TIDAK SUKA KEPADA SESEORANG

Sampai dimana, sampai seberapa kita boleh “tidak suka pada seseorang?”

Terlebih dahulu kita akan melihat tentang:
1. Persekutuan orang-orang beriman dan
2. Tingkat-tingkat persekutuan tubuh Kristus, lalu kemudian tentang kewajiban orang yang kuat untuk
3. Menerima orang yang lemah, baru sesudah itu kita kembali pada “tidak suka pada seseorang”.

I. ORANG BERIMAN MUTLAK PERLU BERSEKUTU.

Masih banyak orang Kristen merasa bisa menjadi rohani tanpa peduli atau tanpa berhubungan dengan orang Kristen lainnya, apalagi kalau sudah mempunyai pengalaman pahit dengan orang-orang Kristen lain, atau dengan hamba-hamba Tuhan. Lalu mereka mulai menjauh satu sama lain, supaya tetap baik satu sama lain. Jadi supaya hubungannya baik, jangan dekat-dekat, jauh-jauh saja.
Nampaknya ini suatu pendirian yang baik tetapi salah sebab bertentangan dengan kehendak Tuhan, bertentangan dengan prinsip persekutuan tubuh Kristus, bahkan berbahaya lebih-lebih untuk akhir zaman di mana Gereja harus bisa bersekutu dengan baik dalam satu persekutuan tubuh Kristus yang betul sehingga bisa tumbuh menjadi sempurna seperti Kristus yaitu menjadi sempurna di dalam satu persekutuan.

Yoh 17:23 Aku di dalam me-reka, dan Engkau di dalam Aku, supaya me-reka disempurnakan di dalam satu per-sekutuan; dan supaya dunia ini mengetahui bahwa Engkau telah mengutus Aku,dan mengasihi mereka seba-gaimana Engkau mengasihi Aku. (King James Indonesia – LAI)

Kita harus bisa bersekutu dengan saudara-saudara seiman, istimewa (untuk permulaan) yang di dalam keluarga dan Gereja masing-masing, lalu dengan Gereja-gereja dalam satu Synode, satu daerah bahkan akhirnya dengan tubuh Kristus global.

Mengapa?

1. Kita ini anggota tubuh Kristus dan beranggotakan satu sama lain Rom 12:4-6, 1Kor 12:12-15, Ef 4:25.  Kalau satu anggota tubuh tidak bisa lekat dalam tubuh, itu berarti mati. Tidak mungkin jari, gigi, atau telinga dan lain-lain lepas dari tubuh dan masih tetap hidup.

Kalau ada telinga manusia di atas piring, berdiri sendiri, lepas dari bagian tubuh yang lain,pasti dan pasti itu adalah telinga mati (atau lekas menjadi mati), tidak lama akan berbau bangkai yang sangat busuk.
Begitu dalam hidup rohaninya,  kalau terlepas dari persekutuan tubuh Kristus, berdiri sendiri, tidak mau bersekutu dengan anggota tubuh yang lain, tidak mungkin rohaninya hidup apalagi bertumbuh, pasti rohaninya akan mati! Bersekutu dengan saudara-saudara yang lain, itu termasuk saudara-saudara yang baik dan yang belum sempurna (termasuk kita sendiri juga belum sempurna), sebab itu masih mungkin ada gesekan, tetapi kita harus mau bersekutu dengan segala resikonya, kalau tidak, mati rohani!
2. Gereja akan tumbuh menjadi sempurna di akhir zaman dan itu membutuhkan persekutuan tubuh Kristus yang betul (dalam Roh, kesucian dan kasih 1Yoh 1:7) sebab Gereja hanya bisa menjadi sempurna di dalam satu persekutuan Yoh 17:23.
3. Kekuatan orang yang bisa bersatu di dalam Kristus itu berlipat kali ganda dengan luar biasa Im 26:8. Sebab itu Gereja yang bersatu di dalam Kristus, di dalam Roh, menjadi sangat kuat, sehingga terus menang dan tumbuh sangat cepat kepada kesempurnaan. Orang-orang yang tidak bisa bersekutu itu berarti ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya. Sebab itu orang seperti ini akan mudah jatuh dalam dosa dan tidak bisa tumbuh, sebab ada sesuatu yang tidak beres (dosa) dalam dirinya (dan itu menjadi pos untuk iblis). Sebab itu mau atau tidak, kita harus bisa bersekutu, mengasihi Tuhan dan semua orang di sekitar kita, lebih-lebih saudara-saudara di dalam Tuhan Luk 10:27.

