Setiawan

Wahyu 2:10 Jangan takut akan hal-hal apapun yang akan kamu deritakan; Lihatlah, Iblis akan melemparkan beberapa dari antaramu ke dalam penjara, supaya kamu dicobai; dan kamu akan mendapat kesusahan sepuluh hari. Hendaklah kamu setia sampai mati, dan Aku akan memberimu mahkota kehidupan (KJ/ TR).

Allah kita setiawan.

1Korintus 1:9 Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.

Juga Tuhan Yesus.

Wahyu 19:11 Lalu saya melihat Surga terbuka, dan lihatlah, seekor kuda putih, dan Ia yang duduk di atasnya itu bernama Setiawan dan Benar. Dan dengan keadilan Ia menghakimi dan berperang (KJ/TR).

2 Tesalonika 3:3 Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat
Begitu juga setiap orang beriman haruslah menjadi orang yang setiawan, lebih-lebih yang hidup dipimpin Roh, salah satu tandanya ialah setiawan sebagai buah Roh.
Galatia 5:22 Tetapi buah Roh itu ialah: kasih, sukacita, perdamaian, sabar menderita, kemurahan, kebaikan, setiawan (KJ/TR)
Orang yang sudah lahir baru bisa belajar langsung hidup dengan setiawan, sebab yang lama itu sudah lenyap dan yang baru (sifat-sifat Kristus) sudah ada.
2Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (sudah terbit, TL).
Dengan iman pakailah semua sifat-sifat yang baru, termasuk setiawan, meskipun dahulu tidak setia. Belajar setia dan tumbuh terus dalam kesetiaan sampai menjadi seperti Tuhan Yesus.
Kita akan memeriksa segala segi tentang setiawan dari Firman Tuhan, supaya kita boleh bertumbuh menjadi setiawan sesuai dengan Firman Tuhan, dalam semua segi di mana Firman Tuhan menuntut kesetiaan. Kalau ada kesetiaan, hidup ini menjadi kuat dan indah. Tetapi kalau tidak ada kesetiaan, hidup ini akan kacau, pincang bahkan terjerat dalam dosa dan kebinasaan.

I. APAKAH SETIA ITU?

Setiawan artinya: Tetap pada hubungan atau janji yang sudah mengikatnya sampai mati.

Di dalam sifat setiawan termasuk:

1. TIDAK BERUBAH.

Tetap, konstan seperti semula bahkan mungkin lebih baik lagi. Misalnya:
Rut 1:16-17 Tetapi sahut Rut: Ja-nganlah kiranya paksakan daku, sehingga aku meninggalkan dikau dan undur dari padamu lalu pulang, karena ke manapun baik engkau pergi, aku juga hendak ke sana, dan barang di manapun baik engkau bermalam, aku juga hendak bermalam di sana; bahwa bangsamu itulah bangsaku dan Allahmu itulah Allahku! Barang dimana engkau akan mati, di sanapun aku hendak mati dan di sanapun aku hendak dikuburkan. Demikianlah kiranya diperbuat Tuhan akan daku dan demikianlah kiranya dipertambahinya lagi, jikalau kiranya tiada mau hanya maut jua yang menceraikan daku dengan dikau (TL).
Jangan baik dan setia kalau hanya ada maksud/ berkepentingan. Jangan habis manis sepah dibuang, itu tidak setia. Ada orang sesudah ditolong langsung memberi apa-apa, takut lain kali tidak sempat membalas. Tetapi tidak semua dapat “dibayar”, misalnya: kasih orangtua, orang yang mentobatkan kita, jasa guru-guru jasmani dan rohani, dan lain-lain.

2.  KORBAN.

Dalam kesetiaan yang betul termasuk korban. Kalau tidak mau korban, tak mungkin bisa setia, apalagi dalam saat-saat yang sulit.
Yohanes 11:16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.”
Murid-Murid mau setia mengiring Tuhan Yesus, kalau perlu sampai mati, mereka sedia berkorban! Harus mau berkorban. Istri Ayub marah-marah, bahkan undur dan menghujat Tuhan sebab tidak mau korban, hanya mau menerima yang baik, tidak mau menerima yang jelek (Pkh 7:14), sebab itu ia berontak dan tidak setia. Ayub mau, sebab itu Ayub bisa tetap setia.
Ayub 2:10 Tetapi jawab Ayub kepadanya: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.

3. TULUS.

Tidak ada tujuan mencari untung atau faedah lainnya. Setiawan karena kita memegang janji, memelihara hubungan yang betul dengan segenap hati.
1Samuel 20:17 Maka kembali pula Yonatan bersumpah setia kepada Daud, sebab dikasihinya akan dia; karena dikasihinya akan dia dengan segala kasih yang dalam hatinya (TL).
Orang yang setiawan bisa dipercaya. Sekalipun tidak ada untung, semata-mata korban, tetap mau, itu setiawan, sebab tulus hatinya.

4. DENGAN SEGENAP HATI.

Tandanya kalau dengan segenap hati ialah orang itu berbuat dengan rela dan sukacita. Jadi bukan karena terpaksa, sebab ini tidak bisa tahan lama dan tidak tahan uji. Harus dengan kehendak hatinya sendiri, dengan segenap hati.
Akila dan Priskila begitu setia kepada Paulus sehingga mereka hampir mati karena menyelamatkan Paulus. Mereka mengerjakan dari kehendaknya sendiri, dengan segenap hati dengan rela, bahkan mereka bersedia sampai mati. Tentu Paulus sangat berterima kasih pada pasangan yang setia ini.
Roma 16:4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.
Keempat komposisi dari setiawan ini tercakup di dalam: kasih Ilahi, sehingga kadang-kadang disebut kasih setia. Jadi kalau kita melihat isi atau komposisi dari setiawan ini, maka hanya orang-orang baru yang penuh dan dipimpin Roh yang dapat menjadi setiawan. Apalagi kalau ada kasus-kasus yang sulit, misalnya setia kepada dua orang yang saling bermusuhan. Hanya dengan hikmat dan kuasa Roh Kudus, kita bisa menghadapinya, bahkan mendamaikannya.
Tetapi di dalam dunia pun masih banyak orang setia karena hubungan keluarga, cinta, uang, persahabatan dan sebagainya (1Raj 5:1). Tetapi kesetiaan orang-orang beriman itu seharusnya lebih tinggi mutunya daripada yang ada di dalam dunia.

