M3361 – Kisah 18:2-3,26 Priskila dan Akwila

Kis 18:2-3 Priskila dan Akwila Diusir dari Roma

Suami istri ini pergi keluar dari Roma, sebab diusir oleh kaisar Kelandius;tampaknya mereka tidak dendam atau pahit meskipun tentu itu suatu pengalaman yang pahit dan banyak merugikan. Mereka pergi sampai di Korintus dan bertemu dengan Paulus dansebab pekerjaannya sama sebagai tukang kemah, mereka bekerjasama. Priskila dan Akwila menerima ajaran yang disampaikan Paulus sehingga mereka juga bisa memberitakan Injil Kristus.
Dari data2 ini tampak bahwa iman mereka baik, sehingga sekalipun dalam keadaan celaka, mereka bisa menjadi berkat dan keduanya bekerja sama dengan baik. Rupa2nya mereka tidak punya anak tetapi keduanya bisa bekerjasama dengan baik, bahkan sampai terakhir ketika sampai di Efesus tempat Timotius pelayanan 2Tim 4:19. Mereka mau bekerja keras, bahkan berkorban untuk Paulus sampai mempertaruhkan nyawa mereka sendiriRom 16:3-4, itu berarti bahwa mereka sungguh2 mengenal dan berkenan pada Tuhan. Keduanya merupakan pasangan suami istri yang baik dan memperkenankan Tuhan, menjadi berkat dalam pelayanannya.