JADI :

Tidak mungkin bisa hidup, apalagi menjadi rohani kalau tidak mau bersekutu dalam tubuh Kristus, sebab:
1. Kita ini anggota tubuh Kristus, satu beranggotakan yang lain. Kalau satu anggota terlepas dari tubuh, ia mati, tidak mungkin hidup.
2. Gereja yang tumbuh, apalagi sampai sempurna, mutlak perlu persekutuan tubuh Kristus.
3. Kekuatan orang-orang beriman yang bisa bersekutu itu berlipat kali ganda dan itu diperlukan untuk menghadapi tantangan akhir zaman, bahkan dengan persatuan dalam persekutuan tubuh Kristus, kita bisa menjadi sempurna.
Tidak bisa bersekutu itu berarti rohaninya tidak beres, tidak bisa tumbuh, bahkan akan jatuh dan mati.

II. TINGKAT-TINGKAT PERSEKUTUAN DALAM

TUBUH KRISTUS.

1. Ini tubuh Kristus yang tercerai berai, pasti mati seperti Sardis. Di sini selalu ada fitnah, perkelahian, iri, benci, saling serang dsb; tentu orang-orang Kristen seperti ini berbau busuk, menjadi batu sandungan bagi orang banyak.

2.a. Ini tubuh Kristus yang utuh tetapi mati.
Betul ada dalam satu Gereja atau satu Sinode, tetapi ada dendam, benci, iri, dan sebagainya. Mereka tetap ke Gereja dan menjadi satu, tetapi tidak ada hubungan satu sama lain, hanya ada hubungan formil. Tentu baunya juga busuk, sebab ada bermacam-macam dosa satu sama lain.

2.b. Ini tubuh Kristus yang utuh, hidup, tetapi lumpuh.
Tidak ada kasih, betul bersekutu, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, sebab tidak bisa bekerjasama.

3. Ini tubuh Kristus yang hidup, tidak ada dosa, bisa bersekutu dengan manis dalam kasih Kristus dan tulus serta bisa menyangkal diri sehingga ada kerjasama yang manis untuk melakukan kehendak Tuhan. Ini tubuh Kristus yang berkenan kepada Tuhan. Mungkin masih ada yang luka, bagian-bagian yang sakit, itu harus diobati tetapi semua bisa bersekutu dengan betul dan manis dan bersama-sama melakukan kehendak Tuhan untuk memuliakan Nama-Nya.

III. MENERIMA ORANG YANG LEMAH.

Rom 14:1. Terimalah olehmu orang yang lemah iman, tetapi bukan untuk berbantah-bantah tentang hal-hal yang meragukan.

Rom 15:1-3

1. Maka kita yang kuat ini wajib menanggung kekurangan-kekurangan orang yang lemah, dan jangan menyenangkan diri sendiri.
2. Biarlah masing-masing kita menyenangkan orang yang di sebelahnya untuk kebaikannya, untuk membangunnya.
3. Sebab Kristuspun tidak menyenangkan diri-Nya sendiri, tetapi seperti yang tertulis: “Segala celaan orang yang mencela engkau sudah menimpa Akul  (KJI = King James Indonesia  – LAI).
Orang beriman yang lemah itu seperti Petrus, ia ingin taat tetapi tidak bisa mengalahkan dagingnya
Mat 26:41 Berjaga dan berdoalah, supaya jangan kamu masuk  dalam pencobaan, sungguhpun roh mau,  tetapi daging lemah. (KJI = King James Indonesia  – LAI).
Orang yang kuat (Rom 15:1) itu orang yang bisa hidup dalam kesucian dan bisa melakukan kehendak Bapa sebab bisa menyangkal diri.
Orang yang kuat harus menerima orang yang lemah (TL: menyambut).
Apa artinya menerima?
Orang lemah itu pengertian, pendirian dan hidup rohaninya belum baik, masih banyak kekurangan disini-sana, sebab itu ia lemah. Jangan berbantah-bantah tentang segala kekurangan-kekurangannya ini yang justru membuatnya menjadi lemah; jangan diadili, tetapi terima apa adanya lalu tolong, bantu, nasehati, ajarkan, perbaiki, doakan dan layani di dalam Roh (dengan kuasa Roh Kudus) supaya menjadi betul.
Tanggunglah kelemahan dan kekurangan-kekurangannya yaitu pendirian, sifat, bicara, sikapnya dan lain-lain  yang masih keliru. Kelemahan-kelemahan seperti ini seringkali menjengkelkan, tetapi orang kuat, bisa menanggungnya. (Rom 15:1).
Jangan membenarkan atau mendukung kesalahannya tetapi sabarlah dan tolonglah sampai ia bisa keluar dari kelemahannya, dengan menyambut, menolong dan mengasihinya, sekalipun semuanya itu menjengkelkan.
Ini memang suatu pengorbanan dan sakit bagi daging tetapi dengan demikian yang kuat menjadi berkat bagi yang lemah.
Orang-orang yang lemah tidak bisa menyelesaikan problemnya sendiri (pencobaan, godaan, kekurangan-kekurangan, kesukaran-kesukaran dan lain-lain istimewa dalam hal rohani). Orang-orang kuat di sebelahnya (pemimpinnya atau orang-orang yang dekat dengan dia) wajib membantu sampai problemnya tertolong/ selesai.
Begitulah cara kita bersekutu dengan orang-orang yang lemah dan ini justru akan menguatkan kita sendiri, menumbuhkan dan menambah pahala kita.
Kis 20:35b Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”
Banyak orang suka bersekutu dengan orang-orang yang rohani, yang kuat, dipakai Tuhan dengan heran, itu baik dan indah kita bisa mendapat berkat, mungkin tiga bintang.
Tetapi kalau kita bersekutu dengan orang-orang yang lemah ini, kita harus menyangkal diri, kita harus berkorban, mengasihi orang-orang yang menjengkelkan dan tidak menguntungkan ini, tetapi dengan demikian kita makin mahir pikul salib, menyangkal diri, menjadi berkat, berkorban, melayani dan sebagainya, sehinga berkat yang kita terima bisa lebih banyak misalnya bintang enam, itu rezeki kita. Memang terlebih berkat memberi daripada menerima.