II. BAGAIMANA SIKAP PERBUATAN ORANG YANG SETIA ITU?

1. PIKIRAN.

Pikiran dari orang yang setia itu tidak mau memikirkan pengkhianatan, atau lari dari tanggung jawab, melainkan selalu memikirkan bagaimana bisa tetap setia sekalipun penuh pengorbanan.
Kalau kita ingin menjadi setia terus-menerus, janganlah memberi tempat pada pikiran-pikiran yang mau berkhianat.
Petrus sangat berdukacita sesudah mengkhianati Tuhan Yesus, sebab memang hatinya tidak mau begitu; Tetapi karena takut tenyata ia berbuat demikian. Akhirnya ia sangat susah dan putus asa sebab tidak melihat ada kemungkinan untuk memperbaiki lagi, karena orang yang dikhianatinya sudah mati.
Waktu melihat Tuhan Yesus hidup kembali, Petrus sangat bergirang, karena ada lagi kesempatan untuk setia kepada Tuhan dan Petrus betul-betul setia sampai mati.
Jangan lupa semua ini dimungkinkan oleh pertolongan Roh Kudus. Sebab itu orang yang mau setia, perlu terus diisi dengan kuasa Roh Kudus.
Misalnya di dalam pernikahan, bebera-pa orang tidak setia meskipun hatinya ingin setia, tetapi sebab kelemahannya dan karena tidak dapat menghisap kekuatan dari ibadatnya (tidak mendapat kuasa ibadat untuk bisa hidup suci 2Tim 3:5) maka mereka jatuh dalam dosa bahkan terikat dan mengkhianati istri/ suaminya.

2. KATA-KATA YANG  PATUT.

Orang yang setia tidak akan mau berbicara yang jelek atau mengeluarkan kata-kata pengkhianatan seperti Yudas, Petrus, apalagi kepada Tuhan, tidak akan keluar kata-kata penyesalan seperti istri Ayub. Sekalipun tidak mengerti tetap bersyukur pada Tuhan seperti Ayub, Yusuf, Daniel, dan sebagainya. Tuhan tidak pernah salah. Orang yang menyalahkan Tuhan itu bodoh dan akan celaka. Percayalah Allah itu baik dan benar. Apapun yang kita alami, bersyukurlah! Kalau pengalaman kita pahit, celaka, yang salah pasti kita sendiri. Allah tidak mungkin salah!
Bukan hanya berkata baik di muka orang itu, tetapi juga di belakang. Kalau di muka orangnya setia, di belakang mengkhianati, itu orang yang munafik, tidak setia!

3. SIKAP.

Ini tampak dari ekspresi wajah, tingkah laku, nada dari pembicaraannya, dan dalam segala sesuatu tindakan/ perbuatannya. Buanglah segala sikap yang memberi kesan yang salah. Ada orang berkata: “Tuhan tahu hati saya benar, setia”; tetapi sikap orang ini memberi kesan seolah-olah melawan dan tidak setuju. Orang ini membuat batu sontohan bagi orang lain dan merusak kesan yang baik dari dirinya sendiri, ini bukan orang yang bijak tetapi orang yang bodoh dan sembrono.
Kalau memang hati kita setia, tidak perlu malu untuk menunjukkannya atau bersikap yang sesuai. Misalnya Yusak dan Kaleb tetap setia pada Tuhan dan pimpinannya dan itu ditinggalkannya di dalam kata-kata dan semua sikapnya dengan baik.

Bilangan 14:24 Kecuali hamba-Ku Kaleb, sebab sertanya adalah Roh yang lain dan iapun telah tetap menurut Aku, maka Aku akan membawa dia ke dalam negeri yang telah ia masuk ke dalamnya, dan benihnyapun akan mempusakai dia (TL).
Orang yang setia tetap berpaut dengan teguh, meskipun orang lain sudah pergi atau bersungut-sungut (Yoh 6:67-68).

4. PERBUATAN.

Ini bukti yang paling menentukan penilaian seseorang yang setia atau tidak. Tidak hanya kata-kata atau janjinya, tetapi ada perbuatannya (tetapi setia dimulai dan dipelihara sejak dari dalam pikiran).
Orang yang setia mempunyai perbuatan yang:
4a. Bisa dipercaya dalam segala perkara
Baik dalam hal uang (2Raj 12:15/ 2Taw 34:12). Sikap, kata-kata di muka dan di belakang. Orang yang setia dapat dipercayai pekerjaan yang sulit diawasi (tanpa pengawasan) (Neh 13:13).
Yusuf sangat dipercayai oleh Potifar. Semua diserahkan dalam tangan Yusuf, sebab itu waktu istri Potifar mengajak Yusuf berbuat hal yang menyenangkan daging, Yusuf yang setia itu tetap menolak, ia tidak mau menuruti dagingnya tetapi tetap menyalibkannya.
Kejadian 39:8-10 Tetapi engganlah Yusuf sambil katanya kepada istri tuannya itu: Bahwasanya tuan sahaya tiada turut mengetahui akan barang apa pun baik yang di dalam rumah, melainkan segala sesuatu yang padanya telah dise-rahkannya ke tangan sahaya di dalam rumah ini seorangpun tiada besar dari pada sahaya dan tiada dijauhkan tuan dari pada sahaya barang sesuatu, melainkan encik jua, sebab enciklah istrinya; manakah boleh sahaya berbuat jahat yang besar ini serta berdosa kepada Allah?Maka demikianlah perihalnya perempuan itu berkata-kata kepada Yusuf daripada sehari datang kepada sehari, tiada juga didengarnya akan dia pada hal berseketiduran atau menurut kehendaknya (TL).
4b. Bertanggung jawab.
Orang yang setia itu tidak lari dari kesukaran, tetapi tetap berusaha bersungguh-sungguh menyelesaikan tu-gas/ kewajibannya.
Orang yang setia akan berusaha maksimal.
Memang manusia berusaha, meskipun mau, masih bisa gagal, sebab kekuatan manusia terbatas, tetapi orang yang setia sudah berusaha semaksimal mungkin. Ini indah tetapi sangat terbatas. Tetapi orang yang dipimpin Roh, akan ada buah Roh dalam hidupnya, antara lain: kesetiaan, dan ini lebih indah daripada kesetiaan manusiawi biasa. Setiawan sebagai buah Roh itu lebih indah, sebab selain ada usaha yang maksimal (tetapi terbatas), juga ada pertolongan Roh Kudus yang luar biasa dan tidak terbatas.
Orang yang dipimpin Roh mempunyai kesetiaan yang bagus sekali. Berani korban, tidak lari, berani menderita dan berhasil sebab pertolongan Roh Kudus.
Ada seorang pegawai yang percaya Tuhan Yesus. Waktu ia pulang dari pabrik, baru sepenggal jalan, ia melihat massa datang merusak. Sudah di luar jam kerja, tetapi ia segera kembali ke pabrik, pintu gerbang besi ditutup rapat, semua pintu-pintu gudang dan lain-lain ditutup baik-baik. Ternyata Tuhan menolong apa yang dibuat orang beriman ini. Sewaktu massa lewat, mereka hanya memukul-mukul pintu gerbang tanpa hasil dan pergi. Lewat beberapa lama majikannya tahu perbuatannya, ia berterima kasih pada pegawai ini (dan tentu juga dari dompetnya keluar ucapan syukur juga). Pegawai ini puas bukan terutama sebab mendapat uang (meskipun itu besar artinya bagi dia), tetapi sebab ia sudah berlaku setia. Ini pegawai yang tahu bertanggung jawab dan mau melakukan yang terbaik yang dia bisa.
Setia itu juga memegang pesan-pesan yang diberikan oleh Tuhan, orang tua, isteri/ suami, majikan dan lain-lain, diperhatikan baik-baik, ditaati habis-habisan (tentu kalau pesan itu bertentangan dengan Firman Tuhan, terpaksa kita menyangkalinya dengan segala resikonya Luk 14:26).
Juga janji-janji yang terlanjur dibuat dan ternyata melawan Firman Tuhan, itu harus dibatalkan dengan menanggung resiko-resikonya, sebab kita tidak boleh setia pada dosa/ kejahatan, apalagi pada iblis. Sekalipun janji-janji itu (apalagi kepada iblis) sudah dibuat sebelum kenal Tuhan, orang itu harus membatalkan perjanjian-perjanjian dari setan itu di dalam Nama Tuhan Yesus.
4c. Setia pada janji-janji atau hubungan yang sudah dibuat, seperti Kristus (Ibr 10:23). Setia pada janji nikah, meskipun kecewa karena tidak mendapat yang diharapkan, tetap tidak lari.
Seorang (yang belum kenal Tuhan) menikah dengan seorang gadis yang orang tuanya kaya raya. Setelah menikah, ternyata gadis atau istrinya ini tidak mendapat warisan sama sekali. Mereka hanya menempati satu kamar dalam rumah mertuanya dan rumah itu diberikan pada anak laki-laki yang lain. Ia tetap setia, meskipun kecewa tidak mendapat apa-apa.
Ini orang dunia yang menikah karena harta, itu salah, tetapi meskipun ia dikecewakan, ia tetap setia sampai mati. Apalagi orang beriman harus lebih setia dari orang dunia! Dan tentu jangan menikah karena harta, itu salah dan celaka!
Salah satu yang menyebabkan orang beriman diolah ialah karena ia setia. (Sebab setia itu tidak mudah, perlu pengorbanan, kesabaran, ketaatan dan mematikan daging, ini pengolahan!). Orang yang tidak setia tidak mengalami pengolahan dan tidak menjadi indah. Melihat sedikit yang tidak enak, lari. Sedikit tidak menyenangkan, bersungut-sungut dan pergi, selalu minta yang enak. Orang ini tidak dapat bertumbuh, mentah, kanak-kanak rohani!
Sebab itu setialah.

