di Surga!
Sebab itu jangan meniru cara hidup nikah orang dunia. Dalam suatu koran diceritakan tentang seorang yang anaknya kecelakaan, tertolong dengan baik sebab punya wanita idaman lain (WIL) seorang dokter. Komentarnya, “untung juga punya WIL, ada faedahnya”. Ini suara iblis. (Media massa sering dititipi oleh iblis, bahkan dipenuhi seluruhnya!) Ini tidak betul, ini dosa, ini larangan. Lain! Mereka ke Neraka kita ke Surga Bumi Baru yang kekal (WIL, PIL itu tingkat III sampai IV, bukan lagi tingkat I!).
Tingkat I itu kenajisan dalam pikiran, belum dalam perbuatan, tetapi ini diterangkan panjang lebar, supaya mudah dikenali dan segera diperbaiki, sebab cara menolong dari permulaan, itu lebih mudah dan tidak sampai terlambat. Kalau dibiarkan menjadi kerusakan tingkat I, tingkat II, apalagi tingkat III dan IV, seringkali itu sudah terlambat dengan segala akibat-akibat yang hampir- hampir tidak bisa dihapus lagi. kerusakan tingkat I harus sungguh-sungguh diperhatikan, bahkan mencegahnya itu yang terbaik.

Kadang-kadang ada istri-istri yang bodoh yang membiarkan suaminya tengelam dalam pornografi. Istri-istri berkata, “asal setia dengan saya tidak apa-apa”. Tetapi ini merusak, kalau dibiarkan berzina (dalam pikiran Mat 5:28) meskipun dengan gambar-gambar, lama-lama (atau dengan cepat sekali) orang seperti ini tidak akan puas lagi dengan istrinya dan timbul kerusakan tingkat II, III bahkan IV. Belajar disucikan sejak dari dalam pikiran, baik suami, baik istri.
Biarlah Suami-suami mengenali siapa dan apa seorang perempuan itu hanya dari istrinya sendiri, dan sebaliknya. Belajar setia dengan istri/ suami sendiri. Belajar hidup dalam kesucian. Juga yang belum menikah atau yang sudah duda atau janda.
Jangan meniru orang berdosa. Tetapi kalau toh ada yang sudah tertipu dan meniru, bertobatlah sekarang! Buang semua yang jahat dan berbahaya itu! Ini bom waktu yang akan meledakkan seluruh hidup dalam Neraka kekal!
Kita harus disucikan dan jangan ada satu pun yang dapat merusakkan kesucian hidup nikah kita.
Semua ini termasuk kerusakkan hidup nikah fase permulaan, benih perceraian.
Kalau ada ketidakharmonisan rumah tangga, semua harus diperbaiki dengan segera supaya manis kembali. Tuhan Yesus bisa menolong.
Juga pikiran-pikiran yang keji, Tuhan Yesus bisa menolong. Berserulah dengan iman, Tuhan Yesus sanggup melepaskan dari ikatan-ikatan dosa sampai dalam pikiran dan angan-angan. Di dalam nama Tuhan yesus, semua akan lenyap! Tuhan dapat memerdekakan total (Yoh 8:36/ 2Kor 10:5). Harus mau bertobat dan taat pada Roh Kudus, Roh Kudus akan memberi kuasa dalam hidup, hati dan pikiran kita!

II. PERANG DINGIN.

Ini tingkat kerusakan yang lebih lanjut. Dalam tingkatan ini, sedikit-sedikit berkelahi, sedikit-sedikit ramai, berbantah-bantah. Orang berkata, wah tidak cocok. Ini suami istri yang gampang berkelahi, sulit berhenti dan terus cek-cok. Segala hal menuju kepada perkelahian. Makin lama makin dahsyat, hatinya tidak ada damai, pahit, hidupnya jadi tawar dan sia-sia, dan dosa di dalam hatinya bertambah-tambah terus, bahkan merajalela.
Soal anak, berkelahi. Soal makanan berkelahi. Segala hal membuat perkelahian dan kalau sudah berkelahi tidak bisa berhenti. Biasanya ini ada dosa. Jangan saling tuduh tetapi periksa diri masing- masing. Jangan beri tempat pada iblis. Tuhan bisa menyucikan bahkan nikah yang hancur pun bisa dipulihkan. Memang butuh waktu, diolah, diolah terus dan orang yang bersangkutan memang mau bertobat, mau berubah, mau diolah dan itu sakit. Ada banyak hidup nikah yang pahit menjadi manis kembali. Tuhan Yesus jawabannya! Tetapi orang yang terus keras hati, hidupnya menjadi hancur dan rencana Allah di dalamnya menjadi rusak. Hidupnya menjadi Neraka. Hidup dalam dosa tidak mungkin bahagia, itu tersiksa tidak mungkin gembira, tidak mungkin bersukacita, tidak mungkin bahagia, pasti pahit dan celaka! (Rom 3:17).
Tetapi hidup dalam kesucian itu indah, ceria, gembira, sukacita dan hidupnya jadi bergairah, berguna dan berarti. Kuasa Tuhan, karunia Tuhan dan perkenan Tuhan berlaku atasnya. Orang seperti ini akan berbuah-buah hidupnya.