IV. RASA TIDAK SENANG, TIDAK SUKA!

Dalam Rom 14:1 dan 15:1, Tuhan menyuruh orang yang kuat wajib menolong dan menerima yang lemah.
Ada satu hal yang membuat banyak orang Kristen dan orang kuat gagal menolong orang lemah, yaitu bukan karena tidak mau, tetapi karena merasa sedikit tidak suka atau tidak senang pada orang itu.
Ini satu perasaan (yang sering dianggap bukan dosa) hanya perkara kecil, tetapi ini yang membuat orang-orang tidak mau menerima atau menyambut orang yang lemah itu.
Melihat sikapnya, modelnya yang sok, sombong, atau egois, atau apatis, atau tidak bersahabat dan lain-lain, timbul kesan tidak enak, tidak suka pada orang itu.  Jadi perasaan ini timbul karena sikapnya, atau karena perbuatannya, atau karena pelayanannya, kata-katanya, dan lain-lain.
Kalau dalam hati sudah timbul penilaian: “Wah orang itu tidak enak”, orang itu sudah jatuh dalam jerat iblis!
Yang sering menjatuhkan banyak orang beriman yang kuat, adalah rasa tidak senang atau tidak suka pada orang-orang lemah ini, sebab kadang-kadang sikapnya itu menjengkelkan atau tidak menyenangkan.
Kalau sudah tidak senang, lalu tidak mau menerima dan tidak mau dekat-dekat. Dengan alasan, toh saya tidak benci, tidak ada apa-apa, netral, tapi tidak mau dekat-dekat.
Ini sikap yang menyebabkan persekutuan Gereja Tuhan jadi lemah, lumpuh, bersekutu tetapi tidak bisa bekerja sama, sebab tidak senang.
Coba lihat kiri kanan, pasti ada satu orang yang menurut kita tidak menyenangkan, mungkin karena penampilannya, yang nampak jahat, menyeramkan atau menjengkelkan, atau bicaranya, sikapnya dan sebagainya, padahal kita tidak dirugikan, belum dirugikan, tapi sudah merasa tidak senang. Dalam hati ada alasan, saya tidak ada urusan dengan dia, saya tidak senang, tetapi netral dan ia merasa bukan dosa, betulkah ini?
Saya tidak merugikan dia. Saya tidak ada apa-apa, tapi kalau disuruh dekat-dekat, tidak mau, kalau di suruh omong-omong, saya tidak mau, sebab saya tidak suka akan penampilannya.