Kisah 18:26 Pasangan Suami Istri yang Bisa Bekerjasama

Priskila dan Akwila adalah pasangan suami-isteri yang baik dan bisa bekerjasama dengan efektif. Apolos adalah orang yang berani memberitakan Injil, namun belum mempunyai pengertian yang cukup seperti Paulus. Priskila dan Akwila yang mengetahui hal ini, langsung menyambut Apolos lalu menjelaskan pelajaran Firman Tuhan kepadanya dengan teliti sehingga Apolos mendapat
pengertian yang cukup untuk pelayanan selanjutnya. Meskipun Priskila Akwila belum mengenal Apolos, tetapi sebab sama2 beriman, mereka menyambutnya. Bisa menyambut saudara seiman itu perlu.
Dalam menunggu kedatangan Tuhan, kita harus ber-sambut2an. (Terj. Baru: memberi tumpangan; Inggris: Hospitality = menerima di rumahnya. Jadi ber-sambut2an itu berarti menerima saudara2 seiman dalam hati dan dalam rumahnya masing2).
Mengapa perlu? Kalau kita tidak bisa menerima saudara kita, itu berarti ada yang tidak beres, tidak suka, tidak senang hati (lihat TE no. 75), bahkan benci atau dendam. Ini jadi dosa. Memang tidak semua orang beriman (saudara2 seiman) itu tulus, ada yang tidak menyenang, suka bertandang menghabiskan waktu bahkan merugikan, sebab itu kita harus hati2, cerdik seperti ular tetapi tetap tulus seperti burung merpati dan kasih sesuai dengan Firman Tuhan Luk 10:27. Kalau ia suka bertandang, ajaklah berdoa dan belajar Firman Tuhan bersama (masa teduh) sehingga waktu kita tidak habis dengan sia2. Kalau masih datang2 lagi, katakanlah dengan terus terang, supaya membuat perjanjian lebih dahulu kalau datang, untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Tidak suka menerima saudara2 kita berarti kita ter-pecah2, kita tidak bisa bersekutu dengan baik; akibatnya bukan saja kekuatannya kurang, tetapi iblis dapat pintu masuk yang lebar, dalam persekutuan yang ter-pecah2 dan timbul dosa atau sudah ada dosa yang tumbuh. Ini menyebabkan kejatuhan dan masuk dalam perangkap iblis sehingga binasa. Sebab itu kita harus belajar memelihara hubungan baik, dan bisa saling ber-sambut2an dan bersekutu dengan manis dalam tubuh Kristus. Orang yang tidak bisa bersekutu, tidak bisa bersambut2an akan masuk jerat iblis bahkan bisa dipakai iblis untuk lebih memecah belah dan melakukan kehendak iblis lainnya. Tampaknya ini perkara kecil, tetapi kalau kita tidak bisa melakukannya, akibatnya besar, bisa2 binasa.kalau kita tidak bisa melakukannya, akibatnya besar, bisa2 binasa.
Priskila Akwila merupakan pasangan suami istri yang baik dan bisa bekerja sama. Mengapa bisa demikian? Sebab ada cinta karena hidup nikahnya terpelihara dalam kesucian. Meskipun mereka tidak mempunyai anak, tetapi hidupnya manis dan bisa sehati.Seringkali anak menjadi pemersatu suami istri, tetapi anak bukan faktor utama untuk mempersatukan suami istri sebab pasangan suami istri yang meskipun punya anak banyak, lucu dan baik, masih banyak yang bercerai dan hidup nikahnya rusak. Anak bukan faktor utama, tetapi Kristus dan anak itu faktor kedua atau pendukung. Faktor utama adalah Tuhan Yesus yang bisa mempersatukan suami istri yang mau taat, menjadi pasangan yang indah dan berkenan pada Tuhan.
Apalagi di akhir zaman yang penuh dengan dosa perzinaan, tidak ada orang yang bisa memelihara hidup nikahnya dalam kesucian tanpa Tuhan. Tanpa Kristus maka manusia diperhambakan daging dan dosa sehingga hidup nikahnya rusak. Tetapi sebab mereka percaya dan cinta Tuhan, mereka takut akan Tuhan, dipimpin Roh, hidup nikahnya menjadi suci dan indah.
Priskila Akwila dan orang2 Kristen Perjanjian Baru belum mempunyai Alkitab Perjanjian Baru, mereka hanya mempunyai Alkitaba Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lamapun dijelaskan tentang hidup nikah yang betul seperti yang mula2 yaitu Adam dan Hawa Kej 2, Mat 19:8-9.
Meskipun mereka belum mempunya Perjanjian Baru, tetapi sebab hidup berkenan pada Tuhan, dipimpin Roh, maka hidup nikahnya jadi baik seperti dalam Perjanjian Baru. Inilah bentuk nikah orisinil yang dibuat Tuhan yang menjadi ukuran dan patokan agar hidup nikah umat Tuhan bisa menjadi baik. Hidup nikah yang baik lainnya adalah nikah Yusuf yang tetap monogami meskipun uang, kedudukan, dan kuasanya besar, ia tidak menuruti daging seperti cara2 orang zaman itu, Jusuf tetap monogami.
Begitu juga Musa yang seperti Kristus, hidup dengan satu istri (dalam Bil 12:1, istri bangsa kafir itu adalah Zifora yang memang bukan orang Israel). Hidup nikah dalam perjanjian lama banyak yang cacat sebabnya mereka belum ditebus dengan penuh seperti kita dalam perjanjian baru. Misalnya nikah Daud, apalagi hidup nikah Solaiman sangat rusak dan sia2, Solaiman itu seharusnya sudah binasa, hanya oleh anugrah Tuhan saja ia masih bisa selamat pada akhirnya seperti orang yang menerusi api.
Priskila Akwila sebab dipimpin Roh hidup nikahnya menjadi indah seperti yang diajarkan dalam Perjanjian Baru sebab Roh Kudus selalu mengajar Firman Tuhan. Semua orang yang hidup dipimpin Roh, baik hidup nikahnya maupun segi2 hidup yang lain, itu sesuai dengan Firman Tuhan sebab Roh Kudus selalu memimpin cocok dengan Firman Tuhan Yoh 16:13-15.
Kalau kasih suami isteri dipelihara maka ada pengampunan yang limpah dan nikah itu bisa bertahan sampai mati seperti Firman Tuhan. Mat 19:5-6. Ini ditertawakan orang dunia. Dalam dunia, kesucian nikah tidak dipelihara, maka oleh perkara kecil mereka bercerai dan mereka bangga bisa bercerai dengan damai, bukan sebab kurang cocok tetapi sebab perzinaan sehingga cinta kepada yang lain dan tidak lagi cinta pada isteri/ suami sendiri.
Perceraian bagi orang2 dunia (di negeri2 yang maju, disiplin, beradab) biasanya dianggap perkara kecil, wajar dan biasa (di USA dalam 5 tahun 20% pernikahan sudah bercerai, sebab mereka berzina begitu mudah, umum, peradaban yang “tinggi”). Di negeri yang maju dan beradab ini, orang bercerai itu dengan tertib, tidak berkelahi, masih sering2 bertemu (apalagi kalau sudah punya anak, rindu anaknya) tetapi pasangannya sudah ganti. Di hadapan Allah perceraian itu perkara yang sangat besar (ini budaya ilahi, budaya jalan sempit yang tidak berubah sebab Firman Tuhan tidak berubah Luk 21:33). Perceraian itu seperti pembunuhan, biadab, memotong kepala dari tubuh. Orang yang cerai itu cacat, sebab kepala diputus dari tubuh itu seperti mati. Memang kalau masih hidup dan orang2 itu mau bertobat, (paling ideal kalau kembali dipersatukan, sehingga anak2 mendapat bapak ibu yang orisinil dan cocok dengan rencana dan hukum Allah), tetapi kalau toh tidak bisa (seperti isteri Uria dan Uria, dll) mereka masih bisa selamat sebab Tuhan tidak ingin seorangpun binasa 2Pet 3:9, tetapi akibatnya dahsyat, itu seperti dua lembar kertas yang di lem mati menjadi satu, dilepas kembali, akan robek2 semua, ada banyak cacat, tetapi Tuhan tetap ingin mereka diselamatkan dan dipulihkan Mat 12:20, meskipun cacatnya besar. Pemulihan yang berat, meskipun dalam Hujan-akhir ada pemulihan yang luar biasa Yoel 2:25.
Orang beriman yang normal, yang tinggal di dalam Kristus di jalan sempit harus memelihara kesucian hidup nikah (itu tampak dari kasihnya yang makin bertambah Pil 1:9, Wah 2:4, 1Tes 4:10) dalam menunggu kedatanganNya. Kalau rohani meningkat, salah satu tanda penting adalah kasih suami-isteri juga meningkat. Biarpun orangnya tampak rohani, kalau kasih suami-isteri berkurang, itu berbahaya, jangan2 sudah tidak cinta lagi pada suami/ isteri, sebab cinta yang lain dan itu dosa (tetapi jangan prasangka).

