MEMPELAI PEREMPUAN YANG TERHIAS BAGI SUAMINYA

Wah 21:2 Maka aku tampak negeri yang kudus, Yerusalem Baru turun dari Sorga daripada Allah, lengkap seperti seorang mempelai perempuan terhias bagi suaminya.

I. TUJUAN UTAMA : MEMPELAI KRISTUS !

Gereja yang sempurna itu diumpamakan seperti Jerusalem Baru yang tampak seperti seorang mempelai perempuan yang terhias bagi suaminya. Dan ini, menjadi mempelai Kristus, harus  menjadi tujuan utama dari hidup, ibadat, dan pelayanan kita.
Ini tujuan hidup yang betul dan ini mengarahkan hidup kita. Sesudah kita percaya dan diselamatkan, jangan berhenti sampai disini, tetapi kita harus bisa melihat tujuan yang sangat mulia dan indah ini, yang berlaku sampai di dalam kerajaan Sorga untuk selama- lamanya.
Kalau seorang bisa melihat tujuan yang mulia ini, maka akan timbul kerinduan dalam hatinya untuk bisa mencapainya. Karena itu kita harus terus belajar dan tumbuh supaya akhirnya bisa menjadi pengantin perempuan yang terhias, elok, cantik bagi suaminya. Ini memerlukan banyak pengolahan supaya bisa menjadi sempurna.
Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, harus menjadikan hal ini sebagai arah atau tujuan hidupnya. Arah atau tujuan ini harus selalu jelas, supaya kita bisa berjalan lurus menuju tujuan, tidak zig zag, tidak tertarik atau terpikat ke arah lain yang tidak tepat. Kalau kita bisa melihat tujuan dengan betul dan berjalan terus menuju tujuan dengan lurus, maka kita akan tumbuh dengan cepat langsung menuju ke sasaran dan kita akan mencapai lebih banyak untuk kekal, bahkan mungkin bisa menjadi sempurna pada akhirnya.
Mungkin kita sekarang baru bisa melihat beberapa persen saja dari keindahan tujuan akhir yang gilang gemilang itu. Kalau bisa melihat faedah dan keindahannya lebih banyak, maka gairahnya akan lebih besar.
Memang tujuan rohani itu tidak sejelas tujuan jasmani, bahkan tidak kelihatan. Tujuan di dunia, misalnya menjadi kaya raya, memiliki seratusrumah, seribu mobil, dan lain-lain., itu lebih mudah membayangkan, sehingga banyak orang menginginkannya. Tapi kalau tujuannya menjadi mulia di sorga, banyak orang yang belum bisa melihat. Kalau kita baru bisa melihat sedikit saja dari keindahannya, kurang bergairah. Tapi kalau kita bisa mengerti lebih banyak, kita bisa lebih bergairah, lebih bertekun supaya bisa mencapainya dengan secepatnya, selagi masih hidup.
Kalau satu orang jalannya zig-zag, dia tidak akan tumbuh dengan baik. Tumbuhnya akan pelan, bisa-bisa tersesat atau terkat di tempat-tempat yang salah sehingga berhenti tumbuh. Bahkan karena tidak tahu arah, dia bisa berjalan mundur dikira maju. Akhirnya tidak mencapai  tujuan, buang waktu, buang kesempatan karena keliru jalan dan tersesat. Sebab itu kita akan belajar tentang tujuan ini, supaya kita tidak tersesat atau tertarik ke arah yang lain, melainkan bisa menjadi mempelai Kristus yang elok dan cantik di hadapan Tuhan.

II. DALAM  PERNIKAHAN  JASMANI

Kita akan melihat arti secara jasmani dulu, baru arti secara rohani. Mengapa? Supaya kita lebih mudah mengerti, sebab Tuhan menciptakan kita itu segambar dengan Dia.
Kalau Tuhan memerintahkan: hendaklah engkau tekun seperti seorang tentara, belum tentu semua orang mengerti, belum tentu semua tahu artinya menjadi seorang tentara, tidak tahu bagaimana hidup sebagai seorang tentara, bagaimana kedisiplinannya, ketaatannya, pengorbanannya, dan lain-lain. Pada waktu perang mereka tidak lagi memikirkan ingin makan soto atau ayam, pokoknya perang, perang, dan perang. Tidak semua orang bisa mengerti.
Tapi kalau Tuhan memakai istilah: seperti seorang anak dengan bapaknya, dengan mudah kita bisa mengerti, meskipun kadang-kadang ada juga orang yang memiliki hubungan yang tidak baik dengan bapaknya secara jasmani, lalu ia menganggap demikian juga hubungannya dengan Bapak sorgawi. Karena itu sebagai bapak jasmani, kita harus memelihara hubungan yang baik dengan dengan anak-anak kita.
Kalau kita harus memarahinya, tunjukkanlah apa kesalahannya, mengapa ia harus dihukum, jangan hanya marah-marah, memukul dengan emosi, tidak adil dan lain sebagainya, sehingga si anak akan berpikir bapaknya itu identik dengan seorang diktator yang terus marah. Anak macam ini akan mudah menganggap Bapak sorgawinya sama saja seperti bapak jasma-ninya.
Pernah ada satu bapak menggigit telinga anaknya sampai putus sebagian. Dan setiap kali anak itu melihat cacat pada telinganya itu, mungkin pada waktu sisir, ia menjadi sangat marah dan dendam kepada bapaknya. Kalau ia mendengar Firman Tuhan yang berkata: “Bapak kita yang di sorga”, maka yang terbayang padanya hanya telinga yang cacat itu dan kebenciannya terhadap bapanya. Baginya, bapak itu membawa satu kesan yang pahit.
Namun tidak semua bapak seperti ini. Kadang- kadang orang semacam ini, waktu ia menikah, ia menemui bapak mertua yang lain dari bapaknya sendiri, itu bisa mengobati kepahitan hatinya.
Jadilah seorang bapak yang bijaksana. Kalau si anak salah, tetap perlu dinasehati, ditegur atau dimarahi, tapi kita harus menunjukkan apa kesalahannya, baru dinasehati dan didoakan. Tetapi jangan hanya bisa memarahi, selain itu juga harus belajar menyayangi, mencintai, supaya ada kesan yang seimbang,  bahkan perlu impact yang baik bagi anaknya. Jangan setiap kali bertemu hanya dimarahi melulu, sediakan waktu yang cukup untuk bergurau dan bermain.
Anak yang mempunyai seorang bapak jasmani yang sangat menyayanginya, sangat baik, sabar, pemurah dan sangat bijaksana terhadap kesalahan dan kenakalannya, maka anak itu sangat dekat dan menyayangi bapaknya; Dengan mudah ia bisa menganggap Bapak sorgawinya juga seperti bapak jasmaninya itu.  Kalau Allah di Surga mengatakan Dia itu seperti bapak yang baik, maka pengertian orang-orang beriman tentang Allah Bapa banyak dipengaruhi oleh bapak jasmaninya, tetapi Roh Kudus bisa membuat pengertian yang betul dan hidup dalam pikiran kita, meskipun bapa jasmani tidak mendukung pengertian bapa yang baik ini.
Jangan terlalu takut efek bapak jasmani, Roh Kudus sanggup memberi pengertian yang betul pada orang-orang yang membuka hati bagi Firman Tuhan dan Roh Kudus.
Tetapi kalau Tuhan menggambarkan dirinya seperti Pengantin laki-laki dan gerejaNya seperti pengantin perempuan, setiap orang bisa mengerti. (Meskipun di sorga tidak ada laki atau perempuan, tidak ada pernikahan, perasaan birahi atau sex seperti di dunia. Setelah kematian, tubuh ini berubah seperti malaikat. Tidak ada malaikat yang bertunangan atau menikah, mereka tidak mempunyai keinginan-keinginan seperti manusia di dunia).