V. BAGAIMANA SEHARUSNYA SIKAP KITA PADA ORANG-ORANG YANG LEMAH INI?

Seringkali orang-orang beriman yang  tidak senang terhadap seseorang, mereka merasa tidak bersalah, sebab menganggap sikap ini bukan dosa, hanya suatu sikap yang netral, sehingga sikap ini dibiarkan tumbuh dan berakar dalam dirinya. Mereka sudah terbiasa dengan sikap seperti ini, bahkan  lama-lama menjadi tabiat atau cara hidupnya.
Tetapi sebetulnya sikap seperti ini sudah termasuk dosa, sebab tidak suka/ tidak senang adalah permulaan benci, bahkan ini sudah benci, apalagi kalau sebelumnya sudah benci, iri, tidak mau kalah dll dosa (benci ini adalah tabiat iblis!).
Sering orang menganggap tidak senang ini sikap netral, tidak berdosa. Tetapi kalau di suruh kerja sama dengan orang tersebut, tidak mau. Inilah yang membuat Gereja lumpuh atau mati. (Tentu iblis senang!).
Kita sering mendengar kalau dengan si A tidak senang, dengan Si B, tidak mau dekat-dekat, tetapi dengan Si C senang, saya bisa ngobrol, duduk dekat, bisa makan bersama. Dengan si D, lumayan, dengan Si E, tidak senang. Karena merasa itu bukan dosa, sikap ini tumbuh dengan subur! (padahal ini dosa!). Kalau dalam kelompoknya ada 15 orang, ia tidak menyukai 7 orang, tetapi kepada 8 orang yang lain ia suka, ia merasa tidak salah, padahal mereka sudah masuk perangkap iblis, sudah terikat dan lumpuh atau mati separuh.
Kadang-kadang ada alasan yang baik, ia tidak pernah berkelahi, tapi tidak senang. Kalau duduk, kalau bisa jangan dekat dia, toh  ini bukan dosa, tidak salah, bukan?
Ini kesalahan kecil yang bisa mengakibatkan kerusakan besar.
Jadi tidak suka itu bisa karena permulaan dosa atau karena memang sudah ada dosa! Misalnya karena iri, tidak mau kalah (sombong), kebodohan (tidak mengerti), atau karena orang itu dari golongan lain, apalagi dari golongan yang tidak disukai.  Sebab yang paling banyak dari “rasa tidak senang” pada orang-orang beriman yang beribadah, adalah kebodohan, karena tidak mengerti bahwa itu permulaan dosa dan yakin bahwa sikap seperti ini bukan dosa (sebab tidak bicara apa-apa, tidak melakukan apa-apa, hanya merasa tidak suka), karena itu dibiarkan dan tidak diperangi, tidak dibuang!
Padahal jelas ini melawan Firman Tuhan dalam Luk 10:27, kita harus mencintai orang di sebelah kita.

VI. OTOMATIS BISA TIMBUL SIKAP DAN

TINDAKAN NEGATIF.

Biasanya orang yang tidak suka pada seseorang, tidak peduli dengan orang itu, dan menjauh, tidak suka dan tidak mau bersekutu. Ini seringkali timbul otomatis! Ini sudah termasuk dosa benci. Ini dapat kita lihat dari sikap dan  pandangan atau komentarnya terhadap orang-orang yang lemah ini, selalu negatif dan mudah menjadi dosa atau sudah dosa.
Misalnya komentar Saul tentang Daud.
1Sam 18:8 Maka berbangkitlah murka Saul, dan jahatlah perkataan itu kepada pemandangannya, serta titahnya: Bahwa kepada Daud diberikan mereka itu berlaksa-laksa, tetapi kepadaku hanya beribu-ribu; niscaya pada akhir kelak kerajaan ini menjadi dia punya. (TL) (timbul prasangka negatif, jahat).
Begitu juga komentar Nabal terhadap Daud.
1Sam 25:10 Maka disahut Nabal akan hamba-hamba Daud itu, kata-nya: Siapa gerangan si Daud itu, dan siapakah bin Isai itu? Bahwa sekarang banyaklah orang hamba yang men-durhaka masing-masing kepada tuannya.
Kalau ada perasaan “tidak suka” seperti ini, biasanya orang-orang beriman seperti ini (meskipun ia kuat) ia tidak bisa dan tidak mau menerima orang yang lemah (yang tidak disukainya itu).
Ia tidak mau bersekutu, menghindar untuk bertemu atau bersama-sama, selalu menghadapinya dengan pandangan negatif, tidak bisa menerimanya. Sebab dianggap bukan dosa, maka sikap ini dibiarkan terus dan dibiarkan terus dan menjadi pintu masuk dari iblis, lalu muncullah bermacam-macam dosa lain.