Setiap ketidakcocokan jangan dibiarkan. Berdoalah, minta hikmat Tuhan untuk membereskan. Juga jangan ragu-ragu minta tolong pada Gembala Sidang yang pasti mau menolongnya sendiri atau menugaskan seorang rohani lainnya. Kita perlu saling tolong- menolong dalam persekutuan Tubuh Kristus. Lebih dini problem itu diselesaikan, lebih baik, apa lagi kalau ke dua pihak sadar, mau berubah dan tidak memberi tempat bagi iblis.
Perbaikan tingkat I tentu lebih mudah dari pada tingkat-tingkat berikutnya, tetapi kadang-kadang orang tidak sadar bahayanya dan sering kali tidak mau minta tolong orang rohani lain sebab malu, itu rugi.
Tuhan pasti sanggup dan mau menolong, bahkan Tuhan sangat bergairah untuk menolong, sebab Tuhan tidak ingin seorangpun menjadi pahit apa lagi binasa (2Pet 3:9).
Berdoalah dengan iman dan saling tolong menolong di dalam persekutuan Tubuh kristus dengan kasih dan kesucian yang tertib, itu pasti membawa hasil yang baik.
Tuhan bisa mengubah total sifat-sifat, tabiat yang jelek yang menganggu keharmonisan rumah tangga, asal orangnya mau. Semua bisa diubah bahkan cinta yang tawar bisa menyala kembali kalau mau. Esaf yang sudah tidak mungkin cinta lagi, hatinya sudah penuh benci, dendam kusumat belasan tahun, tiba-tiba berubah oleh doa Yakub di Pniel sehingga Esaf menjadi begitu cinta, berpeluk-pelukan dan kemudian mengalah pergi, membiarkan tempatnya untuk Yakub. Tuhan bisa mengubah.

III. PERANG TERBUKA.

Di sini terjadi pertentangan dan perkelahian yang terbuka antara suami istri. Dahsyat. Tidak lagi ada cinta antara suami istri, tetapi benci. Dua orang yang saling berbenci-bencian dikurung dalam satu rumah, dalam satu peraturan nikah, dalam satu tanggung jawab, padahal hatinya bertentangan, bahkan benci. Ini lebih dahsyat dari orang-orang biasa yang saling berbenci-bencian sebab mereka jarang bertemu dan tidak terikat menjadi satu. Sebab itu perkelahian suami istri seperti ini lebih dahsyat dari semua perkelahian yang lain. Keadaan seperti ini rasanya seperti Neraka. Kumpul dalam satu rumah untuk berkelahi. Diikat menjadi satu untuk berkelahi, untuk berbenci-bencian, celaka, Neraka!
Siapapun yang menang, hatinya tetap tersiksa dan menderita. Semua pihak menderita, apalagi anak-anak dan Allah yang sangat mencintai keduanya! Di hadapan Allah suami istri seperti ini kelihatannya seperti orang gila dari Gadara yang siang malam memukuli dirinya sendiri. Suami itu kepala dan istri itu tubuh, keduanya saling berkelahi, kepala dan tubuh yang lekat menjadi satu tetapi terus berkelahi, itu ngeri. Ia sangat menderita dan kesakitan, tetapi tidak berhenti berkelahi dengan dirinya sendiri, terus menyiksa tubuhnya sendiri .
Tingkat ini tampak dari luar. Tingkat II sering kali masih tersembunyi, hanya orang- orang dekat yang tahu, tetapi dosa itu terus bertumbuh menjadi makin ganas sehingga ditutup bagaimanapun akhirnya akan terbuka juga.
Kadang-kadang sebab berkelahi terus, ada yang lari keluar rumah (Jawa: minggat). Ini suatu cara atau kebiasaan yang buruk. Jangan menghindar dari problem, hadapi dengan minta tolong Tuhan Yesus. Ingat tujuan kita ke Surga. Perbaiki segala kekeliruan dan kesalahan. Berdoa kepada Tuhan dan jangan malu minta tolong Gembala Sidang dan Saudara-saudara seiman, suami istri yang rohani dan harmonis rumah tangganya.
Biasanya dalam tingkat-tingkat ini, orang itu tidak mampu menolong dirinya sendiri. Tubuh Kristus harus menolong dengan belas kasihan yang besar dari Tuhan. Doakan dan tolong dengan kasih Kristus, tetapi dengan tertib dalam kesucianNya. Jangan ketularan dosa zinah! Kadang-kadang seorang pelayan Tuhan sendirian mau menolong pasangan suami istri ini, tahu-tahu dia tertarik pada istrinya. Ini namanya “kena tembak” dalam tugas peperangan. Iblis gembira sebab berhasil menjatuhkan satu orang lagi. Hati-hati, benci segala dosanya, tetapi dengan belas kasihan dan kuasa Allah menolongnya.
Yudas 23 Dan sentakkanlah mereka itu dari dalam api dan selamatkanlah mereka itu; dan kepada yang lain hendaklah kamu kasihan dengan berjaga-jaga, dengan membenci akan pakaiannya yang cemar dengan hawa nafsu (TL).
Orang yang menolong harus berusaha dengan hikmat dan kusa Allah untuk menolong suami istri seperti ini berhenti dari perkelahiannya. Dengan berkelahi keadaan makin buruk. Berhenti dan datang kepada Tuhan. Jangan saling tuduh, tetapi periksa kesalahan masing-masing.
Bertobat, mengakui salah, jangan beri tempat pada iblis.
Jangan menambah kerusakan, tetapi justru berdoa dan menunggu Tuhan dan jangan berbuat dosa, sementara menunggu kuasa Tuhan bekerja.
Kadang-kadang suami yang berjalan salah, si isteri juga membalas/ meniru, ini kebodohan dua kali lipat! Dengan 1 pos setan (suami yang sudah jadi pos setan) rumah tangga sudah kacau dan menderita, apalagi dengan 2 pos setan! (Si istri juga mau jatuh dalam dosa). Kalau 1 pos setan dan 1 pos Kristus, pasti Kristus akan menang! Kalau keduanya ditipu iblis, itu sangat berbahaya!!! Suami/ isteri yang sudah sadar, jangan menekan orang yang dikalahkan setan, jangan diperangi, tetapi justru menolongnya dengan kuasa Allah. Ampuni dan cintai kembali! Jangan  membuat peperangan melawan isteri/ suami sendiri, tetapi lawanlah iblis! (Ef 6:12). Anggap suami (atau istri) yang salah itu seperti anaknya sendiri yang sakit, yang justru perlu ditolong, bukan diperangi, sebab itu akan membinasakannya. Tuhan sanggup menolong  sekalipun sudah hancur, Tuhan sanggup, asal mau percaya akan kuasa Tuhan.