Tetapi Tuhan mengambil gambaran sebagai pengantin laki-laki dan  perempuan, supaya kita mudah menangkap maksudnya. Karena itu  kita akan melihat lebih dahulu tentang pernikahan jasmani, baru  kemudian pernikahan rohani.

TERHIAS BAGI SUAMINYA

Adalah wajar kalau perempuan lebih suka berhias daripada laki-laki. Sebab itu dalam Alkitab pun tidak pernah diceritakan tentang suami yang berhias tetapi isteri-isteri yang berhias, sehingga ia menjadi makin elok bagi suaminya.
Menghiasi diri ini jalur yang bertambah ramai, yang bisa membawa kepada perzinahan, istimewa karena berhias bukan untuk suaminya.
Bila dibandingkan dengan 10 atau 20 tahun yang lalu, jaman sekarang semakin banyak orang suka berhias dan semakin banyak kosmetik dijual. Tetapi sebagian besar orang-orang ini berhias bukan untuk suaminya, apalagi kalau berhias berlebih-lebih dan tidak patut, biasanya itu karena ingin seksi, karena perzinahan. (Kalau untuk suami itu baik, tetapi kalau karena perzinahan, itu menjadi kaki tangan iblis untuk makin menyalakan dosa perzinahan dalam dunia ini).
Mengapa banyak orang berbuat demikian? Ini disebabkan karena dosa perzinahan meningkat luar biasa  sehingga perempuan-perempuan mempercantik diri bukan untuk suaminya, tetapi untuk perzinahan.
Orang-orang beriman boleh  berhias yang wajar, tapi tetap ada patokan- patokannya, yaitu:
A. Untuk suami. Wah 21:2. Jadi patokannya bukan mode tetapi suami. Tubuh istri itu milik suami, dan tubuh suami milik istri. 1Kor 7:3-4. Berhias untuk suami ini adalah patokan yang betul. Jangan ikut mode kalau suami tidak setuju. Patokan yang Alkitabiah adalah suami, bukan mode.