5. SEKALIPUN BERTEPUK TANGAN SEBELAH (SEPERTI TUHAN YESUS).

2Timotius 2:13 Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”
Sekalipun kecewa, sekalipun rugi, sekalipun tidak mendapat apa-apa, kita harus belajar tetap setia. Jangan lupa setiawan itu pengolahan! Kadang-kadang suami/ isteri berubah, juga anak, orangtua, menantu, mertua bisa berubah, tetapi kita harus belajar tetap setia.
Perjanjian kerja, dagang dan lain-lain, yang dikhianati oleh pihak yang lain, bisa dibubarkan bersama, namun semua dengan tertib dan jujur, tetapi perjanjian nikah, keluarga, dengan Tuhan (istimewa dalam percobaan berat seperti Ayub) tidak boleh dibatalkan lagi, harus tetap setia.
Satu keluarga nelayan di desa di tepi laut pindah, semua dinaikkan dalam perahu yang cukup besar dan mereka pindah. Anjing yang tidak mengerti hanya melihat, sebab ia ditinggalkan sendiri, tidak ikut dibawa. Setiap sore ia pergi ke pantai menunggu sambil memandang jauh ke laut lepas mengharapkan kedatangan tuannya yang dicintainya, tetapi tuannya tidak kunjung datang. Tuannya tidak pernah pulang, tetapi setiap sore ia pergi ke tepi pantai menunggunya.

Beberapa tahun kemudian ia sakit, sebab itu hanya satu atau dua kali  saja ia bisa mencapai pantai lalu kembali dan akhirnya mati. Ini anjing  yang setia. Ia tetap setia menunggu tuannya meskipun ia dibuang.  Dahulu selalu ada makanan, sekarang ia mencari ke sana-sini dalam  bak-bak sampah. Meskipun ia sangat dikecewakan tuannya, ia tetap  setia, setiap sore ia menunggu tuannya di tepi pantai sampai jatuh sakit  dan akhirnya mati.
Seluruh penduduk desa itu mengetahui peristiwa ini. Pada waktu anjing itu mati, mereka membuat patung dari anjing itu di tepi pantai dalam keadaan duduk terus-menerus memandang ke laut, menunggu tuannya yang mengecewakan dan tidak pernah kembali pulang.
Tuhan menciptakan beberapa binatang yang diberi “naluri setia”, termasuk anjing, keledai dan lembu (Yes 1:3). Tetapi kita adalah mahluk ciptaan Allah yang tertinggi, seharusnyalah lebih setia!
Meskipun kita dikecewakan, meskipun bertepuk sebelah tangan, meskipun di antara suami istri, di antara keluarga, dalam pelayanan, tetaplah setia sampai Tuhan Yesus datang. Kita setia untuk dan karena Tuhan, bukan karena orang itu.
Kecuali karena pengajaran dasar yang berbeda, terpaksa kita harus berpisah seperti di dalam Kis 19:9/ 2Tim 3:5/ Rom 16:17/ 2Yoh 10-11/ 1Kor 11:19/ Kej 13:8-10. Meskipun demikian kita masih bisa saling melayani dengan kasih.
6. WAKTU.
Ukuran dari kesetiaan itu ialah sampai mati, sebab sesudah mati, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi (Pkh 9:10/ Wah 2:10).
Dalam perjalanan waktu itu biasanya ada masa senang dan susah.
Kalau setia waktu keberkatan, waktu senang, itu baik, tetapi itu masih belum apa-apa, masih pendahuluannya.
Kalau pada saat yang susah/ sulit kita tetap setia, itu kesetiaan yang berharga, setia yang teruji.
Filipi 2:22 Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapa-nya.
Justru dalam keadaan yang sulit kalau kita tetap setia, kita diolah paling banyak dan paling efektip.
Kalau di dalam keadaan sulit, kita tidak setia, itu lari dari pengolahan.
Isteri yang setia pada waktu suaminya menjadi  miskin, sakit, tak berdaya, tidak bersungut-sungut, tetapi membantu sekuat tenaga dengan sukacita, itu isteri yang setia.
Sebaliknya waktu isterinya menjadi tua, wajahnya berubah, apalagi kalau jadi cerewet dan menjengkelkan, suami tetap cinta dan setia, itulah suami yang betul-betul setia dan teruji.
Ini suatu pengolahan dan ia tiap-tiap kali “naik kelas” berulang-ulang.
Banyak suami-suami yang mempunyai istri yang sangat menjengkelkan, tetapi tetap setia, itu betul-betul setia yang teruji!
Sahabat yang setia itu justru datang pada waktu penderitaan dan susah
Ayub 2:11 Ketika ketiga sahabat Ayub mendengar kabar tentang segala malapetaka yang menimpa dia, maka datanglah mereka dari tempatnya masing-masing, yakni: Elifas, orang Teman, dan Bildad, orang Suah, serta Zofar, orang Naamah. Mereka bersepakat untuk mengucapkan belasung-kawa kepadanya dan menghibur dia.