Rom 16:3 Berani korban dan menderita karena Kristus

Priskila dan Akwila adalah orang2 yang berani menderita, pikul salib. Tidak diceritakan bagaimana caranya tetapi hanya dengan singkat diceritakan bagaimana Priskila dan Akwila mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Paulus dan berhasil, juga mereka tidak sampai mati. Paulus dan Gereja2 orang kafir sangat bersyukur atas segala pengorbanan Priskila dan Akwila ini. Orang yang tidak mau pikul salib, tidak berani berkorban, tidak akan mengalami pengalaman2 baru dengan Kristus, tidak akan tumbuh. Jalan orang beriman adalah jalan salib, jalan sempit dan dalam jalan ini ada pertumbuhan rohani yang baik.
Tanpa pikul salib tidak ada kemajuan, sebab orang beriman itu berjalan dalam jalan sempit. Dengan jalan ini (pikul salib, hidup di atas Mezbah, mau menyalibkan daging sehingga bisa taat akan Firman Tuhan, baik ke dalam dan ke luar, terhadap orang lain (mencocokkan sikap dan perbuatan kita itu perlu penyangkalan diri sehingga kita tidak menuruti pimpinan atau reaksi daging tetapi melakukan yang sesuai dengan Firman Tuhan), maka baru ada kemajuan dalam jalan sempit, ini kemajuan yang sungguh2 dan benar di hadapan Tuhan.
Kalau hidup nikah tidak betul (sebab kesucian nikah tidak dipelihara), maka kasihnya akan habis, tidak bisa mencintai isteri/ suami sendiri. Orang seperti ini sulit untuk bisa menghadapi akhir zaman yang dahsyat, tetapi ikut hanyut dalam arus dosa2 perzinaan dan dosa2 lainnya dan akhirnya terhilang dalam dosa. Sebab itu kita harus selalu pikul salib Luk 9:23, bahkan mahir Yes 53:2 sehingga kita bisa tumbuh sampai seperti Kristus.

2Tim 4:19. Priskila dan Akwila Melayani

Dalam menunggu kedatangan Tuhan kita harus saling melayani dengan karunia2 ilahi, bukan dengan cara2 kita sendiri, sebab cara2 sendiri itu seringkali juga tidak cocok dengan Firman Tuhan dan tidak benar. Kalau kita melayani dengan karunia2 rohani, Kita harus dipimpin Roh (bisa mengerti, mendengar dan taat akan suaraNya), maka kita harus hidup dalam kesucian dan dipimpin Roh. Pelayanan seperti ini indah sebab kita harus tetap dalam jalan Tuhan (dalam kesucian, dalam jalan sempit) dan terus taat dipimpin Roh sesuai Firman Tuhan. (Dengan karunia2 Roh berarti harus cocok dengan Firman Tuhan, sebab Allah tidak pernah kusut 1Kor 14:33). Hasilnya kita bisa tumbuh dalam kesucian dan rencana Allah. Jangan hanya melayani sembarangan, tetapi harus dengan karunia2 Allah, dengan kuasa dan pimpinan Roh Kudus, maka hasilnya akan indah dan ber-buah2 lebat dan kita tumbuh di hadapan Tuhan. Ini membuat kita kuat dan bisa bertahan dalam dunia yang penuh tantangan2 dan dosa yang limpah. Orang2 beriman harus bisa saling melayani dalam persekutuan tubuh Kristus (limpah Firman Tuhan, doa, kesucian dan kasih), sehingga saling dikuatkan dan tumbuh dengan baik di dalam Kristus, sehingga selain kita bisa ikut dalam pengangkatan, juga akan menerima kemuliaan Allah sesuai dengan pertumbuhan rohani kita.
Ber-kata2 itu juga harus diperhatikan dalam menunggu kedatangan Tuhan, sebab kata2 kita itu seperti kemudi hidup Yak 3:3-4. Orang yang ber-kata2 terlalu banyak, tanpa dijaga, tanpa menyangkal diri, ia akan makan sampai kenyangbuah2 yang pahit Ams 18:20. Orang yang memakai lidah sembarangan itu seperti kapal yang jalan ngawur, bisa menabrak ber-kali2 dan akhirnya karam. Sebab itu kita tidak boleh bicara sembarangan tetapi harus memakai lidah kita dengan baik untuk mengatakan kata2 dari Tuhan 1Kor 14:1,3. Ini harus dilatih dari kecil atau dari permulaan lahir baru, sebab meskipun tampaknya perkara kecil, tetapi ber-kata2 itu sulit; tidak ada orang yang tidak bersalah dalam ber-kata2, kecuali ia sudah sempurna, tetapi ini bukan berarti boleh terus bersalah atau sembarangan dalam ber-kata2, bisa karam! Banyak orang yang meringankan ber-kata2 (lihat buku “Lidah”), lalu bersalah dalam banyak perkara dan sebab itu tidak tumbuh rohaninya. Kalau kita tidak mau memperbaiki kata2 kita, hidup ini akan sering masuk dalam kesukaran dan rohani tidak bisa tumbuh, lalu akhirnya kapal hidupnya bisa hancur karena terus bertabrakan. Memelihara diri berarti memelihara mulut.
Dan melayani dengan kekuatan dari Tuhan. Jangan memakai kekuatan sendiri, kalau berhasil seringkali menjadi sombong, bukan nama Tuhan yang dipermuliakan, dan hasilnya hanya sementara. Tetapi kalau kita memakai kuasa Allah, kita harus bersandar pada Tuhan dan berkenan kepadaNya, maka hasilnya akan indah dan kekal. Jangan bersandar pada kekuatan sendiri, hasilnya terkutuk Yer 17:5. Sebab kekuatan kita terbatas, biasanya orang2 seperti ini akan menghalalkan segala cara untuk mencapai hasil, sehingga menjadi berdosa dan masuk dalam tangan iblis. Tetapi kalau kita mau bersandar pada kekuatan dari Tuhan, kita harus hidup di dalam Kristus, bertekun berdoa minta pimpinan dan kuasaNya, berkenan kepadaNya, sebab itu hasilnya akan indah, sebab bukan kita, tetapi Tuhan yang bekerja di dalam kita Gal 2:19-20. Dia adalah Allah yang maha kuasa, maha besar dan tidak pernah gagal. Selama kita berharap pada Tuhan, kita akan tetap (harus) tinggal dalam kesucian 1Yoh 3:2 dan itu membuat hidup kita menjadi indah dan mulia.

Kesimpulan

Priskila dan Akwila yang sekalipun belum mempunyai Perjanjian Baru, sebab hidup dipimpin Roh, maka hidup nikahnya menjadi kuat dan indah. Tandanya ada kasih yang bertumbuh, sehingga mereka bisa saling mengasihi dan bekerjasama untuk melayani Tuhan dan ber-buah2 dengan baik, sehingga Paulus dan Gereja2 sangat bersyukur atas segala pelayanannya. Begitu juga di tengah2 dunia yang penuh dengan dosa, istimewa dosa2 perzinaan, kita haus memelihara hidup nikah kita dalam kesucian dan tandanya kasih suami-isteri tumbuh, sehingga kita bisa kuat, tetap dalam kesucian dan ber-buah2 sampai Tuhan datang dan masuk dalam kemuliaanNya.