Lebih-lebih kalau  suaminya tidak ada di rumah, lalu berhias berlebih-  lebih dari biasanya, itu ada yang tidak beres. Jangan berhias untuk  orang lain, tapi berhias hanya untuk suami. Ini bukan berarti kalau  keluar rumah tidak boleh berhias, bukan. Boleh berhias sepantasnya  saja, demi kerapian dan sopan santun, tetapi isteri jangan berhias  untuk menarik orang lain.
Kalau belum menikah, harus taat pada orang tua dan Tuhan supaya  tidak berhias terlalu berlebihan. Dalam hal ini orang tua menjadi  patokan supaya jangan berlebih-lebihan.
Artinya: Jangan berhias seperti perempuan sundal yang mau menarik  semua orang kepadanya.
Amsal 7:10 Lalu bertemulah ia dengan seorang perempuan yang berpakaikan perhiasan perempuan sundal dan hatinya pandai menipu. (TL)
Perempuan sundal itu menghiasi dirinya sedemikian rupa, sehingga kalau bisa semua mata memandang dia terus. Perempuan sundal itu semata-mata berusaha menggoda dan menarik perhatian laki-laki lain. Dia menjadi alat iblis untuk membangkitkan nafsu perzinahan.
Orang beriman boleh berhias sepantasnya, tetapi jangan memakai perhiasan perempuan sundal. Berhias untuk suami, tidak salah, sekalipun membangkitkan, membangunkan naluri sex-nya dalam pernikahan itu bukan dosa. Bahkan banyak bersenang-senang karena minum air dari kolamnya sendiri, itu tidak salah, apalagi masih baru menikah beberapa puluh tahun, asal tetap diantara suami-isteri sendiri. Birahi yang dibangunkan dalam pernikahan itu baik, bukan dosa.
Ams 5:15-18 Baiklah engkau minum air dari pada kolammu sendiri dan air yang mengalir dari pada telagamu sendiri. Biarlah pancaran airmu mengalir keluar seperti anak sungai yang pada sisi jalan. Biarlah ia menjadi engkau seorang jua punya dan jangan orang lain empunya dia sertamu. Berkatlah kiranya atas pancaranmu, dan bersukacitalah engkau akan bini yang pada masa mudamu. (TL)
Jangan dibangunkan sebelum waktunya, yaitu diluar pernikahan (sebelum atau sesudah pernikahan), itu menjadi dosa perzinahan Mat 5:28. Sebab itu “berhias” hanya untuk suaminya sendiri.
B. Tidak berlebih-lebih.
Jangan menghabiskan uang secara berlebihan hanya untuk berhias. Juga jangan menghabiskan waktu dan perhatian terlalu banyak untuk ini, sepatutnya saja.
1 Pet 3:3-4 Janganlah kamu menghiasi dirimu yang lahir dengan rambut yang beranyam, dan memakai barang emas atau memakai pakaian yang indah-indah, melainkan sifat yang baik pada hatinya, itulah perhiasan yang tiada akan binasa, yaitu perangai yang lemah lembut dan pendiam, yang besar harganya di hadirat Allah. (TL)
Perhiasan jasmani itu secukupnya saja.
Memang uang, waktu, keterbatasan setiap orang itu tidak sama. Tetapi setiap kita harus bijaksana, agar tidak menghabiskan segalanya terlalu berlebihan hanya untuk berhias saja. Kadang-kadang ada yang berlebih-lebih sampai mengganggu kesehatan atau merusak kulit.
Contoh: ada orang yang diet secara berlebihan agar terlihat langsing, sampai-sampai pucat dan tidak sehat. Ini tentu tidak baik dan bodoh, sebab kalau tidak sehat, pasti juga tidak cantik. Sepantasnya saja.
Kadang-kadang ada orang memakai kosmetik secara berlebihan. Iklan apa saja dicoba, dipakai, akhirnya rusak wajahnya, sehingga ia jadi depresi bahkan mau bunuh diri, sangat menyedihkan. Jangan terlalu percaya pada iklan kosmetik, semua itu ada batasnya. Bila perlu, bertanyalah pada ahlinya, sebab kalau salah, bisa celaka. Ingin cantik, malah jadi jelek, sehingga stress dan akibat-akibat lainnya.
Kosmetik yang original dan indah adalah: hati yang gembira. Kalau hati gembira, maka wajah ini akan jadi senang, cantik. Ada beberapa orang yang sebetulnya wajahnya biasa, tapi karena dia selalu gembira, maka wajahnya pun jadi lebih cantik.
C. Sopan.
Kalau seorang berhias berlebih-lebih sampai tidak sopan, itu bukan lagi untuk suami.
1 Tim 2:9 Demikianlah juga segala perempuan menghiasi dirinya dengan memakai pakaian yang patut, serta dengan sopan dan  siuman, bukannya dengan rambut beranyam dan emas atau mutiara atau pakaian yang berharga. (TL)
Dengan patut, sopan, siuman, ini yang betul. Kalau seorang istri sudah berhias secara berlebih-lebih sampai tidak sopan, atau istilahnya sekarang: lebih seksi, itu tentu bukan untuk suaminya.
Kalau buat suami itu dilakukan di rumah, apalagi di kamar, boleh saja, tidak ada batas sopan sebab hanya berdua 1Kor 7:4. Tapi jangan untuk orang lain, jangan untuk membangunkan naluri sex orang lain, jangan membawa orang lain jatuh dalam dosa, itu penggoda seperti iblis atau pembunuh sebab membuat jatuh dalam dosa dan binasa Ams 16:29.
Kadang-kadang perempuan itu sendiri menjadi korban birahi yang menyala-nyala yang dinyalakannya sendiri dengan pakaian dan sikapnya yang seperti perempuan sundal.
Seorang istri yang tulus, tidak ada maksud tersembunyi, pasti mau dinasehati. Tapi kalau ada maksud lain atau tujuan-tujuan tersembunyi, lalu mendapat nasehat ini, ia bisa marah bukan main.
Kalau belum menikah, pacar / tunangannya tidak boleh dianggap sebagai suami, harus menunggu sampai Tuhan menyatukan keduanya di dalam pernikahan yang kudus, itu baru resmi.
Jangan bertunangan seperti cara orang dunia, sekalipun hubungan sex dengan tunangan sendiri, itu termasuk perzinahan dengan hukumannya! Ini dosa dan menyebabkan rohaninya rusak, juga rencana Tuhan baginya hancur. Berapa banyak guru Sekolah Minggu, Pelayan Tuhan yang berpacaran, rusak rohaninya sebab meniru cara dunia!
Ada pengajaran yang mengajarkan harus ada keterbukaan di antara orang yang sedang berpacaran / bertunangan. Ini salah. Kalau di antara suami istri, harus ada keterbukaan dalam segala hal. Tapi kalau belum menjadi suami istri, meskipun sudah bertunangan, apa yang masih harus tertutup, jangan dibuka, itu menjadi dosa percabulan dan perzinahan. Misalnya, apa yang hanya diizinkan diantara suami-isteri, juga apa yang harus tertutup oleh baju, jangan dibuka, meskipun hanya lewat pembicaraan, sebab itu belum waktunya. Jangan karena salah pengajaran, mau terbuka, terang-terangan, malah iblis mengambil kesempatan, terbakar oleh nafsu, rusak hidupnya.
Kaum muda harus belajar memperkenankan Tuhan, tunggu waktunya. Ada yang tinggal tunggu 6 bulan lagi, tapi karena tertipu oleh iblis, terbakar hawa nafsunya, lalu jatuh dalam dosa dan rohaninya rusak. Sebelumnya hidup rohaninya bagus, pelayanannya indah dan bakal tumbuh jadi indah, tapi jadi rusak karena pengertian keterbukaan yang salah, yang berlebih-lebih. Apa yang tidak boleh dibuka, jangan dibuka, tunggu saatnya.
D. Tetap harap Tuhan, bukan mengandalkan kecantikan atau hiasan jasmani. Boleh berhias, boleh jadi cantik untuk suami, tetapi jangan mengandalkan itu, melainkan harus tetap harap Tuhan.
Berapa keluarga yang rusak pernikahannya meskipun istrinya cantik. Cantik itu bukan jaminan. Sebab:
1. Manusia (lebih-lebih daging) cepat bosan.
2. Seringkali orang yang tidak takut pada Tuhan, lupa kalau isterinya lebih cantik dan halal daripada perempuan sundal.
3. Kadang-kadang cantik wajahnya, tetapi tabiatnya sulit atau manja sehingga terus bertengkar.
4. Isteri tidak tunduk pada suami, melawan sehingga terus berkelahi, sekalipun cantik dan kasih suami menjadi dingin dan pernikahan menjadi hambar.
5. Semua dengan usia menjadi layu, juga kecantikan. Kecantikan isteri untuk suami perlu dipelihara, tetapi jangan berharap pada kecantikan atau semua hal-hal lahiriah yang fana akan layu, sia-sia, dan menjadi jerat.
Sebab itu:
a. Rohani harus diperhatikan. Selalu berjalan dalam Roh, supaya Tuhan Yesus selalu ada dalam pernikahan dan keluarga, sebab itu menjadi jaminan yang kuat sehingga rumah tangga menjadi manis dan bahagia. Jangan mengandalkan yang lain, baik kecantikan, uang, kepintaran dsb, tapi haraplah pada Tuhan. Tandanya orang yang harap Tuhan adalah memperhatikan hidup rohaninya, masa teduhnya, jam doa, pelayanannya.
b. Kembangkan hiasan batin, yaitu suatu sikap yang manis, kasih yang tulus, hati yang gembira, tunduk kepada suami sendiri, terbuka dan sebagainya. Ini  semua sikap batin yang elok dan pasti penampilannya juga akan makin manis.
Jangan hanya memperelok jasmani saja, sampai berjam-jam di depan cermin. Mulai dari alis, mata, bibir, pipi dan seterusnya sampai satu jam lebih bisa tahan, tapi kalau masa teduh, seperempat jam saja sudah tidak tahan, ini tanda rohani yang akan atau sudah rusak. Jangan seperti ini, sebab keadaan lahiriah itu cepat menjadi tua, kecantikan jasmani itu mudah layu, seperti bunga, pada saat mekar ia begitu indah, tapi sebentar kemudian ia mulai layu, gundul, kelopak-kelopoak bunganya mulai lepas.  Apalagi kalau sudah menjadi nenek, kecantikannya sudah layu.
Karena itu kembangkan kecantikan batiniah, sebab hiasan batin itu tidak tergantung umur, bahkan bisa dikembangkan terus- menerus, makin indah, tanpa batas, malah makin tua bisa makin manis! Pribadi yang indah, yang manis itu yang menjadi kemanisan dalam rumah tangga.
Kecantikan lahiriah akan terus turun sekalipun ditopang dengan bermacam-macam kosmetik, obat, operasi plastik, senam dll, kecantikan lahiriah akan tetap layu. Tetapi kecantikan batiniah itu bisa terus bertambah tanpa batas umur, obat dan lain-lain.
Kalau kecantikan batin ditingkatkan, maka meskipun sudah tua, diwaktu kecantikan lahiriah makin menurun, justru kecantikan batiniah meningkat, maka kecantikan total bisa tetap, tidak akan turun, sebab kecantikan batinnya makin meningkat.