Amsal 17:17 Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Tetapi sebaliknya orang beriman di dalam masa kesukaran atau susah tetap tidak berharap kepada sahabatnya, melainkan pada Tuhan; namun waktu sahabat kita dalam susah, kita harus datang menolong. Kita berbuat baik, setia pada Saudara-saudara kita, karena Tuhan, bukan seperti orang dunia yang mengharap balasan kembali dari mereka.
Ada seorang tua, setiap berobat ke dokter, ia membawa banyak orang sakit dari desanya dan ia yang membayar semua ongkos mereka. Ketika ditanya: “Mengapa?” Ia berkata: “Menabur kebaikan”. Ia mengharap dari sekian banyak yang ditolongnya, ada yang ingat dan membalas budi. Ini suatu pikiran yang baik dari orang-orang dunia. Tetapi orang beriman mempunyai Firman Tuhan yang lebih indah dan lebih tinggi tingkatnya!
Roma 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Kita berbuat baik karena Tuhan, kita tidak mengharap balasan dari manusia, tetapi dari Tuhan sendiri yang memang menjanjikan penuaian bagi orang yang menabur (Gal 6:7-8).
Sebab itu orang-orang beriman tidak mau menjadi kecewa, meskipun dalam kenyataannya ia dikecewakan oleh orang-orang yang telah ditolongnya, sebab pembalasan yang baik dan yang jahat itu dari Tuhan.
Sebaliknya terhadap orang yang sudah menolong kita, kita wajib berterimakasih dengan segenap hati, istimewa pada waktu kita dapat menolongnya kembali.
Jangan menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih seperti 9 orang kusta yang disembuhkan Tuhan Yesus (Luk 17:17-18).

III. KEPADA SIAPA ?


Kita tidak harus setia pada semua orang dan bukan dalam segala perkara. Dengan orang-orang jahat yang tidak bertobat, sekalipun sudah berjanji setia, harus dibatalkan, lebih-lebih janji setia dengan iblis.
Juga di dalam banyak hal yang lain, ukuran kita tetap Firman Tuhan.
Misalnya kalau kita sudah biasa berbelanja pada satu toko, lalu kita ingin pindah sebab di toko yang lain ada barang-barang yang lebih murah, itu tidak salah. Kita tidak perlu tertuduh. Kalau harga sama, mungkin lebih baik kita tetap berlangganan pada satu toko sehingga mendapat perlakuan istimewa, tetapi inipun tidak perlu setia, sebab untuk berbelanja dengan betul, ukurannya ialah dengan jujur, bukan setia.
Contoh lain misalnya potong rambut, penatu, menjahitkan baju, restoran dan sebagainya, Tuhan tidak menuntut kita untuk setia.
Kita harus mengerti baik-baik kepada siapa kita harus setia, supaya jangan perasaan hati kita kacau. Firman Tuhan mengajarkan kita harus setia pada orang-orang sebagai berikut, masing-masing dengan kondisi yang berbeda-beda.

1. KELUARGA.

A. SEBAGAI ANAK.

Anak harus taat dan menghormati orangtuanya, meskipun orang-tuanya sederhana, miskin, atau waktu tua berubah menjadi cerewet dan tidak menyenangkan.
Ini bukan setia, sebab anak yang berbuat baik kepada orang tuanya itu hanya “membalas budi”, belum tentu sepanjang hidupnya ia bisa membalas segala hal yang sudah diterimanya dari orang tua sejak lahir sampai ia mandiri, apalagi membalas kasih sayang, kebaikan orang tuanya. Sebab itu Alkitab mengatakan bahwa anak-anak harus menghormati orang tuanya, ini termasuk membalas budi dan Tuhan berjanji kepada anak-anak semacam ini untuk memberkatinya!
Efesus 6:1-2 Hai anak-anak, turutlah perintah ibu-bapakmu di dalam Tuhan, karena itulah yang sebe-narnya. Hormatkanlah ibu bapakmu (maka itulah hukum yang pertama dengan suatu perjanjian) (TL).
Harus tahu balas budi, jangan karena sudah menjadi besar, lalu menghina orangtua yang sederhana.
Orang tua sudah berkorban untuk anak-anak. Mereka sudah setia memelihara anak-anak dengan banyak pengorbanan (tentu ada sedikit atau banyak kekurangan, tidak sama pada setiap orang). Korban, dukacita, susah dan lain-lain dari orang tua dalam kesetiaannya pada keluarga (untuk anak-anak) itu sudah dibuat dari permulaan. Sesudah anak-anak besar, kalau anak-anak menghormati orang tua, orang tua akan mengalami masa yang manis.
Anak-anak mulai dengan menerima semua korban dari orang tuanya, ia terus menerima, menerima, sejak dalam rahim sampai jadi dewasa dan mandiri. Baru pada bagian akhir hidup orang tuanya, sesudah anak-anak menjadi mandiri, ia wajib membalas kebaikan orang tuanya.
Anak-anak harus belajar menerima orang tua yang mungkin sakit-sakitan, cerewet, menjadi beban dan lain-lain, tetapi ini kewajiban. Belajar menerima hal-hal yang baik (waktu kecil) dan sekarang pada waktu sudah mandiri, terimalah juga yang jelek dari orang tua (Pkh 7:14). Kalau mau, anak-anak dapat menghormati orang tua dan mereka akan diberkati Tuhan.
Orang tua sudah teruji setianya (dalam) membesarkan anak-anak sehingga anak-anak menjadi dewasa, tetapi sekarang anak-anak menghadapi tantangan untuk memiliki kesetiaan yang teruji, yaitu membalas orang tuanya pada waktu mereka menjadi dewasa.
Orang tua pada permulaannya menerima yang pahit dari anak-anaknya (yaitu dalam mengasuh dan mendidik), sebab itu pada waktu tuanya sepatutnyalah mereka menerima yang baik dan manis dari anak-anaknya. Anak-anak yang menghormati orang tua, cinta dan tahu berterima kasih, akan dengan penuh syukur dan sukacita merawat dan membalas orang tuanya.
Seorang anak perempuan yang cerdas dan cantik ketika bercakap-cakap dengan tamu yang mengaguminya (sebab anak ini sudah menjadi orang sukses dan besar), ibunya keluar membawa minuman. Tamunya bertanya, siapa orang ini? Ibumu? Anak ini malu dan menjawab, bukan, ini pembantu!
Si ibu masuk dan menangis terus sepanjang hari. Kemudian ibu ini memanggil anaknya dan berkata: “Nak, tahukah engkau mengapa wajah ibu ini begini jelek? Sebab rumah kita terbakar, aku lari menerobos api untuk menyelamatkan engkau sewaktu engkau masih bayi. Ibu pingsan dan terbakar, tetapi kamu selamat dan utuh. Untung ibu masih hidup untuk melanjutkan memeliharamu.
Waktu anak ini mendengar demikian, ia menangis (tersedu-sedu) dan minta ampun berulang-ulang kepada ibunya.
Jangan malu karena orang tua yang sederhana, tampak tidak terpelajar, sebab (sedangkan) si anak sudah menjadi besar. Menjadi besar dan bagus itu adalah hasil pengorbanan orang tua!
Jangan melupakan orang tua, itu jahat!
Begitu juga terhadap MERTUA, kita harus memperlakukan mertua sama seperti kepada orang tua, sebab suami-istri itu satu bukan dua (Mat 9:5-6).
Ada beberapa anak-anak yang tidak setia kepada orang-tuanya, apa lagi diantara orang berdosa. Kadang-kadang begitu jahat sampai-sampai orang-tua dalam dunia memperkembangkan cara-cara pencegahannya sendiri. Misalnya kasus sebagai beri-kut.