VII. BIASANYA ORANG YANG LEMAH KALAU TIDAK DITERIMA (DITOLONG)

akan undur dan jatuh dalam dosa yang makin lama makin parah dan lama-lama binasa. Meskipun ini salahnya sendiri tetapi Tuhan berdukacita. Sebaliknya kalau orang-orang kuat ini bisa menolongnya sehingga tidak sampai berbuat dosa, maka orang itu menutup banyak dosa Yak 5:19-20 dan Tuhan bersukacita Luk 15:7,10 dan pasti memberi pahala pada orang-orang yang menolong orang yang lemah ini. Mat 25:40, Wah 14:13.
Jangan bersikap tidak suka (itu sama dengan benci, permulaan) dan menolak Luk 18:9 dan mudah menuduhnya (seperti iblis Wah 12:10). Terimalah untuk menyelamatkan jiwanya. Jangan menuruti rasa tidak senang kepadanya, apalagi kalau sikapnya jelek, tidak mau bersekutu dan merasa tidak perlu ditolong!  Kasihi mereka dan terimalah! Bahkan musuhpun diterima dan diampuni, dan orang fasikpun diharapkan bertobat dan selamat Yez 33:11. Orang kuat harus menolong, menerima yang lemah, bahkan menanggung kekurangan-kekurangannya.
Kita tidak setuju dengan dosa, sikap, pikiran dan pendirian yang salah; Kita harus hati-hati menghadapinya supaya jangan ditulari dosa-dosanya, dirugikan dan dicelakakan (menjadi korban) olehnya, tetapi tetap mengampuni dan mengasihinya serta merebutnya dari api Jud 23.
Orang yang mempunyai sikap seperti ini akan cepat tumbuh menjadi seperti Kristus, sebab begitulah hati Kristus, karena cinta, ingin menyelamatkan orang-orang berdosa ini, indah!
Memang tidak semua orang bisa ditolong. Petruspun tidak bisa langsung ditolong, sesudah jatuh baru kemudian ia menyesal dan tertolong. Yudas sama sekali tidak bisa ditolong. Ada orang-orang seperti Gereja Laodikea yang memang tidak bisa dikasihani Wah 3:17.
Seringkali orang ini merasa benar (sombong), merasa tidak perlu ditolong, keras hati, tidak mau bertobat, tetap terikat dengan pendiriannya yang salah dan dosa-dosanya. Orang ini akan binasa, Tuhan Yesus menangis sedih dan menderita, juga hamba-hambaNya merasa sedih karena nasib orang-orang ini.
Seringkali orang yang lemah ini melanggar peraturan-peraturan Gereja dan Firman Tuhan; kita mengasihi mereka tetapi kita tidak boleh mengubah atau menyesuaikan peraturan-peraturan apalagi Firman Tuhan dengan perbuatannya, atau membiarkannya, tetapi tetap menyalahkannya.  Sebab itu berdoalah, minta pimpinan Roh untuk bisa mengangkat orang-orang yang lemah ini dan menolongnya memenuhi peraturan.
Jangan seperti Imam Eli yang membiarkan anak-anaknya Hofni dan Pinehas dalam dosa-dosa dan kejahatannya. Sebaliknya juga jangan seperti Esau yang tidak suka pada Yacob dan tidak mau mengampuninya, lalu mau menghukumnya. Belajar berbuat seperti Kristus pada orang-orang lemah misalnya seperti kepada Petrus, Yudas, Zakheus dan lain-lain, mengampuni dan menolongnya keluar dari kelemahannya.
Untuk menerima orang yang lemah itu perlu ada belas kasih dan ini memperkenankan Tuhan. Menerima orang yang lemah itu penuh penyangkalan diri, pengorbanan dan penderitaan, tetapi itu justru menumbuhkan kita dan itu limpah dengan pahala sebab mau berkorban karena Tuhan (Mat 25:40).
Sebab itu orang-orang yang bisa menerima orang yang lemah akan makin kuat, makin berkenan pada Tuhan, makin tumbuh seperti Kristus, sebab ini yang dikehendaki Tuhan, bukan menuruti rasa tidak senang,  sebab itu merupakan penolakan, bahkan bisa berlanjut , menuduh dan menghukumnya. Jangan biarkan iblis menipu, menggoda dan mengisi hati kita dengan rasa tidak suka pada orang yang lemah itu; buanglah pikiran yang salah ini lalu ampuni (kalau ia bersalah pada kita),doakan dan minta pimpinan Roh untuk menerimanya.
Kita harus membuang rasa tidak senang atau tidak suka pada saudara-saudara kita di dalam Tuhan. Ini tidak mudah dan tidak enak, sebab biasanya masih ada pengertian, pendirian, sikap, tabiat, kebiasaan, tradisi dan lain-lain yang masih berbeda dan tidak menyenangkan hati kita, tetapi jangan tidak senang. Kalau mereka lemah, terimalah dan tolonglah, sebab itu kehendak Tuhan (ingat Mat 7:21). Dengan demikian persekutuan tubuh Kristus bisa makin kuat (tidak terpecah-pecah),  semua tumbuh dengan baik dan makin besar.

VIII. PERBEDAAN DALAM UMAT TUHAN.

Rom 14:2-3

2. Sebab ada orang yang sungguh-sungguh percaya bahwa ia boleh makan segala sesuatu, tetapi orang yang lemah imannya, itu hanya makan sayur-sayuran.
3. Hendaklah orang yang makan itu jangan merendahkan orang yang tidak makan, dan orang yang tidak makan, jangan menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerimanya. (King James Indonesia – LAI)

DALAM PERSEKUTUAN TUBUH KRISTUS ADA BANYAK PERBEDAAN

Perbedaan yang bukan dosa patut diterima, tidak perlu dibuang atau dituntut supaya disamakan.