Sebab itu seharusnya istri itu keindahannya bukan hanya pada jasmaninya saja, tapi terutama pada batinnya. Kosmetik yang baik dan pantas boleh dipakai, tapi jangan  lupa hiasan batin. Meskipun tua, tapi wajahnya memancarkan kasih Kristus, suatu hidup yang berbudi dan bijaksana. Meskipun tua, meskipun kulitnya keriput, rambutnya putih, dan lain-lain, tapi kalau kecantikan batinnya meningkat, segala kekurangannya itu tidak kelihatan, yang tampak adalah keindahannya.
Sebab itu para istri perlu mengembangkan kecantikan batin ini , supaya bisa makin bertambah; ini yang membuat rumah tangga menjadi manis, sebab dibalik kecantikan batiniah ada Yesus dan pekerjaan Roh Kudus yang limpah!
Sebaliknya juga suami jangan kasihnya hanya tergantung dari wajah atau kecantikan yang bisa layu. (Ini tidak mutlak, sebab ada pernikahan yang dijodohkan orang tua, mula-mula tidak cinta dan tidak suka pada wajah orang itu, tetapi lama-lama bisa cinta juga. Tentu cara ini tidak baik, sebab masing-masing harus saling mengenal dahulu dan cocok lahir batin {yakin ini jodohnya dari Tuhan} baru melangkah kepada pernikahan. Tetapi ini dituliskan supaya tahu bahwa kasih bisa tumbuh menyusul juga, meskipun cara ini tidak betul).
Kembangkan kasih Kristus (batin) supaya makin bertambah diantara suami- isteri. Kalau rohani makin meningkat, kasih batiniah diantara suami- isteri juga akan meningkat, maka hidup nikahnya makin manis dan kokoh.

Faktor wajah tetap penting dalam pernikahan (atau dalam mencari jodoh). Jangan pilih calon yang wajahnya tidak disukai, tentu pilih yang disukai, meskipun tidak ada yang ideal. Jangan menikah dengan orang yang wajahnya tidak disukai (apalagi calon isteri) sebab itu bisa menjadi duri dalam pernikahannya.
Sebaliknya, jangan menikah hanya karena kecantikan lahiriahnya saja, hanya menuruti seleranya saja. Harus dilihat dalam waktu yang cukup, apakah keduanya bisa cocok! Lebih-lebih perlu bertanya-tanya kepada Tuhan, apakah itu betul jodoh dari Tuhan. Apakah ia juga mencintai orangnya, batinnya, pribadinya.
Kasih suami yang hanya didasarkan atas kecantikan lahiriah, akan mudah berubah sebab alasan-alasan yang sudah disebut di atas. Memang peri cantik itu penipu Ams 31:30. Bisa hanyut karena umpan kecantikan sehingga menjadi dosa.
Kasih Kristus itu mencintai pribadinya tidak tergantung dari wajahnya atau dompetnya. Kasih seperti ini yang harus dikembangkan.
Seperti kasih orang tua kepada anaknya (ini sisa-sisa kemuliaan Allah dan masih ada dalam orang berdosa Rom 3:23; kasih ini tidak tergantung dari keelokan wajah si anak. Mungkin wajahnya sedikit jelek, ada kekurangannya, tapi orang tua tetap mengasihinya. Ini contoh kasih batin, kasih pada pribadinya, tidak tergantung dari wajahnya. Kasih ini seperti kasih Kristus, ini yang harus dikembangkan.
Kalau kasih kepada pribadi si isteri bertambah, maka kesukaan dalam pernikahan dan rumah tangga akan terpelihara, stabilitas rumah tangga akan lebih baik. Sebab itu baik suami maupun istri masing-masing perlu mengembangkan kasih batiniah, sehingga kasih totalnya tidak mudah turun. Semua itu akan terjadi kalau kita tinggal dalam Kristus, penuh dan dipimpin Roh.

Kasih total itu kasih yang dirasakan. Kasih  total itu terdiri dari kasih lahirian dan kasih  batin. Kasih lahiriah itu kasih karena  kecantikannya, karena tubuh secara  lahiriahnya. Kasih batin itu kasih pada  pribadinya, cocok dan kasih pada orangnya.
Kasih itu ada bermacam-macam. Ada kasih eros  yaitu kasih birahi yang menuju ke arah sexual. Ada juga kasih Agape, yang tidak melihat rupa, seperti kasih Allah dan kasih orang tua. Ada lagi kasih Filia, kasih persahabatan, bukan karena rupa, tapi karena ada ikatan batin.
Kasih lahiriah, apalagi kalau dihubungkan dengan sex, pada waktu pertama bisa naik, lalu naik turun, tapi semakin tua semakin menurun, itu masih normal. (Kecuali beberapa yang tidak normal di dunia, tambah tua tambah dirangsang, sehingga makin menjadi-jadi, tetapi kekuatannya tetap berkurang). Tapi meskipun tambah tua, meskipun kasih lahiriah makin menurun, pernikahan bisa tetap stabil sebab kasih batiniahnya makin meningkat. Kalau suami dan istri mau mengasihi pribadinya / batinnya, maka kasih totalnya tidak akan turun, malah makin tua bisa makin naik.
Kalau Cuma kasih pada lahiriahnya, bisa berbahaya. Contoh: Surat kabar memberitakan ada satu bintang film yang 20 sampai 30 tahun lalu sangat cantik, disanjung, sekarang ringgal dalam rumah yang sederhana. Kalau dulu sewaktu dia masih sangat cantik, jalan saja semua mata memandang, sangat menarik perhatian, siapa saja mau memberi pertolongan. Tetapi sekarang setelah layu kecantikannya, sudah tidak masuk hitungan lagi, tidak menarik, tidak ada yang peduli kepadanya.
Kalau kasih suami cuma karena luarnya saja, bisa jadi seperti ini, sehingga banyak istri bingung, tambah tua tambah berhias. Tapi istri yang juga mau mengembangkan hiasan batin, tambah tua bisa tambah manis, tambah menarik bagi suaminya.
Kasih suami yang hanya didasarkan atas kecantikan lahiriah itu mudah berubah sebab tidak mempunyai kasih ilahi (batiniah) yang betul. Suami seperti ini akan mudah hanyut karena umpan kecantikan orang lain sehingga menjadi dosa.
Ams 31:30 Adapun peri cantik itu penipu adanya dan keelokan itu sia-sia. Tetapi seorang bini yang takut akan Tuhan (kecantikan batin) itu akan dipuji-puji.(TL)
Kadang-kadang ada makanan yang enak, tapi kebersihan tempat jualannya rendah. Namun karena enak, orang beli dan makan saja, makan lagi, makan terus, sampai akhirnya menjadi penyakit.
Demikian juga dengan kecantikan ini, manis, enak, nikmat, tetapi Firman Tuhan berkata peri cantik itu penipu, kelihatan cantik, dilihat terus, terus, terus, tiba-tiba sudah jatuh dalam dosa, sudah ingin apa yang tidak boleh. Kalau seseorang tidak hati-hati, melahap terus, orang itu akan tertipu, jatuh dalam dosa dan hidup nikahnya akan rusak dan kacau.
Karena itu para suami harus mengembangkan kasih batiniah. Kalau seorang suami cinta Tuhan, sungguh-sungguh, biasanya kasih batinnya akan bertambah sehingga rumah tangga menjadi kuat, stabil. Sebab itu kita harus memperhatikan rohani ini, sebab ini adalah kuncinya, Yesus itulah kuncinya. Kalau istri dan suami mempunyai Yesus, kasih Kristus akan diisikan dalam hati mereka (ini kasih batin) dan mereka bisa mengembangkan kecantikan batinnya.
Kalau Tuhan memerintahkan: suami, kasihilah istrimu, itu bukan hanya kasih lahiriah, tapi terutama kasih batin yang harus terus ditumbuhkan sehingga kasih totalnya makin meningkat.
Begitu juga para istri, jangan hanya menghiasi yang lahir, tapi perhatikan kecantikan batin, sehingga total tetap tinggi dan tidak membosankan. Juga ini tidak tergantung dari umur sebab ada kecantikan batin. Justru kecantikan batin ini yang tidak bisa layu, kalau kecantikan lahir itu bisa layu, meskipun ditunjang oleh berbagai macam kosmetik dan obat-obatan.
Tambah tua, kulit ini tanpa ada yang menyuruh bisa kendur dan keriput sendiri, timbul flek-flek, gigi turun atau copot, rambut putih, otot-otot makin lemah, dll. Tapi hiasan batin tidak bisa layu, meskipun tambah tua bisa tetap menarik dan indah.