Ada dua ibu tua berbincang-bincang, ibu yang lebih tua berkata: Dik, kalau punya uang atau perhiasan, jangan terburu-buru diserahkan kepada anak dan menantu kita, nanti mereka tidak hormat pada kita. Kalau kita sudah mati, biarlah segala harta kita dibagi-bagi di antara mereka. Tetapi kalau masih hidup harta itu sudah diserahkan semua kepada mereka, mereka tidak akan hormat lagi pada kita, sebab tidak ada lagi yang diharapkannya dari kita.
Ini kata-kata yang betul untuk orang dunia, kata-kata mutiara bagi mereka.
Tetapi bagi orang beriman lain.
Sekalipun orang tua tidak bisa memberi apa-apa, kita tetap setia dan hormat kepada mereka sebab kita mau membalas budi, menyenangkan mere-ka dan taat akan Firman Tuhan. Orang yang taat akan Firman Tuhan, Tuhan sendiri yang akan memberkatinya.

B. SEBAGAI ORANGTUA.


Harus setia akan tanggung jawab dan kewajibannya dalam keluarga. Me-  mang mendidik anak dengan baik itu perlu pengorbanan yang sangat besar,  pasti merugikan/ mengurangi kepentingan pribadi orangtua itu sendiri,  tetapi orang tua wajib setia sebagai ibu dan bapak dalam rumah tangganya  masing-masing. Jangan diserahkan suster, kecuali karena cacat atau suster  itu hanya sekedar membantu sang ibu.
Masa mengasuh dan mendidik anak itu adalah masa penaburan dari orang  tua dan biasanya ini tidak me-ngalami banyak kesukaran, sebab  biasanya cinta orang tua itu cukup banyak untuk pengorbanan ini. (Kecuali orang tua yang terjerat dalam dosa, biasanya menelantarkan anak-anaknya! Harus bertobat!).
Meskipun orang tua sudah menga-suh dan mendidik anak-anak, sudah menabur, tetapi sebagai orang-orang rohani, orang tua tetap berharap Tuhan lebih daripada berharap pada anak-anaknya. Memang anak-anak harus membalas budi orang tuanya, tetapi orang tua yang rohani tetap tidak mempercayakan dirinya pada anak-anaknya (Yoh 2:24), tetapi tetap berharap pada Tuhan lebih daripada anak-anaknya. Inilah cara yang terbaik, prinsip hidup yang terbaik supaya orang tua mempunyai sikap yang betul terhadap anak-anaknya dan ini meng-hasilkan pertumbuhan rohani yang kuat, sebab sungguh-sungguh berharap pada Tuhan lebih daripada anak-anaknya, meskipun anak-anak-nya wajib memelihara orang tuanya pada masa tuanya. Kalau anak-anak sungguh-sungguh membalas budi orang tuanya, tentu orang tua dengan sukacita menerimanya, tetapi mereka tetap berharap pada Tuhan lebih daripada anak-anak!
Ada orang tua yang dipelihara oleh anak-anaknya (tetapi undur dari Tuhan), tetapi anak-anaknya ini melarang orang tuanya ke Gereja, disuruh ikut mereka setiap hari minggu untuk rekreasi. Oleh sebab orang tua ini berharap sepenuh kepada anaknya, maka mereka taat kepada anak-anaknya dan rohaninya tambah mundur, akhirnya mereka undur bersama-sama dengan anak-anaknya! Ini jalan kepada kebinasaan, satu keluarga lengkap di Neraka. Tetapi ada orang tua yang tetap mendahulukan Tuhan, mereka tetap beribadah sekalipun dilarangi anak-anaknya dan mereka bersedia dikhianati anak-anaknya karena Tuhan. Tentu ini sangat menyakitkan hati, tetapi mereka terus mendoakan anak-anaknya sampai bertobat dan kembali kepada Tuhan dan kepada orang tuanya, atau sampai mereka sendiri mati.

C. SEBAGAI SUAMI/ ISTERI.


Suami/ istri harus setia satu sama lain. Kita harus ingat bahwa tidak  ada suami/ isteri yang sempurna, semua pasti ada sedikit atau  banyak kekurangannya, tetapi suami/ isteri harus setia dengan  keputusan dan janji nikahnya.
Jangan lupa, sekalipun dikecewakan, tetap setia dan Tuhan tahu,  Dia akan memberkati orang yang setia dengan perkara-perkara  yang lebih besar (Luk 16:10). (Lihat Sub II, 4c, 5, 6).
Kalau ada kasih maka pasti bisa setia, tetapi kalau kasih berkurang, apalagi karena kecewa, karena dosa-dosa perzinahan, maka untuk menjadi setia itu merupakan beban yang berat, tetapi ini suatu pengolahan yang baik. Lebih-lebih pada waktu salah satu menjadi lemah atau cacat jasmani/ rohani, biarlah yang kuat tetap setia, jangan mengkhianati.
Untuk pasangannya yang sudah menjadi dingin, apa lagi sudah saling membenci, untuk tetap setia dan kembali berkasih-kasihan itu perlu banyak penyangkalan diri, sakit, tetapi ini justru memulihkan dan menumbuhkan kerohaniannya dan itu suatu keuntu-ngan yang besar.
Maleakhi 2:16 Karena bencilah aku akan talak, demikianlah Firman Tuhan, Allah orang Israel, dan akan memberi malu kepada bini yang sopan demikianlah Firman Tuhan serwa sekalian alam! Sebab itu, ingatlah baik-baik, jangan kamu pakai kuatmu akan berbuat kianat! (Tetaplah setia!) (TL).
Kesetiaan yang betul itu diuji pada saat-saat yang sulit seperti ini (Fil 2:22).
Tetapi orang-orang beriman jangan menyerah, mintalah tolong Tuhan, berdoa, Roh Kudus akan memberi kekuatan dan kasih sehingga bisa tahan dalam pengolahan sampai lulus. Ja-ngan menyerah, itu bukan kehendak Tuhan.
Ada suami mempunyai istri yang jelek, jahat, cerewet, menjengkelkan, tetapi suami itu sejahtera, riang gembira. Kalau istrinya mengganggu dan menjengkelkan hatinya, ia hanya mengelus dadanya dan berkata: “Puji Tuhan!” Dan ia kembali seperti biasa lagi.
Ini suami yang setia dan setiap kali lulus dan meningkat.
Tetapi ada suami yang mengalami seperti ini, mukanya sedih dan sayu, begitu menderita dan tertekan jiwanya. Mengapa …? Sebab ia masih bergumul untuk tetap setia pada istri yang menjengkelkan itu. (Kalau bertemu istri/ suami seperti ini bantulah, doakan dan nasehati, lebih-lebih suami/ istri yang sedang bergumul). Jangan putus asa, maju terus dengan kuasa, hikmat dan kasih Kristus, pasti menang. Kalau sudah menang, maka untuk tetap setia itu tidak lagi berat, sudah mahir dan bisa bersukacita!
Filipi 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Tentu suami dan isteri masing-masing harus terus memeriksa diri. Buanglah semua sifat, kebiasaan dan sikap-sikap yang jelek, yang menyakiti. Periksalah semua segi-segi hidup yang lain, yang salah diperbaiki, sehingga makin seperti Kristus, makin tumbuh dan itu akan membuat suami-isteri itu makin manis.
Orang beriman harus belajar setia, sebab itu yang dikehendaki Tuhan, seperti Dia sendiri (Wah 17:14).

D. DALAM BERPACARAN.

Harus setia meskipun belum menikah. Kalau belum ada niat untuk menikah, jangan berpacaran, nanti menjadi dosa (menjadi flirten = hanya untuk main-main percabulan), lebih baik belajar bergaul biasa dalam terang dan menjadi sahabat yang setia.

Tunggu sampai sudah mau menikah dan yakin bahwa orang itu jodoh dari Tuhan, baru mulai berpacaran, sekaligus untuk checking (apa itu betul dari Tuhan, apa cocok) dan untuk mengenal lebih lanjut.
Kalau memang tidak cocok, boleh berpisah, tetapi itu bukan rutin, sehingga menjadi dosa.

2. DALAM GEREJA.

Orang beriman itu tidak hidup soliter (sendirian), juga bukan sebagai kentang ulek (mass potato) tanpa identitas, tetapi masing-masing mempunyai identitas sendiri dan tempat yang tertentu di dalam Gereja lokal masing-masing (tubuh Kristus lokal) yang merupakan bagian dari tubuh Kristus global (1Kor 12:18). Sebab itu setiap orang beriman harus ada dalam “kandangnya” masing-masing, seperti setiap sel tubuh itu tempatnya tertentu di dalam tubuh dalam satu organ atau bagian tertentu.
(Lihat TE no 32 tentang “Keanggotaan Gereja).
Bilangan 1:18 Lalu dipanggilnya berhimpun segenap sidang itu pada hari yang pertama bulan yang kedua, supaya diberinya tahu umurnya, seturut sukunya dan seturut rumah bapak-bapaknya (Gereja lokal), serta dengan bilangan nama masing-masing, yang berumur dua puluh tahun dan lebih dari pada itu (TL).
Setiap orang beriman harus setia dalam “rumah bapaknya atau kandang dombanya masing-masing”.
Setiap orang Israel diidentifikasikan menurut Gereja lokal rumah bapak-bapaknya dan segala aktivitasnya, juga yang dilakukan bersama, berdasar rumah bapanya masing-masing, ini yang menjadi patokan. Baik dalam ibadat dan pelayanan, pada waktu berjalan, berkemah, berperang dan seterusnya selalu menurut rumah bapaknya, kandangnya atau Gereja lokal masing-masing.
Bilangan 2:1 Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa dan Harun, Firman-Nya (TL).
Bilangan 2:16 Maka jumlah segala orang yang dibilang dalam tentara Ruben itu (masing-masing menurut rumah bapak-bapaknya) seketi lima laksa seribu empat ratus lima puluh, dengan segala tentaranya, maka mereka itu akan berjalan menjadi tentara yang kedua (TL).

Semua harus tinggal tetap dengan setia di dalam Gerejanya masing-masing seperti orang Israel di dalam rumah bapak-bapaknya.

Mungkin ada beberapa hal yang pahit dialami dalam Gereja itu,  tetapi ia harus berusaha untuk tetap setia. Misalnya disiplin yang  lebih keras daripada yang diharapkan olehnya, pengajaran yang  keras dalam kesucian dan ketertiban, kadang-kadang teguran karena  salah, atau perkelahian dengan pengurus Gereja/ anggota dan lain-  lain, semua ini adalah penga-laman-pengalaman pahit (yang  sebetulnya tidak diharapkan terjadi), tetapi sering kali mendorong  orang-orang untuk lari dari Gerejanya, pindah Gereja. Dalam hal-  hal pribadi semacam ini, setiap orang harus belajar untuk tetap  setia dalam Gerejanya, mempertahankan sehabis-habisnya untuk tinggal tetap dalam Gerejanya. Orang-orang seperti ini (yang berusaha untuk tetap setia dalam Gerejanya masing-masing), mereka mengalami pengolahan yang baik, lebih-lebih di dalam gereja yang takut akan Tuhan dan penuh dengan Firman Tuhan dan Roh Kudus. Pengolahan ini menyucikan dan menumbuhkannya, ini sangat berguna bagi orang itu sendiri.
Orang yang tidak setia dalam Gerejanya lalu pindah Gereja (lari!), itu tidak mengalami pengolahan, tetap mentah dan tidak tumbuh, rugi. Jangan lari dari pengolahan. (Juga ini sia-sia, sebab lari ke Gereja lain, di sini juga ada salah paham, juga ada kepahitan, juga ada iblis yang mau merusak Gereja Tuhan, apa lagi kalau orang itu sendiri suka membuat gara-gara, kemanapun ia pergi akan penuh gara-gara!). Juga orang yang suka keliling Gereja itu tidak terolah dan akan kacau sebab menerima pengajaran dan cara-cara yang berlainan.
Juga tabiatnya tetap kanak-kanak rohani sebab mudah pindah-pindah, tidak ada tanggung jawab, tidak mau taat untuk setia, tidak mau menerimanya tidak enak, hanya mau mencari yang enak, yang sedap dan menyenangkan bagi dirinya sendiri (Pkh 7:14). Selalu mengkritik tetapi belum tentu yang dikritik itu salah atau jelek. Kanak-kanak rohani sulit menge-nal kebenaran yang sesungguhnya, sekalipun secara duniawi mereka orang pintar atau orang besar.
Begitulah semua anggota sidang Tuhan harus setia dalam Gereja masing-masing, jangan suka keliling ke sana sini, kecuali sekali-kali karena ada tujuan tertentu yang baik. Biasanya orang-orang Israel tidak pernah pindah dari rumah bapak-bapaknya ke rumah bapa yang lain kecuali tempatnya itu menjadi rusak, sesat, ia tak dapat lagi hidup di dalamnya, ia sudah berusaha memperbaikinya dengan Tuhan dan tidak berhasil/ ditolak.
Misalnya pada zaman Kerajaan Yerobeam, ia menyuruh dan memaksa semua orang untuk menyembah lembu emas. Mereka yang menolak dimusuhinya dan ditekan.
2Tawarikh 11:14-16 Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam TUHAN, dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya. Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.

Beberapa orang yang mengerti Firman Tuhan, tidak mau ikut dalam kesesatan Yerobeam mereka pindah ke Yerusalem.
Semua Gereja-gereja yang benar itu bersaudara di dalam Tuhan. Dan setiap orang harus setia di dalam Gerejanya masing-masing. Kecuali kalau:
1. Ternyata Gerejanya itu berubah menjadi sesat, atau mungkin ia baru mengerti bahwa Gerejanya itu sesat, bertentangan dengan Firman Tuhan, atau
2. Pemimpin-pemimpinnya hidup dalam dosa dan tidak mau bertobat, dan
3. Pelayanan dalam Gereja itu tidak dapat menghasilkan pertumbuhan sebab kurang Firman Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus (tetapi bukan karena dia sendiri yang bersalah sebab keras hati di dalam dosa).
Maka ia tidak perlu merasa tertuduh untuk keluar dari Gereja itu. (Kecuali Tuhan mengangkatnya menjadi nabi bagi Gereja itu).
Setiap orang beriman harus tetap dalam rumah bapak-bapaknya.
Kalau ada perkecualian seperti ini, orang itu tidak bersalah kalau ia pindah Gereja dan tentu orang itu harus mencari Gereja yang paling sesuai dengan Firman Tuhan dan cocok dengan dia, jangan mendapatkan yang seperti Yerobeam lagi, nanti terpaksa pindah lagi.

BEGITU PULA DALAM PELAYANAN.

Kita harus belajar setia seperti Musa dalam rumah Tuhan.
Ibrani 3:5 Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian,
Jangan mudah bosan dan berpindah-pindah pelayanan, kecuali kalau memang ternyata sesudah beberapa tahun buah pelayanannya tidak sesuai dengan jabatannya.
Meskipun merasa tidak cocok dan tidak sesuai, untuk permulaan belajarlah tetap tunduk pada pemimpin. Selama belum dipindahkan, kerjakan tugas itu semaksimal mungkin karena Tuhan. Biasanya pelayanan pekerjaan Tuhan apa pun kalau dikerjakan sungguh-sungguh masih menghasilkan pelajaran dan pengalaman yang baik. Setiap orang beriman harus belajar taat pada para pemimpin, tunduk sambil memperhatikan kehidupan para pemimpin tersebut (Ibr 13:7, 17). Justru oleh banyak tekanan, kesuka-ran, gemblengan dalam pelayanan, kita diolah menjadi makin indah, asal kita tetap hidup benar di hadapan Allah dan setiap kali kita bereaksi menurut pimpinan Roh Kudus sesuai dengan Firman Tuhan. Kalau setiap kali bereaksi menurut daging, timbul tabiat yang jelek dan terus diperhambakan oleh dosa dan rusak.
Ada seorang hamba Tuhan perempuan yang dipakai Tuhan dengan heran dalam doa, ia bersaksi: Pada waktu ia ditempatkan Gembala Sidangnya di suatu tempat pelayanan, ia yakin bahwa itu bukan tempatnya, ia menanyakan pada Gembala Sidangnya, tetapi Gembala Sidangnya tetap menaruhnya di tempat itu. Rasa-rasanya ia mau berontak, sebab hamba Tuhan ini merasa yakin dari Tuhan, bahwa itu bukan tempatnya, tetapi ia taat dan terus melakukan tugasnya sebaik-baiknya. Beberapa tahun kemudian ternyata hal itu sangat banyak mengolah dan mengubah dia, istimewa dalam hal tunduk dan taat pada pemimpinnya, sehingga sebab itu Tuhan memakainya dengan heran di seluruh dunia untuk kemuliaan Tuhan. Setia dalam pelayanan dan taat pada pemimpin itu suatu pengolahan yang efektif.

3. SETIA KEPADA TUHAN

Ini adalah kunci untuk segala macam kesetiaan yang lain.
Kita harus setia dalam segala segi hidup dan pelayanan kita pada Tuhan. Hal ini sudah jelas, tidak dibicarakan lebih lanjut.

Ada beberapa bentuk kesetiaan kepada Tuhan yang khusus, yaitu: dalam zaman Antikris; orang Kristen yang tertinggal betul-betul diuji dalam kesempatan terakhir ini, untuk setia sampai mati (Wah 20:4). Pada waktu ini untuk setia kepada Tuhan, itu berarti penderitaan yang dahsyat, bahkan sampai mati. Meskipun demikian semua penderitaan yang dahsyat ini (tersiksa sampai mati), tidak menghasilkan pertumbuhan atau pahala sama sekali, hanya sekedar selamat (Wah 6:11, lihat pelajaran Kitab Wahyu).
Kalau zaman sekarang kita tekun dan berani menderita seperti ini, hasilnya sangat indah.

Setia dengan berani menderita, tersiksa sampai mati, ini berarti  penyerahan sepenuh sampai mati. Orang seperti ini akan dapat dipakai  Tuhan luar biasa untuk zaman sekarang.
Setialah sekarang, jangan tunggu kasep/ terlambat. Tetaplah setia  meskipun ada saat-saatnya di mana kita tidak dapat mengerti, mengapa  hal-hal yang pahit itu terjadi.
Jangan menyalahkan Tuhan, jangan ragu-ragu akan kebaikan, kasih dan  kuasaNya.
Jangan lupa untuk memeriksa diri. Ada kemungkinan karena kesalahan kita sendiri sehingga timbul hal-hal yang tidak enak itu. Tetapi kalau hati kita tidak menyalahkan kita (1Yoh 3:21), maju terus dengan setia, pasti semua akan menjadi kebaikan bagi orang yang hidup benar, cinta dan taat pada Tuhan (Rom 8:28).
Sering kali sesudah kita keluar dari persoalan itu, kita baru melihat hasil yang indah dan bahwa Tuhan itu baik, Tuhan tidak salah, bahkan Ia mengizinkan semuanya itu terjadi untuk kebaikan kita.

4. DALAM PEKERJAAN.

Orang Kristen yang setia dalam pekerjaannya menjadi perhiasan dari pengajaran Firman Tuhan

Titus  2:10 Dan dengan tiada mencuri, melainkan menunjukkan setia yang sempurna, supaya di dalam segala perkara mereka itu menjadi perhiasan bagi pengajaran Allah, Juruselamat kita (TL).
Jangan menjadi penyebab dari penghujatan kepada Tuhan, sebab tidak jujur dan tidak setia
Roma 2:24 seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah di hujat diantara bangsa-bangsa lain.”
Daniel di dalam pekerjaannya sangat setia, sehingga tidak ditemukan satu pun kesalahannya.
Daniel 6:4 Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.
Jangan malas, tetap rajin dan bertanggung jawab, sebab ini adalah kehendak Tuhan.
Jangan menjadi pegawai yang malas, tidak jujur dan tidak bertanggung jawab di hadapan Tuhan, seperti hamba yang jahat dan malas
Matius 25:26 Maka jawab tuannya, serta berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat dan malas, sudah engkau ketahui, bahwa aku menuai di tempat yang tiada aku tabur dan mengumpulkan di tempat yang tiada aku hamburkan (TL).
Beberapa orang malas, tidak bertanggung jawab, tidak setia, karena mengeluh gajinya kurang, tetapi ternyata seringkali justru karena kurang setia, maka mereka tidak menerima upah yang cukup. Kalau kita sudah bekerja dengan setia dan baik, tetapi tetap tidak diberi upah yang sesuai, Tuhan sendiri sebagai Hakim akan memberikan jumlah yang kurang itu kepada kita pada waktunya. (Seperti Yakub yang sudah bekerja sungguh-sungguh pada Laban, tetapi tidak menerima upah yang cukup. Akhirnya Tuhan sendiri yang mengambil dari Laban, diberikan kepada Yakub, tetapi bukan oleh Yakub!).
TERHADAP MILIK ORANG LAIN yang dipercayakan kepada kita (kendaraan kongsen dan sebagainya) harus setia seperti milik sendiri (Luk 16:12).

5. PERGAULAN.

Belajar berbuat baik dalam pergaulan, istimewa dengan orang-orang seiman (1Kor 15:33/ Gal 6:10).
Jangan menuntut orang-orang di sekitar kita untuk menjadi sahabat kita yang setia, tetapi jadilah sahabat yang setia bagi mereka seperti Daud dengan Yonatan (1Sam 18:1). Jangan mudah memutuskan persahabatan, meskipun mereka berbuat salah kepada kita dan kita dirugikan; belajar mengampuni dan melayaninya. Orang yang lebih besar rohaninya (bisa me-ngalah, mengampuni, dirugikan, direndahkan, setia, ada kasih dan seterusnya) harus belajar melayani saudara-saudaranya yang lebih kecil.
Matius 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

Matius 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;
Dengan demikian kita akan menjadi makin besar di hadapan Tuhan, sebab kita melayani dan menjadi sahabat yang setia, bukan hanya menuntut terus seperti kanak-kanak rohani. Melayani dan menjadi sahabat yang setia, semua ini berarti pengolahan yang kadang-kadang sangat sakit, tetapi ini merupakan pengolahan yang sangat efektif untuk menumbuhkan iman.
Jangan lupa, jangan setia dalam persahabatan yang najis / dosa, itu persahabatan iblis dan melawan Allah.

6. TERHADAP BANGSA DAN NEGARA.


Dalam batas-batas yang sesuai dengan Firman Tuhan, kita harus setia. Kalau seorang tidak puas dengan bangsa dan negaranya, mau pindah menjadi warga negara lain, masih boleh. Tetapi setiap warga negara pada umumnya hendaklah ia setia pada bangsa dan negaranya. Apalagi kalau sudah mengucapkan janji sebagai warga negara baru, harus ditepati (Mat 5:37).

KESIMPULAN:

Setia itu tidak mudah, itu merupakan suatu pengolahan. Tetapi kalau lulus hasilnya indah. Kita harus setia dalam segala segi hidup, di mana kita wajib setia menurut Firman Tuhan. Orang yang berjalan dalam Roh akan mengeluarkan buah Roh, termasuk kesetiaan. Ini menjadi kesaksian dan permata yang indah, sebab kesetiaan orang-orang beriman itu tulus, jujur, dan memang seharusnya lebih indah daripada orang-orang lama, yang tidak mengalami lahir baru dan pertolongan Roh Kudus.

Jangan meninggalkan kesetiaan, tetapi kalungkanlah selalu di dalam diri kita.
Amsal 3:3 Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu.
Memang setia pada manusia itu tidak menjanjikan hal-hal besar, tetapi Tuhan yang melihat orang yang setia dari yang kecil, akan diangkat, ditinggikan dan dipercayai hal-hal yang lebih besar dari Tuhan (Luk 16:10).
Jangan ragu-ragu, setialah, Tuhan yang setia akan janji-Nya, akan mengangkat orang-orang yang setia.
Setialah sampai mati itu baru berharga dan akan mendapat mahkota hayat.