Misalnya:

A. PERBEDAAN LAHIRIAH/ JASMANI.

Masing-masing anggota mempunyai beberapa cara hidup, kebiasaan atau tradisi dan lain-lain yang tidak sama, apalagi kalau berbeda bangsa dan budaya. Misalnya cara makan orang Irian tidak sama dengan orang Sunda, tidak perlu disamakan. Selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, semua bisa dan harus diterima, jangan sampai mengganggu persekutuan tubuh Kristus dan jangan membiarkan “rasa tidak senang” tumbuh dalam hati! Perbedaan paham dalam hal gizi, kebiasaan, tradisi, hygiene (kebersihan), kesehatan dan lain-lain bisa berbeda, jangan pusing (asal tidak mencobai Allah, misalnya makanan yang beracun, berbahaya dan lain-lain, dan tidak melawan Firman Tuhan, misalnya mencuri, bertu-hankan perut dan dosa-dosa lain) sebab nyawa dan kesehatan kita ada di tangan Tuhan.
Juga mode, berhias, pakaian dan lain-lain asal sopan (bukan hiasan perempuan sundal, tidak merangsang) dan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, jangan dipermasalahkan.
Perbedaan ini akan nampak lebih banyak, lebih nyata, dan lebih jelas kalau ada berbagai-bagai suku bangsa berhimpun, ada macam-macam adat, tradisi, architecture, alat musik, warna, nyanyian dan lain-lain; Perbedaan yang bukan dosa patut diterima supaya jangan mengganggu persekutuan tubuh Kristus. Perbedaan yang tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, jangan ditolak supaya jangan sampai menimbulkan perpecahan.
Tetapi semua hal apa saja, sekalipun adat dan tradisi, kalau melawan Firman Tuhan, harus dibuang, seperti adat occultisme, poligami, mabuk-mabukan dan lain-lain.
Dalam hal-hal yang tidak sepaham, dosa dan melawan Firman Tuhan, pemimpin harus menjelaskan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan ini dan semua anggota dari segala golongan atau latar belakang manapun harus taat akan Firman Tuhan Ibr 13:7,17.

B. PERBEDAAN TAFSIRAN FIRMAN TUHAN DIANTARA GEREJA-GEREJA.

Setiap Synode Gereja mempunyai pengajarannya sendiri-sendiri yang seringkali berbeda cukup banyak. Misalnya: Advent, Baptis, Pentakosta, Protestan, Katolik dan lain-lain. Sekalipun berbeda, seharusnya kita tetap bisa bersatu sebagai umat Kristen kecuali dengan Gereja-gereja yang tidak mengakui Tuhan Yesus Kristus sebagai Allah dan Juru selamat manusia.
(Lihat perbedaan tafsiran Firman Tuhan diantara Gereja-gereja, dalam buku dengan judul seperti ini oleh Pdt. Jusuf B.S.).

C. ORANG-ORANG YANG DITERIMA TUHAN.

Rom 14:3 Hendaklah orang yang makan itu jangan merendahkan orang yang tidak makan, dan orang yang tidak makan, jangan menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah mene-rimanya. (King James Indonesia – LAI)
Kalau kita merasa bahwa perbuatan orang itu dosa dan melawan Firman Tuhan, tetapi semua berjalan baik, bahkan sukses, baik kehidupan jasmani dan rohani seolah-olah orang itu benar, ini mungkin sebab:
1. Ia bertobat sunguh-sungguh, orang lain tidak tahu (sebab tidak merugikan orang lain, tidak ada pengakuan/ pemberesan dengan dia), Tuhan sudah mengampuni dan menerimanya.
2. Waktunya belum sampai, belum ada hukuman. Ingat Simson waktu berdosa, semua berjalan baik-baik saja dan kuasa Tuhan tetap ada di atasnya, sampai waktunya habis.
3. Ada doa syafaat, seringkali Tuhan memberi waktu yang lebih panjang untuk bertobat, misalnya dosa orang Israel waktu makan paskah 2Taw 30:18-20 dan lain-lain.
4. Orang itu tidak tahu, tidak mengerti, sehingga dituntut lebih sedikit Luk 12:48, tetapi kalau terus menerus tetap dalam dosa, melebihi batas ukuran dan waktunya, hukuman tetap turun. Mrk 12:24.
5. Dll.
Apa yang kita yakini salah menurut Firman Tuhan, tetap kita salahkan! Tetapi terhadap “hamba orang lain”, bukan tanggungjawab kita, jangan menghakiminya, apalagi kalau tidak tahu, juga jangan benci atau tidak suka, jangan bereaksi dosa, tetapi doakanlah dan tetap dalam pimpinan Roh.
D. ORANG-ORANG DALAM TANGGUNGAN KITA,
Misalnya dalam keluarga, kelompok, seksi-seksi, bagian-bagian atau Gereja kita sendiri. Kita wajib menolong orang lemah yang ada dalam tang-gungan kita; yang kuat menolong yang lemah. Yak 4:17 jangan dibiarkan Yes 56:10. Kita tidak boleh tinggal diam, doakan, nasehati, bahkan kalau perlu ditegur Mat 18:15-17, 1Tim 5:20 supaya orang itu bertobat dan selamat. Lebih-lebih pemimpin harus menolong, ini termasuk penggembalaan.

E. JANGAN MENGHAKIMI HAMBA ORANG LAIN.

Rom 14:4 Siapakah engkau yang menghakimi hamba orang lain? Apakah ia berdiri atau jatuh, itu urusan tuannya sendirilah. Tetapi ia akan ditegakkan, sebab Allah sanggup menegakkannya.
Rom 14:10 Tetapi mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua akan berdiri di hadapan kursi pengadilan Kristus. (King James Indonesia-LAI)
Siapa yang dimaksud hamba orang lain? Ini bisa orang-orang yang bukan tanggung jawab kita, tetapi tanggung jawab orang lain, bisa juga pemimpin-pemimpin lain yang harus bertanggungjawab kepada Tuhan bukan kepada kita (ayat 4). Masing-masing akan menghadap Kursi Pengadilan Kristus.
Kalau kita melihat yang salah dari hamba orang lain, dan itu mempengaruhi anggota-anggota Gereja kita (atau keluarga, maka kita bertanggungjawab untuk menjelaskan dan menasehatinya), kita harus memberi terang Firman Tuhan supaya semua menjadi jelas, mana yang cocok, mana yang melawan Firman Tuhan. Kita harus mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang hal-hal itu dan tetap memegangnya. Salahkan yang salah dan jangan bersekutu dengan yang salah Ef 5:11, tetapi jangan bereaksi dosa pada orang-orang luar yang salah itu. Berdoalah minta pimpinan Roh Kudus. Ingatlah untuk mengasihi musuh, apalagi orang yang sama-sama percaya Tuhan Yesus, tetapi jangan setuju dengan dosanya Yud 23.

IX. SEMUA YANG KITA BUAT HARUS DENGAN YAKIN KARENA TUHAN.

Rom 14:5-6

5. Ada orang yang menganggap satu hari tertentu itu di atas hari yang lain, yang lain meng-anggap setiap hari sama saja. Hendaklah masing-masing yakin sepenuhnya dalam pikirannya sendiri.
6. Barang siapa yang memegang hari itu, hendaklah ia meme-gangnya karena Tuhan, dan barang siapa yang tidak memegang hari itu, hendaklah ia tidak memegangnya karena Tuhan. Barangsiapa yang makan, hendaklah ia makan karena Tuhan, sebab ia mengucap syukur pada Allah. Dan barangsiapa yang tidak makan, hendaklah ia tidak makan karena Tuhan dan mengucap syukur kepada Allah. (King James Indonesia – LAI)
Ada yang menganggap satu hari lebih baik dari yang lain, karena Tuhan dan hatinya yakin, ada sejahtera (bukan hari baik yang ditentukan dukun, peramal atau paranormal lainnya). Atau hanya mau makan makanan tertentu dan tidak mau makan makanan yang lain. Semua harus dilakukan dengan yakin (ada sejahtera) Rom 14:23, karena Tuhan Kol 3:17. Itu berarti semua harus cocok dengan Firman Tuhan atau yakin tidak melawan Firman Tuhan. Misalnya ada yang yakin makan daging anjing dan hatinya sejahtera, ia yakin tidak apa-apa dan ia mengerti bahwa itu tidak melawan Firman Tuhan, boleh saja. Tetapi ada yang tidak mau makan, sebab tidak senang dan yakin ia tidak perlu memakannya, ia juga tidak salah. Ada juga yang yakin untuk pergi camp Gereja ada yang tidak mau, masing-masing minta pimpinan Tuhan sampai yakin dan ada sejahtera dalam hatinya. Tetapi kalau yakin tidak perlu ke Gereja itu salah, apalagi kalau yakin tidak apa-apa, itu melawan Firman Tuhan. Ibr 10:25, Kis 2:42, ini menjadi dosa.

X. MATI HIDUP UNTUK TUHAN, MILIK TUHAN.

Rom 14:

7. Sebab tidak seorangpun dari kita yang hidup bagi dirinya sendiri dan tidak ada seorangpun mati bagi dirinya sendiri.
8. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan dan jika kita mati kita mati untuk Tuhan. Karena itu baik kita hidup ataupun mati, kita ini milik Tuhan.
9. Karena sebab inilah Kristus mati dan bangkit dan hidup lagi, supaya Ia dapat menjadi Tuhan baik untuk orang yang mati,maupun untuk yang hidup (King James Indonesia – LAI)
Orang yang percaya Tuhan Yesus, akan masuk Surga, karena sudah ditebus oleh darah Yesus dan menjadi milik Tuhan Yesus 1Kor 6:19-20. Sebab itu baik hidup atau mati, kita milik Tuhan, itu berarti:
1. Kalau mati, kita menjadi milik Tuhan di Surga kekal, bukan milik iblis, sebab kita sudah dibeli, asal kita mau mempertahankan dan memelihara iman kita sebagai anak-anak Allah sampai mati 1Yoh 3:10.
2. Kita hidup, tidak boleh melanggar kehendak Allah, sebab kita milikNya, justru kita harus memakai diri kita, hidup atau mati untuk Tuhan maka Tuhan yang akan memelihara hidup kita dan pasti aman dan terpelihara, Dia sanggup bahkan maha besar dan kasih adanya.
Kalau kita taat, Tuhan memelihara, kalau memberontak, terpaksa dilepas dengan resiko bisa hilang keselamatannya dan hidupnya kacau, hatinya gelisah, pahit dan jalannya tidak ada damai Rom 3:17.
Dalam segala perkara kita harus bertanya-tanya (1Taw 16:11) dan mendapat izin dari Sang Pemilik yaitu Tuhan Yesus, bagaimana kita memakai hidup ini (dengan segala yang lekat padanya) untuk hidup berkenan kepadaNya. Sebab itu kita harus mengerti kebenaran Firman Tuhan, sebab kalau tidak, kita bisa melanggar dan menjadi rugi sendiri karena bodoh dan tidak mengerti Ams 10:21b. Sebab itu dalam berbuat apa saja, selain izin dari Tuhan (yaitu cocok dengan Firman Tuhan), kita juga harus berusaha supaya semuanya itu menjadi kemuliaan bagi Tuhan, sebab kita diciptakan dan ditebus untuk kesukaanNya Wah 4:11.
Apa hidup untuk kesukaanNya itu enak, indah, senang? Kalau Allah itu jahat, celakalah hidup seperti ini. Tetapi Allah itu baik, kasih dan sangat mencintai kita sampai mengorbankan Kristus mati untuk kita; sebab itu hidup berkenan padaNya itu sangat-sangat menyenangkan dan untung, kita menjadi “anak emas” Allah! (Bandingkan dengan anak yang menyenangkan bapaknya dan bapaknya cinta kepadanya, ia menjadi anak emasnya, pasti hidup seperti ini indah. Hidup menyenangkan Allah itu sangat sangat enak, bahkan sampai kekal di Surga!).
Sebab itu baik hidup atau mati, hiduplah bagi Tuhan, mempermuliakan Tuhan, pasti hidup ini akan menjadi sangat indah dan senang, menjadi “anak emas” Allah yang maha kuasa!
Allah ingin semua orang beriman menjadi “anak emas” Allah, tetapi sayang tidak semua percaya akan kerinduan Allah ini, banyak yang kena tipu iblis sehingga yakin, hidup semaunya sendiri, menurut daging itu paling enak, justru itu paling sengsara, bahkan sampai kekal.

KESIMPULAN:

Orang lemah itu biasanya mempunyai banyak pikiran, pengertian, pendirian, sikap, tabiat dan lain-lain yang jelek, yang keliru,sehingga orang mudah tidak senang kepadanya.
Orang yang kuat rohaninya bisa menyangkal diri, penuh belas kasihan Mat 9:13, menerimanya dan menolong mengangkat orang yang lemah, keluar dari kelemahannya; jangan justru menghindar karena timbul rasa tidak senang, atau bersikap “netral”. Ini sikap dosa, permulaan kebencian; Jangan dibiarkan, ini menyekat anggota-anggota tubuh Kristus satu sama lain sehingga memecahnya; ini menjadi pintu masuk iblis.
Terimalah orang-orang yang lemah dan lepaskan, itu sikap seperti Kristus, suatu sikap yang keberkatan Mat 25:40.
Tetapi tetap hati-hati supaya jangan dirugikan. Ada yang sulit ditolong bahkan ada yang tidak bisa ditolong seperti Yudas, Laodikea. Jangan ekstrem seperti Eli atau Esau tetapi seperti Kristus terhadap Petrus dan lain-lain terimalah, angkat dan kuatkan, sehingga persekutuan tubuh Kristus makin kuat, siap ditumbuhkan sesuai rencana Allah dan bertambah-tambah.
Yang kuat, terimalah yang lemah, tolong mengangkatnya keluar dari kelemahannya. Jangan membiarkan rasa tidak senang akan saudara kita tumbuh dalam hati kita, bahkan siapapun dia. Tidak senang pada seseorang itu adalah pintu gerbang bagi kebencian iblis.
Jadilah berkat bagi yang lemah, maka kita akan tumbuh dan makin mulia seperti Kristus.
Dengan demikian kita membangun dan membina tubuh Kristus dengan kokoh dan bersama-sama tumbuh menjadi seperti Kristus.
Dalam segala perkara yang kita lakukan, hendaknya kita mendapat izin Tuhan (sesuai Firman Tuhan) dan untuk kemuliaan Tuhan sebab hidup dan mati kita ini milik Tuhan. Tuhan ingin semua kita menyenangkan hati Tuhan, maka orang itu akan menjadi anak emas Allah. Ini hidup yang paling indah dan sampai kekal.

Nyanyian:

Jadikan kami satu

oleh Roh Mu Tuhan.

B’rikan di hati kami,

Penuh kecintaan.

Satu di dalam maksud,

Satu pengharapan

Supaya yang terhilang,

Dapat dis’lamatkan.