III. KECANTIKAN DAN HIASAN ROHANI

Begitu pula secara rohani, sebagai calon mempelai Kristus, kita harus memperhatikan apa yang diminta atau diharapkan oleh Kristus secara rohani.
2 Kor 11:2 karena aku cemburu kepada kamu dengan suatu cemburuan ilahi, sebab sudah aku tunangkan kamu dengan seorang laki-laki, hendak menghadapkan kamu seperti seorang perawan yang suci kepada Kristus. (TL)
Secara rohani, kita ini seperti seorang perawan / gadis yang suci yang dihadapkan kepada Kristus. Karena itu kita perlu  belajar memiliki suatu hidup rohani yang cantik dan terhias di hadapan Allah.  Belajar mengejar suatu hidup yang berkenan kepada Tuhan sehingga akhirnya kita menjadi seperti seorang mempelai perempuan secara rohani, yang elok dan terhias bagi suaminya. Ini bukan dalam arti jasmani, tetapi dalam arti rohani. (Dalam keadaan rohani tidak ada pikiran atau perasaan kecantikan atau sex seperti keadaan jasmani sebab dalam keadaan roh, tidak ada laki-laki dan perempuan seperti keadaan jasmani, tidak ada kawin- mengawinkan Mrk 12:24, sebab keadaannya seperti malaikat).
Kita perlu mempunyai kecantikan rohani. Kita perlu mengembangkan hidup rohani yang cantik dan terhias bagi Tuhan, yaitu suatu hidup yang berkenan kepada Tuhan. Inilah mempelai perempuan yang elok dan terhias bagi suaminya.
Kidung Agung (misalnya pasal 4:1) menceritakan hal ini secara jasmani, mi- salnya matanya yang elok, juga mulutnya, rambutnya dan lain-lain. Bagi kita, sesudah kita membuka selubung dari ayat ini, itu menjadi arti rohani, yaitu suatu hidup yang elok di hadapan Tuhan.
Begitu juga Ester, dia dihiasi oleh ahli- ahli kecantikan istana Ahasyweros selama 12 bulan Est 2:12, yaitu 6 bulan dengan minyak mur, lalu 6 bulan lagi dengan bau-bauan dan minyak-minyak lainnya, baru sesudah itu ia dipertemukan dengan raja.  Ester dipersiapan agar makin elok. Bayangkan, hal ini memakan waktu begitu panjang, sangat menjemukan, tapi mereka tahan, sebab sesudah waktu-waktu pengolahan itu mereka akan menjadi makin elok.
Begitu juga secara rohani, kita perlu dipersiapkan secara rohani, diolah terus oleh Firman Tuhan dan Roh Kudus, diminyaki terus-menerus sehingga menjadi elok dan makin manis di hadapan Tuhan.
Secara jasmani, dalam Wasiat Lama bila seorang raja mencari calon menantu, tentu ia mencari yang cantik segala-galanya. Mereka tidak mau orang yang hidungnya cacat atau bibirnya sumbing, dan sebagainya, sebab meskipun akan dihiasi setahun, dengan minyak yang harum dan rempah-rempah, itu tidak akan sanggup membuat hidung yang cacat menjadi normal kembali. Ini secara jasmani.
Tapi kalau secara rohani lain. Di hadapan Tuhan kita ini seperti gadis yang ditunangkan dengan Kristus 2Kor 11:2. Hanya bedanya, kalau secara jasmani, dicari gadis yang memang sudah elok, tetapi secara rohani lain, meskipun mula-mula kita ini gadis yang jelek, banyak kekurangannya, bahkan ada yang cacat, tetapi kemudian mau diolah matanya, diolah mulutnya, diolah ta-ngannya, diolah hatinya, diolah kakinya dll, sehingga makin lama menjadi makin elok. Kita harus mau taat pada pengolahan Firman Tuhan dan Roh Kudus, supaya akhirnya seluruh segi hidup kita diolah dan dibentuk menjadi cantik di hadapan Tuhan.
Jangan hanya memikirkan mencari yang enak-enak untuk kehendak kita. Kita harus mengerti hal ini sebab sering kali orang Kristen itu mencari Tuhan hanya supaya keberkatan, sehat, bisa lulus, bisa kaya dan lain-lain yang serba enak. Tapi sebetulnya Tuhan menginginkan kita untuk menyangkal diri supaya kita bisa tahan diolah terus menerus dan akhirnya bisa menjadi elok, cantik di hadapan Tuhan, sebab keadaan inilah yang akan menentukan kemuliaan kita untuk kekal di Surga. Oleh karena itu, pengolahan itu sangat penting. Kalau tidak mau diolah, tetap jelek, tidak tumbuh keelokannya.
Kanak-kanak rohani. Kadang-kadang kita melihat ada gadis kecil yang sangat gemuk. Dia tidak menghiraukan larangan orang tuanya, yang penting dia bisa makan es krim, coklat, durian, dan lain-lain yang enak. Karena masih kecil, dia masih tidak peduli pada penampilannya, yang penting bisa makan terus dan makan terus.
Begitu juga yang terjadi pada orang-orang Kristen yang kanak-kanak rohani. Mereka tidak peduli akan penampilannya di hadapan Tuhan, mungkin mulutnya berbau busuk, telinganya terlalu besar, matanya jahat, dan lain-lain, yang penting keberkatan, senang,  kehendaknya jadi. Juga secara rohani, po-koknya cari mana yang senang, yang bagus menurut seleranya. Persis seperti anak kecil tadi, tidak mau menyangkal diri, tidak peduli tubuhnya, yang penting dia bisa makan enak, makan yang banyak.
Kecenderungan banyak orang Kristen sekarang nomor satu adalah enak bagi dirinya sendiri. Asal mendapat berkat banyak, bisa puas, bisa makmur, sehat, bisa senang dengan macam-macam perkara dalam dunia ini untuk hidup daging dalam hidup sehari-hari. Juga secara rohani terus mencari yang enak bagi dirinya, ibadah juga cari yang senang, pokoknya senang. Untuk itu dimasukkan tari-tarian, drama, door price, makan minum dan lain- lain. Sehingga akhirnya agar bisa menarik banyak orang / dapat banyak peminat, beberapa gereja mulai mencocokkan diri dengan permintaan orang banyak, menjadi tempat rekreasi, tempat konser, restoran, hujan hadiah dll. Tempatnya harus menyenangkan, semuanya serba enak, disediakan ini dan itu, yang penting serba enak sehingga orang banyak bisa menjadi senang, cocok dengan selera orang banyak. Akhirnya beberapa gereja juga mulai mengarah untuk menjadi tempat rekreasi rohani atau gereja entertainment, sehingga senang, damai, tenang, nyaman. Tetapi itu bukan arah yang baik. Gereja itu tempat bersekutu untuk ibadah dan diolah, diolah, diolah terus sampai berubah menjadi elok seperti Kristus.
Tujuan hidup dalam dunia ini bukan untuk mencari enak, senang dan tenang, tetapi ingin tumbuh makin elok dan cantik di hadapan Tuhan. Kita ingin diolah supaya akhirnya menjadi seperti Dia.

Pengolahan jasmani tidak terlalu berarti, tidak bisa mengubah terlalu banyak. Kalau sudah jelek, meskipun dilulur, mandi wangi-wangian, dirempah-rempahi, dan lain-lain paling banyak naik hanya 20%, sangat terbatas.
Tapi pengolahan rohani lain, tidak terbatas, bisa terus diperelok, diperelok sampai menjadi sangat elok di hadapan Tuhan, dan itu yang kita kejar.

Kita harus mau menyangkal diri, didisiplinkan,  ditertibkan, mau memikul salib, agar setiap segi hidup ini  bisa diolah makin lama makin cantik di hadapan Tuhan.  Ini yang harus menjadi tujuan hidup kita selama di dunia  ini, tumbuh terus, sebab ini satu-satunya kesempatan  dalam hidup kita untuk mencapai tingkat-tingkat yang  mulia. Jangan hanya mencari apa yang menyenangkan dan apa yang cocok dengan keinginan hati kita dan lain-lain.
Kita harus mau diolah dan dibentuk seperti anak-anak burung rajawali. Ketika induk burung rajawali itu melihat anaknya sudah makin besar,ia tidak membiarkannya hanya tidur dengan tenang di sarangnya. Induk itu datang membongkar sarangnya  Ul 32:11 Bukan dengan maksud jahat, tapi agar si anak mau belajar terbang. Kalau sarang itu sudah dibongkar, tapi anaknya masih tidak mau terbang, si induk itu akan mendorong anaknya sampai jatuh dari atas tebing yang tinggi itu. Karena jatuh, terpaksa si anak itu mulai mengembangkan sayapnya, berusaha menggerak-gerakkan sayapnya agar ia tidak terus jatuh. Sementara itu si induk terbang di bawahnya, mengawasi anaknya.
Kalau anaknya belum mampu, induk itu akan menyambar dan menggendongnya naik kembali ke tempatnya. Beberapa hari lagi kalau si anak sudah lebih kuat, induknya akan mendorongnya lagi, supaya anak itu belajar terbang. Induk rajawali ini akan terus menerus melakukan hal ini sampai si anak bisa terbang sendiri. Mungkin si anak menjerit-jerit, tapi induknya terus mendorong dia. Akhirnya ketika anak itu sudah bisa terbang, baru dia bisa merasakan faedahnya.
Demikian juga kita, jangan hanya minta yang enak saja, tidak mau ditertibkan, diolah, dididik, dibentuk dst. Kita harus belajar “terbang”, harus mau diolah agar hidup ini bisa menjadi indah, bisa berbuah-buah, bisa berjalan dalam Roh, bisa melayani, bisa menjadi berkat bagi orang lain, bisa memenangkan banyak jiwa buat Tuhan, bisa mengampuni, bisa mempunyai sifat tabiat yang baru, dan seterusnya seperti Kristus. Ini semua meningkatkan keelokan secara rohani, tidak tetap dalam tingkatan yang lama, tetapi tumbuh terus.
Bisa mengampuni itu tidak mudah, begitu juga untuk tidak marah, rendah hati, tulus, setia, taat, mempunyai pendirian yang kuat, dan lain-lain. Semua ini memerlukan penyangkalan diri, pengertian Firman Tuhan, kuasa Roh Kudus, bantuan tubuh Kristus dan lain-lain lagi.
Semua ini kita perlukan supaya kita menjadi makin indah di hadapan Tuhan. Memang ini perlu penyangkalan diri dan waktu lama untuk diolah seperti Ester dan lain-lain. Tetapi hasilnya untuk kekal. Kecantikan jasmani meskipun juara, tetapi seperti kembang, pasti pada satu saat akan layu. Tetapi kecantikan rohani itu untuk kekal selama-lamanya tidak akan layu dan tidak ada batasnya, kita bisa  tingkatkan terus, terus menerus sampai akhirnya menjadi sempurna seperti Kristus, ini suatu perjalanan yang panjang.
Jangan hanya mencari apa yang enak bagi diri kita sendiri, apa yang sedap “buat saya”, apa yang menguntungkan “buat saya”, “buat saya”, sampai-sampai dalam ibadahpun dicari apa yang enak dilihat dan didengar. Dan beberapa Gereja pun menyediakan entertainment supaya lebih banyak orang datang. Tetapi justru kita harus berani menderita dan tersiksa agar kita bisa diolah dengan efisien dalam tangan Tuhan, supaya menjadi mulia, seperti mempelai perempuan yang elok dan terhias bagi suaminya. Ini perlu waktu, cukup lama. Jangan hanya minta kesembuhan, berkat, lulus, sukses, dan lain-lain. Tuhan tahu kalau kita membutuhkan semua itu. Tapi sebagai mempelai perempuan, kita harus menjaga dan mengembangkan keelokan kita secara rohani di hadapan Tuhan, menjadi makin seperti Kristus.

IV. CONTOH-CONTOH KEELOKAN ROHANI

1. Kaki yang elok.

Rum 10:15 KJ Dan bagaimana mereka itu hendak memberitakan jikalau tiada disuruh? Seperti yang tersurat alangkah eloknya segala tapak kaki (Inggris: kaki) orang yang membawa kabar kesukaan dari hal yang baik.
Kitab Kidung Agung memuji kaki-kaki yang elok, arti  rohaninya bagi kita sekarang adalah orang  yang yang suka mencari jiwa, memberitakan kabar baik, suka memenangkan jiwa,  memberi nasehat-nasehat dari Firman Tuhan, mendoakan, menguatkan, menyampaikan suara Roh. Inilah kaki mempelai yang elok di hadapan Tuhan. Rindukanlah dan belajar melakukannya, supaya bisa memiliki kaki yang elok ini. Jangan hanya memikirkan apa yang enak “buat saya”, acara apa yang menarik “buat saya”, pengajaran mana yang menye- nangkan “buat saya”.
Di satu gereja, karena suatu sebab terpaksa gembalanya tidak bisa berkotbah. Karena itu jemaat mulai mengundang banyak pembicara, setiap minggu ganti pembicara. Awalnya mereka senang, sebab banyak variasi, banyak pengajaran, ada yang humoris, ada yang bersemangat tinggi, dan lain-lain. Tapi beberapa lama kemudian mereka mulai menyadari bahwa mereka sekarang tidak tumbuh, tidak ada satu ajaran yang tetap untuk dilaksanakan. Satu pembicara mengajarkan begini, pembicara lain mengajarkan begitu, satu sama lain tidak sama, bahkan ada yang bertentangan. Mereka jadi bingung, kacau, mana yang harus diturut, karena berubah terus. Mereka hanya senang mendengar, tetapi tidak tumbuh.
Kita perlu diolah. Yang penting bukan merasakan macam-macam yang enak, tetapi apakah kita sudah bertambah eloknya di hadapan Tuhan, apakah kaki kita sudah elok di hadapan Tuhan. Ja-ngan jadi seperti Herodes, yang hanya suka mendengar Yahya Pembaptis ber-khotbah Mark 6:20. Tapi ia cuma senang, kalau Yahya bicara seperti ini, kalau orang Parisi bicara seperti ini.  Herodes hanya menyenangkan telinganya saja, tapi tidak berbuat apa-apa, tidak melakukan apa yang ia dengar. Herodes tidak sama dengan murid-murid Yahya yang mentaati gurunya, atau se-perti murid-murid Yesus yang mentaati Yesus.  Yahya berbeda dari Yesus, Yahya berpuasa terus sedangkan Yesus tidak, tapi murid- murid Yahya maupun murid Yesus sama-sama menjadi indah. Me-ngapa? Sebab mereka bukan hanya suka mendengar, tetapi mereka mau diolah, mau dididik. Kita perlu dididik bagaimana caranya agar mempunyai kaki yang elok. Jangan hanya mencari yang enak, yang menyenangkan, mencari macam-macam kreasi dan rekreasi, tetapi juga pergilah memenangkan jiwa, di hadapan Tuhan itu seperti seorang perempuan yang elok kakinya.
Belajarlah memiliki kaki yang elok. Mungkin kita tidak berjalan, tetapi kita menghubungi dengan telpon, atau de-ngan surat dan doa, namun kita terus meraih jiwa-jiwa, itu kaki yang elok. Jangan belum dapat jiwa sudah bersungut-sungut, itu seperti kaki yang penuh urat (varices); atau jarang dan malas berjalan mencari jiwa, itu kaki yang atrofis sangat kecil, lemah atau lumpuh sebab tidak pernah memenangkan jiwa, ini semua kaki yang tidak elok. Jangan hanya mencari hal-hal yang menyenangkan diri sendiri (1Kor 10:24,33), tetapi kejarlah  jiwa-jiwa buat Tuhan, bawa kepada Tuhan lalu bawa ke gereja, itu sangat elok. Makin lama makin mahir dan makin banyak memenangkan jiwa, itu kaki yang elok dan terus elok sampai kekal di Surga. Ini hiasan yang kekal sampai ke sorga.
Hiasan jasmani habis sampai di kubur. Meskipun setiap hari memakai krim pagi, krim sore, krim malam, sun block, dan lain-lain, semua itu habis sampai di kubur. Tapi kaki yang elok secara rohani itu tidak habis sampai di kubur, melainkan ikut menyertai kita sampai selama- lamanya.

2. Tangan yang elok. Kis 20:34- 35.


Paulus suka memakai tangannya untuk menolong orang lain. Tangan yang suka memberi pertolongan, bukan yang hanya menadah untuk menerima, tetapi tangan yang suka menolong, suka terbeban untuk membantu orang lain yang di dalam kesukaran, itu tangan yang elok di hadapan Tuhan.  Kita harus suka menolong, mudah menolong, mudah terbeban akan saudara- saudara di dekat kita. Seperti Daud waktu melihat Kehila, dia mau menolong, mau terbeban sekalipun ia sendiri sedang dalam kesusahan 1 Sam 23:3-4. Ini tangan yang elok.
Seorang isteri yang budiman, salah satu cirinya adalah mempunyai tangan yang elok, tangan yang bersedia menolong dan terbeban untuk orang lain Ams 31:20.
Rindulah untuk terus mengembangkan keelokan rohani masing-masing, semua harus dikembangkan. Jangan hanya menuntut orang lain untuk begini dan begitu, pemimpin pujiannya harus begini, musiknya harus begini, ini itunya harus begini, dan lain-lain. Tapi biarlah kita terus mengevaluasi diri, apakah kita sudah elok di hadapan Tuhan, sehingga satu kali kita menjadi mempelai yang elok dan terhias bagi Tuhan?

3. Mulut yang elok Luk 4:22.


Mulut yang elok itu seperti mulut Putra manusia, yang selalu limpah dengan kata-kata yang manis, tepat, menolong, menjadi berkat. Orang yang susah dihiburkan, yang bimbang diyakinkan, yang bingung dinasehati, mulut yang senantiasa membawa pertolongan.
Bagaimana caranya agar mulut ini menjadi elok? Diasinkan dengan garam Kol 4:6. Mulut yang elok itu mengeluarkan kata-kata yang diasinkan dengan garam. Kita harus menaruh garam dalam diri kita (yaitu Roh Kudus)! sehingga selalu ada kata-kata dari Tuhan, selalu menjadi berkat. Ini kata-kata dari Roh Kudus, yang ditaruh di dalam mulut kita, pasti menjadi berkat. Kita ini hanya pengeras suara dari Tuhan. Setiap berkata, belajar selalu bertanya- tanya pada Tuhan, apa yang harus kita jawab. Minta kata-kata dari Tuhan.
Secara jasmani, banyak orang belajar bagaimana memakai lipstik yang bagus, bagaimana membentuk garis bibir, bagaimana mencampur warna, dan lain-lain. Secara rohani kita juga harus belajar menghiasi mulut rohani ini sehingga menjadi indah, yaitu dengan kata-kata dari Tuhan, dengan pengurapan dari Roh Kudus.
Belajar menjadi mulut seorang imam. Semua orang beriman yang ada tanda darah (hidup suci), air (hidup cara baru seperti Kristus) dan minyak (penuh dan dipimpin Roh) adalah imam-imam di hadapan Tuhan 1Pet 2:5,9, 1Kor 6:19-20.
Mulut imam itu harus penuh dengan kebenaran Firman Tuhan Mal 2:7. Jangan keluar bau busuk Efs 4:29, tetapi bau yang segar Kid 5:13. Pelihara mulut, pakai kata-kata yang jujur, manis, me-nguatkan, penuh nasehat, bukannya kata- kata pahit, maki-makian, fitnah dan tuduhan, tetapi kata-kata yang menjadi berkat, ini mulut yang elok di hadapan Tuhan.
Jangan sekedar mencari ini dan itu untuk menyenangkan diri sendiri, atau menuduh memaki, bersungut- sungut dengan mulut ini, tetapi cobalah, mau ditertibkan, mau menyangkal diri, mau pikul salib untuk diolah menjadi mulut yang baik, mau berdoa dan penuh Roh Kudus, dipimpin Roh sehingga ada karunia-karunia di dalam mulut kita. Makin lama mulut ini makin elok sehingga itu menambah point keelokan kita di hadapan Tuhan.
Rindukan juga untuk mempunyai mata yang elok –  yang bisa melihat apa yang tidak kelihatan dan bisa melihat rencana-rencana Allah. Telinga yang elok – yang dengar-dengaran, punya hati yang elok – yang suci dan yang ada kesukaan yang dari Tuhan, dsb, sehingga makin lama kita menjadi makin elok, bukan makin lama makin jelek. Jangan hanya mencari hal yang mengenakkan tubuh ini, tetapi belajar menghadapkan suatu hidup yang elok dalam segala seginya sehingga akhirnya kita boleh menjadi seperti mempelai perempuan yang elok terhias bagi suaminya.

V. CARA MEMPERELOK HIDUP DI HADAPAN TUHAN

Zaman sekarang, untuk setiap anggota tubuh ada perawatan khusus, misalnya perawatan kuku, maksudnya supaya cantik sampai hal-hal yang terkecil, namun semua itu tetap akan layu dan bisa terus bertambah-tambah. Tetapi kecantikan rohani tidak akan layu.
Setiap anggota tubuh atau setiap segi hidup kita ini bisa diperelok, lebih daripada secara jasmani. Bagaimana kita bisa melakukannya dengan berhasil, secara teratur dan sistematis, sampai seluruh segi hidup kita menjadi elok di hadapan Tuhan ?

1. Disucikan dengan Firman Tuhan.


Ef  5:26 Supaya Ia dapat menguduskan dan membersihkannya  (GerejaNya) oleh pencucian dengan air oleh Firman.  (KJV)
Ef  5:27 Supaya Ia dapat menghadirkan bagi diriNya sebuah Gereja  yang mulia, yang tidak bernoda atau berkeriput atau apa pun yang seperti itu, melainkan supaya ia kudus dan tanpa cela (KJV)
Disucikan sehingga tidak ada cacat cela di hadapan Tuhan, bahkan bisa terus bertambah-tambah elok seperti Kristus. Ukuran keelokan rohani kita adalah seperti Kristus, itu yang paling elok.
Dengan belajar Firman Tuhan secara teratur, sistematis dan tekun dalam pengurapan Roh Kudus, sampai kita mengenali setiap segi hidup kita dalam terang Firman Tuhan, sehingga dengan demikian kita tahu mana yang elok dan mana yang jelek di hadapan Tuhan (seperti yang sudah kita pelajari di atas tentang kaki, tangan, mulut yang elok) sehingga bisa lebih mudah dibentuk dan diolah makin elok di hadapan Tuhan dan tahu bagaimana mempereloknya selanjutnya sehingga makin hari keelokan kita terus meningkat!
Lebih banyak kita mengerti Firman Tuhan, lebih banyak pula kita mengenali segala bagian dari setiap segi hidup itu, maka kita akan tahu membedakan mana yang elok dan mana yang jelek. Dan kalau kita mau terus diolah, dibentuk, ditertibkan dan kita mengerti tujuannya, maka kita akan berubah menjadi semakin baik, mulutnya semakin baik, matanya semakin baik, semuanya menjadi semakin baik, semakin elok di hadapan Tuhan.
Jangan berkata bahwa kita tidak bisa bicara. Mintalah kata-kata dari Tuhan, dan kita akan terkejut karena kata-kata itu akan menolong orang-orang lain begitu banyak, sebab kita memakai kata-kata dari Tuhan. Tuhan yang akan memberi kata-kata pada kita. Lebih banyak mengerti Firman Tuhan, akan lebih banyak yang bisa kita salurkan. Oleh karena itu kita harus terus belajar Firman Tuhan. Tumbuh dalam pengertian Firman Tuhan itu  tidak bisa satu kali lompat. Kita perlu tekun setiap hari, terus menambahnya.
Kalau hidup kita cocok dengan Firman Tuhan, itu yang elok dan cantik di hadapan Tuhan. Jangan kendor atau berhenti belajar Firman Tuhan, ini faedahnya untuk kekal, untuk kecantikan abadi di hadapan Tuhan. Kecantikan yang ini tidak bisa layu, sangat indah. Ini menjadi keuntungan kita untuk kekal. Jangan hanya ribut bermacam-macam hal yang fana, sibuk ini itu, tetapi tidak menambah keelokan rohani. Jangan meremehkannya, jangan hidup kita habis untuk hal-hal yang tidak membuat kita makin elok di hadapan Tuhan, tetapi beri perhatian yang lebih banyak pada hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.

2. Penuh dan dipimpin Roh.


Kita perlu kekuatan dan pimpinan Roh Kudus untuk bisa hidup  sesuai dengan Firman Tuhan. Itu tidak mudah sebab bertentangan  dengan daging Gal 5:17. Sebab itu orang yang suka bertekun dalam  doa dan selalu penuh dan dipimpin Roh, akan lebih banyak  berhasil menyenangkan Tuhan. Zak 4:6. Roh Kudus akan memberi  hikmat, pimpinan, kuasa atau kekuatan dan sukacita dalam hati  untuk bisa melakukan Firman Tuhan.
Tanpa Roh Kudus, seringkali kita tidak kuat untuk taat kepada Tuhan. Seperti Petrus, sebelum penuh dengan Roh Kudus, ia tiga kali menyangkal Tuhan, bahkan terakhir dengan sumpah. Tetapi sesudah ia penuh dengan Roh Kudus,  ia bisa tetap setia, walaupun di tengah aniaya dan kesusahan, karena Roh Kudus yang memberi kekuatan dan ia melihat kemuliaan Tuhan dalam ketaatannya. Sebab itu orang yang suka berdoa biasanya lebih kuat untuk berubah, lebih mudah berubah dan lebih cepat, oleh karena Roh Kudus yang memberi pimpinan, kekuatan, kesukaan, kemantapan sehingga bisa berhasil. Bertekunlah dalam doa dan hidup dipimpin Roh terus menerus.

3. Persekutuan tubuh Kristus.

Kita bisa lebih mudah menilai orang lain dan melihat kesalahannya daripada melihat diri sendiri. Begitu juga dengan keelokan rohani.
Orang lain dengan mudah bisa melihat kekurangan kita yang kita sendiri  tidak sadar. Sebab itu kalau kita dengan tulus dan dengan kasih saling menasehati, akan ada penilaian yang lebih tepat, juga dorongan dan nasehat yang lebih baik. Persekutuan ini bisa membantu membuang semua yang jelek sehingga bisa menjadi makin elok.

Sebab itu kita perlu sharing tentang pengertian mempelai Anak  domba yang terhias ini, supaya semua mempunyai kerinduan  yang sama, dan bisa saling tolong menolong untuk tumbuh  makin elok di hadapan Tuhan.

VI.  KESIMPULAN

Jangan lupa ukuran kita adalah seperti Kristus, yaitu hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan. Ini bisa kita capai dengan kuasa Roh Kudus dan saling tolong menolong dalam tubuh Kristus. Miliki hidup yang berkenan kepada Tuhan, suci dalam segala segi hidup, penuh dengan buah dan karunia- karunia Roh. Hidup seperti ini jangan hanya di Gereja, tetapi di mana saja dan kapan saja, pertahankan terus cara baru seperti Kristus ini dan melakukan apa yang tersebut dalam Firman Tuhan dengan tulus dan dengan kuasa Roh Kudus, maka hidup ini akan makin lama makin elok, cantik dan berkenan secara rohani di hadapan Tuhan. Kalau Tuhan berkenan kepada kita, seperti raja itu berkenan dengan Ester, maka kesusahan atau problem kita yang paling berat pun akan tertolong dengan mudah.
Istri memelihara kecantikan jasmani untuk suaminya, itu baik, tetapi terbatas, tetapi kalau kita tumbuh dalam keelokan bagi Tuhan, itu tidak terbatas dan tetap indah untuk kekal dengan pahala dan kemuliaan abadi.