IV. KERUSAKAN

Di sini sudah terjadi kerusakan. Suami istri sudah bercerai, bahkan kawin lagi. Ini melawan hukum Tuhan, melawan Allah yang maha kuasa. Ini betul-betul dilarang oleh Tuhan, juga poligami/ poliandri, itu semua melawan Firman Tuhan dan tidak akan masuk Surga kecuali bertobat! Tubuh Kristus harus menolong orang-orangnya yang dikalahkan iblis, baik secara pribadi oleh satu pasang suami istri atau dua orang rohani (jangan sendiri), atau bersama-sama oleh tubuh Kristus. Mulailah mendoakan dengan kasih yang intensip. Meskipun orang itu sudah rusak, kalau ia mau ditolong, tolonglah, sebab Tuhan sanggup memulihkan kembali. Tentu banyak hal bisa rusak untuk selamanya karena dosa (Pkh 9:18), tetapi bagaimanapun rusaknya, selama masih hidup, masih ada kesempatan. Kalau sudah mati, tiada kesempatan! Jangan tunggu sampai semua rencana Allah hancur samasekali. Tuhan sanggup menolong kalau orang itu mau. Kalau tidak mau, pihak yang sadar hendaklah terus berdoa dibantu saudara-saudara seiman.
Tuhan sudah menolong banyak rumah tangga yang hancur, dan kuasa Tuhan tidak berubah. Jangan dengan kekerasan tetapi dengan kuasa Allah dan minta hikmat pimpinan-Nya.
Sama sekali bukan kehendak Tuhan kalau rumah tangga anak-anak Allah hancur sampai cerai, ini kemenangan iblis!

Kesimpulan:

1. Jangan tertular cara dan falsafah hidup orang dunia, sebab tujuannya lain, mereka (dengan tidak sadar) menuju tasik Api, tetapi kita ke Surga Bumi Baru yang mulia kekal. Belajar baik-baik semua peraturan-peraturan Firman Tuhan tentang hidup nikah.
2. Kalau ada sedikit-sedikit yang tidak betul, baik dalam hidup nikah atau dalam segi hidup lain, perbaiki segera, jangan tunggu rusak lebih parah dan kehilangan rencana Allah seluruhnya, sesudah itu kembali hidup suci di dalam rencana Allah yang indah dan lawan, perangi iblis!
3. Hidup nikah orang beriman itu di dalam kesucian. Memang lebih berat, perlu penyangkalan diri, perlu pemeliharaan supaya hidup nikah tetap cocok dengan Firman Tuhan. Tetapi kesukaan dan kenikmatannya lain dan jauh lebih besar dari hidup nikah yang manapun di dalam dunia. Hidup berkenan pada Tuhan itu indah, senang, mulia dan penuh arti, dan akan limpah berbuah-buah sampai kekal.
4. Orang-orang beriman yang hidup nikahnya baik, tingkatkanlah dengan menolong saudara- saudara yang lain. Minta beban dari Tuhan dan tolonglah saudara-saudara yang di dalam kerusakan hidup nikahnya serta berilah kebenaran-kebenaran Firman Tuhan tentang hidup nikah pada semua orang yang jadi tanggungan kita. Tanpa pengertian umat Tuhan akan sesat dan binasa (Mrk 12:24). Adalah kehendak Tuhan bagi kita untuk menolong jiwa-jiwa yang terhilang dan menguatkan Saudara-saudara di dalam persekutuan Tubuh Kristus dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan.